Yeremia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Yeremia

Yeremia, digambarkan oleh Michelangelo dari langit-langit kapel Sistine
Lahir 645 SM
Anatot
Meninggal Mesir
Pekerjaan Nabi
Orang tua Hilkia

Yeremia (Ibraniיִרְמְיָה , Ibrani Modern:Yirməyāhū, Arab إرميا) adalah salah satu nabi perjanjian lama yang berkarya sebelum bangsa Israel (Kerajaan Yehuda) ditaklukkan dan penduduknya dibuang ke Babel dan merupakan penulis atau narasumber Kitab Yeremia dalam Alkitab Ibrani atau Alkitab Kristen.[1] Yeremia lahir di Anatot dan hidup sekitar tahun 645 SM, tidak lama setelah pemerintahan raja Manasye berakhir.[1][2] Ia adalah anak imam Hilkia dari Anatot.[3][4] Meskipun tidak ada bukti yang secara langsung mendukungnya, Yeremia diduga adalah keturunan Abyatar, imam raja Daud, yang dipecat oleh raja Salomo dari jabatan imamnya di Yerusalem dan diasingkan ke tanah miliknya di kota Anatot (bnd. 1 Raja-raja 2:26-27).[2][5] Menurut keterangan Alkitab (Yeremia 1:6), Yeremia dipanggil sebagai nabi ketika ia masih muda dan belum pandai bicara, yaitu pada masa pemerintahan raja Yosia, tahun 627 SM.[1][2][3] Yeremia melakukan tugasnya sebagai nabi selama pemerintahan lima raja Yehuda, yaitu pada masa raja Yosia, Yoahas, Yoyakim, Yoyakhin dan Zedekia.[3][6]

Latar Belakang[sunting | sunting sumber]

Pada masa Yeremia mulai berkarya, kerajaan Asyur mengalami penurunan kekuasaan.[1] Keadaan ini dimanfaatkan oleh Yosia, raja Yehuda pada masa itu untuk melakukan pemberontakan.[1] Yosia juga menggunakan kesempatan tersebut dengan membangun pusat-pusat religius untuk umat Israel.[1] Setelah Yosia wafat pada tahun 609 SM, Mesir menguasai Palestina dan menempatkan Yoyakim menjadi raja menggantikan Yoahas.[1] Pada tahun 605 SM, Nebukadnezar mengalahkan Mesir pada perang di Karkemis dan mengusir Mesir dari Palestina.[1] Ketika Babel melemah pada tahun 599 SM, Yoyakim raja Yehuda memberontak melawan Babel.[1] Babel kemudian menyerang Yerusalem dan menaklukkan kota itu pada tahun 598 SM.[1] Setelah Yoyakim wafat, Yoyakhin dinobatkan menjadi raja, namun Nebukadnezar membuang raja muda ini ke Babel dan mengangkat Zedekia menjadi raja.[1] Pada tahun 589 SM, Zedekia mengadakan perlawanan namun tetap kalah dan menyebabkan kota dan Kenisah (Bait Allah) dihancurkan oleh orang-orang Babel.[1] Secara garis besar, pada masa baktinya Yeremia menentang dua kejahatan pada zamannya, yaitu penyembahan berhala dan ketidakadilan.[1] Ia menentang nubuat para nabi-nabi palsu.[4] Yeremia juga peka terhadap isu-isu kemanusiaan.[4] Yeremia merupakan salah satu nabi yang tidak hanya menyampaikan nubuat atas orang-orang Yehuda, tetapi ia juga mengalami apa yang ia sampaikan. Pesan yang disampaikan melalui pengalaman hidupnya itu dipahami sebagai bentuk dari tindak kenabian. [7]

Tindakan Yeremia[sunting | sunting sumber]

Pada masa pemerintahan Yosia[sunting | sunting sumber]

