John Stott

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
John Stott.


John Robert Walmsley Stott atau dikenal dengan John Stott adalah seorang tokoh Kristen, dikenal di berbagai penjuru dunia sebagai pengkhotbah, penginjil, dan penulis.[1][2] Menurut Majalah Times di Amerika tahun 2005, John Stott masuk sebagai salah satu dari "100 tokoh paling berpengaruh di dunia".[1] Selama bertahun-tahun ia menjabat sebagai rektor dari Gereja All Souls di London.[1] Ia juga menjadi pemimpin para penginjil Inggris bagi misi Kristen di seluruh dunia, salah satunya menjadi perancang terbentuknya Pengakuan Lausane di Pilipina pada tahun 1974.[1] Dia menjabat sebagai direktur London Institute for Contemporary Cristianity, Insitut di Inggris yang memberi perhatian bagi perkembangan kekristenan, salah satu peran penting bagi negara-negara dunia ketiga.[1]

Di mata S. Douglas Birdsall sebagai Ketua Eksekutif Pergerakan Lousanne, Stott merupakan seorang gembala, pemimpin, sekaligus sahabat.[2] Stott sangat menyukai lagu Messiah karya Handell.[2] Ia juga bersahabat sangat akrab dengan Billy Graham, seorang tokoh injili lain di Inggris.[2] Mereka sangat berjasa pada Pengakuan Lausane di Pilipina.[2][3]

Riwayat Hidup Ringkas[sunting | sunting sumber]

John Stott lahir pada tahun, anak dari Sir Arnold Stott dan Lady Lili Stott.[2] Ayahnya mendidik dengan penuh kasih sayang.[2] Di rumahnya, ia mendapatkan rasa humor dengan cerita Saki yang sering ia baca kala masih anak-anak hingga terbahak-bahak.[2] Dia bergabung di Sekolah Minggu Gereja All Souls.[2] Pendidikannya di St. Barnabas agaknya mempengaruhinya sebagai orang yang taat dan berintegritas.[2] Di mata Sekretarisnya, Lambeth MA, yang selama 55 tahun mendampinginya, ia merupakan orang yang penuh iman, apa yang ia pikirkan tentang kebaikan, ia lakukan dengan sepenuh hati.[2]

John Stott menghembuskan nafas terakhir pada sore hari, 27 Februari 2011 di Kampus Santo Barnabas, Surrey, Inggris, tempat ia terakhir mengajar dan menjadi imam.[2]

Karya[sunting | sunting sumber]

John Stott memiliki ketertarikan yang sangat kuat dalam bidang misi, Alkitab, Perjanjian Baru, Iman, dan doktrin gereja.[1] Karya-karyanya sangat banyak, beberapa di antaranya[1],

  • The Authentic of Jesus
  • Baptism & Fulness
  • Basic Christianity
  • Christian Mission in the Modern World
  • Evangelical Essentials (bersama David Edwards)
  • The Gospel and the End of Time
  • The Message of Ephesians
  • The Message of Galatians
  • The Message of 2 Timothy
  • The Message of the Sermon on the Mount
  • The Spirit, The Church, and The World
  • Your Mind Matters

Buku lainnya yang berhubungan dengan pernikahan dan isu masa kini[1],

  • Homosexual Partnerships
  • Marriage and Divorce

Karya tambahan lainnya[1],

  • The Authority of the Bible
  • Becoming Christian
  • Being a Christian

Gagasan-gagasan John Stott[sunting | sunting sumber]

Menurut Hickinbotham, Ketua Wyckliffe Hall, Oxford, dalam perkuliahan John Stott, mengatakan tentang empat prinsip dalam memperlakukan Alkitab (Injil) dalam misi dunia masa kini.[4] Bagaimana pesan-pesan Injil itu dapat memiliki peran bagi orang-orang pada zaman yang berbeda dengan kasus-kasus dan persoalan yang sering kali tak terpecahkan atau mengalami kebuntuan.[4] Antara lain

