Masjidil Haram

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Masjid Al Haram)
Lompat ke: navigasi, cari
Untuk kegunaan lain dari Haram, lihat Haram.
Masjidil Haram
مسجدالحرام
Masjid al-Haram cropped.jpg
Masjidil Haram dari Abraj Al Bait
Informasi umum
Letak Mekkah, Arab Saudi[1]
Koordinat geografi 21°25′19″LU 39°49′34″BT / 21,422°LU 39,826°BT / 21.422; 39.826Koordinat: 21°25′19″LU 39°49′34″BT / 21,422°LU 39,826°BT / 21.422; 39.826
Afiliasi agama Islam
Munisipalitas Lingkungan Al-Haram
Provinsi Provinsi Makkah
Negara  Arab Saudi
Administrasi Pemerintah Arab Saudi
Kepemimpinan Imam:
Abdurrahman As-Sudais dan Lainnya
Situs web www.gph.gov.sa
Deskripsi arsitektur
Jenis arsitektur Masjid
Didirikan Zaman Pra-Islam
Spesifikasi
Kapasitas 900,000 jama'ah (meningkat hingga 4,000,000 jama'ah saat musim Haji)
Menara 9
Tinggi menara 89 m (292 ft)

Masjidil Haram (bahasa Arab: المسجد الحرام) adalah sebuah masjid di kota Mekkah[1] yang dipandang sebagai tempat tersuci bagi umat Islam. Masjid ini juga merupakan tujuan utama dalam ibadah haji. Masjid ini dibangun mengelilingi Ka'bah yang menjadi arah kiblat bagi umat Islam dalam mengerjakan ibadah Salat.

Masjid ini juga merupakan Masjid terbesar di dunia, diikuti oleh Masjid Nabawi di Madinah al-Mukarramah sebagai masjid terbesar kedua di dunia serta merupakan dua masjid suci utama bagi umat Muslim.

Pengertian Masjidil Haram tidak hanya diartikan sebagai masjid di kota Mekkah saja para ulama berbeda pendapat mengenai hal ini ada yang mengatakan bahwa arti masjidil haram adalah semua tempat di kota Mekkah.[2]

Imam Besar masjid ini adalah Syaikh Abdurrahman As-Sudais seorang imam yang dikenal dalam membaca Al Qur'an dengan artikulasi yang jelas dan suara yang merdu dan Syaikh Shuraim.

Muadzin besar dan paling senior di Masjid Al-Haram adalah Ali Mulla yang suara azannya sangat terkenal di dunia Islam termasuk pada media internasional

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Pra-sejarah[sunting | sunting sumber]

Sejarah Masjidil Haram tidak lepas dari pembangunan Kakbah jauh sebelum Nabi Adam diciptakan. Setelah Nabi Adam dan Hawa turun ke bumi, mereka diperintahkan oleh Allah untuk membangun bangunan di sebuah lembah yang bernama Bakkah (saat ini menjadi bagian dari Kota Mekkah al-Mukarramah)[3]. Namun bangunan tersebut hancur akibat air bah pada masa Nabi Nuh. Selama beberapa abad kemudian, Allah memerintahkan kepada Nabi Ibrahim dan putranya, Nabi Isma'il untuk membangun sebuah bangunan di tengah perempatan kota Mekkah untuk dijadikan tempat beribadah[4] Mereka berdua lah yang pertama kali meletakkan Hajar Aswad dan Maqam Ibrahim di sekitar Kakbah.[5]Sejak pembangunan tersebut, Kakbah dan Masjidil Haram dijaga oleh para keturunan Isma'il.

Masa Jahiliyah[sunting | sunting sumber]

Masjidil Haram menjadi pusat atau tujuan utama para peziarah, terutama Kakbah. Akibatnya Abrahah dari Yaman, merasa iri dan ingin menghancurkan Kakbah mereka membawa pasukan bergajah untuk menghancurkan Kakbah. [6] Namun ketika dalam perjalanan semua pasukan itu dilempari batu berapi dari neraka oleh burung-burung ababil[7], sehingga pasukan tersebut mati dalam keadaan tubuh yang rusak dan berlubang-lubang selayaknya daun-daun yang dimakan ulat.[8] Peristiwa itu terjadi pada tahun gajah, yakni tahun saat Nabi Muhammad dilahirkan, yaitu pada tahun 571 M.

17 Tahun setelah percobaan penyerangan Kakbah, bangunan Kakbah hancur akibat banjir besar yang melanda kota Mekkah. Para petinggi Quraisy sepakat untuk menggunakan uang yang halal dalam pembangunan Kakbah, [9] akibatnya ukuran Kakbah menjadi lebih kecil dari ukuran sebelumnya sehingga Hijir Ismail tidak termasuk kedalam Kakbah. Pertikaian terjadi antara para petinggi Quraisy setelah masanya peletakkan batu Hajar Aswad. [10] Mereka berselisih tentang siapa yang berhak meletakkan batu itu. Hingga akhirnya datanglah Muhammad yang mengusulkan agar batu itu diletakkan di sebuah kain yang setiap ujungnya dipegang oleh masing-masinh ketua kabilah. Berkat peristiwa ini Muhammad digelari sebagai Al-amin.[11]

Masa Rasulullah[sunting | sunting sumber]

Lukisan ilustrasi Masjidil Haram saat masa Rasulullah

Masjidil Haram sejak dibangunnya Ka'bah sampai dengan masa permulaan Islam terdiri dari halaman yang luas dan ditengahnya ada Kakbah, tidak ada dinding yang mengelilinginya, hanya bangunan rumah-rumah penduduk Mekkah yang mengelilingi halaman itu, seakan-akan dia adalah dindingnya. [12]

Di sela rumah-rumah tersebut teradapat lorong-lorong yang mengantar ke Kakbah, dinamakan dengan nama-nama kabilah-kabilah yang melaluinya atau yang berdekatan dengannya, diperkirakan luas Masjidil Haram pada masa Nabi Muhammad S.A.W antara 1490 sampai 2000m²[13]

Masa Kekhalifahan[sunting | sunting sumber]