Pada masa ini, penduduk Yehuda masih diwarnai dengan kebiasaan kekafiran sebagai dampak dari kebiasaan penduduk Yehuda pada masa pemerintahan Manasye.[2] Penduduk Yehuda melakukan ibadah kepada baal, dewa kesuburan orang-orang Kanaan, serta berhala-berhala.[2] Selain itu, perlacuran bakti, korban anak-anak, dan ketidakadilan sosial masih lazim di antara penduduk Yehuda.[2] Dalam kondisi demikian, Yeremia bertugas mengingatkan orang-orang Yehuda itu tentang karya kasih Tuhan terhadap mereka sepanjang sejarah dan mengritik dengan keras tindakan mereka sebagai bentuk ketidaksetiaan mereka kepada Tuhan.[2] Yeremia meyakinkan mereka bahwa Tuhan pasti akan menjatuhkan hukumannya atas mereka dan mereka akan mengalami kecelakaan yang berasal dari musuh yang disebut sebagai musuh "dari utara".[2] Sekaligus, Ia mendorong dan mengarahkan orang-orang Yehuda untuk bertobat.[2] Hal ini ditunjukkan dengan tindakan raja Yosia melakukan reformasi melalui pembangunan Bait Suci.[2] Selain itu, muncul adanya kepercayaan bahwa Bait Suci itu akan menjamin perlindungan melawan semua musuh.[2]

Pada masa pemerintahan Yoyakim[sunting | sunting sumber]

Pada masa ini, kondisi pemerintahaan Yoyakim berada dalam ancaman orang-orang Babel.[2] Sehingga Yoyakim tetap taat kepada Mesir pada kepemimpinan Firaun Nekho II.[2] Ia juga menentang untuk bertobat dengan membakar gulungan kitab nubuat Yeremia.[2] Selain itu reformasi yang diperjuangkan Yosia mengalami kegagalan.[2] Sehingga, orang-orang Yehuda kembali memuja dewa-dewa kesuburan, bahkan mereka melakukan kebobrokan moral dan ketidakadilan sosial.[2] Pada kondisi demikian, menurut Alkitab (Yeremia 22:13-19), Yeremia menentang raja Yoyakim dengan sangat keras dan meyakinkan orang-orang Yehuda bahwa mereka akan takluk dibawah kekuasaan bangsa Babel.[2]

Pada masa pemerintahan Zedekia[sunting | sunting sumber]

Pada masa ini, pernyataan Yeremia dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu: pemberontakan melawan Babel (594 SM), pembuangan raja Yoyakhin ke Babel (587 SM), dan pemberontakan melawan Babel yang menyebabkan penaklukan kota Yerusalem (587 SM).[2] Dalam kondisi demikian, Yeremia terus menyuarakan agar orang-orang Yehuda bertobat, dan jika tidak, maka mereka akan takluk pada Babel.[2] pernyataan Yeremia yang keras ini membuatnya harus ditangkap dan dipenjarakan, sebab ada banyak orang yang melawannya.[2] Di dalam penjara, ia membeli ladang untuk kebun anggur sebagai tanda bahwa Yehuda akan dipulihkan.[2]

Sesudah Takluknya Yerusalem[sunting | sunting sumber]

Setelah peristiwa takluknya Yerusalem dan Gedalya menjabat gubernur Mizpa, Yeremia belum menyatakan pesan apapun.[2] Namun, setelah Gedalya mati, semua orang meminta nasihat dari Yeremia.[2] Yeremia mengingatkan mereka untuk tetap tinggal di Yerusalem dan tidak berpergian ke tanah lain.[2] Tetapi orang-orang Yehuda tetap pergi ke Mesir dan hal ini digambarkan oleh Yeremia sebagai bentuk penolakan terhadap Perintah Allah.[2]

Pemikiran[sunting | sunting sumber]

  1. Pengertian Yeremia tentang Allah
  2. Yeremia dan Penyembahan Berhala
  3. Yeremia dan percabulan
  4. Yeremia dan hukuman
  5. Yeremia dan nabi-nabi palsu
  6. Harapan Yeremia
  7. Yeremia dengan agama Yehuda
  8. Yeremia dengan cita-cita masa depan

Tindakan Kenabian[sunting | sunting sumber]

