Kristologi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Stained glass window of Saint Peter proclaiming Jesus, in Luke 9:20: "But who do you say that I am?" Peter answered: "The Christ of God".[1]

Kristologi adalah cabang ilmu teologi yang membicarakan tentang posisi Yesus Kristus di dalam agama Kristen.[2] Makna Kristologi bagi umat Kristiani selalu berkembang dari masa ke masa, dan tidak pernah mengalami tahap selesai, karena selalu dihubungkan dengan konteks umat Kristiani oleh para pemikirnya.[3][4][5]Makna kehadiran Kristus bagi orang Kristen diyakini sebagai pemelihara dan penyelamat dunia terkait dengan setiap persoalan hidup.[6] Tema-tema seperti feminisme, Teologi pembebasan atau kemerdekaan adalah tema-tema yang saat ini sedang populer pada zaman modern, di mana umat Kristen terus merenungkan makna Kristus itu.[6] Tema-tema itu disebabkan adanya penindasan oleh perang, "eksklusivisme", kesenjangan sosial di masyarakat, dan sistem negara yang terkadang tidak adil pada seluruh ciptaan, termasuk alam.[7][5] Kristologi yang dihayati dalam kondisi alam yang rusak karena pemanasan global disebut Kristologi Ekologi.[8][9] Kristologi yang berfokus pada seluruh ciptaan disebut Kristologi Kosmik.[9] Bahkan Yesus Kristus diuraikan diberikan delapan belas gambaran terkait dengan budaya adat-istiadat yang terus berubah.[5]

Kristologi dalam Ilmu Teologi[sunting | sunting sumber]

Dalam pembagian cara lama dan ilmiah, Kristologi dimasukkan dalam rumpun Teologi Sistematika-Dogmatika.[2].[10][4] Kristologi bagi umat Kristen merupakan penyataaan (wahyu) Allah kepada manusia melalui kedatangan Kristus.[7] Kata 'Kristologi' berasal dari bahasa Yunani, Χριστός= kristos = Kristus dan λόγος =logos = logi = kata-kata = ilmu, singkatnya; Ilmu tentang Kristus, pembicaraan tentang Kristus ini terkait dengan umat Kristen memahaminya dalam kehidupan sehari-hari; Yesus pada masa lampau hingga masa kini, selama perjalanan itulah maka terus digeluti karena masih relevan dengan masalah-masalah di setiap zaman.[2] Kristologi dan ajaran Trinitas tidak dapat dipisahkan satu terhadap yang lainnya, baik dalam sejarah, sistematika dan dogmatika.[11][10] Selain itu, aspek penting lain yang menyertai pembicaraan ini adalah mengenai keselamatan atau soteriologi.[2]

Pembicaraan tentang Kristus ini merupakan ajaran Kristen yang memercayai Yesus Kristus sebagai Tuhan.[12] Perdebatan tentang Ketuhanan Yesus juga masih berlangsung sampai saat ini.[4][6] Hal ini tampak dalam perdebatan seputar paham Trinitas (Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus) yang berbeda-beda.[4] Perdebatan tersebut paling tampak dalam pemikiran Ireneus, Tertulianus dan Origenes.[3][4] Perdebatan tentang keilahian mengenai kemanusiaan Kristus dan Keilahian Kristus terus terjadi.[13] Setidaknya bisa kita ketahui dari uraian seorang tokoh besar Gereja Katolik Roma, Karl Rahner pada tahun 1960an yang menguraikan Yesus adalah seratus persen Allah dan seratus persen manusia.[13] Di Indonesia, kita bisa membandingkan pendapat dua orang teolog saat ini, Joas Adiprasetya dalam bukunya Berdamai dengan Salib yang menggugat Ionaes Rahmat dalam buku Soteriologi Salib.

Kristus sebagai Mesias[sunting | sunting sumber]

Empat Penginil, oleh Pieter Soutman, Abad ke-17.

Melalui pendekatan biblis atau Hermeneutika Alkitab, ditemui sebutan bahwa Yesus adalah Mesias.[6] Hal ini diperoleh dari Alkitab, khususnya dalam Perjanjian Baru (Bahasa Yunani; Kristus) yang pada Perjanjian Lama disebut Mesias (Bahasa Ibrani.[6]

Mesias dalam Perjanjian Lama[sunting | sunting sumber]

Mesias dalam Perjanjian Lama berarti keluarga Daud, raja yang selalu berjaya digantikan Mesias dalam Perjanjian Baru menjadi raja yang dibangkitkan dari kematian.[6] Raja kerajaan yang gilang gemilang pada masa akhir dan lambat laun akan menjadi pemimpin religius, bukan pemimpin politik.[14]

Kata "Kristus" memiliki arti yang sama dengan Mesias yang artinya adalah "Yang Diurapi".[14] Di dalam ajaran Kristen, kelahiran Yesus juga sudah dinubuatkan semenjak zaman nabi-nabi dalam Alkitab Perjanjian Lama: Natan, Yesaya, Yeremia, Yehezkiel, Hagai dan Zakharia.[14] Mesias di dalam Perjanjian Lama dinanti oleh orang Israel untuk memulihkan bangsa Israel dari berbagai masalah, terutama politik.[14] Jadi hadirnya Mesias adalah sebagai "solusi" dalam masa krisis; Masa Israel ditawan oleh bangsa-bangsa lain.[14]

Mesias dalam Perjanjian Baru[sunting | sunting sumber]

Dari berbagai istilah tentang Kristus pada orang-orang pada masa Awal Masehi sudah beragam. [6] Informasi lain, Yesus disebut sebagai Mesias dari Israel, Mesias adalah Kristus disebutkan Paulus sebanyak 270 kali dan variasi nama Yesus Kristus atau Kristus Yesus sebanyak 109 kali.[7] Nama itu menunjuk pada : Allah, Tuhan atau kata ganti yang menjurus pada Allah.[7]

Ia bertanya pada mereka, "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?"

