Surat Paulus yang Kedua kepada Jemaat di Tesalonika

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Reruntuhan Kota Tesalonika: Kota yang menjadi salah satu tujuan surat Paulus.

Surat Paulus yang Kedua kepada Jemaat di Tesalonika adalah salah satu kitab yang sebenarnya merupakan suatu surat (yang kedua dari dua surat) kepada jemaat di kota Tesalonika yang termuat dalam bagian Perjanjian Baru di Alkitab Kristen.[1][2][3] Kota Tesalonika, yang namanya secara populer dipakai untuk menyebut surat ini, merupakan ibukota dari Makedonia, sebuah provinsi di kekaisaran Romawi.[1][2][3] Paulus merupakan pendiri Jemaat di Tesalonika, khususnya setelah ia meninggalkan Filipi.[1][2][3]

Latar Belakang[sunting | sunting sumber]

Penulis[sunting | sunting sumber]

Paulus diyakini sebagai penulis asli surat ini.[4] Dalam 2 Tesalonika 1:1 jelas dikatakan bahwa surat ini berasal dari Paulus beserta dua orang rekan sekerjanya yakni, Silwanus dan Timotius.[5] Berdasarkan anggapan bahwa surat ini ditulis pada abad ke-2, sejumlah pakar Perjanjian Baru modern meragukan bahwa surat ini benar-benar ditulis oleh Paulus dengan beberapa alasan, dan menggolongkan surat ini bersama-sama enam surat-surat Paulus lain, yaitu Surat Efesus, Kolose, 1 dan 2 Timotius, serta Titus, sebagai "surat-surat deutero Paulus".[6] Sebutan "deutero Pauline" ("tulisan seorang Paulus kedua") diberikan karena diduga bahwa penulis surat ini bukanlah Paulus melainkan murid Paulus atau paling tidak orang yang menganut teologi Paulus, sehingga digolongkan sebagai salah satu tulisan pseudopigraf yang dengan sengaja memakai nama Paulus sebagai penulisnya.[6]

Keadaan Jemaat[sunting | sunting sumber]

Gambaran jemaat dalam surat 2 Tesalonika ini tidaklah sama dengan gambaran jemaat dalam surat yan pertama.[7] Pada Surat 2 Tesalonika, Paulus berhadapan dengan para penganut Gnostik yang menyampaikan kedatangan hari Tuhan (parousia) telah tiba (2 Tesalonika 2:2).[7] Tentu saja jemaat menjadi kebingungan mendengar pemberitaan seperti itu.[7] Dengan melihat keadaan jemaat seperti itu, penulis bermaksud memberikan penghiburan kepada jemaat agar mereka tidak termakan isu itu begitu saja.[8] Melalui surat ini diharapkan jemaat tetap melanjutkan kegiatan sehari-hari seperti biasanya sambil tetap melaksanakan kewajiban sebagai orang Kristen.[8] Dalam jemaat juga berkembang ajaran Gnostik yang tidak lagi peduli pada daging (sarx) karena menganggap telah disempurnakan dalam roh.[7] Ajaran demikian membuat jemaat kemudian lebih senang dengan cara hidup yang malas-malasan dan kurang memperhatikan ketertiban.[7]

Waktu penulisan[sunting | sunting sumber]

Surat ini diyakini ditulis antara tahun 50-51 M.[9][10] Pendapat lain memberi perkiraan tahun 48-49.[11]

Ayat-ayat terkenal[sunting | sunting sumber]

  • 2 Tesalonika 2:7-8: Karena secara rahasia kedurhakaan telah mulai bekerja, tetapi sekarang masih ada yang menahan. Kalau yang menahannya itu telah disingkirkan, (2:8) pada waktu itulah si pendurhaka baru akan menyatakan dirinya, tetapi Tuhan Yesus akan membunuhnya dengan napas mulut-Nya dan akan memusnahkannya, kalau Ia datang kembali.
  • 2 Tesalonika 3:10: Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.

Struktur Surat[sunting | sunting sumber]

Struktur surat Paulus yang Kedua kepada Jemaat di Tesalonika adalah sebagai berikut:[12] 1. Salam (1:1-2) 2. Ucapan syukur dan doa (1:13-12)

  • Ucapan syukur (1:3-5)
  • Penghakiman Allah (1:6-10)
  • Doa bagi jemaat di Tesalonika (1:11-12)

3. Tentang Kedatangan Tuhan (2:1-12)

  • Hari Tuhan yang belum tiba ( 2:1-2)
  • Tentang pemberontakan manusia (2:3-12)

4. Ucapan terima kasih dan dorongan Paulus bagi jemaat (2:13-17) 5. Kesetiaan Allah (3:1-5) 6. Kedisiplinan hidup: tentang ketidaktaatan manusia (3:6-15)

Pokok-pokok Teologis[sunting | sunting sumber]

Tentang Ketabahan Menghadapi Penganiayaan[sunting | sunting sumber]

