Sejarah Kota Malang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search

Kota Malang memiliki sejarah yang panjang, mulai dari masa purbakala. Kota yang didirikan pada zaman Belanda[1] ini telah mengalami berbagai peristiwa penting, mulai dari kejayaan kerajaan-kerajaan di Nusantara hingga pembangunan kota secara besar-besaran oleh Pemerintah Penjajahan Belanda. Kota ini didirikan pada 1 April 1914 sebagai kotapraja.

Etimologi[sunting | sunting sumber]

Asal usul penamaan Malang sampai sekarang masih diperdebatkan oleh para ahli sejarah. Nama "Malang" muncul pertama kali pada Prasasti Pamotoh/Ukirnegara (1120 Saka/1198 Masehi) yang ditemukan pada tanggal 11 Januari 1975 oleh seorang administrator perkebunan Bantaran di Wlingi, Kabupaten Blitar. Dalam prasasti tembaga tersebut, tertulis salah satu bagiannya (dengan terjemahannya sebagai berikut) sebagai berikut.

Teks Terjemahan
...taning sakrid Malang-akalihan

wacid lawan macu pasabhanira

dyah Limpa Makanagran I...

…di sebelah timur tempat berburu sekitar Malang

bersama wacid dan mancu,

persawahan Dyah Limpa yaitu…

Malang di sini merujuk pada sebuah daerah di timur Gunung Kawi. Meskipun telah diketahui bahwa penggunaan Malang setidaknya telah berlangsung sejak abad ke-12 Masehi, tidak bisa dipastikan asal mula penamaan wilayahnya.

Hipotesis pertama merujuk pada nama sebuah bangunan suci bernama Malangkuçeçwara (diucapkan [malaŋkuʃeʃworo]). Bangunan suci tersebut disebut dalam dua prasasti Raja Balitung dari Mataram Kuno, yakni Prasasti Mantyasih tahun 907 Masehi dan Prasasti 908 Masehi.[2] Para ahli masih belum memperoleh kesepakatan di mana bangunan tersebut berada. Di satu sisi, ada sejumlah ahli yang menyebutkan bahwa bangunan Malangkuçeçwara terletak di daerah Gunung Buring, suatu pegunungan yang membujur di sebelah timur Kota Malang di mana terdapat salah satu puncaknya bernama "Malang".[2] Pihak yang lain di sisi lain menduga bahwa letak sesungguhnya dari bangunan suci tersebut terdapat di daerah Tumpang, Kabupaten Malang. Di daerah tersebut, terdapat sebuah desa bernama Malangsuka, yang menurut para ahli sejarah berasal dari kata Malangkuça (diucapkan [malankuʃoː]) yang diucapkan terbalik. Pendapat ini diperkuat oleh keberadaan peninggalan-peninggalan kuno di sekitar Tumpang seperti Candi Jago dan Candi Kidal yang merupakan wilayah Kerajaan Singhasari.[2]

Nama Malangkuçeçwara terdiri atas 3 kata, yakni mala yang berarti kebatilan, kecurangan, kepalsuan, dan kejahatan, angkuça (diucapkan [aŋkuʃo]) yang berarti menghancurkan atau membinasakan, dan içwara (diucapkan [iʃworo]) yang berarti Tuhan. Oleh karena itu, Malangkuçeçwara berarti "Tuhan telah menghancurkan yang batil".[3]

Hipotesis kedua merujuk sebuah kisah penyerangan pasukan Kesultanan Mataram ke Malang pada 1614 yang dipimpin oleh Tumenggung Alap-Alap.[4] Menurut cerita rakyat, terdapat sebuah percakapan antara Tumenggung Alap-Alap dengan salah satu pembantunya mengenai kondisi wilayah Malang sebelum penyerangan dimulai. Pembantu dari Tumenggung Alap-Alap tersebut menyebut warga dan prajurit dari daerah tersebut sebagai penduduk yang "menghalang-halangi" (malang dalam Bahasa Jawa) kedatangan dari pasukan Mataram. Setelah penaklukan tersebut, pihak Mataram menamakan daerah itu Malang.[5]

