Kitab Yudit

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Kitab Suci Ibrani atau
Perjanjian Lama
keterangan lebih jauh lihat Kanon Alkitab
Yahudi, Protestan, Katolik Roma, dan Ortodoks
Diterima Katolik Roma dan Ortodoks, tetapi ditolak Yahudi dan Protestan:
Ortodoks (Sinode Yerusalem) mencantumkan:
Ortodoks Rusia dan Ethiopia menyertakan:
AlkitabOrtodoks Ethiopia menyertakan:
Alkitab Suriah Peshitta menyertakan:
Yudit dengan Kepala Holofernes, oleh Cristofano Allori, 1613 (Koleksi Kerajaan, London)

Kitab Yudit adalah salah satu yang termasuk dalam kitab deuterokanonik atau Kitab Apokrip.[1] Kitab yang termasuk dalam Septuaginta dan dalam Perjanjian Lama Katolik Roma dan Ortodoks Timur, tetapi ditolak oleh Yahudi rabinik dan Gereja Protestan.[2] Kitab ini disebut kitab yang inspirasional umat melawan semua penjajah yang hendak menajiskan tempat suci.[3]


Asal Kata dan Penulis[sunting | sunting sumber]

Yudit – August Riedel

Nama Yudit (bahasa Ibrani: יְהוּדִית - Yəhudit - Yəhûḏîṯ yang artinya "terpuji" atau "perempuan Yahudi"}}) dalam bentuk feminim dari kata Yehuda. Menurut Irene Nowell, nama Yudit berasal dari kata Yudahite yang artinya perempuan Yahudi.[4]

Penulis kitab Yudit dijelaskan pada pasal 8-9:14, mulai pasal 8:1 diketahui bahwa Yudit adalah seorang Israel sejati.[4] Menurut David Michael Lindsey, Kitab Yudit ditulis sekitar abad ke-6 SM oleh seorang pahlawan perempuan yang dikenal dengan janda muda Manasye.[5] Penulisan dipengaruhi peristiwa-peristiwa Makabe.[6]


Status janda Yudit dalam tradisi Israel merupakan simbol kelemahan, orang yang tidak mempunyai kekuatan di masyarakat.[7] Oleh karena itu, perlu hukum yang mengatur agar para janda dapat dilindungi, seperti kasus perkawinan levirat.[7] Selain itu, kelemahan para janda juga terbukti dalam pelbagai pemberitaan para nabi untuk melindungi hak para janda, secara khusus menekankan perlindungan Allah.[7] Data tersebut adalah informasi yang dicatat Yudit terkait kematian Manasye, suami Yudit pada pasal 8:2-6.[7] Yudit juga dikenal sebagai wanita yang cantik dan elok parasnya pada Pasal 8:7.[7] Selain cantik dan elok, ada indikasi bahwa dia adalah wanita kaya dari warisan Manasye yang berupa emas dan perak, budak-budak dan sahaya-sahaya, ternak dan ladang pada pasal 8:7b dan seorang yang saleh atau takut akan Allah, pada pasal 8:8.[8] Dalam masyarakat yang dikuasai laki-laki, Yudit tampil memimpin, meminta para penatua kota berkumpul dan membagi tugas. Bila para tetua hanya berpikir tentang kebutuhan praktis sehari-hari, tentang air minum.[7] Yudit menjunjung tinggi namanya sebagai Israel sejati, yang diperjuangkan ialah keselamatan bangsa dan Negara.[9] Dalam pertimbangannya, situasi itu meminta resiko yang harus diperhitungkan masak-masak; kecuali tindakan tersebut akan menjadi contoh dan menimbulkan semangat juang yang tinggi.[9] Keberaniannya menggerakkannya untuk berpikir demi kepentingan orang lain, umat Israel, kenisah dan tempat suci.[9] Ia mencerminkan kebijaksanaan putri dari Abel-Bet-Maakha yang mengusulkan eksekusi Seba, supaya kepentingan seluruh bangsa terjamin.[7]

Selain itu Yudit juga digambarkan sebagai seorang pemberani pada pasal 9:9-27 dan bijaksana pasal 9:28-29. Gambaran ini didukung oleh ahli-ahli Katolik, seperti Craghan dan Kodell.[10]

Setting[sunting | sunting sumber]

Yudit dengan kepala Holophernes, oleh Simon Vouet, (Alte Pinakothek, Munich)

Kitab Yudit mempunyai setting yang tragis yang menarik bagi para patriot Yahudi dan memperingatkan kepada para pembacanya agar menaati Hukum agama Yahudi.[3]

Narasi Kitab Yudit dimulai dari seorang janda yang berani yang kecewa dengan saudara-saudara sebangsanya karena tidak mau melawan para penjajah asing mereka.[4] Ia, disertai oleh hamba perempuannya Abra yang setia meskipun mungkin agak enggan, pergi ke kemah jenderal musuh, Holofernes.[4] Ia pelan-pelan memikatnya, menjanjikan pelayanan seksual dan informasi tentang bangsa Israel.[4] Setelah mendapatkan kepercayaannya (meskipun ia tidak memenuhi janjinya), ia memperoleh akses ke kemahnya pada suatu malam sementara [Holofernes]] sedang tertidur karena mabuk.[7] Yudit memenggal kepalanya, lalu membawanya dan memperlihatkannya kepada orang-orang Holofernes.[4] Setelah kematian Holofernes Bangsa Asyur mengalami kekacauan dan Israel diselamatkan oleh tangan seorang perempuan.[4] Menurut Nowell, kelalaian Holofernes disebabkan kecantikan Yudit.[4] Meskipun banyak orang yang mencoba mendekatinya, Yudit tetap tidak menikah hingga akhir hayatnya.[4]

