Penambahan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
3 + 2 = 5 dengan apel pilihan paling populer dalam buku cetak[1]

Penambahan (disebut juga penjumlahan, sering ditandai dengan tanda plus "+") adalah salah satu dari empat operasi aritmetika dasar. Perjumlahan merupakan penambahan sekelompok bilangan atau lebih menjadi suatu bilangan yang disebut jumlah. Misalnya di gambar di samping, terdapat tiga apel di sisi kiri dan dua apel di sisi kanan, menghasilkan jumlah lima apel. Dalam simbol matematika, ini dilambangkan "3 + 2 = 5", disebut "3 ditambah 2 sama dengan 5".

Selain untuk menghitung jumlah benda, penambahan bisa didefinisikan dan digunakan untuk menghitung objek abstrak berupa bilangan, di antaranya bilangan bulat, bilangan real, dan bilangan kompleks. Dalam cabang matematika lain yang disebut aljabar, penambahan bisa digunakan untuk objek-objek abstrak lainnya seperti vektor dan matriks.

Penambahan memiliki beberapa sifat penting. Penambahan bersifat komutatif, yang berarti urutan bilangan yang ditambahkan tidak berpengaruh, dan bersifat asosiatif, yang berarti jika terdapat beberapa operasi penambahan maka urutan penambahan yang dikerjakan terlebih dahulu tidak berpengaruh. Menambahkan 0 tidak mengubah bilangan yang ditambah. Penambahan juga memiliki aturan-aturan yang terkait dengan operasi pengurangan dan perkalian.

Penulisan[sunting | sunting sumber]

Tanda penjumlahan (tambah)

Penjumlahan ditulis dengan menggunakan tanda tambah "+" di antara kedua bilangan. Hasil dari penjumlahan dinyatakan dengan tanda sama dengan "="

(diucapkan "satu ditambah satu sama dengan dua")
(diucapkan "dua ditambah dua sama dengan empat")

Penjumlahan serangkaian bilangan dapat dituliskan dengan notasi sigma kapital.

Sifat-sifat[sunting | sunting sumber]

Sifat komutatif[sunting | sunting sumber]

4 + 2 = 2 + 4 digambarkan dengan kotak

Penambahan bersifat komutatif, berarti urutan di mana dua bilangan ditambahkan tidak menjadi masalah, hasilnya akan tetap sama. Secara simbolis, jika x dan y adalah sembarang bilangan, maka

.

Sifat asosiatif[sunting | sunting sumber]

2 + (1 + 3) = (2 + 1) + 3 digambarkan dengan tabung

Penambahan bersifat asosiatif, yang berarti dalam pernyataan yang hanya melibatkan penambahan tidak terpengaruh dengan urutan operasi. Misalkan untuk pernyataan , jika pernyataan tersebut diartikan sebagai maupun , hasilnya akan sama.

Akan tetapi, jika penambahan berada di dalam pernyataan yang melibatkan operasi lain, urutan operasi akan berpengaruh. Misalnya, jika suatu pernyataan berisi operasi penambahan dan perkalian, maka operasi perkalian harus dilakukan terlebih dahulu.

Sifat distributif[sunting | sunting sumber]

Penambahan bersifat distributif terhadap perkalian. Sifat ini bisa digambarkan dengan identitas berikut.

Elemen identitas[sunting | sunting sumber]

5 + 0 = 5 digambarkan dengan sekarung titik

Ketika menambahkan nol dengan suatu bilangan apapun, hasilnya akan sama dengan bilangan tersebut; nol adalah elemen identitas dari penambahan. Dalam simbol matematika, untuk a apapun,

a + 0 = 0 + a = a.

Hukum ini pertama dikenali dalam Brahmasphutasiddhanta dari Brahmagupta pada tahun 628, meskipin dia menulisnya sebagai tiga hukum terpisah, bergantung pada apakah a adalah bilangan negatif, positif, atau nol, dan dia menggunakan kata-kata bukannya simbol aljabar. Matematikawan India kemudian memperhalus konsepnya; pada sekitar tahun 830, Mahavira menulis, "nol menjadi nilai yang sama dengan nilai yang ditambahkan dengannya", corresponding to the unary statement 0 + a = a.[2]

Satuan[sunting | sunting sumber]

Untuk menambahkan kuantitas-kuantitas fisik dengan satuan, kuantitas-kuantitas tersebut harus memiliki satuan yang sama.[3] Contohnya, 24 meter ditambah 1 meter sama dengan 25 meter. Akan tetapi, jika air bervolume 500 mililiter ditambahkan air bervolume 3 liter, maka jumlah volume airnya adalah 3500 mililiter, karena 3 liter sama dengan 3000 mililiter. Sedangkan menambahkan 3 meter dengan 4 meter persegi tidaklah bermakna, karena kedua satuan tersebut tidak bisa dibandingkan. Pertimbangan-pertimbangan ini merupakan dasar dari analisis dimensi.