Petrus menjawab, "Engkau adalah Mesias (bahasa Inggris: You are The Christ.)

Markus 8:29

Demikian juga kata Marta dalam Injil Yohanes:

Engkau adalah Mesias, Anak Allah, Dia yang datang ke dalam dunia

Yohanes 11:27


Injil Yohanes dilihat sangat khusus dalam pandangan Kristologi, bahwa Firman atau λόγος, Allah sendiri menjadi manusia, dalam wujud Kristus.[12] Di sini dijelaskan bahwa Kristus yang adalah Yesus itu adalah Allah sendiri, Ketuhanan Yesus merupakan pusat Teologi Perjanjian Baru, menurut Miller, "Yesus adalah Allah".[12]

Kristologi dari Zaman ke Zaman[sunting | sunting sumber]

Abad Pertama Masehi (Kristologi menurut Perjanjian Baru)[sunting | sunting sumber]

Kristologi yang ditemukan dari Injil berpusat pada sejarah kehidupan Yesus dalam tindakan-tindakannya.[6][7] Hal tersebut dapat dilihat melalui beberapa pernyataan tokoh-tokoh di dalam kitab-kitab Perjanjian Baru: .[6][7] Jawaban-jawaban tentang siapa Yesus, adalah sebagai berikut:[7]

  • Paulus : Yesus adalah Kristus yang disalibkan dan dibangkitkan.[7]
  • Markus : Yesus adalah Mesias.[7]
  • Matius : Yesus adalah Musa baru, pengajar hukum baru.[7]
  • Lukas : Yesus, yang penuh dengan Roh Kudus, adalah Juru Selamat semua orang.[7]
  • Yohanes - Yesus adalah Sabda Allah yang menjelma sebagai manusia.[7]

Yesus pada zaman-Nya dikenal sebagai orang Nazaret yang bertindak revolusioner, sebagai orang Yahudi yang melampaui Hukum Taurat.[6] Dari ajaran-ajarannya itulah, orang-orang (Kristen) dari zaman Perjanjian Baru hingga saat ini mempercayai-Nya sebagai Tuhan.[6]

Kristologi Abad 2 - 11)[sunting | sunting sumber]

Pada abad kedua, Kristologi belum terlalu diperdebatkan, namun sudah terdapat banyak pertanyaan ontologis tentang Ketuhanan Yesus.[6] Masyarakat waktu itu ingin sekali mengetahui siapa Yesus sebenarnya, dalam kaitannya dengan Allah.[6] Kemudian secara hakekat, terdapat tokoh bernama Arius yang mengatakan bahwa Allah tetap Allah, dan hanya ada satu, Allah tidak mungkin ada bersatu (sehakikat) dengan sesuatu yang terbatas. Menyebut Yesus "Anak Allah" sama artinya menghujat Allah karena yang ilahi dan tak terbatas disatukan dengan yang jasmani dan terbatas.[6]

Kristologi-Logos[sunting | sunting sumber]

Kristologi-Logos ini terdapat dalam Injil Yohanes 1:1-4 bahwa fungsi logos ada dua: kosmomologis yaitu sebagai penciptaan dan revelatoris-soteriologis yang artinya Penyelamat melalui Pewahyuan.[10] S. Ignasius dari Antiokhia menyebutkan Yesus "Sang Logos" yang mana Logos (sabda) itu tidak lagi berdiam diri, melainkan menyatakan diri untuk menyelamatkan.[10] Jadi bagi Ignasius, Sabda adalah keseluruhan tujuan komunikasi, revelatoris-soteriologis, bukan fungsi kosmologis.[10] Ajaran Kristologis-Logos ini ada dua, yaitu yang klasik dan yang modern.[10]

Arianisme[sunting | sunting sumber]

Arianisme adalah ajaran yang dikeluarkan oleh Uskup Arius pada tahun 300.[10] Dister menganggapnya sebagai kecenderungan manusia untuk mempersempit misteri Allah.[10] Arius menganggap Yesus sebagai ciptaan saja, walaupun paling agung, hal ini dipengaruhi dengan gambaran Allah pada dirinya, lalu dia menyimpulkan "Yesus bukan Allah".[10]

Nestorianisme[sunting | sunting sumber]

Nestorianisme adalah ajaran yang dikeluarkan oleh Uskup Nestorius pada tahun 400.[10] Menurut Nestorius, Putra Allah di surga dan manusia Yesus di bumi bukanlah satu pribadi yang sama, melainkan dua pribadi.[10] Keduanya memang berkaitan satu sama lain, tapi toh tinggal tetap dua.[10] Akal budi manusia ingin mempertahankan gambaran Allah yang "murni", surgawi dan rohani.[10] Maka Allah Putra dipisahkan dari Yesus yang pernah berkeliling di dunia ini.[10]

Monofisitisme[sunting | sunting sumber]

