Bandar Udara Abdul Rachman Saleh

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Pangkalan Udara TNI AU Abdulrachman Saleh
Lanud.png
Lambang Lanud
Negara Bendera Indonesia Indonesia
Cabang Lambang TNI AU.png TNI Angkatan Udara
Tipe unit Pangkalan Udara Militer
Bagian dari Komando Operasi Angkatan Udara II
Moto "Prayatna Kerta Gegana"
Situs web www.tni-au.mil.id
Bandar Udara Abdul Rachman Saleh
Abdul Rachman Saleh Airport
IATA: MLG · ICAO: WARA
Informasi
Jenis bandara Publik/Militer
Pemilik Pemerintah Jawa Timur
Melayani Malang
Lokasi Malang, Jawa Timur, Indonesia
Ketinggian MDPL 526 m (1.726 kaki)
Koordinat 7°55′35″LU 112°42′52″BT / 7,92639°LS 112,71444°BT / -7.92639; 112.71444
Peta
MLG berlokasi di Jawa
MLG
MLG
Lokasi di pulau Jawa
Landas pacu
Arah Panjang Permukaan
m ft
17/35 2.700 8.858 Aspal
Statistik (2015)
Penumpang 1,600,000

Koordinat: 7°55′35″LU 112°42′52″BT / 7,92639°LS 112,71444°BT / -7.92639; 112.71444

Bandar Udara Abdul Rachman Saleh adalah bandar udara yang terletak di Pakis, Kabupaten Malang, Jawa Timur, atau 17 km arah timur dari pusat Kota Malang. Kode ICAO-nya WARA (dahulu WIAS) dan kode IATA MLG. Bandara Abdulrahman Saleh merupakan tempat pesawat Hercules C-130 dan Super Tucano sebagai pengganti OV-10 Bronco yang telah di musiumkan. Selain itu Wing 2 Korps Pasukan Khas juga bermarkas di sini.

Bandara Abdulrahman Saleh memiliki dua landasan pacu yang pertama untuk pesawat-pesawat kecil seperti Hercules C-130 dengan panjang 1.500 m, dan yang kedua untuk jenis pesawat besar seperti Boeing 737 dengan panjang 2.300 m. Pemerintah provinsi Jawa Timur melalui Dishub dan LLAJ mengusulkan kepada Kementerian Perhubungan agar menambah panjang landasan pacu 700 meter lagi. “Dengan penambahan itu nantinya panjang landasan pacu di Bandara Abd. Saleh Malang menjadi 3.000 meter dan juga dobel landasan pacunya.” Dengan demikian, Bandara Abdulrachman Saleh sangat berpotensi menjadi Bandara Internasional, sehingga pihak Kepala Dinas Perhubungan dan LLAJ Pemprov Jatim mengusulkan Kemenhub agar menambah panjang landasan pacu.[1]

Nama bandara ini diambil dari salah satu pahlawan nasional Indonesia: Abdulrahman Saleh, dan sebelum sepertiy Bandara Abdulrahman Saleh, bandara ini bernama Lapangan Terbang Bugis.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Pangkalan udara (Lanud) Bugis yang kini dikenal dengan nama Lanud Abdulrachman Saleh dibangun oleh pemerintahan Belanda pada era 1937-1940 bersamaan dengan pembangunan pangkalan-pangkalan udara lain seperti Lanud Maospati (kini Pangkalan Udara Iswahyudi) di Madiun, Lanud Panasan (Bandar Udara Internasional Adi Sumarmo) di Solo, dan Lanud Maguwo (Bandar Udara Internasional Adisutjipto) di Jogjakarta. Lanud Abdulrachman Saleh berada di lembah Bromo dan dikelilingi oleh beberapa gunung yaitu Gunung Semeru (3.676m) di sebelah timur, Gunung Arjuno (3.339m) di sebelah utara, dan Gunung Kawi (2.551m) dan Gunung Panderman (2.000m) di sebelah barat. Pangkalan Udara Abdulrachman saleh terletak di Kecamatan Pakis Kabupaten Malang, atau 17 kilometer sebelah timur dari pusat Kota Malang, secara letak astronomis berada pada posisi 07.55 LS dan 112.42 BT.

