Fidel Castro

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Fidel Castro
Fidel Castro - MATS Terminal Washington 1959.jpg
Castro mengunjungi Amerika Serikat pada tahun 1959
Presiden Kuba
Masa jabatan
2 Desember 1976 – 24 Februari 2008
Perdana Menteri Dirinya sendiri
Wakil Presiden Raúl Castro
Pendahulu Osvaldo Dorticós Torrado
Pengganti Raúl Castro
Sekretaris Pertama Komite Pusat Partai Komunis Kuba
Masa jabatan
24 Juni 1961 – 19 April 2011
Wakil Raúl Castro
Pendahulu Blas Roca Calderio
Pengganti Raúl Castro
Presiden Dewan Menteri Kuba
Masa jabatan
2 Desember 1976 – 24 Februari 2008
Presiden Dirinya sendiri
Pendahulu Dirinya sendiri (sebagai Perdana Menteri)
Pengganti Raúl Castro
Perdana Menteri Kuba
Masa jabatan
16 Februari 1959 – 2 Desember 1976
Presiden Manuel Urrutia Lleó
Osvaldo Dorticós Torrado
Pendahulu José Miró Cardona
Pengganti Dirinya sendiri (sebagai Presiden Dewan Menteri)
Sekretaris Jenderal Gerakan Non-Blok
Masa jabatan
16 September 2006 – 24 Februari 2008
Pendahulu Abdullah Ahmad Badawi
Pengganti Raúl Castro
Masa jabatan
10 September 1979 – 6 Maret 1983
Pendahulu Junius Richard Jayawardene
Pengganti Neelam Sanjiva Reddy
Informasi pribadi
Lahir Fidel Alejandro Castro Ruz
(1926-08-13)13 Agustus 1926
Birán, Provinsi Holguín, Kuba
Meninggal dunia 25 November 2016(2016-11-25) (umur 90)
Havana, Kuba
Partai politik Partai Ortodoks
(1946–52)
Gerakan 26 Juli
(1953–65)
Partai Komunis Kuba
(1965–2016)
Pasangan Mirta Diaz-Balart (1948–55)
Dalia Soto del Valle (1980–2016)
Hubungan Raúl, Ramon, Juanita
Anak 9, termasuk Alina Fernández
Tempat tinggal Santiago de Cuba
Alma mater Universitas Havana
Profesi Pengacara
Tanda tangan
  • Kekuasaan sebagai presiden diserahkan kepada Raúl Castro sejak 31 Juli 2006.

Fidel Alejandro Castro Ruz (lahir di Birán, Provinsi Holguín, Kuba, 13 Agustus 1926 – meninggal di Havana, Kuba, 25 November 2016 pada umur 90 tahun) adalah Presiden Kuba sejak 1976 hingga 2008. Sebelumnya, ia menjabat sebagai Perdana Menteri atas penunjukannya pada 16 Februari 1959. Castro tampil sebagai sekretaris pertama Partai Komunis Kuba pada tahun 1965 dan mentransformasikan Kuba ke dalam republik sosialis satu-partai. Setelah tampil sebagai presiden, ia tampil sebagai komandan Militer Kuba.

Pada tahun 1947, ia ikut dalam upaya kudeta diktator Republik Dominika Rafael Trujillo dan lari ke New York (Amerika Serikat) karena adanya ancaman akan dihabisi lawan politiknya. Setelah meraih doktor di bidang hukum pada 1950, ia memprotes dan memimpin gerakan bawah tanah anti-pemerintah atas pengambil-alihan kekuasaan lewat kudeta oleh Fulgencio Batista pada 1952. Tahun 1953, ia memimpin serangan ke Barak-Barak Moncada, namun gagal. Sebanyak 69 orang dari 111 orang yang ambil bagian dalam serbuan itu tewas dan ia dipenjara selama 15 tahun.

Setelah mendapatkan pengampunan dan dibebaskan pada 15 Mei 1955, ia langsung memimpin upaya penggulingan diktator Batista. Perlawanan ini kemudian dikenal dengan Gerakan 26 Juli. Pada 7 Juli 1955, ia lari ke Meksiko dan bertemu dengan pejuang revolusioner Che Guevara. Bersama 81 orang lainnya, ia kembali ke Kuba pada 2 Desember 1956 dan melakukan perlawanan gerilya selama 25 bulan di Pegunungan Sierra Maestra.

Di luar Kuba, Castro mulai menggalang kekuatan untuk melawan dominasi Amerika Serikat dan bekas negara Uni Soviet. Setelah runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1991, cita-cita dan impiannya mulai diwujudkan dengan bertemu Hugo Chávez di Venezuela dan Evo Morales dari Bolivia.

Menjelang hari ulang tahunnya ke-80 yang jatuh pada 13 Agustus 2006, ia menyerahkan tampuk kepemimpinannya untuk sementara waktu kepada adiknya. Praktis, Raúl merangkap jabatan, yakni sebagai Presiden Kuba dan Menteri Pertahanan Kuba. Penyerahan kekuasaan ini merupakan pertama kali sejak ia memerintah Kuba pada 1959. Castro juga meminta perayaan ulang tahunnya yang ke-80 ditunda sampai 2 Desember 2006. Padahal, pesta meriah selama empat hari di jalan-jalan utama Havana sudah disiapkan, termasuk konser megah dari musisi dan penyanyi Amerika Latin.

Kesehatan Castro sempat menurun setelah jatuh ketika berpidato pada 2004. Waktu itu, lutut kiri dan lengan kanannya terluka. Pada 19 Februari 2008, lima hari sebelum mandatnya berakhir, Castro menyatakan tidak akan mencalonkan diri maupun menerima masa bakti baru sebagai presiden atau komandan angkatan bersenjata Kuba. Jabatannya digantikan oleh adiknya, Raul Castro.

Castro adalah seorang figur dunia kontroversial. Para pendukungnya memandangnya sebagai pahlawan sosialisme dan anti-imperialisme dengan resmi. Gerakan revolusionernya telah memajukan ekonomi dan keadilan sosial, bersamaan dengan mempertahankan kemerdekaan Kuba dari imperialisme Amerika. Para kritikus memandangnya sebagai seorang diktator yang menyebabkan pelecehan hak asasi manusia, eksodus besar-besaran rakyat Kuba, dan kemiskinan ekonomi di negara tersebut. Ia dianugerahi dengan berbagai penghargaan internasional dan secara signifikan memengaruhi berbagai individual dan kelompok di seluruh dunia.

Biografi[sunting | sunting sumber]

Masa muda: 1926–1947[sunting | sunting sumber]

Castro lahir di luar nikah di lahan pertanian ayahnya pada 13 Agustus 1926.[1] Ayahnya, Ángel Castro y Argiz, adalah seorang pendatang dari Galisia, Spanyol barat laut.[2] Ia memperoleh keuntungan yang besar dari usaha penanaman tebu miliknya di Las Manacas, Birán, Provinsi Oriente.[3] Setelah pernikahan pertamanya kandas, Ángel Castro y Argiz menjadikan pembantu rumah tangganya yang bernama Lina Ruz González (yang berasal dari Kepulauan Kanari) sebagai gundiknya dan kemudian sebagai istrinya; mereka dikaruniai tujuh orang anak, salah satu di antaranya adalah Fidel.[4] Pada saat masih berumur enam tahun, Fidel Castro dikirim ke Santiago de Cuba untuk tinggal dengan gurunya,[5] dan lalu ia dibaptis menjadi seorang Katolik pada usia delapan tahun.[6] Berkat pembaptisannya, Castro diperbolehkan masuk sekolah asrama La Salle di Santiago; di situ ia seringkali berperilaku nakal, sehingga ia dikirim ke Sekoleh Dolores yang dikelola oleh Yesuit di Santiago.[7] Pada 1945, ia pindah ke El Colegio de Belén di Havana yang juga dikelola oleh Yesuit, tetap lebih bergengsi.[8] Meskipun Castro menyukai sejarah, geografi dan debat di Belén, ia bukanlah murid yang unggul secara akademis, dan ia malahan menghabiskan sebagian besar waktunya untuk berolahraga.[9]

Pada 1945, Castro mengambil jurusan hukum di Universitas Havana.[10] Walaupun ia mengakui bahwa ia "buta politik", ia tetap terlibat dalam aktivisme di kampus[11] dan budaya gangsterismo yang penuh kekerasan di universitas tersebut.[12] Ia memiliki pandangan anti-imperialisme dan menentang intervensi Amerika Serikat di kawasan Karibia.[13] Ia sempat mencoba maju menjadi ketua Federasi Mahasiswa Universitas dengan program "kejujuran, kesusilaan, dan keadilan", tetapi ia tidak berhasil.[14] Castro juga menjadi pengkritik tindakan korupsi dan kekerasan yang dilakukan oleh pemerintahan Presiden Ramón Grau, dan ia menyapaikan pidato di muka umum mengenai permasalahan tersebut pada November 1946 yang membuatnya disorot di halaman depan beberapa surat kabar.[15]

Pada 1947, Castro bergabung dengan Partai Rakyat Kuba (Partido Ortodoxo), yang didirikan oleh politikus veteran Eduardo Chibás. Sebagai tokoh yang karismatik, Chibás memperjuangkan keadilan sosial, pemerintahan yang jujur, dan kebebasan politik, dan partainya juga membongkar kasus korupsi dan menuntut reformasi. Saat Chibás mencapai peringkat ketiga dalam pemilihan umum 1948, Castro masih tetap berkomitmen membantunya.[16] Namun, kekerasan semakin parah setelah Grau mempekerjakan para pemimpin geng sebagai perwira polisi, dan Castro lalu mendapatkan ancaman kematian yang meminta agar ia segera meninggalkan universitas. Walaupun begitu, ia menolak untuk tunduk dan mulai membawa senapan dan ditemani oleh rekan-rekannya yang juga dilengkapi dengan persenjataan.[17] Kelak, saat Castro sudah berkuasa di Kuba, para pembangkang anti-Castro menuduhnya terlibat dalam tindakan-tindakan pembunuhan yang terkait dengan geng pada masa itu, tetapi tuduhan ini masih belum terbukti.[18]

Pemberontakan dan Marxisme: 1947–1950[sunting | sunting sumber]

Aku bergabung dengan rakyat; aku merampas sebuah senapan di sebuah kantor polisi yang dihancurkan saat dirusak oleh kerumunan. Aku terkejut menyaksikan revolusi yang terjadi secara spontan... Pengalaman itu membuatku mengidentifikasikan diriku sendiri bahkan lebih dari sebab-sebab rakyat. Gagasan Marxis yang masih aku pegang tidak dilakukan dengan kehendak kami – ini adalah reaksi spontan pada bagian kami, sebagai kaum muda dengan gagasan Martí-an, anti-imperialis, anti-kolonialis dan pro-demokrat.

— Fidel Castro di Bogotazo, 2009[19]

Pada Juni 1947, Castro mempelajari perencanaan ekspedisi untuk melengserkan junta militer sayap kanan dari Rafael Trujillo, seorang sekutu AS, di Republik Dominika.[20] Menjadi Presiden Komite Universitas untuk Demokrasi di Republik Dominika, Castro ikut ekspedisi.[21] Pasukan militer terdiri dari sekitar 1,200 pasukan, yang kebanyakan adalah orang Kuba dan orang Dominika yang berada di pengasingan, dan mereka memutuskan untuk berlayar dari Kuba pada Juli 1947. Namun, di bawah pengaruh AS, pemerintah Grau menggentikan invasi tersebut, meskipun Castro dan beberapa pengikutnya terhindar dari penangkapan.[22] kembali ke Havana, Castro mengambil peran memimpin dalam unjuk rasa pelajar menentang pembunuhan seorang murid SMA oleh para penjaga keamanan pemerintah.[23] Protes tersebut, yang disertai dengan percekcokan pada orang-orang yang dituduh komunis, berujung pada pertikaian kekerasan antara aktivis dan polisi pada Februari 1948, dimana Castro mengalami luka berat.[24] Pada masa itu, pidato-pidato publiknya mengambil pandangan sayap kiri yang berbeda dengan meninggung ketidaksetaraan sosial dan ekonomi di Kuba. Sebaliknya, kritikan publiknya pada masa lalu tertuju pada korupsi dan imperialisme AS.[24]

Pada April 1948, Castro pergi ke Bogotá, Colombia, dengan sekelompok pelajar Kuba yang disponsori oleh pemerintah Argentina yang dipimpin oleh Presiden Juan Perón. Disana, pembunuhan pemimpin sayap kiri populer Jorge Eliécer Gaitán Ayala berujung pada merebaknya kerusuhan dan pertikaian antara kalangan pemerintah Konservatif – yang dibekingi oleh tentara – dan sayap kiri Liberal.[25] Castro bergabung dengan sebab-sebab Liberal dengan merampas senjata-senjata dari sebuah kantor polisi, namun penyelidikan polisi berikutnya menyatakan bahwa ia tidak terlibat dalam pembunuhan manapun.[25] Kembali ke Kuba, Castro menjadi figur penting dalam protes-protes melawan upaya pemerintah untuk meningkatkan ongkos bus.[26] Pada tahun tersebut, ia menikahi Mirta Díaz Balart, seorang pelajar dari keluarga kaya agar ia dapat menyoroti gaya hidup elit Kuba. Hubungan cinta tersebut tidak disetujui oleh kedua keluarga, namun ayah Díaz Balart memberikannya sepuluh ribu rolar untuk menjalani bulan madu selama tiga bulan di New York City.[27]

Marxisme mengajarkanku apa itu masyarakat. Aku bagaikan seorang pria buta di hutan, yang bahkan tidak tau dimana utara atau selatan. Jika kamu tidak memahami sejarah perjuangan kelas, atau setidaknya gagasan jelas bahwa masyarakat terbagi antara kaya dan miskin, dan bahwa beberapa orang menindas dan memperalat orang lainnya, kamu akan hilang di hutan, tidak tau apapun.

— Fidel Castro tentang penemuan Marxisme, 2009[28]

Pada tahun yang sama, Grau memutuskan untuk tidak ikut pemilihan lagi, yang dimenangkan oleh kandidat baru Partido Auténtico, Carlos Prío Socarrás.[29] Prío menghadapi merebaknya protes saat para anggota MSR, yang sekarang bersekutu dengan pasukan polisi, membunuh Justo Fuentes, seorang teman sosialis Castro. Akibatnya, Prío sepakat untuk menindak geng-geng, namun mengetahui bahwa mereka terlalu kuat untuk dikendalikan.[30] Castro telah beralih ke sayap kiri, yang dipengaruhi oleh penulisan Marxis Karl Marx, Friedrich Engels, dan Vladimir Lenin. Ia menafsirkan masalah-masalah Kuba sebagai masalah dalam masyarakat kapitalis, atau "kediktatoran burjois", ketimbang kegagalan politikus-politikus korup, dan mengadopsi pandangan Marxis yang memandang perubahan politik hanya dapat dilakukan dengan revolusi proletariat. Mengunjungi wilayah-wilayah termiskin di Havana, ia menjadi aktif dalam kampanye anti-rasis pelajar.[31]

Pada September 1949, Mirta melahirkan seorang putra, Fidelito, sehingga pasangan tersebut berpindah ke sebuah apartemen Havana yang lebih besar.[32] Castro masih menempatkan dirinya sendiri dalam kesibukan, aktif dalam politik kota tersebut dan ikut Gerakan 30 September, yang terdiri dari kaum komunis dan para anggota Partido Ortodoxo. Tujuan kelompok tersebut adalah untuk menentang pengaruh geng-geng kekerasan di universits tersebut; disamping janji-janjinya, Prío telah gagal untuk mengendalikan keadaan, meskipun menawarkan beberapa pekerjaan anggota senior mereka dalam kementerian-kementerian pemerintah.[33] Castro secara sukarela menyampaikan pidato di Gerakan 13 November, yang menyoroti kongkalingkong rahasia pemerintah dengan geng-geng dan mengidentifikasi anggota-anggota pentingnya. Meraih perhatian pers nasional, pidato tersebut membuat murka kalangan geng, dan Castro lari bersembunyi, mula-mula di dalam negara tersebut dan kemudian AS.[34] Kembali ke Havana beberapa minggu kemudian, Castro berfokus pada pembelajaran universitasnya dan lulus sebagai Doktor Hukum pada September 1950.[35]

Karier dalam hukum dan politik: 1950–1952[sunting | sunting sumber]

Castro berencana untuk melengserkan kepresidenan Jenderal Fulgencio Batista (kiri, dengan Ketua Staf Angkatan Darat AS Malin Craig, pada 1938).

Castro mendirikan sebuah kemitraan hukum yang utamanya ditujukan untuk orang-orang Kuba miskin, meskipun mengalami kegagalan keuangan.[36] Hanya meraih uang atau barang material yang sedikit, Castro gagal membayar cicilannya; perabotannya ditarik dan listriknya diputusi, yang membuatnya istrinya kecewa.[37] Ia ikut dalam protes perguruan tinggi di Cienfuegos pada November 1950, menyerang polisi dalam protes terhadap pelarangan asosiasi pelajar oleh Kementerian Pendidikan; ditangkap dan didakwa melakukan kekerasan, magistrate menyanggah dakwaan tersebut.[38] Harapannya bagi Kuba masih terpusat pada Chibás dan Partido Ortodoxo, dan ia hadir saat Chibás bunuh diri atas dasar politik pada 1951.[39] Memandang dirinya sendiri sebagai pewaris Chibás, Castro ingin menjalankan Kongres pada pemilihan Juni 1952, meskipun para anggota Ortodoxo senior khawatir akan reputasi radikalnya dan menolak untuk menominasikannya.[40] Sebagai gantinya, ia dinominasikan sebagai kandidat Dewan Perwakilan oleh para anggota partai di distrik-distrik termiskin Havana dan mulai berkampanye.[40] Ortodoxo telah dianggap mendukung dan juga memprediksi dalam pemilihan tersebut.[41]

Pada kampanyenya, Castro bertemu dengan Jenderal Fulgencio Batista, mantan presiden yang kembali berpolitik dengan Partai Aksi Uniter; meskipun sama-sama menentang pemerintahan Prío, pertemuan mereka tak pernah mewujudkan kesepakatan politis.[42] Pada Maret 1952, Batista merebut kekuasaan dalam sebuah kudeta militer, dan Prío kabur ke Meksiko. Mendeklarasikan dirinya sendiri sebagai presiden, Batista menunda pemilihan presiden yang direncanakan, mendeskripsikan sistem barunya sebagai "demokrasi yang didisiplinkan": Castro, seperti beberapa orang lainnya, menganggap hal tersebut sebagai kediktatoran satu orang.[43] Batista berpindah ke sayap kiri, menjalin hubungan dengan kaum elit kaya dan Amerika Serikat, mencederai hubungan diplomatik dengan Uni Soviet, mendirikan serikat-serikat dagang dan menganiaya kelompok-kelompok sosialis Kuba.[44] Berniat menentang Batista, Castro membawa beberapa kasus hukum melawan pemerintah, namun tidak membuahkan hasil, dan Castro mulai memikirkan cara-acara alternatif untuk melengserkan rezim tersebut.[45]

Revolusi Kuba[sunting | sunting sumber]

Gerakan dan serangan Barak-Barak Moncada: 1952–1953[sunting | sunting sumber]

Dalam beberapa jam, kamu akan menang atau kalah, namun apapun yang terjadi – simak dengan baik, teman-teman – Gerakan tersebut akan dikumandangkan. Jika kamu menang kemarin, aspirasi Martí akan terpenuhi. Jika gagal, aksi kami akan dijadikan contoh bagi rakyat Kuba, dan dari rakyat akan bangkit kehendak manusia baru yang segar menuju kematian bagi Kuba. Mereka akan memasang spanduk kami dan berjalan maju... Rakyat akan mengikuti di Oriente dan di seluruh pulau. Seperti pada '68 dan '92, di Oriente kami akan memberikan tangisan pertama dari Kebebasan atau Kematian!

— Pidato Fidel Castro kepada Gerakan tersebut tepat sebelum Serangan Moncada, 1953[46]

Castro membentuk sebuah kelompok yang disebut "Gerakan" yang beroperasi sejalan dengan sistem sel bawah tanah, menerbitkan surat kabar bawah tanah El Acusador (Sang Penuduh), sesambil mempersenjatai dan melatih orang-orang rekrutan anti-Batista.[47] Dari Juli 1952, mereka melakukan perektrutan, meraih sekitar 1,200 anggota dalam setahun, kebanyakan dari distrik-distrik termiskin Havana.[48] Meskipun sosialis revolusioner, Castro menjalin aliansi dengan komunis PSP, khawatir akan diserang kalangan moderat politik, namun menjalin kontak dengan para anggota PSP seperti saudaranya Raúl.[49] Castro mengumpulkan senjata untuk serangan terencana pada Barak-Barak Moncada, sebuah garisun militer di luar Santiago de Cuba, Oriente. Para militan Castro memutuskan untuk berpakaian seragam tentara dan datang ke pangkalan tersebut pada 25 Juli, merebut kontrol dan meletupkan senjata sebelum bantuan pasukan dikerahkan.[50] Disuplai dengan persenjataan baru, Castro merebakkan revolusi ke kalangan pemotong rumput di Oriente dan mempromosikan kebangkitan lebih lanjut.[51] Rencana Castro meniru para pejuang kemerdekaan Kuba abad ke-19 yang menyerbu barak-barak Spanyol; Castro memandang dirinya sendiri sebagai pewaris pemimpin kemerdekaan José Martí.[52]

Fidel Castro saat ditangkap setelah serangan Moncada, 1953

Castro mengumpulkan 165 revolusioner untuk misi tersebut,[53] memerintahkan pasukannya agar tidak menumpahkan darah bila mereka belum menemui pemberontakan bersenjata.[54] Serangan tersebut dilakukan pada 26 Juli 1953, namun berjalan tegang; 3 dari 16 mobil yang dikerahkan dari Santiago gagal datang kesana. Mencapai barak-barak, alarm dibunyikan, dengan kebanyakan pemberontak dilumpuhkan oleh tembakan senjata. 4 orang tewas sebelum Castro memerintahkan untuk mundur.[55] Pihak pemberontak mendapatkan 6 korban luka berat dan 15 korban luka-luka lainnya, sementara pihak tentara mendapatkan 19 korban tewas dan 27 korban luka-luka.[56] Selain itu, beberapa pemberontak dilarikan ke rumah sakit sipil; kemudian dicegah oleh psukan pemerintah, para pemberontak pun dibariskan, disiksa dan 22 orang dieksekusi tanpa pengadilan.[57] Didampingi oleh 19 rekan, Castro membentuk Gran Piedra di pegunungan Sierra Maestra yang membentang beberapa mil ke utara, dimana mereka mendirikan sebuah pangkalan gerilya.[58] Menanggapi serangan tersebut, pemerintah Batista memproklamasikan darurat militer, memerintahkan penindakan keras terhadap para pembangkang, dan menerapkan penyensoran media yang ketat.[59] Pemerintah menyiarkan informasi yang salah tentang peristiwa tersebut, dengan mengklaim bahwa para pemberontak adalah komunis yang telah membunuh pasien-pasien rumah sakit, meskipun berita-berita dan foto-foto penggunaan siksaan oleh para tentara dan penjelasan eksekusi di Oriente tersebut yang membuat merebaknya ketidaksetujuan masyarakat dan beberapa orang pemerintahan.[59]

Pada hari-hari berikutnya, para pemberontk dibariskan; beberapa dieksekusi dan lainnya – termasuk Castro – dibawa ke penjara di utara Santiago.[60] Meyakini Castro tidak muhgkin merencanakan serangan tersebut sendirian, pemerintah menuduh para politikus Ortodoxo dan PSP terlibat, membawa 122 terdakwa ke penjara pada 21 September di Istana Keadilan, Santiago.[61] Bertindak sebagai konsel pertahanannya sendiri, Castro menuduh Martí sebagai dalang di balik serangan tersebut dan meminta 3 hakim untuk mengambil keputusan militer untuk menjaga para terdakwa di pengadilan, menyatakan bahwa tuduhan yang merek tuduhkan – "mengorganisir kebangkitan orang-orang bersenjata melawan Kekuasaan Konstitusional Negara" – adalah salah, karena mereka bangkit melawan Batista, yang telah mengambil kekuasaan dalam keadaan tak konstitusional.[62] Pengadilan mendakwa kalangan tentara dengan mendakwa bahwa mereka telah menyiksa para terdakwa, setelah mereka gagal untuk menghalang-halangi Casteo dari pengetestifikasi lebih lanjut, dengan mengklaim bahwa ia terlalu sakit.[63] Pengadilan berakhir pada 5 Oktober, dengan tuduhan kebanyakan terdakwa; 55 orang dihukum penjara antara 7 bulan dan 13 tahun. Castro dihukum pada 16 Oktober, saat ia memberikan sebuah pidato yang kemudian dicetak dengan judul Sejarah Akan Membebaskanku.[64] Castro dihukum 15 tahun penjara di sayap rumah sakit Penjara Model (Presidio Modelo), sebuah lembaga modern dan relatif nyaman di Isla de Pinos.[65]

Pemenjaraan dan Gerakan 26 Juli: 1953–1955[sunting | sunting sumber]

Castro dengan putranya, Fidelito, pada 1954.