Monofisitisme adalah ajaran yang meyakini bahwa Yesus hanya satu kodrat, yaitu ilahi.[10] Monofisit berasal dari Bahasa Yunani, νόμος yaitu satu, dan φύσης berarti kodrat, jadi Kristus hanya memiliki satu kodrat, hal ini bertentangan dengan Nestorianisme.[10] Yesus yang berjalan-jalan di bumi sebenarnya adalah Allah, kemanusiaan Yesus dianggap hanya semu saja.[10]

Kristologi pada Abad 4 dan 5 Masehi di mana Konsili Nikaia (Nicea), Efesus dan Khalsedon adalah doktrin Kristus yand dirumuskan pada tiga konsili itu.[6] Konsili Nicea, Efesus dan Khalsedon adalah upaya untuk membela iman mereka dari berbagai pengajaran di atas.[10]

Konsili-Konsili[sunting | sunting sumber]

Konsili Pertama Nicea

Konsili Nicea (325) Dalam Konsili Nicea, para uskup dari Timur memutuskan bahwa sebutan Allah digunakan bukanlah untuk kehormatan saja.[6] Dalam Syahadat Nicea yang masih didaraskan dan dinyanyikan gereja dewasa ini, Yesus diakui sebagai "Allah dari Allah, Terang dari Terang, Allah benar dari Allah benar; dilahirkan, bukan dijadikan, sehakekat dengan Bapa." [6] "Jika syahadat ini tidak benar, kita tidak akan diselamatkan oleh Yesus." Demikian kata mereka. [6] Konsili Nicea memelihara Gereja dari bidaah Arianisme.[10] Yesus dari Nazaret, Sang Kristus, Allah betul-betul menyatakan diri di bumi kita ini.[10] Konsili Kontantinopel pada tahun 381 juga berpikir demikian, Para Uskup dari Timur berpikir bahwa kita (umat Kristen) diselamatkan oleh Allah yang mengambil sepenuh-penuhnya apa yang menjadi sifat kodrat manusia.[6] Jika ada sesuatu yang tidak diambil dalam penjelmaan, maka sesuatu itu tidak ditebus.[6] Maka, Yesus benar-benar seutuhnya manusia menjadi kebenaran yang menyelamatkan.[6] Maka Konsili ini meneguhkan pandangannya dalam Syahadat Nicea Konstantinopel

Namun di lain pihak ada beberapa orang yang cenderung menekankan keilahian Yesus sehingga mereka tidak melihat bahwa ia benar-benar manusia.[6]

Sebab Ia makan, bukan untuk keperluan tubuh, yang kesegaran dan keutuhannya dijaga oleh suatu daya kekuatan suci, tetapi untuk keperluan agar mereka yang ada bersama-Nya tidak mempunyai pikiran yang lain tentang diri-Nya

Klemens dari Aleksandria

Tuhan kita merasakan beratnya tekanan penderitaan tetapi tidak merasakan sakitnya; paku-paku menembus daging-Nya seperti suatu benda melewati udara tanpa rasa sakit

Hilarus dari Poitiers

Barang-barang pertengahan terbentuk ketika sifar-sifat yang berbeda digabungkan menjadi satu dalam satu barang, misalnya sifat-sifat keledai dan kuda dalam bagal (peranakan keledai), dan sifat-sifat warna putih dan hitan dalam warna abu-abu. Akan tetapi, dalam makhluk pertengahan sifat-sifat yang berbeda-beda itu tidak berada sepenuhnya, tetapi hanya sebagian-sebagian saja; jadi, Ia bukan sepenuhnya manusia dan bukan pula sepenuhnya Allah, melainkan pembauran Allah dan manusia

—Uskup Apollinarius

Konsili Efesus Konsili Efesus tahun 431 memelihara gereja dari bidaah Nestorianisme. [10] Konsili Efesus mewartakan bahwa - betapapun besarnya kodrat Ilahi dan kodrat insani - hanya ada satu pribadi saja dalam Yesus Kristus, di dalam manusia Yesus kita menemukan Allah.[10] Untuk mengungkapkan misteri Kristus ini dengan setegas-tegasnya, maka Konsili Efesus memberikan gelar Teotokos kepada Maria, artinya "Bunda Allah".[10]


Menurut Konsili Khalsedon Konsili Khalsedon tahun 451 memelihara gereja dari bidaah monofisitisme.[10] Jika Nestorianisme mengatakan satu pribadi Yesus hanya Ilahi saja, maka Konsili Khalsedon mengggarisbawahi kemanusiaan Yesus dengan menegaskan bahwa dalam diri Yesus yang satu dan tunggal itu hadirlah bukan saja kodrat ilahi, tetapi juga kodrat insani seluruhnya.[10] Di dalam manusia yang sungguh-sungguh, nampak pula Allah yang sungguh-sungguh.[10] Sama luhurnya dengan Allah yang dekat, tergerak oleh belas kasihan, berjuang melawan kejahatan.[10] Di sini, keilahian dan kemanusiaan Yesus tidak tercampur, tidak tergantikan, tidak terpisahkan, tidak terbagi, hal ini nanti diteruskan oleh Karl Rahner.[15] Jadi, Yesus adalah simbol Allah, kata Roger Haight.[15]

Dari ketiga pernyataan Magisterium Gereja mengenai kristologis, maka misteri Allah menjadi terbuka, tidak dipersempit oleh akal budi, orang Kristen menemukan inti sari misteri Allah yang sebenarnya.[10] Hati manusiawi Yesus itu hati Allah.[10]

