Kekaisaran Romawi Timur

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Kekaisaran Romawi
Βασιλεία Ῥωμαίων, Ῥωμανία
Basileia Rhōmaiōn, Rhōmanía
Imperium Romanum, Romania
"Kekaisaran Romawi"

330–1453
Bendera Kekaisaran pada masa akhir (abad ke-14) Lambang kekaisaran pada masa Palaiologos
Perkembangan wilayah Kekaisaran
Ibukota Konstantinopel
Bahasa Yunani, Latin
Agama Paganisme Romawi hingga tahun 391, Ortodoks Timur ditoleransi setelah Edictum Mediolanense tahun 313, dan menjadi agama negara setelah tahun 380
Pemerintahan Otokrasi
Kaisar
 -  306–337 Konstantinus yang Agung
 -  1449–1453 Konstantinus XI
Badan legislatif Senat
Era sejarah Antikuitas Akhir-Abad Pertengahan Akhir
 -  Diokletianus memecah pemerintahan kekaisaran antara barat dan timur 285
 -  Pendirian Konstantinopel 11 Mei 330
 -  Penjatuhan Romulus Augustulus, Kaisar Romawi Barat 476
 -  Skisma Timur-Barat 1054
 -  Jatuhnya Konstantinopel ke tangan Tentara Salib 1204
 -  Penaklukan kembali Konstantinopel 1261
 -  Jatuhnya Konstantinopel 29 Mei 1453
 -  Jatuhnya Trebizond 1461
Populasi
 -  perk. Abad ke-4 34,000,000 
 -  perk. Abad ke-8 (780 M) 7,000,000 
 -  perk. Abad ke-11 (1025 M) 12,000,000 
 -  perk. Abad ke-12 (1143 M) 10,000,000 
 -  perk. Abad ke-13 (1281 M) 5,000,000 
Mata uang Solidus, Hiperpiron
Sekarang bagian dari  Albania
 Aljazair
 Armenia
 Bosnia dan Herzegovina
 Bulgaria
 Georgia
 Gibraltar
 Israel
 Italia
 Kroasia
 Lebanon
 Libya
 Malta
 Mesir
 Montenegro
 Perancis
 Republik Makedonia
 Rumania
 San Marino
 Serbia
 Siprus
 Slovenia
 Spanyol
 Suriah
 Tunisia
 Turki
 Ukraina
 Vatikan
 Yordania
 Yunani
Warning: Value specified for "continent" does not comply

Kekaisaran Romawi Timur adalah istilah yang digunakan oleh sejarawan modern untuk menyebut bagian Kekaisaran Romawi yang didominasi penutur bahasa Yunani dan berpusat di Konstantinopel pada masa Antikuitas Akhir dan Abad Pertengahan dari negaranya yang lebih awal pada masa Klasik.[1] Kekaisaran ini juga disebut Kekaisaran Bizantium terutama dalam konteks Abad Pertengahan setelah keruntuhan Kekaisaran Romawi Barat. Penduduk dan negara-negara tetangganya menyebut kekaisaran ini sebagai Kekaisaran Romawi saja (bahasa Yunani: Βασιλεία Ῥωμαίων, Basileia Rhōmaiōn;[2] bahasa Latin: Imperium Romanum) atau Romania (Ῥωμανία).[3] Setelah Kekaisaran Romawi Barat mengalami perpecahan dan keruntuhan pada abad ke-5, bagian timurnya masih terus berkembang, bertahan hingga kira-kira seribu tahun lagi sampai akhirnya ditaklukan oleh Turk Utsmaniyah pada 1453. Selama sebagian besar masa keberadaannya, negara ini merupakan kekuatan ekonomi, budaya, dan militer yang paling berpengaruh di Eropa.

