Athanasius

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Saint Athanasius dari Aleksandria
Icon of St Athanasius
Pope of Alexandria; Confessor and Doctor of the Church
Lahir around 293, Alexandria, Egypt
Wafat 2 Mei 373, Alexandria, Egypt
Dihormati di Oriental Orthodoxy, Eastern Orthodoxy, Gereja Katolik, Lutheranisme, Komuni Anglikan, and among the Continuing Anglican Movement
Tempat ziarah utama Saint Mark Coptic Orthodox Cathedral in Cairo, Egypt
San Zaccaria, Venice, Italy
Hari peringatan 15 Mei = 7 Pashons, 89 A.M. (Coptic)
2 Mei (Kristen Barat)
18 Januari (Gereja Orthodoks Timur)
Atribut Bishop arguing with a pagan; bishop holding an open book; bishop standing over a defeated heretic

Athanasius adalah seorang uskup yang dikenal sebagai uskup yang gigih dengan pandangannya tentang "Allah yang Tritunggal". [1] Semasa hidupnya, ia mempertahankan pandangan tersebut untuk melawan Arianisme, kelompok yang menentang keallahan Kristus. [2] Athanasius juga memberikan kontribusinya dalam pembuatan Kanon perjanjian baru. [3] Selain itu, beberapa karya tulisnya menjadi sumbangsi terbesar bagi gereja-gereja saat itu. [3]

Daftar isi

[sunting] Riwayat Hidup

Athanasius lahir pada akhir Abad ke-3 Masehi.[2] Athanasius dikatakan sebagai bagian dari kelompok koptik karena saat itu, ia berbicara dengan bahasa Koptik, bahasa asli dari sebuah daerah yang berhasil ditaklukkan oleh Yunani-Romawi.[4] Atas keterangan ini, ia dikenal menjadi bagian dari kelompok Koptik. Athanasius juga tidak pernah mengklaim bahwa ia dilahirkan dari kalangan atas dan berpengalaman dalam budaya Yunani-Romawi.[4] Ia adalah bagian dari kelas bawah di Mesir. [4] Pada awal karirnya ia tinggal bersama Uskup Iskandariah dan selang beberapa waktu menjadi Diaken.[2] Athanasius mengikuti uskup Aleksandria ke Konsili Nicea. [2]Ia menjadi uskup menggantikan Uskup Aleksandria yang meninggal pada tahun 328. [2] Keuskupannya ditandai dengan tiga keprihatinan: organisasi amal selama masa kelaparan, organisasi yang hidup dalam kehidupan biara, dan memperhatikan ortodoks dan persatuan dalam periode yang diliputi dengan perselisihan antara Arius dan Athanasius. [5] Athanasius menjadi uskup selama 45 tahun dan meninggal pada tahun 373.[2]

[sunting] Ajaran

[sunting] Keallahan Kristus

Hasil perjuangan Athanasius, yaitu Gereja Kristen menyingkirkan roh Yunani yang memberikn keselamatan. [1] Hal ini membuktikan bahwa Kristus , anak Allah berbeda jauh dengan Logos filsafat Yunani yang hanya setengah zat dengan ilahi di antara Allah dan dunia. [1] Athanasius begitu gigih mempertahankan bahwa keselamatan hanya berasal dalam Yesus Kristus. [2] Tema ini dibahas dalam buku De Incarnatione Verbi.[2] Ia diperhadapkan pada tuduhan-tuduhan dari pihak Yahudi dan kafir, bahwa inkarnasi dan penyaliban Anak Allah tidak pantas dan mengurangi martabat-Nya. [2] Namun, dengan tegas ia mengatakan bahwa " dunia yang diciptakan melalui Dia hanya dapat dipulihkan oleh Dia. [2] Pemulihan ini tidak bisa terjadi, kecuali melalui salib.[2]

