Paan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search


Biji pinang dengan buah sirih yang biasa dikonsumsi di Sumba.

Paan (bahasa Hindi: पान dari kata Sansekerta parṇa, "daun"[1]) adalah sebuah pencampuran dari daun sirih dengan pinang dan terkadang juga dengan tembakau.[2][3] Paan dikunyah untuk efek stimulan dan psikoaktif-nya.[4]

Budaya[sunting | sunting sumber]

Konsumsi daun sirih dan pinang di dunia

Mengunyah Paan menjadi sebuah aktivitas budaya yang populer dan berpengaruh di beberapa negara Asia dan Oseania, yang meliputi Myanmar, Kamboja, Kepulauan Solomon, Thailand, Filipina, Laos, dan Vietnam. Tidak diketahui bagaimana dan kapan pasta limun, pinang, dan daun sirih disatukan sebagai sebuah obat. Bukti-bukti arkeologi menunjukan bahwa orang-orang Thailand, Indonesia dan Filipina telah menggunakannya selama empat ribu tahun atau lebih.[5]

Paan dikenal sebagai beeda dalam bahasa Hindi dan vetrrilai atau thambulum dalam bahasa Tamil, thambula dalam bahasa Kannada, killi atau tambulam dalam bahasa Telugu), sireh dalam bahasa Melayu, sirih dalam bahasa Indonesia), suruh dalam bahasa Jawa), mark (ໝາກ) dalam bahasa Laos, bulath dalam bahasa Sinhala, buai dalam bahasa Tok Pisin, dan foah dalam bahasa Dhivehi.

Taiwan[sunting | sunting sumber]

Kios Betelnut Beauty di Taiwan

Di Taiwan, cairan sirih dijual di kios-kios pinggir jalan yang disebut toko Betelnut Beauty (Binlang Xi Shi, 檳榔西施).

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Oxford Dictionary paan
  2. ^ Mack, TM (2001). "The new pan-asian paan problem". The Lancet. 357 (9269): 1638–9. doi:10.1016/S0140-6736(00)04860-1. 
  3. ^ The World Health Organization IARC Expert Group. "IARC Monographs on the Evaluation of the Carcinogenic Risk of Chemicals to Humans, Vol. 37, Tobacco Habits Other than Smoking; Betel-Quid and Areca-nut Chewing; and Some Related Nitrosamines, Lyon" (PDF). IARCPress. 
  4. ^ Song, Han; Wan, Yi; Xu, Yong-Yong (2013). "Betel Quid Chewing Without Tobacco - A Meta-analysis of Carcinogenic and Precarcinogenic Effects". Asia Pac J Public Health. doi:10.1177/1010539513486921. 
  5. ^ Archaeological evidence from Thailand, Indonesia and the Philippines.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]