Karena pembedaan antara "Romawi (Timur)" dan "Bizantium" baru ada pada masa modern, sulit menetapkan tanggal pasti untuk peralihannya. Akan tetapi, ada beberapa peristiwa penting sejak abad ke-4 hingga ke-6 yang menandai periode peralihan ketika bagian barat dan timur Kekaisaran Romawi mengalami pemisahan. Pada tahun 285, Kaisar Diocletianus (berkuasa. 284–305) membagi pemerintahan Kekaisaran Romawi menjadi empat paruh timur dan barat.[4] Antara tahun 324 dan 330, Kaisar Konstantinus I (berkuasa 306–337) memindahkan ibukota utama dari Roma ke Bizantium, di sisi Eropa dari Bosporus. Bizantium diganti namanya diganti Konstantinopel ("Kota Konstantinus") atau disebut juga Nova Roma ("Roma Baru").[n 1] Di bawah kaisar Theodosius II (berkuasa 379-395), Kristen menjadi agama negara resmi kekaisaran sedangkan agama lainnya seperti politeisme Romawi dilarang. Periode akhir peralihan dimulai pada akhir pemerintahan Kaisar Heraclius (berkuasa 610–641) ketika dia sepenuhnya mengubah kekaisaran dengan mereformasi pasukan dan pemerintahan dengan memperkenalkan sistem thema dan mengganti bahasa resmi kekaisaran dari bahasa Latin menjadi bahasa Yunani.[6]

Peralihan ini juga dipermudah oleh fakta bahwa pada masa Heraclius dan para penerus terdekatnya, banyak wilayah non-Yunani di Timur Tengah dan Afrika Utara yang telah direbut oleh Kekhalifahan Arab yang sedang berkembang, dan Kekaisaran Bizantium hanya meliputi wilayah yang sebagian besar dihuni oleh penutur bahasa Yunani. Maka dari itu pada masa kini Bizantium dibedakan dari peradaban Romawi kuno berdasarkan kebudayaannya yang lebih mengarah pada kebudayaan Yunani alih-alih Latin, dan ditandai oleh Kristen Ortodoks sebagai agama negara setelah tahun 380, dan bukannya politeisme Romawi ataupun Katolik,[3] serta lebih banyak ditinggali oleh penutur bahasa Yunani alih-alih penutur bahasa Latin.

Negeri ini pernah menjadi negara terkuat di Eropa, meskipun terus mengalami kemunduran, terutama pada masa Peperangan Romawi-Persia dan Romawi Timur-Arab. Kekaisaran ini direstorasi pada masa Dinasti Makedonia, bangkit sebagai kekuatan besar di Mediterania Timur pada akhir abad ke-10, dan mampu menyaingi Kekhalifahan Fatimiyah. Setelah tahun 1071, sebagian besar Asia Kecil direbut oleh Turki Seljuk. Restorasi Komnenos berhasil memperkuat dominasi pada abad ke-12, tetapi setelah kematian Andronikos I Komnenos dan berakhirnya Dinasti Komnenos pada akhir abad ke-12, kekaisaran kembali mengalami kemunduran. Romawi Timur semakin terguncang pada masa Perang Salib Keempat tahun 1204, ketika kekaisaran ini dibubarkan secara paksa dan dipisah menjadi kerajaan-kerajaan Yunani dan Latin Bizantium yang saling berseteru.

Kekaisaran berhasil didirikan kembali di bawah pimpinan kaisar-kaisar Palaiologos setelah pasukan Yunani Bizantium dari Nikaia berhasil merebut kembali Konstantinopel pada 1261. Akan tetapi perang saudara pada abad ke-14, ditambah dengan direbutnya perdagangan oleh republik-republik bahari Italia, terus melemahkan kekuatan kekaisaran. Sisa wilayahnya dicaplok oleh Kesultanan Utsmaniyah dalam Peperangan Romawi Timur-Utsmaniyah. Akhirnya, Konstantinopel berhasil direbut oleh Utsmaniyah pada tanggal 29 Mei 1453, menandai berakhirnya Kekaisaran Romawi Timur, meskipun beberapa monarki Yunani tetap menguasai sejumlah wilayah bekas milik Kekaisaran Bizantium selama beberapa tahun, hingga takluknya Mystras pada 1460, Trebizond pada 1461, dan Monemvasia pada 1473.

