Jalur Utara–Selatan (MRT Jakarta)

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Jalur Utara–Selatan
Jakarta - MRT Jakarta North South Line Icon.png
Jakarta MRT TS12 entering Blok A Station.jpg
Rangkaian MRT Jakarta memasuki Stasiun Blok A
Ikhtisar
JenisAngkutan cepat
SistemMRT Jakarta
StatusBeroperasi
Pembangunan (fase IIA)
TerminusLebak Bulus
Bundaran Hotel Indonesia
Ancol (fase II)
Stasiun13 (beroperasi)
23 (total)
Situs webjakartamrt.co.id
Operasi
Dibuka24 Maret 2019 (2019-03-24)[1][2]
PemilikPemerintah Provinsi DKI Jakarta
OperatorPT Mass Rapid Transit Jakarta (Perseroda)
Karakteristik lintasLayang dan bawah tanah
DepotLebak Bulus
Ancol Barat (rencana)
RangkaianKereta rel listrik MRT Jakarta
Data teknis
Panjang lintas15,7 km (saat ini)
27,8 km (dengan fase IIA)
Lebar sepur1.067 mm (3 ft 6 in) Cape gauge
Elektrifikasi1.500 V DC (listrik aliran atas)
Jarak antarstasiun rerata5 menit (jam sibuk)
10 menit (di luar jam sibuk)
Peta rute

NS01
Ancol
Roundeltjk5.png Roundeltjk5C.png Roundeltjk5D.png Roundeltjk5E.png
Jalan Tol Lingkar Dalam Jakarta
NS02
Gunung Sahari
NS03
Mangga Dua
Roundeltjk5.png Roundeltjk12.png
NS04
Kota
Kereta Api Indonesia Roundeltjk1.png Roundeltjk4.png Roundeltjk5.png Roundeltjk9B.png Roundeltjk12.png Jakarta - KRL Commuter Central Line Icon.png Jakarta - KRL Commuter Cikarang Line Icon.png Jakarta - KRL Commuter Tanjung Priok Line Icon.png
NS05
Glodok
Roundeltjk1.png Roundeltjk9B.png
NS06
Mangga Besar
Roundeltjk1.png Roundeltjk9B.png
NS07
Sawah Besar
Roundeltjk1.png Roundeltjk9B.png
NS08
Harmoni
Roundeltjk1.png Roundeltjk2.png Roundeltjk2A.png Roundeltjk3.png Roundeltjk5.png Roundeltjk5C.png Roundeltjk7.png Roundeltjk8.png Roundeltjk8A.png Roundeltjk9B.png Roundeltjk10.png Roundeltjk12.png
NS09
Monas
Roundeltjk1.png Roundeltjk2.png Roundeltjk2A.png Roundeltjk2D.png Roundeltjk6A.png Roundeltjk6B.png Roundeltjk7.png Roundeltjk9B.png
NS10
Thamrin
 M2  Roundeltjk1.png Roundeltjk6A.png Roundeltjk6B.png Roundeltjk9B.png
Fase 2: dibuka 2024
Fase 1: dibuka Maret 2019
NS11
Bundaran Hotel Indonesia
Roundeltjk1.png Roundeltjk6A.png Roundeltjk6B.png Roundeltjk9B.png Roundeltjk13.png
NS12
Dukuh Atas
Roundeltjk1.png Roundeltjk6B.png Roundeltjk9B.png Roundeltjk13.png
KBT Dukuh Atas
Jakarta - Soekarno Hatta Airport Train Line Icon.png Jakarta - KRL Commuter Loop Line Icon.png
NS13
Setiabudi
NS14
Bendungan Hilir
Jalan Tol Lingkar Dalam Jakarta
NS15
Istora
Roundeltjk1.png Roundeltjk13.png
NS16
Senayan
Roundeltjk1.png Roundeltjk9C.png Roundeltjk13.png
NS17
ASEAN
Roundeltjk1.png Roundeltjk13.png
NS18
Blok M
Roundeltjk1.png Roundeltjk4.png Roundeltjk10.png Roundeltjk13.png Bus interchange
NS19
Blok A
NS20
Haji Nawi
NS21
Cipete Raya
Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta
NS22
Fatmawati
NS23
Lebak Bulus
Roundeltjk8.png Bus interchange
Depo Lebak Bulus

