Lompat ke isi

Buddhisme di Indonesia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Buddha di Indonesia)
Buddhisme di Indonesia
Agama Buddha di Indonesia
Para biksu melantunkan paritta di Borobudur, struktur Buddhis terbesar di dunia, yang dibangun oleh wangsa Syailendra
Para biksu melantunkan paritta di Borobudur, struktur Buddhis terbesar di dunia, yang dibangun oleh wangsa Syailendra
Total populasi
Kenaikan 2 juta (2023)[1][2]
0.71% dari populasi
Wilayah dengan populasi signifikan
Agama
Kitab suci
Bahasa

Buddhisme memiliki sejarah yang panjang di Indonesia, dan merupakan salah satu dari enam agama yang diakui di negara ini, bersama dengan Islam, Kekristenan (Protestan dan Katolik), Hindu, dan Konghucu. Menurut perkiraan tahun 2023, sekitar 0,71% dari total warga negara Indonesia adalah penganut Buddha, berjumlah sekitar 2 juta jiwa. Kebanyakan umat Buddha terkonsentrasi di Jakarta, Riau, Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Sumatera Utara, dan Kalimantan Barat. Namun, jumlah ini mungkin meningkat, karena para praktisi Taoisme, Tridharma, Yiguandao, dan kepercayaan rakyat Tionghoa lainnya, yang tidak dianggap sebagai agama resmi di Indonesia, kemungkinan besar menyatakan diri mereka sebagai Buddhis pada sensus terakhir.[4] Saat ini, mayoritas umat Buddha di Indonesia adalah Tionghoa-Indonesia, tetapi komunitas penganut Buddha pribumi (seperti Jawa, Tengger, Sasak, Bali, Dayak, Alifuru, Batak, dan Karo) juga ada.

Peta agama di Indonesia: Wilayah kategori Lainnya (yang mayoritas adalah Buddhisme) disorot dengan warna oranye.
Penganut Buddha di setiap kabupaten di Indonesia
Ekspansi Buddhisme dimulai pada abad ke-5 SM dari India utara ke seluruh Asia, yang mengikuti rute perdagangan darat dan laut di Jalur Sutra. Sriwijaya pernah menjadi pusat pembelajaran dan ekspansi Buddhis. "Jalur Sutra" darat dan laut saling terkait dan melengkapi, membentuk apa yang disebut para cendekiawan sebagai "lingkaran besar Buddhisme".[5]

Zaman kuno

[sunting | sunting sumber]

Buddhisme, terutama Buddhisme Esoteris Nusantara, adalah agama luar tertua kedua di Indonesia setelah Hinduisme, yang tiba dari India sekitar abad kedua.[4] Sejarah Buddhisme di Indonesia terkait erat dengan sejarah Hinduisme, karena sejumlah kerajaan yang dipengaruhi oleh budaya India didirikan pada periode yang sama. Kedatangan Buddhisme di Nusantara dimulai dengan aktivitas perdagangan, sejak awal abad ke-1, melalui Jalur Sutra maritim antara Indonesia dan India.[6] Situs arkeologi Buddhis tertua di Indonesia bisa dibilang adalah kompleks stupa Batujaya di Karawang, Jawa Barat. Relik tertua di Batujaya diperkirakan berasal dari abad ke-2, sedangkan yang terbaru berasal dari abad ke-12. Selanjutnya, sejumlah besar situs Buddhis ditemukan di Jambi, Palembang, dan provinsi Riau di Sumatra, serta di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Nusantara selama berabad-abad telah menyaksikan kebangkitan dan kejatuhan kerajaan-kerajaan Buddhis yang kuat, seperti wangsa Syailendra serta kerajaan Mataram dan Sriwijaya.

Kompleks Candi Borobudur, berlokasi di Jawa Tengah, Indonesia

Menurut beberapa sumber Tiongkok, biksu Buddhis Tiongkok I-Tsing, dalam perjalanan ziarahnya ke India, menyaksikan kerajaan maritim Sriwijaya yang kuat yang berpusat di Sumatra pada abad ke-7. Kerajaan ini berfungsi sebagai pusat pembelajaran Buddhis di wilayah tersebut. Seorang cendekiawan Buddhis Sriwijaya terkemuka yang dihormati adalah Dharmakīrtiśrī, seorang pangeran Sriwijaya dari wangsa Syailendra, yang lahir sekitar pergantian abad ke-7 di Sumatra.[7] Ia menjadi seorang biksu-cendekiawan yang dihormati di Sriwijaya dan pindah ke India untuk menjadi guru di Universitas Nalanda yang terkenal, serta seorang penyair. Ia membangun dan menafsirkan kembali karya Dignaga, pelopor logika Buddhis, dan sangat berpengaruh di kalangan ahli logika Brahman serta Buddhis. Teori-teorinya menjadi normatif di Tibet dan dipelajari hingga hari ini sebagai bagian dari kurikulum dasar monastik. Biksu Buddhis lain yang mengunjungi Indonesia adalah Atisha, Dharmapala, seorang profesor dari Nalanda, dan Buddhis India Selatan Vajrabodhi. Sriwijaya adalah kerajaan Buddhis terbesar yang pernah terbentuk dalam sejarah Indonesia. Kerajaan India seperti Kekaisaran Pala membantu mendanai Buddhisme di Indonesia; khususnya mendanai sebuah biara untuk para biksu Sumatra.[8]

Candi Mendut di Magelang, Jawa Tengah, Indonesia

Sejumlah situs dan artefak Buddhis yang terkait dengan warisan budaya sejarah Indonesia dapat ditemukan di Indonesia, termasuk monumen mandala Borobudur abad ke-8 dan Candi Sewu di Jawa Tengah, Batujaya di Jawa Barat, Candi Muaro Jambi, Candi Muara Takus dan Candi Bahal di Sumatra, serta banyak arca atau prasasti dari sejarah awal kerajaan Hindu-Buddha Indonesia. Selama era kerajaan Kediri, Singhasari, dan Majapahit, Buddhisme — yang diidentifikasi sebagai Dharma ri Kasogatan — diakui sebagai salah satu agama resmi kerajaan bersama dengan Hinduisme. Meskipun beberapa raja mungkin lebih menyukai Hinduisme, keharmonisan, toleransi beragama, dan bahkan sinkretisme dipromosikan sebagai manifestasi dari semboyan nasional, Bhinneka Tunggal Ika, yang diciptakan dari Kakawin Sutasoma, yang ditulis oleh Mpu Tantular untuk mempromosikan toleransi dan koeksistensi antara Hindu (Saiwa) dan agama Buddha.[9] Era klasik Jawa kuno juga telah menghasilkan beberapa seni Buddhis yang indah; seperti arca Pradnyaparamita dan arca Buddha Wairocana, serta arca Bodhisatwa Padmapani dan Wajrapani yang terletak di candi Mendut.

Kemunduran dan kebangkitan

[sunting | sunting sumber]

Kedatangan Islam

[sunting | sunting sumber]

Pada abad ke-13, Islam masuk ke nusantara, dan mulai mendapatkan pijakan di kota-kota pelabuhan pesisir. Jatuhnya kerajaan Majapahit yang bercorak Hindu-Buddha pada akhir abad ke-15 atau awal abad ke-16 menandai berakhirnya peradaban darmik di Indonesia. Pada akhir abad ke-16, Islam telah menggantikan Hinduisme dan Buddhisme sebagai agama dominan di Jawa dan Sumatra. Selama 450 tahun setelah itu, tidak ada praktik Buddhis yang signifikan di Indonesia. Banyak situs Buddhis, stupa, candi, dan manuskrip hilang atau dilupakan seiring wilayah tersebut menjadi mayoritas Muslim. Selama era kemunduran ini, hanya sedikit orang yang mempraktikkan Buddhisme; kebanyakan dari mereka adalah imigran Tionghoa yang menetap di Indonesia ketika migrasi meningkat pada abad ke-17. Banyak kelenteng (kuil Tionghoa) di Indonesia sebenarnya adalah kuil Tridharma yang menaungi tiga kepercayaan, yaitu Buddhisme, Konghucu, dan Taoisme.