Penambahan bilangan[sunting | sunting sumber]

Untuk membuktikan sifat-sifat penambahan, penambahan harus didefinisikan pada suatu konteks terlebih dahulu. Penambahan awalnya didefinisikan untuk bilangan asli. Dalam teori himpunan, operasi penambahan lalu diperluas untuk himpunan bilangan lain yang mengandung bilangan asli, yaitu bilangan bulat, bilangan rasional, dan bilangan real.[4]

Bilangan asli[sunting | sunting sumber]

Ada dua cara populer untuk mendefinisikan jumlah dari dua bilangan asli a dan b. Jika bilangan asli didefinisikan sebagai kardinalitas dari himpunan hingga, (kardinalitas suatu himpunan adalah banyak unsur dalam himpunan tersebut), maka jumlah dua bilangan asli bisa didefinisikan sebagai berikut:

  • Misalkan N(S) adalah lambang untuk kardinalitas himpunan S. Misalkan terdapat dua himpunan saling lepas A dan B, dengan N(A) = a dan N(B) = b. Maka a + b didefinisikan sebagai .[5]

Di sini, AB adalah gabungan dari A dan B.

Definisi populer lainnya bersifat rekursif:

  • Misalkan n+ adalah lambang untuk penerus dari n, yaitu bilangan setelah n dalam himpunan bilangan asli, jadi 0+=1, 1+=2. Definisikan a + 0 = a. Definisikan jumlah secara umum menggunakan rekursi a + (b+) = (a + b)+. Jadi misalnya 1 + 1 = 1 + 0+ = (1 + 0)+ = 1+ = 2.[6]

Perumusan penambahan rekursif ini telah dikembangkan oleh Dedekind pada tahun 1854, dan dia kemudian mengembangkannya selama dekade-dekade berikutnya.[7] Dia membuktikan sifat asosiatif dan komutatifnya menggunakan induksi matematika.


Bilangan rasional (pecahan)[sunting | sunting sumber]

Penambahan bilangan rasional didefinisikan menggunakan penambahan dan perkalian bilangan asli.

  • Definisikan

Contohnya, .

Penambahan pecahan lebih sederhana ketika penyebutnya sama; untuk kasus ini, tinggal dijumlahkan pembilangnya tanpa mengubah penyebutnya: , jadi .[8]


Bilangan kompleks[sunting | sunting sumber]

Penambahan bilangan kompleks didefinisikan dengan menjumlahkan bagian real dan menjumlahkan bagian imajiner.[9][10] Dengan simbol matematika:

Generalisasi[sunting | sunting sumber]

Ada banyak operasi biner yang bisa dianggap sebagai generalisasi dari penambahan. Bidang aljabar abstrak utamanya membahas mengenai operasi-operasi yang digeneralisasi, dan operasi-operasi seperti itu juga ada dalam teori himpunan dan teori kategori.

Aljabar abstrak[sunting | sunting sumber]

Vektor[sunting | sunting sumber]

Dalam aljabar linear, ruang vektor adalah struktur aljabar yang mengandung operasi penambahan antara dua vektor dan perkalian skalar suatu vektor. Contoh ruang vektor adalah himpunan semua pasangan terurut bilangan real; suatu pasangan terurut bilangan real (a,b) dianggap sebagai sebuah vektor dari titik nol ke titik (a,b). Jumlah dua vektor diperoleh dari menambahkan masing-masing koordinatnya:

Operasi penambahan ini penting sekali bagi mekanika klasik, di mana gaya ditafsirkan sebagai vektor.

Matriks[sunting | sunting sumber]

Penjumlahan matriks didefinisikan untuk dua matriks yang dimensinya sama. Jumlah dari dua matriks berukuran m × n A dan B, dilambangkan dengan A + B, adalah sebuah matriks m × n yang dihitung dengan menambahkan elemen-elemen yang bersesuaian:[11][12]

Contohnya:

Aritmetika modular[sunting | sunting sumber]

Dalam aritmetika modular, penambahan dua bilangan bulat hasilnya sama dengan bilangan bulat yang kongruen dengan jumlah kedua bilangan bulat tersebut.

Teori umum[sunting | sunting sumber]

Teori umum dari aljabar abstrak membolehkan "penambahan" diartikan sebagai operasi apapun pada himpunan yang bersifat asosiatif dan komutatif. Struktur aljabar dengan operasi penambahan seperti itu di antaranya adalah monoid komutatif dan grup abelian.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ From Enderton (p.138): "...select two sets K and L with card K = 2 and card L = 3. Sets of fingers are handy; sets of apples are preferred by textbooks."
  2. ^ Kaplan pp. 69–71
  3. ^ R. Fierro (2012) Mathematics for Elementary School Teachers. Cengage Learning. Sec 2.3
  4. ^ Enderton chapters 4 and 5, sebagai contoh, mengikuti pengembangan ini.
  5. ^ Begle p. 49, Johnson p. 120, Devine et al. p. 75
  6. ^ Enderton p. 79
  7. ^ Ferreirós p. 223
  8. ^ Schyrlet Cameron, and Carolyn Craig (2013)Adding and Subtracting Fractions, Grades 5–8 Mark Twain, Inc.
  9. ^ Conway, John B. (1986), Functions of One Complex Variable I, Springer, ISBN 978-0-387-90328-6 
  10. ^ Joshi, Kapil D (1989), Foundations of Discrete Mathematics, New York: John Wiley & Sons, ISBN 978-0-470-21152-6 
  11. ^ Lipschutz, S., & Lipson, M. (2001). Schaum's outline of theory and problems of linear algebra. Erlangga.
  12. ^ Riley, K.F.; Hobson, M.P.; Bence, S.J. (2010). Mathematical methods for physics and engineeringPerlu mendaftar (gratis). Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-86153-3.