Jalur Utara–Selatan (bahasa Inggris: North–South Line; disingkat NS Line[a]) merupakan jalur angkutan cepat pertama dari Moda Raya Terpadu Jakarta. Jalur ini memiliki warna merah pada peta sehingga sering dikenal juga dengan nama Red Line.[b] Jalur ini menghubungkan Lebak Bulus dengan Bundaran Hotel Indonesia dengan jarak tempuh sekitar 15,7 km dan 13 stasiun. Dari keseluruhan stasiun, tujuh stasiun berbentuk layang dan enam stasiun berada di bawah tanah.[3] Jalur ini diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 24 Maret 2019.[1][2]

Jalur utara–selatan dibagi pengerjaannya menjadi dua fase, yakni fase I dan fase II. Fase 1 menghubungkan Stasiun Lebak Bulus dengan Stasiun Bundaran HI sepanjang kurang lebih 15,7 km. Sementara itu, fase II dibagi menjadi dua bagian yang disebut fase IIA dan fase IIB. Fase IIA menghubungkan Stasiun Thamrin dengan Stasiun Kota, sedangkan fase IIB menghubungkan Stasiun Kota dengan Stasiun Ancol dan Depot Ancol Barat.[4]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Fase I[sunting | sunting sumber]

Pengerjaan desain dasar fase I jalur utara–selatan dimulai pada tahun 2010. Proses tender proyek berlangsung hingga tahun 2012. Selain itu, proyek ini masuk dalam salah satu proyek prioritas dalam anggaran provinsi DKI Jakarta tahun 2013. Pada tanggal 26 April 2012 dilakukan pencanangan persiapan pembangunan fase ini oleh Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo di lahan bekas Stadion Lebak Bulus yang kini menjadi Stasiun Lebak Bulus.[5] Pembangunan fase I dimulai setelah groundbreaking oleh Gubernur DKI Jakarta selanjutnya, Joko Widodo pada tanggal 10 Oktober 2013 di . Pembangunan tersebut memakan beberapa badan jalan sehingga mengharuskan adanya rekayasa lalu lintas.[6][7]

Proyek pembangunan fase I sendiri dibagi menjadi beberapa paket pengerjaan. Berikut rincian dari paket pengerjaan fase I dan perusahaan yang memenangkan tender:

  • CP 101, konstruksi depo dan Stasiun Lebak Bulus serta konstruksi layang terkait dimenangkan oleh konsorsium Tokyu Corporation - PT Wijaya Karya JO.
  • CP 102, konstruksi Stasiun Cipete Raya dan Stasiun Fatmawati serta konstruksi layang terkait dimenangkan oleh konsorsium Tokyu Corporation - PT Wijaya Karya JO.
  • CP 103, konstruksi Stasiun Haji Nawi, Stasiun Blok A, Stasiun Blok M, dan Stasiun ASEAN, serta konstruksi layang terkait dimenangkan oleh konsorsium Obayashi Corporation - Shimizu Corporation - PT Jaya Konstruksi JV.
  • CP 104, konstruksi transisi jalur layang–jalur bawah tanah, Stasiun Senayan, dan Stasiun Istora, serta konstruksi bawah tanah terkait dimenangkan oleh konsorsium Obayashi Corporation - Shimizu Corporation - PT Jaya Konstruksi JV.
  • CP 105, konstruksi Stasiun Bendungan Hilir dan Stasiun Setiabudi serta konstruksi bawah tanah terkait dimenangkan oleh konsorsium Obayashi Corporation - Shimizu Corporation - PT Jaya Konstruksi JV.
  • CP 106, konstruksi Stasiun Dukuh Atas dan Stasiun Bundaran Hotel Indonesia serta konstruksi bawah tanah terkait dimenangkan oleh konsorsium Sumitomo Mitsui Construction Company - PT Hutama Karya JO.
  • CP 107, konstruksi sistem rel kereta api dan trackwork dimenangkan oleh konsorsium Metro One.
  • CP 108, konstruksi bakal pelanting dimenangkan oleh konsorsium Sumitomo Corporation - Nippon Sharyo.

