Abraham

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Abraham
אַבְרָהָם
ʾAḇrāhām
Rembrandt Harmensz. van Rijn 035.jpg
"Malaikat Tuhan mencegah pengorbanan Ishak", oleh Rembrandt, 1634.
Arti nama Bapak banyak orang/bangsa
Orang tua Terah (ayah)[1],
Istri Sara, Hagar, Ketura[2]
Anak Ismael (dari Hagar)[3], Ishak (dari Sara)[4], dan Zimran, Yoksan, Medan, Median, Ishak, Syuah (dari Ketura)[5], Lot (keponakan)
Saudara Nahor dan Haran[6] (laki-laki), Sara[7] (perempuan, tiri)
Tempat lahir Ur Kasdim[8] ~ 2000 SM
Tempat mati Dekat Hebron di Kanaan[9] ~ 1825 SM
Umur 175 tahun[10]
Sumber

Abraham (bahasa Ibrani: אַבְרָהָם, Standar Avraham Tiberias ʾAḇrāhām Ashkenazi Avrohom atau Avruhom; bahasa Arab: ابراهيم, Ibrāhīm ; Ge'ez: አብርሃም, ʾAbrəham) adalah tokoh penting dalam Alkitab dan Al-Quran. Agama Yahudi dan Kristen mengakuinya sebagai patriarkh, sementara dalam tradisi Islam ia dikenal sebagai Nabi Ibrahim. Dalam tradisi agama Abrahamik, Abraham adalah bapak rohani dari banyak orang.

Menurut Alkitab, Abraham dipanggil Allah dari Mesopotamia ke negeri Kanaan, sekitar tahun 2000 SM.[11] Di sana ia mengadakan perjanjian: Abraham diminta mengakui bahwa Yahweh adalah Tuhan dan otoritas tertinggi satu-satunya dan universal, dan untuk itu Abraham akan diberkati dengan keturunan yang tak terhitung banyaknya. Kehidupannya yang dikisahkan dalam Kitab Kejadian (pasal 11–25) dapat mencerminkan berbagai tradisi.

Nama aslinya adalah Abram (bahasa Ibrani: אַבְרָם, Standar Avram Tiberias ʾAḇrām ; "bapa (ab) yang terpuji" atau "bapa[-ku] dipuji/dimuliakan" (bandingkan Abiram). Belakangan dalam hidupnya ia dikenal dengan nama "Abraham", seringkali disebut pula sebagai av hamon (goyim) "bapak dari banyak (bangsa)" menurut Kejadian 17:5, meskipun dalam bahasa Ibrani kata ini tidak mempunyai arti harafiah.[12]

Abraham dalam pandangan agama samawi[sunting | sunting sumber]

Abraham mempunyai arti yang sangat penting bagi semua agama samawi yaitu Yahudi, Kristen dan Islam. Islam menganggap Ibrahim sebagai bapaknya orang-orang mu'min, karena Allah menetapkannya demikian. Ia adalah contoh ideal dari seorang yang disebut mu'min. Ini ditunjukkannya dengan penyerahan diri yang sempurna kepada Allah, dengan kesediaannya untuk menyembelih anak kesayangannya.

Agama Yahudi memandang Abraham sebagai salah satu leluhur mereka. Di dalam Kitab Suci Ibrani, Allah sering menyatakan diri-Nya sebgai "Allah Abraham, Ishak, dan Yakub". Hal ini misalnya terjadi ketika Allah menyatakan diri kepada Musa di padang belantara di Midian: "Lagi Ia berfirman: 'Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub.' Lalu Musa menutupi mukanya, sebab ia takut memandang Allah." (Keluaran 3:6).

Bagi orang Kristen, Abraham adalah bapak orang percaya. Imannya menjadi teladan bagi semua orang. Surat Ibrani mengatakan demikian: "Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui... Karena iman maka Abraham, tatkala ia dicobai, mempersembahkan Ishak. Ia, yang telah menerima janji itu, rela mempersembahkan anaknya yang tunggal" (Ibrani 11:8, 17).