Abad Pertengahan - Reformasi[sunting | sunting sumber]

Selama Abad pertengahan hingga masa reformasi, ajaran tentang Kristus tidak terlalu banyak berubah, ditandai dengan tafsir filsafat saja oleh orang-orang Yunani.[16] Luther dididik dalam teologi Skolastik, namun berkat pengajaran yang ia terima dari Bapa Gereja Agustinus, dia kemudian merencanakan sebuah perubahan besar.[16] Ia menolak Skolastik bukan karena metodenya, namun karena isi ajarannya.[16] Dengan Roma 1:16-17 dia menemukan "Keadilan Allah" (iustitia Dei)di mana menurutnya sudah tidak ada lagi pada Gereja Roma.[16] Keadilah Allah adalah bahwa setiap manusia dihukum sesuai dengan perbuatannya, namun diselamatkan oleh kasih karunia Allah di dalam Kristus.[16] Pengakuan tertinggi bahwa Kristus yang benar itu mampu menyelamatkan manusia yang berdosa sebagai ajaran yang tertinggi.[16]

Modern[sunting | sunting sumber]

Teologi memang selalu mengikuti perkembangan, tidak komprehensif namun framentaris, kontekstual, multikultural, dapat diterima oleh budaya setempat.[17] Teologi Kristen yang berpusat pada kristologi juga demikian, perjumpaan dengan Kristus selalu dialami dalam konteks tertentu, mengindahkan kenyataan hidup umat (Kristen) yang dilayani yang berada dalam pluralisme konteks.[17]

Kristologi dalam perjumpaan dengan umat beragama lain dapat membantu umat Kristen membaca Kristus dengan lebih luas, Kristus dalam Filipi 2:7-8 menyatakan Kristus sebagai manusia, bahkan hamba.<[17] Ini komentar dari umat Buddha di Srilanka.[17] Dari Umat Islam, Kristus adalah Nabi, mengikuti Yesus berarti mengikuti nabi dan hidup profetis, menjadi saksi Allah dalam berbela rasa terhadap penderitaan mansuia.[17] Kristus bukan milik ekslusif Gereja lagi, namun terbuka bagi kehidupan universal.[17]


Isu-isu pada zaman modern yang harus dijawab oleh Teologi (Kristologi) sangat beragam, pluralisme, ke[miskin]]an, perang, penderitaan, bencana alam dsb.[17][18] John Hick mengutip pandangan Knitter tentang keunikan Yesus dalam lima hal; 1. Agama lain mungkin juga menjadi bagian dari karya Allah yang ingin menyelamatkan manusia, namun tidak senyata-nyata seperti Kristus, agama lain lebih pada kemungkinan-kemungkinan atau probabilitas.[18] 2. Dalam dialog antar iman: Kristus sebagai wahyu sangatlah kuat, bahkan terus membuka ruang untuk didiskusikan.[18] 3. Allah sungguh-sungguh berkarya dalam Kristus[18] 4. Kristus Memedulikan keadilan sosial, dan di sini kasih Kristus dilihat secara hubungan mutualis karena kasih-Nya dibutuhkan dalam situasi ini, yaitu sebagai [Teologi Pembebasan|pembebas]].[18] Dalam pandangan Yesus sebagai Anak Allah adalah Juruselamat secara universal.[18] 5. Tuhan sebagai muara akhir yang transenden dan misteri, hal ini melengkapi kriteria Tuhan yang tidak bisa dijangkau manusia.[18] Kristologi sangat bersifat soteriologis kontekstual yang membangun suatu komunitas manusiawi antar iman.[17] Kristologi juga ditemukan dalam Christo-Praxis dan Christo-doxi yang terus menerus dan kontekstual.[19] Di sini Kristologi dihadapkan pada mamon yaitu kekuatan materialisme yang membawa kehidupan berpusat pada harta benda.[19]

Kristologi Feminis[sunting | sunting sumber]

Kristologi Feminis adalah Kristologi yang memakai pendekatan feminis, yakni dari kacamata ketidakadilan, penindasan dan penderitaan.[17] Kristologi ini dibagi menjadi dua; di Barat disebut Kristologi ekofeminis dan di Timur disebut Kristologi feminis Kosmis.[17] Allah umat Kristen yang selama ini didominasi oleh kaum laki-laki karena dalam diri Yesus yang laki-laki kemudian digeser menjadi Kristus yang menyimbulkan keduanya.[17] Kata logos yang tadinya dalam Injil Yohanes 4:1-42 adalah maskulin yang menjadikan kecenderungan patriarkal, maka dipahami sebagai sofia dalam perspektif feminis.[17] Hal ini diperoleh dari kehidupan Yesus yang sangat menghargai kaum perempuan, dalam karya-karyanya, bahkan ketika Dia bangkit, perempuanlah yang pertama kali melihat kuburnya yang kosong.[17] Simbol sofia digunakan oleh Paulus untuk menggambarkan Yesus sebagi hikmat Allah dalam I Korintus 1:24[17] Kristologi feminis-kosmis mengajak umat Kristen untuk mendengarkan korban ketidakadilan dan menginternalisasikan jeritan itu menuju praksis solidaritas.[17]

Dimensi Kristologi[sunting | sunting sumber]

Ketuhanan Yesus (Keilahian Kristus) "Yesus adalah Tuhan", hal ini diyakini umat Kristen dan Katolik.[13] Ini problem terbesar bagi orang Kristen ketika diperhadapkan dengan orang-orang beragama lain.[13] Inilah yang membedakan umat lain, sebab tidak sama dengan tokoh-tokoh panutan agama lain seperti Krisna, Muhammad, Sang Budha, Konfusius atau Lao Tse.[13] Namun Yesus Kristus diyakini umat Kristen sebagai satu-satunya jalan keselamatan. [13] Keilahian Kristus adalah hakekat Kristus sebagai Tuhan. Sebutan "Tuhan Yesus" dimulai dari teologi di negara-negara Barat. "Lord Jesus" diartikan Tuhan Yesus.

