Pantja-Sila: Cita-Cita dan Realita

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Pantja-Sila: Cita-Cita dan Realita
230px
Poster film
SutradaraTino Saroengallo, Tio Pakusadewo
ProduserTino Saroengallo, Tio Pakusadewo
PenulisTino Saroengallo, Tio Pakusadewo
PemeranTio Pakusadewo
Perusahaan
produksi
Jakarta Media Syndication, Geppetto Productions
Tanggal rilis
17 Agustus 2016
Durasi
80 Menit
Negara Indonesia
BahasaBahasa Indonesia

Pantja-Sila: Cita-Cita dan Realita adalah sebuah film sejarah Indonesia yang dirilis pada 17 Agustus 2016. Film karya Tino Saroengallo dan Tio Pakusadewo ini menceritakan proses sejarah pembacaan Pancasila di sidang BPUPKI 1 Juni 1945. Film ini akan menampilkan Soekarno di layar lebar untuk ke-empat kalinya setelah Soekarno: Indonesia Merdeka (2013), Ketika Bung di Ende (2013), dan Guru Bangsa: Tjokroaminoto (2015).

Sinopsis[sunting | sunting sumber]

Menghidupkan kembali Pidato Sukarno tanggal 1 Juni 1945 pada sidang BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Peristiwa yang kemudian dikenal sebagai hari kelahiran Pancasila, Dasar Negara Republik Indonesia.

Produksi[sunting | sunting sumber]

Film dokumenter berjudul “Pantja-Sila: Cita-cita & Realita” adalah gagasan aktor senior nasional Tio Pakusadewo yang didukung oleh produser senior Tino Saroengallo. Bersama-sama mereka bertanggung-jawab sebagai sutradara. Melalui film ini Tio Pakusadewo ‘membunyikan’ kembali Pidato Soekarno dalam Sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPU-PKI) pada tanggal 1 Juni 1945. Pidato yang kemudian dicatat oleh sejarah sebagai pidato kelahiran Pancasila dan tanggal 1 Juni kemudian secara resmi dinobatkan oleh pemerintah sebagai Hari Lahir Pancasila.

Melalui film ini, anak bangsa yang hidup dalam abad ke-21 bisa mendengar kata per kata isi pidato yang dibacakan oleh Soekarno (tanpa membaca teks) di depan Sidang BPU-PK pada tanggal 1 Juni 1945. Dibacakan spontan dari untaian kata yang sudah terbentuk belasan tahun di dalam benaknya itu.Anak bangsa bisa mendengarkan cita-cita besar dasar didirikannya Indonesia merdeka meskipun sampai sekarang belum dicapai oleh masa pemerintahan manapun dalam 70 tahun perjalanan Republik Indonesia merdeka. Dengan menonton film ini anak bangsa yang justru tumbuh di era pasca-reformasi bisa melihat kenyataan pahit dari perjalanan 70 tahun Negara Indonesia merdeka yang justru masih jauh hasilnya dari yang dicita-citakan oleh para pendiri bangsa.

Melalui film ini diharapkan generasi muda untuk mengenal cikal bakal dari “Pantja-Sila” yang dalam perjalanan sejarah mengalami beberapa kali perubahan susunan isi, menyesuaikan diri sebagai Dasar Negara sesuai dengan perkembangan jaman.Meskipun ada perubahan besar selama masa pemerintahan Jokowi saat ini namun masa pemerintahannya belumlah lama sehingga perubahannya belum bisa dianggap signifikan ketimbang yang sudah terjadi selama masa pemerintahan sebelumnya.

Inilah alasan utama dari pembuatan film “Pantja-Sila: Cita-cita & Realita”. Peran utama dalam film ini adalah “Isi Pidato Ir. Soekarno” itu sendiri. “Cita-cita” dalam judul mencerminkan berbagai hal yang dijabarkan oleh Soekarno dalam pidatonya. “Realita” mencerminkan berbagai realita pahit hidup berkebangsaan yang tidak sama dengan apa yang dicita-citakan pada saat Indonesia merdeka namun tetap menjadi tujuan Dasar Negara Pancasila itu sendiri.

Selain itu, film juga akan menampilkan foto-foto tokoh sejarah yang disebut oleh Soekarno saat berpidato. Foto tokoh-tokoh masa lampau. Dengan penampilan ini diharapkan wajah-wajah itu tidak hanya disegarkan dalam ingatan generasi tua yang menonton film ini, tetapi juga menjadi dikenal oleh penonton muda.[1]

Lihat Juga[sunting | sunting sumber]

Film Indonesia tahun 2016

Referensi[sunting | sunting sumber]