Masa Pra-Sejarah[sunting | sunting sumber]

Miniatur Dataran Tinggi Malang pada era Pleistosen

Kawasan Malang pada era Pleistosen masih berupa cekungan dalam yang diapit aktivitas vulkanis dari gunung-gunung seperti Pegunungan Kapur di Selatan, Gunung Kawi dan Gunung Kelud di Barat, Kompleks Pegunungan Anjasmoro, Welirang, dan Arjuna di Timur Laut dan Utara, dan Kompleks Pegunungan Tengger di Timur.[6] Cekungan tersebut belum dihuni manusia akibat kondisinya masih berupa aliran lava dan lahar panas dari gunung-gunung sekitarnya.[7] Menjelang musim hujan, cekungan daerah Malang tersebut terisi air yang mengalir lewat lereng-lereng gunung yang menuju ke sejumlah sungai dan membentuk sebuah rawa-rawa purba. Rawa-rawa tersebut meluas sehingga menciptakan danau purba.

Ketika danau purba belum mengering, peradaban manusia purba masih pada tahap Berburu dan Mengumpulkan Makanan tingkat awal hingga lanjut. Permukimannya masih berada di lereng-lereng gunung dan pegunungan yang mengelilingi Malang dalam bentuk gua-gua alam. Oleh karena itu bisa dimengerti bila penemuan artefak-artefak pada masa paleolitik dan mesolitik ini banyak ditemukan di daerah pegunungan, seperti di lereng Gunung Kawi, Arjuno, Welirang, Tengger, Semeru dan Pegunungan Kapur Selatan.[8]

Danau purba Malang berangsur mengering pada era Holosen dan menyebabkan wilayah Malang menjadi dataran tinggi Malang. Ketika mulai memasuki masa Bercocok Tanam, secara berangsur-angsur manusia purba mulai turun gunung dan membuat sejumlah permukiman dan daerah-daerah pertanian. Ditemukannya sejumlah artefak berupa dua buah beliung persegi, alat pahat dari batu kalsedon serta kapak genggam dari batu andesit di sebelah timur Gunung Kawi tepatnya di daerah Kacuk di sekitar aliran sungai Metro dan Brantas menguatkan anggapan tersebut.[8] Selain itu, penelitian memperkirakan bahwa bentuk-bentuk hunian pada masa peralihan ini berbentuk rumah panggung, di mana badan rumah disangga oleh kaki-kaki rumah dan berada beberapa meter dari permukaan tanah. Hal ini diperkuat dengan penemuan artefak berupa “Watu Gong” atau “Watu Kenong” di Dinoyo, Lowokwaru, Malang, yang wujudnya mirip dengan alat musik tradisional, yakni gong, yang sebenarnya ialah umpak atau fondasi dari rumah panggung.[8] Tumbuhnya permukiman di sekitar sungai yang mengalir di Malang menjadi cikal bakal peradaban-peradaban kuno para Homo sapien.[9]

Masa Kerajaan Hindu dan Islam[sunting | sunting sumber]

Kerajaan Kanjuruhan[sunting | sunting sumber]

Candi Badut, salah satu peninggalan Kerajaan Kanjuruhan[10] yang menjadi bukti bahwa Kerajaan Kanjuruhan adalah tonggak perkembangan Kota Malang

Entitas politik pertama dan tertua yang muncul dari permukiman kuno di Malang, yang tercatat dalam sejarah, ialah Kerajaan Kanjuruhan. Berdasarkan informasi yang dituturkan Prasasti Kanjuruhan/Dinoyo (682 Saka/760 Masehi), kerajaan ini sempat dipimpin oleh Dewa Simha. Setelah wafat, ia digantikan oleh putranya yang bernama Liswa atau Limwa dengan gelar Gajayana pada 760 Masehi. Pada masa kekuasaannya, ia telah menyatukan kerajaan-kerajaan kecil di sekitarnya,[11] membangun tempat-tempat suci sebagai simbol restorasi kekuasaan, mendermakan sejumlah hewan ternak kepada masyarakat dan pendeta, serta membangun sejumlah fasilitas publik yang diperuntukkan bagi kegiatan keagamaan dan aktivitas sehari-hari.[12] Peninggalan dari Kerajaan Kanjuruhan yang masih tersisa hingga kini selain Prasasti Dinoyo termasuk yoni Candi Wurung,[13] yang terletak di Merjosari, Lowokwaru, Malang, dan Candi Badut yang terletak di Karangwidoro, Dau, Kabupaten Malang.

