Sejarah Kota Malang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari

Kota Malang memiliki sejarah yang panjang, mulai dari masa purbakala. Kota yang didirikan pada zaman Belanda[1] ini telah mengalami berbagai peristiwa penting, mulai dari kejayaan kerajaan-kerajaan di Nusantara hingga pembangunan kota secara besar-besaran oleh Pemerintah Penjajahan Belanda. Kota ini didirikan pada 1 April 1914 sebagai kotapraja.

Masa purbakala[sunting | sunting sumber]

Serpihan dari peninggalan Kerajaan Kanjuruhan di sekitar Tlogomas[2]

Wilayah cekungan Malang telah ada sejak masa purbakala sebagai kawasan pemukiman. Banyaknya sungai yang mengalir di sekitar tempat ini membuatnya cocok sebagai kawasan pemukiman. Wilayah Dinoyo dan Tlogomas diketahui merupakan kawasan pemukiman prasejarah.[3] Selanjutnya, berbagai prasasti (misalnya Prasasti Dinoyo), bangunan percandian dan arca-arca, bekas-bekas fondasi batu bata, bekas saluran drainase, serta berbagai gerabah ditemukan dari periode akhir Kerajaan Kanjuruhan (abad ke-8 dan ke-9) juga ditemukan di tempat yang berdekatan.[3][4]

Asal-usul nama Malang[sunting | sunting sumber]

Nama Malang sampai saat ini masih diteliti asal-usulnya oleh para ahli sejarah. Para ahli sejarah masih terus menggali sumber-sumber untuk memperoleh jawaban yang tepat atas asal usul nama Malang. Sampai saat ini telah diperoleh beberapa hipotesis mengenai asal usul nama Malang tersebut.

Menurut hipotesis pertama, Malangkuçeçwara (dibaca malangkusheshwara) yang tertulis di dalam lambang kota itu[5] merupakan nama sebuah bangunan suci. Nama bangunan suci itu sendiri diketemukan dalam dua prasasti Raja Balitung dari Jawa Tengah, yakni Prasasti Mantyasih tahun 907 dan prasasti 908 yakni diketemukan di suatu tempat antara Surabaya dan Malang. Namun demikian, letak sesungguhnya bangunan suci Malang Kuçeçwara itu belum disepakati oleh para ahli.[6] Satu pihak menduga letak bangunan suci itu adalah di daerah Gunung Buring, suatu pegunungan yang membujur di sebelah timur Kota Malang yang memiliki puncak yang bernama Malang.[6] Pembuktian atas kebenaran dugaan ini masih terus dilakukan karena ternyata di sebelah barat Kota Malang juga terdapat sebuah gunung yang bernama Malang.[6]

Hipotesis kedua menduga bahwa letak sesungguhnya dari bangunan suci itu terdapat di daerah Tumpang, suatu tempat di sebelah utara Kota Malang. Sampai saat ini di daerah tersebut masih terdapat sebuah desa yang bernama Malangsuko, yang oleh sebagian ahli sejarah, diduga berasal dari kata Malankuça (dibaca Malankusha) yang diucapkan terbalik. Pendapat di atas juga dikuatkan oleh banyaknya bangunan-bangunan purbakala yang berserakan di daerah tersebut, seperti Candi Jago dan Candi Kidal, yang keduanya merupakan peninggalan zaman Kerajaan Singasari.[6]

Dari kedua hipotesis di atas tersebut, masih pula belum dapat dipastikan manakah kiranya yang terdahulu dikenal dengan nama Malang, bangunan suci Malangkuçeçwara yang terlertak di daerah di sekitar Kota Malang sekarang ataukah kedua gunung yang bernama Malang di sekitar daerah itu. Dalam sebuah prasasti tembaga yang ditemukan pada akhir tahun 1974 di perkebunan Bantaran, perkebunan Wlingi di sebelah barat daya Malang tertulis dalam salah satu bagiannya sebagai berikut.[6]

...taning sakrid Malang-akalihan
 wacid lawan macu pasabhanira
dyah Limpa Makanagran I...

