Modernisme (Katolik Roma)

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Sebagian umat Katolik melihat Modernisme sebagai penurunan dari Kekristenan ke ateisme.

Modernisme di dalam Gereja Katolik Roma adalah sebuah pandangan teologi yang biasanya meliputi sebuah pendekatan Rasionalisme terhadap Kitab Suci, sekularisme dan sistem-sistem filosofi modern. Hal ini dianggap sebagai suatu ajaran sesat oleh Gereja Katolik.

Modernisme meliputi kepercayaan bahwa Gereja dan dogma Katolik hanyalah institusi-institusi manusia dan oleh karenanya pada dasarnya semuanya itu akan secara radikal berubah dari masa ke masa.[1] Istilah ini digunakan oleh Paus Pius X, terutama dalam rujukannya kepada ajarab-ajaran Alfred Loisy dan George Tyrrell. "Kaum Modernis" umumnya tidak menggunakan sebutan ini dalam merujuk diri mereka sendiri, dan juga mereka tidak melihat diri mereka sebagai suatu kesatuan kelompok.

Dalam ensiklik-nya Pascendi Dominici gregis tahun 1907, Paus Pius X tidak saja menyatakan bahwa Modernisme adalah sesat, tapi juga mengutuk aliran tersebut sebagai "perpaduan dari seluruh ajaran sesat", [2] karena aliran ini merusak dengan sangat mendasar doktrin Katolik yang telah terumuskan, menolak konsep tentang kebenaran yang tak berubah yang obyektif dan menolak ajaran pemimpin gereja. Dalam ketetapannya Lamentabili Sane, Paus Pius X menunjukkan 65 kesalahan Modernisme yang dikutuk dan dilarang tegas.


Beberapa Tokoh Katolik Modernis[sunting | sunting sumber]

Tokoh-tokoh Penting[sunting | sunting sumber]

Modernis Awal[sunting | sunting sumber]

  • Alfred Loisy (1857-1940), tulisannya L'Évangile et L’Église (1902) menimbulkan krisis;
  • George Tyrell (1861-1909);
  • Maurice Blondel (1861-1949), filsuf dan apologis (bukan tegas-tegas seorang "modernis" namun menjadi salah satu dari tersangka-tersangka utama aliran ini akibat peranannya dalam debat-debat religius dan salah pengertian akan karya-karyanya);

Tokoh-tokoh Modernis lain yang kurang dikenal umum[sunting | sunting sumber]

Dianggap sebagai pengikut aliran Modernisme[sunting | sunting sumber]


Notes[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Ajaran kaum modernis mengenai evolusi dogma oleh karenanya jauh berbeda dan tidak boleh disamakan dengan ajaran Kardinal John Henry Newman mengenai perkembangan doktrin Gereja, yang ia paparkan dalam bentuk yang biasa diterima oleh semua pihak sebagai suatu hal yang terbuka tabirnya dari masa ke masa tentang apa yang telah diajarkan secara tersirat terlebih dahulu oleh Kristus.
  2. ^ Pascendi Dominici gregis, 39

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  • Acton, Lord, The History of Freedom and Other Essays An outsider’s criticism.
  • Ilaria Biagioli, Alfonso Botti, Rocco Cerrato (eds), Romolo Murri e i murrismi in Italia e in Europa cent'anni dopo, Urbino, QuattroVenti, 2005
  • Alfonso Botti, Rocco Cerrato (eds), Il modernismo tra cristianità e secolarizzazione, Urbino, QuattroVenti, 2001
  • Poulat, É. 1979. Histoire, dogme et critique dans la crise moderniste. Tournai. Casterman.
  • Altholz, Josef L. 1962. The Liberal Catholic Movement in England
  • Hales, E.E.Y., 1954. Pio Nono: A Study in European Politics and Religion in the Nineteenth Century (Doubleday)
  • Gauthier, P. 1988. Newman et Blondel. Tradition et développement du dogme. Paris. Le Cerf.
  • Hales, 1958. The Catholic Church in the Modern World (Doubleday)
  • Izquierdo, C. 1990. Blondel y la crisis modernista. Análisis de « Historia y dogma ». Pamplona. Ed. Univ. De Navarra.
  • Jodock, Darrell, editor, 2002. Catholicism Contending with Modernity (Cambridge University Press)
  • Loome, Thomas Michael Liberal Catholicism, Reform Catholicism, Modernism: A Contribution to a New Orientation in Modernist Research[1].
  • O’Connell, Marvin, Critics on Trial : An Introduction to the Catholic Modernist Crisis, Catholic University of America Press, Washington DC, 1994.
  • Virgoulay, R. 1980. Blondel et le modernisme. La philosophie de l’action et les sciences religieuses (1896-1913). Paris. Le Cerf.
  • Reviewed by Fr. John Parsons