Lawang, Malang
Lawang | |||||
|---|---|---|---|---|---|
| Negara | |||||
| Provinsi | Jawa Timur | ||||
| Kabupaten | Malang | ||||
| Pemerintahan | |||||
| • Camat | Nur Soleh Hidayat, S.STP., M.M. | ||||
| Populasi (2024) | |||||
| • Total | 113.246 jiwa | ||||
| Kode pos | 65211 - 65216 | ||||
| Kode Kemendagri | 35.07.25 | ||||
| Kode BPS | 3507270 | ||||
| Luas | 68,23 km² | ||||
| Desa/kelurahan | 2 kelurahan 10 desa | ||||
| |||||
Lawang adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Malang yang terletak di utara. Kecamatan ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Pasuruan dan merupakan gerbang masuk menuju Malang dari arah Surabaya. Lawang adalah kota kecil yang ramai dan strategis di tepi jalan nasional dan terdapat gerbang tol di ruas Jalan Tol Pandaan–Malang. Lawang memiliki pasar, stasiun, stadion, pabrik, rumah sakit, serta fasilitas lainnya.[1][2] Selain itu, Lawang juga memiliki berbagai tempat wisata populer seperti Pemandian Kalireco, Pari Bendo, Tlogo Land, dan pendakian Gunung Arjuno melalui kebun teh.[3][4]
Lawang sudah berkembang pesat sejak zaman kolonial Belanda, tepatnya dengan selesai dibangunnya Stasiun Lawang pada tahun 1879. Lokasinya yang dekat dengan Surabaya dan berada di kaki Gunung Arjuno yang sejuk membuat Lawang menjadi tujuan berlibur orang-orang Eropa pada masa itu. Masih banyak bangunan Belanda yang masih tersisa di Lawang, beberapa diantaranya bahkan masih aktif beroperasi seperti Hotel Niagara, rumah sakit jiwa, gedung Griya Bina, Gereja Jago, dan kebun teh di lereng Arjuno.[1][2]
Geografi
[sunting | sunting sumber]
Lawang adalah kota kecil di utara Malang di perlintasan jalan nasional Surabaya-Malang. Lawang adalah salah satu satelit utama dari Kota Malang. Lawang diapit oleh Gunung Arjuno di barat dan lereng komplek Pegunungan Tengger di timur. Ujung barat kecamatan di lereng Arjuno adalah kawasan Kebun Teh Wonosari yang wilayahnya luas hingga Kecamatan Singosari.[5]
Batas wilayah Kecamatan Lawang adalah sebagai berikut:[5]
| Utara | |
| Timur | Lereng Pegunungan Tengger |
| Selatan | Kecamatan Singosari |
| Barat | Lereng Gunung Arjuno |
Sejarah
[sunting | sunting sumber]
Wilayah Lawang berdekatan dengan pusat kerajaan besar di masa Hindu-Buddha yaitu Kerajaan Singosari di Kecamatan Singosari, sehingga daerah ini memiliki bukti adanya pemukiman kuno. Salah satu peninggalannya adalah Prasasti Katiden I dan Katiden II yang ditemukan di Desa Ketindan dengan angka tahun (1390-an M). Prasasti tersebut dikeluarkan Raja Wikramawardhana dari Majapahit dan berisi pembebasan pajak terhadap warga Katiden. Sebagai gantinya, warga Katiden berkewajiban menjaga hutan dan hewan yang ada di Gunung Lejar (anak Gunung Arjuno). Hutan di Gunung Lejar memiliki banyak ilalang yang rawan terbakar saat musim kering sehingga perlu penanganan khusus.[1][6]

Lawang dan Malang dikuasai oleh Belanda sekitar tahun 1770-an, kedua daerah tersebut berada di bawah Karesidenan Pasuruan. Lawang mengalami perkembangan pesat dengan dibangunnya jaringan rel Surabaya-Malang dan Stasiun Lawang yang selesai tahun 1879. Orang-orang Eropa yang tinggal di pesisir seperti Surabaya mulai berdatangan ke Lawang karena akses yang mudah serta suasana yang sejuk di lereng Gunung Arjuno. Berbagai bangunan seperti penginapan, sekolah, rumah ibadah, dan pemukiman mulai berdiri sehingga Lawang berubah menjadi kota kecil yang ramai. Banyak bangunan tersebut yang masih tersisa sampai saat ini seperti Hotel Niagara, rumah sakit jiwa, gedung Griya Bina (dulunya disebut gedung Bergzicht), Gereja Jago, dan kebun teh di lereng Arjuno. Di zaman itu, kebun teh tersebut juga banyak ditanami kopi dan kina. Wisata favorit orang Eropa yang menginap di Lawang saat itu antara lain Pemandian Polaman, Air terjun Baung di Pasuruan, dan peninggalan sejarah di Singosari.[1][2]