Pada tanggal 23 Februari 2017 pengeboran terowongan untuk fase I jalur utara–selatan telah selesai.[8] Sementara itu, pada tanggal 29 November 2017 seluruh konstruksi jalur layang maupun jalur bawah tanah telah selesai. Konstruksi selanjutnya yang dilakukan ialah pembangunan interior stasiun, depot Lebak Bulus, dan pekerjaan finishing.[9]

Setelah semua pekerjaan selesai, dilakukan uji coba publik terbatas yang dilakukan mulai tanggal 12 Maret 2019 hingga 24 Maret 2019. Penumpang peserta uji coba terbatas diwajibkan mendaftar terlebih dahulu dengan kuota yang tersedia. Pengoperasian kereta dilakukan dengan jarak antar kereta 10 menit.[10]

Fase I jalur utara–selatan resmi beroperasi pada tanggal 24 Maret 2019 setelah diresmikan oleh Presiden Joko Widodo di Stasiun Bundaran HI.[1][2]

Fase II[sunting | sunting sumber]

Pencanangan pembangunan fase II jalur utara–selatan pada awalnya direncanakan akan dilaksanakan pada bulan Desember 2018.[11] Namun karena terdapat kendala pembebasan lahan, groundbreaking diundur hingga bulan Januari 2019. Pada tanggal 30 Januari 2019, Dirut PT MRT Jakarta mengumumkan bahwa groundbreaking diundur hingga tanggal yang belum ditentukan. Hal ini disebabkan belum adanya rekomendasi dari Kemsetneg perihal pembangunan proyek ini yang melintasi kawasan Medan Merdeka atau Silang Monas.[12]

Acara groundbreaking fase II akhirnya dilaksanakan pada tanggal 24 Maret 2019 bersamaan dengan peresmian fase I jalur utara–selatan. Peletakan batu pertama pembangunan fase II ini dilaksanakan di Stasiun Bundaran HI.[1][2][13]

Proyek fase IIA sendiri terbagi menjadi beberapa paket pengerjaan, yaitu:

  • CP 200, konstruksi substansi elektrik bawah tanah dekat Stasiun Monas dimenangkan oleh PT Trocon Indah.
  • CP 201, konstruksi Stasiun Thamrin dan Stasiun Monas serta pekerjaan bawah tanah terkait dimenangkan oleh konsorsium Shimizu Corporation - PT Adhi Karya JV.
  • CP 202, konstruksi Stasiun Harmoni, Stasiun Sawah Besar, dan Stasiun Mangga Besar, serta pekerjaan bawah tanah terkait diberikan kepada konsorsium Shimizu Corporation - PT Adhi Karya JV.[14]
  • CP 203, konstruksi Stasiun Glodok dan Stasiun Kota serta pekerjaan bawah tanah terkait.
  • CP 204, konstruksi depo Ancol Barat.
  • CP 205, konstruksi sistem rel dan trackwork diberikan kepada konsorsium Shimizu Corporation - PT Adhi Karya JV.[14]
  • CP 206, pengerjaan 42 unit bakal pelanting.
  • CP 207, konstruksi pengumpulan tarif otomatis (Automatic Fare Collection, AFC).

Beberapa proses pembangunan fase IIA mengalami keterlambatan akibat Pandemi COVID-19. Paket pengerjaan CP 201 yang seharusnya dimulai pada bulan Maret 2020, diundur hingga bulan Juni 2020.[15] Proses lelang untuk paket pengerjaan CP 202 sendiri sempat gagal dua kali akibat pandemi tersebut.[16] Akibatnya, proses penunjukan kontraktor CP 202 dilakukan secara pengadaan langsung (direct contracting) yang dilakukan sepaket dengan CP 205. Pembangunan fase IIA yang awalnya ditargetkan selesai Desember 2024, diperkirakan akan terlambat hingga bulan Maret 2025.[14][17]

Pendanaan[sunting | sunting sumber]

Fase 1 didanai melalui pinjaman lunak oleh Bank Jepang untuk Kerja Sama Internasional (bahasa Inggris: Japan Bank for International Cooperation, JBIC), sekarang bergabung ke Badan Kerja Sama Internasional Jepang (bahasa Inggris: Japan International Cooperation Agency, JICA). Tenor pinjaman selama 30 tahun dan masa tenggang 10 tahun. Pembayaran pertama dilakukan 10 tahun setelah penandatanganan perjanjian. Pembayaran berlangsung hingga 30 tahun setelahnya dengan bunga pinjaman sebesar 0.25% per tahun.[18]