Dari masa ke masa tempat thawaf diperluas berkali-kali, agar dapat mencukupi dengan bertambahnya jumlah orang-orang yang thawaf, maka dari itu pada tahun 17 H/638 M Umar bin Khatthab al Faruq membeli rumah-rumah yang menempel dengan Masjidil Haram dan menghacurkannya. serta memasukkan area tanahnya ke dalam Masjidil Haram, mengubininya dengan hamparan kerikil, kemudian dia membangun tembok mengelilingi masjid setinggi kurang satu depa (6 kaki), dan membuatkan beberapa pintu, dan lampu-lampu minyak penerang masjid diletakkan di dinding ini, diperkiran luas tambahan ini adalah 840m2. [14] 

Ini adalah perluasan pertama untuk Masjidil Haram. Pada tahun 26 H/646 M Khalifah Utsman bin Affan menjadikan bagi masjid koridor-koridor sebagai tempat berteduh untuk orang-orang, diperkirakan luas perluasan ini mencapai 2040 m2. Di tahun 65 H/ 684 M setelah Abdullah bin Zubair menyelesaikan pemugaran Ka'bah. dia memperluas Masjidil Haram dengan sangat besar, sehingga menuntut untuk memberikan atap di sebagian darinya, diperkirakan perluasan ini mencapai 4050 m2

Masa daulah Umayyah[sunting | sunting sumber]

Dan di tahun 91H/709 M,[15] Khalifah Kesultanan Umayyah Umawi Walid bin Abdul Malik [16]memerintahkan untuk perluasan Masjidil Haram, dan membangunnya dengan bangunan yang kokoh, [17] dan mendatangkan pilar-pilar marmer dari Mesir dan Syam, dan Ujungnya diberi lempengan emas, dan masjid diatapi dengan kayu sajj (semacam kayu jati) yang dihiasi. [18] [19]Dan dibuat untuknya beranda, di temboknya diberi lengkungan dan di alas lengkungannya di beri mosaik (kepingan batu), perluasaan ini adalah untuk bagian timur, [20] dsiperkirakan tambahan ini seluas 2300 m2[21]

Masa daulah Abbasiyah[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 137 H/754 M Khalifah Kekhalifahan Abbasiyah Abu Ja'far an-Nilansyur al-Abbasi memerintahkan untuk memugar Masjidil Haram dan memperluasnya serta menghiasinya dengan emas dan mosaik, [22] dan dia adalah orang pertama yang menutup Hijir Ismail dengan marmer, diperkirakan tambahan ini seluas 4700 m2. [23] Dan di tahun 160 H/776 M Khalifah al Mahdi memperluas Masjidil Haram dari arah timur, barat dan utara, dan tidak memperluas bagian selatan disebabkan adanya jalan untuk air bah Wadi Ibrahim, tambahan perluasan ini diperkirakan 7950m2. [24] Dan tatkala Khalifah al Mahdi menunaikan haji tahun 164 H/ 780 M dia memerintahkan agar jalan air bah wadi Ibrahim dipindah, dan memperluas bagian selatan sehingga Masjidil Haram menjadi segi empat, tambahan perluasan ini di perkirakan mencapai 2360 m2[25]

Pada di tahun 281 H/894 M Khalifah al-Mu'tadhid Billahi memasukkan Daar An-Nadwah ke dalam Masjidil Haram, rumah ini cukup luas terletak di arah utara masjid, memiliki halaman yang luas, dahulunya biasa disinggahi oleh para khalifah dan gubernur, kemudian ditinggalkan, maka dimasukkanlah ke dalam masjid, dibangun di atasnya menara. dan diramaikan dengan pilar-pilar dan kubah-kubah serta koridor-koridor, diatapi dengan kayu sajj yang dihiasi, tambahan ini diperkirakan seluas 1250 m2. [26] Dan di tahun 306 H/918 M [27] Khalifah al Muqtadir Billahi al Abbasi memerintahkan agar menambah pintu Ibrahim di arah barat masjid, dahulunya adalah halaman yang luas di antara dua rumah Siti Zubaidah, luasnya diperkirakan 850 m2.[28]

Masa Kekhalifahan Utsmaniyah[sunting | sunting sumber]

Masjidil Haram pada Masa Kekhalifahan Utsmaniyah

Pada tahun 979H/1571 M Sultan Salim al Utsmani memugar bangunan masjid secara total, tanpa menambah diluasnya, dan bangunan ini tetap ada sampai sekarang dikenal dengan bangunan Utsmaniyyah.[29]

Perluasan di masa Saudi pertama[sunting | sunting sumber]

Masjidil Haram pada tahun 2009 pada masa Fahd bin Abdul Aziz
Masjidil Haram dilihat dari ketinggian 500 meter

Dan di tahun 1375 H atau 1956 M, dimulailah perluasan Saudi yang pertama, meliputi semua arah, menambahkan ke dalam masjid suatu bangunan yang indah, terdiri dari tiga lantai. Dan pada perluasan ini dibangun tempat sa'i untuk pertama kalinya, dan digabungkan ke dalam Masjidil Haram, yang dahulunya adalah pasar, sehingga luas masjid menjadi 193.300 m2 dengan tambahan seluas 153.000m2 sehingga masjid dapat menampung sekitar 400 ribu jemaah salat, yang sebelumnya hanya dapat menampung 50 ribu.

Dan di tahun 1409 H atau 1989 M, Khadimul Haramain Raja Fahd bin Abdul Aziz memerintahkan untuk memperluas Masjidil Haram dari arah barat: dari pintu Umrah sampai ke pintu Abdul Aziz dari Arab Saudi dengan luas mencapai 76.000 m2, terbagi menjadi lantai dasar, basements dan lantai satu serta loteng (atap), tambahan ini dapat menampung sekitar 152.000 jemaah shalat, dan di atas kedua sisi pintu Utama perluasan (pintu Raja Fand) ditambahkan dua menara, sebagaimana didirikan 3 kubah baru yang berdampingan di atas loteng bangunan baru, dan didesain dengan AC central dibuat terminalnya di Ajyad, sebagaimana perluasan juga meliputi pembangunan halaman luar masjid dan pengubinannya dengan marmer putih, seperti halaman pintu Raja Fahd, pintu Raja Abdul Aziz, halaman Syamiah dan halaman yang terletak di timur tempat sa'i, luas halaman ini mencapai 85.000 m2 cukup untuk menampung 190.000 jemaah shalat, dengan itu luas global Masjidil Haram meliputi loteng dan halaman 356.000m2 cukup untuk menampung lebih dari satu juta jemaah shalat.