Lawang mengalami perubahan administrasi berkali-kali pada zaman kolonial. Pada tahun 1890-an, Lawang merupakan bagian dari Afdeeling atau Kabupaten Bangil di bawah Karesidenan Pasuruan. Dengan semakin majunya Kota Malang, Karesidenan Pasuruan dibubarkan dan diganti menjadi Karesidenan Malang pada tahun 1931. Lawang juga berpindah dari Kabupaten Bangil ke Kabupaten Malang pada tahun 1934. Lawang merupakan bagian dari District atau Kawedanan Singosari yaitu daerah pembantu bupati Malang. Diperkirakan ada sekitar 2 ribu orang Eropa di Lawang pada tahun 1939, sedangkan jumlah penduduk total adalah sekitar 20 ribu jiwa. Surat kabar Belanda di masa itu bertanya-tanya mengapa Lawang belum diangkat statusnya menjadi sebuah kota (gemeente) yang dipimpin walikota meskipun memiliki perkembangan yang pesat dan jumlah orang Eropa yang banyak.[2]
- Orang Eropa di kolam renang Sumberporong (1920)
- Orang Eropa di sebuah penginapan
- Kereta api di Lawang
- Suasana Pasar Lawang
Daftar kelurahan, desa, dan dusun
[sunting | sunting sumber]Kecamatan Lawang terdiri dari 2 kelurahan dan 10 desa yang dibagi menjadi beberapa dusun / dukuh / lingkungan, yakni sebagai berikut:[5]
Daftar kelurahan
[sunting | sunting sumber]| No. | Nama Desa | Nama Dusun / Dukuh / Lingkungan | Ref |
|---|---|---|---|
| 1 | Kalirejo | Belum ada data | [5] |
| 2 | Lawang | Belum ada data | [5] |
Daftar desa
[sunting | sunting sumber]| No. | Nama Desa | Nama Dusun atau Dukuh | Ref |
|---|---|---|---|
| 1 | Bedali | Krajan, Meling, Polaman, Sengkrakan, Setran | [5] |
| 2 | Ketindan | Krajan, Tegalrejo | [5] |
| 3 | Mulyoarjo | Ampelgading, Pakutukan, Paras, Watugel | [5] |
| 4 | Sidodadi | Krajan, Boro, Gedangan, Kalianyar, Klosot, Ngandeng, Pilang | [7] |
| 5 | Sidoluhur | Krajan I, Krajan II, Blendongan, Gedang Cici, Gunung Tumpuk, Sumberejo | [5] |
| 6 | Srigading | Krajan, Gading, Jeruk, Mendek | [5] |
| 7 | Sumberngepoh | Krajan, Barek, Gapuk | [5] |
| 8 | Sumberporong | Krajan Timur, Krajan Utara, Krajan Selatan | [5] |
| 9 | Turirejo | Krajan, Krajan Timur, Bambangan, Kalibiru, Simping, Tawangsari, Turi | [5] |
| 10 | Wonorejo | Krajan Barat, Krajan Tengah, Krajan Timur, Gebuk Utara, Sentong, Tlogorejo | [5] |
Kesehatan
[sunting | sunting sumber]
Lawang memiliki banyak fasilitas kesehatan yang disediakan institusi pemerintah maupun swasta. Institusi kesehatan pemerintah di Lawang terdiri dari Rumah Sakit Jiwa Lawang milik Kemenkes, RS Bantuan 05.08.04 atau lebih dikenal sebagai Rumkitban milik TNI AD, serta RSUD Lawang dan Puskesmas Lawang milik Pemkab. RSJ Lawang sendiri memiliki nama resmi RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang. RSJ Lawang merupakan salah satu rumah sakit jiwa tertua di Indonesia yang resmi beroperasi tahun 1902. Selain itu, Lawang juga memiliki rumah sakit swasta seperti RS Lawang Medika dan RS Siti Miriam. Di bidang edukasi dan pelatihan kesehatan, Lawang juga terdapat Poltekkes Malang Kampus 2, Museum Kesehatan Jiwa, serta UPT Pelatihan Kesehatan Masyarakat (Latkesmas) Murnajati yang dikelola Pemprov.[8][9]
Pendidikan
[sunting | sunting sumber]Lawang memiliki banyak fasilitas pendidikan dan pelatihan di berbagai bidang keilmuan. Dari bidang kesehatan terdapat Poltekkes Malang Kampus 2 dan UPT Pelatihan Kesehatan Masyarakat (Latkesmas) Murnajati. Dari bidang pertanian terdapat Politeknik Pembangunan Pertanian Malang (Polbangtan Malang) dan Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan yang dikelola Kementerian Pertanian. Sedangkan dari bidang keagamaan terdapat Sekolah Tinggi Teologi (STT) Tabernakel dan Sekolah Tinggi Teologi (STT) Aletheia.[10]
