Teuku Rifnu Wikana

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Teuku Rifnu Wikana
Lahir 3 Agustus 1980 (umur 38)
Bendera Indonesia Pematangsiantar, Sumatra Utara, Indonesia
Pekerjaan Aktor, produser
Tahun aktif 2004 - sekarang
Pasangan Aida Fuady
Anak Cut Hanziala
Orang tua Teuku Syarifuddin
Cut Nur Asiah

Teuku Rifnu Wikana (lahir di Pematangsiantar, 3 Agustus 1980; umur 38 tahun) adalah aktor berkebangsaan Indonesia. Ia dikenal luas dengan perannya dalam filmLaskar Pelangi” yang diangkat dari novel berjudul sama. Ia mengawali karier seni peran dengan menjadi aktor teater. Ia memulai debut film pertamanya dengan menjadi pemain figuran dalam film “Mengejar Matahari” yang disutradarai oleh Rudy Soedjarwo.[1]

Kehidupan awal[sunting | sunting sumber]

Rifnu lahir di Pematangsiantar, Sumatra Utara, 3 Agustus 1980. Ia adalah anak ke 3 dari 8 bersaudara, dari pasangan Teuku Syarifuddin dan Cut Nur Asiah yang berasal dari Aceh. Ia pernah melanjutkan pendidikannya dengan kuliah di jurusan Planologi di Institut Teknologi Medan, tapi tak selesai.[2] Rifnu mulai mengenal dunia teater sejak duduk di bangku kelas 4 SD. Ketika itu ia bergabung dengan Teater 46 di bawah pimpinan Teuku Rinakdi, kerap tampil dalam pertunjukan teater menjelang 17 Agustus atau perayaan Maulid Nabi di Pematangsiantar dan ia selalu dipercaya memerankan tokoh utama.

Demi melanjutkan hidupnya, ia pernah menjadi station manager radio lokal, Radio CAS 90.4 FM, Pematangsiantar.[3] Ia pernah pula menjadi tenaga pemasaran. Setelah itu, ia hijrah ke Jakarta, bahkan di ibukota ia pernah menjadi pengamen untuk membiayai hidupnya.[4]

Karier[sunting | sunting sumber]

Rifnu mengawali kariernya di bidang seni peran sebagai aktor teater. Ia kemudian pertama kali muncul di layar lebar lewat debut aktingnya di film Mengejar Matahari di tahun 2004.[5] Bisa dipercaya oleh Rudi Soedjarwo dalam Mengejar Matahari diungkapkannya tak direncanakan, saat itu ia hanya tengah mengantar temannya dan dipaksa mengikuti casting film tersebut.[6] Film kemudian menjadi minat yang dipilihnya hingga kini. Akting tak semata-mata cara bagi bintang 36 tahun ini untuk meraih kepopuleran. Baginya film adalah cara baginya untuk berkarya.

Setelah film pertamanya sukses, Rifnu ikut membintangi film bergenre horor, Pocong pada tahun 2006. Namun, Lembaga Sensor Film (LSF) melarang film ini untuk beredar dengan alasan tertentu. Setelah itu, pemuda keturunan Aceh ini kerap dilibatkan oleh Rudi Soedjarwo dalam beberapa film garapannya mulai 9 Naga (2006) hingga Mendadak Dangdut (2006).

Sejak itu tampangnya pun perlahan mulai familiar di benak pecinta film tanah air. Tidak berhenti sampai di situ, ia juga ikut bergabung dengan Moviesta, sebuah komunitas yang dipimpin sineas Monty Tiwa. Tak perlu menanti lama, Monty Tiwa langsung mengajaknya menjadi orang Batak dalam Maaf, Saya Menghamili Istri Anda (2007), yang sempat mengundang kontroversi. Selanjutnya ia kerap tampil dalam film-film garapan Monty Tiwa seperti Otomatis Romantis (2008), XL, Antara Aku, Kau dan Mak Erot (2008), Barbi3 (2008) dan Kalau Cinta Jangan Cengeng (2009). Ia juga pernah menyutradarai film indie Garis Hitam yang diputar di Goethe-Institut pada tahun 2008.