Dengan demikian, Abraham adalah bapak yang sama bagi ketiga agama ini, sekaligus mengingatkan bahwa ketiga-tiganya mempunyai akar yang sama, yaitu monoteisme. Untuk itu Ibrahim disebut juga sebagai Bapak Monoteisme Dunia.

Abraham dalam Islam[sunting | sunting sumber]

Dalam agama Islam, Abraham disebut Ibrahim. Ia merupakan salah satu dari lima nabi Ulul Azmi. Dalam Al-Qur'an disebutkan bahwa Ibrahim melakukan pencarian Tuhan yang panjang. Ia pernah menyembah matahari, bulan, dan bintang sebelum akhirnya bertaubat. Ibrahim juga penentang masyarakatnya yang pagan termasuk bapaknya Azar. Dalam Al-Qur'an disebutkan pula bahwa Ibrahim bukan seorang Yahudi atau Nasrani, tetapi ia adalah Muslim. Berbeda dengan dalam Kitab Kejadian, para penafsir Al-Qur'an menyepakati bahwa yang disembelih Ibrahim bukanlah Ishaq namun Isma'il meskipun dalam Al Qur'an (surat Ash Shaaffaat: ayat 102-107) hanya disebutkan bahwa Ibrahim (atau Abraham) akan mengorbankan anaknya dan tidak menyebutkan nama anak itu.

Sejarawan Islam al-Tabari percaya bahwa janji yang ditulis dalam surat Ash Shaaffaat ayat 100-101 diberikan kepada Ibrahim ketika masih di Suriah dan hanya mempunyai satu istri, yaitu Sara, sehingga anak yang dikorbankan adalah Ishak:

"Dari bukti yang disebutkan terdahulu dalam Quran sesungguhnya adalah Ishak, firman Allah memberitahukan kepada kita tentang doa sahabat-Nya, Ibrahim, ketika ia meninggalkan umatnya untuk pindah ke Suriah bersama Sara. Ibrahim berdoa, 'Aku akan pergi kepada Tuhanku yang akan menuntunku. Tuhanku! Berikanlah aku anak yang saleh.' Ini terjadi sebelum ia mengenal Hagar, yang akan menjadi ibu Ismail. Setelah menyebut doa itu, Allah kemudian menggambarkan doa ini dan mengatakan bahwa Ia telah meramalkan kepada Abraham bahwa ia akan mempunyai anak yang lembut. Allah juga mengatakan penglihatan Ibrahim tentang pengorbanan anaknya apabila anak itu cukup umurnya untuk berjalan bersamanya. Quran tidak menyebut berita mengenai anak laki-laki akan diberikan kepada Ibrahim kecuali dalam hal yang merujuk kepada Ishak, dimana Allah berkata, '

Dan istrinya, berdiri di sampingnya tertawa ketika Kami memberikan kepadanya berita mengenai Ishaq, dan setelah Ishaq, Yaqub', dan 'Kemudian ia menjadi takut akan mereka'. Mereka berkata. 'Jangan takut!' dan memberikannya berita tentang anak yang bijak. Lalu istrinya mendekat, mengeluh dan memukul wajahnya, dan berseru, 'Perempuan tua yang mandul'. Jadi, bilamana Quran menyebut Allah memberikan berita kelahiran anak laki-laki kepada Ibrahim, itu merujuk kepada Sara (dan kepada Ishaq) dan hal yang sama benar untuk firman Allah 'Jadi Kami memberikan kepadanya berita tentang anak yang lembut', sebagaimana ini benar untuk semua rujukan dalam Quran."[13]