Tidak hanya pendidikan tinggi, pendidikan dasar dan menengah di Lawang juga berkembang. Salah satunya SMAN 1 Lawang yang mendapat predikat SMA terbaik di Kabupaten Malang berdasarkan nilai UTBK 2022 menurut data Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi, sekolah tersebut memiliki peringkat 174 nasional dan peringkat 5 se-Malang Raya.[11]
Tempat terkenal
[sunting | sunting sumber]
- Pasar Lawang
- Stasiun Lawang
- Denpom Divif 2/Kostrad
- Gedung Griya Bina - salah satu gedung peninggalan Belanda di Lawang, sebelumnya bernama Gedung Bergzicht yang berfungsi sebagai panti asuhan putri protestan. Sekarang gedung ini menjadi gedung pertemuan dan tempat resepsi pernikahan[1]
- Hotel Niagara - hotel peninggalan Belanda dengan arsitektur unik, diresmikan tahun 1918[2]
- PT Otsuka Indonesia - perusahaan farmasi dan alat kesehatan asal Jepang yang didirikan di Lawang pada tahun 1974
- PT Molindo Raya Industrial - pabrik etanol
Tempat wisata
[sunting | sunting sumber]
- Pari Bendo
- Tlogo Land
- Kebun Teh Wonosari - kebun teh peninggalan Belanda di lereng Arjuno, pusat kebun ini berada di Singosari namun juga dapat diakses dari Lawang
- Pendakian Gunung Arjuno via Lawang - rute pendakian melalui kebun teh
- Pemandian Kalireco
- Pemandian Polaman
- Kolam renang Asril Park
- Museum Kesehatan Jiwa
Institusi keagamaan
[sunting | sunting sumber]
- Masjid Jami' Babussalam - masjid di pusat kecamatan yang berlokasi di belakang Pasar Lawang
- Masjid Bungkuk
- Masjid Jami' Ismail Bedali - masjid besar di jalan nasional
- Masjid Jami Babussalam
- Gereja Santa Maria Tak Bernoda, Lawang - salah satu gereja katolik tertua di Kabupaten Malang yang berdiri tahun 1918, dikenal masyarakat lokal sebagai Gereja Jago[12]
- Sekolah Tinggi Teologi Tabernakel
- Sekolah Tinggi Teologi Aletheia
Tokoh terkenal
[sunting | sunting sumber]- Ucok Harahap, musisi rock era 1970-an
- L.T. Handoko, peneliti fisika partikel di P2 Fisika LIPI
- Pangkostrad Tarub, Jendral Tarub lahir dan besar di desa Ketindan Lawang
- Hurustiati Subandrio, dokter, antropolog, aktivis perempuan, dan istri Subandrio, menteri luar negeri era Sukarno
Lihat pula
[sunting | sunting sumber]Referensi
[sunting | sunting sumber]- 1 2 3 4 5 Redite Kurniawan (2018). Lawang Kota Kenangan (PDF). Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan - Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. ISBN 978-602-437-419-8.
- 1 2 3 4 5 Natanael Wiratama Lukitaaribowo (2023). "PERKEMBANGAN KOTA KECIL LAWANG 1880-1942" (PDF). Repository Universitas Airlangga (Skripsi).
- ↑ A. Nugroho (2025-07-10). "Menjelajah Lawang, Surga Alam di Utara Malang dengan Sentuhan Edukasi". RADAR MALANG.
- ↑ "Pendakian Gunung Arjuno 3.339 mdpl via Lawang". manusialembah.com. 2016-11-01.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Kabupaten Malang Dalam Angka Tahun 2015. BPS Kabupaten Malang. 2015-11-27.
- ↑ Rizky Kusumo (2021-07-30). "Prasasti Katiden, Bukti Penegakan Konservasi Alam pada Era Majapahit". GNFI.
- ↑ Nurul Janah (2016). "LARANGAN-LARANGAN DALAM TRADISI PERKAWINAN MASYARAKAT PENGANUT ABOGE (Studi Di Desa Sidodadi, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang)" (PDF). etheses UIN Malang (SkripsI).
- ↑ Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. "RS Online". Ditjen Yankes KEMENKES RI. Diakses tanggal 2025-08-24.
- ↑ [Kemenkes RS Radjiman Wediodiningrat "https://rsjrw.id"]. Diakses tanggal 2025-08-24. ;
- ↑ "Pangkalan Data Pendidikan Tinggi". Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Diakses tanggal 2025-08-24.
- ↑ Dian Ihsan (2022-09-09). "15 Sekolah Terbaik di Malang Berdasarkan Nilai UTBK 2022". KOMPAS.
- ↑ Tubagus Achmad (2020-12-25). "Dibangun Sejak Jaman Belanda, Gereja Jago Jadi Gereja Katolik Tertua di Kabupaten Malang". MALANG TIMES.