Pada tahun 1428 H Khadimul Haramain Raja Abdullah bin Abdul Aziz hafidhahullah, memerintahkan untuk memugar bangunan tempat sa'i dan memperluasnya ke arah timur 20 meter, dengan tambahan lantai tiga, maka lebarnya menjadi 40 meter, dan luasnya secara keseluruhan 72.000 m2 setelah sebelumnya 29.400 m2, dan direhab pembangunan tempat sa'i area Shofa dan Marwah dengan kubah-kubah baru dan menara, maka dibangun 4 eskalator baru di arah Marwa digunakan untuk mengkosongkan tempat sa'i dari jema'ah, dan di lantai satu dan dua dibuat jalan khusus untuk orang-orang sakit dan manula, maka luas bangunan ini secara menyeluruh, mencakup semua lantai di tempat sa'i dan tempat-tempat pelayaanan sekitar 125.000m2.

Dan di tahun 1429 H Khadimul Haramain Raja Abdullah memerintahkan untuk memperluas halaman-halaman bagian utara Masjidil Haram dengan kedalaman 380m kira-kira, membangun terowongan untuk pejalan kaki dan pusat pelayanan dengan luas 300 ribu meter persegi, diperkirakan dapat menampung sampai 250 jemaah salat.[30]

Pendudukan Masjidil Haram 1979[sunting | sunting sumber]

Pendudukan Masjidil Haram adalah serangan dan pendudukan yang dilancarkan oleh kelompok "Ikhwan" dari tanggal 20 November hingga 4 Desember 1979 di Masjidil Haram, Mekkah, Arab Saudi. Gerakan ini dipimpin oleh Juhaiman bin Muhammad ibn Saif al Otaibi. Para pembangkang menyatakan salah seorang dari antara mereka, yaitu Mohammed Abdullah al-Qahtani, adalah seorang Mahdi. Mereka menyerukan semua Muslim untuk mematuhinya. Dengan senapan, mereka lalu menguasai Masjidil Haram dan menyandera peziarah-peziarah yang sedang melaksanakan ibadah haji. Tentara keamanan Arab Saudi kemudian mengepung kompleks masjid dan setelah dua minggu, para militan berhasil dikalahkan.

Kecelakaan derek 2015[sunting | sunting sumber]

Pada 11 September 2015, 111 orang meninggal dunia dan 394 lainnya terluka akibat crane yang jatuh ke dalam Masjid.[31][32][33][34][35][36]

Kepentingan dalam agama Islam[sunting | sunting sumber]

Kiblat[sunting | sunting sumber]

adalah kata Arab yang merujuk arah yang dituju saat seorang Muslim mendirikan salat.

Menurut Ibnu Katsir,[37] Rasulullah SAW dan para sahabat salat dengan menghadap Baitul Maqdis. Namun, Rasulullah lebih suka salat menghadap kiblatnya Nabi Ibrahim, yaitu Ka'bah. Oleh karena itu dia sering salat di antara dua sudut Ka'bah sehingga Ka'bah berada di antara diri dia dan Baitul Maqdis. Dengan demikian dia salat sekaligus menghadap Ka'bah dan Baitul Maqdis.

Haji[sunting | sunting sumber]

Haji adalah rukun Islam yang kelima setelah syahadat, salat, zakat dan puasa. Menunaikan ibadah haji adalah bentuk ritual tahunan yang dilaksanakan kaum muslim sedunia yang mampu dengan berkunjung dan melaksanakan beberapa kegiatan di beberapa tempat di Arab Saudi pada suatu waktu yang dikenal sebagai musim haji (bulan Zulhijah).

Arsitektur[sunting | sunting sumber]

Secara historis, pembangunan besar-besaran pada masa Turki Utmani itu antara lain terjadi pada tahun 979 H/ 1571 M ketika Sultan Salim al-Utsmani memugar bangunan masjid secara total dan bangunan ini sebagian tetap ada sampai sekarang dan dikenal secara internasional dengan bangunan Utsmani.

Sebelumnya, Sultan Salim sudah memerintahkan arsitek Turki kenamaan Mimar Sinan untuk merenovasi Masjidil Haram secara keseluruhan, yang kokoh, megah dan artistik. Sinan lalu mengganti atap masjid yang rata dengan kubah, lengkap dengan hiasan kaligrafi di bagian dalamnya. Sinan juga menambah empat pilar penyangga tambahan yang disebut-sebut sebagai rintisan dari bentuk arsitektur masjid-masjid modern.

Pada masa ini juga dibuat atap-atap kecil berbentuk kerucut yang masih dapat kita lihat hingga renovasi besar-besaran pada tahun 2013-2016 ini. Bentuk dasar bangunan Masjidil Haram hasil renovasi Kesultanan Utsmaniyyah itulah yang dapat dilihat saat ini. Hanya saja pada bagian utara masjid sudah terbongkar untuk perluasan area tawaf.

Pada tahun 1621 dan 1629, banjir bandang melanda Mekkah dan sekitarnya, mengakibakan kerusakan pada Masjidil Haram dan Kakbah. Pada masa kekuasan Sultan Murad IV tahun 1629, Kakbah dibangun kembali dengan batu-batu dari Mekah, sedangkan Masjidil Haram juga mengalami renovasi kembali.

Karya Sinan di Masjidil Haram mengesankan jutaan muslim yang setiap tahun berhaji dari tahun ke tahun, sehingga melahirkan jenis baru seni yang kemudian dikenal dengan sebagai arsitektur Islami.

Ciri menonjol karya Sinan yang kemudian dijadikan rujukan arsitektur Islam itu adalah pola bangunan yang memanfaatkan sepenuhnya cahaya dan bayangan, kehangatan dan kesejukannya, angin dan sirkulasinya, air dan efek penyejukannya, tanah dan ciri-ciri isolatifnya serta sifat-sifat protektifnya terhadap cuaca.