Upaya misionaris pertama

[sunting | sunting sumber]

Selama tahun 1920-an, Kwee Tek Hoay terlibat aktif dalam Tridharma. Ia memastikan bahwa wihara di Jakarta juga berfungsi sebagai lembaga untuk pelajaran tentang Buddhisme. Ia berjasa dalam penerbitan majalah berbahasa Indonesia pertama tentang ajaran Buddhisme, Dharma Moestika (1932–1934).[10]

Potret Narada Mahathera, c. 1920-an

Pada tahun 1934, Narada Thera, seorang biku misionaris Theravāda dari Sri Lanka, mengunjungi Hindia Belanda untuk pertama kalinya sebagai bagian dari perjalanannya menyebarkan Dhamma di Asia Tenggara.[11] Kesempatan ini dimanfaatkan oleh umat Buddha setempat untuk membangkitkan kembali Buddhisme di Indonesia. Sebuah upacara penanaman Pohon Bodhi diadakan di sisi tenggara Borobudur pada tanggal 10 Maret 1934, di bawah berkah Narada Thera, dan beberapa umat awam ditahbiskan sebagai biksu.[4]

Masa Orde Lama

[sunting | sunting sumber]

Agama yang diakui negara

[sunting | sunting sumber]

Pada tanggal 27 Januari 1965, di bawah pemerintahan Soekarno melalui Penetapan Presiden No. 1/PNPS/1965, landasan hukum untuk konsep "lima agama yang dianut oleh penduduk Indonesia" ditetapkan. Dokumen ini adalah yang pertama mendaftar agama-agama dalam penjelasan resminya, yaitu Islam, Protestan, Katolik, Hinduisme dan Buddhisme.

Tiga ajaran Tionghoa

[sunting | sunting sumber]
Wihara Thai Pak Kung Singkawang, sebuah kelenteng Tridharma di Singkawang, Kalimantan Barat, Indonesia

Meskipun sistem kepercayaannya disebut "Buddhisme" dan para pengikutnya mengidentifikasi diri mereka sebagai "Buddhis", banyak dari mereka sebenarnya mempraktikkan Tridharma ("tiga ajaran"), suatu bentuk sinkretisme Tionghoa dari Buddhisme, Konghucu, dan Taoisme.[11]

Belakangan, tokoh-tokoh dari Tridharma-lah yang kemudian memisahkan diri dan membentuk berbagai organisasi Buddhis modern yang masih bertahan, seperti Majelis Buddhayana Indonesia (bersama dengan Sangha Agung Indonesia) dan Sangha Theravada Indonesia.

Perayaan Waisak nasional

[sunting | sunting sumber]
Upacara Waisak nasional di Borobudur, Jawa Tengah
Seorang biksu Mahāyāna melakukan Pindapata sebelum Hari Waisak 2010 di Magelang, Jawa Tengah. Umat Buddha Tionghoa-Indonesia memberikan dana makanan kepada biksu

Perayaan Waisak modern pertama setelah kemerdekaan Indonesia diadakan pada tahun 1953 di Candi Borobudur, menandai momen penting dalam kebangkitan kembali tradisi nasional ini. Namun, jika dilihat ke belakang, perayaan Waisak di candi Borobudur dan Mendut sebenarnya telah dimulai sejak tahun 1929, yang diprakarsai oleh Perhimpunan Teosofi Hindia Belanda. Tradisi yang baru lahir ini kemudian terhenti total selama Revolusi Nasional Indonesia dari tahun 1945 hingga 1949, sebelum akhirnya dihidupkan kembali pada tahun 1953 dan kemudian secara resmi ditetapkan sebagai hari libur nasional pada tahun 1983.[12]

Gerakan antar-sekte Buddhayana

[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 1955, Ashin Jinarakkhita membentuk organisasi awam Buddhis Indonesia pertama, Persaudaraan Upasaka Upasika Indonesia (PUUI). Pada tahun 1957, PUUI diintegrasikan ke dalam Perhimpunan Buddhis Indonesia (Perbudhi), ketika kepanditaan Theravāda dan Mahāyāna disatukan.[13][14] Saat ini, PUUI disebut Majelis Buddhayana Indonesia (MBI).[15]

Pada tahun 1960, Jinarakkhita mendirikan Sangha Suci Indonesia, sebagai organisasi monastik. Pada tahun 1963, namanya diubah menjadi Maha Sangha Indonesia, dan pada tahun 1974 hingga saat ini, namanya diubah menjadi Sangha Agung Indonesia. Ini adalah komunitas monastik antar-aliran dari aliran Theravāda, Mahāyāna, dan Tantrayāna.[16][17]

Masa Orde Baru

[sunting | sunting sumber]

Rekonsiliasi Ketuhanan Yang Maha Esa

[sunting | sunting sumber]

Setelah jatuhnya Presiden Sukarno pada pertengahan 1960-an, Pancasila ditegaskan kembali sebagai kebijakan resmi Indonesia tentang agama yang hanya mengakui monoteisme.[18] Pada tahun 1965, setelah upaya kudeta, organisasi-organisasi Buddhis harus mematuhi sila pertama falsafah negara Indonesia, Pancasila, yaitu "Ketuhanan Yang Maha Esa".[17] Semua organisasi yang meragukan atau menyangkal keberadaan Tuhan dilarang.[19] Hal ini menimbulkan masalah bagi Buddhisme Indonesia, yang diselesaikan oleh Jinarakkhita dengan menghadirkan Nibbāna (Nirwana) sebagai "Tuhan" Theravāda, dan Adi-Buddha, Buddha primordial dari Buddhisme Esoteris Nusantara sebelumnya di Nusantara, sebagai "Tuhan" Mahāyāna,[19] meskipun interpretasi Buddha ini kontroversial dan tidak diterima secara luas oleh aliran Theravāda.[20] Menurut Jinarakkhita, konsep Adi Buddha ditemukan dalam naskah Buddhis Jawa abad kesepuluh Sanghyang Kamahayanikan.[17]

Pembatasan agama-agama Tionghoa

[sunting | sunting sumber]
Altar Tribuddha (Sam Cun Tay Hud), altar utama Vihara Jin De Yuan, Glodok, Jakarta, sebuah wihara yang didasarkan pada ajaran Tridharma dan kepercayaan tradisional Tionghoa lainnya
Altar Wihara Dhanagun di Bogor, Jawa Barat, Indonesia, yang terdiri dari Dewa-dewi Tionghoa (Buddhis, Taois, dan Konghucu)
Kelenteng Boen Bio, sebuah kelenteng khusus Konghucu tanpa tokoh dan dewa Buddhis (tidak berdasarkan ajaran sinkretis Tridharma), di Surabaya, Jawa Timur, Indonesia

Selama era Orde Baru (1966–1998) di bawah Presiden Soeharto, kebijakan "agama yang diakui negara" diterapkan dengan sangat kaku. Melalui Instruksi Presiden No. 14 Tahun 1967, praktik publik kepercayaan rakyat Tionghoa, keyakinan, dan adat istiadat, termasuk Konghucu, serta aliran kepercayaan Indonesia sangat dibatasi dan ditekan. Akibatnya, hanya lima agama yang de facto diakui dan difasilitasi oleh negara, yang sangat memperkuat pemahaman publik bahwa ada "lima agama resmi." Banyak kepercayaan tradisional Tionghoa formal seperti Konghucu dan Taoisme juga dimasukkan ke dalam praktik Buddhis umat Buddha Tionghoa-Indonesia yang sebagian besar beraliran Mahāyāna, melabeli kepercayaan-kepercayaan rakyat tersebut sebagai bagian dari "Buddhisme".[21][22] Selama masa ini, banyak kuil Tionghoa mengubah nama mereka dari nama Tionghoa menjadi nama Pali atau Sanskerta.[11]

Orang Tionghoa-Indonesia, khususnya, semakin banyak memeluk agama Kristen (Katolik dan Protestan). Pertumbuhan Katolik sebelum Perang Dunia II lambat, tetapi kemudian melihat beberapa keberhasilan, terutama setelah 1965 dan Orde Baru, yang mewajibkan semua orang Indonesia untuk menyatakan agama yang disetujui. Sebagai contoh, antara tahun 1950 dan 2000, populasi Katolik tumbuh dari 1,1% menjadi 8,7% di Keuskupan Agung Pontianak, sementara di Keuskupan Sintang, tumbuh dari 1,7% menjadi 20,1%.[butuh rujukan] Katolik dan agama minoritas lainnya telah mengalami pertumbuhan besar terutama di daerah yang dihuni oleh sejumlah besar orang Tionghoa-Indonesia (yang mempraktikkan kepercayaan tradisional Tionghoa) dan etnis Jawa (yang mempraktikkan aliran kepercayaan). Pada tahun 2000, ada 301.084 umat Katolik di Jakarta, dibandingkan dengan hanya 26.955 pada tahun 1960. Ini berarti populasi Katolik meningkat sebelas kali lipat sementara pada periode yang sama populasi Jakarta hanya tiga kali lipat, dari 2.800.000 menjadi 8.347.000.[23] Pada awal 2000-an, beberapa laporan juga menunjukkan bahwa banyak orang Tionghoa-Indonesia beralih ke agama Kristen.[24][25] Ahli demografi Aris Ananta melaporkan pada tahun 2008 bahwa "bukti anekdotal menunjukkan bahwa lebih banyak orang Tionghoa Buddhis telah menjadi Kristen seiring dengan meningkatnya standar pendidikan mereka".[24]

