Jaka Sembung

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Untuk kegunaan lain dari Jaka Sembung, lihat Jaka Sembung (disambiguasi).
Jaka Sembung

Jaka Sembung komik.jpg
Dari Jaka Sembung vs Si Buta Dari Gua Hantu (2011) oleh Djair Warni.

Penerbit Bendera Indonesia Maranatha (1968), Bintang Kejora (1968-1972), Rosita (1972-1988), Pluz (2011)
Muncul
perdana
"Bajing Ireng" (1968)
Pencipta Djair Warni
Karakteristik
Nama Karakter Parmin
Dunia asal Kandanghaur
Rekan perjuangan Bajing Ireng, Si Gila dari Muara Bondet, Wori, Empat Pendekar Ciremai, dll.
Kemampuan Ilmu silat tangan kosong hebat, ilmu silat bersenjata hebat

Jaka Sembung adalah karakter utama dalam serial cerita silat yang diciptakan oleh komikus Djair Warni pada tahun 1960-an. Karakter ini pertama kali muncul pada tahun 1968 dalam komik Bajing Ireng yang diterbitkan oleh penerbit Maranatha. Komik ini adalah salah satu komik silat pertama karya komikus Indonesia yang telah memopulerkan cerita silat khas nusantara. Komik ini begitu populer sehingga diadaptasi secara lepas menjadi sebuah film layar lebar bergenre film aksi laga pada tahun 1981 dengan judul "Jaka Sembung Sang Penakluk" yang dibintangi oleh aktor laga Barry Prima. Film ini akhirnya menuai sukses besar sehingga dilanjutkan oleh beberapa sekuel dan melambungkan nama Barry Prima.

Sinopsis[sunting | sunting sumber]

Alkisah, Parmin adalah seorang pendekar silat asal Kandanghaur yang berjuang melawan kolonialisme di era VOC, abad ke-17. Karena berguru dengan perguruan silat di Gunung Sembung, dia dikenal dengan nama julukannya, "Jaka Sembung". Bersama kekasihnya, Roijah atau si "Bajing Ireng" dan juga pendekar-pendekar silat rekan seperjuangannya dari segala penjuru Nusantara, bahkan dari benua Australia, Jaka Sembung berjuang bersama-sama saling bahu membahu dalam melawan pasukan VOC.

Daftar serial[sunting | sunting sumber]

  1. "Bajing Ireng", 63 halaman, Maranatha, Januari 1968,
  2. "Si Gila dari Muara Bondet", 64 halaman, Maranatha, Maret 1968,
  3. "Bergola Ijo", 66 halaman, Maranatha, 1968
  4. "Gembong Wungu", 130 halaman, PT Bintang Kejora, 1968
  5. "Air Mata Kasih Tertumpah di Kandang Haur", 1968
  6. "Si Cakar Rajawali", 63 halaman, UP Aries, Agustus 1968
  7. "Pendekar Gunung Sembung", 574 halaman, PT Bintang Kejora,1969
  8. "Leonard Van Eisen", 133 halaman, PT Bintang Kejora, 1969
  9. "Badai Laut Arafuru", 252 halaman, 1972
  10. "Papua", 372 halaman, UP Rosita, 1972
  11. "Iblis Pulau Aru", 372 halaman, 1972
  12. "Wori Pendekar Bumerang", 620 halaman,UP Rosita, 1973
  13. "Singa Halmahera", 558 halaman, UP Rosita, 1973
  14. "Kinong", 558 halaman, UP Rosita, 1973
  15. "Dia Bajing Ireng", 744 halaman, UP Rosita, 1973
  16. "Dia Bangkit dari Kubur", 496 halaman, UP Rosita, 1974
  17. "Kabut Ciremai", 629 halaman, UP Rosita, 1975
  18. "Empat Pendekar Ciremai", 528 halaman, UP Rosita, 1975
  19. "Asiong", 720 halaman, UP Rosita, 1976
  20. "Kiamat di Kandang Haur", 720 halaman, UP Rosita, 1977
  21. "Wali Kesepuluh", 720 halaman, UP Rosita, 1977
  22. "Jaka Sembung Sang Penakluk Ratu Pantai Selatan", 479 halaman, UP Rosita, 1987
  23. "Banjir Darah di Pantai Selatan", 383 halaman, UP Rosita, 1988
  24. "Tahta Para Bangsawan"
  25. "Jaka Sembung vs Si Buta dari Gua Hantu", 109 halaman, Pluz+, 2010

Adaptasi di media lain[sunting | sunting sumber]

Karakter Jaka Sembung telah diadaptasi secara lepas ke dalam media layar lebar, antara lain:

  1. "Jaka Sembung Sang Penakluk", 1981
  2. "Si Buta Lawan Jaka Sembung", 1983
  3. "Bajing Ireng dan Jaka Sembung", 1985
  4. "Jaka Sembung dan Dewi Samudra", 1990

Pranala luar[sunting | sunting sumber]