Sebenarnya wujud arsitektur Islami sebagaimana tercermin dalam Masjidil Haram adalah sebuah kristalisasi dari spiritualitas yang memberi kedamaian serta keselarasan alam yang suci. Ciri itu tampak jelas dalam jejak-jejak arsitektur peninggalan Kesultanan Turki Utsmani di Masjidil Haram yang dipelihara beratus-ratus tahun itu. [38]

Pintu[sunting | sunting sumber]

Secara keseluruhan ada 129 pintu di Masjidil Haram. Untuk memasuki Masjidil Haram, terdapat 4 pintu utama dan 45 pintu biasa yang biasanya buka selama 24 jam sehari, masing masing pintu tersebut memiliki sebuah nama, diantara pintu pintu tersebut ada yang bernama Shafa, Darul Arqam, Ali, Abbas, Nabi, Bani Syaibah, dan lain-lain, pintu pintu tersebut berada di sekeliling Masjidil Haram.[39]

Diantara pintu-pintu tersebut terdapat sebuah pintu yang sangat populer dan paling utama dan biasanya sering menjadi terdapat bergerombol para jamaah yang menginginkannya untuk memasuki pintu tersebut, pintu tersebut bernama Babus Salam. dengan melalui pintu tersebut akan dapat langsung melihat Kakbah, Hajar Aswad, Maqam Ibrahim dan Hijir Ismail.[39]

Pintu sejumlah 129 buah tersebut telah dilengkapi dengan lampu penunjuk berwarna merah dan hijau, jika lampu hijau menyala, berarti di dalam masjid masih terdapat tempat yang kosong . namun, jika lampu merah menyala, berarti tak ada tempat lagi di dalam masjid, masjid tersebut juga menyediakan 50 pintu yang dikususkan bagi para penyandang cacat dan mereka yang tidak bisa berjalan.[39]

Masjidil Haram memiliki beberapa pintu atau gerbang, dengan di kelompokkan menjadi pintu terdahulu dan pintu-pintu baru.

Pintu Shafa pada tahun 1325 H
Lima pintu terdahulu Masjidil Haram
  1. Pintu Raja Abdul Aziz, nomor (1) di bagian barat. [40]
  2. Pintu Shofa, nomor (11) di tempat sa'i.[41]
  3. Pintu Al-Fath nomor (45) di bagian selatan.[42]
  4. Pintu Umrah, nomor (62) di bagian selatan.[43]
  5. Pintu Raja Fahd, nomor (79) di bagian barat[44]
Pintu lainnya
  • Sekitar Pintu Raja Fahd (64, 70, 72, 74)
  • Di bagian timur (Pintu As-Salam, Pintu Ali, Pintu Marwah).
  • Di bagian selatan (pintu Hudaybiyah, pintu Madinah, Pintu Al-Quds.)

Beberapa pintu lain seperti pintu Hunain, pintu Shafa, pintu Marwah, pintu Qararah, pintu al-Fath, pintu Madinah, pintu Umrah, pintu (64), dan pintu (74), pintu (84), dan pintu (94).[44]

Menara[sunting | sunting sumber]

Menara-menara terdapat pada beberapa bagian atas dari pintu-pintu Masjidil Haram. Seperti halnya pintu Masjidil Haram, menara juga di kelompokkan kedalam menara terdahulu dan menara baru.

Salah satu menara Masjidil Haram
Bagian atas salah satu menara Masjidil Haram

Menara-menara terdahulu[sunting | sunting sumber]

  • Menara diatas pintu Raja Abdul Aziz.[45]
  • Menara diatas pintu Raja Fahd.[46]
  • Menara diatas pintu Umrah.
  • Menara diatas pintu Al-Fath.
  • Menara diatas pintu Ash-Shofa.

Menara-menara baru[sunting | sunting sumber]

  • Menara di atas pintu Raja Abdullah. [47]
  • Menara di bagian tenggara.
  • Menara di bagian barat laut.

Tangga elektronik[sunting | sunting sumber]

Pada masa Raja Fahd ibn Abdul Aziz, telah dibangun tangga-tangga elektronik untuk melayani jamaah yang ingin shalat di lantai atas dan lantai atap. Jumlahnya ada 7 buah, dengan luas 375 m persegi, yaitu di Bab Ajyad dan Shafa, di Marwa, Babul Fath, di asy-Syamiyyah, dan di samping bangunan perluasan kedua. Setiap tangga mengangkut rata-rata 1500 orang per jam. [48][49]

Pusat pendingin udara[sunting | sunting sumber]

Masjidil Haram memiliki sebuah bangunan sentral pendingin udara untuk bagian bangunan perluasan kedua dan lantai dasar tempat sa'i yang berjarak 600 m dari Masjidil Haram, yaitu di Jalan Ajyad. [48][49] Sentral tersebut terdiri dari gedung 6 tingkat yang dilengkapi dengan sistem pendingin udara canggih. Udara dingin disalurkan lewat terowongan yang menghubungkan antara sentral dengan satuan-satuan pendingin udara pada bangunan perluasan dan disalurkan pula ke satuan-satuan pendingin udara yang terdapat pada tiang-tiang masjid. [48][49]

Toilet dan tempat wudhu[sunting | sunting sumber]

Toilet dan tempat wudhu untuk pria dan wanita dibangun secara terpisah, masing-masing terdiri dari dua lantai di bawah tanah, yaitu yang berada di halaman pasar kecil (depan Babul Mailik Abdul Aziz), dan dekat dengan halaman Marwa dengan luas keseluruhan mencapai 14.000 m persegi. [48][49] Toilet dan tempat wudlu tersebut didesain mengikuti model terbaru, dan dilapisi dengan marmer, serta dilengkapi dengan tempat untuk ganti baju baik di tempat wudlu laki-laki maupun perempuan. Selain itu terdapat pula beberapa toilet dan tempat wudhu di arah timur masjid.[48][49]

Saluran dan penampungan air[sunting | sunting sumber]

