Reformasi Protestan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Protestanisme
ChristianityPUA.svg
Reformasi
Sejarah

Gerakan pra-Reformasi

Albigensis (Per.)
Hussit (Boh.)
Lollard (Ing.)
Waldensis (Per./Ita./Jer.)


Gereja-gereja Reformasi

Anabaptis
Anglikanisme (Inggris)
Calvinisme (Swiss)
Lutheranisme (Jer.)
Reform
Socinianisme (Pol.)
Zwinglianisme (Swi.)


Gerakan pasca-Reformasi

Amish (Ame.)
Baptis (Ing.)
Konggregasional
Mennonit (Bel./Swi./Ame./Kan.)
Metodisme (Ing.)
Pietisme
Presbyterianisme (Skot./Ame.)
Puritanisme (Ing.)
Universalisme


"Kebangunan Besar"

Injili
Pentakosta
Revivalisme


Restorasionisme

Gerakan Restorasi
Advent

Reformasi Protestan adalah gerakan reformasi umat Kristiani Eropa yang menjadikan Protestantisme sebuah cabang tersendiri dalam Agama Kristen pada masa itu. Gerakan ini bermula pada 1517 tatkala Martin Luther mempublikasikan Sembilan Puluh Lima Tesis, dan berakhir pada 1648 dengan Perjanjian Westphalia yang meredakan Perang agama di Eropa.[1]

Situasi Keagamaan di Eropa[sunting | sunting sumber]

Reformasi Protestan lahir sebagai sebuah upaya untuk mereformasi Gereja Katolik, diprakarsai oleh umat Katolik Eropa Barat yang menentang hal-hal yang menurut anggapan mereka adalah doktrin-doktrin palsu dan malapraktik gerejawi — khususnya ajaran dan penjualan indulgensi, serta simoni, jual-beli jabatan rohaniwan — yang menurut para reformator merupakan bukti kerusakan sistemik hirarki Gereja, termasuk Sri Paus.

Para pendahulu Martin Luther mencakup John Wycliffe dan Jan Hus, yang juga mencoba mereformasi Gereja Katolik. Reformasi Protestan berawal pada 31 Oktober 1517, di Wittenberg, Saxonia, tatkala Martin Luther memakukan Sembilan Puluh Lima Tesis mengenai Kuasa dan Efikasi Indulgensi pada daun pintu Gereja Semua Orang Kudus (yang berfungsi sebagai papan-pengumuman universitas pada masa itu),[1] tesis-tesis tersebut memperdebatkan dan mengkritisi Gereja dan Sri Paus, tetapi berkonsentrasi pada penjualan indulgensi-indulgensi dan kebijakan-kebijakan doktrinal mengenai Purgatorium, Pengadilan Partikular, Mariologi (devosi pada Maria, ibunda Yesus), perantaraan-doa dan devosi pada Orang-Orang Kudus, sebagian besar sakramen, keharusan selibat bagi rohaniwan, termasuk monastisisme, dan otoritas Sri Paus. Reformator-reformator lain, seperti Ulrich Zwingli, segera mengikuti teladan Martin Luther.

Akan tetapi selanjutnya para reformator berselisih faham dan memecah-belah pergerakan mereka menurut perbedaan-perbedaan doktrinal — pertama-tama antara Luther dan Zwingli, kemudian antara Luther dan John Calvin — akibatnya terbentuklah denominasi-denominasi Protestan yang berbeda-beda dan saling bersaing, seperti Lutheran, Reformed, Puritan, dan Presbiterian. Sebab, proses, dan akibat reformasi agama berbeda-beda di tempat-tempat lain; Anglikanisme muncul di Inggris dengan Reformasi Inggris, dan banyak denominasi Protestan yang muncul dari denominasi-denominasi Jerman. Para reformator turut mempercepat laju Kontra Reformasi dari Gereja Katolik. Reformasi Protestan disebut pula Reformasi Jerman atau Revolusi Protestan.

Sejarah dan awal[sunting | sunting sumber]

Akar dan pendahulu abad ke-14 dan abad ke-15[sunting | sunting sumber]

Kemelut di Gereja Barat dan Kekaisaran Romawi Suci memuncak dengan Kepausan Avignon (1308 - 1378), dan skisma kepausan (1378-1416), membangkitkan peperangan antara para pangeran, pemberontakan di antara petani, dan keprihatinan yang meluas terhadap rusaknya sistem kebiaraan. Suatu nasionalisme baru juga menantang dunia abad pertengahan yang relatif internasionalis.