Kemanusiaan Yesus[sunting | sunting sumber]

Yesus manusia dari Buku Imanuel karya Tom Jacobs

Pada abad-abad pertama dan kedua, Bapa-bapa Gereja lebih memikirkan hakekat keilahian Kristus, tidak terlalu dijelaskan tentang kemanusiaan-Nya.[11]Seperti yang diyakini oleh Athanasius yang mengakui jiwa Kristus, namun tidak benar-benar meyakini kemanusiaan Kristus, dia berpusat pada soteriologi melalui logos itu.[20] Namun pembicaraan dalam masyarakat sangatlah kuat akan hakekat, yaitu "se-hakekat" (homo-usios), atau serupa hakekatnya (homoi usios), atau serupa saja (homoios)[20] Pernyataan pertama oleh Konstantinopel, dengan filsafat Yunani, bahwa Kristus tidak akan bisa menyelamatkan manusia sebagai Allah, kalau dia tidak juga menjadi manusia.[16] Hal ini bertolak dari Injil-Injil yang menceritakan Yesus sebagai manusia.[16] Jadi manusia sebenarnya dapat diilahikan melalui persatuan dengan Kristus melaui Perjamuan Kudus.[16]Namun paham ini segera ditolak oleh seseorang bernama Apollinaris dari Laodikia (meninggal kira-kira 390 M.) yang menyatakan bahwa dalam kemanusiaan Kristus Logos ilahi menggantikan akal budi manusiawi, dan mengurangi kemanusiaan dalam Kristus.[16] Namun ia segera menyadari bahaya yang memporak-porandakan kesatuan keila-hian dan kemanusiaan Kristus. Sebagai seorang yang teguh mempertahankan konfesi Nicea dan teman seperjuangannya Athanasius. Dia menolak hakekat Kristus sebagai manusia.[11] Namun kayakinan ini nanti akan mengalami penentangan oleh Konsili-konsili (Efesus dan Khalsedon)yang mengutuknya, sehingga pengikutnya kembali ke gerja resmi dan sebagian mengikuti dalil monofisitisme.[11][21] Ajarannya disebut oleh Gereja Roma dekat dengan doketisme.[21] Ajaran ini dikuatirkan oleh Konsili Khalsedon dengan alasan jika Kristus tidak sepenuh-penuhnya manusia, maka mustahil manusia dipersatukan dengan Allah. Sejarah gereja Oleh [22] Nestorius dari Cyrillus juga tidak mengakui hakekat kemanusiaan Kristus, apalagi ada sebutan Bunda Allah bagi Maria, hal ini tidak masuk akal banginya.[22] Jika Yesus melakukan tindakan yang penuh kuasa (mujizat) maka sebenarnya yang bertindak adalah Allah, jika Yesus sengsara dan mengalami mati, maka dia adalah manusia.[22] Namun hal ini bukanlah merupakan keesaan, melainkan keduaan, sebab hakekat mereka tidaklah sama.[22] Yang sama antar Yesus dan Allah adalah kehendaknya, sebab Merek berkasih-kasihan, katanya.[22]

Maka untuk meredam semua perdebatan yang sudah sangat memuncak ini, diadakanlah Konsili Khalsedon di seberang Konstantinopel, dengan pernyataan:[22]

Kristus bukan bertabiat satu (Alexandria) namun juga bukan bertabiat dua (Antiokhia) melainkan, "Ia bertabiat dua dalam satu oknum", kedua tabiat ini "tidak bercampur dan tidak berubah" (melawan Eutyches) dan "tidak terbagi dan tidak terpisah" (melawan Nestorius) Dengan demikian Gereja mengaku bahwa sebenarnya keadaan Yesus Kristus itu tinggal satu rahasia yang tidak dapat dipahami oleh akal budi manusia

Pendamaian Kristus[sunting | sunting sumber]

Pendamaian Kristus berarti Kristus sebagai pendamai antara Allah dengan manusia.[23] Pendamaian ini diperlukan karena hubungan manusia dan Allah sudah putus disebabkan dosa-dosa manusia.[21] Antara Allah yang kudus dan manusia yang berdosa terdapat jarak yang memisahkan.[21] Jadi Kristus diutus untuk datang ke dunia, sehingga hubungan itu bisa dipulihkan.[21] Makna Kristus sebagai Sang Pendamai dilalui dengan peristiwa penyalibannya di bukit Golgota.[21] Dari peristiwa inilah Kristologi terkait pendamaian yang dilakukan Kristus di kayu salib dibicarakan.[23][21]

Kristus Sang Pembebas[sunting | sunting sumber]

Kristus Sang Pembebas adalah makna yang selalu hadir terkait dengan penderitaan yang ingin dientaskan oleh Kristus.[24] Mulai dari istilah Mesias dalam Perjanjian Lama dan Kristus dalam Perjanjian Baru, selalu dikaitkan sebagai pembebas.[24] Kematian Kristus di kayu Salib adalah wujud tindakan Allah untuk menebus dosa manusia terkait akibat dosa yaitu maut.[24][25]

Tokoh-tokoh Kristologi[sunting | sunting sumber]

Para pemikir yang menghuni pada 'ruang' pemikiran Kristologi ini sangat banyak, terbentang dari Bapa-bapa Gereja abad kedua, Abad ke empat, reformasi bahkan hingga sekarang.