Sementara itu, fase II didanai pinjaman dengan skema serupa oleh JICA namun dengan tenor 40 tahun. Pembayaran pertama dilakukan 10 tahun setelah penandatanganan perjanjian. Bunga yang dikenakan sebesar 0,1% pada pembayaran tahap pertamanya. Pendanaan ini juga memuat sebagian pendanaan untuk fase I akibat kekurangan aggaran, salah satunya digunakan untuk menerapkan pemutakhiran peraturan pemerintah tentang pencegahan dampak gempa bumi. Beban pembayaran utang tersebut dibagi menjadi 49% oleh Pemprov DKI Jakarta dan 51% oleh Direktorat Jenderal Perkeretaapian.[19]

Jaringan[sunting | sunting sumber]

Stasiun[sunting | sunting sumber]

Jalur Utara–Selatan menghubungkan daerah Lebak Bulus di Jakarta Selatan dengan Ancol di Jakarta Utara. Untuk saat ini, hanya bagian sepanjang 15,7 km antara Stasiun Lebak Bulus dengan Stasiun Bundaran Hotel Indonesia yang telah beroperasi. Jalur ini melayani setidaknya 13 stasiun[c] dengan tujuh stasiun layang dan enam stasiun bawah tanah.[d] Jalur layang membentang kurang lebih 10 km dari Stasiun Lebak Bulus hingga Stasiun ASEAN. Jalur bawah tanah membentang kurang lebih 6 km dari Stasiun Senayan hingga Stasiun Bundaran HI.[3] Transisi antara jalur layang dengan jalur bawah tanah terletak di antara Stasiun ASEAN dan Stasiun Senayan. Seluruh stasiun memiliki dua sepur kecuali Stasiun Blok M yang memiliki tiga sepur.[20] Jalur ini juga direncanakan berpotongan dengan Jalur Timur–Barat di Stasiun Thamrin.[21]

Stasiun MRT di jalur utara–selatan umumnya seragam. Akses masuk dapat ditemukan di trotoar yang berada dekat dengan stasiun. Akses masuk sendiri dapat berupa tangga, eskalator, maupun lift. Tingkat kedua stasiun bawah tanah maupun stasiun layang digunakan sebagai area komersial atau concourse. Pada area komersial terdapat pintu tiket, vending machine tiket, loket, dan pusat informasi. Tingkat terbawah stasiun bawah tanah maupun tingkat teratas stasiun layang digunakan sebagai peron. Setiap peron terdapat Platform Screen Door (PSD) sebagai sarana pengamanan penumpang.[22][23]

Dalam stasiun, tersedia pula fasilitas penunjang, seperti WiFi gratis dan toilet yang ramah disabilitas. Pada area concourse terdapat ATM dan berbagai kios ritel yang beragam. Selain itu ada pula ruang laktasi dan ruang tempat ibadah. Tiap stasiun juga dilengkap papan penunjuk arah integrasi antarmoda.[23][24] Setiap stasiun dilengkapi dengan flood barrier, maka dipastikan semua stasiun jalur utara–selatan bebas banjir.[25]

Direncanakan juga setiap stasiun akan terhubung dengan kawasan berorientasi transit. Salah satunya, Stasiun Dukuh Atas yang terhubung dengan KRL Commuter Line dan KA Bandara Soekarno-Hatta melalui Kawasan berorientasi transit Dukuh Atas. Selain itu, juga ada kawasan berorientasi transit di Stasiun Istora Senayan, Blok M, ASEAN, Fatmawati, dan Lebak Bulus. Pengembangan kawasan beorientasi transit tersebut dapat berbentuk pembangunan fasilitas umum dan perumahan di sekitar stasiun, maupun membenahi akses menuju moda transportasi lain.[26][27]

Daftar stasiun[sunting | sunting sumber]

