Umat Katolik Mangalore

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Umat Katolik Mangalore
Kodialchein Katholik
Kodialche Katholik.jpg
Daerah dengan populasi signifikan
Keuskupan Mangalore360.000[1]
Bahasa
Konkani
Agama
Kristen (Katolik Roma)
Suku bangsa terkait
Katolik Goa, Katolik Karwari, Brahmin Saraswat Goud, Brahmin Saraswat Rajapur, Brahmin Saraswat Chitrapur, Brahmin Daivadnya, Konkan Maratha, Vaishya Vani, Indo-Arya

Umat Katolik Mangalore (Konkani: Kodialchein Katholik) adalah sebuah komunitas etno-religius Katolik Roma yang mengikuti Ritus Latin dari Keuskupan Mangalore (terletak di distrik Kanara Selatan) di pesisir barat daya Karnataka, India.[2][3] Mereka adalah orang Konkani dan berbicara dalam bahasa Konkani.

Umat Katolik Mangalore masa kini utamanya merupakan keturunan dari umat Katolik Goa yang melakukan migrasi ke Kanara Selatan antara tahun 1560–1573 selama masa Inkuisisi Goa, peperangan antara PortugisAdil Shahi, dan peperangan antara Portugis–Maratha. Mereka belajar bahasa-bahasa Kanara Selatan, Tulu, dan Kannada, tetapi tetap mempertahankan Konkani sebagai bahasa ibu mereka serta melestarikan gaya hidup mereka. Pembuangan selama 15 tahun di Seringapatam dalam masa Tipu Sultan, penguasa de facto dari Kerajaan Mysore, sejak 24 Februari 1784 hingga 4 Mei 1799, menyebabkan hampir punahnya komunitas tersebut. Setelah kekalahan Tipu oleh Britania pada tahun 1799, komunitas tersebut bermukim kembali di Kanara Selatan, dan kemudian berkembang di bawah kekuasaan Britania.

Meskipun berbagai pernyataan awal mengenai suatu identitas Katolik Mangalore yang berbeda bermula dari periode migrasi, namun perkembangan identitas budaya Katolik Mangalore baru timbul setelah masa pembuangan. Budaya umat Katolik Mangalore merupakan perpaduan antara budaya Mangalore dan Goa. Setelah migrasi, mereka mengadopsi beberapa aspek budaya Mangalore setempat, tetapi mempertahankan banyak tradisi dan kebiasaan mereka dari Goa; dan layaknya leluhur mereka dari Goa, budaya Katolik Mangalore modern dapat digambarkan secara tepat sebagai suatu budaya Indo-Latin yang disesuaikan dengan norma-norma Inggris. Diaspora Katolik Mangalore sebagian besar terkonsentrasi di negara-negara Arab di Teluk Persia dan Anglosfer.

Identitas etnis[sunting | sunting sumber]

Umat Katolik Roma dari Keuskupan Mangalore (dulunya distrik Kanara Selatan) dan keturunan mereka umumnya dikenal sebagai umat Katolik Mangalore.[2] Keuskupan tersebut terletak di pesisir barat daya India, mencakup distrik sipil Dakshina Kannada dan Udupi di negara bagian Karnataka, serta Kasaragod di negara bagian Kerala. Wilayah ini secara kolektif disebut sebagai Kanara Selatan pada zaman Raj Britania dan kemudian menjadi bagian dari pemisahan India sampai Undang-Undang Reorganisasi Negara-Negara Bagian pada tahun 1956.[1]

Pada tahun 1526, kapal-kapal Portugis tiba di Mangalore, dan jumlah penduduk setempat yang berpindah ke agama Kristen meningkat secara perlahan. Namun populasi umat Kristen yang cukup besar baru terlihat sejak paruh kedua abad ke-16, ketika terjadi imigrasi umat Kristen dalam skala besar dari Goa ke Kanara Selatan. Mereka enggan mempelajari bahasa lokal Kanara Selatan dan tetap menggunakan bahasa Konkani, bahasa yang mereka bawa dari Goa, sehingga umat Kristen setempat harus mempelajari Konkani untuk berkomunikasi dengan mereka.[4] Setelah migrasi ini, para petani Katolik Goa yang terampil ditawarkan berbagai hibah lahan oleh para penguasa Bednore setempat dari Kanara Selatan.[4] Mereka menjalankan kebiasaan Hindu mereka sesuai tradisi bersamaan dengan praktik-praktik Katolik yang baru tersebut, dan mereka tetap melestarikan gaya hidup mereka.[5]

Kebanyakan migran (pendatang) adalah orang-orang dari strata ekonomi rendah yang telah meninggalkan pekerjaan-pekerjaan di bidang perekonomian dan pemerintahan; lahan mereka telah disita akibat pajak yang berat di bawah pemerintahan Portugis di Goa. Sebagai konsekuensi dari hak-hak istimewa dan kemakmuran yang dinikmati para migran Goa di Mangalore, mereka mulai merasa lebih unggul (superior) dibanding kerabat mereka di Goa yang tidak memiliki lahan. Pembuangan di Seringapatam (1784–1799), di mana banyak yang meninggal, dibunuh, atau terpaksa memeluk Islam, menyebabkan terbentuknya suatu identitas budaya Katolik Mangalore yang umum dan terpisah di kalangan komunitas tersebut, yang hingga kini menganggap diri mereka sebagai suatu perluasan komunitas Katolik Goa yang lebih besar. Namun mereka tidak lagi mengidentifikasi diri sebagai umat Katolik Goa.[6][7] Setelah masa pembuangan, kemakmuran di bawah kekuasaan Britania dan di bawah pengaruh Yesuit Italia, diikuti dengan migrasi demi pekerjaan ke Bombay, Kalkuta, Poona, negara-negara Arab di Teluk Persia, dan Anglosfer, memungkinkan komunitas tersebut untuk memulihkan identitas mereka.[8] Sebagian besar umat Katolik Mangalore merupakan keturunan dari komunitas Brahmin Saraswat Goud.[9][10] Sejarawan Alan Machado Prabhu memperkirakan bahwa hampir 95 persen umat Katolik Mangalore memiliki asal-usul dari Goa.[11]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Masa pra-migrasi[sunting | sunting sumber]

Kepulauan Santa Maria di Udupi, di mana penjelajah Portugis Vasco da Gama mendarat tahun 1498

Semua catatan dari awal keberadaan umat Kristen di Kanara Selatan hilang pada saat pembuangan mereka oleh Tipu Sultan pada tahun 1784. Karenanya tidak diketahui pasti kapan agama Kristen diperkenalkan di Kanara Selatan, meskipun ada kemungkinan bahwa umat Kristen Suriah menetap di Kanara Selatan, sebagaimana juga terjadi di Kerala, sebuah negara bagian di selatan Kanara.[12] Penjelajah Italia Marco Polo mencatat bahwa ada aktivitas perdagangan yang cukup besar antara pesisir Kanara dan Laut Merah pada abad ke-13. Dapat diduga bahwa para pedagang Kristen asing mengunjungi kota-kota pesisir di Kanara Selatan selama periode perdagangan; dan ada kemungkinan beberapa imam Kristen menemani mereka untuk melakukan penginjilan.[13]

Pada bulan April 1321 Jordanus Catalani dari Severac (di barat daya Prancis), seorang biarawan Dominikan, mendarat di Thana bersama dengan 4 biarawan lainnya.[14] Ia kemudian melakukan perjalanan ke Bhatkal di Kanara Utara, sebuah kota pelabuhan di jalur pesisir dari Thana ke Quilon.[15][16] Ia menjadi uskup pertama di India dan Keuskupan Quilon, serta dipercaya untuk melakukan pemeliharaan rohani komunitas Kristen di Mangalore dan bagian lainnya di India oleh Paus Yohanes XXII.[17] Menurut sejarawan Severine Silva, tidak ada bukti konkret yang telah ditemukan terkait adanya pemukiman permanen umat Kristen di Kanara Selatan sebelum abad ke-16. Kekristenan mulai menyebar baru setelah datangnya Portugis di wilayah tersebut.[13]

Pada tahun 1498 penjelajah Portugis Vasco da Gama mendarat di satu gugusan pulau di Kanara Selatan dalam pelayarannya dari Portugal ke India. Ia menamakan pulau-pulau tersebut El Padron de Santa Maria, yang kemudian dikenal dengan Kepulauan Santa Maria.[18] Pada tahun 1500 penjelajah Portugis Pedro Álvares Cabral tiba di Anjediva di Kanara Utara bersama dengan 8 misionaris Fransiskan. Di bawah kepemimpinan Frei Henrique Soares de Coimbra, para misionaris tersebut menyebabkan 22 atau 23 penduduk asli di daerah Mangalore memeluk agama Kristen.[16] Selama masa-masa awal abad ke-16, Krishnadevaraya (1509-1529), penguasa Kemaharajaan Wijayanagara dari Dekkan, memberi hak istimewa komersial kepada orang-orang Portugis di pesisir Kanara. Ada kebebasan sepenuhnya dalam beribadah, berkeyakinan, dan penyebaran ajaran agama di Kemaharajaan Wijayanagara.[13] Tahun 1526, di bawah komando Lopo Vaz de Sampaio (seorang viceroy), Portugis mengambil alih Mangalore.[19]

Para Fransiskan Portugis secara perlahan mulai menyebarkan ajaran Kekristenan di Mangalore.[19] Tokoh setempat yang memeluk Kristen yang paling terkemuka adalah mahant Brahmana Shankarayya; ia pada tahun 1751 melakukan perjalanan dengan istrinya dari Kallianpur ke Goa dan dibaptis, dengan viceroy Portugis berperan sebagai wali baptisnya. Mahant yang dihormati itu mengambil nama baptis Francisco de Távora, dari nama Viceroy Marques de Távora.[20][21] Harta kekayaan mereka kemudian diambil alih oleh kerabat Hindu mereka, namun sang viceroy menginstruksikan perwakilannya di Mangalore untuk mendapatkan kembali harta mereka.[21][22] Pada tahun 1534 Kanara ditempatkan di bawah yurisdiksi gerejani Uskup Goa, di mana bangsa Portugis memiliki keberadaan yang kuat. Para misionaris segera tiba dan menerima penduduk yang mau memeluk (konversi) Kekristenan. Jumlah penduduk setempat yang melakukan konversi di Kanara Selatan terus meningkat hingga tahun 1546.[12] Selama pertengahan abad ke-16, orang-orang Portugis tersebut menghadapi perlawanan dari Abbakka Rani dari Ullal, Ratu wangsa Bednore. Hal ini segera menghentikan segala bentuk konversi. Pertempuran pertama antara Abbakka Rani dan orang-orang Portugis terjadi pada tahun 1546; sang ratu tampil sebagai pemenang dan memaksa Portugis keluar dari Kanara Selatan.[23]

Masa migrasi[sunting | sunting sumber]

Sebuah litograf berwarna dari abad ke-19 yang menggambarkan konversi Paravas oleh Fransiskus Xaverius, seorang santo Katolik Roma, pada tahun 1542. Ia meminta João III dari Portugal untuk melakukan Inkuisisi di Goa, yang menyebabkan gelombang migrasi besar pertama ke Kanara Selatan.

Pada tahun 1510, armada Portugis di bawah pimpinan Afonso de Albuquerque, dikirim oleh Raja Manuel I dari Portugal, merebut negara bagian Goa dari Sultan Yusuf Adil Shah dari Bijapur.[24] Tahun 1534, Keuskupan Goa didirikan. Tidak lama kemudian para misionaris dikirim ke Goa, yang menyebabkan konversi penduduk dalam jumlah yang lumayan besar ke Katolik Roma.[25] Bagian terbesar dari para pemukim Kristen datang dalam tiga gelombang migrasi besar menuju Kanara Selatan. Semua migrasi ini berlangsung selama berbagai periode gejolak besar: Inkuisisi Goa terjadi sejak tahun 1560; peperangan antara bangsa PortugisAdil Shahi terjadi antara tahun 1570–1579; dan peperangan antara bangsa Portugis–Maratha terjadi antara tahun 1667–1683 dan 1737–1740.[26] Faktor-faktor lain yang menyebabkan migrasi massal adalah wabah penyakit, bencana kelaparan, bencana alam, kepadatan penduduk yang berlebihan, kondisi hidup yang buruk, beban pajak yang berat, dan diskriminasi sosial oleh orang-orang Portugis.[27]

Pada tahun 1542 Fransiskus Xaverius, seorang Yesuit dari Navarra dan rekan pendiri Serikat Yesus, tiba di Goa.[28] Ia menemukan bahwa orang-orang yang baru memeluk Kristen mempraktikkan kembali tradisi dan kebiasaan Hindu. Ia kemudian meminta Raja Portugal João III untuk melakukan suatu Inkuisisi di Goa pada tahun 1545.[29] Banyak leluhur orang-orang Goa dari umat Katolik Mangalore masa kini yang melarikan diri dari Goa ketika Inkuisisi dimulai pada tahun 1560. Raja Sebastião I menetapkan bahwa setiap jejak kebiasaan atau adat India harus dihapus melalui Inkuisisi tersebut. Banyak umat Kristen Goa yang dengan gigih mempertahankan beberapa kebiasaan India mereka yang telah ada sejak dahulu, terutama kostum pernikahan Hindu tradisional mereka, dan menolak untuk meninggalkannya.[30] Mereka yang menolak untuk menaatinya terpaksa meninggalkan Goa dan menetap di luar kekuasaan Portugis,[12] yang mengakibatkan gelombang migrasi besar pertama menuju Kanara Selatan.[31]

Umat Kristen yang meninggalkan Goa sebagian besarnya merupakan para agrikulturis terampil yang meninggalkan lahan beririgasi mereka di Goa untuk memperoleh kebebasan.[32] Sisanya merupakan para pedagang, pengrajin, pandai emas, dan tukang kayu terampil.[33] Pada saat terjadinya migrasi, Kanara diperintah oleh Raja Keladi Shivappa Nayaka (1540–1560). Ia menunjukkan minat yang besar dalam pembangunan pertanian di kerajaannya dan menyambut para agrikulturis ini, memberikan lahan subur kepada mereka untuk dibudidayakan.[32] Mereka direkrut ke dalam angkatan bersenjata wangsa Bednore.[34][a] Hal ini dikonfirmasi oleh Francis Buchanan, seorang dokter Skotlandia, ketika ia mengunjungi Kanara pada tahun 1801. Dalam bukunya A Journey from Madras through the Countries of Mysore, Canara and Malabar (1807), ia menyatakan bahwa "Para pangeran dari Ikkeri tersebut memberi dorongan semangat yang besar bagi umat Kristen, dan menyebabkan 80.000 di antara mereka menetap di Tuluva."[35][36] Kemudian, pernyataan ini diidentifikasi sebagai suatu kesalahan potensial dan seharusnya dibaca "8.000". Jumlah tersebut mencakup emigrasi umat Kristen yang kedua dari Goa.[32] Kebijakan perpajakan wangsa Nayaka dari Keladi selama tahun 1598–1763 memungkinkan para migran Katolik Goa untuk tampil sebagai bangsawan pemilik tanah yang terkemuka di Kanara Selatan.[37] Para migran ini umumnya membawa membawa modal mereka masing-masing dari Goa, yang mereka investasikan dalam lahan baru mereka, sehingga secara tidak langsung memberikan kontribusi terhadap kemakmuran kerajaan Keladi.[33]

Berdasarkan perjanjian sementara antara bangsa Portugis dan para penguasa Bednore, serta Padroado, umat Kristen diizinkan untuk membangun gereja-gereja; hal ini mendorong pertumbuhan Kekristenan di Kanara Selatan.[34] Datangnya bangsa Inggris dan Belanda menghentikan aktivitas bangsa Portugis, dan mereka secara bertahap tidak dapat lagi mengirim sejumlah misionaris yang dibutuhkan ke Mangalore.[38] Shivappa Nayaka sebelumnya telah mengusir Portugis dari benteng-benteng mereka beberapa saat sebelum tahun 1660, yang mana mengakibatkan perubahan cukup besar dalam situasi gerejawi.[39] Penunjukan Vikaris Apostolik Mangalore dirasakan oleh Takhta Suci sebagai suatu hal yang penting. Nayaka menekan otoritas gereja untuk menunjuk seorang imam pribumi sebagai Vikaris Apostolik, dan menyebabkan ditunjuknya Pastor Andrew Gomez untuk menempati posisi tersebut; namun ia keburu meninggal sebelum surat penunjukkannya sampai di Mangalore.[40]

Serangan yang dilakukan oleh Ali Adil Shah I terhadap Goa pada tahun 1571 memicu gelombang migrasi umat Katolik Goa yang kedua ke Kanara Selatan.