Sejujurnya aku ingin mengobarkan revolusi di negara ini dari satu ujung ke ujung yang lainnya! Saya yakin hal ini akan membawa kebahagiaan bagi rakyat Kuba. Aku tak akan dihentikan oleh kebencian dan rasa sakit hati dari ribuan orang, termasuk beberapa kerabatku, setengah orang yang aku kenal, dua per tiga rekan profesionalku, dan empat per lima bekas teman sekolahku

— Fidel Castro, 1954.[66]

Setelah dijebloskan ke penjara bersama dengan 25 rekannya, Castro mengganti nama kelompoknya menjadi "Gerakan 26 Juli" (MR-26-7) untuk mengenang tanggal serangan Moncada, dan ia juga membentuk sebuah sekolah untuk para tahanan.[67] Ia banyak membaca dan tak hanya menikmati karya-karya Marx, Lenin, dan Martí, namun juga membaca buku-buku karya Freud, Kant, Shakespeare, Munthe, Maugham, dan Dostoyevsky, yang ia tilik dari sudut pandang Marxis.[68] Ia masih menjalin hubungan surat-menyurat dengan para pendukungnya, sehingga ia tetap dapat mengendalikan Gerakan 26 Juli dan mengatur proses publikasi Sejarah Akan Membebaskanku.[69] Walaupun awalnya ia diberi beberapa kebebasan, ia diganjar hukuman penahanan sendiri setelah para tahanan menyanyikan lagu-lagu anti-Batista ketika sang presiden berkunjung pada Februari 1954.[70] Sementara itu, istri Castro, Mirta, mendapatkan pekerjaan di Kementerian Dalam Negeri. Castro merasa tercengang setelah mendengar kabar tersebut melalui sebuah pengumuman radio, dan ia menyatakan bahwa ia lebih baik mati "seribu kali" ketimbang "menderita akibat hinaan semacam itu".[71] Fidel dan Mirta memutuskan untuk bercerai, tetapi Mirta-lah yang mendapatkan hak asuh atas putra mereka, Fidelito; hal ini membuat Castro murka, karena ia tak ingin putranya dibesarkan dalam lingkungan borjuis.[71]

Pada 1954, pemerintah Batista mengadakan pemilu presiden, namun Batista menjadi calon tunggal, dan pemilu tersebut dianggap penuh kecurangan. Pemerintah Batista sempat mengizinkan kelompok oposisi untuk bersuara, dan para pendukung Castro menuntut pengampunan untuk para pelaku insiden Moncada. Beberapa politikus merasa bahwa tindakan pengampunan akan menghasilkan citra yang baik, sehingga Kongres dan Batista pun setuju. Batista merasa bahwa Castro bukanlah ancaman, terutama mengingat bahwa ia didukung oleh AS dan perusahaan-perusahaan besar. Maka pada 15 Mei 1955 para tahanan pun dibebaskan.[72] Sekembalinya di Havana, Castro diwawancara oleh radio dan mengadakan konferensi pers; pemerintah sangat memantaunya dan membatasi kegiatan-kegiatannya.[73] Castro pada masa itu sudah bercerai, sehingga ia mulai menjalin hubungan intim dengan dua pendukung perempuannya, Naty Revuelta dan Maria Laborde, dan keduanya dihamili olehnya.[74] Sebagai bagian dari rencananya untuk memperkuat MR-26-7, ia mendirikan Direktorat Nasional yang beranggotakan 11 orang, namun ia tetap mengendalikan badan tersebut secara otoriter, dan bahkan beberapa pembangkang mencapnya sebagai seorang caudillo (diktator); Castro sendiri berdalih bahwa suatu revolusi hanya akan berhasil jika dijalankan oleh sebuah komite dan seorang pemimpin yang kuat.[75]

Saudara Fidel, Raúl (kiri), dan Che Guevara (kanan)

Pada 1955, pemerintah mulai mengambil tindakan keras terhadap para pembangkang akibat terjadinya pengeboman dan demonstrasi yang menggunakan kekerasan, sehingga Castro dan Raúl melarikan diri dari negara tersebut agar tidak ditangkap.[76] Castro mengirim surat kepada media yang menyatakan bahwa ia "meninggalkan Kuba karena semua pintu perjuangan secara damai telah tertutup untukku ... Sebagai pengikut Martí, aku percaya bahwa telah tiba saatnya untuk merebut hak-hak kami dan bukannya mengemis kepada mereka, untuk berjuang dan bukannya memohon-mohon."[77] Castro bersaudara dan beberapa rekan mereka pergi ke Meksiko,[78] dan di situ Raúl berteman dengan seorang dokter Argentina penganut Marxis-Leninis yang bernama Ernesto "Che" Guevara, yang bekerja sebagai jurnalis dan fotografer untuk "Agencia Latina de Noticias".[79] Fidel menyukainya, dan kelak menggambarkannya sebagai "seorang revolusioner yang lebih maju ketimbang saya".[80] Castro juga berhubungan dengan Alberto Bayo, yang bersedia mengajari orang-orang Castro kemampuan-kemampuan yang dibutuhkan dalam perang gerilya.[81] Dalam rangka mengumpulkan dana, Castro pergi ke AS untuk mencari simpatisan kaya, tetapi di sana pergerakannya dipantau oleh agen-agen Batista, dan konon agen-agen tersebut pernah mencoba membunuhnya.[82] Castro masih tetap berhubungan dengan MR-26-7 di Kuba, dan kelompok tersebut telah memperoleh basis dukungan yang besar di Oriente.[83] Kelompok-kelompok militan anti-Batista lainnya juga muncul, terutama dari kalangan mahasiswa; yang paling terkenal dari antara kelompok-kelompok tersebut adalah Directorio Revolucionario Estudiantil (DRE), yang didirikan oleh José Antonio Echeverría. Antonio bertemu dengan Castro di Kota Meksiko, namun Castro menentang cara pandang kelompok tersebut yang mendukung tindakan pembunuhan tanpa pandang bulu.[84]

Setelah membeli kapal yacht Granma, pada 25 November 1956, Castro berlayar dari Tuxpan, Veracruz, menuju Kuba bersama dengan 81 pengobar revolusi bersenjata.[85] Perjalanan sejauh 1.900 km tersebut bukanlah perjalanan yang mudah. Persediaan makanan terus menipis, sementara banyak yang mabuk laut. Bahkan di tengah perjalanan mereka harus mengeluarkan air yang masuk akibat kebocoran, dan salah satu rekan mereka juga pernah ada yang terjatuh dari kapal, sehingga menunda perjalanan mereka.[86] Rencana Castro sebelumnya adalah untuk mencapai Kuba dalam waktu lima hari, dan kemudian saat mereka mendarat anggota MR-26-7 yang dipimpin oleh Frank País akan melancarkan pemberontakan di Santiago dan Manzanillo. Namun, perjalanan Granma berlangsung selama tujuh hari. Akibatnya, País dan pasukannya mengalami kekalahan setelah diserang secara terus menerus oleh pasukan pemerintah selama dua hari.[87]

Perang gerilya: 1956–1959[sunting | sunting sumber]

Pegunungan Sierra Maestra yang dipenuhi hutan lebat. Di sini Castro dan pasukan revolusionernya memimpin serangan gerilya melawan pasukan Batista selama dua tahun. Penulis biografi Castro, Robert E. Quirk, berkomentar bahwa "tidak ada tempat lain yang lebih baik untuk bersembunyi" di Kuba.[88]

Granma karam di daerah rawa bakau di Playa Las Coloradas, yang terletak tidak jauh dari Los Cayuelos, pada 2 Desember 1956. Castro dan rekan-rekannya melarikan diri ke pedalaman menuju kawasan pegunungan Sierra Maestra di Oriente, meskipun selama perjalanannya mereka berulang kali diserang oleh pasukan Batista.[89] Sesampainya di situ, Castro baru sadar bahwa hanya ada 19 orang yang berhasil sampai di tujuan, sisanya dibunuh atau ditangkap.[90] Mereka lalu mendirikan sebuah perkemahan, dan sejauh ini orang-orang yang berhasil selamat meliputi Castro bersaudara, Che Guevara, dan Camilo Cienfuegos.[91] Mereka kemudian mulai melakukan serangan ke pos-pos tentara kecil untuk merampas senjata, dan pada Januari 1957 mereka menyerbu sebuah pos di La Plata; mereka mengobati setiap prajurit yang terluka, tetapi mereka menghukum mati Chicho Osorio, seorang mayoral (mandor perusahaan lahan) yang dibenci oleh para petani setempat.[92] Dengan menghukum mati Osorio, para pemberontak pun mendapatkan kepercayaan dari para penduduk setempat, walaupun Castro dan rekan-rekannya masih dicurigai.[93] Seiring berjalannya waktu, kepercayaan ini turut menguat, sehingga beberapa warga bergabung dengan kelompok pemberontak, tetapi sebagian besar sukarelawan baru berasal dari kawasan perkotaan.[94] Dengan ini jumlah pasukan pemberontak bertambah hingga mencapai 200 orang, dan pada Juli 1957 Castro membagi tentaranya menjadi tiga, masing-masing dipimpin oleh dirinya, saudaranya, dan Guevara.[95] Para anggota MR-26-7 yang beroperasi di kawasan perkotaan melanjutkan perlawanan dan mengirimkan persediaan kepada Castro, dan pada 16 Februari 1957 ia bertemu dengan para anggota senior lainnya untuk membahas taktik; di situ ia bertemu dengan Celia Sánchez, yang kelak akan menjadi teman dekatnya.[96]

Kelompok-kelompok anti-Batista di berbagai wilayah di Kuba melakukan pengeboman dan sabotase; polisi menanggapinya dengan penangkapan massal, penyiksaan, dan pembunuhan di luar hukum.[97] Pada Maret 1957, serangan DRE ke Istana Presiden mengalami kegagalan, dan selama serangan tersebut Antonio mati tertembak.[97] Frank País juga tewas, sehingga Castro menjadi satu-satunya pemimpin MR-26-7 yang tersisa.[98] Meskipun Guevara dan Raúl dikenal akan pandangan Marxis-Leninis mereka, Castro berupaya menyembunyikannya, karena ia menginginkan dukungan dari kelompok-kelompok revolusioner yang tidak terlalu radikal.[99] Pada 1957, ia bertemu dengan para pemimpin Partido Ortodoxo, Raúl Chibás dan Felipe Pazos, dan mereka merumuskan Manifesto Sierra Maestra yang menyerukan pembentukan pemerintahan sementara yang dipimpin untuk memberlakukan reformasi agraria, industrialisasi, dan kampanye melek huruf, serta sebuah pemilu yang diikuti oleh beberapa partai.[99] Pers Kuba pada masa itu disensor, sehingga Castro menghubungi media asing untuk menyebarkan pesannya; ia menjadi terkenal setelah diwawancarai oleh Herbert Matthews, seorang jurnalis dari The New York Times.[100] Para wartawan dari CBS dan Paris Match kemudian juga mewawancarainya.[101]

Castro (kanan) dengan rekannya, Camilo Cienfuegos, sedang memasuki kota Havana pada 8 Januari 1959

Para gerilyawan Castro meningkatkan serangan-serangan mereka ke pos-pos militer, sehingga pasukan pemerintah terpaksa mundur dari kawasan Sierra Maestra, dan pada musim semi 1958, para pemberontak menguasai sebuah rumah sakit, sekolah-sekolah, tempat percetakan, rumah jagal, pabrik ranjau, dan sebuah pabrik rokok.[102] Pada 1958, Batista semakin menghadapi kemelut akibat kegagalan militernya, dan juga akibat kritik-kritik yang terus mengalir dari dalam dan luar negeri yang terkait dengan tindakan penyensoran, penyiksaan, dan pembunuhan di luar hukum yang dilakukan oleh rezimnya.[103] Pemerintah AS bahkan menghentikan bantuan persenjataan kepadanya.[103] Kelompok oposisi lalu menyerukan mogok kerja, yang kemudian diiringi oleh serangan dari kelompok MR-26-7. Semenjak 9 April, kelompok tersebut mendapatkan dukungan yang besar di Kuba tengah dan timur, tetapi tidak terlalu didukung di wilayah lainnya.[104]

Batista membalasnya dengan melancarkan serangan besar-besaran yang disebut Operasi Verano. Angkatan darat membombardir wilayah hutan dan pedesaan yang diduga membantu kelompok pemberontak, sementara 10.000 pasukan yang dipimpin oleh Jenderal Eulogio Cantillo mengepung kawasan Sierra Maestra dan bergerak ke arah utara menuju kamp-kamp pemberontak.[105] Meskipun jumlah pasukan dan teknologi mereka lebih unggul, angkatan darat Batista sama sekali tidak berpengalaman dalam menghadapi perang gerilya, dan Castro mampu menahan serangan-serangan mereka dengan menggunakan ranjau dan melakukan penyergapan.[105] Banyak prajurit Batista yang membelot ke pihak Castro, dan Castro sendiri didukung oleh penduduk setempat.[106] Pada musim panas, MR-26-7 melakukan serangan balasan dan berhasil mengusir angkatan darat Batista dari wilayah pegunungan, dan Castro sendiri memimpin barisannya dan melakukan gerakan menjepit yang mengepung pasukan utama Batista di Santiago. Pada bulan November, pasukan Castro menguasai sebagian besar wilayah Oriente dan Las Villas, dan membagi Kuba menjadi dua dengan menutup jalan-jalan besar dan jalur-jalur rel; hal ini sangat merugikan Batista.[107]

AS merasa takut dengan kemungkinan bahwa Castro adalah seorang sosialis, dan mereka menginstruksikan Cantillo untuk melengserkan Batista.[108] Cantillo secara diam-diam menyepakati gencatan senjata dengan Castro dan ia juga menjanjikan bahwa Batista akan diadili sebagai seorang penjahat perang;[108] namun, ada yang memperingatkan Batista terkait dengan hal ini, sehingga ia melarikan diri dengan membawa uang yang jumlahnya melebihi US$300.000.000 pada 31 Desember 1958.[109] Cantillo memasuki Istana Presiden di Havana dan menyatakan hakim Mahkamah Agung Carlos Piedra sebagai Presiden.[110] Castro pun murka dan memutuskan untuk mengakhiri gencatan senjata.[111] Ia juga memerintahkan kepada prajurit anggota darat yang bersimpati dengan revolusi untuk menangkap Cantillo.[112] Saat mengikuti perayaan pelengseran Batista pada 1 Januari 1959, Castro memerintahkan MR-26-7 untuk mencegah penjarahan dan vandalisme.[113] Cienfuegos dan Guevara lalu memimpin pasukan mereka ke Havana pada 2 Januari, sementara Castro memasuki Santiago dan menyampaikan pidato yang menyebut soal perang kemerdekaan.[114] Saat menuju Havana, ia disambut kerumunan di setiap kota, dan ia juga melakukan konferensi pers dan diwawancara.[115]

Pemerintahan sementara: 1959[sunting | sunting sumber]

Atas perintah dari Castro, pengacara Manuel Urrutia Lleó yang beraliran moderat dinyatakan sebagai presiden sementara, namun Castro mengeluarkan sebuah pernyataan yang sebenarnya salah, bahwa Urrutia telah dipilih melalui "pemilihan umum". Kebanyakan anggota kabinet Urrutia merupakan anggota MR-26-7.[116] Saat memasuki kota Havana, Castro menyatakan dirinya sebagai Perwakilan Angkatan Bersenjata Pemberontak di bawah Kepresidenan, dan lalu ia menetap dan berkantor di Havana Hilton Hotel.[117] Castro sangat berpengaruh terhadap pemerintahan Urrutia, yang merupakan sebuah pemerintahan yang berkuasa dengan mengeluarkan dekret-dekret. Ia berupaya memastikan agar pemerintahan yang baru menjalankan kebijakan-kebijakan pemberantasan korupsi dan buta huruf, serta kebijakan yang mengeluarkan para pendukung Batista dari jabatan-jabatan pemerintahan, termasuk pemecatan anggota Kongres dan pelarangan menduduki jabatan untuk semua orang yang "terpilih" dalam pemilu curang tahun 1954 dan 1958. Ia kemudian mendorong Urrutia untuk mengeluarkan larangan sementara terhadap partai-partai politik, walaupun ia berulangkali menegaskan bahwa mereka akan mengadakan pemilu yang dapat diikuti oleh lebih dari satu partai.[118] Meskipun ia menyangkal tuduhan bahwa ia adalah seorang komunis di hadapan media, ia diam-diam bertemu dengan anggota-anggota Partai Sosialis Rakyat untuk membahas rencana pembentukan sebuah negara sosialis.[119]

Kami tidak menghukum mati orang-orang tak berdosa atau lawan politik. Kami menghukum mati para pembunuh dan mereka memang pantas menerimanya.

— Tanggapan Castro terhadap kritikan yang terkait dengan pengeksekusian massal, 1959[120]

Pemerintahan Batista telah membunuh ribuan orang Kuba saat mereka berupaya memadamkan revolusi; Castro dan media-media besar memperkirakan jumlah korban tewasnya mencapai 20.000 orang, namun daftar korban yang diterbitkan tak lama seusai revolusi hanya berisi 898 nama, dan lebih dari setengahnya adalah kombatan perang.[121] Perkiraan-perkiraan yang lebih terkini mengeluarkan angka yang berkisar antara 1000[122] hingga 4000 korban jiwa.[123] Sebagai tanggapan terhadap seruan agar orang-orang yang bertanggung jawab diseret ke meja hijau, Castro membantu mendirikan beberapa pengadilan, yang berujung pada penghukuman mati ratusan orang. Meskipun kebijakan ini populer di dalam negeri, para kritikus (khususnya pers AS) menyatakan bahwa proses pengadilannya seringkali tidak dilaksanakan secara adil. Castro menanggapinya dengan menyatakan bahwa "Pengadilan revolusioner tidak didasarkan pada aturan-aturan hukum, namun pada keyakinan moral".[124] Sementara itu, keberhasilan Castro disambut dengan baik oleh banyak orang di Amerika Latin, dan ia lalu berkunjung ke Venezuela untuk bertemu dengan presiden terpilih Rómulo Betancourt, namun ia tidak berhasil memperoleh pinjaman dan juga gagal membuat perjanjian pembelian minyak yang baru.[125] Sekembalinya di tanah air, terjadi adu pendapat antara Castro dengan anggota pemerintahan senior. Ia merasa murka setelah mengetahui bahwa pemerintah telah menyebabkan ribuan orang menganggur akibat penutupan kasino dan rumah bordil. Perdana Menteri José Miró Cardona lalu mengundurkan diri, mengasingkan diri di AS, dan bergabung dengan pergerakan anti-Castro.[126]

Perdana Menteri[sunting | sunting sumber]

Mengukuhkan kekuasaan: 1959–1960[sunting | sunting sumber]

Castro memandang Monumen Lincoln saat ia berkunjung ke Amerika Serikat pada 1959

Pada 16 Februari 1959, Castro disumpah menjadi Perdana Menteri Kuba.[127] Pada bulan April, ia mengunjungi AS, tetapi Presiden Eisenhower tidak mau menemuinya dan malah mengutus Wakil Presiden Richard Nixon untuk menggantikannya; Castro langsung tidak menyukai Nixon setelah mereka bertemu.[128] Castro lalu melanjutkan kunjungannya ke Kanada, Trinidad, Brasil, dan Uruguay. Ia juga menghadiri sebuah konferensi ekonomi di Buenos Aires, Argentina, dan di situ ia mengajukan usulan agar AS menggelontorkan "Rencana Marshall" senilai $30 miliar untuk Amerika Latin, tetapi usulan tersebut ditolak.[129] Pada Mei 1959, Castro menandatangani hukum Reformasi Agraria Pertama, yang menetapkan batas maksimal luas kepemilikan lahan sebesar 993 ekar (402 hektare) per pemilik, dan melarang orang asing memperoleh kepemilikan lahan di Kuba. Sekitar 200.000 petani mendapatkan surat kepemilikan lahan setelah lahan-lahan besar diredistribusikan; kebijakan ini didukung oleh para buruh, tetapi dibenci oleh golongan pemilik lahan,[130] termasuk ibunya sendiri.[131] Pada masa ini, Castro juga mengangkat dirinya sebagai presiden Industri Pariwisata Nasional. Ia mencoba menarik wisatawan Afrika-Amerika dengan mengiklankan Kuba sebagai tempat wisata tropis yang terbebas dari segala bentuk diskriminasi ras, tetapi upaya tersebut tidak berhasil.[132] Sementara itu, gaji para hakim dan politikus diturunkan, dan gaji PNS rendahan dinaikkan.[133] Pada Maret 1959, ia juga menyatakan bahwa biaya sewa untuk orang-orang yang membayar lebih sedikit dari $100 sebulan akan dikurangi setengah.[134]