  • Riwayat yang menyebutkan anak itu bernama Ishaq turun kepada kami melalui Abu Kurayb- Zayd b. al-Hubab- al-Hasan b. Dinar- 'Ali b. Zayd b. Jud'an- al-Hasan- al-Ahnaf b. Qays- al-'Abbas b. 'Abd al-Muttalib- Sang Nabi dalam suatu percakapan berkata, ‘Lalu kami menebusnya dengan korban yang besar.' Dan ia juga berkata, ‘Ia adalah Ishaq.'"[14]
  • Menurut al-Husayn b. Yazid al-Tahhan - Ibn Idris - Dawud b. Abi Hind - 'Ikrimah - Ibn 'Abbas: Dia yang Abraham disuruh untuk mengorbankan adalah Ishaq. Menurut Ya'qub - Ibn 'Ulayyah - Dawud - 'Ikrimah - Ibn 'Abbas: Korban itu ialah Ishaq.[15]
  • Menurut Musa b. Harun - 'Amr b. Hammad - Asbat - al-Suddi - Abu Malik and Abu Salih - Ibn 'Abbas and Murrah al-Hamdani - Ibn Mas'ud dan beberapa sahabat Nabi: Ibrahim diperintahkan dalam mimpi untuk "melaksanakan janjimu bahwa jika Allah memberikan seorang anak laki-laki melalui Sara, engkau akan mengorbankannya."[16]

Abraham menurut pandangan Yahudi dan Kristen[sunting | sunting sumber]

Abram[sunting | sunting sumber]

Abraham bernama asli Abram. Ia adalah anak Terah, berasal dari Ur-Kasdim. Abram lahir ketika Terah berusia 130 tahun (mengingat Abram berusia 75 tahun ketika Terah wafat pada usia 205 tahun). Lalu Terah membawa Abram, anaknya, serta cucunya, Lot, yaitu anak Haran, dan Sarai, menantunya, isteri Abram, anaknya; ia berangkat bersama-sama dengan mereka dari Ur-Kasdim untuk pergi ke tanah Kanaan, lalu sampailah mereka ke Haran, dan menetap di sana. Umur Terah ada 205 tahun; lalu ia mati di Haran.[17] Setelah itu, Abram dan istrinya Sarai, Lot (anak dari saudara laki-laki Abram, Haran), dan semua pengikutnya, kemudian pergi ke Kanaan. Abram berumur 75 tahun, ketika ia berangkat dari Haran. TUHAN memerintahkan Abram untuk pergi ke "negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu", dan berjanji untuk memberkatinya dan membuatnya bangsa yang besar.[18] Karena percaya akan janji-Nya ini, Abram pergi ke Sikhem, dan menerima janji baru bahwa negeri itu akan diberikan pada keturunannya. Setelah membangun sebuah mezbah untuk memperingati perjanjian ini, ia pergi dan memasang kemah di antara Betel dan Ai, di mana ia membangun sebuah mezbah lagi dan "memanggil nama TUHAN."[19]

Di sini ia tinggal untuk beberapa waktu, sampai ketika ada perselisihan antara gembala-gembalanya dan gembala-gembala Lot. Abram mengusulkan pada Lot bahwa mereka berpisah, dan mengijinkan keponakannya untuk memilih lebih dahulu. Lot memilih tanah yang subur di sebelah timur sungai Yordan, sementara Abram, setelah menerima janji lagi dari TUHAN, pergi ke Mamre, dekat Hebron, dan mendirikan mezbah lagi bagi TUHAN.

