Deddy Sutomo

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Deddy Sutomo
Lahir 26 Juni 1939
Bendera Belanda Batavia, Hindia Belanda
Meninggal 18 April 2018 (umur 78)
Bendera Indonesia Jakarta, Indonesia
Pekerjaan Aktor, politisi
Tahun aktif 1970 - sekarang
Pasangan Setyorini Sutomo
Farida Widyawati
Anak 7

Deddy Sutomo (lahir di Batavia, Hindia Belanda, 26 Juni 1939 – meninggal di Jakarta, 18 April 2018 pada umur 78 tahun) adalah seorang pemeran film dan politikus Indonesia. Deddy pada usia muda terkenal sebagai Pandji Tengkorak yang tayang era 1970-an. Setelah terakhir bermain dalam film Tutur Tinular III tahun 1998, Deddy kembali tampil di layar lebar dalam film Maskot pada tahun 2006, dan dua tahun kemudian Deddy tampil dalam film Doa Yang Mengancam sebagai Pak Tantra.

Di era 2010-an Deddy telah membintangi lima film, dimulai dengan film Menebus Impian di tahun 2010 dan Tanda Tanya di tahun 2011. Pada tahun 2015, Deddy tampil dalam tiga film yaitu 2014, Ayat-ayat Adinda, dan Mencari Hilal. Pada tahun ini juga Deddy meraih penghargaan terbesar sepanjang kariernya yaitu Pemeran Utama Pria Terbaik di Festival Film Indonesia 2015 dalam perannya sebagai Mahmud di film Mencari Hilal.[1]

Deddy menghembuskan nafas terakhir pada 18 April 2018 sekitar pukul 07.00 WIB di kediamannya. Jenazahnya dikebumikan di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan.[2]

Karier[sunting | sunting sumber]

Sebelum di dunia film[sunting | sunting sumber]

Perjalanan hidup Deddy memang cukup aneh. Walaupun sejak muda ia tertarik pada dunia seni budaya, Deddy tidak sejak awal berkecimpung di bidang sinematografi. Pada awalnya ia adalah seorang guru di SMEA Negeri Klaten, mengajar Prakarya. Tidak puas sebagai guru, baru kemudian ia mencoba hijrah ke Jakarta untuk mengubah nasib. Semula ia menjadi tenaga kreatif di PT Sanggar Prativi. Ia meningkatkan kemampuan aktingnya dengan mengikuti kursus elementer sinematografi yang diselenggarakan oleh Yayasan Film Indonesia.

Karier film[sunting | sunting sumber]

Para pemeran sinetron Rumah Masa Depan; dari kiri ke kanan: Bayu (Septian Dwi Cahyo), Pak Sukri (Deddy Sutomo), Nenek (Wolly Sutinah), Kakek (A. Hamid Arief), Gerhana (Andi Ansi) dan Bu Sukri (Aminah Cendrakasih)

Lewat film pertamanya, Awan Jingga (1970) Deddy masuk dalam dunia film. Bila pada awal-awal kariernya di depan kamera ia mendapat peran jagoan, selanjutnya peran yang dimainkannya beragam: Pernah ia menjadi seorang pendekar (dalam Panji Tengkorak), santri (dalam Atheis), peranakan Tionghoa (Mustika Ibu), pawang buaya (Buaya Putih), sampai penjahat (Marabunta), pembunuh (Laila Majenun) atau narapidana (Embun Pagi). Tapi ia juga pernah memerankan tokoh penting, Jenderal Sudirman (Janur Kuning). Beragam peranan itu menunjukkan kemampuan Deddy dalam seni peran. Selain itu ia juga terkenal dengan perannya dalam sinetron era 80-an, Rumah Masa Depan.[3]

Akhir karier film[sunting | sunting sumber]

Ketika usianya makin bertambah, Deddy mengurangi kegiatannya di dunia akting, dan peran yang sesuai untuk Deddy memang terbatas. Dalam film terakhirnya yang dibuat tahun 1992, Tutur Tinular III ia menjadi sebagai seorang empu yang berpraktik sebagai seorang "dukun".