Meskipun ia menolak menggolongkan rezimnya sebagai rezim sosialis dan berulangkali menyangkal tuduhan komunis, Castro memberikan jabatan senior pemerintahan dan militer kepada orang-orang yang berhaluan Marxis. Salah satu contohnya adalah Che Guevara yang menjadi Gubernur Bank Sentral dan kemudian juga diangkat sebagai Menteri Perindustrian. Komandan Angkatan Udara Pedro Luis Díaz Lanz sangat tercengang sampai-sampai ia membelot ke AS.[135] Meskipun Presiden Urrutia mengutuk pengkhianatan tersebut, ia mengungkapkan kekhawatirannya terkait dengan kebangkitan Marxisme. Castro pun murka dan lalu mengumumkan pengunduran dirinya dari jabatan Perdana Menteri, dan ia menuduh Urrutia telah mempersulit pemerintahannya dengan pandangan "anti-komunisme yang menggebu-gebu". Lebih dari 500.000 pendukung Castro lalu mengepung Istana Presiden dan menuntut pengunduran diri Urrutia. Urrutia memenuhi tuntutan tersebut, dan Castro pada 23 Juli meneruskan jabatannya sebagai Perdana Menteri dan mengangkat Osvaldo Dorticós yang berhaluan Marxis sebagai Presiden.[136]

Castro bersama dengan Presiden Indonesia Sukarno di Havana, 1960

Pemerintah Castro mengutamakan kebijakan-kebijakan sosial untuk meningkatkan standar hidup rakyat Kuba, walaupun kebijakan itu seringkali mengorbankan pertumbuhan ekonomi.[137] Pemerintahannya sangat mementingkan pendidikan, dan selama 30 bulan pertama pemerintahan Castro, banyak sekolah-sekolah baru yang dibuka. Sistem pendidikan dasar Kuba mulai menawarkan program studi-kerja: separuh waktu dijalani di ruang kelas, dan separuh waktu lainnya dihabiskan untuk melakukan aktivitas produktif.[138] Penyediaan layanan kesehatan juga dinasionalisasi dan diperluas jangkauannya; pusat-pusat kesehatan di pedesaan dan poliklinik di perkotaan dibuka di berbagai wilayah Kuba dan digratiskan. Selain itu, pemerintah Castro menggalakkan vaksinasi untuk mencegah penyakit-penyakit masa kecil, dan tingkat kematian bayi pun berkurang secara drastis.[137] Bagian ketiga dari program sosial Castro adalah pembangunan infrastruktur. Selama enam bulan pertama pemerintahan Castro, 600 mil jalan dibangun di seluruh Kuba, sementara $300 juta digelontorkan untuk proyek penyediaan air dan sanitasi.[137] Lebih dari 800 rumah dibangun setiap bulannya pada tahun-tahun awal pemerintahan Castro dalam upaya untuk memerangi ketunawismaan, sementara tempat penitipan anak dan perawatan penyandang disabilitas dan lansia juga didirikan.[137]

Castro (paling kiri), Che Guevara (tengah), dan anggota kelompok revolusioner lainnya berpawai di jalanan pada 5 Maret 1960 selama upacara pemakaman korban-korban ledakan La Coubre

Castro menggunakan radio dan televisi untuk melakukan "dialog dengan rakyat", mengajukan pertanyaan-pertanyaan, dan membuat pernyataan-pernyataan provokatif.[139] Rezimnya masih tetap populer di kalangan buruh, petani, dan mahasiswa, dan ketiganya jika digabung merupakan kelompok mayoritas di Kuba.[140] Di sisi lain, perlawanan biasanya muncul dari kelas menengah; ribuan dokter, insinyur, dan kaum profesional lainnya pindah ke Florida, sehingga terjadilah pelarian sumber daya manusia.[141] Produktivitas pun menurun dan cadangan keuangan negara tersebut terkuras dalam waktu dua tahun.[134] Setelah pers yang berhaluan konservatif bermusuhan dengan pemerintah, serikat percetakan yang pro-Castro mengganggu staf-staf editorialnya, dan pada Januari 1960 pemerintah memerintahkan mereka untuk menerbitkan sebuah "klarifikasi" yang ditulis oleh serikat percetakan di bagian akhir artikel yang mengkritik pemerintah.[142] Pemerintah Castro menangkap ratusan orang yang dituduh kontra-revolusi,[143] dan banyak dari antara mereka yang menjadi ditahan, diperlakukan secara kasar, atau diancam.[144] Kelompok militan anti-Castro (yang didanai oleh orang-orang Kuba di pengasingan, Central Intelligence Agency (CIA), dan pemerintah Dominika) melakukan serangan dan mendirikan pangkalan-pangkalan gerilya di kawasan pegunungan Kuba, sehingga meletuslah Pemberontakan Escambray yang berlangsung selama enam tahun.[145]

Pada 1960, Perang Dingin terus memanas di antara dua negara adidaya: Amerika Serikat, sebuah negara demokrasi liberal kapitalis, melawan Uni Soviet, sebuah negara sosialis Marxis-Leninis yang diperintah oleh Partai Komunis. Castro menyatakan ketidaksukaannya terhadap AS dan memiliki pandangan-pandangan ideologi yang serupa dengan Uni Soviet, sehingga ia membina hubungan dengan beberapa negara yang berhaluan Marxis–Leninis.[146] Castro lalu bertemu dengan Wakil Pertama Perdana Menteri Uni Soviet Anastas Mikoyan, dan ia bersedia untuk memasok Uni Soviet dengan gula, buah-buahan, serat, dan kulit hewan, dan sebagai gantinya Kuba akan memperoleh minyak mentah, pupuk, barang-barang industri, dan pinjaman senilai $100 juta.[147] Pemerintah Kuba memerintahkan agar kilang-kilang minyak di negara tersebut (yang dikendalikan oleh perusahaan-perusahaan AS) memroses minyak-minyak dari Soviet, namun mereka menolaknya akibat tekanan dari AS. Castro menanggapinya dengan menasionalisasikan kilang-kilang tersebut. AS lalu berhenti mengimpor gula dari Kuba, tetapi Castro membalasnya dengan menasionalisasikan sebagian besar aset milik AS di pulau tersebut, termasuk pabrik gula dan bank.[148]

Hubungan antara Kuba dengan AS semakin memburuk setelah terjadinya ledakan kapal Prancis La Coubre di pelabuhan Havana pada Maret 1960. Kapal tersebut mengangkut senjata-senjata yang dibeli dari Belgia, dan penyebab ledakan tersebut tidak diketahui, namun Castro secara terbuka menuduh pemerintah AS sebagai dalangnya. Ia mengakhiri pidatonya dengan mengatakan "¡Patria o Muerte!" ("Tanah Air atau Mati!"), sebuah pernyataan yang sering ia kumandangkan pada tahun-tahun berikutnya.[149] Pemerintah AS terinspirasi dengan keberhasilan kudeta Guatemala 1954, sehingga Presiden AS Eisenhower pada Maret 1960 memerintahkan CIA untuk melengserkan pemerintah Castro. Untuk melaksanakan tugas tersebut, CIA diberikan anggaran sebesar $13 juta dan mereka juga diperbolehkan bersekutu dengan Mafia, yang merasa kesal karena pemerintah Castro menutup rumah-rumah bordil dan usaha-usaha kasino mereka di Kuba.[150] Pada 13 Oktober 1960, AS melarang sebagian besar ekspor ke Kuba dan memulai sebuah embargo ekonomi. Sebagai balasannya, Lembaga Nasional untuk Reformasi Agraria (INRA) mengambil alih 383 usaha swasta pada 14 Oktober, dan pada 25 Oktober terdapat 166 perusahaan AS di Kuba yang dinasionalisasi.[151] Pada 16 Desember, AS mengakhiri kuota impor gula dari Kuba, yang merupakan sumber devisa utama Kuba.[152]

Pada September 1960, Castro mendatangi Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York City. Ia menginap di Hotel Theresa, Harlem, dan di situ ia bertemu dengan para jurnalis dan aktivis-aktivis seperti Malcolm X. Ia juga bertemu dengan Perdana Menteri Soviet Nikita Khrushchev, dan mereka berdua sama-sama mengutuk kemiskinan dan rasisme yang dialami oleh orang-orang Amerika di kawasan seperti Harlem. Castro dan Khrushchev berhubungan akrab, dan masing-masing dari mereka memulai tepuk tangan saat yang lain selesai berpidato di hadapan Majelis Umum.[153] Castro kemudian dikunjungi oleh Sekretaris Pertama Polandia Władysław Gomułka, pemimpin Bulgaria Todor Zhivkov, Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser, dan Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru.[154] Pada sore harinya, Castro juga diterima di resepsi Fair Play for Cuba Committee.[155]

Sekembalinya di Kuba, Castro takut dilengserkan oleh AS; pada 1959, rezimnya menghabiskan uang sebesar $120 juta untuk membeli persenjataan dari Soviet, Prancis, dan Belgia, dan pada awal 1960 pemerintah Kuba telah menggandakan jumlah tentara Kuba.[156] Ia juga mengkhawatirkan unsur-unsur kontra-revolusi di kalangan tentara, sehingga pemerintah membentuk Milisi Rakyat dengan maksud untuk mempersenjatai warga sipil yang mendukung revolusi, dan untuk itu mereka memberikan pelatihan kepada sekitar 50.000 orang.[157] Pada September 1960, pemerintah Kuba mendirikan Komite Pertahanan Revolusi (KPR), sebuah organisasi sipil nasional yang melakukan aktivitas mata-mata untuk menemukan kegiatan-kegiatan kontra-revolusi, meskipun organisasi ini juga mengadakan kampanye kesehatan dan pendidikan. Pada 1970, sepertiga penduduk Kuba terlibat dalam KPR, dan persentasenya akan terus meningkat hingga mencapai 80%.[158]

Castro menyatakan berdirinya pemerintahan baru yang berasaskan demokrasi langsung, dan berdasarkan sistem ini rakyat Kuba dapat berkumpul dan bergabung dengan unjuk rasa untuk menyatakan kehendak mereka. Castro juga menolak pengadaan pemilu, dan ia mengklaim bahwa sistem demokrasi perwakilan hanya memenuhi kepentingan elit-elit sosio-ekonomi.[159] Menteri Luar Negeri AS Christian Herter kemudian mengumumkan bahwa Kuba telah menerapkan model pemerintahan Soviet dalam bentuk pemerintahan satu partai, penindasan kebebasan sipil, pengendalian serikat-serikat dagang oleh pemerintah, dan ketiadaan kebebasan berbicara dan kebebasan pers.[160]

Invasi Teluk Babi dan "Kuba Sosialis": 1961–1962[sunting | sunting sumber]

[Tidak ada] keraguan mengenai siapa pemenangnya. Posisi Kuba di mata dunia melejit, dan citra Fidel sebagai pemimpin yang sangat dikagumi dan dihormati oleh rakyat jelata Kuba pun menguat. Ketenarannya lebih tinggi daripada sebelum-sebelumnya. Ia sendiri berpikir bahwa ia telah mewujudkan apa yang hanya dapat diangan-angankan oleh generasi-generasi Kuba sebelumnya: ia telah menantang Amerika Serikat dan menang.

Peter Bourne, biografer Castro, 1986[161]

Pada Januari 1961, Castro memerintahkan Kedutaan Besar AS di Havana untuk mengurangi jumlah anggota stafnya yang mencapai 300 orang, karena ia menduga bahwa banyak dari antara mereka yang menjadi mata-mata. AS menanggapinya dengan mengakhiri hubungan diplomatik dengan Kuba dan meningkatkan pendanaan yang digelontorkan oleh CIA kepada para pembangkang di pengasingan; militan-militan tersebut juga mulai menyerang kapal-kapal yang berdagang dengan Kuba dan meledakkan pabrik-pabrik, toko-toko, dan tempat pengolahan gula.[162] Baik Eisenhower maupun penerusnya, John F. Kennedy, mendukung rencana CIA yang ingin membantu milisi pembangkang "Barisan Revolusioner Demokratik" dalam upaya mereka untuk melengserkan Castro; rencana tersebut berujung pada Invasi Teluk Babi pada April 1961. Pada 15 April, B-26 yang disediakan oleh CIA meledakkan 3 pangkalan udara militer Kuba; AS mengumumkan bahwa para pelakunya adalah pilot angkatan udara Kuba yang membelot, namun Castro membongkar kebohongan klaim tersebut.[163] Castro lalu memerintahkan penangkapan 20.000 hingga 100.000 orang yang dituduh kontra-revolusi,[164] dan di depan umum ia mengumandangkan, "Yang tidak dapat diampuni oleh kaum imperialis adalah bagaimana kita telah mengobarkan revolusi Sosialis di pelupuk mata mereka sendiri", dan ini adalah pertama kalinya ia menyatakan bahwa pemerintahannya adalah pemerintahan sosialis.[165]

Che Guevara (kiri) dan Castro, difoto oleh Alberto Korda pada 1961

CIA dan Barisan Revolusioner Demokrat telah menempatkan Brigada Asalto 2506 yang berjumlah 1.400 tentara di Nikaragua. Pada malam tanggal 16-17 April, Brigada 2506 mendarat di Teluk Babi, Kuba, dan kemudian terjadi baku tembak antara mereka dengan milisi revolusioner setempat. Castro memerintahkan Kapten José Ramón Fernández untuk melancarkan serangan balasan, tetapi ia kemudian memimpin pasukan tersebut secara langsung. Setelah Castro berhasil mengebom kapal-kapal milik para penyerang dan memperoleh bala bantuan, Brigada tersebut menyerah pada 20 April.[166] Ia memerintahkan agar 1189 pemberontak yang ditangkap diinterogasi oleh sebuah panel jurnalis dengan disiarkan secara langsung oleh televisi. Ia lalu memimpin proses interogasi tersebut secara langsung pada 25 April. 14 orang dari antara mereka diadili atas kejahatan yang telah dilakukan sebelum revolusi, sementara yang lainnya dipulangkan ke AS untuk ditukar dengan obat-obatan dan makanan senilai U.S. $25 juta.[167] Kemenangan Castro bergaung di dunia, khususnya di Amerika Latin, namun juga meningkatkan perlawanan internal, terutama dari golongan menengah Kuba yang ditahan menjelang terjadinya invasi. Meskipun kebanyakan dibebaskan dalam waktu beberapa hari, beberapa di antaranya melarikan diri ke AS dan menetap di Florida.[168]

Untuk mengukuhkan "Kuba Sosialis", Castro menggabungkan MR-26-7, Partai Sosialis Rakyat, dan Direktorat Revolusioner menjadi sebuah partai pemerintahan yang berlandaskan pada asas Leninis yang disebut sentralisme demokrat. Partai ini disebut "Organisasi Revolusioner Terintegrasi" (Organizaciones Revolucionarias Integradas – ORI), yang kemudian berganti nama menjadi Partai Kesatuan Revolusi Sosialis Kuba pada 1962.[169] Meskipun Uni Soviet masih meragukan pandangan sosialisme Castro,[170] hubungannya dengan Soviet semakin erat. Castro mengirim Fidelito ke Moskwa untuk bersekolah,[171] para teknisi Soviet datang ke Kuba,[171] dan Castro juga dianugerahi Penghargaan Perdamaian Lenin.[172] Pada Desember 1961, Castro mengakui bahwa ia sudah menjadi seorang Marxis–Leninis selama bertahun-tahun, dan dalam Deklarasi Havana Kedua-nya, ia menyerukan agar Amerika Latin bangkit dan mengobarkan revolusi.[173] Akibatnya, AS meminta Organisasi Negara-Negara Amerika untuk mengeluarkan Kuba; Soviet secara pribadi menegur Castro karena ia dianggap ceroboh, meskipun ia mendapatkan pujian dari Tiongkok.[174] Walaupun Castro cenderung bersimpati secara ideologis kepada Tiongkok, selama terjadinya perpecahan Soviet-Tiongkok, Kuba bersekutu dengan Soviet yang lebih kaya, terutama mengingat bahwa Soviet menawarkan bantuan ekonomi dan militer.[175]

ORI mulai merombak Kuba berdasarkan contoh Uni Soviet; mereka menindas lawan-lawan politik dan orang-orang yang dianggap menyimpang secara sosial, seperti para pelacur dan kaum homoseksual; Castro menganggap aktivitas seksual sesama jenis sebagai sebuah perilaku borjuis.[176] Pria gay dipaksa masuk ke kamp-kamp pertanian yang disebut Satuan Militer untuk Bantuan Produksi (Unidades Militares de Ayuda a la Producción – UMAP); namun, banyak kaum intelektual revolusioner yang mengutuk tindakan ini, sehingga kamp-kamp tersebut ditutup pada 1967, meskipun pria gay masih tetap dipenjara.[177] Pada 2010, Castro menyatakan bahwa ia bertanggung jawab atas tindakan penindasan tersebut dan menyebutnya sebagai "ketidakadilan yang besar".[178] Pada 1962, ekonomi Kuba mengalami kemunduran akibat manajemen ekonomi yang buruk dan produktivitas yang rendah, yang semakin diperparah oleh embargo dagang AS. Kekurangan pangan memicu protes di Cárdenas.[179] Laporan keamanan menunjukkan bahwa banyak orang Kuba yang mengaitkan keadaan yang sulit tersebut dengan "Komunis Lama" dari PSP, sementara Castro merasa bahwa beberapa tokoh Komunis Lama – yakni Aníbal Escalante dan Blas Roca – terlalu setia kepada Moskwa. Pada Maret 1962, Castro memberhentikan tokoh-tokoh penting "Komunis Lama" dari jabatan mereka dan mencap mereka "sektarian".[180] Dalam hal hubungan pribadi, Castro menjadi semakin sendiri, dan hubungannya dengan Guevara juga retak karena Guevara menjadi semakin anti-Soviet dan pro-Tiongkok.[181]

Krisis Misil Kuba dan sosialisme lanjutan: 1962–1968[sunting | sunting sumber]

Foto pantauan U-2 dari misil-misil nuklir Soviet di Kuba

Secara militer lebih menyadari ketimbang NATO, Khrushchev ingin memasang misil-misil nuklir R-12 MRBM Soviet di Kuba untuk menyeimbangkan kekuatan.[182] Walau berseteru, Castro setuju, meyakini bahwa itu akan menjaga keamanan Kuba dan mendorong sebab-sebab sosialisme.[183] Dirahasiakan, hanya saudara-saudara Castro, Guevara, Dorticós dan kepala keamanan Ramiro Valdés yang mengetahui rencana tersebut.[184] Setelah diketahui melalui pantauan udara, pada bulan Oktober, AS mengkarantina seluruh pulau tersebut untuk mencari kapal-kapal yang menuju ke Kuba, yang berujung pada Krisis Misil Kuba. AS memandang misil tersebut sebagai sebuah bentuk perlawanan; Castro menyatakan bahwa misil-misil tersebut hanya untuk pertahanan.[185] Castro menyatakan kepada Khrushchev agar mengancam sebuah serangan nuklir terhadap AS bila Kuba diserang, namun Khrushchev berniat untuk menghindari perang nuklir.[186] Castro meninggalkan negosiasi tersebut, dimana Khruschev sepakat untuk menarik misil-misil tersebut dalam rangka pertukaran dengan komitmen AS untuk tidak menginvasi Kuba dan memahami bahwa AS akan menarik MRBM mereka dari Turki dan Italia.[187] Merasa dikhianati oleh Khruschev, Castro menjadi depresi dan kemudian jatuh sakit.[188] Mencanangkan rencana lima dalil, Castro menuntut agar AS mengakhiri embargonya, menarik diri dari Pangkalan Angkatan Laut Teluk Guantanamo, berhenti mendukung para pembangkang, dan berhenti mencederai kawasan perairan dan udara Kuba. Menyerahkan tuntutan tersebut kepada U Thant, Sekretaris-Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa pada waktu itu, AS menghiraukannya, dan sebagai balasannya Castro menolak untuk mengijinkan tim inspeksi PBB datang ke Kuba.[189]

Pada Mei 1963, Castro mengunjungi USSR atas undangan pribadi Khrushchev, mendatangi 14 kota, menyampaikan pidato kepada pawai Lapangan Merah, dan dianugerahi Ordo Lenin dan dokterandes kehormatan dari Universitas Negara Bagian Moskwa.[190] Saat disana, Castro dipersilahkan untuk menandatangani sebuah misil balistik antar-benua R-16 Soviet.[191] Castro pulang ke Kuba dengan gagasan-gagasan baru; terinspirasi dari surat kabar Soviet Pravda, ia menggabungkan Hoy dan Revolución ke dalam sebuah surat kabar harian baru, Granma,[192] dan memberikan investasi besar kepada olahraga Kuba agar meningkatkan reputasi olahraga internasional.[193] Dalam rangka kontrol konsolidasi lanjutan, pada 1953, pemerintah mencekal sekte-sekte Protestan di Kuba dan Castro mencap mereka "alat kontra-revolusioner imperialisme"; beberapa pengkotbah didakwa memiliki hubungan dengan AS dan ditahan.[194] Sebaliknya, kaum muda diimplementasikan untuk bekerja, terutama melalui pengenalan penugasan mandat militer,[195] sementara pada bulan September, pemerintah mengijinkan sementara emigrasi bagi laki-laki yang berusia antara 15 dan 26 tahun, sehingga meredam ribuan kritikan terhadap pemerintah, yang kebanyakan berasal dari latar belakang kelas atas dan menengah.[196] Pada 1963, ibu Castro meninggal. Hal tersebut menjadi kali terakhir kehidupan pribadinya dikabarkan oleh pers Kuba.[197] Pada Januari 1964, Castro kembali ke Moskwa, dalam rangka menandatangani perjanjian perdagangan gula selama lima tahun yang baru, selain juga membicarakan ramifikasi pembunuhan John F. Kennedy;[198] Castro sangat disoroti terkait pembunuhan tersebut, yang meyakini bahwa konspirasi kanan jauh berada di baliknya namun masyarakat Kuba akan mencemoohnya.[199] Pada Oktober 1965, Organisasi Revolusioner Terintegrasi secara resmi berganti nama menjadi "Partai Komunis Kuba" dan menerbitkan keanggotaan dari Komite Pusat-nya.[200]

Ancaman terbesar yang dipersembahkan oleh Kuba pimpinan Castro adalah sebagai sebuah contoh untuk negara-negara Amerika Latin lainnya yang tertimpa kemiskinan, korupsi, feodalisme, dan eksplorasi plutokratik... pengaruhnya di Amerika Latin sangat besar dan tak terpingkiri jika, dengan bantuan Soviet, ia dapat mendirikan sebuah utopia Komunis di Kuba.

