Budi Gunawan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Budi Gunawan
Kepala Badan Intelijen Negara
Petahana
Mulai menjabat
9 September 2016
Presiden Joko Widodo
Didahului oleh Sutiyoso
Wakil Kepala Kepolisian Negara
Republik Indonesia
Masa jabatan
22 April 2015 – 9 September 2016
Presiden Joko Widodo
Kapolri Badrodin Haiti
Tito Karnavian
Didahului oleh Badrodin Haiti
Digantikan oleh Syafruddin
Kepala Lembaga Pendidikan Polri
Masa jabatan
26 Desember 2012 – 22 April 2015
Didahului oleh Komjen Pol. Oegroseno
Digantikan oleh Komjen Pol. Syafruddin
Kepala Kepolisian Daerah Bali
Masa jabatan
6 Maret 2012 – 26 Desember 2012
Didahului oleh Irjen Pol. Totoy Herawan Indra
Digantikan oleh Irjen Pol. Arif Wachyunadi
Kepala Kepolisian Daerah Jambi
Masa jabatan
14 Januari 2008 – 31 Oktober 2009
Didahului oleh Brigjen Pol. Carel Risakotta
Digantikan oleh Brigjen. Pol. R Sulistyono
Informasi pribadi
Lahir 11 Desember 1959 (umur 56)
Bendera Indonesia Surakarta, Jawa Tengah
Suami/istri Hj. Susilawati Rahayu
Alma mater Akademi Kepolisian (1983)
Agama Islam
Dinas militer
Pengabdian  Indonesia
Dinas/cabang Lambang Polri.png Kepolisian Negara Republik Indonesia
Masa dinas 1983 – Sekarang
Pangkat JENDPOL.png Jenderal Polisi
Unit Lembaga Pendidikan

Jenderal Polisi Drs. Budi Gunawan, S.H, M.Si, PhD (lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 11 Desember 1959; umur 56 tahun) adalah tokoh kepolisian Indonesia.[1]. Ia menjabat sebagai Kepala Badan Intelijen Negara sejak 9 September 2016 menggantikan Sutiyoso. Sebelumnya, ia pernah menjabat sebagai Wakapolri mendampingi Jenderal Pol. Badrodin Haiti sejak 22 April 2015 dan Jenderal Pol. Tito Karnavian sejak 13 Juli 2016, hingga dilantik sebagai Kepala BIN pada 9 September 2016. Pada tanggal 2 September 2016, Presiden Jokowi menunjuk Budi Gunawan menjadi Kepala BIN menggantikan Sutiyoso dan mengirimkan surat kepada DPR. Sidang Paripurna DPR kemudian menyetujui hasil Fit & Proper Test Komisi I DPR terhadap Calon Kepala BIN yang dilakukan sehari sebelumnya. Budi Gunawan menjadi unsur Polisi kedua setelah Jenderal Pol. Sutanto (2009-2011) yang memimpin lembaga telik sandi tersebut.

Karier[sunting | sunting sumber]

Budi Gunawan merupakan lulusan Akademi Kepolisian angkatan 1983 dan juga sekaligus penerima penghargaan Adhi Makayasa