Penguatan akar Theravāda

[sunting | sunting sumber]
Biksu Theravādin di bawah naungan Sangha Theravada Indonesia merayakan Hari Waisak dengan puja di Pusat Pelatihan Sikkhādama Santibhūmi, Kota Tangerang, Jawa Barat, Indonesia

Menurut Berchert (1981), pengenalan Buddhisme Theravāda di Indonesia sebagian besar merupakan hasil upaya Ashin Jinarakkhita, yang telah ditahbiskan sebagai biksu di Burma. Bechert mengidentifikasi beberapa perkembangan penting selama tahun 1950-an yang memfasilitasi kebangkitan ini. Ini termasuk pendirian berbagai organisasi Buddhis mulai tahun 1952 dan, yang paling signifikan, kunjungan Bhikkhu Narada ke Jawa pada tahun 1958, yang meletakkan dasar bagi pusat Buddhis di Semarang. Analisis Bechert juga mencatat tren berikutnya pada tahun 1970-an, ketika beberapa kuil Tionghoa secara bertahap diubah menjadi wihara Theravāda.[11][26]

Kemudian, Theravāda semakin memperkuat fondasinya di Indonesia. Dengan bantuan para biksu dari ordo Dhammayuttika Nikāya Thailand, Sangha Theravada Indonesia (Saṅgha Theravāda Indonesia), organisasi monastik pertama Buddhisme Theravāda di Indonesia, dibentuk pada tanggal 23 Oktober 1976, di Wihara Mahā Dhammaloka (sekarang Wihara Tanah Putih), Semarang, Jawa Tengah.[27][28] Organisasi ini diprakarsai oleh para biksu yang tidak setuju dengan pandangan antar-sekte dari Majelis Buddhayana Indonesia. Pada tahun 1979, perguruan tinggi Buddhis pertama di Indonesia, Institut Nalanda, didirikan dengan cita-cita memenuhi kebutuhan guru Buddhis untuk mendidik siswa Buddhis.[29][30][31]

Penghidupan kembali Vajrayāna

[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 1976, pembangkitan kembali Vajrayāna (juga disebut sebagai Tantrayāna) di Indonesia dipelopori oleh Giriputre Soemarsono dan Dharmesvara Oke Diputhera, melalui pembentukan kelompok Tantrayāna yang disebut Majelis Dharma Duta Kasogatan. Penamaan kelompok ini didasarkan pada upaya penghidupan kembali istilah kuno Kasogatan, yang digunakan untuk merujuk Buddhisme pada masa lampau. Kelompok Kasogatan baru ini dibentuk atas dasar harapan untuk mengembalikan agama Buddha Vajrayāna sehingga dapat meluas kembali seperti saat zaman kerajaan Majapahit.[32]

Perkembangan Mahāyāna

[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 1978, para biksu dari aliran Mahāyāna juga turut memisahkan diri dari Sangha Agung Indonesia dan membentuk suatu organisasi sangha independen, yakni Sangha Mahayana Indonesia. Organisasi tersebut diprakarsai oleh Bhiksu Dharmasagaro. Sangha Mahayana Indonesia inilah yang mencetuskan ide pembangunan Pusdiklat Buddha Mahayana Indonesia, dengan tujuan untuk menyebarluaskan ajaran Buddha Mahāyāna di Indonesia melalui penerjemahan sutra-sutra Mahāyāna ke dalam bahasa Indonesia.[33]

Penggabungan organisasi Vajrayāna

[sunting | sunting sumber]

Kelompok aliran Tantrayāna kedua ialah Yayasan Satya Dharma Surya Indonesia yang didirikan pada tahun 1987. Kelompok ini merupakan kelompok umat Tantrayāna yang beraliran Zhanfo Zong, awalnya dipimpin oleh seorang umat Buddha bernama Harsono (kini bernama Vajracarya Harsono). Saat itu, umat Tantrayana Zhenfo Zong berjumlah lebih kurang 200 umat, dan mereka melaksanakan puja bakti dengan menumpang di wihara lain karena tidak tersedianya fasilitas yang tetap. Oleh karena itu, dibentuklah Yayasan Satya Dharma Surya Indonesia dengan pembangunan sebuah vihara di daerah Muara Karang dengan nama Vihara Vajra Bumi Jayakarta sebagai tempat ibadah Zhenfo Zong pertama di Indonesia.[34]

Pada bulan Oktober 1988, semua pemimpin Yayasan Satya Dharma Surya Indonesia dengan umat Majelis Dharma Duta Kasogatan Indonesia bertemu dan menggabung kedua yayasan ini. Penggabungan ini bermaksud untuk pembauran umat. Dengan bergabungnya berbagai aliran sebagai anggota Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi), maka Majelis Dharma Duta Kasogatan Indonesia berubah nama menjadi Majelis Agama Buddha Tantrayana Kasogatan Indonesia, diresmikan pada Oktober 1994. Pada tahun 2001, organisasi tersebut berubah nama menjadi Majelis Agama Buddha Tantrayana Zhenfo Zong Kasogatan Indonesia.[35]

Era Reformasi

[sunting | sunting sumber]

Pengakuan Konghucu

[sunting | sunting sumber]

Setelah jatuhnya Soeharto pada tahun 1998, Abdurrahman Wahid terpilih sebagai presiden keempat Indonesia. Ia mencabut Instruksi Presiden 1967 dan arahan Kementerian Dalam Negeri 1978, dan Konghucu sekali lagi secara resmi diakui sebagai agama di Indonesia. Budaya dan kegiatan Tionghoa diizinkan kembali.[36] Hal ini berdampak pada jumlah populasi Buddhis karena penganut Konghucu mulai memperbarui Kartu Tanda Penduduk (KTP) mereka, meskipun banyak orang Tionghoa-Indonesia masih belum memperbaruinya karena mereka tidak dapat menemukan garis pemisah yang jelas antara Taoisme, Konghucu, kepercayaan tradisional Tionghoa, dan Buddhisme formal.

Theravādisasi Buddhisme Indonesia

[sunting | sunting sumber]
Wihara Bodhi Sasana Jaya, sebuah wihara Buddha Theravāda yang memadukan gaya arsitektur Dayak, di Malinau, Kalimantan Utara, Indonesia
Wihara Buddha Guna, sebuah wihara Buddha Theravāda di bawah naungan Sangha Theravāda Indonesia, di Kompleks Peribadatan Puja Mandala, Badung, Bali, Indonesia

Pada tahun 2002, Sekolah Tinggi Agama Buddha Kertarajasa (STAB Kertarajasa), sebuah universitas swasta Buddhis Theravāda, didirikan untuk mengakomodasi kebutuhan akan guru agama dan penceramah Buddhis.[31][37][38] Belakangan, tradisi Pa-Auk Tawya, bersama dengan tradisi Burma lainnya, juga menanamkan akar Theravādin mereka di Indonesia dengan mendirikan berbagai cabang di seluruh negeri.[39][40] Pada tahun 2015, organisasi Theravādin terpisah lainnya, Saṅgha Bhikkhuṇī Theravāda Indonesia, mengadakan penahbisan bikuni Theravāda pertama di Indonesia di Wisma Kusalayani di Lembang, Bandung, Jawa Barat,[41] meskipun validitas penahbisan ini tetap kontroversial di kalangan konservatif (lihat Bhikkhuni#Penahbisan kembali),[42] dan tidak diakui secara resmi oleh Saṅgha Theravāda Indonesia.[43]

Wihara Buddhavamsa Singaraja, sebuah wihara Buddha Theravāda dengan gaya Arsitektur Bali, di Buleleng, Bali
Para biksu wanita "Theravāda" Indonesia dan aṭṭhasīlanī mempraktikkan pradaksina mengelilingi candi Borobudur