Walter Lippmann, Newsweek, April 27, 1964[201]

Disamping keraguan Soviet, Castro meneruskan panggilan revolusi global, mendanai militan sayap kiri dan orang-orang yang berniat melakukan perjuangan pembebasan nasional. Kebijakan luar negeri Kuba bersifat anti-imperialis, meyakini bahwa setiap negara harus mengendalikan sumber daya alamnya sendiri.[202] Ia mendukung "proyek Andean" buatan Che Guevara, sebuah rencana gagal untuk membentuk sebuah gerakan gerilyawan di dataran tinggi Bolivia, Peru dan Argentina, dan mengijinkan kelompok-kelompok revolusioner dari seluruh dunia, dari Viet Cong sampai Pantera Hitam, untuk berlatih di Kuba.[203] Ia menganggap Afrika yang didominasi Barat cocok untuk revolusi, dan mengirim tentara dan medis untuk membantu rezim sosialis Ahmed Ben Bella di Aljazair saat Perang Pasir. Ia juga bersekutu dengan pemerintahan sosialis pimpinan Alphonse Massamba-Débat di Congo-Brazzaville, dan pada 1965 Castro membujuk Guevara untuk pergi ke Kongo-Kinshasa untuk melatih kaum revolusioner melawan pemerintahan bekingan Barat.[204] Castro secara pribadi murka saat Guevara kemudian dibunuh oleh pasukan bekingan CIA di Bolivia pada Oktober 1967 dan secara terbuka belajar dari pengalaman Che untuk keselamatannya sendiri.[205] Pada 1966, Castro mengadakan Konferensi Tiga Benua Afrika, Asia dan Amerika Latin di Havana, sehingga menjadikan dirinya sebagai pemain penting pada pentas dunia.[206] Dari konferensi tersebut, Castro membuat Organisasi Solidaritas Amerika Latin (OLAS), yang mengadopsi slogan "Tugas revolusi adalah untuk membuat revolusi", yang menandai kepemimpinan Havana atas gerakan revolusioner Amerika Latin.[207]

Castro dan kosmonot Soviet Yuri Gagarin, manusia pertama di ruang angkasa

Meningkatnya peran Castro di pentas dunia merenggangkan hubungannya dengan USSR, yang sekarang di bawah kepemimpinan Leonid Brezhnev. Dalam rangka mempertahankan kemerdekaan Kuba, Castro menolak untuk menandatangani Traktat Non-Proliferasi Senjata-senjata Nuklir dan menyatakan bahwa hal tersebut merupakan upaya Soviet-AS untuk mendominasi Dunia Ketiga.[208] Menjauh dari doktrin Marxis Soviet, ia menyerukan agar masyarakat Kuba mendekatkan diri pada komunisme murni ketimbang proses bertahap terhadap berbagai tahap sosialisme.[209] Sebaliknya, loyalis Soviet Aníbal Escalante mulai membentuk sebuah jaringan penentangan pemerintah terhadap Castro, sehingga pada Januari 1968, ia dan para pendukungnya ditangkap atas tuduhan mengesahkan rahasia-rahasai negara kepada Moskwa.[210] Namun, karena Soviet mengakui dependensi ekonomi Kuba, Castro dilepaskan atas perintah Brezhnev dengan jaminan, dan pada Agustus 1968, ia mengecam para pemimpin Musim Semi Praha dan memuji invasi Pakta Warsawa atas Cekoslowakia.[211][212] Terpengaruh oleh Lompatan Jauh Kedepan buatan Tiongkok, pada 1968, Castro memproklamasikan Serangan Revolusioner Besar, menutup seluruh toko dan usaha milik pribadi yang masih tersisa dan mencap para pemiliknya sebagai kapitalis kontra-revolusioner.[213] Kurangnya barang-barang konsumen menyebabkan produktivitasnya menurun, karena sektor-sektor besar dari penduduk merasa sedikit keberatan untuk bekerja keras.[214] Hal ini memunculkan persepsi bahwa kaum elit revolusioner terdiri dari orang-orang yang berhubungan dengan pemerintah; mereka memiliki akses ke perumahan bagus, transportasi pribadi, pelayan, dan kemampuan untuk mendapatkan barang-barang mewah dari luar negeri.[215]

Stagnasi ekonomi dan politik Dunia Ketiga: 1969–1974[sunting | sunting sumber]

Castro secara terbuka merayakan peringatan ke-10 pemerintahannya pada Januari 1969; dalam pidatonya, ia memperingati tentang ratio gula, yang merefleksikan masalah ekonomi negara tersebut.[216] Pada 1969, tanaman-tanaman rusak berat karena sebuah angin ribu, dan untuk mempertahankan kuota ekspornya, pemerintah mengerahkan tentara, mengimplementasikan kerja tujuh hari seminggu, dan meniadakan hari-hari libur sampai masa panen.[217] Saat kuota produksi tahun tersebut tidak terpenuhi, Castro menyatakan pengunduran diri pada sebuah pidato publik, namun masyarakat masih ingin agar ia tetap bertahan.[218] Disamping masalah ekonomi, beberapa reformasi sosial Castro tercapai, dan maryarakat mengalami "Prestasi Revolusi" dalam bidang pendidikan, perawatan kesehatan, perumahan, dan pembangunan jalan, serta kebijakan-kebijakan konsultasi publik "demokratik langsung".[219] Dalam rangka mendapatkan bantuan Soviet, dari 1970 sampai 1972, para ekonom Soviet merombak kembali ekonomi Kuba, mendirikan Komisi Kerja Sama Ekonomi, Saintifik dan Teknikal Kuba-Soviet, saat Perdana Menteri Soviet Alexei Kosygin berkunjung pada 1971.[220] Pada Juli 1972, Kuba bergabung dengan Dewan Bantuan Ekonomi Saling Menguntungkan (Comecon), sebuah organisasi ekonomi dari negara-negara sosialis, meskipun hal tersebut sebatas pada ekonomi Kuba untuk produksi pertanian.[221]

Castro dan para anggota Politburo Jerman Timur di Berlin, 1972

Pada Mei 1970, para kru dari dua perahu nelayan Kuba diculik oleh kelompok pembangkang yang berbasis di Florida Alpha 66, yang menuntut agar Kuba membebaskan para militan yang ditahan. Di bawah bujukan AS, para sandera dibebaskan, dan Castro menyambut mereka kembali sebagai para pahlawan.[222] Pada April 1971, Castro memerintahkan penangkapan penyair pembangkang Heberto Padilla; Padilla dibebaskan, namun pemerintah mendirikan Dewan Kebudayaan Nasional untuk memastikan bahwa para intelektual dan artis mendukung pemerintahan.[223]

Pada 1971, Castro mengunjungi Chili, dimana Presiden Marxis Salvador Allende terpilih menjadi kepala koalisi sayap kiri. Castro mendukung reformasi sosialis Allende, namun memperingatinya terhadap unsur-unsur sayap kanan dalam militer Chili. Pada 1973, militer mengadakan sebuah kudeta dan mendirikan sebuah junta militer yang dipimpin oleh Augusto Pinochet.[224] Castro pergi ke Guinea untuk bertemu Presiden sosialis Sékou Touré, memujinya sebagai pemimpin Afrika terbesar, dan menganugerahinya Ordo Fidelitas Rakyat.[225] Ia kemudian melakukan tur tujuh minggu mengunjungi sekutu-sekutu sayap kiri: Aljazair, Bulgaria, Hongaria, Polandia, Jerman Timur, Cekoslowakia dan Uni Soviet, dimana ia memberikan penghargaan-penghargaan. Sepanjang kunjungan, ia mengadakan kunjungan ke para buruh pabrik dan petani, secara terbuka memuji pemerintahan mereka; secara pribadi, ia meminta rezim-rezim tersebut untuk membantu gerakan revolusioner di manapun, terutama orang-orang yang bertempur dalam Perang Vietnam.[226]

Pada September 1973, ia kembali ke Aljazair untuk menghadiri KTT Gerakan Non-Blok (GNB) Keempat. Berbagai anggota GNB mengkritik kehadiran Castro dengan alasan Kuba bersekutu dengan Pakta Warsawa sehingga seharusnya tidak ikut konferensi tersebut.[227] Di konferensi tersebut, ia secara terbuka memutus hubungan dengan Israel, dengan alasan hubungan dekat pemerintahannya dengan AS dan perhatiannya terhadap bangsa Palestina pada konflik Israel-Palestina. Hal ini membuat Castro dilirik di seluruh dunia Arab, terutama pemimpin Libya Muammar Gaddafi, yang menjadi teman dan sekutunya.[228] Saat Perang Yom Kippur terjadi pada Oktober 1973 antara Israel dan sebuah koalisi Arab yang dipimpin oleh Mesir dan Suriah, Kuba mengirim 4,000 pasukan untuk mempertahankan kawasan Suriah dari kekuasaan Israel.[229] Meninggalkan Aljazair, Castro mengunjungi Irak dan Vietnam Utara.[230]

Ekonomi Kuba bertumbuh pada 1974 sebagai akibat dari harga gula internasional yang tinggi dan kredit-kredit baru dengan Argentina, Kanada, dan bagian-bagian dari Eropa Bara.[231] Sejumlah negara Amerika Latin menyerukan agar Kuba kembali bergabung dengan Organisasi Negara-negara Amerika, dengan AS akhirnya menuruti pada 1975 atas nasehat Henry Kissinger.[232] Pemerintah Kuba merombak kembali jalur-jalur Soviet dengan alasan akan lebih mendemokratisasi dan mendesentralisasi kekuasaan dari Castro. Secara resmi mengumumkan identitas Kuba sebagai negara sosialis, Kongres Nasional Partai Komunis Kuba pertama diadakan, dan sebuah konstitusi baru yang diadopsi meniadakan jabatan Presiden dan Perdana Menteri. Castro masih menjadi figur dominan dalam pemerintahan dan memegang jabatan presiden pada Dewan Negara dan Dewan Menteri yang baru dibuat, menjadikannya kepala negara sekaligus kepala pemerintahan.[233]

Kepresidenan[sunting | sunting sumber]

Perang-perang luar negeri dan Kepresidenan GNB: 1975–1979[sunting | sunting sumber]

Castro menganggap Afrika menjadi "hubungan terlemah dalam jaringan imperialis", dan atas permintaan Presiden Angola Agostinho Neto, ia memerintahkan 230 penasehat militer datang ke Amerika Selatan pada November 1975 untuk membantu organisasi Marxis MPLA pimpinan Neto dalam Perang Saudara Angola. Saat AS dan Afrika Selatan menjalin dukungan mereka atas perlawanan FLNA dan UNITA, Castro memerintahkan agar 18,000 pasukan lainnya datang ke Angola, yang memainkan peran besar di Afrika Selatan.[234] Datang ke Angola, Castro berpesta dengan Neto, Sékou Touré dan Presiden Guinea-Bissau Luís Cabral, dimana mereka sepakat untuk mendukung pemerintahan Marxis–Leninis Mozambik menentang RENAMO dalam Perang Saudara Mozambik.[235] Pada bulan Februari, Castro mengunjungi Aljazair dan kemudian Libya, dimana ia menjalani sepuluh hari dengan Gaddafi dan menyaksikan pendirian sistem pemerintahan Jamahariyah, sebelum menghadiri perbincangan dengan pemerintahan Marxis Yaman Selatan. Dari sama, ia berlanjut ke Somalia, Tanzania, Mozambik dan Angola dimana ia disambut oleh kerumunan sebagai pahlawan atas peran Kuba dalam menentang apartheid Afrika Selatan.[236] Di seluruh Afrika, ia dianggap sebagai teman pembebasan nasional dari dominasi asing.[237] Hal tersebut disusul dengan kunjungannya ke Berlin dan Moskwa.[238]

Seringkali saat membicarakan hak asasi manusia, hal tersebut juga memerlukan pembicaraan hak kemanusiaan. Kenapa beberapa orang berjalan telanjang kaki, sementara yang lainnya bisa berjalan-jalan dengan mobil mewah? Kenapa beberapa orang hanya dapat hidup selama tiga puluh lima tahun, sementara yang lainnya bisa hidup sampai tujuh puluh tahun? Kenapa beberapa orang masih miskin, sementara yang lainnya dapat meraih kekayaan? Aku berbicara atas perantara anak-anak di seluruh dunia yang tidak mendapatkan sepotong roti. Aku berbicara atas perantara orang-orang sakit yang tidak mendapatkan pengobatan, dari orang-orang yang hak hidup dan kemanusiaannya direnggut.

— Pesan Fidel Castro kepada Majelis Umum PBB, 1979[239]

Pada 1977, Perang Ethiopia-Somalia terjadi atas perebutan wilayah Ogaden saat Somalia menginvasi Ethiopia; meskipun awalnya merupakan sekutu Presiden Somalia Siad Barre, Castro telah memperingatinya dan mengecam tindakan tersebut, dan Kuba berpihak pada pemerintahan Marxis Ethiopia pimpinan Mengistu Haile Mariam. Ia mengirim pasukan di bawah komando Jenderal Arnaldo Ochoa untuk membantu tentara Ethiopia. Setelah memukul mundur pasukan Somalia, Mengistu kemudian memerintahkan pasukan Ethiopia untuk membentuk Front Pembebasan Rakyat Eritrea, sebuah perintah yang Castro tolak untuk dukung.[240] Castro melayangkan dukungan kepada gerakan revolusioner Amerika Latin, yang bernama Front Pembebasan Nasional Sandinista dalam melengserkan pemerintahan sayap kanan Nicaragua Anastasio Somoza Debayle pada Juli 1979.[241] Para kritikus Castro menuduh pemerintah telah membuang-buang nyawa tentara Kuba dalam tindakan-tindakan militer tersebut; Center for a Free Cuba yang anti-Castro mengklaim bahwa sekitar 14,000 pasukan Kuba tewas dalam aksi-aksi militer Kuba di luar negeri.[242] Saat kritikus negara AS mengklaim bahwa Castro tidak memiliki hak untuk ikut campur dengan negara-negara tersebut, ia beralasan bahwa Kuba telah diundang kesana dan membanding-bandingkan keterlibatan AS sendiri di berbagai negara asing.[243]

Pada 1979, Konferensi Gerakan Non-Blok (GNB) diadakan di Havana, dimana Castro terpilih menjadi presiden GNB, sebuah jabatan yang ia emban sampai 1982. Dalam kapasitasnya baik sebagai Presiden GNB maupun Kuba, ia tampil di Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada Oktober 1979 dan memberikan pidato tentang kesenjangan antara kaum kaya dan miskin di dunia. Pidatonya disambut dengan tepuk tangan dari para pemimpin dunia lainnya,[244] meskipun pendiriannya dalam GNB dirusak oleh absennya Kuba dari tindakan Majelis Umum PBB dalam Perang Soviet di Afghanistan.[245] Hubungan Kuba dengan Amerika Utara menanjak di bawah kepemimpinan Presiden Meksiko Luis Echeverría, Perdana Menteri Kanada Pierre Trudeau,[246] dan Presiden AS Jimmy Carter. Carter masih mengkritik pelecehan hak asasi manusia di Kuba, namun mengadopsi perhatian terhadap Castro. Menganggap Carter lebih pengertian, Castro membebaskan beberapa tahanan politik dan memperbolehkan beberapa orang Kuba di pengasingan mengunjungi para kerabatnya di pulau tersebut dengan harapan agar Carter meniadakan embargo ekonomi dan menghentikan dukungan CIA terhadap para pembangkang militan.[247] Di samping itu, hubungannya dengan Tiongkok menurun, karena ia menuduh pemerintahan Tiongkok pimpinan Deng Xiaoping mencederai prinsip-prinsip revolusioner mereka dengan mengadakan hubungan dagang dengan AS dan menyerang Vietnam.[248]

Reagan dan Gorbachev: 1980–1989[sunting | sunting sumber]

Fidel Castro berpidato di Havana, 1978

Pada 1980an, ekonomi Kuba kembali mengalami gonjang-ganjing, setelah menurunnya harga gula di pasar dan kegagalan panen pada 1979.[249] Untuk pertama kalinya, pengangguran menjadi masalah serius di Kuba dalam kepemimpinan Castro, dengan pemerintah mengirim para pemuda pengangguran ke negara-negara lainnya, terutama Jerman Timur, untuk bekerja disana.[250] Demi menyelamatkan keuangan, pemerintah Kuba diam-diam menjual lukisan-lukisan dari koleksi-koleksi nasional dan ditukar dengan barang-barang elektronik AS melalui Panama.[251] Jumlah orang Kuba yang lari ke Florida meningkat, namun dicap "sampah" dan "lumpen" oleh Castro dan para pendukung KPR-nya.[252] Dalam suatu kejadian, 10,000 orang Kuba mengerumuti Kedutaan Besar Peru untuk meminta suaka, dan AS sepakat untuk menerima 3,500 pengungsi. Castro menyatakan bahwa orang-orang yang ingin pergi harus melalui pelabuhan Mariel. Ratusan perahu datang dari AS, yang berujung pada eksodus massal sebanyak 120,000 orang; pemerintah Castro menghadapi keadaan tersebut dengan menyusupkan para penjahat, orang sakit mental, dan terduga homoseksual ke dalam perahu-perahu yang akan menuju ke Florida.[253] Peristiwa tersebut mentidakstabilkan pemerintahan Carter dan pada 1981, Ronald Reagan terpilih menjadi Presiden AS. Pemerintahan Reagan mengadopsi pandangan garis keras terhadap Castro, membuat niatan untuk melengserkan rezimnya menjadi jelas.[254] Pada akhir 1981, Castro secara terbuka menuduh AS menggunakan senjata biologi untuk membuat wabah demam berdarah.[255]

Meskipun menentang junta militer sayap kanan di Argentina, Castro mendukung mereka dalam Perang Falklands pada 1982 melawan Inggris dan menawarkan bantuan militer kepada Argentina.[256] Castro mendukung sayap kiri Gerakan Jewel Baru yang merebut kekuasaan di Grenada pada 1979, berteman dengan Presiden Grenada Maurice Bishop dan mengirim para dokter, guru, dan teknisi untuk membantu pengembangan negara tersebut. Saat Bishop dieksekusi dalam sebuah kudeta bekingan Soviet oleh Marxis garis keras Bernard Coard pada Oktober 1983, Castro mengecam pembunuhan tersebut namun tetap mendukung pemerintahan Grenada. Namun, AS menggunakan kudeta tersebut sebagai dasar untuk menginvasi pulau tersebut. Para prajurit Kuba tewas dalam konflik tersebut, dengan Castro mengecam invasi tersebut dan membandingkan AS dengan Jerman Nazi.[257] Dmenandai peringatan ke-30 Revolusi Kuba, Castro menyatakan pemerintahan Reagan sebagai "pihak reaksioner dan ekstrimis" yang mengeluarkan sebuah "kebijakan asing yang fasis dan secara terbuka memanas-manasi".[258] Castro khawatir akan invasi AS di Nicaragua dan mengirim Ochoa untuk melatih pasukan Sandinista dalam perang gerilya, namun meraih sedikit dukungan dari USSR.[259]

Pada 1985, Mikhail Gorbachev menjadi Sekretaris-Jenderal Partai Komunis Soviet. Sebagai seorang reformator, ia memutuskan untuk meningkatkan kebebasan pers (glasnost) dan desentralisasi ekonomi (perestroika) dalam upaya memperkuat sosialisme. Seperti beberapa kritikus Marxis ortodoks, Castro khawatir bahwa reformasi tersebut akan menumbangkan negara sosialis dan membuat unsur-unsur kapitalis meraih kekuasaan.[260] Gorbachev menerima tuntutan AS untuk mengurangi dukungan kepada Kuba,[261] sehingga hubungan Kuba dengan Soviet merenggang.[262] Saat Gorbachev mengunjungi Kuba pada April 1989, ia memberitahukan Castro bahwa perestroika dapat mengakhiri kesenjangan di Kuba.[263] Mengabaikan panggilan untuk liberalisasi seperti yang dilakukan Soviet, Castro tetap menghiraukan para pembangkang dalam negeri dan secara khusus menekan militer, ancaman utama bagi pemerintah. Sejumlah perwira militer senior, termasuk Ochoa dan Tony de la Guardia, diselidiki atas dakwaan korupsi dan persekongkolan dalam penyeludupan kokain, diadili dan dieksekusi pada 1989, disamping panggilan untuk kelonggaran.[264] Atas nasehat medis yang diberikan kepadanya pada Oktober 1985, Castro giat menghisap rokok Kuba, yang membantu membentuk sebuah contoh bagi sisa-sisa penduduk.[265] Castro menjadi semangat dalam menyoroti masalah utang Dunia Ketiga dengan menyatakan bahwa Dunia Ketiga tak akan pernah kabur dari utang yang bank-bank dan pemerintah-pemerintah Dunia Pertama tagih terhadap mereka. Pada 1985, Havana mentuanrumahi lima konferensi internasional tentang masalah utang dunia.[251]

Gambar Castro dilukis pada sebuah mercusuar yang sekarang dihancurkan di Lobito, Angola, 1995

Pada November 1987, Castro mulai menjalani waktu lebih pada Perang Saudara Angola, dimana kaum Marxis mulai bangkit. Presiden Angola José Eduardo dos Santos berhasil meraih lebih banyak pasukan Kuba, dengan Castro kemudian memutuskan untuk menjalani lebih banyak waktu untuk mengurusi Angola ketimbang keadaan dalam negeri, dengan meyakini bahwa sebuah kemenangan akan berujung pada runtuhnya apartheid. Gorbachev menyerukan untuk mengakhiri negosiasi untuk konflik tersebut dan pada 1988 menyelenggarakan sebuah perbincangan quadripartite antara USSR, AS, Kuba, dan Afrika Selatan; mereka sepakat agar seluruh pasukan asing ditarik dari Angola. Castro murka terhadap persetujuan Gorbachev dan meyakini bahwa ia telah membiarkan kaum miskin di dunia dirundung tekanan.[266]

Di Eropa Timur, pemerintahan sosialis jatuh dalam reformasi kapitalis antara 1989 dan 1991 dan beberapa pengamat Barat meyakini hal yang sama akan terjadi di Kuba.[267] Makin tersudut, Kuba menjalin hubungan dengan pemerintah sayap kanan pimpinan Manuel Noriega di Panama – walaupun Castro secara pribadi membenci Noriega – namun hal tersebut diruntuhkan dalam sebuah invasi AS pada Desember 1989.[268] Pada Februari 1990, sekutu Castro di Nicaragua, Presiden Daniel Ortega dan pasukan Sandinista, dikalahkan oleh Uni Oposisi Nasional yang didanai AS dalam sebuah pemilihan.[269] Dengan keruntuhan blok Soviet, AS meraih suara mayoritas untuk resolusi menuntut kejahatan hak asasi manusia Kuba di Komisi Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa di Jenewa, Swiss. Kuba menyatakan bahwa hal tersebut merupakan sebuah manifestasi dari hegemoni AS, dan menolak untuk mengijinkan delegasi investigatif untuk memasuki negara tersebut.[270]

Periode Istimewa: 1990–2000[sunting | sunting sumber]

Castro di depan sebuah patung pahlawan nasional Kuba José Martí di Havana pada 2003

