Deddy Sutomo

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Deddy Sutomo
130px
Lahir 26 Juni 1941 (umur 76)
Bendera Belanda Batavia, Hindia Belanda
Pekerjaan aktor
Tahun aktif 1970 - sekarang

Deddy Sutomo (lahir di Batavia (Sekarang Jakarta) , 26 Juni 1941; umur 76 tahun) adalah seorang pemeran film dan politikus Indonesia. Deddy pada usia muda terkenal sebagai Pandji Tengkorak yang tayang era 1970an. Setelah terakhir bermain film Tutur Tinular III tahun 1998, Deddy kembali tampil di layar lebar dalam film Maskot (film) tahun 2006, dua tahun berikutnya Deddy tampil dalam film Doa Yang Mengancam sebagai Pak Tantra.

Diera 2010-an Deddy telah membintangi lima film dimulai tahun 2010 Menebus Impian, 2011 Tanda Tanya (film). Tahun 2015 Deddy tampil dalam tiga film yaitu 2014 (film), Ayat Ayat Adinda, dan Mencari Hilal. Pada tahun ini juga Deddy meraih penghargaan terbesar sepanjang kariernya ytiu Aktor Utama Terbaik di Festival Film Indonesia 2015 dalam perannya sebagai Mahmud di film Mencari Hilal.

Karier[sunting | sunting sumber]

Sebelum di dunia film[sunting | sunting sumber]

Perjalanan hidup Deddy memang cukup aneh. Walaupun sejak muda ia tertarik pada dunia seni budaya, Deddy tidak sejak awal berkecimpung di bidang sinematografi. Pada awalnya ia adalah seorang guru di SMEA Negeri Klaten, mengajar Prakarya. Tidak puas sebagai guru, baru kemudian ia mencoba hijrah ke Jakarta untuk mengubah nasib. Semula ia menjadi tenaga kreatif di PT Sanggar Prativi. Ia meningkatkan kemampuan aktingnya dengan mengikuti kursus elementer Sinematografi yang diselenggarakan oleh Yayasan Film Indonesia.

Karier film[sunting | sunting sumber]

Para pemeran sinetron "Rumah Masa Depan"; dari kiri ke kanan: Bayu (Septian Dwi Cahyo), Pak Sukri (Deddy Sutomo), Nenek (Wolly Sutinah), Kakek (A. Hamid Arief), Gerhana (Andi Ansi), Bu Sukri (Aminah Cendrakasih)

Lewat film pertamanya, "Awan Jingga" (1970) ia masuk dalam dunia film. Bila pada awal-awal kariernya di depan kamera ia mendapat peran jagoan, selanjutnya peran yang dimainkannya beragam: Pernah ia menjadi seorang pendekar (dalam "Panji Tengkorak"), santri (dalam "Atheis"), peranakan Cina ("Mustika Ibu"), pawang buaya ("Buaya Putih"), sampai penjahat ("Marabunta"), pembunuh ("Laila Majenun") atau narapidana ("Embun Pagi"). Tapi ia juga pernah memerankan tokoh penting dalam sejarah kita, Jenderal Sudirman ("Janur Kuning"). Beragam peranan itu menunjukkan kemampuan Deddy dalam seni peran. Selain itu ia juga terkenal dengan perannya dalam sinetron era 80-an, Rumah Masa Depan.

Akhir karier film[sunting | sunting sumber]

Ketika usianya makin bertambah, Deddy mengurangi kegiatannya di dunia akting. Dan peran yang pas untuk Deddy memang terbatas. Dalam film terakhirnya yang dibuat tahun 1992, "Tutur Tinular III" ia menjadi sebagai seorang empu yang berpraktik sebagai seorang "dukun".

Karier politik[sunting | sunting sumber]

Setelah tidak lagi main film, ia mencoba mencoba menjadi pengusaha, di antaranya dengan mendirikan PT Jakarta Pelangi Production. Tapi akhirnya Sang Panji Tengkorak ini masuk bidang politik. Diawali dengan duduk dalam MPP (Majelis Perimbangan Partai) PDI Perjuangan, ia kemudian dicalonkan sebagai wakil rakyat di Daerah Pemilihan Jawa Tengah II.

Pada pemilu tahun 2004, Deddy Sutomo terpilih menjadi anggota DPR RI, dan berada dalam komisi X (Bidang Pendidikan).

Filmografi[sunting | sunting sumber]

Sinetron[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]