Pada tahun 2008 ia membintangi film Laskar Pelangi arahan sutradara Riri Riza yang diadaptasi dari novel laris karya Andrea Hirata. ia berperan sebagai sosok guru bernama pak Bakrie. Bakrie menanggalkan idealismenya untuk pindah mengajar ke sekolah yang lebih kayak ketimbang mengajar di SD Muhammadiyah yang secara infrastruktur sudah tak layak lagi disebut sebagai sekolah. Riri Riza, sang sutradara, mengungkapkan alasan dirinya memilih Rifnu terlibat dalam film tersebut karena Rifnu dengan geram menunjuk-nunjuk Riri dalam sebuah diskusi mengenai sensor film di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki.[7]

Di tahun 2009, ia kemudian dipercaya berperan dalam film Trilogi Merah Putih, sebuah kisah perjuangan para pejuang di masa mencapai kemerdekaan. Ia berperan sebagai salah satu taruna yang melawan penjajah bernama Dayan. Ia adalah seorang kadet asal Bali namun tak memiliki kemampuan untuk berbicara.[8]

Lewat film Darah Garuda pada tahun 2010, peran memukau Rifnu berhasil membuatnya masuk dalam nominasi Aktor Pembantu Terbaik dan Terfavorit dalam ajang Indonesian Movie Awards 2011. Perlahan jaringan pertemanan Rifnu semakin banyak. Namanya semakin dikenal termasuk oleh sutradara Gareth Evans yang nyaris membuatnya terlibat dalam aksi The Raid pada tahun 2011.[9] Kesempatan terlibat dalam film tersebut belum berpihak pada Rifnu, lantaran ia sudah kontrak dengan film Sang Penari yang sudah lebih dulu ia tanda tangani sebelum keinginannya terlibat di The Raid terwujud.

Tahun 2011, ia berperan dalam film Sang Penari. Dalam film adaptasi trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk itu, Teuku Rifnu terlibat beradu akting dengan Prisia Nasution dan Oka Antara.[10] Rifnu berperan sebagai Darsun teman kecil Srintil yang diperankan Prisia. Filmnya lainnya yang pernah ia bintangi antara lain Kita Versus Korupsi (2012), Habibie & Ainun (2013), Leher Angsa (2013) dan Java Heat (2013).

Pada tahun 2013, ia memerankan Walikota Solo–yang di kemudian hari menjadi Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, dalam film Jokowi. Rekam jejak kehidupan Jokowi pun diabadikan ke layar lebar dan Rifnu dipercaya memerankan sosok tersebut di layar lebar. Ia beradu akting dengan Prisia Nasution yang memerankan sosok sang istri, Iriana.[11]

Selain menjadi aktor seni peran. Rifnu menjadi produser film Night Bus bersama Darius Sinathrya yang tayang pada 6 April 2017.[12] Selain menjadi produser, Rifnu juga menulis skenario dan cerita untuk film yang dibintangi Edward Akbar, Alex Abbad, dan Yayu Unru itu. Ingin membuat nuansa baru dalam dunia perfilman Indonesia, Teuku Rifnu Wikana dan Darius Sinathrya memberanikan diri untuk membuat film thriller berjudul Night Bus, yang mengambil cerita konflik separatis dan kemanusiaan. Film ini merupakan adaptasi dari cerpen Selamat yang ditulis Teuku Rifnu Wikana. Cerpen Selamat sendiri terinspirasi dari pengalaman Rifnu ketika melakukan perjalanan ke daerah konflik. Namun kala rilis di bioskop, jumlah penonton film ini sangat sedikit yakni total 20.000 selama peredarannya.[13] Film ini menghantarkannya menerima Piala Citra sebagai Pemeran Utama Pria Terbaik dan Penulis Skenario Adaptasi Terbaik (bersama Rahabi Mandra) dalam Festival Film Indonesia 2017.[14]