Atas rekomendasi Vikaris jenderal Verapoly, Mgr. Joseph Sebastiani, Paus Klemens X menunjuk Uskup Thomas de Castro, seorang Theatines Goa dan Uskup Fulsivelem, sebagai Vikaris Apostolik Propaganda Fide di Vikariat Kanara pada tanggal 30 Agustus 1675, dengan maksud menyediakan kepemimpinan rohani bagi umat Kristen Kanara.[40][41] Setelah konsekrasinya, ia pertama kali pergi ke Calicut dan kemudian pindah Mangalore, di mana ia menjalankan tugasnya sejak tahun 1677 hingga 1684.[42] Pada tahun 1677, Uskup de Castro mengalami suatu konflik dengan Uskup Agung Goa, Dom Frei António Brandão, karena sang uskup mengabaikannya sebagai Padroado. Akibatnya mereka tidak saling berbagi wewenang kepadanya kendati ada surat penunjukan dari Paus.[43] Konflik antara Padroado–Propaganda memisahkan umat Katolik di Kanara menjadi dua pihak —mereka yang mengakui kewenangan (yurisdiksi) Uskup Agung Padroado di Goa dan mereka yang mendukung Uskup de Castro.[41]

Orang-orang Portugis menolak mengakui penunjukan Uskup de Castro dan menentang dengan keras berbagai aktivitasnya. Kematian Uskup Agung Brandão secara mendadak pada 6 Juli 1678 membuat situasi bertambah rumit, dan kapitel katedral (cathedral chapter) yang mengelola Keuskupan Agung Goa setelah kekosongan takhta akibat kematiannya, melarang umat Katolik Kanara menerima sakramen-sakramen dari sang uskup atau dari para imam yang ditunjuk olehnya. Sebaliknya, Uskup de Castro mengekskomunikasi umat Katolik yang tunduk pada otoritas sang Padroado di Goa dan para imam mereka.[41] Pada tahun 1681, Takhta Suci menunjuk imam Goa lainnya, Pastor Joseph Vaz, sebagai Vicar Forane Kanara; ia diminta untuk tidak tunduk pada Uskup de Castro kecuali ia diperlihatkan surat penunjukannya.[43] Namun setelah diyakinkan akan keabsahannya, Pastor Vaz tunduk kepada Uskup de Castro dan menghasilkan suatu perdamaian. Ia kemudian berhasil membujuk Uskup de Castro untuk mendelegasikan kewenangan kepadanya sementara sang uskup tetap pada posisinya.[44] Pada tahun 1700, umat Katolik di Kanara kembali berada di bawah yurisdiksi Uskup Agung Padroado di Goa.[45]

Gereja Milagres, salah satu gereja tertua di Kanara Selatan, dibangun pada tahun 1680 oleh Uskup Thomas de Castro.[38][46][47] Sebelumnya pada tahun 1568, Gereja Nossa Senhora do Rosário de Mangalore (Bunda Maria Ratu Rosari dari Mangalore) didirikan oleh Portugis di Bolar, Mangalore. Sementara Gereja Nossa Senhora de Mercês de Velala (Bunda Maria Bunda Kerahiman dari Ullal) dan Gereja São Francisco de Assis (Santo Fransiskus Asisi) di Farangipet didirikan oleh Portugis di Kanara Selatan pada rentang waktu yang bersamaan. Ketiga gereja tersebut disebutkan oleh penjelajah Italia Pietro Della Valle, yang mengunjungi Mangalore pada tahun 1623.[48]

Pada tahun 1570 Sultan Bijapur, Ali Adil Shah I, menjalin aliansi dengan Sultan Ahmadnagar, Murtaza Nizam Shah, dan Zamorin dari Calicut untuk melakukan serangan secara serentak pada wilayah Portugis di Goa, Chaul, dan Mangalore.[26] Ia menyerang Goa pada tahun 1571 dan mengakhiri pengaruh Portugis di wilayah tersebut. Para Sultan Bijapur dikenal terutama karena kebencian mereka terhadap Kekristenan.[49] Karena khawatir akan adanya penganiayaan, banyak umat Katolik Goa yang melarikan diri ke Kanara Selatan selama gelombang migrasi kedua ini, dan mereka menetap di Barkur, Kallianpur, Kundapur, dan Basrur.[26][49] Pada abad berikutnya, terjadi migrasi umat Katolik Goa yang berkelanjutan ke bagian selatan, sehingga pada tahun 1650, cukup banyak umat Katolik yang menetap di sekitar Mangalore, Mulki, Shirva, Pezar, Bantwal, Kundapur, dan Kirem.[26] Umat Kristen dari Brahmin Saraswat Goud yang datang selama gelombang ini sebagian besar termasuk subkasta Shenvi.[32]

Serangan gencar Sambhaji, seorang penguasa Maratha, menyebabkan gelombar besar migrasi yang ketiga dan terakhir ke Kanara Selatan.

Berbagai serangan dari Kemaharajaan Maratha atas Goa sepanjang pertengahan abad ke-16 memicu gelombang besar migrasi yang ketiga. Tahun 1664 Shivaji, pendiri Kemaharajaan Maratha, menyerang Kudal, sebuah kota di utara Goa, dan memulai operasinya atas Goa. Setelah kematian Shivaji pada 3 April 1689, anaknya Sambhaji naik takhta.[49] Gempuran Sambhaji di sepanjang wilayah utara Goa mendorong hampir semua umat Kristen untuk meninggalkan daerah asal mereka dan bermigrasi ke Kanara Selatan. Arus migrasi meningkat seiring dengan jatuhnya "Provinsi Utara" Portugis (yang mana termasuk Bassein, Chaul dan Salsette) dan merupakan ancaman langsung terhadap keberadaan Goa pada tahun 1738–1740.[44]

Menurut salah satu perkiraan, emigrasi dari distrik Salcete di Goa berada di kisaran 2.000 orang setiap tahunnya. Para imam Yesuit memperkirakan sekitar 12.000 umat Kristen yang beremigrasi dari distrik Bardez di Goa antara tahun 1710–1712, dan kebanyakan dari mereka pergi ke selatan. Sebuah laporan tahun 1747 dari pemerintah Goa yang saat ini berada di arsip Panaji mencatat bahwa sekitar 5.000 umat Kristen melarikan diri dari distrik Bardez dan Tiswadi di Goa selama invasi Maratha.[50] Selama penyerangan Maratha atas Goa, sekitar 60.000 umat Kristen hijrah ke Kanara Selatan.[51] Para pendatang baru ini diberikan lahan di Shirva, Kirem, Mundkur, Pezar, dan Hosabettu oleh para raja Chowta dari Mudbidri; dan di Milagres, Bondel, dan Cordel oleh para raja Banghel dari Mangalore.[44] Bertahun-tahun kemudian, arus migrasi berkurang karena peperangan antara Maratha–Mughal, dan sekitar 10.000 umat Kristen kembali ke Goa.[49] Menurut Alan Machado Prabhu, umat Katolik Mangalore berjumlah sekitar 58.000 pada tahun 1765.[52]

Setelah peningkatan populasi Katolik yang stabil di Kanara Selatan, bangsa Portugis memanfaatkan setiap kesempatan untuk memperluas kontrol mereka atas umat Katolik Mangalore, yang dapat dikenali dengan adanya beragam kepentingan mereka.[53] Portugis berusaha untuk memperluas kekuasaan para imam, terhitung sejak permulaan kerajaan mereka, para imam telah menyertai delegasi Portugis pada misi-misi diplomatik dan pada kesempatan sebagai para juru runding utama. Perjanjian-perjanjian yang mereka tandatangani dengan wangsa Nayaka dari Keladi secara bertahap memasukkan klausul-klausul yang meningkatkan otoritas para imam atas penduduk Katolik setempat, membuat mereka tunduk kepada para imam dalam hal hukum Kristen sekaligus memberi para imam wewenang untuk menghukum pelanggaran-pelanggaran.[53] Orang-orang Portugis berjanji menahan diri untuk tidak menyembelih sapi dan menghentikan konversi secara paksa di pos-pos perdagangan mereka.[53] Ketentuan-ketentuan dalam semua perjanjian ini tidak selalu dipatuhi oleh Portugis, yang menyebabkan setiap kali terjadi perseteruan antara Portugis dan Keladi, para pemukim Katolik sering kali diganggu atau ditangkap oleh para Nayaka.[54]

Masa pasca-migrasi dan pembuangan[sunting | sunting sumber]

Tipu Sultan (1750–1799), perancang Pembuangan Seringapatam

Pada tahun 1686, Seringapatam, ibu kota Kerajaan Mysore, memiliki suatu komunitas yang terdiri dari lebih 400 umat Katolik. Komunitas tersebut mengalami gangguan yang sangat hebat selama dua dekade berikutnya, dengan penghancuran gereja-gereja dan penyitaan rumah-rumah imam. Semua itu dilakukan atas nama raja Wodeyar, Kanthirava Narasaraja I, oleh menteri keuangannya. Rumah imam dikembalikan kepada gereja pada tahun 1709.[55] Hubungan antara umat Katolik Mangalore dan Wodeyar mengalami perbaikan hingga tahun 1717, ketika terjadi kerusuhan anti-Kristen. Para imam yang bermukim diusir dan dilarang berkhotbah. Beberapa kericuhan anti-Kristen lainnya menyusul. Namun sejak tahun 1736 terjalin hubungan yang lebih baik antara kedua belah pihak.[56]

Pada tahun 1761 dan selanjutnya, Haidar Ali, seorang prajurit ternama dalam pasukan Mysore, mengambil alih Kerajaan Mysore secara de facto melalui wangsa Wodeyar. Dan ia menguasai Mangalore pada tahun 1763.[57] Umat Katolik Mangalore tercatat berjumlah 80.000 pada tahun 1767.[58] Pada bulan Februari 1768 Britania merebut Mangalore dari Haidar.[57] Menjelang akhir tahun 1768, Haidar dan anaknya Tipu Sultan mengalahkan Britania dan merebut kembali benteng Mangalore. Setelah penaklukan tersebut, Haidar diberitahu bahwa umat Katolik Mangalore telah membantu Britania dalam penaklukan mereka atas Mangalore. Haidar meyakini bahwa perilaku umat Kristen ini setara dengan pengkhianatan terhadap kedaulatannya.[59]

Umat Kristen diduga telah membantu Jenderal Mathews dengan uang sejumlah Rs. 3,30,000/-.[60] Haidar memanggil seorang perwira Portugis dan beberapa imam Kristen dari Mangalore untuk meminta saran mengenai hukuman bagi umat Katolik Mangalore atas pengkhianatan mereka. Perwira Portugis tersebut menyarankan hukuman mati bagi umat Katolik yang membantu Britania, karena itu adalah hukuman yang pantas bagi orang-orang yang mengkhianati kedaulatan. Tetapi Haidar memperlihatkan suatu sikap diplomatis dan memenjarakan orang-orang Kristen tersebut, bukannya membunuh mereka.[61]

Kemudian ia memulai negosiasi dengan orang-orang Portugis. Sebagai hasilnya, tidak ada lagi kecurigaan terhadap klerus dan umat Kristen.[62] Di bawah kekuasaan Haidar, komunitas Katolik Mangalore terus mengalami perkembangan.[63] Setelah kematian Haidar dalam Perang Inggris-Mysore II pada 7 Desember 1782, Britania merebut kembali benteng tersebut. Haidar digantikan oleh putranya, Tipu Sultan.[64] Tipu melancarkan beberapa serangan ke benteng Mangalore sampai bulan Januari 1784, yang mana semuanya berakhir pada kegagalan. Benteng tersebut akhirnya kembali ke dalam kekuasaan Tipu setelah Britania menyerah pada tanggal 30 Januari 1784.[65]

Tipu mendapat laporan yang sangat dibesar-besarkan mengenai peranan umat Katolik Mangalore dan bantuan mereka kepada Britania dalam Perang Inggris-Mysore II.[66] Untuk memperkecil ancaman Britania atas kerajaannya dan seperti yang tertulis dalam Sultan-ul-Tawarikh, karena kemarahannya atas apa yang dahulu dilakukan Portugis,[67] Tipu menyingkirkan komunitas Katolik Mangalore dari tanah mereka, dan memenjarakan mereka di Seringapatam, ibu kota kerajaannya.[68] Pembuangan umat Katolik Mangalore di Seringapatam, yang dimulai sejak 24 Februari 1784 hingga berakhirnya pada 4 Mei 1799, tetap menjadi kenangan yang paling menyedihkan sepanjang sejarah mereka.[69]

Sesaat setelah Perjanjian Mangalore pada tahun 1784, Tipu menguasai Kanara.[70] Ia mengeluarkan perintah untuk menangkap umat Kristen di Kanara, menyita perkebunan mereka,[71] dan mendeportasi mereka ke Seringapatam, melalui rute benteng Jamalabad.[38] Semuanya ini dilakukan dalam suatu gerakan yang terencana dan rahasia pada hari Rabu Abu 24 Februari 1784.[72] Laporan mengenai jumlah tawanan tersebut berbeda-beda, berkisar antara 30.000 sampai 80.000;[73] angka yang diterima secara umum adalah 60.000, sesuai catatan Tipu sendiri.[74] Mereka dipaksa untuk mendaki setinggi hampir 1.200 meter melalui hutan lebat dan ngarai dari pegunungan Western Ghats dalam dua rute yang berbeda; satu kelompok melakukan perjalanan dengan rute Bantwal-Belthangadi-Kulshekar-Virajpet-Coorg-Mysore,[6][75][76] dan yang lainnya melalui rute air terjun Gersoppa (Shimoga).[77] Jaraknya 320 kilometer dari Mangalore menuju Seringapatam, dan perjalanan tersebut ditempuh selama 6 minggu.[78]

Sebuah penjara bawah tanah di Seringapatam. Banyak umat Katolik Mangalore yang menolak untuk menjadi mualaf dimasukkan ke dalam penjara bawah tanah tersebut.

