Kisah Para Rasul

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Pelayanan Para Rasul."Ikon" Rusia karya Fyodor Zubov, 1660.

Kisah Para Rasul (Bahasa Yunani; Praxeis Apostolon ) adalah buku kelima Perjanjian Baru pada Alkitab Kristen, yang terutama berisi tentang pertama kali terbentuknya gereja Kristen serta pertumbuhannya sampai pada pertengahan abad pertama Masehi.[1] Kisah Para Rasul diyakini ditulis oleh Lukas, dan merupakan lanjutan buku Injil Lukas.[1] Meskipun dapat dianggap suatu kesatuan, pemisahan dengan kitab Injil Lukas sudah ada pada naskah-naskah tertua.[1]

Latar Belakang[sunting | sunting sumber]

Kisah Para Rasul menceritakan sejarah gereja Kristen awal setelah naiknya Yesus Kristus ke surga.[2] Amanat Kisah Para Rasul ini menjelaskan bagaimana pengikut-pengikut Yesus Kristus -- dengan pimpinan Roh Kudus -- menyebarkan Kabar Baik tentang Yesus "di Yerusalem, di seluruh Yudea, di Samaria, dan sampai ke ujung bumi" (1:8).[2] Buku ini adalah cerita tentang pergerakan Kristen yang dimulai di antara orang Yahudi lalu meluas menjadi suatu agama untuk seluruh dunia, tidak hanya untuk orang Yahudi.[2] Penulis kitab ini merasa perlu pula meyakinkan para pembacanya bahwa orang-orang Kristen bukanlah suatu bahaya politik subversif terhadap Kekaisaran Romawi, tetapi bahwa agama Kristen merupakan penyempurnaan agama Yahudi.[2]

Kisah Rasul secara garis besar menggambarkan tentang peristiwa perjalanan Injil dari Yerusalem, ibu kota Yehuda dunia Yahudi.[2][3][4] Pemberitaan Injil pada awalnya berjalan sukses di kalangan orang-orang Yahudi.[2][3][4] Injil yang disebarkan pun bergerak semakin luas melalui pimpinan Roh Kudus.[2][3][4] Penerimanya pertama-tama adalah orang Yahudi yang murtad, kemudian dilanjutkan kepada kaum proselit, hingga akhirnya kepada orang-orang bukan Yahudi penyembah berhala.[2][3][4] Misi Kristen inilah yang kemudian belanjut hingga sekarang.[2][3][4] Kitab ini pun berakhir secara mengejutkan ketika Paulus beserta kawan-kawannya mencapai Roma.[2][3][4]

Kisah Para Rasul bisa dibagi dalam tiga bagian. Di dalam ketiga bagian itu tampak meluasnya wilayah di mana Kabar Baik tentang Yesus disiarkan dan gereja didirikan:[2]

  1. Permulaan pergerakan Kristen di Yerusalem setelah Yesus terangkat naik ke sorga;
  2. Perluasan ke daerah-daerah lain di Palestina;
  3. Perluasan yang lebih besar lagi ke negeri-negeri di sekitar Laut Tengah sampai sejauh Roma.

Satu hal yang khas dan penting dalam buku Kisah Para Rasul ini ialah pekerjaan Roh Kudus.[2] Roh Kudus yang datang dengan kuasa-Nya ke atas orang-orang percaya di Yerusalem.[2] Peristiwa ini terjadi pada hari Pentakosta.[2] Pada hari ini, semua orang yang mendengarkan Sabda Tuhan bisa mendengarkan-Nya dalam bahasa mereka masing-masing.[2] Bahasa yang dimaksud di sini adalah bahasa Roh.[2] Wujud Roh Kudus yang dijelaskan berupa nyala api.[2]

Ayat-ayat terkenal[sunting | sunting sumber]