Berdoa untuk Sodom[sunting | sunting sumber]

Dalam cerita mengenai Lot dan pemusnahan Sodom dan Gomora, Abram muncul ketika ia memohon pada TUHAN untuk mengasihani Sodom.[20] Di saat itu, TUHAN mengatakan kepada Abram bahwa Ia akan turun dan melihat, apakah benar-benar mereka telah berkelakuan seperti keluh-kesah orang yang telah sampai kepada-Nya atau tidak.[20]

Di Mesir[sunting | sunting sumber]

Karena kelaparan yang hebat, Abram dan keluarganya pergi ke Mesir (26:11, 41:57, 42:1), di mana ia takut bahwa kecantikan istrinya akan menawan hati orang-orang Mesir. Karena itu ia berdusta bahwa Sarai adalah saudara perempuannya. Ini tidak menyelamatkannya dari Firaun, yang mengambilnya untuk harem pribadinya dan memberi Abram banyak ternak dan budak. Tapi ketika TUHAN menimpakan tulah yang hebat pada Firaun, Abram dan Sarai meninggalkan Mesir.

Hagar dan Ismael[sunting | sunting sumber]

Karena Sarai tidak dapat mengandung, janji Tuhan bahwa keturunan Abraham akan mewarisi tanah perjanjian tampak seperti mustahil. Sarai, sesuai dengan kebiasaan saat itu, memberi hamba perempuannya yang bernama Hagar kepada Abram. Ketika Hagar mengandung anak Abram, ia menjadi sombong dan merendahkan Sarai. Sarai mengusirnya ke padang gurun. Hagar dijanjikan bahwa keturunannya akan menjadi sangat banyak, "sehingga tidak dapat dihitung karena banyaknya." Maka Hagar kembali dan anaknya Ismael adalah keturunan Abram yang pertama. Dalam agama Islam, Ismael adalah pewaris Abram. Hagar dan Ismael kemudian diusir dari Abram oleh Sarai selamanya (Kejadian 21), tetapi Alkitab menyebutkan bahwa Ismael adalah anak yang dilahirkan dari budak yang bernama Hagar, yaitu wanita Mesir yang menjadi budak bagi keluarga Abraham -- pelayan bagi Sara. Menurut adat istiadat pada waktu itu, yang terhitung sebagai anak adalah dari istri yang sah, dalam hal ini maka Ishak-lah yang paling berhak disebut sebagai ahli waris.

Dalam agama Kristen dan Yahudi disebutkan bahwa yang disebut keturunan Abraham adalah berasal dari Ishak (Kejadian 21:12 Tetapi Allah berfirman kepada Abraham: "Janganlah sebal hatimu karena hal anak dan budakmu itu; dalam segala yang dikatakan Sara kepadamu, haruslah engkau mendengarkannya, sebab yang akan disebut keturunanmu ialah yang berasal dari Ishak.)

Perjanjian sunat[sunting | sunting sumber]

Nama Abraham diberikan pada Abram (dan Sara pada Sarai) pada waktu yang sama dengan perjanjian sunat (Kejadian 17), yang dipraktikkan dalam agama Yahudi dan Islam sampai hari ini. Sekarang Abraham dijanjikan bukan saja keturunan yang banyak, melainkan juga bahwa keturunan ini akan berasal dari Sara, dan juga bahwa negeri di mana ia tinggal akan menjadi milik keturunannya. Perjanjian ini dipenuhi lewat Ishak, walaupun Tuhan berjanji bahwa Ismael akan menjadi bangsa yang besar pula. Perjanjian sunat (tidak seperti janji-janji lainnya) memiliki dua sisi dan bersyarat: bila Abraham dan keturunannya memenuhi janji mereka, TUHAN akan menjadi Tuhan mereka dan memberi mereka negeri tersebut.

Ujian iman Abraham[sunting | sunting sumber]

Beberapa waktu setelah kelahiran Ishak, Abraham diperintahkan Tuhan untuk mengorbankan Ishak di gunung Moria. Sebelum Abraham sempat mematuhi hal ini, ia dicegah seorang malaikat dan ia mengorbankan seekor domba jantan. Sebagai imbalan akan kepatuhannya ini ia menerima janji lain bahwa ia akan membuat keturunannya "sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut", dan bahwa mereka "akan menduduki kota-kota musuhnya."