…di sebelah timur tempat berburu sekitar Malang
bersama wacid dan mancu,
persawahan Dyah Limpa yaitu…

Dari bunyi prasasti itu ternyata Malang merupakan satu tempat di sebelah timur dari tempat-tempat yang tersebut dalam prasasti itu. Dari prasasti inilah diperoleh satu bukti bahwa pemakaian nama Malang telah ada paling tidak sejak abad 12 Masehi.[6]

Nama Malangkuçeçwara terdiri atas 3 kata, yakni mala yang berarti kecurangan, kepalsuan, dan kejahatan, angkuça (dibaca angkusha) yang berarti menghancurkan atau membinasakan, dan içwara (dibaca ishwara) yang berarti Tuhan. Oleh karena itu, Malangkuçeçwara berarti Tuhan telah menghancurkan kejahatan.[6]

Hipotesa-hipotesa terdahulu, barangkali berbeda dengan satu pendapat yang menduga bahwa nama Malang berasal dari kata “Membantah” atau “Menghalang-halangi” (dalam bahasa Jawa berarti Malang). Alkisah Sunan Mataram yang ingin meluaskan pengaruhnya ke Jawa Timur telah mencoba untuk menduduki daerah Malang. Penduduk daerah itu melakukan perlawanan perang yang hebat. Karena itu Sunan Mataram menganggap bahwa rakyat daerah itu menghalang-halangi, membantah atau malang atas maksud Sunan Mataram. Sejak itu pula daerah tersebut bernama Malang.[6]

Masa kerajaan Hindu dan Islam[sunting | sunting sumber]

Candi Badut, salah satu peninggalan Kerajaan Kanjuruhan[7] yang menjadi bukti bahwa Kerajaan Kanjuruhan adalah tonggak perkembangan Kota Malang

Munculnya Kerajaan Kanjuruhan tersebut, oleh para ahli sejarah dipandang sebagai tonggak awal pertumbuhan pusat pemerintahan yang sampai saat ini, setelah 12 abad berselang, telah berkembang menjadi Kota Malang.[6] Oleh karena itu, kerajaan tersebut dianggap sebagai cikal bakal kota ini.

Setelah kerajaan Kanjuruhan, pada masa emas kerajaan Singasari (1000 tahun setelah Masehi) di daerah Malang masih ditemukan satu kerajaan yang makmur, banyak penduduknya serta tanah-tanah pertanian yang amat subur.[8] Ketika Islam menaklukkan Kerajaan Majapahit sekitar tahun 1400, Patih Majapahit melarikan diri ke daerah Malang. Kemudian, ia mendirikan sebuah kerajaan Hindu yang merdeka, yang diperjuangkan menjadi satu kerajaan yang maju oleh putranya. Pusat kerajaan yang terletak di kota Malang sampai saat ini masih terlihat sisa-sisa bangunan bentengnya yang kokoh bernama Kutobedah di Desa Kutobedah. Sultan Mataram dari Jawa Tengahlah yang akhirnya datang dan berhasil menaklukkan daerah ini pada tahun 1614 setelah mendapat perlawanan yang tangguh dari penduduk daerah ini.[9]

Masa penjajahan[sunting | sunting sumber]

Belanda[sunting | sunting sumber]

Jalan Besar Ijen pada zaman Belanda yang digunakan untuk dinikmati oleh keluarga Belanda[10]

Seperti halnya kebanyakan kota-kota lain di Indonesia pada umumnya, Kota Malang modern tumbuh dan berkembang setelah hadirnya administrasi kolonial Hindia Belanda. Fasilitas umum direncanakan sedemikian rupa agar memenuhi kebutuhan keluarga Belanda. Kesan diskriminatif masih berbekas hingga sekarang, misalnya Jalan Besar Ijen dan kawasan sekitarnya. Pada mulanya hanya dinikmati oleh keluarga-keluarga Belanda dan Bangsa Eropa lainnya, sementara penduduk pribumi harus puas bertempat tinggal di pinggiran kota dengan fasilitas yang kurang memadai. Kawasan perumahan itu sekarang menjadi monumen hidup dan seringkali dikunjungi oleh keturunan keluarga-keluarga Belanda yang pernah bermukim di sana.

Lambang Kota Malang pada masa Hindia Belanda

Pada masa penjajahan kolonial Hindia Belanda, daerah Malang dijadikan wilayah gemente (kota).

Katedral Ijen (Theresiakerk) sekitar tahun 1940

Kota Malang mulai tumbuh dan berkembang pesat terutama ketika mulai dioperasikannya jalur kereta api pada tahun 1879. Berbagai kebutuhan masyarakat pun semakin meningkat terutama kebutuhan ruang gerak untuk melakukan berbagai kegiatan. Akibatnya, terjadilah perubahan tata guna tanah yang ditandai dengan daerah terbangun yang bermunculan tanpa terkendali. Perubahan fungsi lahan mengalami perubahan sangat pesat, seperti dari tanah berfungsi pertanian menjadi tanah berfungsi perumahan dan industri.[11]

Jepang[sunting | sunting sumber]