Tata nama[sunting | sunting sumber]

Romawi Kuno
Roman SPQR banner.svg

Artikel ini adalah bagian dari seri:
Politik dan pemerintahan
Romawi Kuno


Periode

Kerajaan Romawi
753 SM509 SM
Republik Romawi
508 SM27 SM
Kekaisaran Romawi
27 SM seterusnya
Principatus
Dominatus
Tetrarki

Kekaisaran Barat Kekaisaran Timur
Konstitusi Romawi

Konstitusi Kerajaan Romawi
Konstitusi Republik Romawi
Konstitusi Kekaisaran Romawi
Konstitusi Kekaisaran Romawi terakhir
Sejarah konstitusi Romawi
Senat
Majelis legislatif
Hakim eksekutif

Hakim

Konsul
Pretor
Kuestor
Promagistrat

Edilis
Tribunus
Sensor
Gubernur

Hakim luar biasa

Diktator
Magister Ekuitum
Tribunus konsular

Rex
Triumviri
Desemviri

Gelar dan Penghormatan
Kaisar

Legatus
Dux
Officium
Prefektus
Vikarius
Vigintiseksviri
Liktor

Magister Militum
Imperator
Princeps Senatus
Pontifeks Maksimus
Augustus
Caesar
Tetrarki

Hukum dan preseden
Hukum Romawi

Imperium
Mos maiorum
Kolegialitas

Kewarganegaraan Romawi
Auktoritas
Cursus honorum


Negara lain · Atlas
 Portal politik

Kekaisaran ini mulai disebut "Bizantium" di Eropa Barat pada tahun 1557, ketika sejarawan Jerman Hieronymus Wolf menerbitkan karyanya yang berjudul Corpus Historiæ Byzantinæ. Istilah "Bizantium" berasal dari kata "Byzantium", yaitu nama kota Konstantinopel sebelum menjadi ibukota Konstantinus yang Agung. Semenjak itu, nama lama ini jarang digunakan, kecuali dalam konteks sejarah dan puisi. Selanjutnya, Byzantine du Louvre (Corpus Scriptorum Historiæ Byzantinæ) tahun 1648 dan Historia Byzantina karya Du Cange tahun 1680 semakin memopulerkan istilah Bizantium di antara pengarang-pengarang Perancis, seperti Montesquieu.[7] Istilah ini kemudian menghilang hingga pada abad ke-19 ketika orang-orang Barat kembali menggunakannya.[8] Sebelumnya, istilah Yunani-lah yang digunakan untuk kekaisaran ini. Terkait historiografi bahasa Inggris secara khusus, kemunculan pertama "Kekaisaran Bizantium" tampaknya adalah pada tulian tahun 1857 karya George Finlay (Sejarah Kekaisaran Bizantium tahun 716 hingga 1057).[9]

Negeri ini dijuluki oleh penduduknya dengan nama Kekaisaran Romawi, Kekaisaran Orang-orang Romawi (Latin: Imperium Romanum, Imperium Romanorum, Yunani: Βασιλεία τῶν Ῥωμαίων, Basileía tôn Rhōmaíōn, Αρχη τῶν Ῥωμαίων, Arche tôn Rhōmaíōn), Romania[n 2] (Latin: Romania, Yunani: Ῥωμανία, Rhōmanía), Republik Romawi (Latin: Res Publica Romana, Yunani: Πολιτεία τῶν Ῥωμαίων, Politeίa tôn Rhōmaíōn),[11] Graikía (Yunani: Γραικία),[12] dan juga Rhōmaís (Ῥωμαΐς).[13]

Meskipun Kekaisaran Romawi Timur memiliki ciri multietnis dalam sejarahnya,[14] serta menjaga tradisi Romawi-Helenistik,[15] negeri ini dikenal oleh negeri-negeri barat dan utara pada masanya dengan nama Kekaisaran Orang-orang Yunani[n 3] karena kuatnya pengaruh Yunani.[16] Penggunaan istilah Kekaisaran Orang-orang Yunani (Latin: Imperium Graecorum) di Barat merupakan lambang penolakan klaim Bizantium sebagai Kekaisaran Romawi.[17] Klaim Romawi Timur terhadap pewarisan Romawi ditentang di Barat pada masa Maharani Irene dari Athena karena pengangkatan Karel yang Agung sebagai Kaisar Romawi Suci pada tahun 800 oleh Paus Leo III, yang memandang takhta Romawi kosong (tidak ada penguasa laki-laki). Paus dan penguasa dari Barat lebih menyukai istilah Imperator Romaniæ daripada Imperator Romanorum, gelar yang digunakan hanya untuk Karel yang Agung dan penerus-penerusnya.[18]