Dengan berakhirnya perdagangan dari blok Soviet, Castro secara terbuka mendeklarasikan bahwa Kuba memasukki "Periode Istimewa pada Masa Damai". Ratio petrol berkurang drastis, sepeda-sepeda Tiongkok diimpor untuk menggantikan mobil-mobil, dan pabrik-pabrik yang memegang tugas-tugas non-esensial ditutup. Kerbau mulai menggantikan traktor, kayu bakar mulai digunakan untuk memasak dan listrik dicabut selama 16 jam sehari. Castro menyatakan bahwa Kuba menghadapi keadaan terburuk dari perang terbuka, dan bahwa negara tersebut menjadi resor untuk pertanian berkelanjutan.[271] Pada 1992, ekonomi Kuba menurun lebih dari 40% dalam dua tahun, dengan menipisnya makanan pokok, merebaknya malnutrisi dan kurangnya barang-barang dasar.[272] Castro mengharapkan restorasi Marxisme-Leninisme di USSR, namun tak kesampaian karena kegagalan kudeta 1991 di negara tersebut.[273] Ketika Gorbachev meraih kekuasaan, hubungan Kuba dengan Soviet makin menurun dan pasukan Soviet ditarik pada September 1991.[274] Pada Desember, Uni Soviet resmi bubar saat Boris Yeltsin membubarkan Partai Komunis Uni Soviet dan memperkenalkan demokrasi multi-partai kapitalis. Yeltsin mengacuhkan Castro dan menjalin hubungan dengan Yayasan Nasional Kuba Amerika yang berbasis di Miami.[275] Castro berupaya menjalin hubungan dengan negara-negara kapitalis. Ia menyambut para politikus dan investor Barat ke Kuba, berteman dengan Manuel Fraga dan mengambil perhatian dalam kebijakan-kebijakan Margaret Thatcher di Inggris, dengan keyakinan bahwa sosialisme Kuba akan bangkit dengan terciptanya pajak rendah dan inisiatif pribadi.[276] Ia menarik dukungan terhadap para militan asing, berbalik memuji FARC saat mengunjungi Kolombia pada 1994 dan menyerukan negosiasi antara pasukan Zapatista dan pemerintah Meksiko pada 1995. Secara terbuka, ia menyatakan dirinya sendiri sebagai seorang moderat pada pentas dunia.[277]

Pada 1991, Havana mentuanrumahi Pan American Games, yang melibatkan pembangunan sebuah stadion dan akomodasi untuk para atlet; Castro menganggap bahwa hal tersebut menghambur-hamburkan uang, namun hal tersebut dianggap sukses bagi pemerintah Kuba. Kerumunan giat meneriakkan "Fidel! Fidel!" di depan para jurnalis asing, sementara Kuba menjadi negara Amerika Latin pertama yang mengalahkan AS pada peringkat atas tabel medali emas.[278] Dukungan Castro masih kuat, dan meskipun terdapat unjuk rasa anti-pemerintahan yang kecil, oposisi Kuba menolak seruan komunitas pengasingan untuk sebuah kebangkitan bersenjata.[279] Pada Agustus 1994, Havana menjadi saksi bisu dari unjuk rasa anti-Castro terbesar dalam sejarah Kuba, dimana 200 sampai 300 pemuda melempari batu ke polisi dan menuntut agar mereka diijinkan untuk berpindah ke Miami. Kerumunan besar pro-Castro melawan mereka, yang dihadiri oleh Castro; ia menyatakan kepada media bahwa massa tersebut adalah anti-sosial yang dikira dipimpin oleh AS. Protes tersebut diredam dengan tanpa kabar adanya korban luka-luka.[280] Khawatir kelompok pembangkang akan melakukan invasi, pemerintah membuat strategi pertahanan "Perang Seluruh Rakyat", berencana merebakkan kampanye perang gerilya, dan para pengangguran diberi pekerjaan membangun jaringan banker dan terowongan di belahan negara tersebut.[281]

Kami tidak memiliki minat terhadap kapitalisme atau neo-liberalisme. Kami menghadapi sebuah dunia yang secara bulat dipimpin oleh neo-liberalisme dan kapitalisme. Hal ini bukan berarti kami menyerah. Hal tersebut berarti bahwa kami mengadopsi kenyataan dunia. Itulah yang kami lakukan, dengan kesadaran besar, tanpa memberikan cita-cita kami, tujuan kami. Aku berkata kepadamu untuk percaya dengan apa yang pemerintah dan partai lakukan. Kami bertahan, sampai atom terakhir, gagasan, prinsip dan tujuan sosialis.

— Fidel Castro menjelaskan reformasi Periode Istimewa[282]

Castro meyakini bahwa reformasi dibutuhkan jika sosialisme Kuba selamat dalam dunia yang sekarang didominasi oleh pasar bebas kapitalis. Pada Oktober 1991, Kongres Partai Komunis Kuba Keempat diadakan di Santiago, dimana sejumlah perubahan menonjol untuk pemerintahan diumumkan. Castro mengundurkan diri dari jabatan kepala pemerintahan, untuk digantikan oleh Carlos Lage, meskipun Castro masih menjadi kepala Partai Komunis dan Ketua Komandan pasukan bersenjata. Beberapa anggota pemerintahan yang sudah tua dipensiunkan dan digantikan oleh orang-orang yang lebih muda. Sejumlah perubahan ekonomi diusulkan, dan kemudian dicantumkan pada sebuah referendum nasional. Pasar petani bebas dan wirausaha swasta berskala kecil dilegalkan dalam rangka mewujudkan pertumbuhan ekonomi, sementara dolar AS juga membuat tender legal. Penolakan tertentu terhadap emigrasi dihapuskan, memperbolehkan lebih banyak warga Kuba untuk berpindah ke Amerika Serikat. Demokratisasi lanjutan membuat para anggota Majelis Nasional dipilih langsung oleh rakyat, ketimbang melalui majelis provinsial dan munisipal. Castro mempersihalkan debat antara pendukung dan penentang reformasi tersebut, meskipun sepanjang waktu itu mulai meningkatkan simpati terhadap pihak penentang, yang beranggapan bahwa reformasi semacam itu harus ditunda.[283]

Pemerintahan Castro meragamkan ekonominya dalam bioteknologi dan pariwisata, kemudian industri gula Kuba dijadikan sumber pemasukan utama pada 1995.[284] Kedatangan ribuan wisatawan Meksiko dan Spanyol berujung pada meningkatnya jumlah orang Kuba yang terjun ke dalam pelacuran; meskipun secara resmi ilegal, Castro berusaha menghindari penindakan pelacuran karena khawatir akan terjadi kekisruhan politik.[285] Kesulitan ekonomi membuat beberapa orang Kuba masuk agama, baik itu Katolik Roma maupun Santería. Meskipun kepercayaan agama telah lama ditekan, Castro melembutkan persetujuannya terhadap lembaga-lembaga agama dan orang beragama untuk pertama kalinya diijinkan untuk bergabung dengan Partai Komunis.[286] Meskipun ia memandang Gereja Katolik Roma sebagai sebuah lembaga prokapitalis dan reaksioner, Castro menyambut kunjungan Paus Yohanes Paulus II di Kuba pada Januari 1998; hal ini memperkuat posisi Gereja Kuba dan pemerintahan Castro.[287]

Pada awal 1990an, Castro mencanangkan gerakan lingkungan hidup, berkampanye menentang pemanasan global dan penyia-nyiaan sumber daya alam, dan menuduh AS sebagai pembuat polusi utama di dunia.[288] Pada 1994, sebuah kementerian yang didedikasikan untuk lingkungan hidup didirikan, dan hukum-hukum baru dikeluarkan pada 1997 yang mempromosikan kesadaran masalah-masalah lingkungan di seluruh Kuba dan menekankan penggunaan sumber daya alam seperlunya.[289] Pada 2006, Kuba menjadi satu-satunya negara di dunia yang ikut dalam gerakan pengembangan berkelanjutan yang diadakan oleh Program Pengembangan Perserikatan Bangsa-Bangsa, dengan sebuah jejak ekologi kurang dari 1.8 hektar per kapita dan Indeks Pengembangan Manusia sebanyak lebih dari 0.8.[290] Castro juga menjadi pendorong gerakan anti-globalisasi, mengkritik hegemoni dan kontrol global AS yang dilakukan oleh perusahaan multinasional.[288] Castro memegang teguh kepercayaan anti-apartheid, dan pada perayaan 26 Juli 1991, ia ikut bergabung bersama dengan aktivis politik Afrika Selatan Nelson Mandela, yang saat itu baru dikeluarkan dari penjara. Mandela memuji keterlibatan Kuba dalam memerangi Afrika Selatan di Angola dan secara pribadi berterima kasih kepada Castro.[291] Ia kemudian menghadiri pelantikan Mandela menjadi Presiden Afrika Selatan pada 1994.[292] Pada 2001, ia menghadiri Konferensi Melawan Rasisme di Afrika Selatan dimana ia memberikan ceramah mengenai merebaknya stereotipe rasional global melalui film AS.[288]

Gelombang merah jambu: 2000–2006[sunting | sunting sumber]

Castro bertemu dengan Presiden Brasil tengah-kiri Lula da Silva, seorang pemimpin "Gelombang Merah Jambu" signifikan

Dihadang masalah ekonomi, Kuba dibantu oleh terpilihnya sosialis dan anti-imperialis Hugo Chávez menjadi Presiden Venezuela pada 1999.[293] Castro dan Chávez berteman dekat, dengan Castro bertindak sebagai mentor dan Chávez sebagai figur ayah,[294] dan bersama-sama mereka membangun sebuah aliansi yang mengguncang seluruh Amerika Latin.[295] Pada 2000, mereka menandatangani sebuah perjanjian dimana Kuba akan mengirim 20,000 obat-obatan ke Venezuela, yang dibalas dengan 53,000 barel minyak per hari pada tingkat preferensial; pada 2004, perdagangan tersebut ditingkatkan, dengan Kuba mengirim 40,000 obat-obatan dan Venezuela menyediakan 90,000 barel sehari.[296][297] Pada tahun yang sama, Castro mengadakan Misión Milagro, sebuah proyek medis bersama yang ditujukan untuk menyediakan operasi mata gratis kepada 300,000 orang dari setiap negara.[298] Aliansi tersebut menggelembungkan ekonomi,[299] dan pada Mei 2005, Castro menggandakan minimum pajak untuk 1.6 juta buruh, meningkatkan dana pensiun, dan memberikan keperluan dapur baru kepada para penduduk termiskin di Kuba.[293] Beberapa masalah ekonomi masih terjadi; pada 2004, Castro menutup 118 pabrik, yang meliputi penanaman baja, pabrik gula dan pengolah kertas untuk kompensasi karena penipisan bahan bakar yang drastis.[300]

Kuba dan Venezuela menjadi anggota pendiri Alternatif Bolivaria bagi Bangsa-bangsa Amerika (ALBA).[295] ALBA ditujukan untuk mengembalikan kekayaan di seluruh negara anggotanya, melindungi pertanian kawasan tersebut, dan menentanh liberalisasi dan privatisasi ekonomi.[301] ALBA diawali dengan sebuah perjanjian pada Desember 2004 yang ditandatangani antara dua negara tersebut, dan diformalisasikan melalui Perjanjian Dagang Rakyat yang ditandatangani oleh Bolivia yang dipimpin oleh Evo Morales pada April 2006.[302] Castro juga menyerukan integrasi Karibia yang lebih besar sejak akhir 1990an dan berkata bahwa hanya kerjasama yang diperkuat antara negara-negara Karibia yang akan menghindarkan mereka dari dominasi negara-negara kaya dalam ekonomi global.[303][304] Kuba telah membuka empat kedutaan besar tambahan di Komunitas Karibia yang meliputi: Antigua dan Barbuda, Dominika, Suriname, Saint Vincent dan Grenadines. Pengembangan tersebut membuat Kuba menjadi satu-satunya negara yang memiliki kedutaan besar di seluruh negara independen Komunitas Karibia.[305]

Castro menyambut kerumunan pada 2005

Berseberangan dengan peningkatan hubungan antara Kuba dan sejumlah negara Amerika Latin sayap kiri, pada 2004, negara tersebut memutus hubungan dengan Panama setelah Presiden sentris Mireya Moscoso melindungi empat orang pengasingan Kuba yang dituduh berusaha untuk membunuh Castro pada 2000. Hubungan diplomatik dipulihkan pada 2005 setelah terpilihnya Presiden sayap kiri Martín Torrijos.[306] Peningkatan hubungan Castro di Amerika Latin disusul oleh pendekatan berkelanjutan terhadap AS. Namun, setelah kerusakan masif yang disebabkan oleh Angin ribut Michelle pada 2001, Castro berhasil mencanangkan pembayaran pangan dalam sejak dengan AS meskipun pemerintah menolak tawaran bantuan kemanusiaan.[307] Castro mengekspresikan solidaritas dengan AS setelah serangan 11 September 2001, mengutuk Al-Qaeda dan menawarkan bandar-bandar udara Kuba untuk tempat mendarat darurat bagi pesawat-pesawat AS.[308] Ia menganggap bahwa serangan tersebut akan membuat kebijakan luar negeri AS menjadi lebih agresif, yang ia menjadi kontra-produktif.[309] Castro mengkritik invasi Irak 2003 dengan berkata bahwa perang yang dipimpin AS tersebut telah menimbulkan "hukum rimba" internasional.[310]

Pada 1998, Perdana Menteri Kanada Jean Chrétien datang ke Kuba untuk bertemu Castro dan mempererat hubungan mereka. Ia menjadi pemimpin pemerintahan Kanada yang mengunjungi pulau tersebut semenjak Pierre Trudeau datang ke Havana pada 1976.[311] Pada 2002, mantan Presiden AS Jimmy Carter mengunjungi Kuba, dimana ia menyoroti kurangnya kebebasan sipil di negara tersebut dan membujuk pemerintah untuk memperhatikan Proyek Varela dari Oswaldo Payá.[312]

Tahun-tahun akhir[sunting | sunting sumber]

Mengundurkan diri 2006–2008[sunting | sunting sumber]

Poster yang mengiklankan Misa untuk mendoakan kesehatan Castro yang ditempel di sebuah dinding di Bogotá, Kolombia, pada 2007

Castro melakukan pembedahan karena pendarahan usus, dan pada 31 Juli 2006, menyerahkan tugas-tugas presidensial-nya kepada Raúl Castro.[313] Pada Februari 2007, Raúl mengumumkan bahwa kesehatan Fidel memburuk dan ia mengambil bagian dalam masalah-masalah penting pemerintah.[314] Sebulan kemudian, Fidel melakukan siaran pada acara radio Hugo Chávez Aló Presidente.[315] Pada 21 April, Castro bertemu Wu Guanzheng dari Politbiro Partai Komunis Tiongkok,[316] dengan Chávez berkunjung pada Agustus,[317] dan Morales pada September.[318] Pada bulan tersebut, Gerakan Non-Blok mengadakan KTT ke-14 di Havana, dimana tercapai kesepakatan untuk mengangkat Castro menjadi presiden organisasi tersebut selama setahun.[319]

Menanggapi kepulihan Castro, Presiden AS George W. Bush berkata: "Suatu hari, kebaikan Allah akan membawa pergi Fidel Castro". Mendengar hal tersebut, ateis Castro berbalik menjawab: "Sekarang aku mengerti kenapa aku selamat dari rencana Bush dan presiden-presiden lainnya yang berencana membunuhku: kebaikan Allah melindungiku." Kutipan tersebut menggegerkan media dunia.[320]

Dalam sebuah surat Februari 2008, Castro mengumumkan bahwa ia tidak akan memegang posisi Presiden Dewan Negara dan Ketua Komandan pada pertemuan Majelis Nasional bulan tersebut,[321] dengan menyatakan, "Hal tersebut akan mencederai kepercayaan diriku untuk mengambil tanggung jawab yang membutuhkan mobilitas dan devosi total, yang tidak bisa dilakukan dalam kondisi fisikku".[322] Pada 24 Februari 2008, Majelis Kekuatan Rakyat Nasional memilih Raúl sebagai presiden.[323] Menganggap adiknya "tak menggantikan", Raúl menyatakan agar Fidel melanjutkan konsuktasi atas materi-materi sangat penting, sebuah kebijakan yang disetujui oleh 597 anggita Majelis Nasional.[324]

Masa pensiun: 2008–2016[sunting | sunting sumber]

Setelah ia pensiun, kesehatan Castro menurun; pers internjasional berkesimpulan bahwa ia terserang divertikulitis, namun pemerintah Kuba menyangkal anggapan tersebut.[325] Ia masih berinteraksi dengan rakyat Kuba, menerbitkan sebuah kolom opini berjudul "Refleksi" di Granma, menggunakan sebuah akun Twitter, dan memberi ceramah publik.[325] Pada Januari 2009, Castro berkata kepada rakyat Kuba agar tidak khawatir tentang kurangnya kolom berita terkininya dan kesehatannya yang menurun, dan tidak mencemaskan kematiannya pada masa mendatang.[326] Ia masih bertemu dengan pemimpin dan tamu asing, dan pada bulan tersebut, foto-foto pertemuan Castro dengan Presiden Argentina Cristina Fernández dirilis.[327]

Castro dengan Presiden Meksiko Enrique Peña Nieto, Januari 2014; bahkan pada masa pensiunnya, Castro masih terlibat dalam urusan politik dan internasional.

Pada Juli 2010, ia membuat penampilan publik pertamanya sejak jatuh sakit, menyambut para pekerja pusat sains dan memberikan sebuah wawancara televisi kepada Mesa Redonda dimana ia mendiskusikan ketegangan AS dengan Iran dan Korea Utara.[328] Pada 7 Agustus 2010, Castro memberikan ceramah pertamanya kepada Majelis Nasional, dalam empat tahun, menyatakan bahwa AS tidak melakukan tindakan militer terhadap negara-negara tersebut dan memperingatkan holokaus nuklir.[329] Saat ditanya apakah Castro akan kembali masih pemerintahan, menteri budaya Abel Prieto berkata kepada BBC, "Kupikir ia selalu ada dalam kehidupan publik Kuba meskipun ia tidak dalam pemerintahan ... Ia sangat berhati-hati terhadapnya. Pertempuran besarnya adalah urusan internasional."[330]

Pada 19 April 2011, Castro mengundurkan diri dari komite pusat Partai Komunis,[331] sekaligus mundur dari jabatan pemimpin partai. Raúl terpilih menjadi penerusnya.[332] Tanpa jabatan resmi apapun dalam pemerintahan negara tersebut, ia mengambil peran negarawan tua. Pada Maret 2011, Castro mengecam intervensi militer pimpinan NATO di Libya.[333] Pada Maret 2012, Paus Benediktus XVI mengunjungi Kuba selama tiga hari, dimana ia bertemu Castro disamping penentangan keras terhadap Paus dari pemerintah Kuba.[325][334] Kemudian pada tahun tersebut, terkuak bahwa bersama dengan Hugo Chávez, Castro telah memainkan peran dibalik layar yang signifikan dalam mengadakan perbincangan damai antara pemerintah Kolombia dan gerakan gerilyawan kiri jauh FARC untuk mengakhiri konflik yang telah terjadi sejak 1964.[335] Pada Krisis Korea Utara 2013, ia meminta agar pemerintah Korea Utara dan AS untuk menahan diri. Menyerukan keadaan "tak memungkinkan dan rancu", ia menyatakan bahwa perang tak akan bermanfaat bagi pihak manapun, dan bahwa hal tersebut mewakili "salah satu risiko paling mematikan dari perang nuklir" sejak krisis misil Kuba.[336]

Pada Desember 2014, Castro dianugerahi Penghargaan Perdamaian Konghucu dari Tiongkok karena telah mengadakan solusi perdamaian pada konflik negaranya dengan AS dan untuk upaya pasca-pensiunnya untuk menghindari perang nuklir.[337] Pada Januari 2015, ia secara terbuka menanggapi "Pencairan Kuba", sebuah peningkatan normalisasi hubungan AS dengan Kuba, dengan menyatakan bahwa meskipun hal tersebut merupakan langkah positif untuk mendirikan perdamaian di kawasan tersebut, ia masih tidak mempercayai pemerintah AS.[338] Ia tidak bertemu dengan Presiden AS Barack Obama pada kunjungannya ke Kuba pada Maret 2016, disamping mengirimkannya sebuah surat yang menyatakan bahwa Kuba "tak butuh hadiah dari kekaisaran tersebut".[339] Pada bulan April, ia melakukan penampilan publik paling ekstensifnya dalam beberapa tahun dimana ia mengalamatkannya kepada Partai Komunis. Menyadari bahwa ia telah berusia 90 tahun, ia menyatakan bahwa ia akan mati dalam waktu dekat namun meminta agar orang-orang mempertahankan gagasan komunis mereka.[340] Pada September 2016, Castro dikunjungi di rumah Havana-nya oleh Presiden Iran Hassan Rouhani,[341] dan kemudian pada bulan tersebut, dikunjungi oleh Perdana Menteri Jepang Shinzō Abe.[342] Pada akhir Oktober 2016, Castro bertemu dengan presiden Portugal Marcelo Rebelo de Sousa yang menjadi salah satu pemimpin asing terakhir yang menemuinya.[343]

Kematian[sunting | sunting sumber]

Prosesi pemakaman Fidel Castro melewati Provinsi Sancti Spíritus, Kuba.

Meninggalnya Castro diumumkan oleh televisi pemerintah beberapa saat selewat tengah malam, yang menyatakan bahwa ia meninggal di Havana.[344] Penyebab meninggalnya Castro tidak diumumkan.[345][346] Presiden Raúl Castro, yang juga adalah adiknya, mengumumkan berita kematian itu dalam pernyataan singkat:[344] "Komandan utama revolusi Kuba meninggal malam ini pada pukul 22.29". Jenazah dikremasi pada tanggal 26 November 2016.[347] Proses pemakaman mengarungi 900 kilometer di sepanjang jalan tol sentral di pulau tersebut, mengikuti rute "Karavan Kebebasan" pada Januari 1959. Pemerintah Kuba menyatakan hari berkabung nasional selama 9 hari.[348] Setelah sembilan hari masa berkabung, abunya dikuburkan di Pemakaman Santa Ifigenia, Santiago de Cuba.[349]

Ideologi politik[sunting | sunting sumber]

Castro dengan para pemimpin Amerika Selatan dari blok dagang Mercosur. Pada 2000an, Castro ikut beraliansi dalam "gelombang merah jambu" Amerika Latin.