Sisa-sisa Peninggalan Kerajaan Kanjuruhan di sekitar Kelurahan Tlogomas, Kecamatan Lowokwaru, Malang

Rakryan Kanuruhan (Mataram Kuno)[sunting | sunting sumber]

Kekuasaan Kerajaan Kanjuruhan diperkirakan tidak bertahan lama. Kerajaan itu akhirnya berada di bawah kekuasaan Medang i Bhumi Mataram (Kerajaan Mataram Kuno) semasa kepemimpinan Raja Dyah Balitung (899-911 Masehi). Dalam Prasasti Balingawan (813 Saka/891 Masehi), disebutkan Pu Huntu sebagai Rakryan Kanuruhan (penguasa watak Kanuruhan) di masa kekuasaan Raja Mpu Daksa (911-919 Masehi).[14] Artinya, wilayah yang dulu menjadi kerajaan otonom telah turun satu tingkat menjadi watak (wilayah) yang setingkat dengan kadipaten atau kabupaten (satu tingkat di bawah kekuasaan raja). Watak Kanuruhan yang mencakup pusat Kota Malang saat ini adalah entitas yang berdiri berdampingan dengan Watak Hujung (di sekitar Singosari, Lawang, dan Jabung, Kabupaten Malang) dan Watak Tugaran (di Tegaron, Lesanpuro, Kedungkandang, Malang) yang masing-masing membawahi beberapa wanua (setingkat desa).[15]

Candi Songgoriti, ditemukan oleh Van Isseldijk pada 1799,[16] direnovasi oleh Jonathan Rigg pada 1849, merupakan peninggalan kekuasaan Mpu Sindok ketika ia meminta salah satu bawahannya, Mpu Supo, untuk mendirikan tempat peristirahatan keluarga kerajaan di wilayah pegunungan yang memiliki sumber mata air.[17]

Ketika pusat pemerintahan Mataram Kuno dipindah ke daerah Tamwlang dan Watugaluh (Jombang) pada masa kekuasaan Raja Mpu Sindok (929-948 Masehi), beberapa prasasti seperti Sangguran, Turyyan, Gulung-Gulung, Linggasutan, Jeru-Jeru, Tija, Kanuruhan, Muncang, dan Wurandungan menggambarkan sejumlah kebijakan kewajiban pajak terhadap desa-desa perdikan (sima) di Malang dan sejumlah proses wakaf sejumlah bidang tanah untuk didirikan bangunan suci.[18] Oleh karena itu, beberapa wanua kuno yang diperkirakan “terwariskan” (berdasarkan nama-nama prasasti maupun nama tokoh setempat di masa lalu) hingga menjadi beberapa daerah di Malang sampai saat ini mencakup sebagai berikut:[18]

  1. Dinoyo (sekarang Kelurahan Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru, Malang),
  2. Waharu (sekarang Kelurahan Lowokwaru, Kecamatan Lowokwaru, Malang),
  3. Bantaran (sekarang Jalan Bantaran, Kelurahan Purwantoro, Kecamatan Blimbing, Malang),
  4. Balingawan (sekarang Desa Mangliawan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang),
  5. Turryan (sekarang Kelurahan Turen, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang),
  6. Tugaran (sekarang Dukuh Tegaron, Kelurahan Lesanpuro, Kecamatan Kedungkandang, Malang),
  7. Kabalon (sekarang Kelurahan Kotalama (sekitar Jalan dan Pasar Kebalen), Kecamatan Kedungkandang, Malang),
  8. Panawijyan (sekarang Kelurahan Polowijen, Kecamatan Blimbing, Malang),
  9. Daerah yang dulu dikuasai kepala wanua Pu Bulul (sekarang bernama Kelurahan Bunulrejo, Kecamatan Blimbing, Malang),
  10. Wurandungan (sekarang Dukuh Kelandungan, Desa Landungsari, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang), dan
  11. Jeru-Jeru (sekarang Desa Jeru, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang).

