Bandar Udara Notohadinegoro

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Bandar Udara Notohadinegoro

Notohadinegoro Airport
Informasi
JenisPublik
PemilikPemerintah Kabupaten Jember
MelayaniJember
LokasiJember, Jawa Timur, Indonesia
Ketinggian dpl281 kaki / 85.65 m
Koordinat08°14′28″S 113°41′38″E / 8.24111°S 113.69389°E / -8.24111; 113.69389Koordinat: 08°14′28″S 113°41′38″E / 8.24111°S 113.69389°E / -8.24111; 113.69389
Peta
JBB berlokasi di Kabupaten Jember
JBB
JBB
Lokasi di Kabupaten Jember
JBB berlokasi di Provinsi Jawa Timur
JBB
JBB
JBB (Provinsi Jawa Timur)
JBB berlokasi di Indonesia
JBB
JBB
JBB (Indonesia)
Landasan pacu
Arah Panjang Permukaan
m kaki
02/20 1.705 5.594 Aspal

Bandar Udara Notohadinegoro (IATA: JBBICAO: WARE) adalah sebuah bandar udara yang terletak di Desa Wirowongso, Kecamatan Ajung, Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur, yang berjarak sekitar 7 (tujuh) kilometer dari pusat kota Jember. Bandara ini dioperasikan oleh Dinas Perhubungan Pemerintah Kabupaten Jember. Bandara yang kini memiliki panjang landas pacu 1.560 meter tersebut telah kembali beroperasi sejak tanggal 16 Juli 2014 lalu dengan dilayaninya penerbangan komersil pertama rute Jember dari dan/atau ke Surabaya oleh maskapai Garuda Indonesia (dengan sub brand Garuda Indonesia Explore) yang menggunakan pesawat udara jenis ATR 72-600.

Bandara ini memiliki areal seluas 120 hektare, dan merupakan bandara umum sipil pertama di Indonesia yang dibangun sendiri oleh pemerintah kabupaten setempat, yaitu Pemerintah Kabupaten Jember dengan kekuatan APBD Kabupaten. Bandara ini diharapkan oleh Pemerintah Kabupaten Jember dapat mempersingkat waktu tempuh Jember dari dan/atau ke Surabaya yang hanya menjadi sekitar 30 menit melalui udara, dari sebelumnya sekitar 4 sampai 7 jam menggunakan angkutan darat. Selain itu bandara ini juga diharapkan dapat memperlancar arus investasi ke dalam wilayah kabupaten setempat serta sebagai sarana akomodasi pendukung sektor pariwisata Jember.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Bandara ini diprakarsai dan dibangun mulai tahun 2003 di era pemerintahan bupati saat itu, Samsul Hadi Siswoyo. Pembangunan yang telah dianggarkan sejak tahun 2001 dengan menggunakan dana APBD sebesar 30 miliar rupiah. Bandara ini diresmikan pada tahun 2005 dengan panjang landas pacu kala itu masih 1.200 meter.

Pada tahun 2008, Bupati Jember MZA Djalal mengupayakan Bandara Notohadinegoro dapat dilayani penerbangan yang menghubungkannya dengan Bandar Udara Juanda Surabaya di Sidoarjo, sehingga digunakan pesawat udara jenis turbo LET 410 milik maskapai Tri MG International yang melayani penerbangan Jember - Surabaya pp. sebanyak 3 (tiga) kali sehari dengan sistem sewa/carter. Namun penerbangan sewa/carter tersebut hanya mampu bertahan selama 3 bulan karena okupansi yang minim sebagai akibat promosi yang kurang dan daya beli masyarakat yang minim saat itu. Bahkan pengoperasian penerbangan sewa/carter tersebut sempat dibawa ke ranah hukum karena telah mengakibatkan kerugian negara yang menyeret 3 orang pejabat Pemkab setempat masuk penjara.

Fasilitas[sunting | sunting sumber]

1. Terminal Bandara[sunting | sunting sumber]

Bandara ini memiliki satu bangunan utama yang terdiri dari kantor otoritas bandara, satu terminal keberangkatan, satu terminal kedatangan, yang dilengkapi dengan konter penjualan tiket yaitu Garuda Indonesia dan Susi Air, serta satu bangunan Pos Pengamanan Objek Vital (Pam Obvit) Polres Jember.