Posisi Pangkalan Udara Abdulrahman Saleh begitu aman karena dikelilingi oleh benteng alam dan berada di kaki gunung, ini menyebabkan Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh tidak tampak begitu jelas di udara sehingga jika ada pesawat musuh melewati jalur udara di atasnya Pangkalan Udara ini akan tertutup oleh kabut. Ini merupakan posisi yang sangat strategis untuk pertahanan militer tersebut yang juga dijadikan alasan Belanda memilih Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang untuk menjadi salah satu daerah pertahanan udaranya. Pemerintah Belanda pada waktu itu sengaja membuat landasan pacu cukup panjang, sehingga dapat dipergunakan untuk landing dan take off pesawat–pesawat berjenis lebar seperti pesawat bomber, Glynmartin, Fokker, dan Jagers.

Pada 17 Agustus 1952, atas pengorbanan dan jasa-jasa Prof. Dr. Abdulrachman Saleh dalam usahanya mengembangkan AURI dan memperjuangkan bangsa Indonesia, Kepala Staf Angkatan Udara yang menjabat saat itu yaitu Komodor Udara Soerjadi Soerjadarma dengan dikeluarkannya surat Penetapan Kepala Staf Angkatan Udara Nomor 76/48/Pon.2/KS/52 yang berisi perubahan nama-nama Pangkalan Udara tipe A salah satunya adalah perubahan Pangkalan Udara Bugis menjadi Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh.

Setelah enam tahun sejak 25 Mei 2005 menggunakan terminal di dalam base ops Lanud Abdul Rachman Saleh, pada tanggal 30 Desember 2011 penerbangan sipil di Abdul Rachman Saleh menggunakan bandar udara yang terpisah dari base ops Lanud Abdulrahman Saleh. Bandar udara ini dibangun dengan biaya mencapai Rp 139 miliar. Seperti diketahui, penerbangan sipil di bandara ini mulai dibuka sejak 1 April 1994 oleh Merpati Nusantara Airlines dengan menggunakan pesawat Fokker F28. Karena sering mengalami keterlambatan (tidak sesuai jadwal) mulai kurun waktu tahun 1996-1997 mengalami penurunan load factor sampai 14,54 %. Pada tanggal 16 Juni 1997, PT Merpati Nusantara Airlines secara resmi menghentikan kegiatan penerbangannya.[2]

Maskapai penerbangan[sunting | sunting sumber]

Untuk penerbangan sipil melayani rute Malang-Jakarta dilayani oleh maskapai Sriwijaya Air, Garuda Indonesia, Batik Air, dan Citilink Indonesia .[3] Sedangkan untuk rute Malang-Denpasar dilayani oleh Wings Air, anak perusahaan dari Lion Air menggunakan pesawat Avions de Trasnport Regional, yaitu ATR 72 seri 500.[4] Selain itu rute Malang-Balikpapan yang dilayani oleh Kal Star Aviation. Sebelumnya Bandara Abdulrahman Saleh pada tahun 2007 sampai dengan 2008 pernah melayani tiga rute penerbangan sekaligus yaitu Malang-Jakarta, Malang-Balikpapan-Tarakan, Malang-Makassar, Malang-Surabaya, Malang-Darwin, Malang-Bandung, Malang-Banyuwangi, Malang-Yogyakarta, Malang-Lombok dan Malang-Denpasar. “Bandara Abd. Saleh merupakan bandara yang unik karena merupakan satu-satunya bandara yang dikelola pemprov setempat, sedangkan bandara lainnya dikelola PT Angkasa Pura.”[5]

Maskapai Tujuan
Batik Air Jakarta—Halim Perdanakusuma, Jakarta—Soekarno—Hatta
Citilink Jakarta—Halim Perdanakusuma, Jakarta—Soekarno—Hatta
Garuda Indonesia Bandung, Banyuwangi, Jakarta—Soekarno—Hatta, Yogyakarta
Sriwijaya Air Jakarta—Soekarno—Hatta, Yogyakarta
Wings Air Bandung, Banyuwangi, Denpasar/Bali, Jakarta—Halim Perdanakusuma, Makassar, Yogyakarta

Usulan agar menjadi bandar udara internasional[sunting | sunting sumber]

Wali kota Malang, Mochamad Anton mengusulkan kepada Presiden Joko Widodo pada 24 Mei 2017, ketika Presiden berkunjung ke Kota Malang, agar Bandara Abdul Rachman Saleh dinaikkan statusnya menjadi bandara internasional.[6] Hal ini dikarenakan menurut sang wali kota, daerah Malang memiliki bayak objek wisata menarik, terutama yang menjadi tren, yaitu Gunung Bromo dan Gunung Semeru.[6] Hal ini disambut baik oleh Jokowi sehingga ia berjanji akan memerintahkan Kementerian Perhubungan (Kemhub) untuk berkomunikasi dengan TNI AU.[7]