Masjidil Haram terletak di tengah-tengah lembah, oleh karena itu, aliran air akibat hujan dan lain sebagainya sangat membahayakan bangunan Masjid. Maka Umar bin Khattab dan para khalifah sesudahnya sepanjang masa selalu berupaya untuk mengantisipasi bahaya banjir akibat aliran air yang akan menggenang di lembah. Sehingga Raja Fahd bin Abdul Aziz memerintahkan untuk melaksanakan proyek besar dalam hal ini guna mengalihkan aliran air sekaligus membuat tempat penampungannya di terowongan bawah tanah.[48][49]

Terowongan bawah tanah untuk kendaraan[sunting | sunting sumber]

Untuk menghindari kemacetan lalu lintas, dibuatlah terowongan sepanjang 1500 m yang terbentang dari jembatan Asy-Syubaikah sebelah barat sampai ke jembatan Jabal Abu Qubais di sebelah Timur. Dilengkapi empat terminal, sistem pencahayaan, pengaturan udara, dan kamera pemantau yang baik. [48][49]

Bangunan bersejarah[sunting | sunting sumber]

Kakbah[sunting | sunting sumber]

Kakbah, sebuah bangunan yang terletak di tengah Masjidil Haram

Kakbah adalah Bait Suci atau tempat beribadah kepada Allah yang pertama kali didirikan di muka bumi.[50] Bentuk bangunan Kakbah mendekati bentuk kubus yang terletak di tengah Masjidil Haram di Mekah. Bangunan ini adalah monumen suci bagi kaum muslim (umat Islam) dan merupakan bangunan yang dijadikan patokan arah kiblat atau arah patokan untuk hal-hal yang bersifat ibadah bagi umat Islam di seluruh dunia seperti salat. [51] Selain itu, Kakbah juga merupakan bangunan yang wajib dikunjungi atau diziarahi pada saat musim haji dan umrah.[51][52][53]

Hajar Aswad[sunting | sunting sumber]

Orang-orang berebut mencium Hajar Aswad.

Hajar Aswad (Arab: حجر أسود) merupakan sebuah batu yang diyakini oleh umat Islam berasal dari surga, dan yang pertama kali menemukannya Nabi Ismail dan yang meletakkannya adalah Nabi Ibrahim. [54] Dahulu kala batu ini memiliki sinar yang terang dan dapat menerangi seluruh jazirah Arab. Namun semakin lama sinarnya semakin meredup dan hingga akhirnya sekarang berwarna hitam. Batu ini memiliki aroma yang unik dan ini merupakan aroma wangi alami yang dimilikinya semenjak awal keberadaannya, dan pada saat ini batu Hajar Aswad tersebut ditaruh di sisi luar Kabah sehingga mudah bagi seseorang untuk menciumnya. [55] Adapun mencium Hajar Aswad merupakan sunah Nabi Muhammad SAW. Karena dia selalu menciumnya setiap saat tawaf.[56]

Maqam Ibrahim[sunting | sunting sumber]

7. Maqam Ibrahim
Jejak kaki Nabi Ibrahim, yakni yanh disebut sebagai Maqam Ibrahim

Maqam Ibrahim merupakan bangunan (struktur) yang mencakup batu lebar kecil yang terletak kurang lebuh 20 hasta di sebelah timur Ka'bah. [57] Tempat ini bukanlah tempat yang menjadi kuburan Nabi Ibrahim sebagaimana dugaan atau pendapat kebanyakan orang. Sebaliknya di dalam bangunan kecil ini terdapat sebuah batu yang diturunkan oleh Allah dari Surga bersamaan dengan dengan batu-batu kecil lainnya yang terdapat di Hajar Aswad[58]. Di atas batu Maqam Ibrahim ini, Nabi Ibrahim pernah berdiri di waktu ia membangun Ka'bah disamping putranya Nabi Isma'il memberikan bongkah-bongkah batu kepadanya.

Shofa dan Marwah[sunting | sunting sumber]

Gunung Shofa
Gunung Marwah

Masjidil Haram merupakan tempat dari Ka'bah, titik tujuan utama salat bagi seluruh muslim. Shofa — yang merupakan tempat dimulainya ritual sa'i (Arab: سعى) — terletak kurang lebih setengah mil dari Ka'bah. Marwah terletak sekitar 100 yard dari Ka'bah. Jarak antara Shofa dan Marwah sekitar 450 meter, sehingga perjalanan tujuh kali berjumlah kurang lebih 3,15 kilometer. Kedua tempat itu dan jalan diantaranya sekarang berada di dalam bagian mesjid.

Hijr Isma'il[sunting | sunting sumber]

Hijir Ismail pada musim haji.

Hijr Ismail adalah sebuah tempat sebelah utara bangunan Ka'bah, berbentuk setengah lingkaran, dibangun oleh Nabi Ibrahim alaihissalam, termasuk bangunan suci umat Islam.

Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail telah membangun Ka’bah secara sempurna termasuk di dalamnya Hijir ini. Kemudian dinding Ka’bah sempat roboh akibat bekas kebakaran dan banjir yang menerjangnya. Kemudian pada tahun 606 M,kaum Quraisy merobohkan sisa dinding Ka’bah lalu merenovasi kembali. Akan tetapi, karena kekurang dana yang halal untuk menyempurnakan pembangunan sesuai pondasi yang dibangun Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, akhirnya mereka mengeluarkan bagian bangunan Hijir dan sebagai gantinya mereka membangun dinding pendek, sebagai tanda bahwa ia termasuk di dalam Ka’bah. Hal ini dilakukan karena mereka telah memberikan syarat pada diri mereka sendiri untuk tidak akan menggunakan dana untuk pembangunan Ka'bah kecuali dari dana yang halal. Mereka tidak menerima biaya dari hasil pelacuran, tidak juga jual beli riba dan tidak juga dana dari menzalimi seseorang.[59]

Sumur Zam-zam[sunting | sunting sumber]

Para Jamaah Haji sedang meminum air Zamzam

Sumur Zamzam terletak 11 meter dari Ka'bah. Menurut salah satu keterangan, ia dapat menyedot air sebanyak 11-18,5 liter per detik,[60] sehingga dapat menghasilkan 660 liter air permenit dan 39.600 liter per jamnya.

