Panji Pulangjiwa

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari

Panji Pulangjiwo adalah tokoh dari Malang, Jawa Timur yang hidup pada masa Kesultanan Mataram sedang gencar-gencarnya dalam melakukan penyatuan pulau Jawa antara tahun 1600, saat itu Kesultanan Mataram sedang dipimpin oleh Sultan Agung. Panji Pulangjiwo adalah tokoh nyata yang namanya kemudian melegenda dalam sejarah Malang. Pada perang tahun 1614 antara Malang melawan Mataram, Panji Pulangjiwo inilah yang telah berhasil membunuh Tumenggung Surantani dari Mataram.

Legenda Panji Pulangjiwo

Berawal dari Panji Pulangjiwo saat datang ke Malang. Diceritakan ada dua versi, yang pertama sebagai pedagang, dan yang kedua sebagai pengungsi karena ada peperangan di Madura. Singkat cerita, Panji akhirnya ingin memperistri Proberetno (Putri Kadipaten Malang).

Di sisi lain, Sumolewo berasal dari Gempol-Porong, dan bekerja di Kadipaten Malang sebagai Aris di daerah Japanan-Malang. Sumolewo mempunyai seorang guru bernama Ki Japar Sodik yang terkenal mumpuni ilmu kanuragannya. Ki Japar Sodik pernah berpesan melarang Sumolewo tidak boleh memperistri Roro Ayu Proboretno, putri dari Adipati Malang. Dan apabila dilanggar, maka akan terjadi kematian yang disebabkan oleh seorang laki-laki dari utara timur yang memakai anting-anting dan berkumis.

Roro Ayu Proboretno adalah seorang gadis yang lincah dan suka ilmu kanuragan. Diceritakan, saat keluarganya menyarankan agar bersedia menikah, Proboretno sering menolak. Karena desakan itulah, akhirnya Proboretno mengajukan syarat yaitu, "Apabila ada seorang lelaki yang bisa mengalahkan kekuaatan ilmu kanuragannya maka sanggup untuk menjadi istrinya".

Akhirnya, Adipati Malang mengumumkan sayembara tersebut. Kabar sayembara sudah tersebar keluar daerah Kadipaten Malang. Karena merasa tertantang, Sumolewo pun bekeinginan untuk mengikuti sayembara tersebut. Sumolewo bertekad untuk melanggar pesan dari gurunya, yakni agar tidak memperistri Roro Ayu Proboretno.

Dia ingin menghidari takdir kematiannya, maka dia membuat aturan untuk melarang orang asing tidak boleh masuk daerah Kadipaten Malang. Apalagi, bagi yang mempunyai ciri-ciri : berasal dari arah utara timur, masih muda dan berkumis. Bila terdapat orang dengan ciri-ciri tersebut, maka akan langsung diberhentikan dan dibunuh di daerah Lawang (daerah tersebut akhirnya dijuluki kali getih).

Tetapi tindakan Sumolewo ini pun tidak berhasil. Raden Panji Pulangjiwo, seseorang dengan ciri-ciri yang disebutkan tadi akhirnya bisa memasuki Kadipaten Malang. Raden Panji pun mengikuti sayembara.

Pada masa pelaksanaan sayembara, Sumolewo ingin melawan Raden Panji. Terjadilah pertempuran yang sengit yang akhirnya dimenangkan oleh Raden Panji. Sumolewo pun meninggal.

Raden Panji akhirnya berkesempatan untuk bertanding kemampuannya dengan Roro Proboretno. Karena kesaktian Raden Panji lebih unggul, Roro Ayu Proboretno terdesak lari dan bersembunyi di Gua Tepi Sungai Brantas (gua bertapanya Proboretno).

Goa ini ditutup dengan batu yang bernama “Nini Growah” yang dipakai untuk bersembunyi waktu perang kesaktian. Meski begitu, persembunyian ini bisa diketahui oleh Raden Panji. Akhirnya sayembara selesai dengan penyerahan Roro Proboretno.

Orang Tua Proboretno Adipati Malang menepati janjinya untuk menikahkan anaknya dengan Raden Panji Pulangjiwo, meski sebenarnya hati mereka menolak dengan kehadirannya Raden Pulangjiwo ini.

Perkawinan antara Raden Panji Pulangjiwo dengan Roro Ayu Proboretno mempunyai keturunan seorang putra Bernama Raden Panji Wulung.

Pada suatu waktu Adipati Malang, mengutus Randen Panji Pulangjiwo untuk menyelesaikan peperangan di luar kota Malang. Tepatnya, di sebelah timur kadipaten Malang. Raden Panji sebagai pimpinan pasukan dalam perang ini.

Pada masa perang, terjadi pertempuran sengit dan tidak seimbang. Akal licik dari kelompok lawan yang tidak suka dengan Raden Panji membuat kabar bohong bahwa Raden Panji telah meninggal dalam pertempuran. Kabar bohong ini didengar oleh istrinya, Putri Proboretno. Akhirnya Proboretno jatuh sakit. Dan pada proses akan dibawa ke Kadipaten, Proboretno akhirnya meninggal dalam perjalanan dan kemudian dimakamkan (sekarang di belakang kantor Diknas Kabupaten Malang).

Lantas terdengar kabar bahwa Raden Panji Pulangjiwo akan segera pulang menuju Kadipati Malang dengan rasa marah karena Proboretno telah meninggal dunia. Adipati Malang pun berupaya untuk menutup akses jalan masuk ke Kadipaden Malang.

Namun, Raden Panji mengambil strategi untuk masuk kadipaten Malang dengan melalui Malang Timur yaitu daerah Kedung Kandang (tempat peliharaan hewan-hewan).

Dengan meninggalnya istrinya, Raden Panji Pulangjiwo tertekan jiwannya. Akhirnya, Adipati Malang menghadapi dan membunuh Raden Panji yang terkenal mahir ilmu kanuragannya dengan memakai akal busuk.

Dengan membuat suatu Panggung Jebakan yang diatasnya adik perempuannya dihias mirip Putri Proboretno. Setelah Raden Panji datang dan tahu istrinya masih hidup maka cepat-cepat mendekat ke perempuan itu. Tepat didekat panggung tersebut terdapat jebakan berupa lubang sumur.

Raden Panji Pulangjiwo akhirnya terjebak dan masuklah ke lubang sumur tersebut. Prajurit-prajurit kadipaten segera membunuhnya. Raden Panji Pulangjiwo meninggal dan dimakamkan di dekat kuburan Putri Proboretno, di Jl. Penarukan Kepanjen-Malang (dekat stasiun Kepanjen).

Dari kisah Raden Panji inilah akhirnya wilayah tersebut dikenal dengan Kepanjian, atau sekarang disebut Kepanjen.