Kerajaan Kahuripan: Dari Jenggala hingga Panjalu[sunting | sunting sumber]

Tidak ada catatan yang menjelaskan secara detail status dan peran daerah sekitar Malang pada masa kepemimpinan Raja Airlangga selain kenyataan bahwa Malang masuk ke dalam wilayah Kerajaan Kahuripan. Pasalnya, daerah Malang tidak lagi menjadi pusat pemerintahan dari Kerajaan yang berpusat di sekitar Gunung Penanggungan dan Sidoarjo dengan ibukotanya Kahuripan. Bahkan ketika Raja Airlangga membagi Kahuripan menjadi Panjalu yang terpusat di Daha (Kadiri) dan Jenggala yang tetap berpusat di Kahuripan, wilayah Malang termasuk periferi dari kekuasaan kedua kerajaan ini. Namun, dapat dipastikan bahwa wilayah Malang masuk ke dalam wilayah Jenggala pada saat pembagian ini. Pembagian Kahuripan menunjukkan bahwa Gunung Kawi digunakan sebagai batas dua kerajaan baru tersebut dengan sisi timur diperoleh Jenggala.

Pembagian Wilayah Kerajaan Panjalu (jingga gelap) dan Kerajaan Jenggala (jingga terang) sebelum 1135 Masehi. Batas kedua wilayah tersebut merupakan Gunung Kawi

Wilayah Malang kembali menjadi aktor penting dalam sejarah Panjalu/Jenggala ketika Raja Jayabhaya dari Panjalu menaklukkan Jenggala. Dalam Prasasti Hantang (1057 Saka/1135 Masehi), tertulis Panjalu Jayati (“Panjalu Menang”), menandakan kemenangan Panjalu atas Jenggala. Prasasti tersebut juga memuat pemberian hak-hak istimewa terhadap beberapa desa di Hantang (Ngantang, Kabupaten Malang) dan sekitarnya atas jasa mereka dalam memihak Panjalu saat perang.[19] Prasasti ini juga sekaligus menunjukkan bahwa wilayah Malang berada dalam kekuasaan Panjalu.

Prasasti Kamulan (1116 Saka/1194 Masehi) mencatat peristiwa penyerangan sebuah wilayah dari timur Daha (Kadiri) terhadap Raja Kertajaya (dalam Pararaton disebut Dandang Gendhis) yang berdiam di Kedaton Katang-Katang.[20] Tidak ada penelitian lebih lanjut mengenai apakah penyerangan tersebut merupakan pemberontakan atau percobaan penaklukan. Namun, keberadaan Prasasti Kamulan menunjukkan bahwa terdapat sebuah kekuatan politik baru yang muncul untuk menentang kekuasaan Panjalu. Argumen ini diperkuat oleh keberadaan Prasasti Sukun (1083 Saka/1161 Masehi) yang menyebut seorang raja bernama Jayamerta yang memberikan hak-hak istimewa terhadap Desa Sukun (diduga di Kelurahan Sukun, Kecamatan Sukun, Malang) karena telah memerangi musuh.[21] Jayamerta tidak pernah tercantum secara eksplisit maupun implisit dalam berbagai catatan yang merujuk informasi baik mengenai daftar penguasa Panjalu maupun Jenggala. Beberapa ahli sejarah seperti Agus Sunyoto menyebut bahwa daerah asal perlawanan tersebut bernama Purwa atau Purwwa. Ini didukung oleh argumen Sunyoto ketika merujuk bahwa semua penguasa Majapahit merupakan keturunan dari Ken Arok yang “[...] mengalirkan benihnya ke dunia lewat cahaya (teja) yang memancar dari “rahasia” Ken Dedes, naraiswari [...] Kerajaan Purwa.”[22] Naraiswari (atau nareswari/ardanareswari) sendiri dalam bahasa Sanskerta berarti “perempuan utama” dan Ken Dedes sendiri merupakan putri dari Mpu Purwa, brahmana dari Panawijyan (Kelurahan Polowijen, Kecamatan Blimbing, Malang). Pada akhirnya upaya perlawanan dari Purwa/Purwwa berhasil ditumpas oleh Panjalu.