Nomor Jakarta - MRT Jakarta North South Line Icon.png Stasiun Singkatan Antarmoda penghubung Keterangan Letak Jenis
Fase 1
NS23 Lebak Bulus Grab LBB Transjakarta: Roundeltjk8.png (di halte Lebak Bulus)
Bus interchange Terminal Lebak Bulus
Stasiun terminus
Depot dan kantor operasional MRT Jakarta
Jakarta Selatan Layang
NS22 Fatmawati FTM
NS21 Cipete Raya CPR
NS20 Haji Nawi HJN
NS19 Blok A BLA Kawasan berorientasi transit terintegrasi dengan Pasar Blok A
NS18 Blok M BCA BLM Transjakarta: Roundeltjk1.png Roundeltjk4.png (4K) Roundeltjk10.png (10H) Roundeltjk13.png (13A) (di halte Blok M)
Bus interchange Terminal Blok M
Kawasan berorientasi transit terintegrasi dengan Terminal Blok M, Blok M Plaza, dan Blok M Square
NS17 ASEAN SSM Transjakarta: Roundeltjk1.png Roundeltjk10.png (10H) Roundeltjk13.png (13C) (di halte Masjid Agung) Rencana terintegrasi dengan halte CSW
NS16 Senayan SNY Transjakarta: Roundeltjk1.png Roundeltjk9C.png Roundeltjk10.png (10H) Roundeltjk13.png (13C) (di halte Bundaran Senayan) Bawah tanah
NS15 Istora Mandiri IST Transjakarta: Roundeltjk1.png Roundeltjk13.png (13C) (di halte Polda Metro Jaya) Jakarta Pusat
NS14 Bendungan Hilir BNH
NS13 Setiabudi Astra STB
NS12 Dukuh Atas BNI DKA KA Commuter Jabodetabek: Jakarta - KRL Commuter Loop Line Icon.png (di Stasiun Sudirman)
Railink Bandara Soekarno-Hatta: Jakarta - Soekarno Hatta Airport Train Line Icon.png (di Stasiun BNI City)
Transjakarta: Roundeltjk1.png Roundeltjk4.png Roundeltjk6.png Roundeltjk6B.png Roundeltjk9B.png Roundeltjk13.png (13C) (di halte Tosari)
Bagian dari Kawasan berorientasi transit Dukuh Atas yang terintegrasi dengan KRL Commuter Line, kereta bandara, LRT, dan Transjakarta
NS11 Bundaran Hotel Indonesia BHI Transjakarta: Roundeltjk1.png Roundeltjk6A.png Roundeltjk6B.png Roundeltjk9B.png (di halte Bundaran HI) Stasiun terminus fase I
Terintegrasi langsung dengan halte Transjakarta
Fase IIA[e]
NS10
EW?
Thamrin TBA  M2  Jalur Timur–Barat
Transjakarta: Roundeltjk1.png Roundeltjk6A.png Roundeltjk6B.png Roundeltjk9B.png (di halte Sarinah)
Terkoneksi dengan jalur timur–barat
Terintegrasi langsung dengan halte Transjakarta
Jakarta Pusat Bawah tanah
NS09 Monas Transjakarta: Roundeltjk1.png Roundeltjk2.png Roundeltjk2A.png Roundeltjk6A.png Roundeltjk6B.png Roundeltjk9B.png (di halte Monas) Berada dalam lingkungan Monumen Nasional
NS08 Harmoni Transjakarta: Roundeltjk1.png Roundeltjk2.png Roundeltjk2A.png Roundeltjk3.png Roundeltjk5C.png Roundeltjk5.png (5H) Roundeltjk8.png Roundeltjk8A.png Roundeltjk9B.png (di halte Harmoni) Terintegrasi langsung dengan halte Transjakarta
NS07 Sawah Besar Transjakarta: Roundeltjk1.png Roundeltjk9B.png (di halte Sawah Besar)
NS06 Mangga Besar Transjakarta: Roundeltjk1.png Roundeltjk4.png Roundeltjk9B.png (di halte Mangga Besar) Jakarta Barat
NS05 Glodok Transjakarta: Roundeltjk1.png Roundeltjk4.png Roundeltjk9B.png (di halte Glodok)
NS04 Kota Kereta Api Indonesia: Kereta Api Indonesia Kereta api jarak jauh (di Stasiun Jakarta Kota)
KA Commuter Jabodetabek: Jakarta - KRL Commuter Central Line Icon.png Jakarta - KRL Commuter Cikarang Line Icon.png Jakarta - KRL Commuter Tanjung Priok Line Icon.png (di Stasiun Jakarta Kota)
Transjakarta: Roundeltjk1.png Roundeltjk4.png Roundeltjk5.png Roundeltjk9B.png Roundeltjk12.png (di halte Kota)
Stasiun terminus di fase IIA
Kawasan berorientasi transit yang terhubung dengan kereta api jarak jauh, KRL Commuter Line, dan Transjakarta
Fase IIB[e][f]
NS03 Mangga Dua TBA Transjakarta: Roundeltjk4.png Roundeltjk5.png Roundeltjk12.png (di halte Mangga Dua) Jakarta Utara Bawah tanah
NS02 Gunung Sahari
NS01 Ancol Transjakarta: Roundeltjk5.png Roundeltjk5C.png Roundeltjk5D.png Roundeltjk5E.png (di halte Ancol) Stasiun terminus di fase IIB
Depot