Karier politik[sunting | sunting sumber]

Setelah tidak lagi main film, Deddy mencoba mencoba menjadi pengusaha, di antaranya dengan mendirikan PT Jakarta Pelangi Production. Tapi akhirnya ia masuk ke dalam bidang politik. Diawali dengan duduk dalam MPP (Majelis Pertimbangan Partai) PDI Perjuangan, ia kemudian dicalonkan sebagai wakil rakyat di Daerah Pemilihan Jawa Tengah II.[4]

Pada pemilihan umum tahun 2004, Deddy terpilih menjadi anggota DPR RI, dan berada dalam komisi X (Bidang Pendidikan).

Kehidupan pribadi[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 1975, Deddy menikahi Setyorini Sutomo yang pernah menjadi penyiar berita di TVRI. Dari pernikahannya tersebut, pasangan ini dikaruniai empat orang anak yaitu Oki Satrio Nugroho, Dimas Danardhana, Rendy Surindrapati dan Becky Karina Citradevi. Setyorini meninggal dunia pada 26 Januari 1997 akibat penyakit kanker rahim yang dideritanya sejak lama.[5][6]

Kemudian, Deddy menikah lagi dengan Farida Widyawati. Dari pernikahannya dengan Farida, keduanya tidak dikaruniai anak,[7] namun telah ada tiga anak Farida Widyawati dari perkawinan sebelumnya yaitu Andrie Sis Setyoko, Roni Octavianto Gautama dan Ayu Octavia Widayanti.

Filmografi[sunting | sunting sumber]

Film[sunting | sunting sumber]

Sinetron[sunting | sunting sumber]

Penghargaan dan nominasi[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "FFI 2015, Deddy Sutomo Jadi Pemeran Utama Pria Terbaik". Tempo.co. 24 November 2015. Diakses tanggal 2 Juni 2016. 
  2. ^ Sepaya, Natanael (18 April 2018). "Pemakaman Deddy Sutomo Diiringi Kesedihan Banyak Artis Tanah Air". Kapanlagi.com. Diakses tanggal 18 April 2018. 
  3. ^ Lestari, Puput Puji (10 Juni 2016). "Film 90-an, Deddy Sutomo, Sukses di Televisi dan Layar Lebar". Bintang.com. Diakses tanggal 11 Juni 2016. 
  4. ^ Rahmadi, Dedi (18 April 2018). "Aktor senior sekaligus eks anggota DPR PDIP, Deddy Sutomo meninggal dunia". Merdeka.com. Diakses tanggal 18 April 2018. 
  5. ^ Novianti Setuningsih, ed. (18 April 2018). "Deddy Sutomo Kembali Dipersatukan dengan Istrinya di Satu Liang Lahat". Jawa Pos. Diakses tanggal 19 April 2018. 
  6. ^ Danardhana, Dimas. "Her Legacy Rini Sutomo". Rini-sutomo.memory-of.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2 December 2010. Diakses tanggal 19 April 2018. 
  7. ^ Syaukani , Abdul Rahman (18 April 2018). "Jenazah Deddy Sutomo Dimasukkan ke Liang Lahat, Anak: Selamat Jalan Jenderal!". Tabloid Bintang. Diakses tanggal 19 April 2018. 
  8. ^ Wahyu, Raynaldi (31 Mei 2016). "IMA Awards 2016: Deddy Sutomo Menang, Para Aktor Mendadak Heboh". Okezone.com. Diakses tanggal 2 Juni 2016. 
  9. ^ Della, Mia Vita (31 Mei 2016). "Aktor Senior Deddy Sutomo Menang Dua Kali di IMA Awards 2016". Muvila. Diakses tanggal 2 Juni 2016. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]