Menurut Barcoor Manuscript, yang ditulis dalam bahasa Kannada oleh seorang Katolik Mangalore dari Barkur setelah kepulangannya dari Seringapatam, 20.000 dari mereka (sepertiga) meninggal dalam perjalanan ke Seringapatam karena kelaparan, penyakit, dan perlakuan buruk para serdadu.[79] Di kamp pada benteng Jamalabad, para pemimpin Katolik Mangalore dilempar ke bawah dari atas benteng tersebut.[76] Semua bangunan gereja di Kanara Selatan, selain Gereja Hospet di Hospet dan Gereja Monte Mariano di Farangipet,[80] diratakan dengan tanah dan semua lahan milik para tawanan diambil alih oleh Tipu dan dibagi-bagikan ke orang-orang terdekatnya.[81] Setelah mereka dibebaskan, semua barang milik mereka telah hilang dan lahan yang mereka tinggalkan dibudidayakan oleh orang-orang Bunt.[82]

Setelah tiba di Seringapatam, para tawanan tersebut terpaksa menjadi mualaf, mengalami penyiksaan, atau dihukum mati.[81] Para pemuda yang menolak untuk konversi mengalami pemotongan hidung, bibir atas, dan telinga mereka. Kemudian mereka dinaikkan di atas keledai, diarak ke seluruh kota, dan dimasukkan ke dalam penjara bawah tanah di Seringapatam.[83] Sejarawan Praxy Fernandes, penulis Storm over Seringapatam: The Incredible Story of Hyder Ali & Tippu Sultan, menyatakan hal yang bertentangan dengan keyakinan umum, yakni 40.000 umat Kristen tersebut tidak dalam kondisi terbelenggu di penjara bawah tanah Seringapatam.[84]

Ludwig von Pastor, seorang sejarawan Jerman, penulis The History of the Popes, from the Close of the Middle Ages. Volume 39 menyatakan bahwa "tak terhitung" banyaknya tawanan yang dihukum gantung, termasuk perempuan dengan anak-anak mereka yang berpegangan di leher mereka. Yang lainnya diinjak-injak atau diseret dengan gajah.[85] Para pemuda yang mampu secara fisik direkrut ke dalam ketentaraan setelah disunat dan memeluk Islam.[86] Para gadis dan perempuan muda dijadikan sebagai istri-istri kalangan dekat penguasa dan perwira mereka yang tinggal di Seringapatam.[79] Menurut Silva dari Gangolli, seorang tawanan yang selamat, apabila ada orang yang telah melarikan diri dari Seringapatam dan kemudian ditemukan, Tipu telah memberi perintah untuk memotong semua telinga, kaki, hidung, dan satu tangan mereka sebagai hukuman.[87] Penganiayaan tersebut berlanjut sampai tahun 1792.[85] Kemudian diikuti suatu masa relaksasi sejenak dari tahun 1792–1797, di mana pada masa tersebut beberapa keluarga berhasil melarikan diri ke Coorg, Cannanore, dan Tellicherry.[88] Penganiayaan dilanjutkan kembali pada tahun 1797.[89]

Britania dan masa modern[sunting | sunting sumber]

"Upaya Terakhir dan Kejatuhan Tipu Sultan", karya Henry Singleton

Dalam Pertempuran Seringapatam pada tanggal 4 Mei 1799, pasukan Britania di bawah komando para perwira mereka, George Harris, David Baird, dan Arthur Wellesley, menyerbu benteng tersebut, menerobos kota Seringapatam, dan membunuh Tipu Sultan.[90] Setelah kematiannya dalam Perang Inggris-Mysore IV tersebut, para tawanan dibebaskan.[91] Dari 60.000–80.000 umat Katolik Mangalore yang ditawan, hanya 15.000–20.000 yang berhasil bebas dengan tetap sebagai pemeluk Kristen.[92]

Sejarawan Alan Machado Prabhu menyebutkan bahwa hanya 11.000 tawanan yang selamat yang tetap sebagai penganut Kristen.[49] Jenderal Britania Arthur Wellesley kemudian membantu 10.000 dari mereka kembali ke Kanara Selatan dan memukimkan kembali di tanah mereka.[90][93] Sementara sisa-sisa dari mereka yang tetap memeluk Kristen, sekitar seribu orang pergi ke Malabar, dan beberapa ratus orang menetap di Coorg.[94] Menurut Francis Buchanan, 15.000 dari mereka kembali ke Mangalore dan sekitarnya, sedangkan 10.000 dari mereka hijrah ke Malabar.[36] Gazetteer of the Bombay Presidency (1883) menyebutkan bahwa ada 15.000 orang yang kembali, 12.000 di antara mereka berasal dari Kanara Selatan dan 3.000 dari Kanara Utara.[95] Menurut ahli genealogi Michael Lobo, komunitas Katolik Mangalore kini hampir seluruhnya merupakan keturunan dari kelompok kecil yang selamat ini.[96]

Belakangan Britania mengambil alih Kanara Selatan. Pada tahun 1800, mereka melakukan sensus di wilayah tersebut; dari 396.672 orang yang tinggal di Kanara Selatan,[97] 10.877 di antaranya merupakan umat Kristen.[98] Thomas Munro ditunjuk sebagai pemungut pajak (kolektor) pertama di Kanara pada bulan Juni 1799.[99] Ia meloloskan tiga perintah yang berkaitan dengan perkebunan umat Kristen, yang diambil alih oleh orang-orang non-Kristen selama masa pembuangan.[100] Melalui bantuan Gereja dan dukungan Munro, lahan dan perkebunan umat Kristen dapat diperoleh kembali.[101] Pastor José Miguel Luis de Mendes, seorang imam Katolik Goa, ditunjuk sebagai Vikaris Bunda Maria Ratu Rosari di Mangalore pada tanggal 7 Desember 1799. Ia menaruh minat dalam pendirian kembali komunitas tersebut dari tahun 1799 sampai 1808.[102] Selanjutnya John Goldsborough Ravenshaw, seorang jenderal Britania, ditunjuk sebagai kolektor Kanara Selatan. Ia berperan aktif dalam pengembalian bekas harta milik komunitas Katolik tersebut dan pemerolehan kembali perkebunan mereka. Ia mendirikan sebuah bangunan gereja bagi mereka, yang berhasil diselesaikan pada tahun 1806.[103]

Thomas Munro membantu umat Katolik Mangalore memperoleh kembali tanah mereka setelah kembalinya mereka dari pembuangan.

Pada tahun 1800, terdapat 2.545 rumah tangga Katolik dengan populasi sejumlah 10.877 umat.[104] Populasi mereka menjadi hampir dua kali lipat pada tahun 1818. Menurut berbagai buku paroki, umat Katolik Mangalore berjumlah 19.068 di Kanara Selatan (12.877 di Mangalore dan Bantwal,[105] 3.918 di Mulki, 2.273 di Kundapur dan Barkur).[106] Sebagian besar bangunan gereja, yang sebelumnya dihancurkan oleh Tipu Sultan, dibangun kembali pada tahun 1815.[107][108] Komunitas tersebut mengalami kemakmuran di bawah kekuasaan Britania, dan yurisdiksi Keuskupan Agung Goa dimulai kembali.[102]

Dibukanya Basel Mission, suatu karya misi Jerman Protestan, pada tahun 1834 di Mangalore membawa banyak industri kerajinan tangan, seperti penenunan katun dan produksi genting, ke wilayah tersebut dan menyebabkan suatu kenaikan yang sangat besar dalam ketenagakerjaan.[109][110] Pada tahun 1836–1837, situasi politik di Portugal berada dalam gejolak. Antonio Feliciano de Santa Rita Carvalho, seorang imam Portugis, ditunjuk sebagai Uskup Agung terpilih dari Goa pada bulan September 1836 tanpa otorisasi dari Paus pada saat itu, Gregorius XVI.[111] Banyak umat Katolik Mangalore tidak menerima kepemimpinan Carvalho dan memilih tunduk pada Vikaris Apostolik Verapoly di Travancore, sedangkan beberapa dari mereka tetap berada di bawah yurisdiksi Keuskupan Agung Katolik Roma Goa dan Daman. Paroki-paroki di Kanara Selatan menjadi terbagi dalam dua kelompok —satu di bawah yurisdiksi Goa dan lainnya di bawah Verapoly.[38]

Di bawah kepemimpinan Joachim Pius Noronha, seorang imam Katolik Mangalore, dan John Joseph Saldanha, seorang hakim Katolik Mangalore, umat Katolik Mangalore mengirim sebuah petisi ke Takhta Suci pada tahun 1840 agar Mangalore dijadikan Vikariat yang terpisah.[112] Paus Gregorius XVI menerima permintaan mereka dan menetapkan Mangalore sebagai suatu Vikariat yang terpisah pada tanggal 17 Februari 1845 di bawah pengelolaan Karmelit dari Verapoly. Misi Mangalore ini kemudian dialihkan ke Karmelit Prancis berdasarkan suatu bulla tertanggal 3 Januari 1870.[113] Selama dikelola oleh Karmelit, umat Katolik Mangalore terus menerus mengirimkan surat ke Takhta Suci agar dikirimkan para Yesuit ke Mangalore untuk memulai lembaga pendidikan tinggi, karena para siswa kerap kali harus pergi ke Bombay dan Madras demi pendidikan.[114] Paus Leo XIII kemudian pada tanggal 27 September 1878 menyerahkan misi Mangalore ke Yesuit Italia dari Napoli, dan mereka tiba di Mangalore pada tanggal 31 Desember 1878.[38][115][116]

Para Yesuit Italia memainkan peranan penting dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan sosial komunitas tersebut.[117] Mereka mendirikan Kolese St. Aloysius pada tahun 1880,[118] Kapel St. Aloysius pada tahun 1884,[119] Seminari St. Yosef,[120] dan banyak gereja serta lembaga lainnya. Pada tanggal 25 Januari 1887, Paus Leo XIII mendirikan Keuskupan Mangalore, yang mana diklaim sebagai suatu tonggak penting dalam sejarah komunitas tersebut. Pada paruh berikutnya abad ke-19, banyak umat Katolik Mangalore yang terlibat dalam perdagangan produk perkebunan, perkebunan kopi, dan industri genting Mangalore.[30] Mereka mengalami kemakmuran di bawah kekuasaan Britania dan bersaing dengan para Brahmana setempat dalam jabatan di layanan pemerintahan Britania.[121] Namun sebagian besar umat Katolik Mangalore tetap menjadi agrikulturis.[122]

Kapel St. Aloysius di Mangalore, dibangun oleh Antonio Moscheni pada tahun 1884, setelah Mangalore diserahkan ke para Yesuit Italia pada tahun 1878.

Selama masa selanjutnya di abad ke-19, mereka mulai hijrah ke daerah perkotaan lainnya, terutama Bombay,[123] Bangalore,[124] Kalkuta, Madras, Mysore dan Poona. Umat Katolik Mangalore datang ke Bombay karena tekanan kebutuhan ekonomi.[125] Pemukiman permanen pertama dari umat Katolik Mangalore di Bombay tercatat pada tahun 1890-an.[126] Pemukiman umat Katolik Mangalore yang pertama di Madras tercatat pada tahun 1940-an.[127] Joachim Alva, seorang politikus Katolik Mangalore, secara aktif berpartisipasi dalam mempersatukan komunitas Katolik Mangalore untuk menentang Britania selama Gerakan Kemerdekaan India.[128]

Pada tahun 1901, jumlah umat Katolik Mangalore tercatat sebanyak 76.000 dari total 84.103 umat Kristen di Kanara Selatan,[129][130] sementara pada tahun 1962 jumlah mereka 186.741.[131] Selama pertengahan abad ke-20 Victor R. Fernandes, Uskup Mangalore tahun 1931-1995, mendirikan sebuah salib besar di Nanthoor, dekat Perbukitan Padav, di lahan bekas pinggiran Mangalore, untuk menghormati dan mengenang para martir Katolik Mangalore yang meninggal di sepanjang perjalanan dan selama 15 tahun pembuangan di Seringapatam.[6] Selama tahun 1970-an, komunikasi di daerah pesisir antara Bombay dan Mangalore mengalami peningkatan dengan diperkenalkannya kapal laut oleh Shepherd —perusahaan dagang yang berbasis di London. Kapal-kapal ini memudahkan masuknya umat Katolik Mangalore ke Bombay.[132] Pada tahun 1993, Keuskupan Mangalore memperkirakan populasi umat Katolik Mangalore jumlahnya 325.510 dari total keseluruhan populasi Kanara Selatan yang berjumlah 3.528.540. Jumlah tersebut merupakan 9,23 persen dari total populasi.[133] Suatu peristiwa terkenal pada masa paska-kemerdekaan yang berkaitan dengan umat Katolik Mangalore, dan menjadi tajuk berita nasional, terjadi di Karnataka selatan, yaitu serangan terhadap lembaga-lembaga keagamaan Kristen pada bulan September 2008.

Sebaran geografis[sunting | sunting sumber]

Keuskupan Katolik Roma Mangalore memperkirakan populasi umat Katolik Mangalore di daerah-daerah yang meliputi Kanara Selatan yang bersejarah berjumlah 360.000 dari total populasi sebesar 3.957.071, atau sekitar 9,5 persen dari total populasi.[1] Daerah-daerah lain di India yang memiliki proporsi umat Katolik Mangalore yang signifikan, ditandai dengan adanya organisasi Katolik Mangalore atau festival Monti Fest (perayaan khas Katolik Mangalore) yaitu Bangalore, Chennai, Delhi, Kolkata, Mumbai, Pune, Hyderabad, Chikkamagaluru, Hassan, dan Ranchi.[134][135][136][137] Ada sedikit umat Katolik Mangalore ditemukan di Kodagu dan Kerala, di mana ada kantong-kantong kecil yang terkonsentrasi di Thalassery, Kasargod, Kannur, dan Kochi. Mereka utamanya merupakan keturunan dari umat Katolik yang melarikan diri selama masa penindasan oleh Tipu Sultan.[138] Diaspora Katolik Mangalore saat ini tersebar di seluruh dunia.[96] Banyak umat Katolik Mangalore yang ditemukan di Negara-negara Arab di Teluk Persia di Timur Tengah. Asosiasi Katolik Mangalore Sydney (MCAS) memperkirakan sekitar 300 keluarga Katolik Mangalore tinggal di Sydney, Australia, dan telah ada banyak keluarga generasi kedua. Banyak dari mereka merupakan multi ras, hasil perkawinan dengan orang Anglo-Saxon, Spanyol, Italia, Yunani, dan etnis lainnya.[139] Michael Lobo, seorang ahli genealogi Mangalore, memperkirakan bahwa sekitar setengah dari umat Katolik Mangalore masih tinggal di Mangalore dan kota-kota lainnya di distrik Kanara Selatan. Adapun setengah sisanya, sekitar 15 persen berdomisili di bagian-bagian lain Karnataka (kebanyakan di Bangalore), 15 persen berdomisili di Mumbai dan daerah-daerah di sekitarnya, 10 persen berdomisili di negara-negara Teluk, 5 persen berdomisili di bagian-bagian lain India, dan 5 persen sisanya tinggal di bagian-bagian lain dunia ini.[135]

Budaya[sunting | sunting sumber]

Arsitektur[sunting | sunting sumber]

Sebuah rumah tradisional dari keluarga Katolik Mangalore, dibangun dengan arsitektur bergaya kuno.