Castro memproklamasikan dirinya sendiri sebagai "seorang Sosialis, seorang Marxis, dan seorang Leninis",[350] dan ia secara terbuka mengidentifikasikan dirinya sebagai seorang Marxis–Leninis pada permulaan Desember 1961.[351] Sebagai seorang Marxis, Castro berusaha untuk mengubah Kuba dari negara kapitalis yang didominasi oleh imperialisme asing menjadi masyarakat sosialis dan kemudian menjadi masyarakat komunis. Dipengaruhi oleh Guevara, ia berkesimpulan bahwa Kuba akan lebih banyak menghadapi tahap-tahap sosialisme dan makin berproses menuju komunisme.[209] Pemerintahan Castro juga merupakan nasionalistik, dan Castro deklarasikan, "Kami tak hanya Marxis-Leninis, namun juga nasionalis dan patriotis".[352] Sejarawan Richard Gott menyatakan bahwa salah satu kunci kesuksesan Castro adalah kemampuannya untuk memakai "dua tema sosialisme dan nasionalisme" dan menjadikan mereka "permainan tak berakhir".[353] Castro menganggap Karl Marx dan nasionalis Kuba José Martí sebagai pengaruh politik utamanya,[354] meskipun Gott meyakini bahwa Martí masih lebih berpengaruh ketimbang Marx dalam politik Castro.[353] Castro menganggap gagasan politik Martí sebagai "sebuah filsafat kemerdekaan dan kemampuan filsafat kemanusiaan",[355] dan para pendukung dan pengikutnya masih mengklaim bahwa ada kesamaan besar antara dua figur tersebut.[356]

Biografer Volka Skierka menyebut pemerintahan Castro sebagai "sistem "fidelista" yang sangat individual dan sosialis-nasionalis",[357] sementara Theodore Draper yang mengistilahkan pandangannya sebagai "Castroisme", memandangnya sebagai percampuran sosialisme Eropa dengan tradisi revolusioner Amerika Latin.[358] Pakar politik Paul C. Sondrol menganggap pandangan politik Castro sebagai "utopianisme totalitarian",[359] dengan gaya kepemimpinan yang tergambar pada fenomena Amerika Latin dari caudillo.[360] Castro mengambil pendirian yang relatif konservatif sosial pada beberapa kasus, seperti penentangan terhadap penggunaan narkoba, judi, dan pelacuran, yang ia pandang sebagai kejahatan moral. Selain itu, ia menekankan kerja keras, nilai keluarga, integritas, dan disiplin diri.[361]

Kehidupan pribadi dan publik[sunting | sunting sumber]

Castro mula-mula dan kedepannya merupakan dan selalu berkomitmen menjadi seorang egalitarian. Ia menyingkirkan sistem apapun dimana satu kelas atau kelompok masyarakat hidup lebih baik ketimbang lainnya. Ia ingin sebuah sistem yang menyediakan kebutuhan dasar untuk semuanya—yang meliputi kebutuhan makan, perawatan kesehatan, tempat tinggal layak dan pendidikan. Alam otoritarian dari Revolusi Kuba sebagian besar dikemas dari komitmennya mencapai tujuan tersebut. Castro menyatakan bahwa ia berhak, dan bahwa sistemnya adalah demi kebaikan rakyat. Sehingga, orang-orang yang berdiri menentang revolusi juga berdiri menentang rakyat Kuba, dan, di mata Castro, secara singkat tak dapat diterima. Sehingga, sangat sedikit jalan kebebasan individual – khususnya kebebasan berekspresi dan bermajelis. Dan tahanan politik — orang-orang yang mengekspresikan posisi melawan revolusi — saat ini hanya berjumlah sekitar 300 orang, menandai turunnya jumlah daripada masa datangnya revolusi.

Wayne S. Smith, Ketua Seksi Kepentingan AS di Havana dari 1979 sampai 1982, pada 2007[362]

Biografer Leycester Coltman mendeskripsikan Castro sebagai orang yang "pekerja keras, berdedikasi[,] loyal ... penyayang dan murah hati" meskipun ia juga merupakan orang yang "pendendam dan tak melupakan kesalahan orang". Ia menyatakan bahwa Castro "selalu memiliki rasa humor dan membuat dirinya sendiri tertawa" namun sama halnya dengan "seorang pecundang buruk" yang akan bertindak dengan "segala cara jika ia merasa dihakimi".[363] Castro dikenal karena melempar dakwaan, dan akan membuat "pengadilan banding" jika ia menolak untuk menariknya.[364] Biografer Peter Bourne menyatakan bahwa Castro "memiliki humor yang rendah" dan pada masa mudanya, ia tidak toleran dengan orang-orang yang tidak bersepahaman dengannya.[365] Ia mengklaim bahwa Castro seperti bertemu dengan warga biasa, baik di Kuba maupun luar negeri, namun mengambil sikap keayahan kepada rakyat Kuba, membuat "mereka menjadi sebuah bagian dari keluarga raksasanya sendiri".[366] Sejarawan Inggris Alex Von Tunzelmann menyatakan bahwa "meskipun berdarah dingin, [Castro] adalah seorang patriot, seorang pria dengan esensi menonjol yang misinya adalah untuk menyelamatkan rakyat Kuba".[367]

Castro dikenal karena waktu kerjanya yang sibuk, seringkali baru tidur pada pukul 3 atau 4 dini hari.[368] Ia mengadakan pertemuan diplomat asing pada jam-jam awal, meyakini bahwa mereka akan berusaha dan ia akan meraih tempat teratas dalam negosiasi.[369] Ia menyebut Ernest Hemingway sebagai penulis favoritnya,[370] dan suka membaca namun tidak suka dengan musik.[265] Sebagai seornag penggemar olahraga, ia juga menjalani waktunya agar tetap bugar dengan giat melakukan pemanasan.[265] Ia sangat berminat akan gastronomi, serta wine dan whisky, dan sebagai pemimpin Kuba yang dikenal karena memasuki dapurnya untuk membicarakan hidangan dengan para chefnya.[265] Castro telah lama cinta dengan senjata,[371] dan menjadi pacuan hidupnya di negara tersebut.[372] Meskipun berbagai sumber menyatakan bahwa Castro tidak memperkaya dirinya sendiri, selain hidup lebih sederhana ketimbang kebanyakan presiden Amerika Latin,[359] mantan penjaga keamanannya Juan Reinaldo Sánchez menuduh bahwa Castro tinggal di rumah mewah dan besar, dengan beberapa rumah dan yacht yang ia sembunyikan dari masyarakat Kuba.[373]

Kepercayaan agama Fidel Castro telah menjadi bahan perdebatan; ia dibaptis dan dibesarkan sebagai seorang Katolik Roma, namun ia kemudian mengidentifikasikan dirinya sendiri sebagai seorang ateis. Ia mengkritik penggunaan Alkitab untuk membenarkan penindasan kaum wanita dan bangsa Afrika,[374] namun menyatakan bahwa umat Kristen menunjukkan "sekelompok orang yang sangat manusiawi" yang memberikan "nilai-nilai etika" dan "esensi keadilan sosial" kepada dunia. Ia berkata bahwa "Jika orang-orang memanggilku Kristen, bukan dari sudut pandang agama namun dari sudut pandang sosial, Aku menyatakan bahwa aku adalah orang Kristen."[375] Ia adalah orang yang memegang gagasan bahwa Yesus Kristus adalah seorang komunis, dengan mengutip kisah Yesus memberi makan lima ribu orang dan Yesus dan pria muda yang kaya raya sebagai buktinya.[376]

Citra publik[sunting | sunting sumber]

Poster propaganda Kuba yang mengproklamasikan sebuah kutipan dari Castro: "Luchar contra lo imposible y vencer" ("untuk bertarung melawan ketidakmungkinan dan menang")

Pakar politik Paul C. Sondrol menganggap Castro sebagai seorang "totalitarian dalam tampilan karismatiknya, peran dan publik utopia yang fungsional, berkemampuan transformatif".[377] Tak seperti sejumlah pemimpin komunis era Soviet lainnya, pemerintahan Castro tidak secara langsung membangun kultus personalitas terhadapnya, meskipun ketenarannya menjadi bagian dari penduduk Kuba yang berkembang pada tahun-tahun awal masa pemerintahannya.[378] Pada 2006, BBC mengabarkan bahwa citra Castro dapat ditemukan dalam toko-toko, ruang-ruang kelas, mobil-mobil taksi, dan di televisi nasional Kuba.[379] Sepanjang masa pemerintahannya sebagian besar pendukungnya berkumpul untuk menyambut pidato-pidato Castro yang berapi-api, yang biasanya berlangsung selama berjam-jam dan disampaikan tanpa menggunakan catatan tertulis.[380] Pada saat pidato, Castro biasanya mengutip laporan-laporan dan buku-buku yang ia baca tentang beragam subyek, yang meliputi materi-materi militer, penanaman tumbuhan, pembuatan film, dan strategi-strategi catur.[381]

Selama 37 tahun, Castro biasanya mengenakan seragam militer hijau zaitun, yang menandakan perannya sebagai revolusioner menonjol, namun pada pertengahan 1990an mulai mengenakan seragam sipil berwarna gelap dan juga guayabera.[382] Di Kuba, Castro sering dijuluki "El Caballo" ("Seekor Kuda"), sebuah label yang ditujukan kepada entertainer Kuba Benny Moré yang menyanjung jasa Castro pada 1950an dan awal 1960an,[383] dan pada masa itu, Castro banyak diakui sebagai sebuah simbol seks di Kuba.[384]

Keluarga dan sahabat[sunting | sunting sumber]

Castro dan Camilo Cienfuegos sebelum bermain bisbol

Beberapa detail kehidupan pribadi Castro, terutama yang melibatkan para anggota keluarganya, merupakan hal langka, karena informasi semacam itu disensor oleh media negara.[385][386]

Istri pertama Castro adalah Mirta Díaz-Balart, yang ia nikahi pada Oktober 1948, dan menganugerahinya seorang putra, Fidel Ángel "Fidelito" Castro Díaz-Balart, yang lahir pada September 1949. Díaz-Balart menceraikan Castro pada 1955, dan berpindah ke Spanyol, meskipun dikatakan kembali ke Kuba pada 2002 untuk tinggal dengan Fidelito.[387] Fidelito dibesarkan di Kuba; pada suatu masa, ia menjalankan komisi energi atom Kuba sebelum dilepaskan dari jabatan tersebut oleh ayahnya.[388]

Silsilah keluarga Castro

Saat Fidel berumah tangga dengan Mirta, ia menjalin hubungan dengan Natalia "Naty" Revuelta Clews, yang menganugerahinya seorang putri, Alina Fernández Revuelta.[388] Alina meninggalkan Kuba pada 1993, dengan menyamar menjadi wisatawan Spanyol,[389] dan meminta suaka ke AS, dimana ia mengkritik kebijakan-kebijakan ayahnya.[390] Dari seorang wanita yang tidak diketahui namanya, ia memiliki putra lainnya, Jorge Ángel Castro. Fidel memiliki putri lainnya, Francisca Pupo (kelahiran 1953), hasil dari hubungan satu malam. Pupo dan suaminya sekarang tinggal di Miami.[391] Castro sering melakukan hubungan dengan wanita dalam satu malam,[392] beberapa diantaranya dipilih untuknya saat mengunjungi sekutu-sekutu asing.[393]

Fidel memiliki lima putra lainnya dari istri keduanya, Dalia Soto del Valle — Antonio, Alejandro, Alexis, Alexander "Alex", dan Ángel Castro Soto del Valle.[388]

Adiknya Juanita Castro telah tinggal di Amerika Serikat sejak 1960an, dan menjadi penentang rezim kakaknya.[394]

Saat berkuasa, dua teman laki-laki terdekat Castro adalah mantan Wali kota Havana Pepín Naranjo dan dokter pribadinya sendiri, René Vallejo.[384] Dari 1980 sampai kematiannya pada 1995, Naranjo mengepalai tim pensehat Castro.[395] Castro juga berteman dengan revolusioner sejawatnya Celia Sánchez, yang mengikutinya hampir dimana saja pada 1960an, dan mengkontrol hampir seluruh akses untuk pemimpin tersebut.[396] Castro juga berteman baik dengan novelis Kolombia Gabriel García Márquez.[397]

Tanggapan dan warisan[sunting | sunting sumber]

Di Kuba, dominasi Fidel dari setiap aspek pemerintahan dan masyarakat masih bulat. Kebutuhan pribadinya untuk kontrol absolut dipandang sedikit berubah sepanjang tahun. Ia masih berkomitmen pada masyarakat terdisiplinkan dimana ia masih berniat untuk menata ulang karakter nasional Kuba, membuat masyarakat berorientasi kerja yang terpusat pada individual ... Ia ingin meningkatkan standar hidup masyarakat, ketersediaan barang-barang material, dan untuk mengimpor teknologi terbaru. Namun pada kenyataan ekonominya, disamping pertumbuhan yang sangat cepat dalam keuntungan produk nasional, sangat dibatasi apa yang Kuba dapat beli di pasar dunia.

Peter Bourne, biografer Castro, 1986[398]

Saat kematian Castro, The Observer menyatakan bahwa ia telah berusaha untuk "melawan kematian saat ia hidup", dan bahwa hanya hal yang "para musuh dan pengagum"-nya yang sepakat bahwa ia adalah "seorang figur yang ditinggikan" dalam urusan dunia yang "mengubah sebuah pulau Karibia kecil menjadi sepasukan besar dalam urusan dunia".[399] The Daily Telegraph menyatakan bahwa di seluruh dunia, ia "dipuji sebagai seorang pemenang pemberani dari rakyat, atau dicap sebagai diktator yang menyalahgunakan kekuasaan."[400]

Sejarawan dan jurnalis Richard Gott menganggap Castro merupakan "salah satu figur politik paling luar biasa pada abad kedua puluh", dengan alasan bahwa ia telah menjadi "pahlawan dunia yang bersanding dengan Garibaldi" untuk masyarakat di seluruh negara-negara berkembang untuk usaha anti-imperialisnya.[401] Bourne menyebut Castro sebagai "seorang pemimpin dunia berpengaruh" yang mengomandani "penghormatan besar" terhadap orang-orang dari seluruh ideologi politik di seluruh negara berkembang.[398] Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut Castro sebagai "teman lama dan dekat dari Rusia" dan "simbol dari sebuah era", sementara Perdana Menteri Tiongkok Xi Jinping sama-sama menyebutnya sebagai "seorang sobat dekat dan teman lama" bagi Tiongkok.[402] Perdana Menteri India Narendra Modi menjulukinya "salah satu tokoh paling ikonik pada abad ke-20" dan seorang "teman besar", sementara Presiden Afrika Selatan Jacob Zuma memuji Castro karena membantu kaum kulit hitam Afrika Selatan dalam "perjuangan kami melawan apartheid".[402] Politikus Pakistan Imran Khan menyebut Castro sebagai seorang "revolusioner ikonik... yang membebaskan negaranya dari seluruh sisa imperialisme", sementara Presiden Perancis François Hollande mengklaim bahwa Kuba mewakili "kebanggaan dalam menolak dominasi luar".[402]

Wayne S. Smith, mantan Ketua Seksi Kepentingan Amerika Serikat di Havana, menyatakan bahwa pada abad ke-21, Castro bertemu dengan "tepuk tangan hangat" di seluruh Hemisfer Barat karena penentangannya terhadap dominansi sosio-politik AS dan mengubah Kuba dari "republik pisang" menjadi negara dengan pengaruh internasional yang signifikan.[362] Ia dianugerahi beragam penghargaan dan gelar kehormatan dari pemerintah-pemerintah asing, dan disebut sebagai inspirasi bagi para pemimpin asing seperti Ahmed Ben Bella,[403] dan Nelson Mandela,[404] yang kemudian menganugerahinya penghargaan sipil tertinggi di Afrika Selatan untuk orang asing, Ordo Nasib Baik.[405] Presiden Bolivia Evo Morales menyebutnya sebagai "kakek dari seluruh revolusioner Amerika Latin",[406] sementara biografer Volka Skierka menyatakan bahwa "ia terjun dalam sejarah sebagai salah satu revolusioner yang masih benar pada prinsip-prinsipnya".[407]

Castro dengan Ahmed Ben Bella, pemimpin utama Perang Kemerdekaan Aljazair melawan pemerintahan kolonial Perancis

Castro sangat dikritik oleh pemerintah dan organsiasi HAM di dunia Barat, dan banyak dikecam di seluruh AS.[408] Ia dicap sebagai "diktator" oleh beberapa pakar politik.[a] Setelah kematian Castro, Presiden terpilih AS Donald Trump menyebutnya seorang "diktator brutal",[411] sementara politikus Kuba-Amerika Marco Rubio menyebutnya "seorang diktator pembunuh dan jahat" yang membuat Kuba menjadi "sebuah penjara pulau yang miskin".[412] Castro secara terbuka menolak label "diktator", dengan menyatakan bahwa ia secara konstitusional kurang berkuasa ketimbang kebanyakan kepala negara dan mengaku bahwa rezimnya mengijinkan keterlibatan demokrasi yang belum besar dalam kebijakan yang dibuat ketimbang demokrasi liberal Barat.[413] Selain itu, para kritikus mengklaim bahwa Castro membuat pengaruh signifikan tak resmi disamping tugas-tugas resminya.[414] Quirk menyatakan bahwa Castro memegang "kekuasaan absolut" di Kuba, meskipun bukan dalam hal hukum dan konstitusional,[415] sementara Bourne mengklaim bahwa kekuasaan di Kuba "secara bulat dipegang" Castro,[416] meskipun sangat jarang ada "sebuah negara dan seseorang" yang secara bulat didominasi oleh "personalitas satu orang.[417] Sondrol berkesimpulan bahwa dalam "sebagian besar sistem politik [adalah] buatannya sendiri dan capnya yang tak terhapuskan", gaya kepemimpinan Castro berbanding dengan para pemimpin totalitarian seperti Mao Zedong, Hideki Tojo, Joseph Stalin, Adolf Hitler, dan Benito Mussolini.[418]

Menyatakan bahwa terdapat "beberapa figur politik yang lebih terpolarisasi" ketimbang Castro, Amnesty International menyebutnya sebagai "seorang pemimpin progresif namun sangat bercacat". Dalam pandangan mereka, ia harus "disanjung" untuk "perbaikan substansial" dari rezimnya untuk perawatan kesehatan dan pendidikan namun dikritik karena "penindasan terhadap kebebasan berekspresi."[419] Human Rights Watch menyatakan bahwa pemerintahannya membangun sebuah "mesin represif" yang menjauhkan rakyat Kuba dari "hak-hak dasar" mereka.[420] Castro mempertahankan catatan pemerintahannya tentang HAM dengan menyatakan bahwa negaranya terpaksa membatasi kebebasan individual dan memenjarakan orang-orang yang terlibat dalam aktivitas kontra-revolusioner dalam rangka melindungi hak-hak penduduk kolektif, seperti hak untuk pekerjaan, pendidikan, dan perawatan kesehatan.[421]

Di Kuba[sunting | sunting sumber]

Setelah kematian Castro, pemerintah Kuba mengumumkan bahwa mereka akan mengesahkan sebuah hukum yang melarang penamaan "lembaga-lembaga, jalan-jalan, taman-taman, atau tempat-tempat umum lainnya, atau mendirikan patung-patung dada, patung-patung atau bentuk upeti lainnya" dalam menghormati pemimpin Kuba tersebut dalam rangka menjaga keinginannya untuk menghindari kultus personalitas yang berkembang di sekitarnya.[422]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Catatan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Lihat penjelasan pada buku Jay Mallin Covering Castro: Rise and Decline of Cuba's Communist Dictator,[409] atau pernyataan pakar politik Paul C. Sondrol yang menyatakan bahwa "Castro adalah diktator totalitarian dari komunis Kuba."[410]

