Giri Kedaton

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search

Giri Kedaton adalah sebuah “kerajaan” agama Islam di daerah Gresik, Jawa Timur sekitar abad ke-15 sampai 17. Kerajaan ini pernah berjaya sebagai pusat agama Islam yang pengaruhnya bahkan sampai menyebar ke daerah Maluku.

Awal Berdirinya[sunting | sunting sumber]

Giri Kedaton didirikan oleh Raden Paku, seorang anggota Walisongo tahun 1487. Suatu ketika dikisahkan, Raden Paku pergi menemui ayahnya yang menjadi ulama di Pasai, bernama Maulana Ishak. Ayahnya itu menyuruhnya untuk membangun sebuah pondok pesantren di daerah Gresik.

Raden Paku menemukan tanah yang mirip dengan tempat tinggal ayahnya. Tanah tersebut terletak di Bukit Giri (sekarang masuk kecamatan Kebomas, Gresik). Di atas bukit itu didirikan sebuah pesantren bernama Giri Kedaton. Raden Paku sebagai pemimpin bergelar Prabu Satmata, atau Sunan Giri I.

Perkembangan[sunting | sunting sumber]

Meskipun hanya sekolah agama, namun murid-murid Giri Kedaton berdatangan dari segala penjuru, bahkan dari Ternate. Murid-murid Giri Kedaton ini tidak hanya kalangan rakyat kecil, namun juga para pangeran dan bangsawan.

Kerajaan Majapahit yang sudah rapuh merasa khawatir melihat perkembangan Giri Kedaton. Para pangeran yang telah menamatkan pendidikan mereka setelah kembali ke negeri masing-masing mengobarkan semangat baru untuk lepas dari kekuasaan Majapahit. Daerah kekuasaan Majapahit memang semakin berkurang sejak meletusnya Perang Paregreg tahun 14011406.

Dikisahkan pula, Majapahit menyuruh sekutunya yang masih setia, yaitu Sengguruh, untuk menyerang Giri. Pihak Giri yang hanya terdiri dari para santri tentu saja mengalami kekalahan. Pemimpinnya, yaitu Sunan Dalem sampai mengungsi ke desa Gumena.

Puncak Kejayaan[sunting | sunting sumber]

Giri Kedaton mengalami puncak kejayaan di bawah kepemimpinan Sunan Prapen tahun 15481605. Saat itu Giri tidak hanya sekadar sekolah agama, namun juga menjadi “kerajaan” yang meiliki kekuatan politik.

Misalnya, Sunan Prapen dikisahkan menjadi pelantik Sultan Adiwijaya raja Pajang. Ia juga menjadi mediator pertemuan antara Adiwijaya dengan para bupati Jawa Timur tahun 1568. Dalam pertemuan itu, para bupati Jawa Timur sepakat mengakui kekuasaan Pajang sebagai kelanjutan Kesultanan Demak

Sunan Prapen juga menjadi juru damai peperangan antara Panembahan Senopati raja Mataram melawan Jayalengkara bupati Surabaya tahun 1588. Peperangan itu dilatarbelakangi oleh penolakan para bupati Jawa Timur terhadap kekuasaan Senopati yang telah meruntuhkan Kesultanan Pajang.

Tidak hanya itu, Sunan Prapen hampir selalu menjadi pelantik setiap ada raja Islam yang naik takhta di segenap penjuru Nusantara.

Dikalahkan Mataram[sunting | sunting sumber]

Kesultanan Mataram di bawah pemerintahan Sultan Agung menghendaki agar Giri Kedaton tunduk sebagai daerah bawahan. Pada tahun 1630 Giri Kedaton di bawah pimpinan Sunan Kawis Guwa menolak kekuasan Mataram.

Tidak seorang pun perwira Mataram yang berani menghadapi Giri. Rupanya mereka masih takut akan kekeramatan Walisongo meskipun dewan tersebut sudah tidak ada lagi.

