Relikui

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Relikui, benda-benda peninggalan dari Rasul Yakobus, Matius, Filipus, Simon orang Zelot, Thomas, dan orang-orang kudus lainnya.

Relikui adalah barang-barang peninggalan atau sisa-sisa tubuh dari orang kudus yang sudah meninggal. Relikui ada bermacam-macam, bisa berupa potongan rambut, tulang, pakaian, dan lain-lain.

Relikui menurut Gereja Katolik Roma[sunting | sunting sumber]

Bagi Gereja Katolik Roma, relikui mempunyai dua fungsi. Pertama, sebagai alat untuk mengenang orang-orang kudus dan beriman yang telah meninggal. Kedua, relikui juga dipakai sebagai alat komunikasi dengan orang-orang kudus tersebut.[1] Diyakini bahwa pada barang-barang yang mereka tinggalkan melekat juga berbagai karunia yang mereka miliki sewaktu mereka masih hidup.[2] Salah satunya adalah karunia untuk menyembuhkan sakit.[1]

Kepercayaan seperti ini diambil dari kisah-kisah dalam Alkitab yang menyebutkan tentang jubah Elia (2 Raj 2:4), tulang-tulang Elisa (2 Raj 13:21) dan sapu tangan milik Paulus (Kis 19:12) mampu membuat keajaiban. Selanjutnya, tubuh orang-orang yang menjadi martir pun ikut dihormati. Contohnya relikui Polikarpus yang dianggap jauh lebih berharga dibangding batu permata dan emas berlian.

Sekitar abad ke-4 dimulailah pemujaan terhadap relikui namun baru mulai di kenal dalam lingkungan gereja sekitar abad ke-7 dan abad ke-8. Pemujaan terhadap relikui kemudian menjadi semakin meluas setelah Konsili Nicea II tahun 787 yang berusaha menyelesaikan persoalan ikonoklastik. Beberapa tokoh yang menentang pemujaan relikui adalah Yohanes Huss, John Wycliffe dan Yohanes Calvin.[2] Pada Konsili Trente penghormatan relikui mendapat pengakuan sebagai salah satu tradisi gereja.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b (Inggris) Dale T. Irvin, Scott W. Sunquist . 2001. History of The World Christian Movement, volume I: Earliest Christianity to 1453. New York: Orbis Books. Hlm. 350.
  2. ^ a b (Indonesia) F.D Wellem. 2004. Kamus Sejarah Gereja. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Hlm. 397.