Dari mata air ini terdapat beberapa celah, di antaranya ada celah ke arah Hajar Aswad dengan panjang 75 cm, dengan tinggi 30 cm yang juga menghasilkan air sangat banyak. Beberapa celah mengarah kepada Shafa dan Marwa,[61] serta ada yang mengarah pula ke arah pengeras suara dengan panjang 70 cm dan tinggi 30 cm.[60]

Dahulu, di atas sumur Zamzam ada bangunan dengan luas 8 m × 10,7 m = 88.8 m2. Tapi bangunan ini ditiadakan untuk meluaskan tempat tawaf, sehingga ruang minumnya dipindahkan ke ruang bawah tanah di bawah tempat tawaf, dengan 23 anak tangga yang dilengkapi penyejuk udara. [62] Tempat masuk ruang minumnya terpisah antara laki-laki dan perempuan. Di situ, terdapat 350 keran air minum, yaitu 220 ada di sisi ruang laki-laki dan 130 di sisi ruang perempuan. Sumur Zamzam yang telah dipagari dengan kaca tebal itu dapat dilihat dari ruangan laki-laki .[61]

Administrasi[sunting | sunting sumber]

Imam[sunting | sunting sumber]

Imam di Masjidil Haram adalah Imam atau orang yang memimpin salat berjamaah di Masjidil Haram.

Mantan Imam[sunting | sunting sumber]

Imam saat ini[sunting | sunting sumber]

Abdurrahman As-Sudais, Imam Masjidil Haram saat ini

Berikut nama-nama para Imam Masjidil Haram Makkah Al Mukarromah :

  • Sheikh Dr. Abdurrahman as-Sudais (Bahasa Arab:عبد الرحمن السديس). Kepala Imam Masjid Al Haram.
  • Sheikh Dr. Saud asy-Syuraim (Bahasa Arab:سعود بن إبراهيم الشريم)- Hakim pada Mahkamah tinggi di Makkah ; Wakil dari kepala Imam Masjidil Haram.
  • Sheikh Abdullah Awad Al Juhany (Bahasa Arab:عبدالله عواد الجهني) (Sejak tahun 2005 mulai memimpin salat tarawih di Masjidil Haram, dan diangkat menjadi imam Masjidil Haram secara penuh pada Juli 2007. Sebelumnya beliau menjadi imam di Masjid Nabawi Madinah).
  • Sheikh Maher Al Mueaqly (Bahasa Arab:ماهر المعيقلي) Mulai diangkat menjadi imam pada tahun 2007 (Sebelumnya beliau memimpin salat tarawih di Masjid Nabawi Madinah pada bulan Ramadhan 2005 dan 2006).
  • Sheikh Khaled Al Ghamdi (Bahasa Arab:خالد الغامدي) (Diangkat setelah pelaksanaan ibadah haji pada tahun 2008).
  • Sheikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Hamid (Bahasa Arab:صالح بن حميد)-Pimpinan Majlis al Shura Saudi Arabia.
  • Sheikh Dr. Usamah Khayyath (Bahasa Arab:أسامة بن عبدالله خياط).
  • Sheikh Dr.Shalih Alu Thalib (Bahasa Arab:صالح ال طالب) (Hakim pada Mahkamah tinggi di Makkah) diangkat pada tahun 2003.
  • Sheikh Faisal Ghazawi (Bahasa Arab:فيصل غزاوي) (Diangkat setelah pelaksanaan ibadah haji pada tahun 2008).
  • Sheikh Bandar bin Abdul Aziz Balilah

Muadzin[sunting | sunting sumber]

Muadzin Masjidil Haram adalah para Muadzin atau orang-orang yang mengumandangkan adzan di Masjidil Haram.

Mantan Muadzin[sunting | sunting sumber]

  • Al-Bazzi, meninggal pada tahun 864CE.[63]
  • Ahmad Mohammad Al al-Abbas (أحمد بن محمد بن أمين آل العباس), meninggal pada tahun 1924
  • Mohammed Hassan Al al-Abbas (محمد حسن بن أحمد آل العباس), meninggal pada tahun 1971
  • Abdulaziz Asad Reyes (عبد العزيز أسعد ريس), meninggal pada tahun 2011
  • AbdulHafith Khoj (عبد الحفيظ خوج)
  • AbdulRahman Shaker (عبد الرحمن شاكر)
  • Ahmad Shahhat (أحمد شحات)
  • Hassan Zabidi (حسان زبيدي)
  • Muhammad Siraaj Ma'roof meninggal pada 25/12/15 1437

Muadzin saat ini[sunting | sunting sumber]

  • Ali Ahmed Mullah
  • Essam bin Ali Khan
  • Nayef bin Saalih Faydah
  • Ahmed bin Abdullah Basnawy
  • Farooq Abdul Rahmaan Hadrawi
  • Tawfiq Abdul Hafidh Khoj
  • Ahmad Ali Nuhaas
  • Maajid bin Ibrahim al Abbas
  • Ahmad Yunis Khoja
  • Muhammad bin Ali Shaakir
  • Sa'eed bin Umar Fallatah
  • Muhammad bin Ahmad Maghribi
  • Ham'd bin Ahmad Daghreeree
  • Hashim bin Muhammad Sagaaf
  • Hussayn ibn Hassan Shahaat
  • Imaad bin Isma'eel Baqree
  • Salaah bin Idris Fallatah
  • Suhail Abdul Malik Haafidh
  • Sami Abdul Rahmaan Ra'ees
  • Muhammad bin Ahmad Bas'ad
  • Abdullah bin Faisal Khokir

Keutamaan dan hukum[sunting | sunting sumber]

Keutamaan[sunting | sunting sumber]

Bagi umat Muslim, Masjidil Haram memiliki beberapa keutamaan yang membuatnya menjadi sebuah masjid paling penting dalam agama Islam, yaitu:[64]