Studi tahun 2024 oleh Buaban, Makin, dan Sutrisno menganalisis "Theravadisasi" gerakan Buddhayana di Indonesia, dengan alasan bahwa meskipun gerakan tersebut mengklaim non-sektarian, doktrin dan ritual publiknya menjadi dominan berkarakter Theravāda. Pergeseran ini disebabkan oleh dua faktor utama: diskursus transnasional "Buddhisme modern," yang menekankan ajaran "rasional" Theravāda dan meditasi Vipassanā sebagai sesuatu yang ilmiah, dan tekanan politik Indonesia, khususnya kebijakan asimilasi Orde Baru yang memarginalkan Mahāyāna karena asosiasi kuatnya dengan budaya Tionghoa (lihat Buddhisme Han). Akibatnya, praktik Mahāyāna sebagian besar terbatas pada ruang-ruang pribadi seperti rumah dan kelenteng, sementara Theravāda disajikan di ruang publik untuk menyelaraskan dengan kebutuhan negara, sebuah fenomena yang ditunjukkan secara kasat mata dalam perayaan Waisak nasional yang didominasi Theravāda.[44]

Beragam aliran Buddhis

[sunting | sunting sumber]

Seiring waktu, ketika diskriminasi peninggalan Orde Baru semakin mereda, aliran-aliran Buddhis lainnya juga mulai membangun organisasi mereka di Indonesia. Sebuah studi tahun 2022 oleh Abdul Syukur menganalisis perdebatan teologis di antara aliran-aliran Buddhis di Indonesia, yang muncul dari persyaratan konstitusional bagi setiap agama yang diakui untuk memiliki konsep satu Tuhan. Gerakan Buddhayana berhasil mengatasi hal ini dengan merumuskan "Sanghyang Adi Buddha" sebagai nama Tuhan, berdasarkan naskah Jawa Sanghyang Kamahayanikan, sebuah langkah pragmatis yang mengamankan pengakuan negara resmi untuk Buddhisme. Namun, konsep ini ditolak oleh aliran Theravāda, yang berpendapat bahwa naskah sumbernya bukan dari Kanon Pāli (Tripitaka Pali) dan malah mengusulkan konsepnya sendiri tentang sesuatu yang absolut, tanpa nama, dan impersonal yang ditemukan dalam kitab Udāna (Tatiyanibbānapaṭisaṁyutta Sutta, Ud 8.3), yang merupakan rujukan untuk Nibbāna (Nirwana). Aliran Mahāyāna mendasarkan konsep Ketuhanannya pada prinsip filosofis dharmakaya (tubuh Buddha yang abadi dan absolut), sementara sekte Nichiren Shoshu Indonesia (NSI) mengidentifikasi Tuhan dengan Hukum Alam, yang diwujudkan dalam mantra Nammyohorengekyo, dan menganggap pendirinya, Nichiren, sebagai seorang Buddha. Doktrin-doktrin yang saling bertentangan ini, yang berasal dari ketergantungan masing-masing sekte pada kanon Buddhis yang berbeda, telah mengakibatkan perpecahan yang signifikan dan potensi konflik di dalam komunitas Buddhis Indonesia (lihat #Penistaan antar-aliran).[20]

Perwakilan nasional

[sunting | sunting sumber]

Saat ini, mengacu pada prinsip Pancasila, seorang biksu atau pandita Buddhis yang mewakili sangha atau parisā (majelis) Buddhis, bersama dengan seorang pendeta Kristen, brahmin, rohaniwan, atau perwakilan dari agama-agama lain yang diakui, berpartisipasi dalam hampir semua upacara yang disponsori negara untuk memimpin doa sesuai dengan keyakinan masing-masing.[45]

Setahun sekali, ribuan umat Buddha dari Indonesia dan negara-negara tetangga berbondong-bondong ke Borobudur untuk memperingati Hari Waisak nasional.[46]

Kelompok pribumi

[sunting | sunting sumber]
Seorang biksu Theravādin memimpin upacara Nyadran (tradisi penghormatan kepada orang mati Jawa) di Dusun Krecek, Kaloran, Temanggung, Jawa Tengah, bersama dengan orang Jawa lainnya yang menganut Kejawen, Islam, dan Katolik
Para biksu Theravāda melakukan pindapata (penerimaan dana makanan) di sekitar Wihara Bodhigiri, Balerejo, Wlingi, Blitar, Jawa Timur, Indonesia

Kantong-kantong umat Buddha Jawa ada terutama di desa-desa dan kota-kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kabupaten Temanggung, Blitar, dan Jepara memiliki sekitar 30.000 umat Buddha, sebagian besar dari etnis Jawa. Sebagai contoh, populasi Buddhis asli Jawa membentuk mayoritas di desa-desa pegunungan di kecamatan Kaloran, Temanggung, Jawa Tengah.[47] Orang Tengger, sub-etnis Jawa, mempertahankan bahwa mereka mempraktikkan keyakinan mereka dalam Buddhisme secara khusus untuk menegakkan warisan leluhur mereka,[48] meskipun mereka terutama mempraktikkan Buddhisme Theravāda pada masa sekarang,[49] alih-alih Buddhisme Esoteris Nusantara yang historis.

Sebuah minoritas kecil Sasak yang disebut "Bodha" terutama ditemukan di desa Bentek dan di lereng Gunung Rinjani, Lombok. Mereka berhasil menghindari pengaruh Islam dan memuja dewa-dewi seperti Dewi Sri dengan pengaruh Buddhis Esoteris dan Hindu dalam ritual mereka karena lokasi geografis mereka yang terpencil. Kelompok Sasak ini, sebagian karena nama suku mereka, diakui sebagai Buddhis oleh pemerintah Indonesia. Saat ini, ada lebih dari 10.000 umat Buddha di komunitas mereka, yang termasuk sebagai umat Theravāda.[50]

Di pedalaman terpencil Pulau Seram di Maluku, orang Yamatitam, sub-kelompok dari suku Alifuru pribumi, mewakili komunitas Buddhis unik lainnya. Secara tradisional hidup sederhana dan nomaden di pegunungan, komunitas mereka memiliki kontak terbatas dengan dunia luar dan tidak berbicara bahasa nasional. Perjalanan mereka menemui Theravāda dimulai setelah melakukan kontak dengan seorang umat awam, yang sebelumnya mempekerjakan mereka dan berperan sebagai rekan dagang, hingga akhirnya dengan para biksu dari Sangha Theravada Indonesia, yang mulai memberi mereka bimbingan dan dukungan spiritual sejak 2014. Hubungan ini tidak hanya memperkenalkan mereka pada ajaran Buddha, tetapi juga membantu perkembangan sosial, pendidikan, dan hubungan komunitas terpencil dengan masyarakat Indonesia yang lebih luas, terutama melalui acara-acara seperti perayaan Waisak bersama dan upacara pernikahan massal.[51]

Suku lainnya

[sunting | sunting sumber]

Upaya misionaris lainnya juga diprakarsai di antara orang Bali,[52][53] Dayak,[54][55] Batak, Karo,[56][57] dan berbagai kelompok etnis lainnya.[58] Akibatnya, distribusi Buddhis di Indonesia terdiri dari berbagai etnis, tidak terbatas pada Tionghoa-Indonesia. Selain itu, ada juga beberapa umat Buddha Theravāda Tamil[59][60] dan Thai[61][62] yang menetap di Indonesia.

Distribusi

[sunting | sunting sumber]

Menurut catatan sipil 2018, ada 2.062.150 umat Buddha di Indonesia.[63] Persentase umat Buddha di Indonesia meningkat dari 0,7% pada 2010 menjadi 0,77% pada 2018.

Buddhisme, baik tiga aliran tradisional utama (Theravāda, Mahāyāna, dan Vajrayāna) maupun versi sinkretisnya, terutama dianut oleh komunitas Tionghoa-Indonesia, diikuti oleh beberapa kelompok pribumi Indonesia, seperti Jawa, Tengger, Sasak, Bali, Dayak, Alifuru, Batak, dan Karo.

Organisasi

[sunting | sunting sumber]

Struktur organisasi Buddhisme di Indonesia modern sebagian besar ditandai oleh afiliasi wihara, yang secara garis besar dapat dikategorikan di bawah beberapa majelis agama:

Organisasi Buddhis paling terkemuka di Indonesia adalah Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) dan Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi) yang berfungsi sebagai wahana dari semua aliran Buddhis di Indonesia.