  • Kisah Para Rasul 3:6-8: Petrus berkata: "Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!" (3:7) Lalu ia memegang tangan kanan orang itu dan membantu dia berdiri. Seketika itu juga kuatlah kaki dan mata kaki orang itu. (3:8) Ia melonjak berdiri lalu berjalan kian ke mari dan mengikuti mereka ke dalam Bait Allah, berjalan dan melompat-lompat serta memuji Allah.
  • Kisah Para Rasul 8:36-37: Lalu kata sida-sida itu: "Lihat, di situ ada air; apakah halangannya, jika aku dibaptis?" (8:37) Sahut Filipus: "Jika tuan percaya dengan segenap hati, boleh." Jawabnya: "Aku percaya, bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah."
  • Kisah Para Rasul 10:15: Kedengaran pula untuk kedua kalinya suara yang berkata kepadanya (Petrus): "Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram."
  • Kisah Para Rasul 16:30-31: Ia (kepala penjara) mengantar mereka ke luar, sambil berkata: "Tuan-tuan, apakah yang harus aku perbuat, supaya aku selamat?" (16:31) Jawab mereka (Paulus dan Silas): "Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu."

Isi[sunting | sunting sumber]

Berikut adalah garis besar isi kitab Kisah Para Rasul[5]

Sisipan: Pelayanan Apolos (Kis 18:24-28)

Muatan Teologi[sunting | sunting sumber]

Ada lima hal yang menjadi fokus di dalam kitab ini.
Pertama, Kisah Para Rasul ini berisi tentang kelanjutan dari misi Tuhan dalam sejarah.[2] Sejarah ini dipahami sebagai kelanjutan dan pelayanan Yesus.[2] Hal inilah yang menjadi topik yang hangat di dunia teologi masa kini, yaitu dalam mengungkapkan sejarah keselamatan.[2] Konteks kitab ini merujuk kepada pemahaman akan segala peristiwa di dalam hidup dan gereja mula-mula sebagai peristiwa sejarah di dalam karya Tuhan dinyatakan.[2] Iman Kristen juga diperhadapkan langsung dengan Tuhan yang menyatakan diri-Nya Juruselamat di dalam panggung sejarah.[2]

Kedua, Kitab Kisah Rasul ini merupakan kitab misi.[2] Gereja sebagai persekutuan orang percaya memiliki tujuan untuk menjadi saksi tentang Yesus.[2] Misi yang menjadi tujuan kekristenan ini berisi Injil.[2] Injil tetang keselamatan umat manusia. Fokus kitab ini juga bercerita tentang kebangkitan Yesus dari kematian.[2] Kebangkitan dari kematian menjadi tanda bahwa Dia adalah Allah dan Juruselamat.[2] Kematian-Nya membawa pengampunan dosa bagi manusia.[2] Pesan ini dinyatakan oleh Allah Bapa kepada Yesus sebagai otoritas untuk melimpahkan keselamatan dan karya keselamatan itu di dalam gereja.[2]

Ketiga, Kisah Para Rasul banyak juga berkonsentrasi terhadap hal-hal yang menjadi tantangan di dalam pemberitaan Injil. [2]Di dalam pasal 14:22 dituliskan bahwa sekalipun banyak kesengsaraan, kita harus tetap memberitakan Kerajaan Allah.[2] Lukas mengakui bahwa hanya jalan Yesus yang membawanya kepada puncak tantangan tersebut yaitu kematian.[2] Tantangan itu biasanya diawali dengan ejekan rasul-rasul pada hari pentakosta.[2] Selain itu, dilanjutkan lagi dengan usaha oleh para kaum bijaksana untuk diam tentang Yesus.[2] Hal inilah yang menjadi penyebab terjadinya mati martir.[2] Stefanus, salah seorang tokoh mati martir.[2] Dia menjadi tokoh mati martir pertama di dalam kekristenan.[2] Tugas untuk memberitakan Injil memang beban yang berat.[2] Tantangan dan penderitaan menjadi faktor penghalang setiap orang percaya dalam memberitakan Injil.[2]