Gagasan "deifikasi" atau "pendewaan"(menjadi ilahi) menunjukkan pengaruh Yunani dalam pemikirannya. [2] Selain itu, Athanasius adalah orang pertama yang secara serius mempelajari status Roh Kudus. [2] Hingga pertengahan abad ke-4 perhatian tertuju kepada hubungan Allah Bapa dan Anak. [2] Sebutan singkat" Dan kepada Roh Kudus" dalam Pengakuan Iman Nicea adalah menjadi bukti kurangnya perhatian terhadap roh kudus. [2]

Sebuah Kelompok di Mesir, Tropici, mengajarkan bahwa Sang Anak adalah Allah, tetapi Roh Kudus diciptakan dari yang tidak ada. [2] Hal ini bertolak belakang dengan Pengakuan Iman Nicea serta secara tersirat dalam hal Roh kudus sejalan dengan Arinisme. [2] Mereka berselisih dengan uskup Serapion, yang meminta nasihat kepada Athanasius. [2] Ia pun menjawab dalam sejumlah Letter to Serapion(surat-surat kepada Serapion), yang di dalamnya terdapat pembahasan teologi sesungguhnya mengenai ''Ketritunggalan dengan merinci status Roh Kudus maupun Anak Allah. [2]

Berbagai usaha dilakukan untuk membuat sebuah kesepakan mengenai "trinitas" baik itu melalui konsili Nicea dan konsili lainnya yang membahas hal serupa. [6] Pada Konsili Konstantinopel (381), akhirnya dicapai sebuah kesepakatan bersama mengenai "Trinitas": Bapa, Anak, dan Roh Kudus Esa menurut(keallahannya), tetapi merupakan tiga pribadi. [6] Namun, keesaaan tidaklah terlepas dari ketigaan begitu pun dengan ketigaan tidak akan terlepas dari keesaan. [6] Rumusan Konstantinopel ini ingin memasukkan semua unsur yang terkandung dalam Alkitab. [6] Namun, ternyata rumusan ini tidak memuaskan pemikiran manusia. [6] Akan tetapi, rumusan ini tetap dihargai. [6]

[sunting] Konflik dengan Arianisme

Athanasius adalah seorang uskup yang begitu menolak ajaran Arius hingga hampir setengah abad(328-373).[6] Pertikaian kedua tokoh ini disebabkan ajaran Athanasius yang dianggap bertolak belakang dengan Alkitab.[6] Ajaran Athanasius pun dipandang berat sebelah. [6] Teologi keduanya sangat berbeda dalam mengungkapkan hubungan Kristus dan Roh kudus dengan Allah Bapa.[6] Arianisme menjadi sebuah ancaman terbesar bagi kehidupan umat Kristen saat itu. [4] Arianisme mengajarkan bahwa seseorang yang datang kepada kita yaitu, Kristus Yesus bukanlah Tuhan yang sesungguhnya melainkan makhluk yang diciptakan oleh Allah.[4]

Melihat kondisi ini, Kaisar Konstantinus mengadakan Konsili Nicea di kota Nicea(325)dan membujuk para uskup untuk menerima rumusan bahwa Kritus sehakekat dengan Allah(Yunani= homo-ousios).[6] Konstantinus tidak memaksa para uskup untuk menerima rumusan tersebut, namun hal ini telah menjadi keyakinan umat Kristiani yang telah didiskusikan selama satu abad. [6] Di lain pihak, ajaran Arius telah dikutuk. [6]

Eusebius dari Nicomedia dan pemimpin Arian menganggap Athanasius merupakan musuh mereka yang paling tangguh dan sulit dikalahkan. [4] Mereka pun mencari jalan untuk menjatuhkan Athanasius dengan mengedarkan rumor bahwa ia menjadi penganiaya atas umat Kristen di Mesir dan menggunakan ilmu sihir. [4] Menanggapi hal tersebut, Kaisar Konstantinopel memerintahkan untuk bertemu sebelum konsili di Tyre berlangsung untuk menjawab tuduhan yang diajukan kepadanya. [4] Terutama, untuk menjawab tuduhan bahwa dirinya membunuh uskup Arsenius dan memotong tangannya untuk dijadikan sebagai persembahan dalam ritus ilmu sihirnya. [4] Namun, tuduhan tersebut tidak dapat menjatuhkan Athanasius hingga ia pun dapat mengalahkan rumor tersebut. [4]