Sementara itu, di peradaban Persia, Islam, dan Slavia, identitas Romawi negeri ini diakui. Di dunia Islam, Kekaisaran Romawi Timur dikenal dengan nama روم (Rûm "Roma").[19][20]

Dalam atlas-atlas sejarah modern, kekaisaran ini biasanya dijuluki Kekaisaran Romawi Timur pada periode antara 395 hingga 610. Pada peta-peta yang menggambarkan Kekaisaran setelah tahun 610, istilah Kekaisaran Bizantium biasanya dipakai karena pada tahun 620 kaisar Heraklius mengganti bahasa resmi kekaisaran dari Latin ke Yunani.[21]

Jati diri[sunting | sunting sumber]

"Kekaisaran Romawi Timur bisa didefinisikan sebagai kekaisaran multi-etnis yang muncul sebagai kekaisaran Kristen, yang kemudian segera terdiri dari kekaisaran Timur yang sudah di-Helenisasi dan mengakhiri sejarah ribuan tahunnya, pada 1453, sebagai Negara Ortodoks Yunani: Sebuah kerajaan yang menjadi negara, hampir dengan arti modern kata tersebut".1

Dalam abad-abad setelah penjajahan Arab dan Langobardi pada abad ke-7, sifat multi-etnisnya (meski bukan multi-bangsa) tetap ada meskipun bagian-bagiannya, Balkan dan Asia Kecil, mempunyai populasi Yunani yang besar. Etnis minoritas dan komunitas besar beragama lain (misalnya bangsa Armenia) tinggal dekat perbatasan. Rakyat Romawi Timur menganggap diri mereka adalah seorang Ρωμαίοι (Rhomaioi - Romawi) yang telah menjadi sinonim bagi seorang Έλλην (Hellene - Yunani), dan secara giat mengembangkan kesadaran diri sebagai negara, sebagai penduduk Ρωμανία (Romania, yang merupakan panggilan bagi Negara Romawi Timur dan dunianya). Hal ini secara jelas tampil dalam karya sastra pada periode tersebut, terutamanya dalam wiracarita seperti Digenes Akrites.

Peleburan resmi negara Romawi Timur pada abad ke-15 tidak secara langsung menghancurkan masyarakat Romawi Timur. Pada masa pendudukan Turki, orang-orang Yunani terus memanggil diri mereka sebagai Ρωμαίοι (bangsa Romawi) dan Έλληνες (bangsa Yunani), sebuah ciri-ciri yang tetap ada hingga awal abad ke-21 dan masih ada di Yunani modern kini, meski “Romawi” telah menjadi nama “rakyat” daripada sinonim bangsa seperti zaman dulu.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

!Untuk detail lebih lanjut tentang topik ini, lihat Sejarah Kekaisaran Romawi Timur.

Sejarah awal Kekaisaran Romawi[sunting | sunting sumber]

Pasukan Romawi ketika itu telah berhasil menguasai daerah luas yang melingkupi seluruh wilayah Mediterania dan sebagian besar Eropa Timur. Wilayah-wilayah ini terdiri dari berbagai kelompok budaya, baik yang masih primitif maupun yang telah memiliki peradaban maju. Secara umum, provinsi-provinsi di wilayah Mediterania timur lebih makmur dan maju karena telah mengalami perkembangan pesat pada masa Kekaisaran Makedonia serta telah mengalami proses hellenisasi. Sementara itu, provinsi di wilayah Barat kebanyakan hanya berupa pedesaan yang tertinggal. Perbedaan antara kedua wilayah ini bertahan lama dan menjadi penting pada tahun-tahun berikutnya.[22]

Pemisahan Kekaisaran Romawi[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 293, Diokletianus menciptakan sistem administratif yang baru (tetrarki)[23] sebagai institusi yang dimaksudkan untuk mengefisienkan kontrol Kekaisaran Romawi yang luas. Ia membagi Kekaisaran menjadi dua bagian, dengan dua kaisar memerintah dari Italia dan Yunani, masing-masing memiliki wakil-kaisar. Setelah masa kekuasaan Diokletianus dan Maximianus berakhir, tetrarki runtuh, dan Konstantinus I menggantinya dengan prinsip penggantian turun temurun.[24]