Anselmus dari Cantebury[sunting | sunting sumber]

Anselmus adalah [teolog]] dan filsuf yang hdip pada Abad Pertengahan.[21] Berasal dati Italia, terkenal dengan pemikiran Skolastisismenya. [21] Karya yang paling terkenal berjudul [[Cur Deus Homo (Mengapa Allah menjadi Manusia).[21]Di dalam konteks sosiologis feodalisme, Anselmus menelaah mengapa Allah menjadi manusia dan harus mati untuk menyelamatkan kita? Sebab, tidak adalah cara lain untuk meyelamatkan? [6][21] Menurut Anselmus, bahwa Yesus Kristus wafat untuk melakukan silih (ganti) atas dosa; tanpa penyilihan itu tatanan alam semesta akan kacau balau untuk selamanya.[6][21] Dengan jalan itu, baik keadilan, anugerah maupun kasih Allah dipenuhi dan disempurnakan.[21] Anselmus memulai teologinya dari keyakinannya bahwa seseorang bisa berteologi hanya setelah dia beriman [21] fides quarens intellectum. Iman ini mencakup sikap iman fides qua creditur maupun isi iman fides quae creditur. [17] Dengan demikian, obyek teologi sebenarnya adalah peristiwa perjumpaan dan komunikasi Allah dan manusia berlangsung melalui Yesus Kristus dalam Roh Kudus merupakan realitas dinamik yang terus berlangsung di seluruh sejarah Gereja.[17]

Thomas Aquinas (1225-1274)[sunting | sunting sumber]

Thomas Aquinas adalah tokoh Skolastik yang terbesar di abad pertengahan dari Italia.[21] Ia adalah seorang Katolik yang saleh, mengenyam pendidikan di berbagai sekolah Katolik dan mengajar Filsafat dan Teologi di Paris.[21] Pemikirannya tentang kodrat manusia adalah, bahwa manusia menjadi tidak sempurna ketika jatuh dalam dosa, dan diselamatkan Allah melalui rahmat adikodrati yang ditawarkan Gereja.[21]

Martin Luther (1483-1546)[sunting | sunting sumber]

Martin Luther adalah seorang imam Katolik di Jerman pada era Reformasi, dialah yang membawa pembaharuan agama, sehingga Gereja Lutheran terbentuk.[21] Ajarannya tentang Kristus adalah bahwa setiap orang Kristen tidak bebas dari Kristus, melainkan bebas dalam Kristus.[21]

Yohanes Kalvin (1509-1564)[sunting | sunting sumber]

Yohanes Kalvin adalah seorang pemimpin reformasi gereja di Swiss.[21] Dia dilahirkan di kota Noyon, Perancis. Dia ahli hukum dan teologi, dia banyak membantu gereja di Jenewa ketika reformasi, dia djuga dikenal dalam sumbangannya terhadap pembaharuan Mazmur Jenewa.[21] Seperti halnya Luther, dia mengajarkan bahwa manusia dibenarkan hanya oleh iman atau Sola Fide.[21] Keselamatan didapat dari Allah sebagai karunia di dalam Kristus.[21]

Terkait dengan dalilnya dalam Trinitas, yaitu Bahwa Allah Bapa sebagai asal perbuatan, Putera sebagai asal dari hikmat, maksud dan kehendak dan Roh Kudus sebagai kekuatan dan dorongan untuk berbuat..[26] Tidak satu pun dari ketiga oknum ini bekerja sendirian.[26]

Tabiat Kristus; Keallahan-Nya dan kemanusian-Nya sangat dipertahankan oleh Kalvin, Kristus adalah perantara bagi manusia.[26] Kristus adalah benar-banar Allah.[26]

Dalam diri Kristus, seolah-olah Allah memperkecil Diri-Nya untuk dapat mendapatkan daya mengerti manusia yang picik itu

[26]

Tujuan tertinggi kemanusiaan Kristus ialah:

Tuhan Yesus telah mengenakan diri Adam, telah memakai nama-Nya untuk sebagai gantinya taat kepada Bapa, untuk menyerahkan daging tubuh kita selaku korban bagi pemenuhan penghakiman Allah yan gadil dan dalam dagin gitu melunaskan hukuman, yang seyogyanya kita yang menerimanya. Pendeknya, andaikata Ia Allah saja, tak mungkin Ia dapat mati, dan andaikata Ia hanya manusia, tak dapat Ia mengalahkan maut. Itulah sebabnya Ia telah mempersatukan tabiat [insani]] dan Ilahi dalam diri-Nya, untuk menyerahkan tabiat insani yang tak berdaya itu kepada maut dan untuk dengan tabiat Ilahi-Nya bergumul daengan maut dan memperoleh kemenangan bagi kita, untuk menebus dosa manusia