  1. Ikat Pinggang yang Lapuk (Yeremia 13:1-11)
    Hal ini mengisyaratkan kepada Yehuda sebagai bangsa yang dipilih oleh ikatan perjanjiannya dengan Tuhan, telah murtad dan tidak hidup memuliakan Tuhan.[7]
  2. Nabi Harus Hidup Lajang (Yeremia 16:1-9)
    Melalui tindak kenabian ini Yeremia ingin menyatakan bahwa masa depan bangsa Yehuda seperti tanpa harapan, sehingga tidak ada gunanya lagi membangun keluarga. Bangsa Yehuda digambarkan sebagai bangsa yang tidak memiliki harapan lagi.[7]
  3. Nabi Menghancurkan Buli-Buli (Yeremia 19:1-15)
    Dengan tindakan kenabian ini, Yeremia ingin menggambarkan kehancuran yang menimpa bangsanya.[7]
  4. Nabi Memikul Kuk sebagai Orang Buangan (Yeremia 27:1-22)
    Ketika Yeremia memikul kuk di atas pundaknya berarti Ia ingin mengisyaratkan bahwa bangsa Yehuda harus tunduk pada pemerintahan Babel.[7]
  5. Nabi Yeremia dan Hananya, Nabi Palsu (Yeremia 28:1-17)
    Tindakan nabi Yeremia ini jelas mengingatkan bangsa Yehuda untuk siap menghadapi pengadilan Tuhan, persengkongkolan manusia tidak dapat mengubah rencana Tuhan.[7]
  6. Nabi Membeli Tanah (Yeremia 32:6-44)
    Dengan membeli tanah ini, nabi ingin menyatakan betapa tidak bergunanya menyimpan harta kekayaan dan milik, sebab tidak dapat menjamin kemerdekaan pemiliknya.[7]
  7. Nabi Minum Anggur dengan Kaum Rekhab (Yeremia 35:1-19)
    Ini adalah bentuk kritik tegas Yeremia terhadap bangsa Israel yang tidak taat dan tidak tahan terhadap godaan-godaan.[7]
  8. Nabi Meletakan Batu Besar di Pintu Masuk Istana Firaun (Yeremia 48:1-13)
    Batu besar ini digunakan sebagai tanda penghakiman bagi umat Israel yang tidak mau mendengarkan perintah Tuhan.[7]
  9. Nabi Menuliskan Daftar Malapetaka (Yeremia 51:59-64)
    Dengan menuliskan daftar malapetaka ini, Yeremia ingin menyatakan bagaimana sebenarnya perasaan dan pemikiran Allah, melihat ketidaksetiaan umatnya.[7]

Beberapa Pandangan mengenai Yeremia[sunting | sunting sumber]

Ada beberapa pandangan mengenai tokoh Yeremia dalam sejarah, yaitu: Hieronimus dan Tertulianus meyakini bahwa Yeremia dirajam di Mesir oleh orang-orang Yahudi; Ia dan sekretarisnya, Baruk meninggal setelah kembali dari pembuangan; Ia menyembunyikan peti perjanjian Tuhan di dekat kaki gunung Nebo, pada saat Bait Allah dihancurkan; Orang Yahudi meyakini bahwa Ia akan datang kembali ke dunia sebelum kedatangan Mesias.[5]

Pandangan Islam[sunting | sunting sumber]

Sebagaimana banyak nabi-nabi Israel yang dicatat dalam Alkitab Ibrani, Yeremia dianggap sebagai nabi Islam oleh banyak orang Muslim. Yeremia (bahasa Arab: إرميا, Aramiya) tidak disebut di dalam Al Quran, tetapi tafsiran dan sastra Islam banyak menceritakan mengenai kisah hidup Yeremia dan tradisi yang berasal darinya. Ada sastra Islam yang mencatat kehancuran Yerusalem yang paralel dengan kisah yang dicatat dalam Kitab Yeremia.[8]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e f g h i j k l m (Indonesia) Pr. Darmawijaya. 1990. Warta Nabi Sebelum Pembuangan. Yogyakarta: Kanisius.
  2. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y (Indonesia) Robert M. Paterson. 1998. Tafsiran Alkitab: Kitab Yeremia. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
  3. ^ a b c (Indonesia) I. Snoek. 1981. Sejarah Suci. Jakarta: BPK Gunung Mulia
  4. ^ a b c (Indonesia) W.S. Lasor. 1994. Pengantar Perjanjian Lama 2: Sastra dan Nubuat. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
  5. ^ a b (Indonesia) Dorothy I. Marx. 1971. Penjelasan Singkat tentang Kitab Yeremia. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
  6. ^ (Indonesia) J.D. Douglas, 2008. Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid II. Jakarta: Bina Kasih.
  7. ^ a b c d e f g h i j (Indonesia) Pr. Darmawijaya. 1991. Tindak Kenabian: Kisah Perbuatan Aneh Para Nabi. Yogyakarta: Kanisius.
  8. ^ Tabari, i, 646f.