  • Merupakan tempat pertama yang digunakan untuk beribadah di muka bumi [65]
  • Merupakan tempat atau lokasi kunjungan paling utama dalam ibadah Haji dan Umrah[66]
  • Sebelumnya umat Muslim pernah mengarahkan kiblatnya ke Baitul Muqaddis ke Masjidil Haram[67][68]Seluruh umat Islam diperintah untuk memalingkan wajahnya/hatinya kearah masjidil haram di manapun berada, hal ini di perkuat dengan Surah Al-Baqarah ayat 149 dan 150. perintah ini hampir sama derajatnya dengan perintah Allah yang lain seperti hal melakukan salat, zakat, puasa, haji sebagai wujud hati yang terikat dan ingat kepada Allah dalam segala hal duniawi ini.[69][70]
  • Merupakan masjid yang dibangun paling awal di muka bumi[71]
  • Merupakan masjid paling utama diantara tiga masjid, yakni Masjid Nabawi, Masjid al-Aqsa serta Masjidil Haram itu sendiri.[72]
  • Melaksanakan salat di Masjidil Haram akan mendapatkan seratus ribu kali lipat kebaikan dibanding melaksanakan salat di masjid lain, kecuali Masjid Nabawi dan Masjidil Aqsha. Satu kali salat di Masjid Nabawi sama dengan 1.000 kali salat di masjid-masjid lain, kecuali Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha. Adapun satu kali salat di Masjidil Aqsha sama dengan 250 kali salat di masjid-masjid lain, kecuali Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.[73]
  • Satu-satunya masjid yang diberikan jaminan keamanan oleh Allah, siapapun yang memasuki masjid akan merasa selamat dan aman.[74]
  • Merupakan tanah atau tempat di bumi yang dicintai Allah.[75]
  • Tidak dapat dimasuki oleh Dajjal atau Al-Masih palsu, karena dijaga oleh ribuan Malaikat.[76][77]
  • Tempat yang diselamatkan saat pasukan bergajah menghadang yang akan menghancurkan Kakbah dan Masjidil Haram. [78]

Hukum[sunting | sunting sumber]

  • Mekkah merupakan yang tidak diizinkan dimasuki oleh penduduk selain Muslim, terutama Masjidil Haram karena menurut Al-Qur’an, orang musrik adalah najis sehingga tidak diizinkan dimasuki kota Mekkah. 8:28[79][80]
  • Tidak diizinkan membunuh atau berperang, kecuali memerangi di wilayah Masjidil Haram.[81]
  • Tidak diperbolehkan memotong tumbuhan yang ada di kota Mekkah, utamanya di sekitaran Masjidil Haram. [82]

Kontroversi[sunting | sunting sumber]

Perkembangan dan perluasan Masjidil Haram menyebabkan beberapa situs-situs penting agama Islam hilang dan dihancurkan,[83] seperti situs-situs berikut:[84][85]

  • Bayt Al-Mawlid, rumah tempat Nabi Muhammad lahir, dihancurkan dan dijadikan sebuah perpustakaan.
  • Dar Al-Arqam, sekolah Islam pertama di dunia pada masa kenabian Nabi Muhammad diratakan.
  • Rumah Abu Jahal dihancurkan dan dijadikan tempat pencucian umum.
  • Kubah yang dijadikan kanopi diatas sumur Zamzam dihancurkan.

