Perempuan Tanah Jahanam

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Perempuan Tanah Jahanam
SutradaraJoko Anwar
Produser
  • Shanty Harmayn
  • Tia Hasibuan
  • Aoura Lovenson Chandra
  • Ben Soebiakto
PenulisJoko Anwar
Pemeran
MusikAghi Narottama
Bemby Gusti
Tony Merle
Rahayu Supanggah
Tanggal rilis
  • 17 Oktober 2019 (2019-10-17) (Indonesia)
  • 31 Oktober 2019 (2019-10-31) (Malaysia)
Pendapatan kotorRp60 juta (perkiraan)

Perempuan Tanah Jahanam (sebelumnya berjudul Impetigore) adalah film Indonesia tahun 2019 yang disutradarai dan ditulis oleh Joko Anwar.

Alur[sunting | sunting sumber]

Di tol, Maya dan Dini yang bekerja sebagai petugas tol saling berbicara satu dan lain sembari menjalankan pekerjaan mereka. Maya mengaku mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari seorang pengemudi berkali-kali. Pengemudi itu kembali mendatangi tol yang sama dan Maya melihat sesuatu yang tidak beres. Pengemudi itu membawa golok dan Maya melarikan diri ke luar. Pengemudi itu berhasil melukai Maya dengan golok itu, walau akhirnya ditembak mati polisi.

Maya dan Dini akhirnya berhenti bekerja sebagai petugas tol dan memilih membuka usaha penjualan pakaian yang tidak berlangsung dengan baik. Maya akhirnya berniat melawat ke kediaman orang tuanya di Desa Harjosari, yang juga diikuti Dini. Ketika Maya sedang buang air kecil di kakus, ia mendapati secarik kertas yang muncul dari luka sayatan golok itu.

Maya dan Dini harus mengikuti perjalanan semalam suntuk untuk transit ke terminal di kawasan itu. Dalam perjalanan itu, Maya akhirnya mengetahui dari penumpang lain bahwa kertas yang didapatnya di kakus itu adalah jimat. Maya juga mendapati tiga anak perempuan yang terus muncul sepanjang perjalanan. Di terminal, tidak banyak orang yang mengetahui Desa Harjosari, jadi mereka terpaksa harus membayar mahal seorang pengemudi delman yang mengetahui desa itu hanya agar bisa mencapai desa itu walau memakan waktu berjam-jam. Mereka meminta diturunkan di rumah kepala desa, Ki Saptadi.

Di rumah itu, mereka yang menyamar sebagai mahasiswi yang melakukan penelitian di desa itu bertanya kepada Nyi Misni yang saat itu hanya satu-satu orang yang berada di rumah itu. Saptadi sering bepergian ke desa lain untuk melakukan pekerjaannya yang lain yaitu dalang. Mereka kemudian menempati sebuah rumah kosong yang dahulunya adalah rumah orang tua Maya. Tak lama setelah menempati rumah itu, mereka mendapati sesuatu yang tidak wajar di desa itu, bayi yang setiap hari meninggal setelah dilahirkan.

Dini dijebak dua orang itu dan dibawa ke hutan. Dini akhirnya dikuliti dan kulitnya dijadikan wayang kulit.

Ratih menjelaskan bahwa ada seseorang yang tetap dibiarkan hidup walau menanggung penyakit kulit di sekujur tubuhnya seumur hidup. Ia hidup sebatang kara di sebuah pondok di hutan. Mereka mengunjungi pondok itu.

Donowongso membantai pemain wayang lain serta istrinya dengan golok yang sudah ia persiapkan sejak lama. Saptadi kemudian membunuh Donowongso dengan menyayat lehernya menggunakan golok yang sama.

Maya akhirnya mendapati bayi yang dilahirkan itu selalu dalam keadaan tanpa kulit sehingga ditenggelamkan ke dalam baskom berisi air hingga tewas. Ratih langsung menutup mulut Maya yang panik dan membawa lari ke rumahnya. Maya bersembunyi di bawah meja makan. Dua orang mendatangi rumah itu. Mereka awalnya mencari Maya, tetapi kemudian berniat melecehkan Ratih. Ratih mengancam dengan menyayat pahanya dan menodongkan pisaunya ke orang itu, mengancam bunuh diri. Mereka langsung pergi.

Maya menceritakan bahwa suami Ratih berusaha membunuhnya sebelum akhirnya ditembak mati di kelapa oleh polisi. Orang di motor berbicara dengan banyak warga sebelum akhirnya ditembak mati.

Salah seorang hantu anak perempuan memasuki tubuhnya dan sekelebat kilas balik ditampilkan.

Maya kemudian mengajak Ratih ke rumah tua itu dan menggali lantai tanah di rumah itu. Mereka mendapati tulang-belulang anak perempuan dan menggabungkannya bersama ketiga wayang kulit manusia itu ke dalam sebuah kotak, yang kemudian dikuburkan kembali.