Sepuluh provinsi teratas di Indonesia dengan populasi Buddhis yang signifikan adalah Jakarta, Sumatera Utara, Kalimantan Barat, Banten, Riau, Kepulauan Riau, Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatera Selatan, dan Jawa Tengah.[3]

Provinsi (Sensus 2018.) Total populasi Populasi Buddha Persentase
Indonesia 266.534.836 2.062.150
0,77%
Jakarta 11.011.862 399.005
3,62%
Sumatera Utara 14.908.036 361.402
2,42%
Kalimantan Barat 5.427.418 330.638
6,09%
Kepulauan Riau 1.961.388 143.755
7,33%
Banten 10.868.810 136.183
1,25%
Riau 6.149.692 133.744
2,17%
Jawa Barat 45.632.714 98.780
0,22%
Jawa Timur 40.706.075 74.186
0,18%
Sumatera Selatan 8.267.779 67.504
0,82%
Kepulauan Bangka Belitung 1.394.483 66.705
4,78%
Jawa Tengah 36.614.603 53.578
0,15%
Jambi 3.491.764 34.376
0,98%
Bali 4.236.983 28.635
0,68%
Lampung 9.044.962 27.397
0,30%
Sulawesi Selatan 9.117.380 21.661
0,24%
Nusa Tenggara Barat 3.805.537 16.654
0,44%
Kalimantan Timur 3.155.252 15.535
0,49%
Kalimantan Selatan 2.956.784 12.412
0,42%
Aceh 5.253.512 7.444
0,14%
Sulawesi Tengah 2.969.475 4.339
0,15%
Kalimantan Utara 654.994 4.216
0,64%
Sulawesi Utara 2.645.118 3.957
0,15%
Sumatera Barat 5.542.994 3.638
0,07%
Daerah Istimewa Yogyakarta 3.645.487 3.155
0,09%
Kalimantan Tengah 2.577.215 2.763
0,11%
Papua 4.346.593 2.355
0,05%
Bengkulu 2.001.578 2.180
0,11%
Sulawesi Tenggara 1.755.193 2.118
0,12%
Gorontalo 1.181.531 977
0,08%
Papua Barat 1.148.154 957
0,08%
Sulawesi Barat 1.563.896 478
0,03%
Nusa Tenggara Timur 5.426.418 448
0,01%
Maluku 1.864.229 395
0,02%
Maluku Utara 1.314.849 150
0,01%

Sastra dan seni

[sunting | sunting sumber]

Sastra Buddhis

[sunting | sunting sumber]

Sastra kuno

[sunting | sunting sumber]

Lalitavistara Sutra dikenal oleh para pemahat batu Mantranaya dari Borobudur (lihat Lalitavistara Sutra). 'Mantranaya' bukanlah korupsi atau salah eja dari 'mantrayana' meskipun sebagian besar sinonim. Mantranaya adalah istilah untuk tradisi esoteris mantra, garis keturunan tertentu dari Vajrayana dan Tantra, di Indonesia. 'Mantranaya' yang jelas terdengar seperti bahasa Sanskerta terbukti dalam literatur tantra Jawa Kuno, terutama sebagaimana didokumentasikan dalam naskah tantra Buddhis esoteris tertua di Jawa Kuno, Sang Kyang Kamahayanan Mantranaya.[64][65]

Kanon Buddhis

[sunting | sunting sumber]
Kereta Kencana Tipiṭaka membawa Tripitaka Pali selama prosesi Asaḷha Mahāpūjā dari Mendut ke Borobudur

Di Indonesia modern, literatur Buddhis yang digunakan berasal dari kanon Buddhis kuno yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Aliran Theravāda menekankan penggunaan Kanon Pāli (Tipiṭaka) dalam bahasa Pāli beserta kitab-kitab komentar, kitab-kitab subkomentar, dan terjemahannya; aliran Mahayana sebagian besar mengambil dari Kanon Buddhis Tiongkok dalam bahasa Tionghoa Klasik dan terjemahannya; dan aliran Vajrayana mengandalkan Kanon Buddhis Tibet (Kangyur dan Tengyur), tergantung pada garis keturunan penahbisannya.

Oleh karena volume kanon yang besar, setiap aliran lebih sering menggunakan buku paritta atau dharani untuk pelantunan harian hingga mingguan,[66] meskipun kanon tetap menjadi dasar utama untuk khotbah dan studi mendalam (pariyatti).[67]

Seni Buddhis

[sunting | sunting sumber]

Seni kuno

[sunting | sunting sumber]

Seperti bagian lain di Asia Tenggara, Indonesia tampaknya paling kuat dipengaruhi oleh India sejak abad ke-1 M. Pulau Sumatra dan Jawa di Indonesia bagian barat adalah pusat kerajaan Sriwijaya (abad ke-8–13), yang kemudian mendominasi sebagian besar wilayah di sekitar semenanjung Asia Tenggara melalui kekuatan maritim. Kekaisaran Sriwijaya telah mengadopsi Buddhisme Mahayana dan Vajrayana, di bawah garis penguasa bernama wangsa Syailendra. Syailendra adalah pembangun candi yang tekun dan pelindung setia Buddhisme di Jawa.[68] Sriwijaya menyebarkan seni Buddhis Mahayana selama ekspansinya ke semenanjung Asia Tenggara. Banyak arca Bodhisatwa Mahayana dari periode ini ditandai oleh kehalusan dan kecanggihan teknis yang sangat kuat, dan ditemukan di seluruh wilayah. Salah satu prasasti Buddhis tertua di Jawa, Prasasti Kalasan bertanggal 778, menyebutkan tentang pembangunan candi untuk dewi Tara.[68]

Peninggalan arsitektur yang sangat kaya dan halus ditemukan di Jawa dan Sumatra. Yang paling megah adalah candi Borobudur (struktur Buddhis terbesar di dunia, dibangun sekitar 780–850 M), yang dibangun oleh Syailendra.[68] Candi ini meniru konsep alam semesta Buddhis, Mandala yang memiliki 505 gambar Buddha yang sedang duduk dan stupa berbentuk lonceng unik yang berisi arca Buddha. Borobudur dihiasi dengan rangkaian panjang bas-relief yang menceritakan kitab suci Buddhis.[69] Struktur Buddhis tertua di Indonesia mungkin adalah stupa Batujaya di Karawang, Jawa Barat, yang berasal dari sekitar abad ke-4. Candi ini berupa beberapa stupa bata yang dilapisi plester. Namun, seni Buddhis di Indonesia mencapai era keemasan selama pemerintahan wangsa Syailendra di Jawa. Bas-relief dan arca Bodhisatwa, Tara, dan Kinnara yang ditemukan di Kalasan, Sewu, Sari, dan Plaosan sangat anggun dengan ekspresi yang tenang, Sementara candi Mendut di dekat Borobudur, menampung arca raksasa Wairocana, Awalokiteswara, dan Wajrapani.

Di Sumatra, Sriwijaya mungkin membangun candi Muara Takus dan Muaro Jambi. Contoh terindah dari seni Buddhis Jawa klasik adalah arca Pradnyaparamita dari Jawa yang tenang dan halus (koleksi Museum Nasional Jakarta), menggambarkan personifikasikebijaksanaan transendental dari kerajaan Singhasari.[70] Lambat laun, Sriwijaya merosot karena konflik dengan penguasa Chola dari India, kemudian diikuti oleh kerajaan Majapahit.

Musik Buddhis kontemporer

[sunting | sunting sumber]

Di Indonesia kontemporer, beberapa kelompok Buddhis mengembangkan gaya ibadah baru dengan mengadaptasi musik populer untuk menarik pengikut yang lebih muda. Contoh yang menonjol adalah True Direction, sebuah grup musik rok Buddhis dan organisasi musik dari Jakarta yang didirikan oleh Irvyn Wongso pada tahun 2015. Grup ini menciptakan "rok Buddhis", musik rok dan populer dengan lirik yang berpusat pada ajaran Buddha dengan gaya yang menyerupai musik Kristen kontemporer. Alih-alih menggantikan praktik bakti Buddhis tradisional, True Direction bertujuan untuk melengkapinya, menggunakan musik sebagai alat misionaris untuk melibatkan kaum muda yang mungkin tidak tertarik mengunjungi wihara. Organisasi ini berfungsi sebagai sekolah musik untuk melatih musisi dan memproduksi lagu-lagu Buddhis modern seperti dalam album Dhamma is My Way yang mereka promosikan melalui media sosial. Meskipun pendekatan inovatif ini telah berhasil menjangkau audiens yang lebih muda di Indonesia, Malaysia, dan Singapura, grup musik tersebut juga menuai kritik dari beberapa Buddhis konservatif Indonesia yang khawatir tentang gaya yang "terkristenisasi" dan potensinya dalam merusak pemahaman kaum muda atas ajaran Buddha. Kendati demikian, gerakan ini menandakan "adaptasi selektif" budaya modern untuk mengemas ulang dan menyebarkan ajaran Buddha di negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia.[71] Grup musik ibadah kontemporer Buddhis terkenal lainnya adalah Buddhist Worship, Sadhu United, dan Kalyana Project.