Bandara ini juga menyediakan lapangan parkir yang mampu menampung hingga sekitar 50 kendaraan roda empat.

2. Angkutan Pemadu Moda[sunting | sunting sumber]

Bandara ini memiliki layanan angkutan pemadu moda yang hingga saat ini dioperasikan oleh pihak Warna Tour & Travel (point to point: Aston Jember Hotel-Kantor Pusat Warna Tours & Travel-Bandara Notohadinegoro pp.)[1] dan Perum DAMRI[2] (point to point: Terminal Tawang Alun-Stasiun KA Jember-Bandara Notohadinegoro pp.) Dengan tarif sebesar Rp.35.000,- sekali jalan untuk Warna Tours & Travel, serta sebesar Rp.20.000,- sekali jalan untuk Perum DAMRI.[3]

Karena jumlah penerbangan yang masih terbatas dari bandara ini maka jadwal keberangkatan angkutan pemadu moda disesuaikan dengan jadwal penerbangan yang ada tersebut.

3. Taksi[sunting | sunting sumber]

Bandara ini juga memiliki layanan taksi yang dioperasikan oleh perusahaan taksi lokal Jember, yaitu Jember Taksi dan Rengganis Perdana Taxi dengan menggunakan armada jenis sedan atau MPV full AC yang layanannya menggunakan tarif berdasarkan argometer.

Pajak Layanan Penumpang Bandara (Airport Tax)[sunting | sunting sumber]

Pajak layanan penumpang atau biaya PJP2U (Pelayanan Jasa Penumpang Pesawat Udara) atau PSC (Passenger Service Charge) atau yang biasa dikenal dengan istilah "Airport Tax" untuk Bandara Notohadinegoro[4] adalah:

  • Pajak layanan penumpang dalam negeri/domestik: Rp 13.000,00 / penumpang (sudah termasuk dalam harga tiket pesawat udara).

Maskapai Penerbangan dan Tujuan[sunting | sunting sumber]

MaskapaiTujuan
Citilink Surabaya
Wings Air Sumenep, Surabaya

Rencana Pengembangan[sunting | sunting sumber]

Pengembangan Bandara[sunting | sunting sumber]

Pemerintah Kabupaten Jember pada tahun 2015 ini merencanakan perpanjangan landas pacu bandara menjadi 2.600 x 45 meter dan pemasangan lampu runway/landas pacu sehingga memungkinkan bandara ini mampu didarati oleh pesawat Boeing 737 yang berukuran lebih besar yang bermesin jet serta mampu melayani penerbangan di saat gelap karena cuaca ataupun malam hari.

Penambahan Penerbangan Rute Jember-Surabaya PP[sunting | sunting sumber]

Sementara pihak operator penerbangan, yaitu maskapai Garuda Indonesia merencanakan penambahan penerbangan rute Jember-Surabaya pp., terhitung tanggal 31 Maret 2015 menjadi 10 (sepuluh) kali dalam sepekan dari semula yang hanya 7 (tujuh) kali dalam sepekan atau 1 (satu) kali dalam sehari.[5] Penambahan dilakukan menjadi sebanyak 2 (dua) kali penerbangan untuk hari-hari tertentu, yaitu hari Rabu, Jumat, dan Minggu. Hal tersebut dilakukan mengingat permintaan penambahan penerbangan dari pihak Pemkab setempat dan kalangan pengusaha lokal yang didasarkan pada tingginya tingkat keterisian penumpang rute Jember-Surabaya yang mencapai 75% pada hari biasa (Senin-Kamis) dan mencapai 100% untuk akhir pekan (Jumat, Sabtu, dan Minggu).
[6]

Sekolah Pilot Nasional (SPN)[sunting | sunting sumber]

Sekolah Pilot Nasional (SPN) atau Loka Pendidikan dan Pelatihan Penerbang Banyuwangi (LP3B) juga akan membangun Settle Base (tempat latihan penerbangan) di Bandara Notohadinegoro, Jember pada tahun 2015 ini.
[7]