Pada tahun 1860 Plebot, seorang misionaris Jerman, mendirikan pabrik genting yang pertama di Mangalore yang disebut pabrik genting Misi Basel.[140] Saat itu umat Katolik Mangalore belajar teknik mempersiapkan genting Mangalore.[30] Pabrik genting Albuquerque, pabrik genting Mangalore India yang pertama, diawali di Kanara Selatan oleh Pascal Albuquerque di Pane mangalore pada tahun 1868. Sejak itu, umat Katolik Mangalore telah aktif terlibat dalam pembuatan genting. Pabrik genting Alvares didirikan di Mangalore oleh Simon Alvares, seorang Katolik Mangalore dari Bombay, pada tahun 1878.[141] Pada tahun 1991–1992, dari dua belas pabrik yang memproduksi genting Mangalore di Mangalore, enam di antaranya dimiliki oleh umat Kristen.[142]

Genting Mangalore, terbuat dari tanah liat keras, sangat diminati di seluruh India, Myanmar, dan Sri Lanka, dan bahkan dikirim sampai ke Afrika Timur, Timur Tengah, Eropa, dan Australia. Genting ini merupakan satu-satunya genting yang direkomendasikan untuk bangunan-bangunan pemerintahan di India,[143] dan masih menegaskan kaki langit (skyline) Mangalore serta mencirikan perkotaannya.[140] Perumahan perkotaan dan pedesaan mengikuti ragam struktur bata laterit tradisional, dengan genting atap Mangalore di atas kemiringan atap yang curam. Di dalam rumah terdapat sebuah balai yang luas, sementara sebuah beranda (veranda) yang besar ada di depan rumah.[144] Rumah tradisional cenderung memiliki en [serambi bertiang] yang luas, lantai terakota atau semen merah, dan memiliki pohon buah-buahan di luar rumah.[145] Rumah Katolik lama di Kanara Selatan dipengaruhi arsitektur Portugis. Jendela-jendela yang tinggi, puncak atap yang lancip, dan veranda merupakan beberapa ciri arsitektur yang dipengaruhi bangsa Portugis pada rumah-rumah yang telah berusia seabad.[145]

Masakan[sunting | sunting sumber]

Kuswar merupakan makanan manis yang dibuat untuk menyambut Natal, dan meliputi sekitar 22 macam makanan kecil.

Dalam sejarahnya, menu makanan Katolik Mangalore sesungguhnya adalah vegetarian. Namun hal ini berubah selama abad ke-20 dengan hadirnya pengaruh Barat, konsumsi daging semakin meningkat di komunitas tersebut, khususnya di kalangan elit.[146] Kelapa dan daun kari merupakan bahan masakan umum untuk kebanyakan masakan kari.[147] Sanna-Dukra Maas (Sanna adalah idli yang difermentasi dengan tuak nira atau ragi; Dukra Maas adalah daging babi) merupakan salah satu hidangan yang paling populer dalam komunitas Katolik Mangalore.[148] Rosachi Kadi (Kari Ros), yaitu kari ikan yang dibuat dengan santan (ros), merupakan masakan kari tradisional yang disajikan saat upacara Ros.[149] Patrode merupakan suatu hidangan populer dari daun colocasia yang diisi beras, dal, jaggery, kelapa, dan rempah-rempah.[150] Selain itu ada juga kuswar, makanan manis yang dibuat untuk menyambut Natal, yang meliputi sekitar 22 macam makanan kecil.[151] Ikan dan beras menjadi bahan makanan pokok sebagian besar umat Katolik Mangalore.[152] Secara tradisi mereka mengkonsumsi parboiled rice, yang dikenal sebagai beras merah (beras Matta),[153] dan lebih disukai daripada beras biasa (raw rice).[152]

Nama dan nama belakang[sunting | sunting sumber]

Maxwell Pereira-Kamath, yang populer dengan nama Maxwell Pereira, adalah seorang perwira senior polisi dari Delhi. Sama seperti Pereira-Kamath, beberapa umat Katolik Mangalore menggunakan nama belakang Brahmin dari leluhur mereka bersamaan dengan nama belakang paska-konversi mereka.

Nama bilingual, dengan varian baik dalam bahasa Konkani maupun Inggris seperti Zuãuñ (dari bahasa Portugis João, yang artinya John) dan Mornel (Magdalene), merupakan hal yang umum di kalangan umat Katolik Mangalore.[154][155] Kebanyakan nama Katolik Mangalore untuk laki-laki mengikuti aturan deklinasi kedua. Di kalangan wanita, nama tersebut mengikuti deklinasi pertama; sedangkan nama para anak perempuan atau gadis belia mengikuti deklinasi kedua.[154] Nama belakang orang Portugis seperti D'Souza, Coelho, dan Pinto umum digunakan umat Katolik Mangalore,[110][156] dan biasanya mengikuti deklinasi kedua.[157] Selain itu ada juga yang menggunakan nama belakang Eropa lainnya.[157] Umat Katolik Mangalore menggunakan bentuk Konkani (bahasa asli mereka) untuk nama belakang mereka dalam konteks bahasa Konkani, bersamaan dengan bentuk Inggris-nya dalam konteks bahasa Inggris, seperti Soz, Kuel, Pint,[157] bukan Sousa, Coelho, Pinto.[156] Beberapa keluarga menggunakan nama belakang asli mereka dari Brahmin Konkani seperti Prabhu, Kamath, Naik, Shenoy and Shet.[110] Nama-nama belakang asli ini sebenarnya adalah nama lima kelas seseorang: tuan, penanam (petani/peladang), pedagang, prajurit, dan penulis.[158] Empat di antaranya merupakan nama belakang Brahmin Saraswat Goud, selain Shet, yang digunakan oleh beberapa orang untuk melacak asal-usul mereka ke Brahmin Daivadnya dari Goa.[159] Nama-nama belakang umat Katolik Mangalore pra-konversi yang berasal dari leluhur ini disebut paik dalam bahasa Konkani.[160] Untuk melestarikan tradisi mereka, banyak yang kembali menggunakan nama belakang paik mereka,[161] atau menggunakan tanda penghubung untuk menuliskan nama belakang paska-konversi bersamaan dengan nama leluhur mereka.[162] Mudartha adalah suatu nama belakang khas Katolik Mangalore yang dapat ditemukan pada beberapa umat Katolik yang berasal dari Udupi.[163]

Varian Katolik Mangalore Varian Inggris (Indonesia) Varian Portugis Makna Gender
Mâri Mary (Maria) Maria Yang dikasihi Perempuan
Monku Monica (Monika) Mónica Menasihati Perempuan
Motes Matthew (Matius) Mateus Anugerah dari Tuhan Laki-laki
Nâtu Natalia (Natalia) Natália Hari ulang tahun Perempuan
Pedru Peter (Petrus) Pedro Batu karang Laki-laki
Šila Sylvester (Silvester) Silva Daerah berpohon-pohon Laki-laki
Zâbel Elizabeth (Elisabet) Isabel Tuhanku adalah kelimpahan Perempuan
Zoze Joseph (Yusuf/Yosef) José Tuhan akan menambahkan Laki-laki
Sumber: An English–Konkani Dictionary (1882)[155] dan A Konkani Grammar (1882)[154]

Bahasa dan sastra[sunting | sunting sumber]

Michael Lobo menerbitkan ensiklopedia silsilah (genealogi) yang pertama atas komunitas Katolik Mangalore pada tahun 1999.

Umat Katolik Mangalore berbicara bahasa Konkani, yang mereka pertahankan sebagai bahasa ibu mereka walau telah bermigrasi; bahasa tersebut merupakan inti identitas komunitas ini.[36] Mereka menggunakan suatu dialek yang dikenal sebagai Konkani Katolik Mangalore, yang diidentifikasikan secara luas oleh Ethnologue sebagai dialek Mangalore.[164]

Dialek Katolik Mangalore dipengaruhi Sanskerta, dan mempertahankan banyak ciri Maharashtri, Shauraseni, dan dialek Maghadhi dari Prakerta. Dialek tersebut juga menggunakan kata serapan secara bebas dari Tulu dan Kannada,[165] serta ditulis dalam alfabet Kannada.[166] Beberapa kata dasar Kannada yang telah hilang dari dialek Goa karena pengaruh Portugis telah kembali masuk dalam leksikon Mangalore.[165] 350–400 unsur leksikal Portugis ditemukan dalam dialek Katolik Mangalore, yang mana lebih dari setengahnya berhubungan dengan terminologi keagamaan. Pengaruh sintaksis Portugis hanya ditemukan dalam beberapa rangkaian frase dan doa, yang mana diturunkan dari masa pra-migrasi.[167]

Dialek Katolik Mangalore sebagian besar berasal dari dialek Bardeskaar (Goa Utara) dan memiliki tingkat kejelasan yang baik dibandingkan dengan dialek Bardeskaar modern (dituturkan oleh umat Kristen Goa Utara, umat Hindu Goa Utara dan Goa Selatan), serta sedikit lebih rendah tingkatannya dibandingkan dengan dialek Konkani yang baku.[138][168] Karenanya dialek mereka berbeda dengan dialek yang diucapkan oleh Brahmin Saraswat Goud di Kanara Selatan, yang merupakan turunannya dan memiliki tingkat kejelasan yang baik dibandingkan dengan dialek Sashtikaar (Goa Selatan) yang diucapkan oleh umat Kristen Goa dan umat Hindu Konkani di Kanara Utara.[138][169] Dialek Katolik Mangalore lebih mirip dengan dialek Hindu Goa dibandingkan dengan yang digunakan umat Katolik Goa.[170]

Para Yesuit Italia yang tiba di Mangalore pada tahun 1878 mengabdikan diri mereka untuk pengkajian dan pengembangan Konkani, dan dengan demikian mereka berperan dalam kebangkitan kembali bahasa Konkani di Mangalore.[171] Asal mula literatur mereka dapat ditelusuri kembali ke tahun 1883, ketika Angelus Francis Xavier Maffei, seorang Yesuit Italia, menerbitkan An English–Konkani Dictionary yang pertama di Mangalore.[172] Ia menerbitkan sebuah buku tentang tata bahasa Konkani pada tahun 1882, dengan sebuah edisi revisi pada tahun 1893.[173] Pada tahun 1912 terbitan berkala yang pertama dalam bahasa Konkani, majalah Konknni Dirvem (Kekayaan Konkani), diterbitkan di Mangalore oleh Louis Mascarenhas.[174] Berbagai majalah Konkani populer diterbitkan di Mangalore, di antaranya Raknno (Penjaga) (1938) oleh Mgr. Sylvester Menezes,[175] Konkan Daiz (Warisan Konkani) (1958),[176] dan Kannik (Sumbangan) (1965) oleh Raymond Miranda.[177] Literatur abad ke-20 difokuskan pada tema-tema seperti penderitaan umat Katolik Mangalore sepanjang masa pembuangan mereka selama 15 tahun di Seringapatam dan penindasan atas umat Katolik Goa saat Inkuisisi Goa.[178][179] Novel Konkani pertama di Karnataka, yaitu Aangel (1915), ditulis dalam alfabet Kannada oleh Joachim Santan Alvares.[180][181] Di Bombay —di mana hanya terdapat komunitas kecil Katolik Mangalore— diterbitkan juga sejumlah majalah seperti Sukh-Dukh (Pasang dan Surut) (1948) oleh G.M.B. Rodrigues, Konknni Yuvak (Kaum Muda Konkani) (1949) oleh George Fernandes, Poinnari (Pelancong) (1950) oleh V.J.P. Saldanha,[175] dan Divo (Lampu) (1995) oleh J.B. Moraes.[182]

Richard Crasta terkenal karena karyanya The Revised Kamasutra, sebuah novel tentang hasrat seksual.

Literatur modern memiliki keragaman dan mencakup berbagai tema seperti politik India dalam buku What Ails the Socialists karya George Fernandes,[183] kebangkitan sejarah, dalam buku Sarasvati's Children: A History of the Mangalorean Christians karya Alan Machado Prabhu,[184][185] dan hasrat seksual, dalam The Revised Kama Sutra: A Novel of Colonialism and Desire karya Richard Crasta.[186] Michael Lobo, seorang ahli genealogi, merupakan orang yang pertama kali menerbitkan kamus silsilah komunitas Katolik Mangalore pada tahun 1999. Kamus genealogi ini, yang isinya melebihi 6.000 halaman, meliputi lebih dari seribu keluarga, yang masing-masingnya diteliti sejauh garis keturunannya dapat ditelusuri. Telah ada tiga terbitan tambahan yang telah diluncurkan sejauh ini, yakni Mangaloreans Worldwide – An International Directory (1999), Distinguished Mangalorean Catholics (2000), dan The Mangalorean Catholic Community – A Professional History / Directory (2002).[187] William Robert da Silva adalah orang yang pertama kali menerjemahkan Alkitab secara lengkap dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Konkani. Karya yang berjudul Baibol (Alkitab) itu ditulis dalam alfabet Kannada, dan diterbitkan pada tahun 1997 oleh komite Alkitab Konkani yang berbasis di Mangalore.[188] Pada tahun 2000, Keuskupan Mangalore juga merilis sebuah Alkitab Konkani dalam alfabet Kannada dengan judul Pavitr Pustak (Kitab Suci), yang mana tersedia dalam versi daring sejak 26 Juli 2007.[189]

Tradisi dan perayaan[sunting | sunting sumber]

Umat Katolik Mangalore melestarikan banyak tradisi dan adat India; hal ini terutama terlihat saat perayaan pernikahan.[190] Budaya mereka lebih tradisional dan bercorak India.[191] Meskipun dahulu bangsa Portugis cukup sering berdagang di Mangalore, dan kebanyakan imam yang tiba di wilayah tersebut adalah orang Portugis, mereka tidak mengembangkan suatu komunitas yang diidentifikasi dengan budaya Portugis dan Portugal.[192] Umat Katolik Mangalore tidak memiliki ritual yang seragam karena mereka berasal dari pihak Brahmin yang patrilineal dan pihak non-Brahmin yang matrilineal.[193] Upacara perkawinan mereka memiliki banyak kesamaan dengan sub-kasta Shenvi dari Brahmin Saraswat Goud.[194] Ritual perkawinan pra-Kristen inilah yang dahulu menjadi keberatan utama bangsa Portugis dan dilarang selama Inkuisisi Goa.[30][195]

Upacara Roce[b] (pengurapan), yang dilakukan satu atau dua hari sebelum suatu pernikahan, merayakan hari terakhir keperawanan kedua mempelai; orang tua kedua mempelai memberi berkat kepada mereka, mengurapi mereka dengan roce, suatu campuran santan dan minyak kelapa,[196] sementara dahi mempelai perempuan ditorehkan tanda salib.[30][197][198] Tradisi pernikahan ini meliputi Soirik (pertunangan),[199] pertukaran Paan Pod[c] (daun sirih) selama upacara pernikahan,[200] yang mana dikenal sebagai Badalchen (berpindah tangan; penerimaan resmi atas janji ayah mempelai perempuan kepada ayah mempelai laki-laki bahwa ia akan memberikan putrinya dalam pernikahan).[201][d][199] Mempelai wanita dihias dengan Sado (sari pernikahan)[202] dan Pirduk[f] (kalung pernikahan).[202] Ritual lainnya antara lain Onpnni (menyerahkan mempelai perempuan secara resmi oleh ayah atau wali nikahnya),[203] Porthoponn (undangan kembali ke rumah mempelai perempuan),[203] dan menyanyikan Honvious (himne).[199] Beberapa tradisi selain pernikahan misalnya Novemjeevoon (mengikutsertakan makanan yang dibuat dari jagung hasil panen pertama) dan Novem (pemberkatan hasil panen pertama).[199]

Perayaan Monti Fest dekat Gereja Bunda Maria Bunda Keajaiban di Hampankatta, Mangalore.