Keempat, Kisah Para Rasul merefleksikan tekanan luar biasa yang terdapat di gereja awal.[2] Tekanan-tekanan ini melebihi misi kekafiran.[2] Kisah Rasul menjelaskan bahwa orang-orang non-Yahudi, yang dianggap kafir oleh Yahudi adalah termasuk umat Allah. Injil dengan jelas mencatat pesan yang diberikan oleh Yesus Kristus kepada murid-murid-Nya.[2] Pesan itu menjelaskan bahwa murid-murid-Nya memberitakan Injil kepada seluruh bangsa-bangsa.[2] Namun, inti persoalannya adalalah apakah munculnya gereja telah menghasilkan sebuah komunitas baru yang berbeda dengan Yudaisme.[2] Yudaisme memang adalah awal dari kekristenan.[2] Orang-orang kristen awal pun adalah orang Yahudi.[2] Dalam hal ini, setiap orang berhak untuk menerima kabar keselamatan yang diberikan oleh Yesus itu.[2] Oleh sebab itu, tidak lagi mempersoalkan Yahudi atau non-Yahudi.[2]

Terakhir, hidup dan oraganisasi gereja.[2] Lukas menawarkan sebuah gambaran tentang kehidupan dan ibadah gereja yang tidak ragu sebagai sebuah pola untuk menyediakan petunjuk bagi gereja sekitarnya. [2]Kita mendapatkan gambaran tentang persekutuan kelompok-kelompok kecil dalam pengajaran, pemuridan, ibadah, dan perjamuan.[2] Selain itu, ada juga jalan masuk untuk ke gereja dengan dibaptis dengan air.[2] Hal-hal ini terdapat di dalam ringkasan singkat pada pasal-pasal awal Kisah Para Rasul ini (2:42-47;4:32-37).[2] Hal ini juga seperti yang digambarkan oleh Injil Lukas.[2] Lukas juga mencatat bahwa pentingnya peranan Roh Kudus di dalam kehidupan gereja.[2] Roh Kudus merupakan milik dari setiap orang Kristen.[2] Selain itu, Roh Kudus menjadi sumber sukacita dan kekuatan.[2] Pemimpin-pemimpin Kristen sendiri merupakan orang-orang yang dipenuhi oleh Roh Kudus untuk menunjukkan fungsi-fungsinya yang bermacam-macam.[2]

Nama kitab[sunting | sunting sumber]

Berikut ini adalah nama kitab “Kisah Para Rasul” dalam beberapa bahasa lain, selain bahasa Yunani:

Kaitan dengan kitab-kitab lain dalam Alkitab[sunting | sunting sumber]

Kisah Para Rasul mengutip sejumlah ayat dari bagian Alkitab yang lain dan juga dirujuk dalam sejumlah bagian, misalnya surat-surat Paulus. Berikut sebagian kaitan kitab lain dengan Kisah Para Rasul

Pranala Lain[sunting | sunting sumber]

Kisah Para Rasul
Didahului oleh:
Injil Yohanes
Perjanjian Baru
Alkitab
Diteruskan oleh:
Surat Roma

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c W. R. F. Browning.2007.Kamus Alkitab.Jakarta.Gunung Mulia.204-206.
  2. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z aa ab ac ad ae af ag ah ai aj ak al am an ao ap aq ar as at au av aw ax ay az ba bb bc bd be bf Howard Marshall.1980.Tyndlae New Testament Commentaries: Acts.England.Inter-Varsity Press.17-49
  3. ^ a b c d e f C. K. Barrett.1994.The International Critical Commentary: Acts.Scotland.T&T Clark LTD.1-57.
  4. ^ a b c d e f Robert W. Wall.2002.The New Interpreters Bible: Vol. X.USA.Abingdon Press.3-32.
  5. ^ Garis Besar Kisah Rasul