[26]

Perbedannya dengan Luther adalah penghargaan terhadap kemanusaiaan Yesus itu, bahwa kehadiran dalam Perjamuan Kudus secara transubtansiasi merendahkan kemanusiaan Kristus.[26]

Karl Rahner (1904-1984)[sunting | sunting sumber]

Karl Rahner dilahirkan di keluarga Katolik Bavaria - Jerman Barat, terdidik dalam ketaatan.[13] Pada Perang Dunia II tidak dikenal, namun tahun 1960 pada Konsili Vatikan II menjadi pusat perhatian dalam teologi modern.[13] Teologinya dianggap sebagai aliran neo-skolastisisme yang dipengaruhi Aquinas.[13] Karl Rahner dalam berkristologi ingin menekankan pada "sesuatu" yang berasal dari dialektis (perjumpaan) antara simbol dan penyimbolan, terkhusus pada simbol Yesus.[15] Simbol menurut Rahner adalah "sesuatu yang menjadi perantara sesuatu lain dari dirinya sendiri.[15] Petunjuk penting adalah bahwa Yesus adalah benar-benar dari Allah untuk dunia.[15] Kristologi Thomas Aquinas yang berpusat pada inkarnasi Allah pada diri Yesus.[27] Karl Rahner menyebutnya, Yesus sebagai "Tuhanku dan Allahku".[27] Melalui teori simbol (Yunani : σύμβολο) bahwa melalui yang ada saat ini, maka kita bisa mendapati yang lain.[28] Melalui kemanusiaan Kristus yang terbatas, kita mendapati Allah yang tak terbatas.[13] Bagi Rahner, Kedatangan Kristus bukan karena semata-mata harus mengampuni dosa manusia, melainkan karena rahmat.[28] Seandainya Adam tidak berdosa, Rahner mengandaikan Kristus tetap akan datang kedunia, meninggal, dan bangkit kembali.[28] Rahner tidak menolak kenyataan atau daya tarik dosa dan kejahatan, ia juga tidak menyangkal bahwa inkarnasi, salib, dan kebangkitan kembali berkaitan dengan pengampunan dosa.[13] Tetapi itu semua bukanlah pokok persoalannya; Kristus tidak bisa dilihat hanya sebagai obat bagi dosa-dosa kita.[28] Dosa, seperti yang dilihat oleh Rahner, tidak bisa menjadi motor penggerak cerita tentang keterlibatan Allah dengan dunia.[13]

Kristologi Rahner sebenarnya bertolak dari Konsili Khalsedon.[13] Kristologi yang dirumuskan pada akhir masa perjuangan politik, gereja sehingga dapat diterima sebagian besar perserta Konsili, di mana dalam Kristus ada kemanusiaan dan keilahian secara bersamaan.[13] Kristus dan rahmat menjadi pemikiran yang cemerlang dari Karl Rahner, Allah bisa dilihat dari kemanusiaan Kristus dan bermula dari kemanusiaan 'kita'.[28] Di sinilah perbedaan kristologinya dengan Karl Barth.[13] Menurut Barth, Allah tidak bisa dikenal dari sekadar membicarakan manusia.[28]

Karl Barth (1886-1968)[sunting | sunting sumber]

Karl Barth adalah teolog dari Swiss pada era reformasi di abad ke-20, dia membawa pembaharuan yang besar dari teologi abad 19.[21] Dia belajar teologi di Jerman.[21] Teologinya disebut dialektis, sebab berawal dari Allah yang ada di Sorga dan suci, dia mengirimkan Kristus yang begitu dekat di dunia yang hina, sehingga pertemuan dua hal yang bertentangan ini disebut dialektis.[21]

Kristologi Barth dimulai dari pre-eksistensi Kristus, Kristus menjadi sentral teologinya.[21] Tuhan Allah menyatakan anugerahnya dalam Kristus sekaligus mengikatkan diri-Nya pada Kristus.[21] Pemulihan manusia ditentukan pada pemilihan Tuhan Allah terhdap Kristus, Allah memilih Kristus sekaligus Tuhan Allah memilih manusia sebagai sekutu-Nya.[21]

Gustavo Gutierrez[sunting | sunting sumber]

Gustavo Gutiérrez Merino, O.P. (lahir di Lima, Peru, 8 Juni 1928; umur 82 tahun) adalah seorang teolog Peru dan imam Dominikan, Amerika Latin.[24] Dalam bukunya yang sangat terkenal Teologi Pembebasan terjemahan dari judul asli Liberation of Theology tahun 1971, dia meyatakan bahwa penindasan oleh kapitalisme harus dilawan.[24] Bagi dia, Amerika Latin lebih membutuhkan pembebasan dibanding pembangunan.[24] Kristus harus dimaknasi sebagai pembebas dari segala penindasan dan ketidakadilah yang sedang berlangsung.[24] Sebelum Gutierrez juga telah ada seorang martir yang menerbitkan buku yang isinya sangat kotroversi, yaitu Imam Kolumbia Camillo Torres yang menyatakan bahwa "setiap orang Katolik yang tidak revolusioner hidup dalam dosa dan layak dihukum mati".[24] Banyak buku-buku yang diterbitkan pada zaman Gutierrez ini bertema tentang pembebasan.[24]