Kutipan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Bourne 1986, hlm. 14; Coltman 2003, hlm. 3; Castro & Ramonet 2009, hlm. 23–24.
  2. ^ Bourne 1986, hlm. 14–15; Quirk 1993, hlm. 7–8; Coltman 2003, hlm. 1–2; Castro & Ramonet 2009, hlm. 24–29.
  3. ^ Bourne 1986, hlm. 14–15; Quirk 1993, hlm. 4; Coltman 2003, hlm. 3; Castro & Ramonet 2009, hlm. 24–29.
  4. ^ Bourne 1986, hlm. 16–17; Coltman 2003, hlm. 3; Castro & Ramonet 2009, hlm. 31–32.
  5. ^ Quirk 1993, hlm. 6; Coltman 2003, hlm. 5–6; Castro & Ramonet 2009, hlm. 45–48, 52–57.
  6. ^ Bourne 1986, hlm. 29–30; Coltman 2003, hlm. 5–6; Castro & Ramonet 2009, hlm. 59–60.
  7. ^ Quirk 1993, hlm. 13; Coltman 2003, hlm. 6–7; Castro & Ramonet 2009, hlm. 64–67.
  8. ^ Bourne 1986, hlm. 14–15; Quirk 1993, hlm. 14; Coltman 2003, hlm. 8–9.
  9. ^ Quirk 1993, hlm. 12–13,16–19; Coltman 2003, hlm. 9; Castro & Ramonet 2009, hlm. 68.
  10. ^ Bourne 1986, hlm. 13; Quirk 1993, hlm. 19; Coltman 2003, hlm. 16; Castro & Ramonet 2009, hlm. 91–92.
  11. ^ Bourne 1986, hlm. 9–10; Quirk 1993, hlm. 20, 22; Coltman 2003, hlm. 16–17; Castro & Ramonet 2009, hlm. 91–93.
  12. ^ Bourne 1986, hlm. 34–35; Quirk 1993, hlm. 23; Coltman 2003, hlm. 18.
  13. ^ Coltman 2003, hlm. 20.
  14. ^ Bourne 1986, hlm. 32–33; Coltman 2003, hlm. 18–19.
  15. ^ Bourne 1986, hlm. 34–37,63; Coltman 2003, hlm. 21–24.
  16. ^ Bourne 1986, hlm. 39–40; Quirk 1993, hlm. 28–29; Coltman 2003, hlm. 23–27; Castro & Ramonet 2009, hlm. 83–85.
  17. ^ Coltman 2003, hlm. 27–28; Castro & Ramonet 2009, hlm. 95–97.
  18. ^ Bourne 1986, hlm. 35–36, 54; Quirk 1993, hlm. 25, 27; Coltman 2003, hlm. 23–24,37–38, 46; Von Tunzelmann 2011, hlm. 39.
  19. ^ Castro & Ramonet 2009, hlm. 98.
  20. ^ Coltman 2003, hlm. 30; Von Tunzelmann 2011, hlm. 30–33.
  21. ^ Bourne 1986, hlm. 40–41; Quirk 1993, hlm. 23; Coltman 2003, hlm. 31.
  22. ^ Bourne 1986, hlmn. 41–42; Quirk 1993, hlm. 24; Coltman 2003, hlmn. 32–34.
  23. ^ Bourne 1986, hlm. 42; Coltman 2003, hlmn. 34–35.
  24. ^ a b Coltman 2003, hlm. 36–37.
  25. ^ a b Bourne 1986, hlm. 46–52; Quirk 1993, hlm. 25–26; Coltman 2003, hlm. 40–45; Castro & Ramonet 2009, hlm. 98–99.
  26. ^ Bourne 1986, hlm. 54, 56; Coltman 2003, hlm. 46–49.
  27. ^ Bourne 1986, hlm. 55; Quirk 1993, hlm. 27; Coltman 2003, hlm. 47–48; Von Tunzelmann 2011, hlm. 41.
  28. ^ Castro & Ramonet 2009, hlm. 100.
  29. ^ Bourne 1986, hlm. 54–55; Coltman 2003, hlm. 46.
  30. ^ Coltman 2003, hlm. 49.
  31. ^ Bourne 1986, hlm. 57; Coltman 2003, hlm. 50.
  32. ^ Quirk 1993, hlm. 29; Coltman 2003, hlm. 50.
  33. ^ Bourne 1986, hlm. 39; Coltman 2003, hlm. 51.
  34. ^ Coltman 2003, hlm. 51.
  35. ^ Bourne 1986, hlm. 57; Coltman 2003, hlm. 51; Castro & Ramonet 2009, hlm. 89.
  36. ^ Bourne 1986, hlm. 57–58; Quirk 1993, hlm. 318; Coltman 2003, hlm. 51–52.
  37. ^ Quirk 1993, hlm. 31; Coltman 2003, hlm. 52–53.
  38. ^ Coltman 2003, hlm. 53.
  39. ^ Bourne 1986, hlm. 58–59; Coltman 2003, hlm. 46, 53–55; Castro & Ramonet 2009, hlm. 85–87; Von Tunzelmann 2011, hlm. 44.
  40. ^ a b Bourne 1986, hlmn. 56–57, 62–63; Quirk 1993, hlm. 36; Coltman 2003, hlmn. 55–56.
  41. ^ Quirk 1993, hlm. 33–34; Coltman 2003, hlm. 57.
  42. ^ Quirk 1993, hlm. 29; Coltman 2003, hlm. 55–56.
  43. ^ Bourne 1986, hlm. 64–65; Quirk 1993, hlm. 37–39; Coltman 2003, hlm. 57–62; Von Tunzelmann 2011, hlm. 44.
  44. ^ Coltman 2003, hlm. 64; Von Tunzelmann 2011, hlm. 44.
  45. ^ Quirk 1993, hlm. 41, 45; Coltman 2003, hlm. 63.
  46. ^ Coltman 2003, hlm. 79.
  47. ^ Bourne 1986, hlm. 68–69; Quirk 1993, hlm. 50–52; Coltman 2003, hlm. 65.
  48. ^ Bourne 1986, hlm. 69; Coltman 2003, hlm. 66; Castro & Ramonet 2009, hlm. 107.
  49. ^ Bourne 1986, hlm. 73; Coltman 2003, hlm. 66–67.
  50. ^ Coltman 2003, hlm. 69–70, 73.
  51. ^ Coltman 2003, hlm. 74.
  52. ^ Bourne 1986, hlm. 76; Coltman 2003, hlm. 71, 74.
  53. ^ Coltman 2003, hlm. 75–76.
  54. ^ Coltman 2003, hlm. 78.
  55. ^ Bourne 1986, hlm. 80–84; Quirk 1993, hlm. 52–55; Coltman 2003, hlm. 80–81.
  56. ^ Coltman 2003, hlm. 82.
  57. ^ Quirk 1993, hlm. 55; Coltman 2003, hlm. 82.
  58. ^ Bourne 1986, hlm. 83; Quirk 1993, hlm. 55; Coltman 2003, hlm. 83.
  59. ^ a b Bourne 1986, hlm. 87–88; Quirk 1993, hlm. 55–56; Coltman 2003, hlm. 84.
  60. ^ Bourne 1986, hlm. 86; Coltman 2003, hlm. 86.
  61. ^ Bourne 1986, hlm. 91; Quirk 1993, hlm. 57; Coltman 2003, hlm. 87.
  62. ^ Bourne 1986, hlm. 91–92; Quirk 1993, hlm. 57–59; Coltman 2003, hlm. 88.
  63. ^ Quirk 1993, hlm. 58; Coltman 2003, hlm. 88–89.
  64. ^ Bourne 1986, hlm. 93; Quirk 1993, hlm. 59; Coltman 2003, hlm. 90.
  65. ^ Bourne 1986, hlm. 93; Quirk 1993, hlm. 58–60; Coltman 2003, hlm. 91–92.
  66. ^ Quirk 1993, hlm. 66; Coltman 2003, hlm. 97.
  67. ^ Bourne 1986, hlm. 94–95; Quirk 1993, hlm. 61; Coltman 2003, hlm. 93.
  68. ^ Bourne 1986, hlm. 95–96; Quirk 1993, hlm. 63–65; Coltman 2003, hlm. 93–94.
  69. ^ Bourne 1986, hlm. 98–100; Quirk 1993, hlm. 71; Coltman 2003, hlm. 94–95.
  70. ^ Bourne 1986, hlm. 97–98; Quirk 1993, hlm. 67–71; Coltman 2003, hlm. 95–96.
  71. ^ a b Bourne 1986, hlm. 102–103; Quirk 1993, hlm. 76–79; Coltman 2003, hlm. 97–99.
  72. ^ Bourne 1986, hlm. 103–105; Quirk 1993, hlm. 80–82; Coltman 2003, hlm. 99–100.
  73. ^ Bourne 1986, hlm. 105; Quirk 1993, hlm. 83–85; Coltman 2003, hlm. 100.
  74. ^ Bourne 1986, hlm. 110; Coltman 2003, hlm. 100.
  75. ^ Bourne 1986, hlm. 106–107; Coltman 2003, hlm. 100–101.
  76. ^ Bourne 1986, hlm. 109–111; Quirk 1993, hlm. 85; Coltman 2003, hlm. 101.
  77. ^ Bourne 1986, hlm. 111; Quirk 1993, hlm. 86.
  78. ^ Bourne 1986, hlm. 112; Quirk 1993, hlm. 88; Coltman 2003, hlm. 102.
  79. ^ "Por vez primera en México se exhibe el testimonio fotográfico del Che Guevara". La Jornada UNAM (dalam bahasa spanish). December 11, 2001. Diakses tanggal November 26, 2016. 
  80. ^ Bourne 1986, hlm. 115–117; Quirk 1993, hlm. 96–98; Coltman 2003, hlm. 102–103; Castro & Ramonet 2009, hlm. 172–173.
  81. ^ Bourne 1986, hlm. 114; Quirk 1993, hlm. 105–106; Coltman 2003, hlm. 104–105.
  82. ^ Bourne 1986, hlm. 117–118, 124; Quirk 1993, hlm. 101–102, 108–114; Coltman 2003, hlm. 105–110.
  83. ^ Bourne 1986, hlm. 111–124;Coltman 2003, hlm. 104.
  84. ^ Bourne 1986, hlm. 122, 12–130; Quirk 1993, hlm. 102–104, 114–116; Coltman 2003, hlm. 109.
  85. ^ Bourne 1986, hlm. 132–133; Quirk 1993, hlm. 115; Coltman 2003, hlm. 110–112.
  86. ^ Bourne 1986, hlm. 134; Coltman 2003, hlm. 113.
  87. ^ Bourne 1986, hlm. 134–135; Quirk 1993, hlm. 119–126; Coltman 2003, hlm. 113.
  88. ^ Quirk 1993, hlm. 126.
  89. ^ Bourne 1986, hlm. 135–136; Quirk 1993, hlm. 122–125; Coltman 2003, hlm. 114–115.
  90. ^ Bourne 1986, hlm. 125–126; Coltman 2003, hlm. 114–117.
  91. ^ Bourne 1986, hlm. 137.
  92. ^ Coltman 2003, hlm. 116–117.
  93. ^ Bourne 1986, hlm. 139; Quirk 1993, hlm. 127; Coltman 2003, hlm. 118–119.
  94. ^ Bourne 1986, hlm. 114; Quirk 1993, hlm. 129; Coltman 2003, hlm. 114.
  95. ^ Coltman 2003, hlm. 122.
  96. ^ Bourne 1986, hlm. 138; Quirk 1993, hlm. 130; Coltman 2003, hlm. 119.
  97. ^ a b Bourne 1986, hlm. 142–143; Quirk 1993, hlm. 128, 134–136; Coltman 2003, hlm. 121–122.
  98. ^ Quirk 1993, hlm. 145, 148.
  99. ^ a b Bourne 1986, hlm. 148–150; Quirk 1993, hlm. 141–143; Coltman 2003, hlm. 122–123. Naskah Manifesto Sierra Maestra dapat dilihat di "Raul Antonio Chibás: Manifiesto Sierra Maestra". Chibas.org. Diakses tanggal 9 Agustus 2012. 
  100. ^ Bourne 1986, hlm. 140–142; Quirk 1993, hlm. 131–134; Coltman 2003, hlm. 120.
  101. ^ Bourne 1986, hlm. 143; Quirk 1993, hlm. 159; Coltman 2003, hlm. 127–128.
  102. ^ Bourne 1986, hlm. 155; Coltman 2003, hlm. 122, 129.
  103. ^ a b Coltman 2003, hlm. 129–130, 134.
  104. ^ Bourne 1986, hlm. 152–154; Coltman 2003, hlm. 130–131.
  105. ^ a b Quirk 1993, hlm. 181–183; Coltman 2003, hlm. 131–133.
  106. ^ Bourne 1986, hlm. 158.
  107. ^ Bourne 1986, hlm. 158; Quirk 1993, hlm. 194–196; Coltman 2003, hlm. 135.
  108. ^ a b Bourne 1986, hlm. 158–159; Quirk 1993, hlm. 196, 202–207; Coltman 2003, hlm. 136–137.
  109. ^ Bourne 1986, hlm. 158–159; Quirk 1993, hlm. 203, 207–208; Coltman 2003, hlm. 137.
  110. ^ Quirk 1993, hlm. 212; Coltman 2003, hlm. 137.
  111. ^ Bourne 1986, hlm. 160; Quirk 1993, hlm. 211; Coltman 2003, hlm. 137.
  112. ^ Bourne 1986, hlm. 160; Quirk 1993, hlm. 212; Coltman 2003, hlm. 137.
  113. ^ Bourne 1986, hlm. 161–162; Quirk 1993, hlm. 211; Coltman 2003, hlm. 137–138.
  114. ^ Bourne 1986, hlm. 142–143; Quirk 1993, hlm. 214; Coltman 2003, hlm. 138–139.
  115. ^ Bourne 1986, hlm. 162–163; Quirk 1993, hlm. 219; Coltman 2003, hlm. 140–141.
  116. ^ Bourne 1986, hlm. 153, 161; Quirk 1993, hlm. 216; Coltman 2003, hlm. 126, 141–142.
  117. ^ Bourne 1986, hlm. 164; Coltman 2003, hlm. 144.
  118. ^ Bourne 1986, hlm. 171–172; Quirk 1993, hlm. 217, 222; Coltman 2003, hlm. 150–154.
  119. ^ Bourne 1986, hlm. 166, 170; Quirk 1993, hlm. 251; Coltman 2003, hlm. 145.
  120. ^ Bourne 1986, hlm. 168; Coltman 2003, hlm. 149.
  121. ^ Wickham-Crowley 1990, hlmn. 63–64; Guerra 2012, hlm. 43.
  122. ^ Wickham-Crowley 1990, hlm. 63.
  123. ^ Guerra 2012, hlm. 43.
  124. ^ Bourne 1986, hlm. 163, 167–169; Quirk 1993, hlm. 224–230; Coltman 2003, hlm. 147–149.
  125. ^ Bourne 1986, hlm. 169–170; Quirk 1993, hlm. 225–226.
  126. ^ Bourne 1986, hlm. 173; Quirk 1993, hlm. 277; Coltman 2003, hlm. 154.
  127. ^ Bourne 1986, hlm. 173; Quirk 1993, hlm. 228.
  128. ^ Bourne 1986, hlm. 174–177; Quirk 1993, hlm. 236–242; Coltman 2003, hlm. 155–157.
  129. ^ Bourne 1986, hlm. 177; Quirk 1993, hlm. 243; Coltman 2003, hlm. 158.
  130. ^ Bourne 1986, hlm. 177–178; Quirk 1993, hlm. 280; Coltman 2003, hlm. 159–160
  131. ^ Robinson, Eugene (January 30, 2005). "The Controversial, Charismatic Castro". Washington Post. 
  132. ^ Quirk 1993, hlm. 262–269, 281.
  133. ^ Quirk 1993, hlm. 234.
  134. ^ a b Bourne 1986, hlm. 186.
  135. ^ Bourne 1986, hlm. 176–177; Quirk 1993, hlm. 248; Coltman 2003, hlm. 161–166.
  136. ^ Bourne 1986, hlm. 181–183; Quirk 1993, hlm. 248–252; Coltman 2003, hlm. 162.
  137. ^ a b c d Bourne 1986, hlm. 275–276.
  138. ^ Bourne 1986, hlm. 275–276; Quirk 1993, hlm. 324.
  139. ^ Bourne 1986, hlm. 179.
  140. ^ Quirk 1993, hlm. 280; Coltman 2003, hlm. 168.
  141. ^ Bourne 1986, hlm. 195–197; Coltman 2003, hlm. 167.
  142. ^ Quirk 1993, hlm. 197; Coltman 2003, hlm. 165–166.
  143. ^ Bourne 1986, hlm. 181, 197; Coltman 2003, hlm. 168.
  144. ^ Coltman 2003, hlm. 176–177.
  145. ^ Coltman 2003, hlm. 167; Ros 2006, hlm. 159–201; Franqui 1984, hlm. 111–115.
  146. ^ Bourne 1986, hlm. 202; Quirk 1993, hlm. 296.
  147. ^ Bourne 1986, hlm. 189–190, 198–199; Quirk 1993, hlm. 292–296; Coltman 2003, hlm. 170–172.
  148. ^ Bourne 1986, hlm. 205–206; Quirk 1993, hlm. 316–319; Coltman 2003, hlm. 173.
  149. ^ Bourne 1986, hlm. 201–202; Quirk 1993, hlm. 302; Coltman 2003, hlm. 172.
  150. ^ Bourne 1986, hlm. 202, 211–213; Quirk 1993, hlm. 272–273; Coltman 2003, hlm. 172–173.
  151. ^ Bourne 1986, hlm. 214; Quirk 1993, hlm. 349; Coltman 2003, hlm. 177.
  152. ^ Bourne 1986, hlm. 215.
  153. ^ Bourne 1986, hlm. 206–209; Quirk 1993, hlm. 333–338; Coltman 2003, hlm. 174–176.
  154. ^ Bourne 1986, hlm. 209–210; Quirk 1993, hlm. 337.
  155. ^ Quirk 1993, hlm. 339.
  156. ^ Quirk 1993, hlm. 300; Coltman 2003, hlm. 176.
  157. ^ Bourne 1986, hlm. 125; Quirk 1993, hlm. 300.
  158. ^ Bourne 1986, hlm. 233; Quirk 1993, hlm. 345, 649; Coltman 2003, hlm. 176.
  159. ^ Geyer 1991, hlm. 277 Quirk 1993, hlm. 313.
  160. ^ Quirk 1993, hlm. 330.
  161. ^ Bourne 1986, hlm. 226.
  162. ^ Bourne 1986, hlm. 215–216; Quirk 1993, hlm. 353–354, 365–366; Coltman 2003, hlm. 178.
  163. ^ Bourne 1986, hlm. 217–220; Quirk 1993, hlm. 363–367; Coltman 2003, hlm. 178–179.
  164. ^ Bourne 1986, hlm. 221–222; Quirk 1993, hlm. 371.
  165. ^ Bourne 1986, hlm. 221–222; Quirk 1993, hlm. 369; Coltman 2003, hlm. 180, 186.
  166. ^ Bourne 1986, hlm. 222–225; Quirk 1993, hlm. 370–374; Coltman 2003, hlm. 180–184.
  167. ^ Bourne 1986, hlm. 226–227; Quirk 1993, hlm. 375–378; Coltman 2003, hlm. 180–184.
  168. ^ Coltman 2003, hlm. 185–186.
  169. ^ Bourne 1986, hlm. 230; Geyer 1991, hlm. 276; Quirk 1993, hlm. 387, 396; Coltman 2003, hlm. 188.
  170. ^ Geyer 1991, hlm. 274–275, Quirk 1993, hlm. 385–386.
  171. ^ a b Bourne 1986, hlm. 231, Coltman 2003, hlm. 188.
  172. ^ Quirk 1993, hlm. 405.
  173. ^ Bourne 1986, hlmn. 230–234; Geyer 1991, hlm. 274; Quirk 1993, hlmn. 395, 400–401; Coltman 2003, hlm. 190.
  174. ^ Bourne 1986, hlm. 232–234, Quirk 1993, hlm. 397–401, Coltman 2003, hlm. 190
  175. ^ Bourne 1986, hlm. 232, Quirk 1993, hlm. 397.
  176. ^ Bourne 1986, hlm. 233.
  177. ^ Quirk 1993, hlmn. 525–526; Coltman 2003, hlmn. 188–189.
  178. ^ "Castro admits 'injustice' for gays and lesbians during revolution", CNN, Shasta Darlington, August 31, 2010.
  179. ^ Bourne 1986, hlm. 233, Quirk 1993, hlm. 203–204, 410–412, Coltman 2003, hlm. 189.
  180. ^ Bourne 1986, hlm. 234–236, Quirk 1993, hlm. 403–406, Coltman 2003, hlm. 192.
  181. ^ Bourne 1986, hlm. 258–259, Coltman 2003, hlm. 191–192.
  182. ^ Coltman 2003, hlm. 192–194.
  183. ^ Coltman 2003, hlm. 194.
  184. ^ Coltman 2003, hlm. 195.
  185. ^ Bourne 1986, hlm. 238–239, Quirk 1993, hlm. 425, Coltman 2003, hlm. 196–197.
  186. ^ Coltman 2003, hlm. 197.
  187. ^ Coltman 2003, hlm. 198–199.
  188. ^ Bourne 1986, hlm. 239, Quirk 1993, hlm. 443–434, 449, Coltman 2003, hlm. 199–200, 203.
  189. ^ Bourne 1986, hlm. 241–242, Quirk 1993, hlm. 444–445.
  190. ^ Bourne 1986, hlmn. 245–248; Quirk 1993, hlmn. 458–470; Coltman 2003, hlmn. 204–205.
  191. ^ [1] Nikita Khrushchev and the Creation of a Superpower, disunting oleh Sergei N. Khrushchev
  192. ^ Bourne 1986, hlm. 249; Quirk 1993, hlm. 538.
  193. ^ Bourne 1986, hlmn. 249–250; Quirk 1993, hlm. 702.
  194. ^ Quirk 1993, hlm. 435–434.
  195. ^ Quirk 1993, hlm. 454–454, 479–480.
  196. ^ Quirk 1993, hlmn. 530–534; Coltman 2003, hlm. 213.
  197. ^ Bourne 1986, hlm. 250–251.
  198. ^ Bourne 1986, hlm. 263; Quirk 1993, hlmn. 488–489.
  199. ^ Quirk 1993, hlm. 484–486.
  200. ^ Quirk 1993, hlm. 534; Coltman & 2003, hlm. 213.
  201. ^ "Cuba Once More", by Walter Lippmann, Newsweek, April 27, 1964, p. 23.
  202. ^ Quirk 1993, hlm. 744.
  203. ^ Bourne 1986, hlm. 255; Coltman 2003, hlm. 211.
  204. ^ Bourne 1986, hlmn. 255–256, 260; Quirk 1993, hlm. 744; Coltman 2003, hlmn. 211–212.
  205. ^ Bourne 1986, hlmn. 267–268; Quirk 1993, hlmn. 582–585; Coltman 2003, hlm. 216.
  206. ^ Bourne 1986, hlm. 265; Coltman 2003, hlm. 214.
  207. ^ Bourne 1986, hlm. 267.
  208. ^ Bourne 1986, hlm. 269.
  209. ^ a b Quirk 1993, hlm. 559–560.
  210. ^ Bourne 1986, hlmn. 269–270; Quirk 1993, hlmn. 588–590.
  211. ^ Bourne 1986, hlmn. 270–271; Quirk 1993, hlmn. 597–600; Coltman 2003, hlmn. 216–217.
  212. ^ Castro, Fidel (August 1968). "Castro comments on Czechoslovakia crisis". FBIS. 
  213. ^ Quirk 1993, hlmn. 591–594; Coltman 2003, hlm. 227.
  214. ^ Quirk 1993, hlm. 647.
  215. ^ Quirk 1993, hlm. 644–645.
  216. ^ Quirk 1993, hlmn. 618–621; Coltman 2003, hlm. 227.
  217. ^ Bourne 1986, hlm. 273; Quirk 1993, hlmn. 634–640; Coltman 2003, hlm. 229.
  218. ^ Bourne 1986, hlm. 274; Quirk 1993, hlm. 644; Coltman 2003, hlm. 230.
  219. ^ Bourne 1986, hlmn. 275–276; Quirk 1993, hlm. 606; Coltman 2003, hlm. 230.
  220. ^ Bourne 1986, hlmn. 276–277; Quirk 1993, hlmn. 682–684.
  221. ^ Bourne 1986, hlm. 277.
  222. ^ Quirk 1993, hlmn. 640–641; Coltman 2003, hlm. 230.
  223. ^ Quirk 1993, hlmn. 609–615, 662–676; Coltman 2003, hlmn. 232–233.
  224. ^ Bourne 1986, hlmn. 278–280; Quirk 1993, hlmn. 685–701, 703; Coltman 2003, hlmn. 233–236, 240.
  225. ^ Quirk 1993, hlmn. 706–707; Coltman 2003, hlmn. 237–238.
  226. ^ Quirk 1993, hlmn. 707–715; Coltman 2003, hlm. 238.
  227. ^ Bourne 1986, hlmn. 283–284; Quirk 1993, hlmn. 718–719; Coltman 2003, hlm. 239.
  228. ^ Quirk 1993, hlm. 721; Coltman 2003, hlmn. 239–240.
  229. ^ Bourne 1986, hlm. 284; Quirk 1993, hlmn. 745–746.
  230. ^ Quirk 1993, hlm. 721–723.
  231. ^ Bourne 1986, hlmn. 283–284; Quirk 1993, hlmn. 724–725; Coltman 2003, hlm. 240.
  232. ^ Bourne 1986, hlm. 282; Quirk 1993, hlm. 737.
  233. ^ Bourne 1986, hlm. 283; Quirk 1993, hlmn. 726–729; Coltman 2003, hlmn. 240–241.
  234. ^ Bourne 1986, hlmn. 281, 284–287; Quirk 1993, hlmn. 747–750; Coltman 2003, hlmn. 242–243.
  235. ^ Quirk 1993, hlmn. 752; Coltman 2003, hlm. 243.
  236. ^ Quirk 1993, hlmn. 759–761; Coltman 2003, hlmn. 243–244.
  237. ^ Quirk 1993, hlm. 750.
  238. ^ Quirk 1993, hlm. 766–767.
  239. ^ Coltman 2003, hlm. 245.
  240. ^ Bourne 1986, hlmn. 291–292; Quirk 1993, hlmn. 761–765, 776–781; Coltman 2003, hlm. 245.
  241. ^ Coltman 2003, hlm. 249.
  242. ^ O'Grady, Mary Anastasia (October 30, 2005). "Counting Castro's Victims". The Wall Street Journal. Diakses tanggal February 11, 2015. 
  243. ^ Quirk 1993, hlm. 759.
  244. ^ Bourne 1986, hlm. 294; Quirk 1993, hlmn. 782–783, 798–802; Coltman 2003, hlm. 245.
  245. ^ Bourne 1986, hlm. 294.
  246. ^ Quirk 1993, hlmn. 750–751; Coltman 2003, hlmn. 244–245.
  247. ^ Bourne 1986, hlm. 289; Quirk 1993, hlmn. 756–759, 769, 771; Coltman 2003, hlmn. 247–248.
  248. ^ Quirk 1993, hlm. 793–794.
  249. ^ Quirk 1993, hlmn. 754–755, 804; Coltman 2003, hlm. 250; Gott 2004, hlm. 288.
  250. ^ Quirk 1993, hlm. 804, 816.
  251. ^ a b Coltman 2003, hlm. 255.
  252. ^ Quirk 1993, hlm. 808; Coltman 2003, hlmn. 250–251.
  253. ^ Bourne 1986, hlm. 295; Quirk 1993, hlmn. 807–810; Coltman 2003, hlmn. 251–252.
  254. ^ Bourne 1986, hlm. 296; Quirk 1993, hlmn. 810–815; Coltman 2003, hlm. 252.
  255. ^ Quirk 1993, hlmn. 812–813; Coltman 2003, hlm. 252.
  256. ^ Coltman 2003, hlm. 253.
  257. ^ Bourne 1986, hlm. 297; Quirk 1993, hlmn. 819–822; Coltman 2003, hlmn. 253–254.
  258. ^ Quirk 1993, hlm. 818.
  259. ^ Coltman 2003, hlm. 254–255.
  260. ^ Quirk 1993, hlm. 826; Coltman 2003, hlm. 256; Gott 2004, hlm. 273.
  261. ^ Coltman 2003, hlm. 256.
  262. ^ Coltman 2003, hlm. 257.
  263. ^ Quirk 1993, hlmn. 827–828; Coltman 2003, hlmn. 260–261; Gott 2004, hlm. 276.
  264. ^ Quirk 1993, hlmn. 828–829; Coltman 2003, hlmn. 258–266; Gott 2004, hlmn. 279–286.
  265. ^ a b c d Coltman 2003, hlm. 224.
  266. ^ Coltman 2003, hlmn. 257–258; Gott 2004, hlmn. 276–279.
  267. ^ Quirk 1993, hlm. 830; Coltman 2003, hlm. 277; Gott 2004, hlm. 286.
  268. ^ Coltman 2003, hlmn. 267–268; Gott 2004, hlm. 286.
  269. ^ Coltman 2003, hlmn. 268–270; Gott 2004, hlm. 286.
  270. ^ Quirk 1993, hlm. 831; Coltman 2003, hlmn. 270–271.
  271. ^ Quirk 1993, hlmn. 830–831; Coltman 2003, hlm. 271; Gott 2004, hlmn. 287–289.
  272. ^ Coltman 2003, hlm. 282; Gott 2004, hlm. 288.
  273. ^ Coltman 2003, hlm. 274–275.
  274. ^ Quirk 1993, hlmn. 832–833; Coltman 2003, hlm. 275.
  275. ^ Quirk 1993, hlm. 832; Coltman 2003, hlmn. 274–275.
  276. ^ Coltman 2003, hlm. 290–291.
  277. ^ Coltman 2003, hlm. 305–306.
  278. ^ Quirk 1993, hlmn. 831–832; Coltman 2003, hlmn. 272–273.
  279. ^ Coltman 2003, hlmn. 275–276; Gott 2004, hlm. 314.
  280. ^ Coltman 2003, hlmn. 297–299; Gott 2004, hlmn. 298–299.
  281. ^ Coltman 2003, hlm. 287; Gott 2004, hlmn. 273–274.
  282. ^ Coltman 2003, hlm. 291–292.
  283. ^ Coltman 2003, hlmn. 276–281, 284, 287; Gott 2004, hlmn. 291–294.
  284. ^ Quirk 1993, hlm. 836; Coltman 2003, hlm. 288; Gott 2004, hlmn. 290, 322.
  285. ^ Coltman 2003, hlm. 294.
  286. ^ Coltman 2003, hlmn. 278, 294–295; Gott 2004, hlm. 309.
  287. ^ Coltman 2003, hlmn. 309–311; Gott 2004, hlmn. 306–310.
  288. ^ a b c Coltman 2003, hlm. 312.
  289. ^ Whittle & Rey Santos 2006, hlm. 77; Evenson 2010, hlmn. 489, 502–503.
  290. ^ Living Planet Report 2006 (PDF) (Laporan). World Wildlife Fund. 2006. hlm. 19. 
  291. ^ Coltman 2003, hlm. 283; Gott 2004, hlm. 279.
  292. ^ Coltman 2003, hlm. 304.
  293. ^ a b Kozloff 2008, hlm. 24.
  294. ^ Wilpert 2007, hlm. 162; Azicri 2009, hlm. 100.
  295. ^ a b Azicri 2009, hlm. 100.
  296. ^ Marcano & Barrera Tyszka 2007, hlmn. 213–215; Kozloff 2008, hlmn. 23–24.
  297. ^ Morris, Ruth (December 18, 2005). "Cuba's Doctors Resuscitate Economy Aid Missions Make Money, Not Just Allies". Sun-Sentinel. Diakses tanggal December 28, 2006. 
  298. ^ Kozloff 2008, hlm. 21.
  299. ^ Kozloff 2008, hlm. 24; Azicri 2009, hlmn. 106–107.
  300. ^ "Cuba to shut plants to save power". BBC News. September 30, 2004. Diakses tanggal May 20, 2006. 
  301. ^ Wilpert 2007, hlm. 155–156.
  302. ^ Wilpert 2007, hlm. 164.
  303. ^ "Castro calls for Caribbean unity". BBC News. August 21, 1998. Diakses tanggal May 21, 2006. 
  304. ^ "Castro finds new friends". BBC News. August 25, 1998. Diakses tanggal May 21, 2006. 
  305. ^ "Cuba opens more Caribbean embassies". Caribbean Net News. March 13, 2006. Diakses tanggal May 11, 2006. 
  306. ^ Gibbs, Stephen (August 21, 2005). "Cuba and Panama restore relations". BBC News. Diakses tanggal May 21, 2006. 
  307. ^ "Castro welcomes one-off US trade". BBC News. November 17, 2001. Diakses tanggal May 19, 2006. ; "US food arrives in Cuba". BBC News. December 16, 2001. Diakses tanggal May 19, 2006. 
  308. ^ "Fidel Castro speaks on imperialist war drive". themilitant.com, Volume 69, Number 39. The Militant. October 15, 2001. Diakses tanggal July 25, 2016. 
  309. ^ Coltman 2003, hlm. 320.
  310. ^ "Castro: Kuwait, Iraq Invasions Both Mistakes". Fox News. December 23, 2003.
  311. ^ "Canadian PM visits Fidel in April". BBC News. April 20, 1998. Diakses tanggal May 21, 2006. 
  312. ^ Skierka 2006, hlm. xvi.
  313. ^ "Reaction Mixed to Castro's Turnover of Power". PBS. August 1, 2006. ; Castro, Fidel (March 22, 2011). "My Shoes Are Too Tight". Juventud Rebelde. Diarsipkan dari versi asli tanggal April 27, 2011. Diakses tanggal April 14, 2011. ; "Castro says he resigned as Communist Party chief 5 years ago". CNN. March 22, 2011. Diarsipkan dari versi asli tanggal April 15, 2011. Diakses tanggal April 14, 2011. 
  314. ^ "Acting president Raul Castro says brother Fidel getting better". CBC News. Associated Press. February 9, 2007. Diakses tanggal November 17, 2016. 
  315. ^ Pretel, Enrique Andres (February 28, 2007). "Cuba's Castro says recovering, sounds stronger". Reuters. Diakses tanggal April 28, 2012. 
  316. ^ "Castro resumes official business". BBC News. April 21, 2007. Diakses tanggal April 21, 2007. 
  317. ^ Marcano & Barrera Tyszka 2007, hlm. 287.
  318. ^ Sivak 2010, hlm. 52.
  319. ^ "Castro elected President of Non-Aligned Movement Nations". People's News Daily. September 16, 2006. Diakses tanggal December 8, 2013. 
  320. ^ "Bush wishes Cuba's Castro would disappear". Reuters. June 28, 2007. Diakses tanggal July 1, 2007. 
  321. ^ Castro, Fidel (February 18, 2008). "Message from the Commander in Chief". Diario Granma. Comité Central del Partido Comunista de Cuba. Diakses tanggal May 20, 2011. (Spanyol); "Fidel Castro announces retirement". BBC News. February 18, 2008. Diakses tanggal February 18, 2008. ; "Fidel Castro stepping down as Cuba's leader". Reuters. February 18, 2008. Diarsipkan dari versi asli tanggal January 3, 2009. Diakses tanggal February 18, 2008. 
  322. ^ "Fidel Castro announces retirement". BBC News. February 19, 2008. Diakses tanggal February 19, 2008. 
  323. ^ "Raul Castro named Cuban president". BBC. February 24, 2008. Diakses tanggal February 24, 2008. 
  324. ^ "CUBA: Raúl Shares His Seat with Fidel". Ipsnews.net. Diarsipkan dari versi asli tanggal May 11, 2011. Diakses tanggal March 16, 2011. 
  325. ^ a b c Franks, Jeff (August 12, 2012). "Fidel Castro to turn 86, but out of view since June". Reuters. Diakses tanggal October 13, 2012. 
  326. ^ Govan, Fiona (January 23, 2009). "Fidel Castro sends farewell message to his people". The Daily Telegraph. London. Diakses tanggal January 28, 2009. 
  327. ^ "Fidel contemplates his mortality". BBC. January 23, 2009. Diakses tanggal January 28, 2009. 
  328. ^ "Cuba's Fidel Castro makes rare state TV appearance". BBC News. July 13, 2010. 
  329. ^ Weissert, Will (August 8, 2010). "Fidel Castro warns of nuclear risk in 1st speech to Cuban parliament in 4 years". The Washington Post. Diakses tanggal March 16, 2011. ; "Fidel Castro Addresses Parliament on Iran Issue". The New York Times. August 8, 2010. Retrieved September 25, 2011.
  330. ^ "Fidel Castro addresses parliament after four-year gap", BBC News, 7 Agustus 2010. Diakses pada 8 Agustus 2010.
  331. ^ "Fidel quits Communist Party leadership as Cuba looks to reform". Euronews.net. April 19, 2011. Diakses tanggal April 19, 2011. 
  332. ^ "Cuban communists opt for old guard to lead reforms". Reuters. April 19, 2011. Diakses tanggal April 20, 2011. 
  333. ^ "Castro condemns NATO's 'inevitable' war on Libya". CNN News. March 3, 2011.
  334. ^ Pullella, Philip; Franks, Jeff (March 29, 2012). "Pope meets Cuba's Fidel Castro, slams US embargo". Reuters. Diakses tanggal October 13, 2012. 
  335. ^ Beaumont, Peter (October 13, 2012). "Fidel Castro and Hugo Chávez played role in Colombia's peace talks with Farc". The Observer. London. Diakses tanggal October 13, 2012. 
  336. ^ "Fidel Castro to North Korea: nuclear war will benefit no one". The Guardian. London. April 5, 2013. Diakses tanggal November 17, 2016. 
  337. ^ "Fidel Castro awarded China's Confucius Peace Prize". Associated Press. December 22, 2014. Diarsipkan dari versi asli tanggal December 28, 2014. Diakses tanggal November 17, 2016. ; "Fidel Castro Wins Confucius Peace Prize". Chian Digital Times. December 11, 2014. Diakses tanggal November 17, 2016. 
  338. ^ Daniel Trotta (January 26, 2015). "Fidel Castro appears to lend support to Cuba talks with U.S." Reuters. Diakses tanggal November 17, 2016. 
  339. ^ "Fidel Castro writes caustic note to Obama after Cuba visit". Deutsche Welle. March 28, 2016. Diakses tanggal November 17, 2016. 
  340. ^ "Fidel Castro gives his 'last' party address". Deutsche Welle. April 19, 2016. Diakses tanggal November 17, 2016. 
  341. ^ "Iran: Hassan Rouhani meets with Cuban leader Fidel Castro during one-day state visit in Havana". The Indian Express. September 20, 2016. Diakses tanggal November 17, 2016. 
  342. ^ "Japan's Shinzo Abe meets Fidel Castro, discusses North Korea". Deutsche Welle. September 23, 2016. Diakses tanggal November 17, 2016. 
  343. ^ http://www.tvi24.iol.pt/politica/marcelo-rebelo-de-sousa/marcelo-foi-um-dos-ultimos-lideres-a-estar-com-fidel-castro - In Portuguese
  344. ^ a b "Cuba's former leader Fidel Castro dead at 90". Al Jazeera. 26 November 2016. Diakses tanggal 25 November 2016. 
  345. ^ "Cuba's Fidel Castro dies aged 90". BBC News. 26 November 2016. Diakses tanggal 25 November 2016. 
  346. ^ Zabludovsky, Karla (26 November 2016). "Fidel Castro, Longtime Cuban Leader, Dead At Age 90". BuzzFeed. Diakses tanggal 25 November 2016. 
  347. ^ "Cuba's Fidel Castro, former president, dies aged 90". BBC News. 
  348. ^ "Fidel Castro Wafat, Pemerintah Kuba Tetapkan 9 Hari Berkabung". detiknews. Diakses tanggal 2016-11-27. 
  349. ^ "Fidel Castro's ashes buried in Santiago de Cuba". BBC. December 4, 2016. Diakses tanggal 4 December 2016. 
  350. ^ Castro & Ramonet 2009, hlm. 157.
  351. ^ Sondrol 1991, hlm. 608.
  352. ^ Quirk 1993, hlm. 790.
  353. ^ a b Gott 2004, hlm. 149.
  354. ^ Castro & Ramonet 2009, hlm. 101–102.
  355. ^ Castro & Ramonet 2009, hlm. 147.
  356. ^ Lecuona 1991, hlm. 46.
  357. ^ Skierka 2006, hlm. xv.
  358. ^ Draper 1965, hlm. 48–49.
  359. ^ a b Sondrol 1991, hlm. 610.
  360. ^ Sondrol 1991, hlm. 607, 609.
  361. ^ Bourne 1986, hlm. 200.
  362. ^ a b Smith, Wayne S. (February 2, 2007). "Castro's Legacy". TomPaine.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal October 11, 2007. Diakses tanggal 7 November 2012. 
  363. ^ Coltman 2003, hlm. 14.
  364. ^ Quirk 1993, hlm. 494.
  365. ^ Bourne 1986, hlm. 178.
  366. ^ Bourne 1986, hlm. 273.
  367. ^ Von Tunzelmann 2011, hlm. 94.
  368. ^ Coltman 2003, hlm. 219.
  369. ^ Quirk 1993, hlm. 11.
  370. ^ Bourne 1986, hlm. 204.
  371. ^ Quirk 1993, hlm. 10, 255.
  372. ^ Quirk 1993, hlm. 5.
  373. ^ Admservice (May 21, 2014). "Fidel Castro lived like a king in Cuba, book claims". The Guardian. Diakses tanggal May 23, 2014. 
  374. ^ Castro & Ramonet 2009, hlm. 40–41.
  375. ^ Castro & Ramonet 2009, hlm. 156.
  376. ^ Quirk 1993, hlm. 695.
  377. ^ Sondrol 1991, hlm. 601.
  378. ^ Quirk 1993, hlm. 255; Gott 2004, hlm. 325.
  379. ^ "Americas | Ailing Castro still dominates Cuba". BBC News. August 11, 2006. Diakses tanggal January 13, 2010. 
  380. ^ Quirk 1993, hlm. 312, 688.
  381. ^ Quirk 1993, hlm. 352–353.
  382. ^ Coltman 2003, hlm. 303–304.
  383. ^ Coltman 2003, hlm. 219; Gott 2004, hlm. 175.
  384. ^ a b Bourne 1986, hlm. 201.
  385. ^ Skierka 2006, hlm. 3.
  386. ^ Admservice (October 8, 2000). "Fidel Castro's Family". Latinamericanstudies.org. Diakses tanggal January 13, 2010. 
  387. ^ Bardach 2007, hlm. 67.
  388. ^ a b c Jon Lee Anderson (July 31, 2006). "Castro's Last Battle: Can the revolution outlive its leader?". The New Yorker. hlm. 51. .
  389. ^ Boadle, Anthony (August 8, 2006). "Cuba's first family not immune to political rift". Reuters. Diarsipkan dari versi asli tanggal October 11, 2007. Diakses tanggal August 10, 2006. 
  390. ^ Fernandez, Alina (1997). Castro's Daughter, An Exile's Memoir of Cuba. St. Martin's Press. ISBN 978-0-312-24293-0. 
  391. ^ Roberto Duarte VIDA SECRETA DEL TIRANO CASTRO at the Wayback Machine (archived December 10, 2006). CANF.org. October 29, 2003
  392. ^ Quirk 1993, hlm. 231.
  393. ^ Quirk 1993, hlm. 465.
  394. ^ "The Bitter Family (page 1 of 2)". Time. July 10, 1964. Diakses tanggal February 19, 2008. 
  395. ^ "Castro Adviser, 66, Dies Of Heart Attack". The Spokesman Review. December 26, 1995. Diakses tanggal May 31, 2012. 
  396. ^ Bourne 1986, hlm. 200–201.
  397. ^ Bourne 1986, hlm. 299.
  398. ^ a b Bourne 1986, hlm. 302.
  399. ^ "Fidel Castro: leader proves as divisive in death as he was in life". The Observer. Diakses tanggal 5 December 2016. 
  400. ^ "Fidel Castro: As Divisive in Death as he was in Life". The Telegraph. 26 November 2016. Diakses tanggal 5 December 2016. 
  401. ^ Gott 2004, hlm. 148.
  402. ^ a b c "Fidel Castro's Death - World Reactions". Al Jazeera. Diakses tanggal 5 December 2016. 
  403. ^ Quirk 1993, hlm. 424.
  404. ^ Sampson 1999, hlm. 192.
  405. ^ "Castro ends state-visit to South Africa". BBC News. September 6, 1998. Diakses tanggal May 21, 2006. 
  406. ^ "Spiegel interview with Bolivia's Evo Morales". Der Spiegel. August 28, 2006. Diakses tanggal August 12, 2009. 
  407. ^ Skierka 2006, hlm. xxiv.
  408. ^ Coltman 2003, hlm. 290.
  409. ^ Mallin 1994.
  410. ^ Sondrol 1991, hlm. 606.
  411. ^ "Donald Trump calls Fidel Castro 'brutal dictator'". BBC News. 26 November 2016. Diakses tanggal 5 November 2016. 
  412. ^ Julian Borger (26 November 2016). "Trump and Obama offer divergent responses to death of Fidel Castro". The Guardian. Diakses tanggal 5 December 2016. 
  413. ^ Quirk 1993, hlm. 529; Coltman 2003, hlm. 292.
  414. ^ Coltman 2003, hlm. 292.
  415. ^ Quirk 1993, hlm. 501.
  416. ^ Bourne 1986, hlm. 263.
  417. ^ Bourne 1986, hlm. 295.
  418. ^ Sondrol 1991, hlm. 619.
  419. ^ "Fidel Castro: A progressive but deeply flawed leader". Amnesty International. 26 November 2016. Diakses tanggal 5 December 2016. 
  420. ^ "Cuba: Fidel Castro's Abusive Machinery Remains Intact". Human Rights Watch. February 18, 2008. Diakses tanggal October 7, 2009. 
  421. ^ Quirk 1993, hlm. 758; Coltman 2003, hlm. 247.
  422. ^ "Cuba bans naming monuments after Fidel Castro". 