Sultan Agung pun menunjuk iparnya, yaitu Pangeran Pekik putra Jayalengkara dari Surabaya untuk menghadapi Giri. Semangat pasukan Mataram bangkit karena Pangeran Pekik merupakan keturunan Sunan Ampel, sementara Sunan Kawis Guwa adalah keturunan Sunan Giri I, di mana Sunan Giri I adalah murid Sunan Ampel.

Perang akhirnya dimenangkan oleh pihak Mataram di mana Giri Kedaton takluk sekitar tahun 1636. Sunan Kawis Guwa dipersilakan untuk tetap memimpin Giri dengan syarat harus tunduk kepada Mataram.

Sejak saat itu wibawa Giri Kedaton pun memudar. Pengganti Sunan Kawis Guwa tidak lagi bergelar Sunan Giri, melainkan bergelar Panembahan Ageng Giri.

Gelar Panembahan dan Giri memengaruhi penguasa Kerajaan Tanjungpura di Kalimantan Barat ketika memeluk Islam menggunakan gelar Panembahan Giri Kusuma.

Keruntuhan[sunting | sunting sumber]

Giri Kedaton yang sudah menjadi bawahan Mataram kemudian mendukung pemberontakan Trunojoyo dari Madura terhadap pemerintahan Amangkurat I putra Sultan Agung. Panembahan Ageng Giri aktif mencari dukungan untuk memperkuat barisan pemberontak.

Puncak pemberontakan terjadi tahun 1677 di mana Kesultanan Mataram mengalami keruntuhan. Amangkurat I sendiri tewas dalam pelarian. Putranya yang bergelar Amangkurat IIdatang ke Kadilangu untuk menemui Panembahan Natapraja salah satu sosok sesepuh keturunan Sunan Kalijaga yang dianggap bijaksana dan kuat serta memiliki pasukan yang siap membantu Amangkurat II, selain itu Amangkurat juga bersekutu dengan VOC untuk melancarkan aksi pembalasan.

Amangkurat II yang menjadi raja tanpa takhta berhasil menghimpun dukungan dan kekuatan yang akhirnya dapat menghancurkan pemberontakan Trunojoyo akhir tahun 1679. Sekutu Trunojoyo yang bertahan paling akhir adalah Giri Kedaton. Pada bulan April 1680 serangan besar-besaran terhadap Giri dilancarkan oleh Panembahan Natapraja dari Adilangu dan juga didukung oleh VOCBelanda yang membantu Amangkurat II. Murid andalan Giri yang menjadi panglima para santri bernama Pangeran Singosari gugur dalam peperangan setelah berduel melawan Panembahan Natapraja. jumlah Pasukan Adilangu (pasukan Natapraja) hanya sedikit namun dapat memporak porandakan pasukan Giri kedaton.

kejadian ini pun di abadikan dalam tembang asmaradhana di babad Trunajaya - Surapati

" 30. Kang wadya nom-anom gusis akatha ingkang palastra wong kumpeni ake longe langkung duka sri nalendra arsa ngawaki yuda myang Pangeran Adilangu Panembahan Natapraja. 31. Umatur dhateng narpati sampun âge mangsah yuda yen maksi ingkang mangkene sigra Pangran Natapraja sampun nyandhak talempak mara sarwi nguwu-uwu he Singasari mandhega. 32. Sira Raden Singasari anguwu-uwu tan mirsa pan wus wuru pangamuke Panembahan Natapraja mara saking ing ngarsa pan sampun dulu-dinulu Raden Singasari mojar. 33. La sira wong apa iki wus dhawuk paksa sudira lungaa aja neng kene apa nganti deksesempal Pangeran Natapraja angandika manis arum e panten sira nututa.34. Ya ta Raden Singasari bramantya anggeget waja arsa narajang sedyane tinadhahan ing talempak la iya tadhahira apan wus amlas amlaku ing Pangeran Natapraja. 35. Mapan sampun angemasi maksi angawet lathinya curiga pan maksi lengket astanya lawan ukiran datan kena winengkang gawok sedaya kang ndulu gebeg-gebeg Ambrai mulat36. Ya ta si Pangeran Giri ingaturaken babandan mapan sampun dipunlawe Pangeran Giri wus peja Ki Kalamunyeng ika apan ta wiyos pinundhut sri narendra nulya bubar. ."