Armada[sunting | sunting sumber]

Jalur Utara–Selatan MRT Jakarta menggunakan armada buatan konsorsium Nippon Sharyo asal Jepang yang disebut juga dengan nama Ratangga.[28][29] Kereta ini terdiri atas 16 rangkaian dengan enam kereta di setiap rangkaiannya. Setiap kereta memiliki empat pintu di kedua sisinya, kecuali kereta pertama dan kereta terakhir yang memiliki kabin masinis.[30] Kereta mulai dikerjakan tahun 2015 dan mulai dikirimkan ke Indonesia pada tahun 2018.[31][32] Kereta mulai beroperasi penuh bersamaan dengan peresmian jalur ini pada tanggal 24 Maret 2019.[1][2]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Digunakan dalam kode stasiun yang diawali huruf NS.
  2. ^ Kata Red Line dicantumkan pada rambu petunjuk arah integrasi.
  3. ^ Direncanakan terdapat 23 stasiun di keseluruhan jalur.
  4. ^ Direncanakan total ada 16 stasiun bawah tanah di keseluruhan jalur.
  5. ^ a b Informasi yang tertera dapat berubah sewaktu-waktu karena masih dalam proses perencanaan maupun pembangunan.
  6. ^ Daftar stasiun pada fase ini masih belum resmi diumumkan sehingga informasi dapat berubah sewaktu-waktu.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e Sari, Nursita (24 Maret 2019). "Pagi Ini, Presiden Jokowi Resmikan MRT Jakarta". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2020-12-05. 
  2. ^ a b c d e Tim CNN Indonesia (24 Maret 2019). "Jokowi Resmikan MRT di Bundaran HI". CNN Indonesia. Diakses tanggal 2021-01-12. 
  3. ^ a b "Proyek dan Perkembangan | Fase 1". MRT Jakarta. Diakses tanggal 2021-01-12. 
  4. ^ "Proyek dan Perkembangan | Fase 2". MRT Jakarta. Diakses tanggal 2021-01-12. 
  5. ^ Hamdani, Trio (27 Desember 2019). "Indonesia Akhirnya Punya MRT". detikFinance. Diakses tanggal 2020-12-05. 
  6. ^ Agus, Rustam (7 Oktober 2013). "Proyek MRT Dimulai 10 Oktober 2013". Bisnis.com. Diakses tanggal 2020-12-05. 
  7. ^ Tristia Tambun, Lenny (10 Oktober 2013). "Jokowi Resmikan Groundbreaking Fisik MRT Jakarta". BERITASATU. Diakses tanggal 2020-12-05. 
  8. ^ Carina, Jessi (14 Maret 2017). "Pengeboran Jalur "Underground" di MRT Fase I Sudah Selesai". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2020-12-05. 
  9. ^ "MRT Jakarta focuses on constructing station, depot". The Jakarta Post (dalam bahasa Inggris). 1 November 2017. Diakses tanggal 2020-12-05. 
  10. ^ Nuris Velarosdela, Rindi (12 Maret 2019). "Uji Coba Operasi MRT Jakarta untuk Publik Dimulai Hari Ini". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2020-12-05. 
  11. ^ Simorangkir, Eduardo (27 Oktober 2018). "MRT Jakarta HI-Kampung Bandan Dibangun Akhir 2018, Ini Tahapannya". detikFinance. Diakses tanggal 2020-12-06. 
  12. ^ Simorangkir, Eduardo (30 Januari 2019). "Groundbreaking MRT fase II Molor (Lagi)". detikFinance. Diakses tanggal 2020-12-06. 
  13. ^ Defianti, Ika (20 Maret 2019). "Groundbreaking MRT Fase II Berlangsung pada 24 Maret". LIPUTAN6. Diakses tanggal 2020-12-06. 