Sementara itu, Misni dan warga mendapati Maya berada di rumah itu, sehingga Ratih diminta melarikan diri. Maya mengancam mereka dengan sekop, tetapi seseorang memukul kepala Maya dari belakang, sehingga Maya akhirnya pingsan dan digantung terbalik di hutan. Ratih yang melarikan diri mendapati Maya sedang dihukum warga. Sementara Maya berteriak-teriak minta dibebaskan, Saptadi bersiap-siap membunuh Maya. Maya akhirnya mengakui dirinya adalah bayi pertama yang lahir tanpa kulit di desa itu. Misni yang panik dengan penjelasan Maya mulai mengancam membunuh Maya secepat mungkin. Saptadi yang tersadar dengan penjelasan Maya segera menghentikan upaya ibunya dan akhirnya bunuh diri dengan menyayat leher lewat pisau yang direbutnya dari ibunya. Tidak terima dengan anaknya yang tewas bunuh diri, Misni ikut melakukan tindakan serupa. Sementara itu, seorang wanita mendatangi kerumunan warga dan melaporkan anak yang dilahirkan wanita lainnya pada saat yang sama sehat, sehingga kutukan yang berlaku selama dua puluh tahun telah sirna. Ratih yang berada di situ meminta Maya melarikan diri dari desa itu dan Maya akhirnya menumpang truk ke kota.

Setahun kemudian, sepasang suami-istri yang gembira dengan kelahiran mereka. Sang istri ingin kencing, tetapi bayinya malah diserang penampakan Nyi Misni hingga mengalami keguguran.

Pemeran[sunting | sunting sumber]

  • Tara Basro sebagai Maya
  • Marissa Anita sebagai Dini
  • Asmara Abigail sebagai Ratih
  • Christine Hakim sebagai Misni
  • Ario Bayu sebagai Saptadi
  • Zidni Hakim sebagai Donowongso
  • Afrian Aris sebagai Banyu
  • Kiki Narendra sebagai Bambang
  • Faradina Mufti sebagai Shinta
  • Abdulrahman Arief sebagai Nano
  • Muhammad Abe sebagai Suryo
  • Mursiyanto sebagai Sono
  • Ahmad Ramadhan Al Rasyid sebagai Tino
  • Aura Agna sebagai anak kecil
  • Sindris Ogiska G sebagai anak kecil
  • Devona Queeny sebagai anak kecil
  • Latisya Ayu sebagai Maya kecil
  • Adi Irawan sebagai ayah Donowongso
  • Teuku Rifnu sebagai Bimo
  • Yansky sebagai polisi
  • Sinyo Sandy sebagai polisi
  • Ical Tanjung sebagai polisi
  • Kuncoro P Widi sebagai Chondro
  • Djandi Asmara sebagai Djono
  • Santo Widodo sebagai satpam pasar
  • Mian Tiara sebagai Siti, istri Banyu
  • Arbaiyah sebagai nenek Ratih
  • Mariana Resli sebagai Rina
  • Eka Nusa Pertiwi sebagai Tiwi, istri Tino
  • Aghniny Haque sebagai Laras, istri Suryo
  • Sahadat Fahzan Fadlil sebagai Tole
  • Karni sebagai dukun beranak

Produksi[sunting | sunting sumber]

Perempuan Tanah Jahanam disutradarai Joko Anwar.

Pada 2011, Joko Anwar meluncurkan poster film ini yang sekaligus juga mengumumkan film ini sebagai salah satu dari beberapa rencana pembuatan film,[1] walau kemudian proyek itu batal karena banyaknya produksi film oleh Lifelike Pictures yang awalnya memproduksi film ini.[2] Proyek film ini mulai menemukan titik terang tujuh tahun kemudian tatkala Ivanhoe Pictures mengumumkan kerja sama dengan Joko lewat ketiga film termasuk film ini dengan dua judul lainnya ialah Ghost in the Cell dan The Vow.[3] Penggantian judul film yang awalnya Impetigore kemudian beralih menjadi Perempuan Tanah Jahanam diumumkan Joko di akun Instagram-nya pada 31 Desember 2018.[4] Joko menambahkan film ini akan berbeda dari Pengabdi Setan (2017).[5] Pengambilan gambar utama dilakukan di desa-desa sekitar Malang, Gempol, Lumbang, Bromo, Lumajang, Ijen, dan Banyuwangi.[6] Pada Februari 2019, Joko mengumumkan sejumlah nama artis yang menjadi pemeran film ini, di antaranya Tara Basro, Christine Hakim, Marissa Anita, Asmara Abigail, Ario Bayu, Kiki Narendra, Tengku Rifnu, Zidni Hakim, Faradina Mufti, Abdurahman Arif, Mian Tiara, Eka Nusa Pertiwi, Aghniny Haque, Arswendy Bening Swara, Ramadhan Al Rasyid, dan Ical Tanjung.[7]