Selain perayaan Kristiani yang umum seperti Natal, Jumat Agung, dan Paskah, komunitas tersebut merayakan festival lainnya yang memiliki arti penting secara religius dan historis. Monti Fest merupakan salah satu festival utama, yang dirayakan setiap tanggal 8 September, yang menggabungkan perayaan Kelahiran Santa Perawan Maria dan pemberkatan Novem (hasil panen pertama). Nama festival tersebut berasal dari Gereja Monte Mariano di Farangipet, Kanara Selatan, dan diprakarsai oleh Pastor Joachim Miranda, seorang imam Katolik Goa di Farangipet, pada tahun 1763. Meskipun Tipu Sultan menghancurkan bangunan-bangunan gereja di Kanara, ia meluputkan Gereja Monte Mariano untuk menghormati persahabatan antara ayahnya (Haidar Ali) dengan Pastor Miranda.[80] Attur Jatre atau Attur Fest (festival Attur) adalah Pesta St. Laurensius, dirayakan di St. Lawrence Shrine di pinggiran Karkala, Kanara Selatan.[148] Gereja yang telah berdiri sejak tahun 1759 ini dikatakan memiliki riwayat sejarah terjadinya berbagai mukjizat.[148] Evkaristik Purshanv (Perarakan Ekaristi) adalah prosesi keagamaan tahunan yang dipimpin oleh Uskup Mangalore, dimulai dari Gereja Milagres dan berakhir di Katedral Rosari.[148] Prosesi ini diadakan setiap hari Minggu pertama Tahun Baru menurut kalender Gregorian, untuk memohon berkat pada tahun yang baru.[148]

Kostum dan perhiasan[sunting | sunting sumber]

Pasangan pengantin Katolik Mangalore mengenakan kostum pernikahan tradisional. Pengantin perempuan mengenakan Sari pernikahan (Sado); pengantin laki-laki mengenakan Todop (keliman emas), Kutanv (jubah), Pudvem (dhoti), dan Urmal (serban).

Kaum laki-laki Katolik Mangalore secara tradisi mengenakan semacam jubah/mantel hitam atau putih, yang longgar, berjumbai, dan panjang, yang disebut Kutanv (serupa dengan jubah longgar berkancing Maratha), serta melapisi Zibbo (kemeja longgar) yang dikenakannya; sedangkan Pudvem (dhoti), sehelai kain yang tidak dijahit, biasanya panjangnya 6,4 meter, dibalutkan di sekitar pinggang dan kaki serta diikat di pinggang. Serban mereka disebut Mundaas atau Urmal, biasanya rata atau dipipihkan seperti serban Coorgi.[204] Urmal merupakan sepotong kain putih panjang dengan Todop (keliman emas) yang diikatkan di kepala seperti sebuah serban dengan suatu cara tertentu yang dengannya mereka dapat dengan mudah diidentifikasi sebagai umat Katolik.[204][205] Namun di zaman modern mode ini telah berubah. Hanya beberapa orang tua yang terlihat mengenakan pakaian tradisional ini pada acara-acara gereja.[206]

Sebelum menikah, kaum perempuan mengenakan Kirgi (sari) dan Baju (blus). Kirgi merupakan sepotong kain yang panjangnya kurang lebih 1 meter, yang membalut tubuh dari pinggang ke bawah. Sehelai pakaian lengan panjang yang disebut Baju digunakan untuk membalut bagian atas tubuh. Busana ini merupakan suatu tanda keperawanan pengantin perempuan dan dikenakan selama upacara Ros.[204][207] Kirgi terlilit di sekeliling pinggang, tetapi ujungnya tidak ditaruh di atas bahu.[207] Mengenakan sari dengan ujungnya ditaruh di atas bahu, yang dikenal sebagai Worl, merupakan hak eksklusif perempuan yang sudah menikah.[208] Kaum perempuan yang sudah menikah biasa mengenakan sari dengan cara umum tersebut.[209] Salwar kameez merupakan bentuk lain busana populer bagi kaum wanita. Sari pernikahan bagi pengantin perempuan Katolik Mangalore dikenal dengan Sado,[e][210] biasanya berupa sari Banarasi berwarna merah yang terbuat dari sutra tenun halus dan dihiasi banyak corak atau ukiran.[202] Dahulu pengantin perempuan mengenakan sehelai kain merah, seluas 3 kaki persegi, pada kepalanya. Perhiasan emas tidak digunakan pada saat itu: pengantin perempuan datang ke gereja dengan berpakaian layaknya seorang anak dara. Di zaman modern, pengantin perempuan mengenakan sari merah (sebagai ganti Kirgi), namun bagian ujung sari tersebut tidak diletakkan di atas bahu; sari dililitkan pada pinggang. Pengantin perempuan memakai sedikit perhiasan emas, beberapa cincin pada jari-jarinya, dan setidaknya dua Dantoni (sisir emas).[210] Perhiasan lainnya yang dipakai pengantin perempuan pada masa lalu misalnya Kanti, Chakrasar, Kap, Karap, Mugud, Kanto, dan Dantoni.[207]

Sebuah sari pernikahan (sado) khas Katolik Mangalore.

Dantoni terdiri dari dua sisir biasa dengan bagian atas masing-masingnya dilapisi dengan emas; keduanya dipakai di rambut pada kedua sisi kepala di atas telinga. Dalam perjalanan ke gereja, pengantin perempuan memakai beberapa bunga berwarna merah dan putih yang disematkan di rambut. Di tengah dahi, ditaruh sebuah Bang (untaian emas) bersama dengan sebuah liontin.[211] Pirduk (Mangalsutra)[f] merupakan kalung yang terbuat dari manik-manik hitam yang diuntai pada kawat emas baik sebagai sebuah rangkaian tunggal ataupun ganda, dengan sebuah liontin dikaitkan padanya.[212] Kalung ini dipakai selama suaminya masih hidup; dan seorang janda diharapkan melepaskannya.[208] Kalung ini juga sangat dihargai oleh kaum wanita sebagai simbol bahwa mereka telah menikah.[213] Seorang janda diharapkan mengenakan sari hitam selama sisa hidupnya, dan tidak diperbolehkan memakai perhiasan apapun.[190] Busana pengantin laki-laki pada masa awal terdiri atas semacam sarung dari kain tenunan tangan (Dhoti), selendang untuk menutupi bahu, dan saputangan merah pada kepalanya (Leis). Belakangan busana mereka terdiri atas kain pinggang putih dengan keliman merah dan emas (todop), kemeja dengan kancing emas dan jubah (Kutanv), selendang di bahu, dan serban (Urmal) di kepala.[204][207] Pengantin laki-laki memakai Chakrasar (rantai leher) di sekeliling lehernya, dan sepasang sandal atau setidaknya sepasang kaus kaki.[214] Saat ini, kebanyakan pasangan Katolik Mangalore memilih pernikahan gaya Barat (white wedding), yang mana pengantin laki-laki mengenakan setelan jas dan pengantin perempuan mengenakan gaun pengantin putih.[215] Pernikahan dengan gaya tradisional menjadi semakin jarang ditemukan.[216]

Masyarakat historis[sunting | sunting sumber]

Foto seorang tokoh pria Katolik Mangalore dari kasta Bamonn, kr. 1938.

Umat Katolik Mangalore mempertahankan sistem kasta yang sama dengan leluhur mereka di Goa. Utamanya mereka terbagi dalam empat kasta: Bamonn, Charodi, Sudir, dan Gaudi.[193]

Kelompok terbesar adalah Bamonn, yang merupakan konversi dari golongan pendeta Brahmin (Brahmana).[32] Semua sub-kasta Brahmin seperti Brahmin Saraswat Goud, Padye, dan Daivadnya, terutama para pandai emas dan beberapa pedagang, dikelompokkan ke dalam kasta Kristen Bamonn.[217] Keturunan Saraswat Goud yang melakukan konversi merupakan mayoritas dari kasta ini.[32] Kasta Bamonn dibagi lagi menjadi kasta-kasta lain sesuai dengan peringkatnya. Di Mangalore, mereka dibagi menjadi Sirudhegars (kelas tertinggi), Alhdhengars, Cutdhnangars, Dhivodegars, Nathnolegars, Sashragars, Puruvargars, dan Maidhegars. Nama-nama tersebut diambil dari desa-desa asal mereka dahulu.[218] Kelompok ini merupakan para tuan tanah. Sesuai dengan hukum Hindu tradisional yang memungkinkan seorang Brahmin untuk memiliki pekerjaan atau profesi apapun selain budidaya tanaman, para Bamonn menahan diri untuk tidak membudidayakan lahan mereka dan menyewakannya.[219]

Charodi, kelompok terbesar kedua, merupakan konversi dari kasta Kesatria (kelas prajurit) dan Waisya (kelas pedagang). Mereka umumnya bergerak dalam bidang perdagangan dan komersial.[220] Konversi para pengrajin membentuk kelompok terbesar ketiga dan dikenal sebagai kasta Sudir (kata Konkani untuk Sudra, yang adalah kelas pekerja/buruh).[193] Mereka merupakan para pekerja dan tenaga kerja pertanian yang bergerak dalam bidang profesi jasa.[220] Konversi dari kasta para nelayan yang tinggal di sekitar Ullal, Kuloor, dan tempat lainnya di sekitar tepi laut, disebut para Gaudi dan membentuk kelompok keempat.[32] Mereka membudidayakan lahan para Bamonn dan umat Hindu berkasta tinggi.[219] Kasta kecil lainnya yaitu Padval, yang mana sejarawan Severine Silva menganggapnya sebagai konversi dari Jain setempat.[32]

Suatu keluarga besar Katolik di Mangalore dari kasta Bamonn, kr. 1929.

Umat Katolik Mangalore merupakan sebuah komunitas kecil yang tersebar secara luas di distrik Kanara Selatan. Bukannya membentuk sebuah kelompok yang bersatu dan menjalin hubungan erat, para imigran Katolik Goa tersebut dan keturunan mereka tidak bergaul dengan umat Katolik pribumi karena perbedaan kasta, asal usul, dan bahasa; bahkan di antara mereka sendiri sangat dipisahkan oleh kasta.[4] Umat Hindu, termasuk para Brahmin pribumi (kebanyakan dari sub-kelompok Shivalli, Havyaka, Kota) dan orang-orang Bunt, tidak bergaul dengan umat Katolik dan tidak menerima mereka masuk ke dalam rumah karena agama mereka.[190] Namun umat Katolik tetap memelihara hubungan dekat dengan umat Hindu yang kastanya sama, yang juga pengungsi dari Goa. Umat Katolik akan mengundang para sepupu Hindu mereka dalam berbagai acara seperti perayaan ulang tahun, pernikahan, dan pemakaman. Umat Hindu menerima undangan-undangan tersebut.[190] Berbeda dengan umat Hindu sesama mereka, umat Katolik Mangalore dari kasta yang tinggi tidak menganggap diri mereka tercemar akibat kontak fisik dengan anggota kasta yang lebih rendah, tetapi anggota kasta-kasta yang berlainan tidak saling bergaul akrab atau mengundang makan ke rumah.[221]

Pernikahan antar anggota kasta yang berlainan tidak diperbolehkan, dan dihalang-halangi secara tegas oleh para sesepuh. Misalnya, pemuda Bamonn hanya akan menikahi gadis Bamonn dan pemuda Charodi hanya akan menikahi gadis Charodi.[222] Para Bamonn dan Charodi akan mengundang tetangga dan teman mereka dari kasta Sudir dan Gaudi pada acara-acara khusus seperti pernikahan dan pembaptisan, meskipun yang diundang ini perlu memperhatikan berbagai batasan tertentu berkaitan dengan tempat duduk dan makanan. Kasta-kasta yang lebih rendah merasa terhormat jika mereka diundang, dan biasanya menerima undangan tersebut.[223] Kasta-kasta yang lebih tinggi biasanya tidak menghadiri perayaan kasta-kasta yang lebih rendah walaupun diundang secara eksplisit.[224] Sistem kasta ini tetap bertahan di kalangan umat Katolik Mangalore dan, sebagaimana dahulu kala, perbedaan kasta masih terlihat secara mencolok selama terbentuknya persekutuan pernikahan.[225]

Sakristan Gereja St. Lawrence, Moodubelle, memberikan restu kepada cucunya saat upacara Ros sang cucu; kr. 1975.