Pada saat berpangkat Komisaris Besar (Kombes) dia pernah menjabat sebagai Ajudan Wakil Presiden (1999-2000) dan Presiden RI (2000-2004) pada masa pemerintahan Megawati Soekarnoputri[2]. Setelah itu dia kemudian sempat tercatat sebagai jenderal termuda di Polri saat dipromosikan naik pangkat bintang satu atau Brigadir Jenderal (Brigjen) dengan jabatan sebagai Kepala Biro Pembinaan Karier (Karo Binkar) Mabes Polri, kemudian menjabat Kepala Selapa Polri, lembaga yang menginduk pada Lemdikpol selama 2 tahun, lalu kemudian dipromosikan menjadi Kapolda Jambi yang merupakan Polda tipe B, tak lama kemudian dia dipromosikan naik pangkat bintang dua atau Inspektur Jenderal (Irjen) dengan jabatan sebagai Kepala Divisi Pembinaan Hukum (Kadiv BinKum), kemudian dia sempat mutasi dengan jabatan Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan (Kadiv Propam) lalu dipromosikan menjabat di kewilayahan sebagai Kapolda Bali yang merupakan Polda tipe A.Dan akhirnya tak lama kemudian tanda pangkat bintang tiga pun disematkan di pundaknya ketika dia akhirnya meraih pangkat Komisaris Jenderal (Komjen) ketika dipromosikan dengan jabatan Kepala Lembaga Pendidikan Polri (Kalemdikpol) yang membawahi lembaga-lembaga pendidikan seperti Akademi Kepolisian (Akpol), Sekolah Staf dan Pimpinan Polri (SESPIM), Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), dan lainnya. Pada tanggal 9 September 2016, dia diangkat oleh Presiden Joko Widodo untuk menjabat Kepala Badan Intelijen Negara dan Pangkatnya dinaikan dari Komisaris Jenderal (Komjen) Polisi, menjadi Jenderal Polisi.[3][4]

Kontroversi[sunting | sunting sumber]

Pemerintahan Jokowi mengajukan Budi Gunawan sebagai calon tunggal Kapolri kepada DPR[5]. Namun kemudian KPK mengumumkan Komjen Budi Gunawan sebagai tersangka 3 hari kemudian. DPR yang melakukan uji kelayakan juga mengumumkan Budi lolos dan dapat dilantik oleh Presiden. Pengumuman ini cukup memanaskan situasi politik Indonesia pada pertengahan Januari 2015[6][7][8] Menyusul pengumuman tersebut, Jokowi akhirnya menunda pengangkatannya dan menunjuk Badrodin Haiti sebagai pelaksana tugas Kapolri tanpa batasan waktu. Pada akhirnya, Jokowi mengirimkan Surat Pergantian Kepala Polri baru atas nama Badrodin Haiti. Budi Gunawan kemudian ditunjuk menjadi Wakapolri dalam Sidang Wanjakti pasca Badrodin naik menjadi Kapolri.

Akan tetapi saat penunjukannya sebagai Kepala BIN, kontroversi tidak seramai sebelumnya. Beberapa elemen masyarakat sipil setuju unsur Polri sebagai Kepala BIN agar reformasi intelijen dapat berjalan.

Riwayat Jabatan[sunting | sunting sumber]

  • Ajudan Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri (1999-2001)
  • Ajudan Presiden Megawati Soekarnoputri (2001-2004)
  • Karobinkar SSDM Polri (2004-2006)
  • Kaselapa Lemdiklat Polri (2006-2008)
  • Kapolda Jambi (2008-2009)
  • Kadiv Binkum Polri (2009-2010)
  • Kadiv Propam Polri (2010-2012)
  • Kapolda Bali (2012)
  • Kalemdiklat Polri (2012-2015)
  • Wakapolri (2015-2016)
  • Kepala Badan Intelijen Negara (2016-Sekarang)

Referensi[sunting | sunting sumber]

Jabatan pemerintahan
Didahului oleh:
Sutiyoso
Kepala Badan Intelijen Negara
2016–sekarang
Petahana
Jabatan kepolisian
Didahului oleh:
Komjen Pol. Badrodin Haiti
Wakil Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia
2015-2016
Diteruskan oleh:
Komjen Pol. Syafruddin
Didahului oleh:
Komjen Pol. Oegroseno
Kepala Lembaga Pendidikan Polri
2012–2015
Diteruskan oleh:
Komjen Pol. Syafruddin
Didahului oleh:
Irjen Pol. Totoy Herawan Indra
Kepala Kepolisian Daerah Bali
2012
Diteruskan oleh:
Irjen Pol. Arif Wachyunadi
Didahului oleh:
Brigjen Pol. Carel Risakotta
Kepala Kepolisian Daerah Jambi
2008–2009
Diteruskan oleh:
Brigjen. Pol. R Sulistyono