Sepatu Dahlan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Sepatu Dahlan
230px
Poster film
SutradaraBenni Setiawan
ProduserRizaludin Kurniawan
Deden Ridwan
PemeranKinaryosih
Aji Santosa
Donny Damara
Ray Sahetapy
Elyzia Mulachela
Perusahaan
produksi
Tanggal rilis
10 April 2014 (2014-04-10)
Negara Indonesia
BahasaBahasa Indonesia

Sepatu Dahlan adalah film drama Indonesia tahun 2014. Film ini dirilis pada tanggal 10 April 2014. Film ini terinspirasi dari novel berjudul sama, Sepatu Dahlan, yang berisi kisah Dahlan Iskan, Menteri BUMN, semasa kecil.

Sinopsis[sunting | sunting sumber]

“Hidup, bagi orang miskin, harus dijalani apa adanya,” begitulah prinsip Dahlan. Ia tidak pernah berhenti bermimpi untuk memiliki sepatu dan sepeda. Kemiskinan yang dirasakannya, tidak menyurutkan semangat Dahlan untuk tetap bersekolah meski harus bertelanjang kaki, berjalan puluhan kilometer untuk sampai di pesantren Takeran. Dan tak jarang kakinya melepuh bahkan lecet.

Dahlan merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Dua kakak perempuannya bersekolah di perguruan tinggi dan adiknya, Zain masih sekolah di SR. Ayah Dahlan bekerja serabutan sedangkan Ibunya adalah pembatik di desanya. Mereka tinggal di Kebon Dalem, sebuah kampung yang menyimpan banyak kenangan.

Saat lulus dari Sekolah Rakyat, terdapat nilai 3 yang menghiasi rapotntya, Dahlan merasa gagal, tidak bisa membuat orang tuanya bangga. Bahkan ayahnya terlihat sangat kecewa. Pupus sudah cita-cita Dahlan untuk melanjutkan sekolah ke SMPN 1 Magetan. “..Tapi di mana pun sekolahnya, yang penting adalah niat belajarnya..” nasihat ibu Dahlan yang membesarkan hatinya.

Semenjak kelas II, Dahlan mulai aktif dalam organisasi dan kegiatan sekolah. Dahlan terpilih sebagai kapten tim bola voli Pesantren Takeran. Hingga pada suatu hari Dahlan dan tim bola volinya dapat mengikuti perlombaan bola voli ditingkat Kabupaten Magetan. Saat itulah keinginan akan sepatu makin besar. Tapi ibu yang sangat ia cintai, tiba-tiba jatuh sakit karena bekerja terlalu keras. Ditengah kesulitan itu, Dahlan harus berjuang untuk menjaga adiknya dan mengejar mimpinya.

Beginilah hidup Dahlan, penuh keterbatasan. Namun keterbatasannya ini tidak membuatnya jatuh dan terpuruk, justru menjadi sebuah penyemangat hidup untuk lebih baik dan dapat membanggakan sekelilingnya. Keterbatasan sebenarnya akan menjadi sesuatu yang indah, tergantung bagaimana kita menyikapinya.[1]

Lagu[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]