Sulit bagi beberapa imam, yang pada saat itu menemani para emigran Kristen menuju Kanara Selatan, untuk mengurus mereka dengan baik. Karenanya timbullah sistem Gurkar. Para Gurkar merupakan kaum pria Katolik Mangalore dengan karakter moral yang baik, yang dipilih sebagai para kepala desa/kampung di pemukiman Kristen. Mereka dipercaya untuk melakukan pengawasan sosial dan keagamaan di masyarakat tersebut.[46] Setelah migrasi, satu-satunya pekerjaan yang memungkinkan bagi seorang Katolik Mangalore adalah agrikultur, karena mereka adalah petani-petani yang terampil.[32] Setiap petani juga melakukan pekerjaan pertukangan, namun tekniknya cukup sederhana dan tidak terampil; serta tidak ada industri atau kerajinan lainnya.[226] Misa dirayakan dalam bahasa Latin; tetapi khotbah, katekisasi, dan penjelasan mengenai misteri-misteri disampaikan kepada jemaat dalam bahasa Konkani.[227]

Semua paroki dikelompokkan menjadi berbagai dekenat yang disebut Varados. Setiap paroki dibagi-bagi ke dalam berbagai wilayah/lingkungan, dan kebanyakan paroki memiliki Dewan Paroki.[133] Sekitar 15 persen rumah tangga di seluruh paroki merupakan kalangan terpelajar.[228] Seorang janda harus tetap di dalam rumah, dapat dikatakan, selama sisa hidupnya. Karena janda Hindu dari kasta tinggi tidak dapat menikah lagi setelah kematian suami mereka, maka umat Kristen dari kasta tinggi juga menganggap pernikahan kembali seorang janda sebagai sesuatu yang tidak wajar. Hukum kanon mengizinkan pernikahan kembali para janda dan karena itu sebenarnya tidak ada larangan secara langsung bagi para janda untuk menikah kembali dalam masyarakat Kristen Kanara Selatan. Beberapa wanita memiliki keberanian untuk menentang ketentuan yang ketat dari komunitas mereka. Seorang janda yang menikah kembali dipandang rendah, disayangkan, dan dijauhi karena dianggap pembawa ketidakberuntungan. Tetapi ia tidak diperlakukan sewenang-wenang atau dikucilkan, dan tidak ada stigma atau aib yang disematkan pada suaminya.[190][221] Suksesi harta kekayaan dipraktikkan sesuai dengan hukum Hindu.[221]

Musik dan lagu[sunting | sunting sumber]

Konkani Nirantari, suatu acara budaya Konkani, tercatat dalam Guinness World Records karena menyanyikan himne Konkani tanpa henti selama 40 jam.

Pada tanggal 26 dan 27 Januari 2008 Konkani Nirantarai, suatu acara budaya Konkani, diadakan di Mangalore oleh organisasi Katolik Mangalore Mandd Sobhann; dicatat dalam Guinness World Records karena menyanyi himne Konkani secara non stop.[229] Para anggota Mandd Sobhann menyanyi selama 40 jam, melampaui rekor lama 36 jam yang dipegang oleh suatu kelompok musik Brasil, Communidade Evangelica Luterana São Paulo (Komunitas Evangelikal Lutheran São Paulo) dari Universidade Luterana do Brasil (Universitas Lutheran Brasil).[229] Silver Band, dimulai pada tahun 1906 oleh Lawrence D'Souza di Mangalore, merupakan salah satu kelompok musik tiup logam (brass brand) yang tertua dan paling populer di Mangalore.[230] Himne Konkani terkenal Riglo Jezu Molliant (Yesus masuk ke Taman Getsemani) ditulis oleh Pastor Joachim Miranda, seorang imam Katolik Goa abad ke-18, saat ia ditawan oleh Tipu Sultan dalam misinya di Kanara.[231] Mgr. Minguel Placid Colaco menggubah himne devosional Jezucho Mog (Kasih Yesus)[232] pada tahun 1905,[182] dan menerjemahkan himne Latin Stabat Mater ke dalam bahasa Konkani dengan judul Khursa Mullim (Di Bawah Salib Suci).[233] Shembor Cantigo (100 Himne) karya Joseph Saldanha,[233] dan Deva Daia Kakultichea (O Guru Yang Berbelas Kasih) juga merupakan himne-himne yang populer.[234] Himne Konkani populer lainnya yang digubah oleh umat Katolik Mangalore adalah Aika Cristanv Jana (Dengarlah, Hai Umat Kristen), Utha Utha Praniya (Bangunlah, Segala Makhluk), and Sorgim Thaun (Dari Surga).[235]

Musik pop Konkani menjadi populer setelah Kemerdekaan India pada tahun 1947. Henry D'Souza dan Helen D'Cruz dikenal karena duet cinta Konkani Kathrina pada tahun 1971[236] dan balada cinta Garacho Divo (Lampu Rumah) pada tahun 1970-an;[237] sementara soneta gubahan Wilfy Rebimbus tahun 1977, Mog Tuzo Kithlo Axelom (Betapa Ku Mencintai-Mu), juga populer.[238] Drama Konkani, terutama yang religius, ditulis dan dipentaskan di Mangalore pada abad ke-20 oleh para dramawan terkemuka seperti Pedru John D'Souza, Pascal Sequeira, dan Bonaventure Tauro.[121] Ghumat merupakan suatu alat musik populer yang dimainkan terutama saat acara pernikahan.[239] Instrumen membranofon tersebut berupa sebuah pot tanah yang terbuka di kedua sisinya; satu sisinya ditutup dengan kulit suatu satwa liar, dan sisi lainnya dibiarkan terbuka.[240] Bentuk teater tradisional disebut Gumat, dan tampil pada malam pernikahan atau dalam kaitannya dengan perayaan pernikahan di pandal (panggung) yang dihias.[241] Drama tersebut dilakukan oleh kaum pria dari kedua belah pihak mempelai perempuan dan laki-laki, serta biasanya berlangsung selama dua atau tiga malam; pada umumnya mengisahkan tokoh-tokoh dari cerita Alkitab, dan moralitas mereka disajikan dengan tujuan untuk mendidik para mempelai.[241] Tradisi ini telah hampir sepenuhnya mati pada generasi sekarang.[241]

Tradisi Voviyo (lagu-lagu pernikahan), yang mana dinyanyikan oleh kaum wanita selama upacara Ros, memiliki arti penting bagi komunitas ini. Tata caranya yaitu seorang wanita berumur, biasanya yejman (istri pemimpin upacara, yang dikenal sebagai yejmani) yang mengetahui voviyos, memimpin lagu sementara wanita lainnya ikut bernyanyi bersama. Hanya para wanita yang suaminya masih hidup yang dapat bernyanyi. Pada zaman dahulu lagu-lagu pernikahan tersebut dinyanyikan dengan sangat luhur dan agung, yang diungkapkan secara emosional kepada para hadirin tentang kedua mempelai dan keluarga mereka, berupa permohonan kepada Tuhan untuk memberkati mereka.[242]

Organisasi[sunting | sunting sumber]

Terdapat beberapa organisasi pada komunitas tersebut di Kanara Selatan. Organisasi yang paling terkenal adalah Mandd Sobhann, yang memecahkan rekor Guinness untuk menyanyi tanpa henti dan Asosiasi Katolik Kanara Selatan.[244] Sesi pertama dari Konvensi Dunia Katolik Konkani Kanara diadakan pada 26 Desember 2004 di Mangalore.[245] Konvensi tersebut diselenggarakan untuk mendirikan institusi-institusi untuk mengadakan penelitian tentang sejarah umat Katolik Mangalore.[246] Di India, Asosiasi Katolik Kanara Bangalore (didirikan pada 1955)[247] dan Asosiasi Katolik Mangalore (didirikan pada 10 Februari 1996 di Pune) dikenal dengan baik.[248] Di Britania Raya, Asosiasi Konkani Bersatu Mangalore di Nottingham juga populer.[249] Asosiasi Katolik Mangalore Viktoria yang didirikan di Melbourne adalah organisasi pertama komunitas tersebut di Australia.[250] Pada 2006, Asosiasi Katolik Mangalore Sydney (MCAS) didirikan di Australia.[139] Di Amerika Utara, Asosiasi Mangalore Kanada[251] dan Asosiasi Kristen Konkan Mangalore di Chicago dikenal dengan baik.[252] Di Timur Tengah, Asasiasi Kebudayaan Mangalore di Doha, Qatar; didirikan pada Maret 2008.[253]

Tokoh Katolik Mangalore Terkenal Prestasi
Joachim Alva Anggota Rajya Sabha, dewan tinggi Parlemen India, dari 1968 sampai 1974[254]
Margaret Alva Anggota Rajya Sabha dari 1972 sampai 1998; dilantik menjadi Gubernur Uttarakhand pada 2009[255]
Richard Crasta Novelis Amerika[256]
Blasius D'Souza Politikus dalam Kongres Nasional India dan menteri Katolik Roma pertama dalam pemerintahan negara bagian Karnataka[257]
Genelia D'Souza Aktris India[258]
Jerome D'Souza Imam Yesuit, pendidik, penulis, dan anggota Majelis Konstituen India dari 1946 sampai 1950[259]
Tony D'Souza Novelis Amerika[260]
George Fernandes Menteri Pertahanan India dari 19 Maret 1998 sampai 22 Mei 2004[183]
Roque Fernandes Presiden Institut Teknologi Manipal yang pertama, Kepala Sekolah Tinggi Negeri Udupi, ayah dari Oscar Fernandes
Oscar Fernandes Anggota Lok Sabha, dewan rendah Parlemen India, dari 1980 sampai 1998[261]
Michael Lobo Penulis, ilmuwan dan genealog India[187]
Maxwell Pereira Perwira LPI yang menjabat sebagai Asisten Komisaris Polisi dan Wakil Komisaris Polisi di Delhi, Petinggi Polisi Sikkim, Asisten Inspektur Jenderal Polisi dan Kepala Perwira Pengawas di Mizoram, dan Inspektur Jenderal Polisi Puducherry.[262]
Diana Pinto Miss India America 2009[263]
Freida Pinto Aktris Hollywood yang dikenal karena perannya dalam Slumdog Millionaire[264]
Pius Fidelis Pinto Sejarawan, peneliti, dan akademisi bidang Kekristenan India[265]
Viren Rasquinha Kapten tim hoki lapangan nasional India[266]
Wilfy Rebimbus Penyanyi dan penulis lirik Konkani[267]
Victor Rodrigues Novelis dan penulis cerita pendek Konkani[268]
Lawrence Saldanha Uskup Agung Keuskupan Agung Lahore dari 2001 sampai 2011[269]
John Richard Lobo Anggota Majelis Legislatif konstituensi Mangalore Selatan saat ini[270]
Terence Lewis Penari dan koreografer India[271]
V.J.P. Saldanha Penyair, musisi, pengarang drama, dan pembuat sastra Konkani[272]
Adrian D'souza Pemain Hoki Olimpiade India