  1. Biblis, artinya, bacalah dengan seksama Alkitab dan jujurlah, apa sesungguhnya yang Alkitab ingin katakan, Tuhan mau bicara apa melalui Alkitab.[4]
  2. Terang, atau jelas, ia mengajak orang untuk benar-benar melihat persoalan secara mendalam, walau banyak hal yang ambigu dan kabur, yaitu dengan menghadapinya secara teologis penuh nalar dan tepat.[4]
  3. Adil atau fair, keterbukaan terhadap kritik konteks masa kini penting, dan di sana seorang Injili harus mampu menjelaskan betapa Alkitab memiliki jawaban atas setiap tantangan zaman.[4]
  4. Konstruktif, sebuah tulisan teologis harus konstruktif, sopan, hangat, dan tidak jauh dari kehidupan sehari-hari, di kala orang bergumul dengan iman dan persoalan konkret.[4] Keterbukaan manusia untuk disapa Tuhan melalui Alkitab, melalui peristiwa penyelamatan Yesus Kristus menjadi penting bagi orang Kristen sebagai upaya positif dan ekumenis (artinya terbuka untuk hidup bersama-sama atau tidak ekslusif terhadap orang lain).[4]

Isu tentang Persembahan Kristen menurut John Stott[sunting | sunting sumber]

Dalam buku Living Church (Gereja yang Hidup), John Stott menyatakan prinsip-prinsip persembahan orang Kristen[5], di antaranya,

  1. Persembahan orang Kristen adalah ungkapan syukur atas limpahan rahmat dari Allah, prinsipnya, Allah kita yang menganugerahi kita hidup dan pengampunan adalah Allah yang murah hati (2 Korintus 8:1-6)[5]
  2. Persembahan orang Kristen merupakan kharisma (kasih karunia Roh Kudus), prinsipnya, semua orang Kristen dipanggil untuk menjadi murah hati (2 Korintus 8:7).[5]
  3. Persembahan Kristen menyumbang nilai-nilai kesetaraan, prinsipnya supaya yang kaya tidak kelebihan, yang miskin tidak berkekurangan (2 Korintus 8:13-15).[5]
  4. Persembahan Kristen harus diawasi secara teliti, prinsipnya uang mudah disalahgunakan, sehingga perlu adanya pengawasan supaya orang tidak mudah tergoda untuk menyalahgunakan persembahan (2 Korintus 8:16-24).[5]
  5. Persembahan Kristen dapat dibangkitkan dengan persaingan sehat (2 Korintus 9:5).[5]
  6. Persembahan Kristen menyerupai tuaian (2 Korintus 9:6-12).[5]
  7. Persembahan Kristen memiliki makna simbolis (2 Korintus 9:13).[5]
  8. Persembahan Kristen menyuburkan ucapan syukur kepada Tuhan (2 Korintus 9:11b-15).[5]

Pengakuan Lousanne[sunting | sunting sumber]

John Stott berjasa sebagai ketua perumus Pengakuan Lousanne di Pilipina pada bulan Juli 1974. Pekabaran Injil mendesak dilakukan oleh misi Kristen, salah satu Pengakuan Lousanne[3],

Kami anggota gereja Yesus Kristus dari 150 bangsa lebih... sangat tergerak oleh apa yang Allah lakukan pada zaman kami ini, tergerak untuk menyesal karena kegagalan-kegagalan kami dan ditentang oleh tugas penginjilan yang belum selesai. Kami percaya bahwa Injil adalah kabar baik dari Allah untuk seluruh dunia: dan kami bertekad oleh anugerah-Nya unutk menyatakan kepada umat manusia dan menjadikan murid-murid bagi-Nya dari setiap bangsa.[3]

Lausanne Covenant

Catatan Kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e f g h i (Inggris) John R. W. Stott., The Cross of Christ, Illionis: Intervarsity Press, 1986
  2. ^ a b c d e f g h i j k l (Inggris)Christ Wright el al., John Stott: Pastor, Leader, and Friend, Masachussetts: Lausane Movement, Hal. 9-10
  3. ^ a b c (Indonesia)Tony Lane., Runtut Pijar: Sejarah Pemikiran Kristiani, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2005, Hal. 284-287
  4. ^ a b c d e f g (Inggris) John R.W. Sott., Christian Mission in the Modern World, Illionis: Intervasity Press, 2008, Hal. 10-13
  5. ^ a b c d e f g h i (Indonesia)John R.W. Stott., The LIving Church, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2007, hal. 105-124