Pada masa kependudukan Jepang di Indonesia, Kota Malang yang merupakan bagian dari Indonesia pun ikut serta diduduki oleh Jepang. Bala Tentara Dai Nippon mulai menduduki Kota Malang pada 7 Maret 1942. Malang yang saat itu dipimpin oleh Raden Adipati Ario Sam (R.A.A. Sam) menyerah pada Jepang yang saat itu berkuasa di Kota Malang. Pengambilan alih Pemerintah pada prinsipnya meneruskan sistem lama, hanya sebutan-sebutan dalam jabatan diganti dengan bahasa Jepang.[12]

Pada masa kependudukan Jepangp pun terjadilah peralihan fungsi bangunan. Rumah-rumah tempat tinggal orang Belanda diallihkan fungsinya. Bangunan Belanda di Jalan Semeru No. 42 yang dulunya digunakan sebagai kantor ataupun markas pasukan Belanda dialihfungsikan menjadi gedung Kentapetai.[13] Gedung Kentapetai merupakan salah satu gedung bersejarah di Malang yang kini menjadi gedung SMK swasta dan menjadi saksi bisu terjadinya pelucutan senjata Jepang oleh Badan Keamanan Rakyat (BKR) guna untuk memperkuat pertahanan Kota Malang.[13]

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Berikut ini adalah kilasan sejarah pemerintahan Kota Malang.

Waktu[14] Peristiwa yang Terjadi[14]
Zaman Prapenjajahan
Abad ke-8 M Malang menjadi ibu kota Kerajaan Kanjuruhan dengan rajanya, yaitu Gajayana
Zaman Penjajahan  Belanda,  Perancis,  Britania Raya, dan  Jepang
1767 Kompeni (Vereenigde Oostindische Compagnie) memasuki kota
1821 Kedudukan Pemerintah Kolonial Belanda dipusatkan di sekitar Kali Brantas
1824 Malang mulai mempunyai asisten residen karena sudah menjadi afdeling
1882 Rumah-rumah didirikan di bagian barat kota dan alun-alun dibangun
1 April 1914 Malang ditetapkan sebagai kotapraja dan tanggal ini pun sekaligus menjadi tanggal hari ulang tahun Kota Malang
8 Maret 1942 Malang diduduki Jepang melalui pemerintah kolonialnya
Pascaproklamasi
21 September 1945 Malang menjadi bagian dari Republik Indonesia
22 Juli 1947 Malang diduduki kembali oleh Belanda
2 Maret 1947 Pemerintah Republik Indonesia kembali memasuki Kota Malang
1 Januari 2001 Pemerintahan diubah menjadi Pemerintah Kota Malang

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Alun-alun Malang, Simbol Perebutan Kekuasaan Belanda dan Jepang". SINDOnews.com. Diakses tanggal 2017-11-18. 
  2. ^ "SEJARAH MALANG (DI ERA KANJURUHAN ABAD 8 MASEHI -Bagian 1)". JURNALMALANG.COM. Diakses tanggal 2017-10-14. 
  3. ^ a b Dahlia Irawati. Ditemukan, Fondasi Peninggalan Kerajaan Kanjuruhan di Malang. Kompas daring. Edisi 15 Oktober 2009. Diakses 16-10-2009.
  4. ^ Fondasi Kuno 1.300 Tahun Lalu Ditemukan. Kompas Daring Edisi 16 Oktober 2009. Diakses 16-10-2009.
  5. ^ Akaibara (2015-12-24). "Arti dan Makna Lambang Kota Malang - Ngalam.co". Ngalam.co. Diakses tanggal 2017-10-22. 
  6. ^ a b c d e f g h i "SEJARAH KOTA MALANG »". kelsumbersari.malangkota.go.id. Diakses tanggal 2017-09-25. 
  7. ^ "Candi Badut". Sejarah dan Budaya Nusantara. Diakses tanggal 2017-10-22. 
  8. ^ prambani (2017-08-22). "Sejarah Malang - Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur". Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2017-10-14. 
  9. ^ "Malang - malangcorner.com". malangcorner.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2017-10-14. 
  10. ^ "Sejarah Malang". Sahabat Wisata Indonesia. 2014-01-03. Diakses tanggal 2017-10-21. 
  11. ^ "Kota Malang CEPAT TUMBUH BERKEMBANG (bag1)". propertyandthecity.com (dalam bahasa British English). Diakses tanggal 2017-10-21. 
  12. ^ "Sejarah Malang Pra Kemerdekaan dan Kemerdekaan (Bagian 5)". JURNALMALANG.COM. Diakses tanggal 2017-10-22. 
  13. ^ a b "JEJAK MASA KOLONIAL DAN PENDUDUKAN JEPANG DI KOTA MALANG". www.geschool.net. Diakses tanggal 2017-10-22. 
  14. ^ a b "Sejarah Malang - Pemerintah Kota Malang". Pemerintah Kota Malang. Diakses tanggal 2017-10-01.