**terjemahan :

"30. Wadya bala yang muda-muda habis, banyak sekali yang tewas, orang kumpeni pun banyak berkurang. Maka lebih marahlah Sang Raja, dan ingin maju perang sendiri. Tetapi Pangeran Adilangu Panembahan Natapraja menahan. 31. Berkata kepada Sang Raja: "Janganlah tergesa-gesa maju perang, bila keadaan masih begini." Dan Pangeran Natapraja kini telah memegang senjatanya; mendekati medan laga sambil berseru: "Hai, Singasari, berhentilah!" 32. Tetapi Raden Singasari tak mendengar seruan itu, karena mengamuknya sudah seperti mabuk. Panembahan Natapraja mendekati dari depan. Kini mereka sudah saling berhadapan dan Raden Singasari berkata: 33. "Kamu ini orang apa! Sudah tua bangka mau berperang! Pergi saja dari sini; kalau tidak kutarik lepaslah kaki tanganmu." Pangeran Natapraja berkata dengan manis dan lembut: "Hai, anakku, tunduk sajalah!" 34. Maka Raden Singasari mendengar itu, makin marahlah sambil mendetakkan gigi, maksudnya mau menerajang, tetapi seranganya ditangkisdan sekaligus dibalas, dan balasan Pangeran Natapraja tak dapat terelakkan. 35. Maka gugurlah Raden Singasari; sudah tewas, masih tetap menggigit bibir, dan kerisnya tetap lengket di tangan, ukiran kens tetap tergenggam, tak dapat dilepaskan. Semua yang melihat, sangat heran, dan "Admiral" pun bergeleng-geleng. 36. Dan Pangeran Giri kini telah dihadapkan sebagai tawanan. Kemudian dihukum mati dengan jerat leher dan tewaslah Pangeran Giri. Adapun keris Kyai Kalamunyeng telah diambil oleh raja dan Sang Raja lalu berangkat"

**di kutip dari serat Babad Trunajaya - Suropati terjemahan sudibjo ZH. Balai Pustaka 1981 Arsip Nasional Republik Indonesia

pasca kejadian tersebut Panembahan Ageng Giri ditangkap dan dihukum mati menggunakan cambuk. Tidak hanya itu, anggota keluarganya juga dimusnahkan. Sejak saat itu berakhirlah riwayat Giri Kedaton.

Daftar Para Penguasa[sunting | sunting sumber]

Berikut ini adalah daftar para pemimpin Giri Kedaton.

  1. Sunan Giri I atau Prabu Satmata atau Raden Paku (14871506)
  2. Sunan Dalem atau Sunan Kedul atau Sunan Giri II (14871546)
  3. Sunan Seda ing Margi atau Sunan Giri III (15461548)
  4. Sunan Prapen atau Sunan Mas Ratu Pratikal atau Sunan Giri IV (15481605)
  5. Sunan Kawis Guwa atau Sunan Giri V (1605–?)
  6. Panembahan Ageng Giri (?–1680)
  7. Panembahan Mas Witana Sideng Rana

Kepustakaan[sunting | sunting sumber]

  • Abu Khalid. Kisah Walisongo. Surabaya: Terbit Terang
  • Babad Tanah Jawi, Mulai dari Nabi Adam Sampai Tahun 1647. (terj.). 2007. Yogyakarta: Narasi
  • H.J. de Graaf dan T.H. Pigeaud. 2001. Kerajaan Islam Pertama di Jawa. Terj. Jakarta: Grafiti
  • M.C. Ricklefs. 1991. Sejarah Indonesia Modern (terj.). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
  • Sartono Kartodirdjo. 1993. Pengantar Sejarah Indonesia Baru 1500 – 1900, dari Emporium sampai Imperium Jilid 1. Jakarta: Gramedia
  • J. Ras.1993. Geschiedschrijving en de legitimiteit van het koningschap op Java In: Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 150 (1994), no: 3, Leiden, 518-538
  • sudibjo z.h, R soeparmo, babad trunajaya - surapati, balai pustaka terbitan 1981