Impian ini sukar dicapai. Hal ini dikarenakan bagi pihak TNI AU, Bandara Abdul Rachman Saleh sulit sekali menjadi bandara internasional.[8] Secara rinci ketidakmungkinan ini dikarenakan oleh dikelilinginya bandara oleh berbagai gunung berapi dan letak bandara yang terletak pada kompleks vital TNI AU.[8] Oleh karena itu, wacana pembangunan Bandar Udara Internasional Purboyo di Desa Srigonco, Kecamatan Bantur yang terletak di bagian selatan Malang.[9] Usulan ini telah disetujui oleh Kemhub,[10] namun pada akhirnya, bandara ini batal dibangun.[11]

Transportasi darat[sunting | sunting sumber]

Taksi[sunting | sunting sumber]

Taksi di Bandara Abdul Rachman Saleh hanya memiliki satu operator, yaitu Taksi Garuda yang merupakan salah satu komponen daei Koperasi TNI AU. Armada taksi ini hanyalah mobil berjenis sedan. Taksi ini tidak menggunakan argo sama sekali, melainkan menggunakan sistem ongkos per daerah.[9]

Angkutan Kota (Angkot)[sunting | sunting sumber]

Karena merupakan bagian dari kompleks TNI AU, Bandara Abdul Rachman Saleh tidak memiliki angkot yang melintas pas di depannya sama sekali.[12] Untuk mendapatkannya, calon penumpang harus berjalan keluar area bandara yang jaraknya 1 sampai 2 kilometer.[12] Jika ingin berjalan kaki, perjalanan keluar area ini akan memakan waktu selama 15 menit.[12] Setelah keluar kompleks, jika ingin menuju Kota Malang, calon penumpang harus mencari angkot jurusan LA.[13] Nanti, penumpang akan tiba di Terminal Arjosari yang sudah merupakan bagian dari Kota Malang.

Galeri[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "BANDARA ABD. SALEH: Landasan Pacu Ditambah Jadi 2.250 Meter" (dalam Indonesia). bisnis-jatim.com. 
  2. ^ "Bandara Rp139 M Beroperasi" (dalam Indonesia). jpnn.com. 
  3. ^ "March 22, 2013 - Citilink Buka Penerbangan Rute Malang-Jakarta". 
  4. ^ "Wings Air Sukses Layani Denpasar - Malang" (dalam Indonesia). malang-post.com. 
  5. ^ "BANDARA ABD SALEH Dilengkapi Landing System Tahun Ini" (dalam Indonesia). bisnis-jatim.com. 
  6. ^ a b "Bandara Abdul Rachman Saleh Malang Diusulkan Naik Kelas". CNN Indonesia. Diakses tanggal 2017-09-09. 
  7. ^ "Bandar Udara Malang Segera Jadi Bandara Internasional - VIVA.co.id". 2017-06-03. Diakses tanggal 2017-09-09. 
  8. ^ a b "Bandara Internasional di Malang, di Mana? - Radar Malang Online". Radar Malang Online (dalam en-US). 2017-04-08. Diakses tanggal 2017-09-09. 
  9. ^ a b Indonesia, PT Darta Media. "Info: Ongkos Taxi/Taksi dari Bandara Abdul Rachman Saleh - Malang | KASKUS ARCHIVE". archive.kaskus.co.id. Diakses tanggal 2017-09-09. 
  10. ^ "Kemhub Setujui Pembangunan Bandara Internasional Purboyo Malang". beritasatu.com (dalam Indonesian). Diakses tanggal 2017-09-09. 
  11. ^ "Sayang Sekali Pembangunan Bandara Purboyo Dibatalkan, Padahal Bisa Mendongkrak Kedatangan Wisatawan". Surya Malang. Diakses tanggal 2017-09-09. 
  12. ^ a b c "Info Lengkap Bus Taksi Bandara Malang Abdul Rahman Saleh". BusBandara.com (dalam en-US). 2015-06-25. Diakses tanggal 2017-09-09. 
  13. ^ "transportasi dari bandara malang (Abdulrahman saleh) ke stasiun malang pakai apa ya?". Diakses tanggal 2017-09-09. 

Pranala[sunting | sunting sumber]