Sara wafat[sunting | sunting sumber]

Sara wafat dalam usia lanjut, 127 tahun. Saat itu Ishak masih berusia 36 tahun dan belum menikah. Untuk menguburkan istrinya itu, Abraham membeli sebidang tanah ladang beserta suatu gua yang bernama gua Makhpela dari Efron bin Zohar, orang Het itu. Sesudah itu Abraham menguburkan Sara, isterinya, di dalam gua ladang Makhpela itu, di sebelah timur Mamre, yaitu Hebron di tanah Kanaan.[21]

Istri ketiga, Ketura[sunting | sunting sumber]

Abraham mengambil pula seorang isteri, namanya Ketura. Perempuan itu melahirkan baginya Zimran, Yoksan, Medan, Midian, Isybak dan Suah. Yoksan memperanakkan Syeba dan Dedan. Keturunan Dedan ialah orang Asyur, orang Letush dan orang Leum. Anak-anak Midian ialah Efa, Efer, Henokh, Abida dan Eldaa. Itulah semuanya keturunan Ketura.[22]

Warisan Abraham[sunting | sunting sumber]

Abraham memberikan segala harta miliknya kepada Ishak, tetapi kepada anak-anaknya yang diperolehnya dari gundik-gundiknya ia memberikan pemberian; kemudian ia menyuruh mereka--masih pada waktu ia hidup--meninggalkan Ishak, anaknya, dan pergi ke sebelah timur, ke Tanah Timur.[23]

Akhir hayat[sunting | sunting sumber]

Abraham mencapai umur 175 tahun lalu ia meninggal. Ia mati pada waktu telah putih rambutnya, tua dan suntuk umur, maka ia dikumpulkan kepada kaum leluhurnya. Dan putra-putranya, Ishak dan Ismael, menguburkan dia dalam gua Makhpela, di padang Efron bin Zohar, orang Het itu, padang yang letaknya di sebelah timur Mamre, yang telah dibeli Abraham dari bani Het; di sanalah terkubur Abraham dan Sara isterinya.[24]

Berabad-abad kemudian makam ini menjadi tempat kunjungan agama dan umat Islam membangun Masjid Ibrahim di tempat ini.

Perhitungan waktu[sunting | sunting sumber]

Selisih usia[sunting | sunting sumber]

  • Abraham lebih muda dari

Masa hidup[sunting | sunting sumber]

  • Abraham berusia 75 tahun ketika berangkat dari Haran ke tanah Kanaan,[29] setelah Terah, ayahnya, mati pada usia 205 tahun.[30]
  • Abraham berusia 85 tahun ketika Sara memberikan Hagar hambanya kepada Abraham supaya mendapat anak; waktu itu mereka sudah tinggal di Kanaan 10 tahun.[31]
  • Abram berusia 86 tahun ketika Hagar melahirkan Ismael baginya.[32]
  • Abraham berusia 99 tahun ketika disunat.[33]
  • Abraham berusia 100 tahun ketika Sara melahirkan Ishak baginya.[34]
  • Abraham mati pada usia 175 tahun, ketika Ishak berusia 75 tahun, Ismael 89 tahun,[35] sedangkan Esau dan Yakub, cucu-cucu kembar Abraham dari Ishak dan Ribka, saat itu berusia 15 tahun.[36]

Silsilah[sunting | sunting sumber]

Menurut catatan Alkitab, silsilah Abraham adalah sebagai berikut:

istri
 
 
 
Terah
 
 
 
istri
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Sara
 
Abraham
 
Hagar
 
Nahor
 
 
Haran
 
 
 
Haran
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Ketura
 
 
 
 
 
 
 
Ismael
 
 
 
 
 
 
 
Milka
 
Yiska
 
Lot
 
 
 
 
istri
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Zimran
 
 
 
 
 
 
 
Us
 
 
Kemuel
 
 
Hazo
 
 
Yidlaf
 
 
 
 
 