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

a ^ Sebagian besar tentara Kristen di angkatan bersenjata wangsa Nayaka dari Keladi merupakan kasta Charodi.[273]
b ^ Ros adalah suatu upacara yang serupa dengan upacara Tel yang dilakukan oleh umat Hindu Goa.[274] Tel merupakan suatu upacara keberuntungan di mana mempelai perempuan Hindu mengenakan sebuah sari kuning, sementara para wanita dari keluarganya akan menggosok tubuhnya dengan kunyit dan minyak. Mereka melakukannya dengan bantuan dua buah daun pohon mangga di atas dahi, leher, dada, bahu dan kaki mempelai wanita.[275] Cara yang sama diikuti juga, di mana mempelai wanita Kristen diolesi dengan kunyit, santan, tepung beras dengan daun-daun ambolim untuk membuat kulit halus, baik, dan mempersiapkan mempelai perempuan untuk pernikahan. Pada tahun 1736, praktik ini dilarang oleh Inkuisisi Suci di Goa.[274]
c ^ Bido adalah bungkusan kecil berisi potongan pinang yang dibungkus ke dalam sebuah daun sirih dengan penambahan beberapa rempah-rempah. Pan-pod sama juga, namun ditempatkan secara bebas dalam sebuah piring, sehingga setiap tamu dapat menyiapkan periuknya sendiri. Pinang yang belum dipotong-potong disebut popal, yang sudah dipotong kecil-kecil disebut pod.[200]
d ^ Pada masa lampau, Kanara terkenal dengan rempah-rempahnya. Paan (daun sirih) dan pod (pinang yang dipotong-potong kecil), serta buah pohon pinang disediakan banyak sekali pada semua acara meriah. Rempah-rempah tersebut tidak dicampurkan dengan chuno (kapur tohor). Kenyataannya, setiap rumah selalu menyediakan piring tembaga atau kuningan untuk suatu pesta pan-pod. Setiap kali seorang tamu tiba di rumah, merupakan kebiasaan untuk menawarkannya piring ini dengan sebuah daun sirih segar yang baru dipetik dari tumbuhan merambat tersebut. Sebuah biji pinang yang dikenal sebagai tobak atau dumti (tembakau) disiapkan dan ditempatkan pada piring kuningan itu.[200]
e ^ Setelah pernikahan selesai, sado disimpan dengan baik dan hanya dikenakan pada hari-hari pesta besar atau untuk pesta pernikahan. Terkadang sebuah sado yang sangat berharga diwariskan dari ibu kepada putrinya dan dianggap sebagai sebuah pusaka yang berharga. Biaya perolehan sebuah sado diperhitungkan dalam varahas. Beragam sari dikenal dengan nama-nama khusus seperti Katari, Shilari, Gulabi, dan sebagainya.[202] Sado dan Dharma Sado merupakan dua macam sari yang mahal; Sado adalah yang termahal, sedangkan Dharma Sado yang termahal kedua.[207]
f ab Umat Hindu menyebutnya mangalsutra atau mangala-sutra (kalung keberuntungan); merupakan tanda sudah menikah.[202] Pada masa lalu, Mangalsutra dibuat dari manik-manik kaca hitam yang diuntai pada sehelai benang yang terbuat dari serat daun nanas kering.[208] Pola kasar yang lazim dari pirduk semakin diperbaiki seiring perjalanan waktu. Di kemudian hari manik-manik emas yang agak panjang disisipkan di antara manik-manik kaca hitam, dan ditambahkan sebuah liontin. Pada awalnya liontin berupa sebuah piringan perak yang bundar, disebut thali. Belakangan diubah menjadi sebuah liontin emas.[213]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Kutipan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c Statistics, Diocese of Mangalore, diakses tanggal 12 January 2011 
  2. ^ a b Koṅkṇi humiṇyo 1981, p. 203: "Kota ini (Mangalore) memiliki proporsi umat Katolik Roma yang sangat signifikan, yang jumlahnya lebih dari seperempat total penduduk. Merupakan takhta Keuskupan Katolik Roma Mangalore Ritus Latin, dan karenanya ketika kita berbicara tentang umat Katolik Mangalore, kita tidak membatasi diri hanya pada sekitar 60.000 umat Katolik di dalam kota ini, namun pada sebanyak total lebih dari 200.000 umat Katolik yang tersebar di seluruh keuskupan tersebut, yang mana mencakup seluruh distrik sipil Kanara Selatan."
  3. ^ Farias 1999, hlm. 299: "Hidup empat abad lamanya di Kanara Selatan memberikan umat Katolik ini suatu identitas sendiri. Sehingga mereka umumnya dikenal sebagai umat katolik Mangalore."
  4. ^ a b c Silva & Fuchs 1965, hlm. 6
  5. ^ Silva & Fuchs 1965, hlm. 4–5
  6. ^ a b c Pereira, Maxwell (3 May 1999), "We the Mangaloreans", The Indian Express 
  7. ^ Larsen 1998, hlm. 357
  8. ^ Larsen 1998, hlm. 361
  9. ^ Prabhu 1999, hlm. XV
  10. ^ Fernandes 1969, hlm. 246 "Sebagian besar leluhur Hindu kami berasal dari komunitas Saraswat dan Brahmin Saraswat Goud."
  11. ^ Prabhu 1999, hlm. 154
  12. ^ a b c Silva & Fuchs 1965, hlm. 4
  13. ^ a b c South Kanara District Gazetteer 1973, hlm. 101
  14. ^ Prabhu 1999, hlm. 78
  15. ^ Jordanus & Yule 2001, hlm. 40
  16. ^ a b Prabhu 1999, hlm. 81
  17. ^ The great prelates who shaped the history of Diocese of Quilon, Quilon Diocese, diarsipkan dari versi asli tanggal 3 November 2007 
  18. ^ J. Kamath (16 September 2002). "Where rocks tell a tale". The Hindu Business Line. Diakses tanggal 8 July 2008. 
  19. ^ a b South Kanara District Gazetteer 1973, hlm. 52
  20. ^ Prabhu 1999, hlm. 155
  21. ^ a b Shastry & Borges 2000, hlm. 260
  22. ^ Pinto 1999, hlm. 152
  23. ^ Raghuram, M (23 October 2007), Abbakka's legacy being revived, Chennai, India: The Hindu, diakses tanggal 24 August 2008 
  24. ^ Mathew, K. M. (1988). History of the Portuguese Navigation in India, 1497–1600. Delhi: Mittal Publication. hlm. 123. ISBN 978-81-7099-046-8. 
  25. ^ Shastry & Borges 2000, hlm. 256
  26. ^ a b c d Prabhu 1999, hlm. 157
  27. ^ Pinto 1999, hlm. 183
  28. ^ Schurhammern, Georg (1982). Francis Xavier; His Life, His Times: India, 1541–1545. Jesuit Historical Institute. hlm. 148. ISBN 978-0-8294-0355-8. 
  29. ^ Baring-Gould S (Sabine) (2009). The Lives of the Saints, Volume XIV. BiblioBazaar, LLC. hlm. 629. ISBN 978-1-110-73420-7. 
  30. ^ a b c d e Rodrigues, Vernon (2 March 2009). Myaboo, Philip, ed. "Mangalorean Pagan Catholics". The Secular Citizen. Mumbai: Printed and published by Lawrence Coelho. 18 (9): 12. RNI No. 56987/92, Registered No. 139/2009-11. 
  31. ^ Kanjamala, Augustine; Commission for Proclamation and Communication (Catholic Bishops' Conference of India) (1997). Paths of Mission in India Today. Bandra, India: St Pauls. hlm. 160. ISBN 978-81-7109-286-4. 
  32. ^ a b c d e f g h i Silva & Fuchs 1965, hlm. 5
  33. ^ a b Pinto 1999, hlm. 150
  34. ^ a b South Kanara District Gazetteer 1973, hlm. 102
  35. ^ Buchanan 1988, hlm. 23
  36. ^ a b c Buchanan 1988, hlm. 24
  37. ^ Larsen 1998, hlm. 353
  38. ^ a b c d e Christianity in Mangalore, Diocese of Mangalore, diarsipkan dari versi asli tanggal 22 June 2008 
  39. ^ George 2010, hlm. 128
  40. ^ a b Brief history of the Archdiocese of Verapoly, Archdiocese of Verapoly, diakses tanggal 22 December 2009 
  41. ^ a b c Pinto 1999, hlm. 208
  42. ^ Pinto 1999, hlm. 209
  43. ^ a b Prabhu 1999, hlm. 158
  44. ^ a b c Prabhu 1999, hlm. 159
  45. ^ Pinto 1999, hlm. 212
  46. ^ a b Silva & Fuchs 1965, hlm. 9
  47. ^ Raviprasad Kamila (30 November 2005), Jubilee celebrations at Milagres Church on Tuesday, Chennai, India: The Hindu 
  48. ^ Raviprasad Kamila (27 November 2004), The holy heritage, Chennai, India: The Hindu 
  49. ^ a b c d e Prabhu, Alan Machado (1999). Sarasvati's Children: A History of the Mangalorean Christians. Bangalore: I.J.A. Publications. ISBN 978-81-86778-25-8.  Materi tersedia dalam artikel Sarasvati's Children, ditulis oleh Joe Lobo, Presiden Asosiasi Katolik Goa di Florida, terutama disadur dari buku Alan Machado.
  50. ^ Prabhu 1999, hlm. 132
  51. ^ Kurzon 2004, hlm. 77
  52. ^ Prabhu 1999, hlm. 167
  53. ^ a b c Prabhu 1999, hlm. 160
  54. ^ Prabhu 1999, hlm. 162
  55. ^ George 2010, hlm. 132
  56. ^ George 2010, hlm. 134
  57. ^ a b South Kanara District Gazetteer 1973, hlm. 62
  58. ^ Rural Industrialization in Backward Areas 2006, hlm. 37
  59. ^ Silva 1957, N. 6, p. 90
  60. ^ Jayadev 1996, hlm. 66
  61. ^ Tour 1855, p. 236: Segera setelah Haidar diberitahu tentang hal ini, ia memanggil para pedagang ini untuk menghadapnya, bersama dengan kepala pos dagang Portugis, dan beberapa imam Kristen dari 3 gereja di Mangalore. Ia kemudian menanyakan para pimpinan Portugis dan imam tersebut, hukuman apa yang diberikan orang-orang Kristen pada orang-orang yang berani mengkhianati kedaulatan mereka, dengan memberi bantuan pada musuh-musuhnya. Perwira Portugis tersebut tanpa ragu-ragu menjawab bahwa kejahatan seperti itu setimpal dengan hukuman mati, Haidar menjawab, "Saya tidak menghakimi dengan cara itu, sebab hukum kami lebih ringan. Karena mereka menjadikan diri mereka bangsa Inggris dengan melibatkan diri untuk melayani mereka, harta mereka akan diputuskan menjadi milik orang-orang Inggris; dan mereka sendiri akan dimasukkan ke penjara sampai aku membuat perdamaian dengan bangsa tersebut."
  62. ^ Silva 1957, N. 6, pp. 103–104
  63. ^ Silva 1957, N. 6, p. 105
  64. ^ South Kanara District Gazetteer 1973, hlm. 63
  65. ^ South Kanara District Gazetteer 1973, hlm. 64
  66. ^ Silva 1957, N. 6, p. 116
  67. ^ "Dalam tulisan Tipu sendiri, ia membenarkan tindakannya sebagai yang timbul dari "amarah Islam yang mulai mendidih di dadanya" atas sesuatu yang dilakukan bangsa Portugis berabad-abad sebelumnya."Machado 1999, hlm. 191
  68. ^ Silva 1957, N. 6, p. 117
  69. ^ Deportation & The Konkani Christian Captivity at Srirangapatna (1784 Feb. 24th Ash Wednesday), Daijiworld Media Pvt Ltd Mangalore 
  70. ^ Forrest 1887, hlm. 314–316
  71. ^ The Gentleman's Magazine 1833, hlm. 388
  72. ^ Prabhu 1999, hlm. 183
  73. ^ Prabhu 1999, hlm. 231
  74. ^ Farias 1999, hlm. 76
  75. ^ Prasad 1980, hlm. 20
  76. ^ a b D'Souza 2004, hlm. 48
  77. ^ Farias 1999, hlm. 73
  78. ^ Silva 1957, N. 6, p. 128
  79. ^ a b Farias 1999, p. 74: "Lebih dari sepertiga yang menyerah sebelum rombongan tersebut sampai di Seringapatam. Laporan mengenai pengepungan dan pembuangan umat Katolik Kanara ini diambil dari naskah Kannada lama yang ditulis oleh seorang Katolik dari taluka Barkur sekembalinya ia dari Seringapatam saat kekalahan dan kematian Tipu."
  80. ^ a b John B. Monteiro, Monti Fest Originated at Farangipet – 240 Years Ago!, Daijiworld Media Pvt Ltd Mangalore 
  81. ^ a b Natan 2006, hlm. 655
  82. ^ Silva & Fuchs 1965, hlm. 2
  83. ^ D'Souza 2004, hlm. 49
  84. ^ Fernandes 1969, hlm. 249
  85. ^ a b Pastor 1978, hlm. 397
  86. ^ Prabhu 1999, hlm. 213
  87. ^ Account of a Surviving Captive, A Mr. Silva of Gangollim (Surat L.R. Silva kepada saudarinya, salinan dari yang diberikan oleh seorang advokat, M.M. Shanbhag, kepada sang pengarang, Severine Silva, dan diperbanyak sebagai Appendix No. 74: History of Christianity in Canara (1965))
  88. ^ Prabhu 1999, hlm. 226
  89. ^ Prabhu 1999, hlm. 230
  90. ^ a b Wellington & Gurwood 1837, hlm. 40
  91. ^ John B Monteiro (15 August 2006), Canara Catholics in Freedom Quest, Daijiworld Media Pvt Ltd Mangalore 
  92. ^ Prabhu 1999, hlm. xiv
  93. ^ Farias 1999, hlm. 81
  94. ^ Saldanha 1938, hlm. 79
  95. ^ Gazetteer of the Bombay Presidency 1883, hlm. 381
  96. ^ a b Lobo 1999, p. ix: "Para anggota komunitas kami sekarang dapat ditemukan di seluruh dunia –dari Norwegia di utara sampai Chili di barat daya dan Selandia Baru di tenggara. Ada orang-orang Mangalore di hampir setiap negara di Eropa dan di hampir setiap negara bagian Amerika Serikat. Ada orang-orang Mangalore di lokasi yang eksotis dan tidak biasa seperti Korea, Bahama, dan Papua Nugini. Yang mengikat para anggota komunitas Mangalore yang beragam dan saling berjauhan ini adalah bahwa mereka umumnya berasal dari sekelompok kecil keluarga yang kembali ke kampung halaman mereka pada tahun 1799."
  97. ^ A Gazetteer of the World 1856, hlm. 254
  98. ^ Pai & Supriya 1981, hlm. 217
  99. ^ South Kanara District Gazetteer 1973, hlm. 65
  100. ^ Farias 1999, hlm. 85
  101. ^ Indica 1997, hlm. 146
  102. ^ a b Silva 1961, hlm. 165
  103. ^ The Gentleman's Magazine 1833, hlm. 389
  104. ^ Paths of mission in India today 1997, hlm. 161–162
  105. ^ The Oriental Herald 1824, hlm. 14
  106. ^ The Oriental Herald 1824, hlm. 15
  107. ^ The Oriental Herald 1824, hlm. 16
  108. ^ Prabhu 1999, hlm. 245
  109. ^ Monteiro, John B., Mangalore: Comtrust Carries On Basel’s Mission, Daijiworld Media Pvt Ltd Mangalore 
  110. ^ a b c South Kanara District Gazetteer 1973, hlm. 103
  111. ^ Farias 1999, hlm. 91
  112. ^ Farias 1999, hlm. 92
  113. ^ Farias 1999, hlm. 108
  114. ^ Indica 1988, hlm. 144
  115. ^ The Imperial Gazetteer of India, v. 14, hlm. 361
  116. ^ Farias 1999, hlm. 113
  117. ^ College all set to celebrate 125th anniversary, The Hindu, 8 January 2004 
  118. ^ About St. Aloysius College, St. Aloysius College (Mangalore), diarsipkan dari versi asli tanggal 27 May 2008 
  119. ^ About Chapel, St. Aloysius College (Mangalore) 
  120. ^ About St. Joseph's Seminary (Mangalore), St. Joseph's Seminary 
  121. ^ a b Sardesai 2000, hlm. 291
  122. ^ Lobo 2000, hlm. vi
  123. ^ Larsen 1998, Migrants in Bombay, pp. 287–348
  124. ^ Larsen 1998, The 'Cultural Identity' of Mangaloreans in Bangalore, pp. 370–373
  125. ^ Research in sociology 1989, hlm. 88
  126. ^ Farias 1999, p. 286: "Suatu hubungan karenanya dipertahankan dalam kontak komunitas tersebut dan kontribusi ke kampung halaman mereka. Umat Kristen telah bermigrasi ke daerah perkotaan terutama kota-kota seperti Bangalore, Bombay, Kalkuta, Karachi, Madras, Mysore dan Pune untuk mencari padang rumput hijau seperti yang dilakukan komunitas agraris lainnya dari bagian lain India."; "Pada awalnya umat Kristen yang meninggalkan Kanara Selatan adalah umat Protestan dari Misi Basel, beberapa orang pergi pada tahun 1880-an dan tiba di Bombay. Umat Katolik yang terdiri dari beberapa orang datang ke Bombay hampir satu dekade kemudian."
  127. ^ Farias 1999, hlm. 295
  128. ^ Correspondent (23 January 2008), Minister recalls contribution of Joachim Alva, Chennai, India: The Hindu, diakses tanggal 26 November 2009 
  129. ^ The Imperial Gazetteer of India, v. 14, hlm. 360
  130. ^ Oddie 1991, hlm. 127
  131. ^ D'Sa 1972, hlm. 1
  132. ^ Indica 1983, hlm. 113
  133. ^ a b Paths of mission in India today 1997, hlm. 159
  134. ^ Nativity Fest Around the World, Daijiworld Media Pvt Ltd Mangalore, diakses tanggal 30 October 2008 
  135. ^ a b Lobo 1999, p. xiii: "Jika suatu survei komprehensif tentang komunitas Katolik Kanara Selatan, secara keseluruhan, harus diupayakan, dugaan saya adalah sekitar separuh masih berada baik di Mangalore atau di salah satu kota/desa kecil distrik tersebut. Separuh sisanya, sekitar 15% tinggal di bagian lain Karnataka (terutama Bangalore dan daerah-daerah Ghat), 15% di Bombay dan sekitarnya, 10% di negara-negara Teluk, 5% di India bagian lainnya, dan 5% sisanya di bagian lain dunia ini."
  136. ^ Oddie 1991, hlm. 140
  137. ^ Nair 2004, hlm. 88 "Ada sekitar 200 umat Katolik yang berasal dari Mangalore dan sekitarnya yang tinggal di Kalkuta selama seratus tahun terakhir ini atau lebih lama lagi."
  138. ^ a b c Prabhu 1999, hlm. 156
  139. ^ a b The Birth of the Mangalorean Catholic Association of Sydney Inc. (MCAS) (PDF, 15.8 KB), Mangalorean Catholic Association of Sydney (MCAS), diakses tanggal 29 February 2008 
  140. ^ a b Babu, Savitha Suresh (17 February 2007), Tiles for style, The Hindu, diakses tanggal 4 April 2008 
  141. ^ Somerset, Bond & Wright 2004, hlm. 511
  142. ^ Giriappa 1994, hlm. 62
  143. ^ Somerset, Bond & Wright 2004, hlm. 510
  144. ^ South Kanara District Gazetteer 1973, hlm. 118
  145. ^ a b Panikkar 1929, hlm. 183
  146. ^ Silva & Fuchs 1965, hlm. 44–45
  147. ^ Typically home, Chennai, India: The Hindu, 11 August 2007 
  148. ^ a b c d e Stephen D'Souza, What's in a Name?, Daijiworld Media Pvt Ltd Mangalore 
  149. ^ Arun Bhatia (17 June 2002), Anyone for shark curry?, The Hindu 
  150. ^ Sen 2004, hlm. 110
  151. ^ Santa, cakes and kuswar, The Hindu, 25 November 2006 
  152. ^ a b South Kanara District Gazetteer 1973, hlm. 121
  153. ^ Taste of Mangalore, The Hindu, 17 June 2002 
  154. ^ a b c Maffei 1882, hlm. 38
  155. ^ a b Maffei 1882b, hlm. 540–541
  156. ^ a b Maffei 1882, hlm. 8
  157. ^ a b c Maffei 1882, hlm. 39
  158. ^ Maffei 1882, hlm. 217
  159. ^ Pinto 1999, hlm. 168, "Umat Kristen Konkani menggunakan nama para santo/santa seperti Peter (Petrus), John (Yohanes), James (Yakobus), Jacob (Yakub) dan nama belakang Portugis seperti Saldanha, Britto, Coelho, Pinto, Vas dan lainnya. Beberapa menggunakan nama belakang Hindu: Shet, Shenoy, Kamath, Padival, dan sebagainya."
  160. ^ Prabhu 1999, hlm. 137
  161. ^ Sharma 1996, hlm. 282
  162. ^ Larsen 1998, hlm. 371
  163. ^ D'Souza, Dr. Eugene (5 September 2009). "Prof Wilfred D'Souza – Third Generation Teacher Who Achieved Greater Heights". Daijiworld Media Pvt Ltd Mangalore. 
  164. ^ Ethnologue report for Konkani, Goan (ISO 639–3: gom), Ethnologue, diakses tanggal 25 September 2008 
  165. ^ a b Miranda 1977, hlm. 247
  166. ^ Cardona 2003, hlm. 731
  167. ^ Abbi, Gupta & Kidwai 1997, hlm. 53
  168. ^ Miranda 1978, hlm. 77–78
  169. ^ Asiatic Society of Bombay, Royal Asiatic Society of Great Britain & Ireland Bombay Branch 1853, hlm. 300
  170. ^ Kelley, Dimock & Kachru 1992, hlm. 219
  171. ^ George 1992, hlm. 210
  172. ^ Nagesh Prabhu (2 February 2007), New English-Konkani dictionary ready, Chennai, India: The Hindu 
  173. ^ D'Souza 2004, hlm. 4
  174. ^ Melka Miyar, Rich Tributes Paid to Pioneer Konkani Poet Louis Mascarenhas, Daijiworld Media Pvt Ltd Mangalore 
  175. ^ a b George 1992, hlm. 216
  176. ^ Sardesai 2000, hlm. 288
  177. ^ Sardesai 2000, hlm. 289
  178. ^ D'Souza 2004, hlm. 1
  179. ^ Sardesai 2000, hlm. 256–257
  180. ^ George 1992, hlm. 217
  181. ^ D'Souza 2004, hlm. 5
  182. ^ a b "Konkani Language and Literature". Goa Konkani Akademi. 
  183. ^ a b "Biographical Sketch (George Fernandes)". Parlemen India. Diakses tanggal 14 September 2008. 
  184. ^ "Migration, Myths And Mangalore: A Writer Pieces Together The Story", Frederick Noronha, South Asia Religious News
  185. ^ ""SHADES within SHADOWS" – Delving into the History of Mangalore", I.J. Saldanha-Shet, Mangalore Today, 5 December 2011 
  186. ^ 17 years later, this Kama Sutra gets a fresh launch, dnaindia.com 
  187. ^ a b Richie Lasrado, Dr. Michael Lobo: Probing family roots and history, Daijiworld Media Pvt Ltd Mangalore 
  188. ^ "Bible and Konknni", Fr. Pratap Naik, S.J., Mangalorean.com, 5 June 2006 
  189. ^ Entire Konkani Bible is available online – Indian Catholic. Retrieved 30 October 2011
  190. ^ a b c d e Silva & Fuchs 1965, hlm. 52
  191. ^ Larsen 1998, hlm. 359
  192. ^ Larsen 1998, hlm. 360
  193. ^ a b c Silva & Fuchs 1965, hlm. 7
  194. ^ Silva & Fuchs 1965, hlm. 11
  195. ^ Silva & Fuchs 1965, hlm. 12
  196. ^ Silva & Fuchs 1965, hlm. 25
  197. ^ D'Souza, Anil, Catholic Roce –- Is it an Extinct Ceremony ?, Daijiworld Media Pvt Ltd Mangalore 
  198. ^ D'Sa 1972, hlm. 79
  199. ^ a b c d Sardesai 2000, hlm. 73
  200. ^ a b c Silva & Fuchs 1965, hlm. 18
  201. ^ D'Sa 1972, hlm. 74
  202. ^ a b c d e Silva & Fuchs 1965, hlm. 19
  203. ^ a b D'Sa 1972, hlm. 86
  204. ^ a b c d Silva & Fuchs 1965, hlm. 31
  205. ^ D'Souza 2004, hlm. 9
  206. ^ South Kanara District Gazetteer 1973, hlm. 119
  207. ^ a b c d e D'Sa 1972, hlm. 77
  208. ^ a b c Silva & Fuchs 1965, hlm. 40
  209. ^ South Kanara District Gazetteer 1973, hlm. 120
  210. ^ a b Silva & Fuchs 1965, hlm. 32
  211. ^ Silva & Fuchs 1965, hlm. 21
  212. ^ Larsen 1998, hlm. 101
  213. ^ a b Silva & Fuchs 1965, hlm. 20
  214. ^ D'Sa 1972, hlm. 78
  215. ^ D'Souza, Anil (27 January 2009), Weddings then, now and in Future..., Daijiworld Media Pvt Ltd Mangalore 
  216. ^ Veigas, Praveen (27 January 2009), Hassan: CSI Grounds hosts First-ever Traditional Konkani Marriage, Daijiworld Media Pvt Ltd Mangalore 
  217. ^ Gomes 1987, hlm. 77
  218. ^ Maffei 1885, hlm. 155
  219. ^ a b Pinto 1999, hlm. 177
  220. ^ a b Pinto 1999, hlm. 165
  221. ^ a b c Pinto 1999, hlm. 168
  222. ^ Silva & Fuchs 1965, hlm. 15
  223. ^ Silva & Fuchs 1965, hlm. 22
  224. ^ Silva & Fuchs 1965, hlm. 23
  225. ^ Larsen 1998, hlm. 370
  226. ^ Silva & Fuchs 1965, hlm. 16
  227. ^ The Oriental Herald 1824, hlm. 17
  228. ^ Paths of mission in India today 1997, hlm. 160
  229. ^ a b "Mangalore: Guinness Adjudicator Hopeful of Certifying Konkani Nirantari". Daijiworld Media Pvt Ltd Mangalore. 25 January 2008. 
  230. ^ M. Raghuram (10 December 2005). "Golden notes from Silver Band". The Hindu. Diakses tanggal 14 September 2008. 
  231. ^ Ayyappapanicker 1997, hlm. 277
  232. ^ Sardesai 2000, hlm. 20
  233. ^ a b Sardesai 2000, hlm. 253
  234. ^ George 1992, hlm. 216
  235. ^ Sardesai 2000, hlm. 251
  236. ^ Rodrigues 2009, hlm. 64
  237. ^ Rodrigues 2009, hlm. 106
  238. ^ Rodrigues 2009, hlm. 172
  239. ^ Silva & Fuchs 1965, hlm. 47
  240. ^ Naimpalli 2005, hlm. 18
  241. ^ a b c Choondal 1984, hlm. 39
  242. ^ Silva & Fuchs 1965, hlm. 26
  243. ^ Maurice D'Mello. "The Tradition of Voviyo" (DOC, 77 KB). Konkani Sahitya Kala Foundation. Diakses tanggal 12 March 2008. 
  244. ^ "Catholic Association of South Kanara Condemns Attacks on Christians". Daijiworld Media Pvt Ltd Mangalore. 23 September 2008. Diakses tanggal 20 Oktober 2008. 
  245. ^ "Konkani Catholic convention in December". Chennai, India: The Hindu. 29 Februari 2004. Diakses tanggal 5 Desember 2008. 
  246. ^ Jaideep Shenoy (19 January 2005). "'Future Foundation' may document heritage of Konkan Catholics". The Hindu. Diakses tanggal 5 December 2008. 
  247. ^ "KCA Bangalore History". Kanara Catholic Association, Bangalore (KCA Bangalore). Diakses tanggal 23 August 2008. 
  248. ^ S Raye (20 September 1999). "Little Mangalore in Pune". Indian Express Newspapers (Bombay) Ltd. Diakses tanggal 13 March 2008. 
  249. ^ "Nottingham: Mangalorean United Konkani Association (MUKA) celebrates Monthi Fest". Daijiworld Media Pvt Ltd Mangalore. 9 September 2007. Diakses tanggal 5 Desember 2008. 
  250. ^ "Mangalorean Catholic Association of Victoria (MCAV)". Daijiworld Media Pvt Ltd Mangalore. 3 September 2006. Diakses tanggal 29 Februari 2008. 
  251. ^ Nishita D'Mello (10 September 2007). "MAC Canada". Daijiworld Media Pvt Ltd Mangalore. Diakses tanggal 5 September 2008. 
  252. ^ Daijiworld Media Pvt Ltd Mangalore (13 September 2007). MKCA – USA. Siaran pers. Diakses pada 5 September 2008.
  253. ^ "About MCA". Mangalore Cultural Association (MCA). Diakses tanggal 20 September 2008. 
  254. ^ Kamath 2002, hlm. 6 "Ayah mertuanya, Joachim Alva yang ternama, adalah seorang teman keluarga. Ayah Joachim Mam adalah tetangga kami dan kami anak-anak keluarga Kamath diajarkan untuk memperlakukan Alva Senior dengan penuh hormat dan kasih sayang. Joachim yang meninggalkan Udupi bertahun-tahun dan ..."
  255. ^ "Uttarakhand Governor Margaret Alva felicitated in city". Mangalore Today. 18 December 2010. Diakses tanggal 18 December 2010. 
  256. ^ "Interview with Richard Crasta". RichardCrasta.com. Diakses tanggal 23 August 2008. 
  257. ^ "Blasius D'Souza passes away". Chennai, India: The Hindu. 27 Januari 2008. Diakses tanggal 14 September 2008. 
  258. ^ Abdulla Mahmood (15 Juli 2008). "Big-time girl: Genelia D'Souza". Gulf News. Diakses tanggal 23 Agustus 2008. 
  259. ^ Hoehn 1952, hlm. 145 "Lahir tanggal 6 Agustus —Pesta Transfigurasi— 1897, dari orang tua Katolik Brahmin di Mangalore, Kanara Selatan, India, ..."
  260. ^ Tony D'Souza. "A guest column Sarasota novelist throws spotlight on the 'Konkans'". Khaasbaat. Diakses tanggal 2 November 2008. 
  261. ^ "Biographical Sketch (Oscar Fernandes)". Rajya Sabha, Parlemen India. Diarsipkan dari versi asli tanggal 11 Juni 2008. Diakses tanggal 23 Agustus 2008. 
  262. ^ "Achievers: Maxwell Francis Joseph Pereirakamath". Daijiworld Media Pvt Ltd Mangalore. Diakses tanggal 2 Oktober 2009. 
  263. ^ Roche, Florine (30 August 2009). "Diana Pinto : Miss India-America's Mangalore Roots". Daijiworld Media Pvt Ltd Mangalore. Diakses tanggal 2 October 2009. 
  264. ^ Gerry D'Mello (20 November 2008). "The Newest Star on the Mangalorean Horizon—Freida Pinto". Daijiworld Media Pvt Ltd Mangalore. Diakses tanggal 25 November 2008. 
  265. ^ Periera, Raj Francis (30 August 2009). "London: Nativity Feast Celebrations – Report & Pictures". Daijiworld Media Pvt Ltd Mangalore. Diakses tanggal 2 October 2009. 
  266. ^ Gerry D'Mello. "A Mangalorean in India's Olympic Squad (Viren Rasquinha)". Daijiworld Media Pvt Ltd Mangalore. Diakses tanggal 5 December 2008. 
  267. ^ Team Mangalorean. "Wilfy Rebimbus – The Voice Lives on!". Mangalorean.com. Diakses tanggal 5 Desember 2008. 
  268. ^ Edward Nazareth. "Mangalore: Thousands Bid Adieu to Konkani Litterateur Victor Rodrigues". Daijiworld Media Pvt Ltd Mangalore. Diakses tanggal 5 Desember 2008. 
  269. ^ "Meet Joseph Periera – A Prominent Pakistani of Mangalorean Origin". Daijiworld Media Pvt Ltd Mangalore. Diakses tanggal 22 Februari 2007.  "Di Pakistan, Uskup Agung Katolik Lahore saat ini, Larry Saldanha, adalah seorang sepupu ketiga Joseph."
  270. ^ "Mangalore: J R Lobo humbles four-time MLA, N Yogish Bhat". Daijiworld Media Pvt Ltd Mangalore. 8 May 2013. 
  271. ^ "Terence Lewis attempts to break world record". The Times of India. 16 March 2011. 
  272. ^ D'Souza 2004, hlm. 59
  273. ^ Pinto 1999, hlm. 178
  274. ^ a b da Silva Gracias 1996, hlm. 62
  275. ^ da Silva Gracias 1996, hlm. 57