Diorama penculikan Ken Dedes oleh Tunggul Ametung di Museum Mpu Purwa, Malang

Beberapa ahli sejarah mengaitkan rangkaian peristiwa perlawanan dan penumpasan tersebut sebagai konteks sosial politik dari dua konflik yang melibatkan Raja Kertajaya dengan kelas brahmana. Yang pertama ialah kebijakan Raja Kertajaya yang berusaha untuk mengurangi sejumlah hak dari kelas Brahmana. Beberapa cerita rakyat menunjukkan bahwa Raja Kertajaya ingin “disembah” oleh para Brahmana sehingga bertentangan dengan ajaran agama dari kalangan brahmana. Yang kedua ialah peristiwa penculikan Ken Dedes oleh Tunggul Ametung, akuwu (setara camat) untuk wilayah Tumapel.[23] Menurut Blasius Suprapto dalam disertasinya, letak Tumapel sendiri berada di wilayah yang dulu bernama Kutobedah (sekarang bernama Kelurahan Kotalama, Kecamatan Kedungkandang, Malang).[24] Implikasi dari kedua konflik tersebut ialah penarikan dukungan politik dari kelas Brahmana terhadap Raja Kertajaya.

Kerajaan Singhasari[sunting | sunting sumber]

Keruntuhan Panjalu/Kadiri dan lahirnya Kerajaan Tumapel di Malang berawal dari kelas Brahmana dari Panjalu yang berusaha menyelamatkan diri dari persekusi politik yang dilakukan Raja Kertajaya. Mereka melarikan diri ke arah timur dan bergabung dengan kekuatan politik di Tumapel yang dipimpin oleh Ken Angrok. Ia kemudian memberontak terhadap akuwu Tunggul Ametung dan menguasai Tumapel. Kemenangan Ken Angrok tersebut sekaligus pernyataan perang untuk memisahkan diri dari Kadiri. Perebutan kekuasaan antara Kertajaya dan Ken Angrok terhadap wilayah Malang dan sekitarnya berujung pada Pertempuran Ganter di Ngantang (sekarang kecamatan di Kabupaten Malang) (1144 Saka/1222 Masehi) yang dimenangkan oleh Ken Angrok. Ia pun menahbiskan dirinya sebagai raja pertama Kerajaan Tumapel dengan gelar Rajasa Sang Amurwabhumi. Ibukotanya sendiri tetap berada di Tumapel namun berganti nama menjadi Kutaraja.

Candi Jago, tempat pen-dharma-an Raja Wisnuwardhana, di Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang

Hingga periode perpindahan ibukota kerajaan pada masa pemerintahan Raja Wisnuwardhana dari Kutaraja ke Singhasari (Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang) pada 1176 Saka/1254 Masehi, belum ada catatan komprehensif mengenai status strategis wilayah Malang di era Tumapel. Tidak dijelaskan alasan perpindahan tersebut namun mulai pada era inilah Singhasari menjadi nama bagi kerajaan ini. Data selebihnya hanya menunjukkan beberapa tempat bersejarah di Malang seperti daerah Gunung Katu di Genengan (Prangargo, Wagir, Kabupaten Malang) yang menurut sejarawan Dwi Cahyono merupakan situs pen-dharma-an Ken Arok,[25] daerah Rejo Kidal (Desa Kidal, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang), di mana Raja Anusapati di-dharma-kan dalam Candi Kidal, dan daerah Tumpang di mana Raja Wisnuwardhana di-dharma-kan dalam Candi Jago.