Filmografi[sunting | sunting sumber]

Film[sunting | sunting sumber]

Tahun Judul Peran Keterangan
2004 Mengejar Matahari Teman Obet
2006 Pocong Dilarang beredar di bioskop
2006 9 Naga Fredy
2008 XL Xtra Large
2008 Laskar Pelangi Pak Bakri
2008 Kado Hari Jadi Yoga
2009 Kalau Cinta Jangan Cengeng Mano Juga sebagai casting director
2009 Merah Putih Dayan
2009 XXL-Double Extra Large Sipir
2010 Di Dasar Segalanya Lelaki
2010 Melodi (film)
2010 Darah Garuda Dayan
2010 Laskar Pemimpi Letnan Bowo
2011 Hati Merdeka Dayan
2011 Sang Penari Darsun
2012 Kita Versus Korupsi Lurah Yatna Segmen Rumah Perkara
2012 Habibie & Ainun Sutedja
2013 Gending Sriwijaya Srudija
2013 Belenggu Arturo
2013 Leher Angsa Guru Haerul
2013 Jokowi Jokowi
2013 Bukan Hanya Mata Ketiga
2014 Sepatu Dahlan Ustadz Ilham
2014 Sebelum Pagi Terulang Kembali Firman
2014 Negeri Tanpa Telinga Naga
2015 Di Balik 98 Rachmat
2015 Love and Faith
2015 3 Kapten Rama
2015 Harim di Tanah Haram
2016 Mars: Mimpi Ananda Raih Semesta Surib
2016 Pontien: Pontianak Untold Story Abang
2016 Untuk Angeline Santo
2016 Pantja-Sila: Cita-Cita dan Realita Mohammad Yamin
2016 Aku Ingin Ibu Pulang Bagus
2017 Demi Cinta Syamsudin
2017 Night Bus
2017 Surat Kecil untuk Tuhan Asep
2017 Wage Fritz
2017 Chrisye Gauri
2018 Dilan 1990 Pak Suripto
2018 Insya Allah Sah 2
2018 Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta Kelana
2018 Wiro Sableng 212 Pangeran Kalasrenggi
2018 Kucumbu Tubuh Indahku Bupati
2018 Suzzanna: Bernapas dalam Kubur Umar
2019 Tembang Lingsir Gatot
2019 Dilan 1991 Pak Suripto

FTV[sunting | sunting sumber]

  • Sinema Wajah Indonesia: "Hati-hati dengan Hati" (2015)
  • Sinema Wajah Indonesia: "Ibu Tidak Bisa Mendengar Tangisku Lagi" (2015)

Penghargaan dan Nominasi[sunting | sunting sumber]

Tahun Karya yang dinominasikan Penghargaan Kategori Hasil
2011 Darah Garuda Indonesian Movie Awards 2011 Aktor Pembantu Terbaik Nominasi
Aktor Pembantu Terfavorit Nominasi
2015 Di Balik 98 Indonesian Movie Awards 2015 Pemeran Pendukung Pria Terbaik Nominasi
Hati-hati dengan Hati Festival Film Bandung 2015 Pemeran Pria Film Televisi Terpuji (kategori Film Televisi) Nominasi
2016 Di Balik 98 Indonesian Box Office Movie Awards 2016 Pemeran Pendukung Pria Terbaik Nominasi
Ibu Tidak Bisa Mendengar Tangisku Lagi Festival Film Bandung 2016 Pemeran Pria Film Televisi Terpuji (kategori Film Televisi) Menang
2017 Night Bus Festival Film Indonesia 2017 Piala Citra untuk Pemeran Utama Pria Terbaik Menang
Piala Citra untuk Penulis Skenario Adaptasi Terbaik (bersama Rahabi Mandra) Menang
Aku Ingin Ibu Pulang Indonesian Movie Actors Awards 2017 Pemeran Utama Pria Terbaik Nominasi
Pemeran Utama Pria Terfavorit Nominasi
Pasangan Terbaik (bersama Nirina Zubir) Nominasi
2018 Wage Festival Film Indonesia 2018 Piala Citra untuk Pemeran Pendukung Pria Terbaik Nominasi
Night Bus Indonesian Movie Actors Awards 2018 Pemeran Utama Pria Terbaik Menang
Pemeran Utama Pria Terfavorit Nominasi
Pasangan Terbaik (bersama Yayu Unru) Nominasi
Piala Maya 2017 Aktor Utama Terpilih Nominasi
Skenario Adaptasi Terpilih (bersama Rahabi Mandra) Menang