Salah satu perspektif yang paling menghancurkan dan radikal pertama-tama muncul dari John Wyclif di Universitas Oxford, kemudian dari Jan Hus di Universitas Praha. Gereja Katolik Roma secara resmi menyimpulkan perdebatan ini di Konsili Konstanz (1414-1418). Konklaf mengutuk Jan Hus yang dihukum mati, padahal ia datang dengan jaminan keamanan. Sementara Wyclif secara anumerta dihukum bakar sebagai seorang penyesat.

Konstans mengukuhkan dan memperkuat konsepsi abad pertengahan yang tradisional tentang gereja dan kekaisaran. Konsili ini tidak membahas ketegangan nasional, ataupun ketegangan teologis yang muncul pada abad sebelumnya. Konsili tidak dapat mencegah skisma dan Perang Hus di Bohemia.

Gejolak historis biasanya melahirkan banyak pemikiran baru tentang bagaimana masyarakat seharusnya ditata. Hal inilah yang mengakibatkan tercetusnya Reformasi Protestan.

Setelah runtuhnya lembaga-lembaga biara dan skolastisisme di Eropa pada akhir abad pertengahan, yang diperparah oleh Pembuangan ke Babel dari Kepausan Avignon, Skisma Besar, dan kegagalan pembaruan oleh Gerakan Konsiliar, pada abad ke-16 mulai matang perdebatan budaya yang besar mengenai pembaruan keagamaan dan kemudian juga nilai-nilai keagamaan yang dasariah. Para ahli sejarah pada umumnya mengasumsikan bahwa kegagalan untuk mereformasi (terlalu banyak kepentingan pribadi, kurangnya koordinasi di kalangan koalisi pembarua), akhirnya menyebabkan gejolak yang lebih besar atau bahkan revolusi, karena sistemnya akhirnya harus disesuaikan atau runtuh, dan kegagalan Gerakan Konsiliar melahirkan Reformasi Protestan di Eropa bagian barat. Gerakan-gerakan reformis yang frustrasi ini merentang dari nominalisme, ibadah modern, hingga humanisme yang terjadi berbarengan dengan kekuatan-kekuatan ekonomi, politik dan demografi yang ikut menyebabkan ketidakpuasan yang kian meningkat terhadap kekayaan dan kekuasaan kaum agamawan elit, membuat masyarakat semakin peka terhadap kehancuran finansial dan moral dari gereja Renaisans yang sekular.

Akibat-akibat yang ditimbulkan oleh wabah pes mendorong penataan ulang secara radikal ekonomi dan akhirnya juga masyarakat Eropa. Namun demikian, di kalangan pusat-pusat kota yang bermunculan, bencana yang terjadi pada abad ke-14 dan awal abad ke-15, dan kekurangan tenaga kerja yang ditimbulkannya, merupakan dorongan kuat bagi diversifikasi ekonomi dan inovasi teknologi.

Sumber[sunting | sunting sumber]

Sumber cetak[sunting | sunting sumber]

  • Belloc, Hilaire (1928), How the Reformation Happened, Tan Books & Publishing. ISBN 0-89555-465-8 (a Roman Catholic Perspective)
  • Braaten, Carl E. and Robert W. Jenson. The Catholicity of the Reformation. Grand Rapids: Eerdmans, 1996. ISBN 0-8028-4220-8
  • Estep, William R. Renaissance & Reformaton. Grand Rapids: Eerdmans, 1986. ISBN 0-8028-0050-5
  • Gonzales, Justo. The Story of Christianity, Vol. 2: The Reformation to the Present Day. San Francisco: Harper, 1985. ISBN 0-06-063316-6
  • Kolb, Robert. Confessing the Faith: Reformers Define the Church, 1530-1580. St. Louis: Concordia Publishing House, 1991. ISBN 0-570-04556-8
  • Spitz, Lewis W. The Protestant Reformation: Major Documents. St. Louis: Concordia Publishing House, 1997. ISBN 0-570-04993-8
  • Spitz, Lewis W. The Renaissance and Reformation Movements: Volume I, The Renaissance. Revised Edition. St. Louis: Concordia Publishing House, 1987. ISBN 0-570-03818-9
  • Spitz, Lewis W. The Renaissance and Reformation Movements: Volume II, The Reformation. Revised Edition. St. Louis: Concordia Publishing House, 1987. ISBN 0-570-03819-7

Sumber online[sunting | sunting sumber]

Bahan bersejarah[sunting | sunting sumber]

Bahan utama[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b Simon, Edith (1966). Great Ages of Man: The Reformation. Time-Life Books. hlm. 120–121. ISBN 0662278208. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]