Pada masa kepemimpinan Raja Kertanegara, Kerajaan Singhasari menghadapi pemberontakan oleh Jayakatwang dari daerah Gelang-Gelang (sekitar Madiun).[26] Jayakatwang sendiri adalah cicit dari Raja Kertajaya menurut Negarakertagama dan keponakan dari Raja Wisnuwardhana (dari garis keturunan perempuan) menurut Prasasti Mula Malurung.[27] Pemberontakan tersebut menewaskan Raja Kertanegara, raja Singhasari yang terakhir, akibat wilayahnya yang tidak memiliki pertahanan ketika sebagian besar militernya dikirim untuk Ekspedisi Pamalayu.[28] Jayakatwang dengan mudah mengambil alih kekuasaan dan memindahkan pusat pemerintahan ke tanah leluhurnya, Kadiri.[29]

Masa penjajahan[sunting | sunting sumber]

Belanda[sunting | sunting sumber]

Jalan Besar Ijen pada zaman Belanda yang digunakan untuk dinikmati oleh keluarga Belanda[30]

Seperti halnya kebanyakan kota-kota lain di Indonesia pada umumnya, Kota Malang modern tumbuh dan berkembang setelah hadirnya administrasi kolonial Hindia Belanda. Fasilitas umum direncanakan sedemikian rupa agar memenuhi kebutuhan keluarga Belanda. Kesan diskriminatif masih berbekas hingga sekarang, misalnya Jalan Besar Ijen dan kawasan sekitarnya. Pada mulanya hanya dinikmati oleh keluarga-keluarga Belanda dan Bangsa Eropa lainnya, sementara penduduk pribumi harus puas bertempat tinggal di pinggiran kota dengan fasilitas yang kurang memadai. Kawasan perumahan itu sekarang menjadi monumen hidup dan seringkali dikunjungi oleh keturunan keluarga-keluarga Belanda yang pernah bermukim di sana.

Pada masa penjajahan kolonial Hindia Belanda, daerah Malang dijadikan wilayah gemente (kota).

Katedral Ijen (Theresiakerk) sekitar tahun 1940

Kota Malang mulai tumbuh dan berkembang pesat terutama ketika mulai dioperasikannya jalur kereta api pada tahun 1879. Berbagai kebutuhan masyarakat pun semakin meningkat terutama kebutuhan ruang gerak untuk melakukan berbagai kegiatan. Akibatnya, terjadilah perubahan tata guna tanah yang ditandai dengan daerah terbangun yang bermunculan tanpa terkendali. Perubahan fungsi lahan mengalami perubahan sangat pesat, seperti dari tanah berfungsi pertanian menjadi tanah berfungsi perumahan dan industri.[31]

Jepang[sunting | sunting sumber]

Pada masa kependudukan Jepang di Indonesia, Kota Malang yang merupakan bagian dari Indonesia pun ikut serta diduduki oleh Jepang. Bala Tentara Dai Nippon mulai menduduki Kota Malang pada 7 Maret 1942. Malang yang saat itu dipimpin oleh Raden Adipati Ario Sam (R.A.A. Sam) menyerah pada Jepang yang saat itu berkuasa di Kota Malang. Pengambilan alih Pemerintah pada prinsipnya meneruskan sistem lama, hanya sebutan-sebutan dalam jabatan diganti dengan bahasa Jepang.[32]

Pada masa kependudukan Jepang pun terjadilah peralihan fungsi bangunan. Rumah-rumah tempat tinggal orang Belanda diallihkan fungsinya. Bangunan Belanda di Jalan Semeru No. 42 yang dulunya digunakan sebagai kantor ataupun markas pasukan Belanda dialihfungsikan menjadi gedung Kentapetai.[33] Gedung Kentapetai merupakan salah satu gedung bersejarah di Malang yang kini menjadi gedung SMK swasta dan menjadi saksi bisu terjadinya pelucutan senjata Jepang oleh Badan Keamanan Rakyat (BKR) guna untuk memperkuat pertahanan Kota Malang.[33]

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Berikut ini adalah kilasan sejarah pemerintahan Kota Malang.