Musik[sunting | sunting sumber]

No. JudulPenyanyi Durasi
1. "Pujaan Hati"  The Spouse 2:36
2. "Pria Dengan Mobil Tua"    1:32
3. "Perempuan Tanah Jahanam"    1:42
4. "Pesan dari Masa Lalu"    0:39
5. "Harjosari"    1:06
6. "Kedatangan yang Diharapkan"    3:24
7. "Malam Ini Ada yang Lahir"    1:29
8. "Darah"    2:03
9. "Ki Donowongso"    4:34
10. "Kerasa Nggak?"    2:45
11. "Memburu Kutukan"    2:16
12. "Kisah Wayang Berdarah"    6:41
13. "Kubur Kami"    2:45
14. "Persembahan Terakhir"    6:47
15. "Nyi Misni"    0:37
16. "Berlibur"  The Spouse 2:44

Pemasaran[sunting | sunting sumber]

Teaser poster kedua diluncurkan pada 2 Agustus 2019.[6] Joko Anwar mengunggah tampilan perdana film berupa dua gambar adegan ke Instagram pada 11 Juli 2019.[8] Teaser trailer diunggah pada 8 Agustus, yang diikuti dengan trailer yang diunggah 16 September.[9]

Penayangan[sunting | sunting sumber]

Film ini ditayangkan pada 17 Oktober 2019 di Indonesia, diundurkan dari jadwal semula yaitu sebulan sebelumnya.[10] Pada hari pembukaan, film ini ditonton 117.001 penonton di 160 layar, sehingga jumlah layar ditambah hingga 305 layar di hari berikutnya.[11][12] Film ini sudah ditonton 700 ribu penonton hingga heri keenam.[13]

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Brown, Todd (2 Juli 2011). "Exclusive Poster Art For Joko Anwar's Impetigore" [Poster Ekslusif Impetigore oleh Joko Anwar]. Screen Ararchy. Diakses tanggal 4 Februari 2019. 
  2. ^ Zahrotustianah (18 September 2018). "Alasan Horor Thriller Impetigore Batal Digarap Produser Wiro Sableng". Viva. Diakses tanggal 12 September 2018. 
  3. ^ Frater, Patrick (10 September 2018). "Ivanhoe Finds Partners for Slate of Films From Indonesia" [Ivanhoe Mencari Mitra bagi Tunas Film dari Indonesia]. Variety. Diakses tanggal 24 Februari 2019. 
  4. ^ Rosalia, Indra (2 Januari 2019). "Joko Anwar siapkan Perempuan Tanah Jahanam". Beritagar. Diakses tanggal 24 Februari 2019. 
  5. ^ Yuniar, Nanien (16 September 2019). Suyanto, Budi, ed. "Gaya film "Perempuan Tanah Jahanam" akan beda dari "Pengabdi Setan"". Antara. Diakses tanggal 30 September 2019. 
  6. ^ a b "Poster film horor "Perempuan Tanah Jahanam" dirilis". Antara. 2 Agustus 2019. Diakses tanggal 30 September 2019. 
  7. ^ Rosalia, Indra (27 Februari 2019). "Christine Hakim ramaikan Perempuan Tanah Jahanam". Beritagar. Diakses tanggal =30 September 2019. 
  8. ^ "Joko Anwar Pamer Tampilan Perdana 'Perempuan Tanah Jahanam'". CNN Indonesia. 11 Juli 2019. Diakses tanggal 24 Agustus 2019. 
  9. ^ "Trailer 'Perempuan Tanah Jahanam', Misteri Rahasia Keluarga". CNN Indonesia. 16 September 2019. Diakses tanggal 30 September 2019. 
  10. ^ "Joko Anwar's 'Perempuan Tanah Jahanam' set for September release". The Jakarta Post. 2 Maret 2019. Diakses tanggal 30 September 2019. 
  11. ^ "Perempuan Tanah Jahanam Joko Anwar Ditonton 117.001 di Hari Pertama". Tirto. 18 Oktober 2019. Diakses tanggal 5 November 2019. 
  12. ^ "Animo Tinggi, Film Perempuan Tanah Jahanam Tambah 145 Layar". Kompas. 17 Oktober 2019. Diakses tanggal 5 November 2019. 
  13. ^ Frater, Patrick (24 Oktober 2019). "Joko Anwar's 'Impetigore' Tops Indonesia Box Office Ahead of Film Markets" [Perempuan Tanah Jahanam Memuncaki Film Terlaris Indonesia]. Variety. Diakses tanggal 5 November 2019. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]