 
 
 
putri sulung
 
putri bungsu
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Yoksan
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Bus
 
Kesed
 
Pildash
 
Betuel
 
S. Moab
 
S. Amon
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Medan
 
 
Ishak
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Ribka
 
Laban
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Midian
 
 
Esau
 
Zilpa
 
Bilha
 
Yakub
 
Lea
 
Rahel
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Isybak
 
 
S. Edom
 
7. Gad
 
 
5. Dan
 
 
 
 
 
 
 
1. Ruben
 
 
12. Yusuf
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
2. Simeon
 
 
 
 
 
 
 
 
Suah
 
 
 
 
 
 
8. Asyer
 
 
6. Naftali
 
 
 
 
 
 
 
3. Lewi
 
 
13. Benyamin
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
4. Yehuda
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
9. Isakhar
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
10. Zebulon
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
11. Dina
 


Referensi dan pranala luar[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Kejadian 11:26
  2. ^ Kejadian 11:19, Kejadian 16:3, Kejadian 25:1
  3. ^ Kejadian 16:15
  4. ^ Kejadian 21:2-3
  5. ^ Kejadian 25:2
  6. ^ Kejadian 11:26
  7. ^ Kejadian 20:12
  8. ^ Kejadian 11:31
  9. ^ Kejadian 23:19, 25:9
  10. ^ Kejadian 25:7
  11. ^ Garis waktu
  12. ^ JewishEncyclopedia.com menyatakan, "Bentuk 'Abraham' tidak memberikan makna apapun dalam bahasa Ibrani". Banyak penafsiran yang diajukan, termasuk analisis terhadap unsur pertama abr- "kepala" atau "pemimpin", namun kata ini tidak menghasilkan makna yang berarti untuk unsur yang kedua.
  13. ^ Al-Tabari, The History of al-Tabari, Vol. II, Prophets and Patriarchs, trans. William M. Brenner [State University of New York Press, Albany 1987], p. 89
  14. ^ Al-Tabari, The History of al-Tabari, Vol. II, Prophets and Patriarchs, trans. William M. Brenner [State University of New York Press, Albany 1987], pp. 82-83
  15. ^ Al-Tabari, The History of al-Tabari, Vol. II, Prophets and Patriarchs, trans. William M. Brenner [State University of New York Press, Albany 1987], p. 84
  16. ^ Al-Tabari, The History of al-Tabari, Vol. II, Prophets and Patriarchs, trans. William M. Brenner [State University of New York Press, Albany 1987], p. 86
  17. ^ Kejadian 11:31-32
  18. ^ Kejadian 12:1-3
  19. ^ Kejadian 12:5-8
  20. ^ a b (Indonesia) I. Snoek. 2004, Sejarah Suci, Jakarta: Gunung Mulia. Hlm. 43.
  21. ^ Kejadian 23:1-19
  22. ^ Kejadian 25:1-6
  23. ^ Kejadian 25:5-6
  24. ^ Kejadian 25:7-10
  25. ^ Kejadian 11:32; Kejadian 12:4
  26. ^ Kejadian 21:5
  27. ^ Kejadian 16, Kejadian 17
  28. ^ Kejadian 17, Kejadian 21
  29. ^ Kejadian 12:4
  30. ^ Kejadian 11:32
  31. ^ Kejadian 16:3
  32. ^ Kejadian 16:16
  33. ^ Kejadian 17:17 dan 24
  34. ^ Kejadian 21:5
  35. ^ Kejadian 23:1
  36. ^ Kejadian 25
  37. ^ Rohl, David (2002). The Lost Testament: From Eden to Exile - The Five-Thousand-Year History of the People of the Bible. London: Century. ISBN 0-7126-6993-0.  Published in paperback as Rohl, David (2003). From Eden to Exile: The Epic History of the People of the Bible. London: Arrow Books Ltd. ISBN 0-09-941566-6.