Konteks Umat Israel Pada Masa Yudit[sunting | sunting sumber]

Kecenderungan sosial Israel pada masa Yudit tidak terlepas dari masuknya budaya helenisasi yang dipersonifikasikan oleh kekuatan Nebukadnezar dan panglimanya Holofernes ke dalam kehidupan umat baik dalam aspek sosial, politik, budaya, ekonomi dan keagamaan.[11] Kebijakan helenisasi ini terus dipaksakan hingga mengakibatkan terancamnya kehidupan beriman umat Israel kepada Yahwe.[3] Isi kebijakan tersebut yakni orang-orang Yahudi harus meninggalkan praktik-praktik tradisional seperti cara beribadah, sunat dan melupakan aturan mengenai makanan yang halal dan haram.[3] Sebaliknya, orang-orang Yahudi dipaksa untuk mengambil alih cara berpikir dan beribadah Yunani yang bagi orang-orang Yahudi itu adalah sebuah pelacuran terhadap Yahwe.[3] Dalam situasi seperti ini, Wismoady mengatakan bahwa terdapat kelompok Yahudi yang berjuang menentang helenisasi yang dianggap bertentangan dengan iman Israel.[3] Vriezen menjelaskan bahwa walaupun ancaman tersebut, bangsa Israel semakin bertekad untuk mempertahankan warisan rohani yang dimilikinya dengan menolak secara tegas segala sesuatu yang mengancam kestabilan struktur agama.[12] Hal ini digambarkan pada pasal 7:19-32, di mana umat yang mulai berputus asa dan menganjurkan untuk melibatkan diri dalam kebijakan helenisasi:[12]

“….hendaklah kamu sekarang memanggil mereka dan menyerahkan seluruh kota kepada laskar Holofernes serta seluruh bala tentaranya untuk dirampasi. Lebih baik kita menjadi rampasan mereka. Memang kita akan menjadi budak, tetapi kita akan hidup terus dan tidak usah menyaksikan dengan mata kepala sendiri kematian kanak-kanak kita dan bagaimana isteri dan anak-anak kita kehilangan nyawanya.”

Saran itu mengguncang iman pemimpin umat sehingga ia (pemimpin umat: Uzia) mengeluarkan pernyataan mencobai Allah pada pasal 7:30.

“….tetapkan hati, saudara-saudara! Hendaknya kita tahan lima hari lagi. Jika hari-hari itu berlalu dengan tidak ada pertolongan datang, maka aku hendak berbuat sebagaimana telah saudara-saudara katakan.”

Kontras dengan mereka dalam situasi yang demikian, sebagian masyarakat (diwakili oleh Yudit) tetap berpegang pada tradisi iman mereka, bahwa Allah adalah Allah yang berkuasa dan tidak bisa diatur oleh kehendak manusia.[3] Yudit mengakui bahwa Allah adalah pahlawan yang akan melindungi dan menolong mereka pada waktu yang Ia kehendaki.[3]



Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ (Indonesia) J Blommendaal. Pengantar kepada perjanjian lama. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 2008. Hal.12
  2. ^ (Indonesia) David L. Baker. Mari Mengenal Perjanjian Lama. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 2008. Hal.21
  3. ^ a b c d e f g h (Indonesia) S. Wismoady Wahono. Di Sini Kutemukan. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 2002. Hal 278, 271, 278, 762
  4. ^ a b c d e f g h i (Indonesia) Dianne Bergant, Robert J. Karris (ed) Irene Nowell. Yunus dalam tafsir Alkitab Perjanjian Lama. Yogyakarta: Kanisius. 2002. Hal.756, 258-259
  5. ^ (Indonesia) David Michael Lindsey. Perempuan dan naga: penampakan-penampakan Maria. Yogyakarta: Kanisius. 2007. Hal 35-36
  6. ^ (Indonesia) H. Jagersma, Soeparto Poerbo. Dari Aleksander Agung sampai Bar Kokhba: sejarah Israel dari +_ 330 SM-135 M. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 2003. Hal.76
  7. ^ a b c d e f g h (Inggris) Christian Conference of Asia. Urban Rural Mission. Conceiving a New Creation : Grassroots Women's Leadership Formation. 13-19 October 1990, Penang YMCA, Malaysia, URM Concerns. Hong Kong Christian Conference of Asia, 1990. Hal.44, 45.46,47
  8. ^ (Indonesia) Nancy de Flon. John Vidmar The Da Vinci Code & Tradisi Gereja. Yogyakarta: Kanisius. 2007. Hal.68
  9. ^ a b c (Indonesia) St Darmawijaya. Perempuan dalam Perjanjian Lama. Yogyakarta: Kanisius. 2003 Hal.41
  10. ^ (Indonesia) John Craghan dan Jerome Kodell. Tafsir Deuterokanonika 1: Tobit, Yudit, Barukh. Yogyakarta: Kanisius. 1990. Hal.75-76
  11. ^ (Inggris) Helmut Koester. History, Culture And Religion of The Helenistic Age. New York: Berlin. 1980. Hal 259
  12. ^ a b (Indonesia) TH. C. Vriezen. Agama Israel Kuno. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 2006. Hal 292

Pranala luar[sunting | sunting sumber]