Hari raya

[sunting | sunting sumber]
Umat Buddha Indonesia mengambil bagian dalam meditasi dan prosesi cahaya lilin

Peristiwa keagamaan Buddha terpenting di Indonesia adalah Waisak (bahasa Indonesia: Waisak). Setahun sekali, selama bulan purnama pada bulan Mei atau Juni, umat Buddha di Indonesia merayakan hari Waisak untuk memperingati kelahiran, kematian, dan saat ketika Siddhārtha Gautama mencapai kebijaksanaan tertinggi dan menjadi Buddha. Waisak adalah hari libur nasional resmi di Indonesia[72] dan upacaranya dipusatkan di tiga candi Buddha dengan berjalan kaki dari Mendut ke Pawon dan berakhir di Borobudur.[73] Waisak juga sering dirayakan di candi Sewu dan banyak wihara daerah di Indonesia.

Indonesia Tipiṭaka Chanting 2024 di Borobudur, Jawa Tengah

Di Indonesia, perayaan tahunan Asalha (juga dikenal sebagai Asadha) juga dipusatkan di Candi Borobudur, yang diselenggarkan bersamaan dengan Indonesia Tipiṭaka Chanting (ITC). Dimulai pada tahun 2015, acara ini biasanya berlangsung selama tiga hari dengan dilantunkannya ayat-ayat dari Kanon Pāli (Tripitaka Pali) dalam bahasa Pāli, dan diamalkannya Delapan Sila oleh para umat. Perayaan ini memuncak dalam prosesi puja agung dengan ribuan peserta berjalan dengan penuh kesadaran dari Mendut ke Borobudur, untuk memperingati khotbah pertama Buddha.[74][75]

Diskriminasi dan protes

[sunting | sunting sumber]

Pembongkaran patung

[sunting | sunting sumber]

Pada Oktober 2010, komunitas Tionghoa-Indonesia di Kota Tanjungbalai, Sumatera Utara, memprotes rencana pemerintah kota untuk membongkar patung Buddha di atas Wihara Tri Ratna.[76][77] Pada Oktober 2016, terjadi penurunan patung Buddha Amitābha di wihara yang sama, setelah ada desakan dari organisasi masyarakat yang didukung oleh Pemerintah Kota Tanjung Balai, Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan Forum Komunikasi Antar Umat Beragama (FKUB).[78]

Perusakan fasilitas

[sunting | sunting sumber]

Pada Agustus 2013, terjadi Pengeboman Vihara Ekayana 2013 di Jakarta Barat. Pada November 2016, sebuah bom rakitan ditemukan di depan Wihara Buddha Tirta, sebuah wihara di Lhokseumawe, Aceh.[79] Pada bulan yang sama, juga terjadi peristiwa Bom Singkawang 2016 dengan diledakannya bom molotov di Vihara Budi Dharma, Singkawang Barat, Kalimantan Barat.

Pada Juli 2016, beberapa wihara dijarah dan dibakar di Kota Tanjungbalai, Sumatera Utara, menyusul protes yang dipicu oleh seorang warga keturunan Tionghoa, Meliana, yang mengeluhkan volume keras azan (panggilan salat Islam) dari masjid terdekat. Meskipun Meliana kemudian meminta maaf, desas-desus yang beredar di media sosial menghasut massa sekitar 1.000 orang untuk menyerang wihara-wihara bersama dengan toko-toko dan rumah-rumah serta yayasan sosial milik Tionghoa-Indonesia. Meskipun ada upaya mediasi dan seruan untuk tenang oleh tokoh-tokoh lokal, kekerasan tetap meningkat sehingga menyebabkan dirusaknya atau dibakarnya setidaknya delapan wihara dan pagoda. Pihak berwenang mengerahkan ratusan polisi dan personel militer untuk memulihkan ketertiban, dan kemudian menangkap beberapa tersangka sehubungan dengan serangan itu. Kejadian ini menuai kecaman luas dari para pemimpin agama dan masyarakat, dan menyoroti kekhawatiran tentang intoleransi agama dan misinformasi di Indonesia.[80]

Pada Agustus 2024, seorang pria bernama Haryanto merusak Vihara Dharma Murni karena dianggap tidak sesuai dengan akidah yang diyakininya di kawasan Kavling Lama, Sagulung, Kota Batam, Kepulauan Riau. Dalam aksinya, pelaku mengenakan cadar dan membawa senjata tajam berupa dua buah parang dan pisau. Pelaku membakar patung dan ornamen vihara menggunakan BBM jenis Pertalite yang sudah disiapkan sebelumnya.[81][82]

Pengusiran tokoh

[sunting | sunting sumber]

Pada Februari 2018, terjadi peristiwa persekusi terhadap seorang biku, Mulyanto Nurhalim, di Desa Babat, Kecamatan Legok, Kabupaten Tangerang, ketika ia dipaksa menandatangani surat pernyataan untuk meninggalkan kediamannya setelah dituding menyebarkan ajaran Buddha melalui kegiatan doa bersama dan bakti sosial. Video pembacaan surat tersebut kemudian viral di media sosial dan memicu perhatian publik, sementara pihak kepolisian setempat menjelaskan bahwa warga salah paham terhadap aktivitas Mulyanto yang sebenarnya hanya menerima tamu dan mendoakan mereka. Kemudian, rapat bersama antara tokoh masyarakat dan aparat akhirnya menyimpulkan bahwa kasus tersebut berawal dari kesalahpahaman warga terhadap kegiatan seorang biksu yang telah lama menetap di desa tersebut.[83]

Penistaan antar-aliran

[sunting | sunting sumber]

Pada 2 Juni 2020, beberapa aktivis Buddhis melaporkan Leo Pratama Limas, seorang fundamentalis Buddhis Tionghoa-Indonesia, atas dugaan ujaran kebencian. Sidangnya dimulai pada 24 September 2020 di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, ketika ia didakwa berdasarkan UU ITE Indonesia. Dakwaan tersebut didasarkan pada khotbah-khotbahnya di YouTube, yang dianggap menghina tradisi Mahāyāna. Ia didakwa menyebut Kwan Im sebagai "setan air" dan "setan cengeng", dan merujuk pada dewi utama Yiguandao (Wusheng Laomu) sebagai "tuhan betina". Leo juga diduga telah menodai sutra-sutra Mahāyāna seperti Mahākaruṇā Dhāraṇī dan Sutra Intan dengan menginjak, membakar, dan merendamnya di air, serta menghina Ashin Jinarakkhita, pendiri Majelis Buddhayana Indonesia antar-sekte, yang ia sebut "pertapa dungu". Dalam pembelaannya, Leo berargumen bahwa tindakannya bukanlah penistaan agama, melainkan upaya untuk mencerahkan umat Buddha yang ia yakini telah tersesat sembari mengklaim bahwa kitab suci yang dirusaknya adalah kitab sesat karena tidak bersumber dari kepustakaan Pali yang berbahasa Pali.[84][85]