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Teuku Rifnu Wikana". 21 Cineplex. Diakses tanggal 11 Agustus 2009. 
  2. ^ "Profil Teuku Rifnu". Viva.co.id. Diakses tanggal 12 Januari 2016. 
  3. ^ "Teuku Rifnu Wikana". M2Indonesia. Diakses tanggal 12 Januari 2016. 
  4. ^ Diananto, Wayan (6 Oktober 2010). "Pengalaman Teuku Rifnu Wikana 2 Bulan Ngamen di Jalan Sudirman". Tabloid Bintang. Diakses tanggal 12 Januari 2016. 
  5. ^ Octafiani, Devy (18 Agustus 2016). "Mengenal Lebih Jauh Aktor Teuku Rifnu Wikana". detikHOT. Diakses tanggal 19 Agustus 2016. 
  6. ^ Octafiani, Devy (18 Agustus 2016). "Teuku Rifnu Wikana Jadi Aktor karena Kebetulan". detikHOT. Diakses tanggal 19 Agustus 2016. 
  7. ^ Octafiani, Devy (18 Agustus 2016). "Marah-marah ke Riri Riza, Teuku Rifnu Malah Diajak Main di 'Laskar Pelangi'". detikHOT. Diakses tanggal 19 Agustus 2016. 
  8. ^ Octafiani, Devy (18 Agustus 2016). "Potret Teuku Rifnu Wikana dari Film ke Film". detikHOT. Diakses tanggal 19 Agustus 2016. 
  9. ^ Octafiani, Devy (18 Agustus 2016). "Teuku Rifnu Wikana dan Kisah Batal Main di 'The Raid'". detikHOT. Diakses tanggal 19 Agustus 2016. 
  10. ^ "Prisia Nasution Pilih Teuku Rifnu Wikana". Kompas.com. 11 Juni 2013. Diakses tanggal 12 Juni 2013. 
  11. ^ Suhendra, Ichsan (25 Juni 2013). "Teuku Rifnu Wikana Kaget dengan Komentar Jokowi". Kompas.com. Diakses tanggal 26 Juni 2013. 
  12. ^ Jatilarasati, Agestia (24 Pebruari 2017). "Night Bus, Langkah Pertama Darius Sinathrya dan Teuku Rifnu Wikana Sebagai Produser Film". Tabloid Bintang. Diakses tanggal 25 Februari 2017. 
  13. ^ Safitri, Rahmi (12 November 2017). "Jalan Terjal 'NIGHT BUS', Miskin Penonton Hingga Menang Film Terbaik FFI". Kapanlagi.com. Diakses tanggal 13 November 2017. 
  14. ^ Juniman, Puput Tripeni (12 November 2017). "Teuku Rifnu Wikana Sabet Aktor Terbaik Piala Citra FFI 2017". CNN Indonesia. Diakses tanggal 13 November 2017. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Penghargaan dan prestasi
Didahului oleh:
Reza Rahadian
Film : My Stupid Boss
(2016)
Pemeran Utama Pria Terbaik
(Festival Film Indonesia)

Film : Night Bus
(2017)
Diteruskan oleh:
Gading Marten
Film : Love for Sale
(2018)