kedisiplinannya dalam biara, pengaruhnya dalam masyarakat, semangatnya yang tak pernah padam, dan keteguhannya dalam keyakinan membuatnya sulit terkalahkan. [4] Selain itu, Ia adalah tipikal orang yang sulit untuk berkompromi. [2] Sikap inilah membuatnya tidak disenangi oleh uskup dan negarawan. [2] Sekitar 17 tahun, ia menghabiskan waktunya di lima tempat pengasingan yang berlainan. [2] Athanasius dan Arius secara bergiliran dibuang oleh kaisar. [2] Masa pengasingan yang terpenting adalah ketika ia di Roma dari tahun 340 hingga 346. [2] Setelah itu, ia mengalami Dasawarsa Emas dari tahun 346 hingga 356 di Aleksandria, masa terpanjang sebagai uskup tanpa interupsi. [2]

Athanasius adalah uskup yang selalu tegar dalam menghadapi masalah demi masalah yang.[2] Pada saat itu, kelompok anti-Arianisme( Gereja Barat, kelompok Antiokhia dan Athanasius) berpendapat bahwa Allah adalah satu pribadi, sedangkan bagian terbesar kelompok Origenes di bagian Timur berpendapat bahwa Allah terdiri dari tiga pribadi. [2]

[sunting] Kontribusi Athanasius dalam Kanon Perjanjian Baru

Pada tahun 367, Athanasius menulis Surat Paskah(Easter Letter). [3] Di dalam surat tersebut terdapat 27 buku yang ada dalam Perjanjian Baru. [3] Hal ini dilakukannya untuk mencegah adanya kesalahan ajaran kepada jemaat. [3] Ia pun menyatakan bahwa tiada buku lain yang dapat dibandingkan dengan Injil Kristen walaupun ia tetap mengakui Didakhe sebagai penuntun tata ibadah, liturgy serta doa. [3] Namun, pada kenyataannya, Kanon yang dibuat oleh Athanasius tidak dapat menyelesaikan masalah. [3] Tahun 397, Konsili Kartago mensahkan daftor Kanon yang pada saat itu Gereja di Barat masih bergumul dalam penyelesaian Kanonnya. [3] Daftar Kanon yang dibuat Athanasius mendapatkan pengakuan dan menjadi awal mula Gereja di seluruh dunia untuk menggantungkan segala aturan yang dibuat sesuai dengan Kanon yang ditetapkan. [3]

[sunting] Karya Athanasius

  1. Anti-Arianisme [2]
  2. Apologia [2]
  3. Surat-surat Paskah [2]
  4. Vita S. Antonii [2]

Selain itu, karya Athanasius lainnya, yaitu Against the Gentiles and On the Incarnation of the World yang menjadi sebuah tanda dari teologinya. [4] Kedua karyanya ini, menunjukkan keyakinan yang mendalam bahwa pusat iman Kristen yang sesungguhnya adalah perwujudan Tuhan dalam Yesus Kristus. [4]


[sunting] Referensi

  1. ^ a b c H. Berkhof. Sejarah Gereja. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1986.
  2. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z aa ab ac ad ae Tony Lane. Runtut Pijar: Sejarah Pemikiran Kristiani. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009.
  3. ^ a b c d e f g h i A. Kenneth Curtis, J. Stephen Lang & Randy Petersen, 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009.
  4. ^ a b c d e f g h i j k l m Justo L. Gonzalez, The Story Of Christianity vol.1, USA: HarperCollins, 1984.
  5. ^ Jean Comby, How to Read Church History vol.1, English: SCM Press Ltd, 1985.
  6. ^ a b c d e f g h i j k l m VAN Den End. Harta dalam Bejana: Sejarah Gereja Ringkas. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2010.

[sunting] Pranala Luar

Akun
Ruang nama

Varian
Tindakan
Navigasi
Komunitas
Wikipedia
Cetak/ekspor
Peralatan
Bahasa lain