Lihat pula

[sunting | sunting sumber]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. "Religion in Indonesia".
  2. Muslim 244 Juta (87.1), Kristen 29.4 Juta (10.5), Hindu 4.73 juta (1.7), Buddha 2 juta (0.7), Konghucu 76.019 (0.03), Kepercayaan rakyat dan lainnya 99.045 (0.04), Total 280.725.428 Juta
  3. 1 2 Garnesia, Irma (29 Mei 2018). "Manakah Wilayah dengan Umat Buddha Terbanyak?". tirto.id. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2022-07-03. Diakses tanggal 2020-11-12.
  4. 1 2 3 "Buddhism in Indonesia". Buddha Dharma Education Association. 2008. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2002-02-14. Diakses tanggal 2022-01-11.
  5. Acri, Andrea (20 Desember 2018). "Maritime Buddhism". Oxford Research Encyclopedia of Religion. Oxford: Oxford University Press. doi:10.1093/acrefore/9780199340378.013.638. ISBN 9780199340378. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 Februari 2019. Diakses tanggal 30 Mei 2021.
  6. Flanagan, Anthony (2006). "Buddhist Art: Indonesia". About. Diarsipkan dari asli tanggal August 19, 2007. Diakses tanggal 2006-10-03.
  7. P. 487 Buddhism: art, architecture, literature & philosophy, Volume 1
  8. ACRI, ANDREA. ESOTERIC BUDDHISM IN MEDIAEVAL MARITIME ASIA. This includes a charter from mid 9th-cen- tury Nālandā, where a monastery for Sumatran monks was endowed by a Pāla king
  9. Depkumham.go.id Diarsipkan 2010-02-12 di Wayback Machine.
  10. "History of Buddhism in Indonesia". Diarsipkan dari asli tanggal 26 April 2012. Diakses tanggal 13 Desember 2011.
  11. 1 2 3 4 Yulianti (2024-07-23). The Making of Buddhism in Modern Indonesia (dalam bahasa Inggris). Amsterdam University Press. ISBN 978-90-8728-394-0.
  12. Ramstedt, Martin, ed. (2004). Hinduism in modern Indonesia: a minority religion between local, national, and global interests. RoutledgeCurzon--IIAS Asian studies series. London New York: RoutledgeCurzon. ISBN 978-0-203-98727-8.
  13. Melton, J. Gordon; Baumann, Martin (2010), Religions of the World, Second Edition: A Comprehensive Encyclopedia of Beliefs and Practices, ABC-CLIO
  14. Yulianti (2022-03-03). "The Birth of Buddhist Organizations in Modern Indonesia, 1900–1959". Religions (dalam bahasa Inggris). 13 (3): 217. doi:10.3390/rel13030217. ISSN 2077-1444.
  15. "MBI". KBI - Keluarga Buddhayana Indonesia. Diakses tanggal 2025-08-24.
  16. "Sagin". KBI - Keluarga Buddhayana Indonesia. Diakses tanggal 2025-08-24.
  17. 1 2 3 Suryadinata, Leo (1995), Prominent Indonesian Chinese: Biographical Sketches, Institute of Southeast Asian Studies
  18. cf. Bunge (1983), chapter Buddhism Diarsipkan 2009-10-15 di Wayback Machine..
  19. 1 2 Harvey, Peter (1995), An introduction to Buddhism. Teachings, history and practices, Cambridge University Press
  20. 1 2 Syukur, Abdul (2022-01-24). "Theological debate among Buddhist sects in Indonesia". HTS Teologiese Studies / Theological Studies (dalam bahasa Inggris). 78 (4): 8. doi:10.4102/hts.v78i4.7054. ISSN 2072-8050.
  21. Yang, Heriyanto (2005). "The history and legal position of Confucianism in postindependence". Marburg Journal of Religion (dalam bahasa Inggris). 10 (1). doi:10.17192/mjr.2005.10.3627. ISSN 1612-2941.
  22. Chambert-Loir, Henri (2015). "Confucius Crosses the South Seas". Indonesia (99): 67–107. doi:10.5728/indonesia.99.0067. ISSN 0019-7289. JSTOR 10.5728/indonesia.99.0067.
  23. Adolf Heuken, 'Archdiocese of Jakarta - a Growing Local Church (1950–2000)' in Een vakkracht in het Koninkrijk. Kerk- en zendingshistorie opstellen onder redactie van dr. Chr.G.F. de Jong (2005:104-114) ISBN 90-5829-611-3.
  24. 1 2 "In Indonesia, Lunar New Year an old practice for young Christians". Agence France-Presse. February 7, 2008. Diarsipkan dari asli tanggal 28 November 2011. Diakses tanggal 2024-05-29.
  25. Brazier, Roderick (2006-04-27). "Opinion | In Indonesia, the Chinese go to church". The New York Times (dalam bahasa American English). ISSN 0362-4331. Diakses tanggal 2024-05-29. Of the estimated five million ethnic Chinese in Indonesia, well over 70 percent are now Christian.
  26. H. Bechert, “The Buddhayana of Indonesia: A Syncretistic Form of Theravada,” Journal of the Pali Text Society 9 (1981), 12.
  27. Wowor, Cornelis. "Awal Sangha Theravada Indonesia". Samaggi Phala. Diakses tanggal 2024-02-18.
  28. Sangha Theravada Indonesia. "Sejarah STI". Sangha Theravada Indonesia. Diakses tanggal 2024-02-18.
  29. "Sejarah Sekolah Tinggi Agama Nalanda". STAB Nalanda. 2016-05-09. Diarsipkan dari asli tanggal 2020-07-13. Diakses tanggal 2020-04-28.
  30. "Nalanda Buddhist Education Foundation". IATBU: The International Association of Theravāda Buddhist Universities. Diakses tanggal 2024-10-11.
  31. 1 2 "The Revival of the Theravāda Higher Learning Institutions in Indonesia". IATBU: The International Association of Theravāda Buddhist Universities. Diakses tanggal 2024-10-11.
  32. "Sejarah kasogatan". Zhenfozong Kasogatan. 2021-07-16. Diakses tanggal 2025-10-21.
  33. Pusdiklat Buddhis Bodhidharma. Sangha Mahayana Indonesia. Diarsipkan 2014-02-28 di Wayback Machine.
  34. "Sejarah Yayasan Satya Dharma Surya Indonesia". Zhenfozong Kasogatan. 2021-07-16. Diakses tanggal 2025-10-21.
  35. "Penggabungan Yayasan Satya Dharma Surya Indonesia dan Kasogatan". Zhenfozong Kasogatan. 2021-07-16. Diakses tanggal 2025-10-21.
  36. Syryadinata 2005, hlm. 77–94; Sai & Hoon 2013; Sandkühler 2014, hlm. 157–84; Chambert-Loir 2015, hlm. 67–107.
  37. "Sejarah". STAB Kertarajasa. Diakses tanggal 2024-10-11.
  38. "Visi & Misi". STAB Kertarajasa. Diakses tanggal 2024-10-11.
  39. "PATVDH Indonesia: Sejarah Yayasan Bodhinanda". Bodhinanda: Pa-Auk Tawya Vipassanā-dhura Hermitage Pekanbaru. Diakses tanggal 2025-05-13.
  40. Suanda, Yulia. "Tentang Kami: Dhammavihārī Buddhist Studies". Dhammavihārī Buddhist Studies. Diakses tanggal 2025-05-13.
  41. Bliss, Michael (22 Juni 2015). "First Theravada Ordination of Bhikkhunis in Indonesia After a Thousand Years" (PDF). Buddhazine.com. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2016-09-14.
  42. Indasilo, W. (2003-10-23). "Sangha Bhikkhuni Theravada". Samaggi Phala. Diakses tanggal 2025-05-13.
  43. Sangha Theravada Indonesia (2010-10-15). "Kesepakatan Bersama (tentang Bhikkhuni Theravada)". Samaggi Phala. Diakses tanggal 2025-05-13.
  44. Buaban, Jesada; Makin, Al; Sutrisno, Evi Lina (2024-06-24). "Theravadization of Buddhayana under the discourse of modern Buddhism and Indonesian politics". Simulacra (dalam bahasa Inggris). 7 (1): 97–111. doi:10.21107/sml.v7i1.25102. ISSN 2656-8721.
  45. Efizudin, Anis (2018-05-25). "Doa Lintas Agama Untuk NKRI". Antara News. Diakses tanggal 2025-08-24.
  46. "Vesak Festival: A Truly Sacred Experience". Wonderful Indonesia. Diarsipkan dari asli tanggal 4 Mei 2015. Diakses tanggal 4 Mei 2015.
  47. "Sepenggal Asa dari Kampung Buddha". Tempo. 2009-05-10. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2022-06-18. Diakses tanggal 2020-11-12.
  48. Budiyono. "Melestarikan Budaya Leluhur Melalui Ritual Keagamaan". Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha - Kementerian Agama Republik Indonesia. Diakses tanggal 2025-08-23.
  49. Ngasiran (2019-06-09). "Melihat Lebih Dekat Persiapan Waisak Umat Buddha Suku Tengger". Buddhazine. Diakses tanggal 2025-08-23.
  50. "Rediscovering an Ancient Heritage in Indonesia". Buddhistdoor Global. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2022-06-25. Diakses tanggal 2022-08-04.
  51. Ngasiran (2019-05-09). "Mengenal Umat Buddha Yamatitam Maluku". Buddhazine. Diakses tanggal 2025-08-23.
  52. Sam, Andre (2016-09-07). "Menemukan Kembali Akar Spiritualitas, Agama Buddha di Bali". Buddhazine. Diakses tanggal 2025-08-23.
  53. Bagian Tata Usaha (2025-04-30). "Umat Buddha Bali Peringati Waisak 2569 BE/2025 Dengan Aksi Pelestarian Lingkungan". Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali.
  54. Metta, Lestiana; Budiyanto, Ary (2013). "Negosiasi Buddhisme dalam Ritual Aruh Baharin Dayak Halong" (PDF). Etnicity and Globalization" International Conference & Summer School on Indonesian Studies (ICSSIS): 350–352.
  55. Yunita (2021-06-16). "Adat Siwahan dalam Perayaan Waisak di Suku Dayak". Buddhazine. Diakses tanggal 2025-08-24.
  56. "Perjalanan Sosok Pengabdi Buddha Dhamma Di Bumi Andalas". Indonesian Buddhist Society's Blog. 2010-02-25. Diakses tanggal 2025-10-21.
  57. Sembiring, Edi (2016-01-13). "Agama Buddha di Tanah Karo". SoraSirulo.Com. Diakses tanggal 2025-08-23.
  58. Hakiki, Ahmad (2024-06-24). "Gelaran Dharmasanti Waisak 2024: Tonggak Sejarah Solidaritas Umat Buddha Sumatera Utara". Kantor Wilayah Provinsi Sumatera Utara Kementerian Agama Republik Indonesia.
  59. Budiyono (2023-06-26). "Bertemu Umat Buddha Tamil, Dirjen Sampaikan Komitmen Layani Semua Umat Buddha". Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama Republik Indonesia. Diakses tanggal 2025-08-23.
  60. Sinaga, Nikson (2023-06-04). "Sukacita Perayaan Waisak Buddha Tamil, Simbol Multietnis Nusantara". Kompas.id. Diakses tanggal 2025-08-23.
  61. "Kunjungan Duta Besar Thailand Ke Vihāra Jakarta Dhammacakka Jaya". Sangha Theravada Indonesia. 2023-02-26. Diakses tanggal 2025-08-23.
  62. Ana, Surahman (2023-07-08). "Sangha Theravada Dhammayut Indonesia Bahas Perkembangan Agama Buddha Indonesia". Buddhazine. Diakses tanggal 2025-08-23.
  63. "Statistik Umat Menurut Agama di Indonesia". Kementerian Agama. 15 Mei 2018. Diarsipkan dari asli tanggal 3 September 2020. Diakses tanggal 15 November 2020. Muslim 231.069.932 (86.7), Kristen 20.246.267 (7.6), Katolik 8.325.339 (3.12), Hindu 4.646.357 (1.74), Buddha 2.062.150 (0.77), Konghucu 117091 (0.03), Lainnya 299617 (0.13), Tidak Menyatakan 139582 (0.06), Tidak Ditanya 757118 (0.32), Total 237641326
  64. Ishii, Kazuko (1992). "The Correlation of Verses of the 'Sang Kyang Kamahayanan Mantranaya' with Vajrabodhi's 'Japa-sutra'". Area and Culture Studies Vol. 44. Source: Diarsipkan 2020-04-06 di Wayback Machine. (diakses: 1 Februari 2010)
  65. Kandahjaya, Hudaya (2020). Kitab Suci Saṅ Hyaṅ Kamahāyānikan: Teks dan Terjemahan. Jakarta Barat: Penerbit Dian Dharma. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  66. "Buku Paritta Suci". Samaggi Phala. Diakses tanggal 2025-08-20.
  67. "Kelas Pariyatti Sāsana". Dhammavihari Buddhist Studies. Diakses tanggal 2025-08-20.
  68. 1 2 3 Jean Philippe Vogel; Adriaan Jacob Barnouw (1998) [1936]. Buddhist Art in India, Ceylon, and Java. Asian Educational Services. hlm. 90–92. ISBN 978-8120612259.
  69. John Miksic (2012). Borobudur: Golden Tales of the Buddhas. Tuttle Publishing. ISBN 978-1462909100.
  70. "Prajnaparamita". Virtual Collections of Asian Masterpieces. Diakses tanggal 27 Agustus 2017.
  71. Chia, Jack Meng-Tat (2020-12-15). "Singing to Buddha: The Case of a Buddhist Rock Band in Contemporary Indonesia". Archipel. Études interdisciplinaires sur le monde insulindien (dalam bahasa Inggris). 100 (100): 175–197. doi:10.4000/archipel.2131. ISSN 0044-8613.
  72. "Keputusan Bersama tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama tahun 2006" (Press release). Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat. Diarsipkan dari asli tanggal March 7, 2008. Diakses tanggal 17 Agustus 2008.
  73. "The Meaning of Procession". Waisak. Walubi (Buddhist Council of Indonesia). Diarsipkan dari asli tanggal 11 Februari 2009. Diakses tanggal 28 Desember 2008.
  74. "Tipitaka Chanting – Indonesia Tipitaka Chanting – Asalha Mahapuja". Diakses tanggal 2025-08-20.
  75. Budiyono, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha-Kementerian Agama. "Perayaan Asalha Mahapuja 2569 BE / 2025 di Borobudur: Semarak Spirit Dhamma dan Kesadaran | Ditjen Bimas Buddha Kemenag RI". Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha - Kementerian Agama RI. Diakses tanggal 2025-08-20.
  76. Apriadi Gunawan (20 Oktober 2010). "Indonesian-Chinese protest removal of Buddha statue". The Jakarta Post. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 April 2022. Diakses tanggal 21 Maret 2012.
  77. "Patung Buddha di Vihara Tanjung Balai Pecinan Digusur; Alasannya Karena Dianggap Menghina Agama Mayoritas | Tionghoa.INFO". 17 April 2021. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 3 Juli 2021. Diakses tanggal 5 Februari 2017.
  78. "Penurunan patung Buddha di Tanjung Balai dianggap mengancam keberagaman". BBC News Indonesia.
  79. "Bomb placed near Buddhist temple door in Aceh". The Jakarta Post. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2022-08-04. Diakses tanggal 2022-08-04.
  80. "Vihara, pagodas burned down, plundered in N. Sumatra". The Jakarta Post. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2022-09-12. Diakses tanggal 2022-08-04.
  81. Yennosa, Gusti (8 Agustus 2024). "Terekam CCTV, Pria di Batam Membabi Buta Bakar Tempat Ibadah : Okezone News". Okezone News.
  82. Yennosa, Gusti (8 Agustus 2024). "Terekam CCTV, Pria Bawa Parang Rusak Tempat Ibadah Vihara di Sagulung Batam". Okezone News.
  83. Joniansyah (12 Februari 2018). "Cerita di Balik Video Viral Persekusi Biksu di Legok". Tempo.
  84. Ngasiran (2020-10-13). "Buntut Panjang "Ujaran Kebencian" Leo Pratama Limas". Buddhazine. Diakses tanggal 2025-08-23.
  85. Ngasiran (2020-10-18). "Leo Pratama Limas Klaim Mahayana dan Bahasa Sanskerta Sesat". Buddhazine. Diakses tanggal 2025-08-23.