Masalah penganiayaan yang dialami jemaat di Tesalonika membuat mereka merasakan penderitaan.[4] Melalui surat ini, penulis kemudian hadir sebagai seorang motivator yang terus mengingatkan jemaat agar tetap tabah.[4] Caranya memberikan motivasi melalui ucapan syukur.[4] Dalam ucapan syukur tersebut, Paulus menyampaikan perasaan sukacitanya atas iman yang dimiliki jemaat yang dinilainya semakin bertambah (1:3-4).[4] Paulus juga menjelaskan pada jemaat bahwa penderitaan yang sedang mereka rasakan menegaskan ada maksud dari Allah di balik semua penderitaan itu.[4]

Menyikapi Ajaran Sesat dan Parousia[sunting | sunting sumber]

Dalam surat yang kedua ini, pemberitaan tentang Hari Tuhan (parousia) sudah tiba menjadi masalah utama walaupun tidak disebutkan siapa orang-orang yang menyebarkan kabar tentang kedatangan Tuhan.[4] Inilah yang hendak diluruskan oleh Paulus yaitu bahwa jemaat di Tesalonika telah salah memahami pemberitaan kedatangan Tuhan.[4] Untuk itulah, Paulus mengingatkan jemaat agar tetap berpegang teguh pada ajaran-ajaran yang ia sampaikan yaitu tetap menantikan hari ketika Yesus akan datang kembali dari sorga.[4] Namun demikian, Paulus juga menyatakan bahwa sebelum hari itu tiba, akan ada tanda-tanda yang mendahuluinya termasuk penderitaan yang sedang dirasakan jemaat dan mencapai puncaknya pada hari Tuhan datang.[4] Saat itulah Allah akan memulihkankembali umat-Nya.[4]

Berdoa dan Bekerja (Ora et Labora)[sunting | sunting sumber]

Pemberitaan Hari Tuhan yang membingungkan jemaat juga semakin membuat anggota jemaat menjadi malas untuk bekerja.[4] Oleh karena itu, Paulus menasihatkan jemaat agar menjauhkan diri dari orang-orang yang sudah tidak mau bekerja lagi (2 Tesalonika 3:6).[4] Sebaliknya, Paulus mendorong jemaat untuk tetap giat dalam bekerja.[4] Dalam surat yang terdahulu, nasihat ini juga disampaikan Paulus namun di surat ini Paulus semakin memotivasi jemaat agar mengikuti teladannya.[4] Yang dimaksudkan Paulus adalah mengikuti teladannya yang tetap bekerja sebagai pembuat tenda selain melaksanakan tugas utamanya sebagai pemberita Injil.[4] Dengan demikian, jemaat diajarkan dalam penantian kedatangan Tuhan tidak hanya berdoa tetapi juga giat bekerja.[4] Paulus bahkan menegaskan dalam 2 Tesalonika 3:10b bahwa "orang tidak mau bekerja janganlah ia makan".[4]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Surat Paulus yang Kedua kepada Jemaat di Tesalonika
Didahului oleh:
Surat 1 Tesalonika
Perjanjian Baru
Alkitab
Diteruskan oleh:
Surat 1 Timotius

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c Arnnold E. Airhart.1969.Beacon Bible Commentary, Vol. IX.USA.Beacon Hill Press.433-438.
  2. ^ a b c F. F. Bruce.1982.Word Biblical Commentary: 1&2 Thessalonians.USA. Word Books, Publisher. xix-xxvii.
  3. ^ a b c W. R. F. Brown.2007.Kamus Alkitab.Jakarta.Gunung Mulia.447-448.
  4. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r {id} Samuel Benyamin Hakh. 2010, Perjanjian Baru: Sejarah, Pengantar dan Pokok-pokok Teologisnya. Bandung: Bina Media Informasi. hlm. 182.
  5. ^ 2 Tesalonika 1:1
  6. ^ a b {id} Bambang Subandrijo. 2010, Menyingkap Pesan-pesan Perjanjian Baru 1. Bandung: Bina Media Informasi. hlm. 152.
  7. ^ a b c d e {id} Willi Marxsen. 2006, Pengantar Perjanjian Baru:Pendekatan Kritis terhadap masalah-masalahnya. Jakarta: BPK Gunung Mulia. hlm. 32,33.
  8. ^ a b {id} Dianne Bergant, Robert Karris. 2002, Tafsir Alkitab Perjanjian Baru. Jogjakarta: Kanisius. hlm. 379.
  9. ^ John Arthur Thomas Robinson (1919-1983). "Redating the New Testament". Westminster Press, 1976. 369 halaman. ISBN 10: 1-57910-527-0; ISBN 13: 978-1-57910-527-3
  10. ^ W. G. Kummel, "Introduction to the New Testament" (Heidelberg i963),ET 1966; 21975.
  11. ^ A. Harnack, Geschichte der altchristlichen Litteratur bis Eusehius, Leipzig 1893-7, vol. II.
  12. ^ {en} Leon Morris (ed). 1984, The epistle of Paul to the Thessalonians: An Introduction and commentary. Grand Rapids: William Eerdmans Publishing. hlm. 115.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]