Waktu[34] Peristiwa yang Terjadi[34]
Zaman Prapenjajahan
Abad ke-8 M Malang menjadi ibu kota Kerajaan Kanjuruhan dengan rajanya, yaitu Gajayana
Zaman Penjajahan  Belanda,  Perancis,  Britania Raya, dan  Jepang
1767 Kompeni (Vereenigde Oostindische Compagnie) memasuki kota
1821 Kedudukan Pemerintah Kolonial Belanda dipusatkan di sekitar Kali Brantas
1824 Malang mulai mempunyai asisten residen karena sudah menjadi afdeling
1882 Rumah-rumah didirikan di bagian barat kota dan alun-alun dibangun
1 April 1914 Malang ditetapkan sebagai kotapraja dan tanggal ini pun sekaligus menjadi tanggal hari ulang tahun Kota Malang
8 Maret 1942 Malang diduduki Jepang melalui pemerintah kolonialnya
Pascaproklamasi
21 September 1945 Malang menjadi bagian dari Republik Indonesia
22 Juli 1947 Malang diduduki kembali oleh Belanda
2 Maret 1947 Pemerintah Republik Indonesia kembali memasuki Kota Malang
1 Januari 2001 Pemerintahan diubah menjadi Pemerintah Kota Malang

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Alun-alun Malang, Simbol Perebutan Kekuasaan Belanda dan Jepang". SINDOnews.com. Diakses tanggal 2017-11-18. 
  2. ^ a b c M. A. Mihaballo, H. Susanto, & Sriyana (2013). The Miracle of Language, Jakarta: Elex Media Computindo. pp. 201-202
  3. ^ Makna Lambang - Pemerintah Kota Malang,’ Pemerintah Kota Malang (daring), https://malangkota.go.id/sekilas-malang/makna-lambang/ diakses pada 21 September 2017
  4. ^ A. P. Rianto (2016), Perancangan Konsep Art Game Bergenre Fantasi Malangkucecwara The Ruins of War. Skripsi. Tidak diterbitkan. Yogyakarta: Institut Seni Indonesia. p. 50
  5. ^ W. Siswanto & S. Noersya (2008). Cerita Rakyat dari Malang (Jawa Timur). Jakarta: Grasindo. pp. 1-8
  6. ^ R. W. van Bemmelen (1949). The Geology of Indonesia Vol. I. Den Haag: Martinus-Nijhoff
  7. ^ S. Santosa & T. Suwarti (1992). Peta Geologi Lembar Malang, Jawa Timur, skala 1:100.000. Bandung: Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi
  8. ^ a b c Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang (2013). Wanwacarita, Kesejarahan Desa-Desa Kuno di Kota Malang. Malang : Penerbit Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang. pp. 34-36
  9. ^ Pemerintah Kotamadya Malang (1964). Kotapradja Malang 50 Tahun. Malang : Seksi penerbitan 50 Tahun Kotapradja Malang.
  10. ^ "Candi Badut". Sejarah dan Budaya Nusantara. Diakses tanggal 2017-10-22. 
  11. ^ W. J. van der Meulen (1976). The Puri Putikesvarapavita and the Pura Kanjuruhan. Bijdragen Tot De Taal – En Volkenkunde, 132(4). 445-462
  12. ^ D. I. Widodo (2015), Malang Tempo Doeloe. Surabaya: Dukut Publishing. p. 15
  13. ^ B. Indo, ‘Situs Purbakala Diduga Bagian Candi Ditemukan di Merjosari Kota Malang, Kerajaan Kanjuruhan?’ SuryaMalang.com (daring), 16 Juni 2017, http://suryamalang.tribunnews.com/2017/06/16/situs-purbakala-diduga-bagian-candi-ditemukan-di-merjosari-kota-malang-kerajaan-kanjuruhan, diakses pada 8 Januari 2019
  14. ^ J. L. A. Brandes (1913). Oud-Javaansche Oorkonden: Nagelaten transcripties van willen Dr. JLA Brandes Uitgegeven door Dr. NJ Krom. Den Haag: Martinus Nijhoff