Bibliografi

[sunting | sunting sumber]
  • Kimura B. (2003). Present Situation of Indonesian Buddhism: In Memory of Bhikkhu Ashin Jinarakkhita Mahasthavira, Nagoya Studies in Indian Culture and Buddhism: Sambhasa 23, 53–72
  • Sai, Siew-Min; Hoon, Chang-Yau, ed. (2013). Chinese Indonesians Peassessed. History, Religion and Belonging. London; New York: Routledge.
  • Sandkühler, Evamaria (2014). "Popularisation of Religious Traditions in Indonesia — Historical Communication of a Chinese Indonesian Place of Worship". Dalam Schlehe, Judith; Sandkühler, Evamaria (ed.). Religion, Tradition and the Popular. Transcultural Views from Asia and Europe. Bielefeld: transcript. hlm. 157–84. ISBN 978-3-8376-2613-1.
  • Syryadinata, Leo (2005). "Buddhism and Confucianism in Contemporary Indonesia: Recent Developments". Dalam Lindsey, Tim; Pausacker, Helen (ed.). Chinese Indonesians: Remembering, Distorting, Forgetting. Singapore: ISEAS: Institute of Southeast Asian Studies. hlm. 77–94. ISBN 978-981-230-303-5.

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]

Media tentang Buddhism in Indonesia di Wikimedia Commons