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

Azicri, Max (2009). "The Castro-Chávez Alliance". Latin American Perspectives. 36 (1). hlm. 99–110. ISSN 1552-678X. 
Bardach, Ann Louise (2007). Cuba Confidential: Love and Vengeance in Miami and Havana. New York: Random House. ISBN 978-0-307-42542-3. 
Bourne, Peter G. (1986). Fidel: A Biography of Fidel Castro. New York City: Dodd, Mead & Company. ISBN 978-0-396-08518-8. 
Castro, Fidel (2009). My Life: A Spoken Autobiography. Ramonet, Ignacio (interviewer). New York: Scribner. ISBN 978-1-4165-6233-7. 
Coltman, Leycester (2003). The Real Fidel Castro. New Haven and London: Yale University Press. ISBN 978-0-300-10760-9. 
Draper, Theodore (1965). Castroism: Theory and Practice. New York: Praeger. OCLC 485708. 
Evenson, Fredric (2010). "A Deeper Shade of Green: The Evolution of Cuban Environmental Law and Policy". Golden Gate University Law Review. 28 (3). hlm. 489–525. OCLC 61312828. 
Franqui, Carlos (1984). Family Portrait with Fidel. New York: Random House First Vintage Books. ISBN 978-0-394-72620-5. 
Geyer, Georgie Anne (1991). Guerrilla Prince: The Untold Story of Fidel Castro. New York City: Little, Brown and Company. ISBN 978-0-316-30893-9. 
Gott, Richard (2004). Cuba: A New History. New Haven and London: Yale University Press. ISBN 978-0-300-10411-0. 
Guerra, Lillian (2012). Visions of Power in Cuba: Revolution, Redemption, and Resistance, 1959–1971. Chapel Hill: University of North Carolina Press. ISBN 978-1-4696-1886-9. 
Kozloff, Nicholas (2008). Revolution!: South America and the Rise of the New Left. New York: Palgrave Macmillan. ISBN 978-0-230-61754-4. 
Lecuona, Rafael A. (1991). "Jose Marti and Fidel Castro". International Journal on World Peace. 8 (1): 45–61. JSTOR 20751650. 
Mallin, Jay (1994). Covering Castro: Rise and Decline of Cuba's Communist Dictator. Piscataway: Transaction Publishers. ISBN 978-1-56000-156-0. 
Marcano, Christina; Barrera Tyszka, Alberto (2007). Hugo Chávez: The Definitive Biography of Venezuela's Controversial President. New York: Random House. ISBN 978-0-679-45666-7. 
Quirk, Robert E. (1993). Fidel Castro. New York and London: W.W. Norton & Company. ISBN 978-0-393-03485-1. 
Ros, Enrique (2006). El Clandestinaje y la Lucha Armada Contra Castro. Miami: Ediciones Universal. ISBN 978-1-59388-079-8. 
Sampson, Anthony (1999). Mandela: The Authorised Biography. HarperCollins. ISBN 978-0-00-638845-6. 
Skierka, Volka (2006). Fidel Castro: A Biography. Cambridge: Polity. ISBN 978-0-7456-4081-5. 
Sivak, Martín (2010). Evo Morales: The Extraordinary Rise of the First Indigenous President of Bolivia. New York: Palgrave MacMillan. ISBN 978-0-230-62305-7. 
Sondrol, Paul C. (1991). "Totalitarian and Authoritarian Dictators: A Comparison of Fidel Castro and Alfredo Stroessner". Journal of Latin American Studies. 23 (3): 599–620. doi:10.1017/S0022216X00015868. JSTOR 157386. 
Von Tunzelmann, Alex (2011). Red Heat: Conspiracy, Murder, and the Cold War in the Caribbean. New York City: Henry Holt and Company. ISBN 978-0-8050-9067-3. 
Whittle, Daniel; Rey Santos, Orlando (2006). "Protecting Cuba's Environment: Efforts to Design and Implement Effective Environmental Laws and Policies in Cuba" (PDF). Cuban Studies. 37. hlm. 73–103. ISSN 1548-2464. 
Wickham-Crowley, Timothy P. (1990). Exploring Revolution: Essays on Latin American Insurgency and Revolutionary Theory. Armonk and London: M.E. Sharpe. ISBN 978-0-87332-705-3. 
Wilpert, Gregory (2007). Changing Venezuela by Taking Power: The History and Policies of the Chávez Government. London and New York: Verso. ISBN 978-1-84467-552-4. 

Bacaan tambahan[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Jabatan politik
Didahului oleh:
Osvaldo Dorticós Torrado
Presiden Kuba
2 Desember 1976 - 23 Februari 2008
Diteruskan oleh:
Raúl Castro
Didahului oleh:
José Miró Cardona
Perdana Menteri Kuba
16 Februari 19592 Desember 1976
Diteruskan oleh:
Jabatan ditiadakan