Rute Perintis Sumenep-Jember PP.[sunting | sunting sumber]

Seiring dengan rencana pengoperasian Bandar Udara Trunojoyo, Sumenep, Madura untuk penerbangan komersil, rencananya Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga akan membuka rute perintis Sumenep-Jember pp. sebanyak 1 (satu) kali dalam sepekan dengan menggunakan pesawat jenis Cessna Grand Caravan milik maskapai Susi Air yang berkapasitas 12 penumpang.
[8][9]

Pengambilalihan Pengelolaan Bandara[sunting | sunting sumber]

PT Angkasa Pura II bersama dengan PT Perkebunan Nusantara XII (PTPN XII) dan Pemkab Jember menandatangani nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) terkait Pemanfaatan Aset Milik PTPN XII atau Barang Milik Daerah Kabupaten Jember Untuk Pembangunan, Pengembangan dan Pengusahaan Bandara Notohadinegoro di Jember, Jatim.
Awaluddin mengatakan, seluruh poin yang disepakati dalam MoU tersebut akan didetailkan lebih lanjut dalam Perjanjian Kerjasama (PKS), khususnya dalam aspek pengembangan seluruh infrastruktur bandara dengan estimasi investasi sebesar Rp 200 milyar.
Sejumlah rencana akan dilakukan di Bandara Notohadinegoro antara lain pengembangan landas pacu atau runway dari eksisting 1.645 m x 30m menjadi 2.250 m x 45 m dan pengembangan terminal penumpang pesawat yang saat ini hanya seluas 618 m2 akan diperbesar menjadi 1800 m2, di mana hal ini untuk mengakomodiasi penerbangan Boeing 737 series serta potensi untuk melayani sekitar 300.000 penumpang per tahun.
Rencana PT AP II akan mendesain ulang Bandara Notohadinegoro Jember, seperti bangunan terminal penumpang menjadi lebih modern dengan langkah awal yaitu menetapkan terminal basic design, lalu akan dikembangkan lagi dalam Detail Engineering Design (DED), bila telah rampung baru kemudian akan ditenderkan.
Dua Bandara di daerah Jawa Timur ini yaitu Bandara Notohadinegoro Jember dan Bandara Banyuwangi nanti akan dioperasikan dengan konsep Multi Airport System di mana kedua bandara tersebut dapat saling mem-backup ketika terjadi sesuatu yang menyebabkan salah satu bandara ditutup. “Bandara Banyuwangi sendiri mengusung konsep Tourism Airport sedangkan Bandara Notohadinegoro Jember nantinya akan digunakan untuk penerbangan Haji dan Umroh,” tambah Awaluddin.[10]

Tahun 2020, Pemkab Jember Targetkan Bandara Notohadinegoro Menjadi Sub-Embarkasi Haji[sunting | sunting sumber]

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember akan menjadikan Bandara Notohadinegoro di Desa Wirowongso Kecamatan Ajung, Jember sebagai sub-embarkasi haji. Bandara ini ditargetkan menjadi sub-embarkasi haji pada 2020 mendatang. Bupati Jember Faida mengatakan penargetan bandara itu sebagai sub-embarkasi karena pertimbangan banyaknya warga Jember yang berangkat umrah.
"Ada 10 ribu orang per tahun umrah dari Jember. Jumlah penduduk Jember sendiri mencapai 2,5 juta lebih. Belum lagi dengan lima kabupaten tetangga yang akan memanfaatkan bandara ini bisa ada 7,5 juta orang," kata Faida, Jumat (7/12/2018).
Pemkab Jember bersama Kementerian Perhubungan dan PT Angkasa Pura II (Persero) tengah merampungkan rencana induk pembangunan (master plan). Bandara Jember nantinya akan dikelola juga oleh PT Angkasa Pura II. Panjang landasan akan ditambah dari 1.700 menjadi 2.250 meter oleh Angkasa Pura. "Sehingga pesawat jenis Boeing bisa masuk," lanjutnya.[11]

Referensi[sunting | sunting sumber]