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Bacaan tambahan[sunting | sunting sumber]

  • Lobo, Michael (2000). The Mangalorean Catholic Community – A Professional History / Directory. Mangalore: Camelot Publishers. ISBN 978-81-87609-02-5. 
  • Prabhu, Alan Machado (1999). The captivity of 1784: Re-Appraising Causes & Conclusions. Bangalore: I.J.A. Publications. ISBN 978-81-86778-30-2. 
  • Pinto, Pius Fidelis (2004). Canaranthle Konknni Catholic (The Konkani Catholics of Canara) (dalam bahasa Konkani). Mangalore: Samanvaya Prakashan. 
  • Pinto, Pius Fidelis (1999). Desaantar Thaun Bandhadek – Karavali Karnatakantle Konkani Kristanv (From Migration to Captivity – The Konkani Christians of Canara) (dalam bahasa Konkani). Mangalore: Samanvaya Prakashan. 
  • D'Souza, A.B. (1993). Popular Christianity: A Case Study among the Catholics of Mangalore. PhD thesis. University of Delhi. .
  • D'Souza, A. L. P. (1983). History of the Catholic Community of South Kanara. Mangalore: Desco Publishers. OCLC 11536326. 
  • Pinto, Pius Fidelis (1999). Konkani Christians of Coastal Karnataka in Anglo-Mysore Relations 1761–1799. Mangalore: Samanvaya Prakashan. 
  • Prabhu, Mohan. Ancient and Pre-Modern History of the Mangalorean Catholic Community. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]