  14. ^ a b c Herdi Alif Al Hikam (5 Januari 2021). "Akhirnya Proyek MRT Jakarta Fase II Dapat Kontraktor". detikFinance. Diakses tanggal 2021-01-09. 
  15. ^ Aryadita Umasugi, Ryana (29 April 2020). "Imbas Corona, Proyek MRT Jakarta Fase 2 Diundur ke Juni 2020". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2020-12-06. 
  16. ^ Choirul Anwar, Muhammad (30 September 2020). "Ada Corona, MRT Bawah Tanah Harmoni-Kota 2X Gagal Lelang". CNBC Indonesia. Diakses tanggal 2020-12-06. 
  17. ^ Fadli, Ardiansyah (5 Januari 2021). "Akibat Pandemi, Pembangunan MRT Fase II Molor hingga Agustus 2027". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2021-01-09. 
  18. ^ Ramdansyah A., Nur (30 Agustus 2012). "Foke: Pembangunan Fisik MRT Harus Kelar Tahun 2016". Kontan.co.id. 
  19. ^ Simorangkir, Eduardo (27 Oktober 2018). "Mengintip Skema Pembayaran Utang Pembangunan MRT Jakarta". detikFinance. Diakses tanggal 2019-03-11. 
  20. ^ "Stasiun Blok M BCA". MRT Jakarta. Diakses tanggal 2021-01-12. 
  21. ^ Indraini, Anisa (3 Agustus 2020). "Mengintip Desain 'Wah' 2 Stasiun Baru MRT Jakarta". detikFinance. Diakses tanggal 2021-01-12. 
  22. ^ Ibnu Walid, Wildan (12 Maret 2019). "Fasilitas MRT, Ramah Disabilitas Hingga Desain Modern". JawaPos.com. Diakses tanggal 2020-12-05. 
  23. ^ a b Agustinus, Michael; Toruan, Elsa (26 Maret 2019). "Melihat Kecanggihan Fasilitas di Stasiun MRT". kumparanBisnis. Diakses tanggal 2020-12-05. 
  24. ^ Deny, Septian (1 Maret 2019). "Selain Wifi Gratis, Ini Beragam Fasilitas yang Ditawarkan MRT Jakarta". LIPUTAN6. Diakses tanggal 2020-12-05. 
  25. ^ "Antisipasi Banjir, MRT Jakarta Siapkan Flood Gate". Media Indonesia. 31 Januari 2020. Diakses tanggal 2020-12-05. 
  26. ^ "MRT Jakarta Siapkan 5 Kawasan TOD". kumparanBisnis. 10 November 2019. Diakses tanggal 2021-01-12. 
  27. ^ Rahardyan, Aziz (2 Juli 2020). "Serius Bangun Kawasan Trasit Terpadu, MRT Jakarta Bentuk Anak Usaha ITJ". Bisnis.com. Diakses tanggal 2021-01-12. 
  28. ^ Ady Sukarno, Puput (3 Maret 2015). "PROYEK MRT JAKARTA: Sumitomo Corporation Menangkan Tender Kereta Listrik". Bisnis.com. Diakses tanggal 2021-01-12. 
  29. ^ Riana, Friski (11 Desember 2017). "Melihat Kereta MRT Jakarta Diproduksi: Tak Lagi Mirip Jangkrik". TEMPO.CO. Diakses tanggal 2021-01-12. 
  30. ^ "MRT Jakarta : Ratangga". Himpunan Mahasiswa Sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember. 28 April 2019. Diakses tanggal 2021-01-11. 
  31. ^ Rika, Hesti; Audriene Mutmainah, Dinda (4 April 2018). "Dua Rangkaian Kereta MRT Datang, Siap Uji Coba Agustus". CNN Indonesia. Diakses tanggal 2021-01-10. 
  32. ^ Aini Yasmin, Puti (5 April 2018). "Gerbong MRT Tiba, Menhub Cek Langsung ke Tanjung Priok". detikFinance. Diakses tanggal 2021-01-10. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]