Galeri[sunting | sunting sumber]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b "Location of Masjid al-Haram". Google Maps. Diakses tanggal 24 September 2013. 
  2. ^ Pengertian Masjidil Haram [1]
  3. ^ إعلام الساجد، محمد بن عبد الله الزركشي، تحقيق: الشيخ أبو الوفا مصطفى المراغي، المجلس الأعلى للشئون الإسلامية، القاهرة، ط4، 1416هـ/ 1996م، ص45
  4. ^ سبل الهدى والرشاد في سيرة خير العباد، محمد بن يوسف الصالحي، دار الكتاب المصري، القاهرة، دار الكتاب اللبناني، بيروت، 1410هـ/ 1990م، ج1، ص1
  5. ^ أخبار مكة، محمد بن عبد الله بن أحمد الأزرقي، تحقيق: رشدي الصالح ملحن، دار الثقافة، مكة المكرمة، ط2، 1416هـ/ 1996م، ج1، ص51: 53
  6. ^ 105:1
  7. ^ 105:4
  8. ^ 105:5
  9. ^ Sejarah Kakbah
  10. ^ Sejarah Kakbah menurut Salah 505.com
  11. ^ Sejarah Kakbah menurut Al-Mutmar.com
  12. ^ Ath-Thabaqat, Ibnu Sa'id bin Muhammad Sa'id Al-Baghdadi, Dar Shadr, Beirut, Bab 2 Hal 95-105
  13. ^ Sirah Ibnu Hisyam, Ibnu Hisyam, Bab 4, Hal 275-296
  14. ^ Islam web.net
  15. ^ Fatwa Islam.web
  16. ^ Shahih dan Dhaif Sejarah Tabari, Sahih Bab 4, Hal 81.
  17. ^ Akhbar Makkah lil Azraqi (2: 69–71)
  18. ^ Hilyat Al-Awliya Wa Tabaqat Al Ashfiyya, bab 1, Hal 333.
  19. ^ Ansabul Asyraf, Bab 4, Hal 336, Bab 4, Hal 340. Bab 1, Hal 199.
  20. ^ Al-Mahin , Hal 20
  21. ^ Shahih dan Daif sejarah Thabari, Juz 1, Halaman 331
  22. ^ Mina'ah Al-Karim Lil Sanjari, 9/20
  23. ^ Akhbar Makkah lil azraqi 2/74
  24. ^ Akhbar Makkah lil Fakahi, 2/175
  25. ^ I'lam ‘Ulama al-'Alam Bi Banail Masjid al Haram Li Abdul Karim bin Muhibuddin Al Qutubi, 2 hal 366
  26. ^ Al Haramain, Sejarah dan Fitur Masjidil Haram
  27. ^ Ikhbarul lil Akhbar Masjidil Haram, Muhammad al-Makki, hal 184
  28. ^ Ansab Asyraf, Juz 4 hal 336
  29. ^ James Wynbrandt (2010). A Brief History of Saudi Arabia. Infobase Publishing. p. 101. ISBN 978-0-8160-7876-9. Diakses tanggal 12 June 2013. 
  30. ^ "Sejarah dan Pembangunan Masjidil Haram". 
  31. ^ "Makkah crane crash report submitted". Al Arabiya. 14 September 2015. Diakses tanggal 15 September 2015. 
  32. ^ "Daftar Nama Jemaah Rawat/Wafat Musibah Jatuhnya Crane Di Masjidil Haram 11 September 2015" [Names of Pilgrims Hospitalized/Dead in Calamity of Haram Crane Collapse September 11, 2015] (dalam Indonesian). Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah - Kementerian Agama Republik Indonesia. 15 September 2015. Diakses tanggal 16 September 2015. 
  33. ^ "King Salman to make findings of Makkah crane collapse probe public". Diakses tanggal 2015-09-14. 
  34. ^ "Number of casualties of Turkish Haji candidates at the Kaaba accident reach 8…". Presidency of Religious Affairs. 13 September 2015. Diakses tanggal 15 September 2015. 
  35. ^ "Six Nigerians among victims of Saudi crane accident: official". Yahoo! News. AFP. 16 September 2015. Diakses tanggal 16 September 2015. 
  36. ^ Halkon, Ruth; Webb, Sam (13 September 2015). "Two Brits dead and three injured in Mecca Grand Mosque crane tragedy that killed 107 people l". Mirror Online. Diakses tanggal 16 September 2015. 
  37. ^ (Arab)Ibnu Katsir. Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Surat al-Baqarah.
  38. ^ http://www.gomuslim.co.id/read/khazanah/2016/08/09/1111/dirancang-arsitek-turki-utsmani-beratus-tahun-lalu-bertahan-hingga-hari-ini]
  39. ^ a b c https://alfaroby.wordpress.com/2007/06/16/pintu-pintu-masjidil-haram/ Alfaroby.wordpress.com] (dalam bahasa Indonesia) Diakses pada 17 Januari 2017
  40. ^ Madinat Muhamad
  41. ^ AlHejazi.net
  42. ^ Al-Riyadh.com
  43. ^ AlHaramain.gov. sa, Situs resmi Al-Haramain
  44. ^ a b Makkawi.com
  45. ^ Okaz.com.sa Diakses pada 27 Agusutus 2013
  46. ^ Menara-menara dalam Masjidil Haram], dalam bahasa Arab, diakses pada 27 Agustus 2013
  47. ^ AlRiyadh.com. Diakses pada 6 Maret 2012
  48. ^ a b c d e f g Buku Sejarah Mekah, Dr. Muhammad Ilyas Abdul Ghani
  49. ^ a b c d e f g Majalah Alibar.blogspot.com (dalam Bahasa Indonesia) Diakses pada 18 Januari 2017
  50. ^ Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk tempat beribadah ummat manusia adalah Baitullah yang di Bakkah (Mekkah) yang diberkahi dan petunjuk bagi semua manusia. (Surah Ali Imran: 96-97)
  51. ^ a b Wensinck, A. J; Ka`ba. Encyclopaedia of Islam IV p. 317
  52. ^ "In pictures: Hajj pilgrimage". BBC News. 7 December 2008. Diakses tanggal 8 December 2008. 
  53. ^ "As Hajj begins, more changes and challenges in store". altmuslim. 
  54. ^ Shaykh Safi-Ar-Rahman Al-Mubarkpuri (2002). Ar-Raheeq Al-Makhtum (The Sealed Nectar): Biography of the Prophet. Dar-As-Salam Publications. ISBN 1-59144-071-8. 
  55. ^ Elliott, Jeri (1992). Your Door to Arabia. Lower Hutt, N.Z.: R. Eberhardt. ISBN 0-473-01546-3. 
  56. ^ Mohamed, Mamdouh N. (1996). Hajj to Umrah: From A to Z. Amana Publications. ISBN 0-915957-54-X. 
  57. ^ M.J. Kister, "Maḳām Ibrāhīm," p.105, The Encyclopaedia of Islam (new ed.), vol. VI (Mahk-Mid), eds. Bosworth et al., Brill: 1991, pp. 104-107.
  58. ^ Al-Ihsan fi Taqrib Sahih ibn Hibban (3710); al-Sunan al-Kubra li al-Baihaqi, 5/75, Hadis Sahih.
  59. ^ Islam QA. Hijr Ismail
  60. ^ a b Ula dkk. (2014), hal.17.
  61. ^ a b Ghani (2004), hal.114-15.
  62. ^ "Zamzam Studies and Research Centre". Saudi Geological Survey. Diarsipkan dari versi asli tanggal 5 Februari 2005. Diakses tanggal 5 June 2005. 
  63. ^ Imām ibn Kathīr al-Makkī. © 2013 Prophetic Guidance. Published June 16, 2013. Accessed April 13, 2016.
  64. ^ Keutamaan Masjidil Haram
  65. ^ 3:96
  66. ^ [[3:98|Surah Ali Imran ayat 98]]
  67. ^ 2:144
  68. ^ Sunan Tirmidzi, Kitab Shalat, ‘’Bab Ma Ja a fi Ibtidai al Qiblat, Hal 169, Hadits nomor 390
  69. ^ 2:149
  70. ^ 2:150
  71. ^ Hadits di Hadits.al-Islam.com
  72. ^ Sahih Muslim, dari Abdi Dzar al Ghafari, Nomor:520
  73. ^ Sahih Bukhari, nomor:1995
  74. ^ Riwayat Suyuthi, dalam Jami'ah Shagir, dari Jabir bin Abdullah, nomor:5109
  75. ^ HR. Ahmad, nomor:18242
  76. ^ HR Bukhari, nomor:1521
  77. ^ HR.Muslim, nomor:1350
  78. ^ 105:1
  79. ^ HR. Muslim dengan sahih
  80. ^ Sahih Bukhari, nomor:1736
  81. ^ Fatwa membunuh atau berperang di Masjdil Haram, di Fatwa Islamweb.net
  82. ^ Fatwa merusak pohon atau tumbuhan di sekitar Masjdil Haram, di Fatwa Islamweb.net
  83. ^ Laessing, Ulf (18 November 2010). "Mecca goes Upmarket". Reuters. Diakses tanggal 1 December 2010. 
  84. ^ Taylor, Jerome (24 September 2011). "Mecca for the rich: Islam's holiest site turning into Vegas". The Independent. 
  85. ^ Abou-Ragheb, Laith (12 July 2005). "Dr.Sami Angawi on Wahhabi Desecration of Makkah". Center for Islamic Pluralism. Diakses tanggal 28 November 2010.