  15. ^ I. Lutfi (2003). Desa-Desa Kuno di Malang Periode Abad ke-9-10 Masehi: Tinjauan Singkat Berbasis Data Tekstual Prasasti dan Toponimi. Sejarah, 9(1). 28-40
  16. ^ Verslag van W. I. I. van Isseldijk omtrent de gesteldheid van Java's Oesthoek, 15 Junij 1799, dalam J. K. J. de Jonge (1933), De Opkomst van het Nederlandsch gezag in Oost-Indie. Verzameling van Onuitgegeven Stukken uit het Oud-Koloniaal Archief. Uitgegeven en Bewerkt Door... Vol. XII. Den Haag: Martinus Nijhoff. pp. 464-556
  17. ^ 'Candi Songgoriti,' Ngalam.id (daring), 2 Januari 2013, http://ngalam.id/read/921/candi-songgoriti/, diakses pada 18 Januari 2019
  18. ^ a b ‘Daftar Tahun Sejarah Malang I,’ Ngalam.id (daring), 21 Januari 2014, http://ngalam.id/read/122/daftar-tahun-sejarah-malang-i/, diakses pada 8 Januari 2019
  19. ^ ‘Prasasti Hantang, Hadiah Raja Jayabhaya untuk Warga Ngantang,’ Ngalam.co (daring), 16 April 2017, https://ngalam.co/2017/04/16/prasasti-hantang-hadiah-raja-jayabhaya-warga-ngantang/, diakses pada 9 Januari 2019
  20. ^ ‘Prasasti Kamulan Kabupaten Trenggalek,’ Situs Budaya (daring), https://situsbudaya.id/prasasti-kamulan-trengalek/, diakses pada 9 Januari 2019
  21. ^ Suwardono, S. Rosmiayah, dan Maskur (1997), Monografi Sejarah Kota Malang, Malang: Sigma Media
  22. ^ A. Sunyoto (2004), Sang Pembaharu: Perjuangan dan Ajaran Syaikh Siti Jenar. Yogyakarta: LKIS Pelangi Aksara. p. 32
  23. ^ ‘Kerajaan Purwwa,’ Ngalam.id (daring), 29 Oktober 2012, http://ngalam.id/read/98/kerajaan-purwwa/, diakses pada 9 Januari 2019
  24. ^ B. Suprapta (2015), Makna Gubahan Ruang Situs-Situs Hindhu-Buddha Masa Sinhasari Abad XII Sampain XIII Masehi di Saujana Dataran Tinggi Malang dan Sekitarnya. Disertasi. Tidak Dipublikasikan. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada
  25. ^ R. H. Putri, ‘Persembahan Terakhir bagi Rajasa,’ Historia (daring), 14 Oktober 2017, https://historia.id/kuno/articles/persembahan-terakhir-bagi-rajasa-PKNGQ, diakses pada 11 Januari 2019
  26. ^ A. C. Irapta & C. D. Duka (2005). Introduction to Asia: History, Culture, and Civilization. Quezon: Rex Bookstore, Inc.
  27. ^ S. Muljana (1979). Negarakertagama dan Tafsir Sejarahnya. Jakarta: Bhratara
  28. ^ M. Rossabi (1989). Khubilai Khan: His Life and Times. Berkeley: University of California Press.
  29. ^ G. Coedès (1968). The Indianized states of Southeast Asia. Honolulu: University of Hawaii Press. p. 199
  30. ^ "Sejarah Malang". Sahabat Wisata Indonesia. 2014-01-03. Diakses tanggal 2017-10-21. 
  31. ^ "Kota Malang CEPAT TUMBUH BERKEMBANG (bag1)". propertyandthecity.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2017-10-21. 
  32. ^ "Sejarah Malang Pra Kemerdekaan dan Kemerdekaan (Bagian 5)". JURNALMALANG.COM. Diakses tanggal 2017-10-22. 
  33. ^ a b "JEJAK MASA KOLONIAL DAN PENDUDUKAN JEPANG DI KOTA MALANG". www.geschool.net. Diakses tanggal 2017-10-22. 
  34. ^ a b "Sejarah Malang - Pemerintah Kota Malang". Pemerintah Kota Malang. Diakses tanggal 2017-10-01.