Kristologi pembebasan memiliki landasan yang kuat berakar pada pemahaman bahwa Kristus adalah Sang pembebas.[24] Pembebasan tersebut dilihat sebagai wujud kesatuan dengan Yesus Kristus sebagai Pembebas, wujud penyembahan kepada Allah yang mendengarkan jeritan umat-Nya dan menghendaki keadilan.[25]

Teologi Guiterrez bisa kita lihat dalam salah satu kutipan berikut ini: [25]

Berlaku adil berarti menjadi setia pada perjanjian. Kesetiaan berarti kekudusan. Keadilah dalam Kitab Suci adalah pengertian yang membawa bersama relasi dengan kaum miskin dan relasi dengan Allah. Hanya dalam jalan ini dicapai kekudusan. Setia pada perjanjian berarti mempraktekkan keadilan yang berlaku dalam tindakan Allah yang membebaskan kaum tertindas

Gustavo Guiterrez

Lihat Pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Who do you say that I am? Essays on Christology by Jack Dean Kingsbury, Mark Allan Powell, David R. Bauer 1999 ISBN 0-664-25752-6 page xvi
  2. ^ a b c d (Indonesia)C Groenen., Pustaka Teologi Sejarah Dogma Kristologi,Yogyakarta: Kanisius, 1998
  3. ^ a b (Indonesia) Louis Berkhof., Teologi Sistematika - Doktrin Allah, Surabaya: Pusat Literatur Kristen Momentum (LRII) 1993
  4. ^ a b c d e Nico Syukur Dister., Teologi Sistematika - Allah Penyelamat, Yogyakarta: Kanisius, 2004
  5. ^ a b c (Inggris)Jaroslav Pelikan., Images of Christ: His Place in The History of Culture, New Haven, CN: Yale University Press, 1985
  6. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x (Inggris)Johnson. Elizabeth., Kristologi di Mata Kaum Feminis,Yogyakarta: Kanisius, 2003
  7. ^ a b c d e f g h i j k l (Inggris) Martin Hengel., Studies in Early Christology, Scotland: T&T Clark Ltd, 1995
  8. ^ Celia Drummond Deane., Teologi Dan Ekologi, Yogyakarta: BPK Gunung Mulia, diterjemahkan oleh Robert P. Borong- Cetakan ketiga 2006
  9. ^ a b (Indonesia)J Sudarminta. dkk., Dunia, Manusia dan Tuhan, Yogyakarta: Kanisius 2008 Hlm. 42-44
  10. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z aa ab ac (Indonesia)Nico Syukur Dister., Kristologi - Sebuah Sketsa, Yogyakarta: Kanisius
  11. ^ a b c d (Indonesia)Bernard Lohse., Pengantar Sejarah Dogma Kristen, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006 Hlm 90
  12. ^ a b c (Indonesia)Mangapul Sagala. ., Firman Menjadi Daging, Jakarta: Perkantas 2009
  13. ^ a b c d e f g h i j k l m n o (Inggris)Karen Kylbi., Karl Rahner - terjemahan, Yogyakarta: Kanisius, 2001
  14. ^ a b c d e (Indonesia)S.M. Siahaan., Pengharapan Mesias dalam Perjanjian Lama, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001
  15. ^ a b c d e (Inggris)Anne M. Clifford., di tulis oleh Robert Masson - The Clash of Christologcal Symbols dalam Christology; Memory, Inquiry, Practice, USA: The College Theology Society 2003 Hlm. 63-86
  16. ^ a b c d e f g h i j (Indonesia)Christian De Jonge., Gereja Mencari Jawab, Jakarta: BPK Gunung Mulia 2003
  17. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q (Indonesia)Jurnal Filsafat Iman., Menguji Omongan Agama, Yogyakarta: Kanisisus, 1997
  18. ^ a b c d e f g (Inggris) John Hick., Dalam Dialog dengan Paul F. Knitter Dialogues in the philosophy of religion New York: Palgrave, 2001
  19. ^ a b (Inggris)Aloysius Pieris., Universality and Christianity, Vidyajyoti 1993 Hlm. 591-599
  20. ^ a b Tom Jacobs, SJ., Imanuel: Perubahan Dlm. Perumusan Iman Akan Yesus Kristus, Yogyakarta: Kanisius 2000
  21. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z aa ab ac (Indonesia)F.D. Wellem., Riwayat Hidup Singkat tokoh-tokoh dalam Sejarah Gereja, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1987
  22. ^ a b c d e f (Indonesia)H. Berkhof,I.H. Enklaar., Sejarah Gereja, Jakarta: BPK Gunung Mulia, Cetakan-9 2009
  23. ^ a b Joas Adiprasetya., Berdamai dengan Salib, Jakarta: Grafindo dan UPI STT Jakarta, 2010
  24. ^ a b c d e f g h i j (Indonesia)Tony Lane., Runtut Pijar - Cet. 7, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2007
  25. ^ a b c Y. W. Wartaya Winangun., Tanah sumber nilai hidup, Yogyakarta: Kanisius, 2004
  26. ^ a b c d e f g (Indonesia) W.F. Dankbaar., Calvin- Hidup dan Karjanja, Jakarta: Badan Penerbit Kristen 1967
  27. ^ a b (Inggris)Brian Davies., The thought of Thomas Aquinas,New York: Oxford University Press, 1992
  28. ^ a b c d e f (Inggris) Karl Barth., The Word of God and The Word of Man, USA: Peter Smith Publisher Inc 1958