Resentralisasi[sunting | sunting sumber]

Konstantinus memindahkan pusat kekaisaran, dan membawa perubahan-perubahan penting pada konstitusi sipil dan religius.[25] Pada tahun 330, ia mendirikan Konstantinopel sebagai Roma kedua di Byzantium. Posisi kota tersebut strategis dalam perdagangan antara Timur dan Barat. Sang kaisar memperkenalkan koin (solidus emas) yang bernilai tinggi dan stabil,[26] serta and mengubah struktur angkatan bersenjata. Di bawah Konstantinus, kekuatan militer kekaisaran kembali pulih. Periode kestabilan dan kesejahteraan pun dapat dinikmati.

Pembaptisan Konstantinus yang dilukis oleh murid-murid Raphael (1520–1524). Eusebius dari Caesaria mencatat bahwa (seperti yang biasa dilakukan oleh para pemeluk Kristen awal) Konstantinus menunda pembaptisan hingga saat sebelum kematiannya, seperti yang menjadi tradisi pada masa itu.[27]

Di bawah Konstantinus, Kekristenan tidak menjadi agama eksklusif negara, tetapi didukung oleh kekaisaran, apalagi sang kaisar mendukungnya dengan hak-hak yang berlimpah. Sang kaisar memperkenalkan prinsip bahwa kaisar tidak perlu menyelesaikan pertanyaan doktrin, tetapi perlu memanggil dewan-dewan kegerejaan untuk tujuan itu. Sinode Arles dihimpunkan oleh Konstantinus, dan Konsili Nicea Pertama memamerkan klaimnya untuk menjadi kepala gereja.[28]

Keadaan kekaisaran tahun 395 dapat dikatakan sebagai hasil kerja Konstantinus. Prinsip dinasti diterapkan dengan tegas sehingga kaisar yang meninggal pada masa itu, Theodosius I, dapat mewariskan kekaisaran pada anak-anaknya: Arcadius di Barat dan Honorius di Timur. Theodosius merupakan kaisar terakhir yang menguasai seluruh Romawi Barat dan Timur.[29]

Kekaisaran Timur terhindar dari kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh Barat pada abad ketiga dan keempat, karena Timur memiliki budaya urban yang lebih mapan dan sumber daya finansial yang lebih kuat, sehingga mampu menghentikan penyerang dengan upeti dan menyewa tentara-tentara bayaran. Theodosius II memperkuat tembok Konstantinopel, sehingga kota tersebut aman dari serangan-serangan; tembok tersebut tidak dapat ditembus hingga tahun 1204. Untuk mengusir orang-orang Hun yang berada di bawah pimpinan Attila, Theodosius memberi mereka subsidi (konon 300 kg (700 lb) emas).[30] Ia juga mendukung pedagang Konstantinopel yang berdagang dengan orang Hun dan bangsa lainnya. Peningkatan ekonomi Bizantium memungkinkan Theodosius untuk melakukan kodifikasi hukum Romawi.

Kekaisaran Romawi Timur tahun 500 M.

Penerusnya, Marcianus, menolak melanjutkan membayar upeti ini. Beruntungnya, Attila telah mengalihkan perhatiannya pada Kekaisaran Romawi Barat.[31] Setelah kematiannya tahun 453, negeri Attila runtuh dan Konstantinopel membuka hubungan yang menguntungkan dengan orang-orang Hun yang tersisa. Mereka akhirnya bertempur sebagai tentara bayaran dalam angkatan bersenjata Romawi Timur.[32]

Keruntuhan Kekaisaran Romawi Barat[sunting | sunting sumber]

Setelah jatuhnya Attila, perdamaian dapat dinikmati di Romawi Timur, sementara Romawi Barat runtuh (keruntuhannya tercatat pada tahun 476, ketika jenderal Romawi Jermanik Odoacer menjatuhkan kaisar Romulus Augustulus).

Untuk merebut kembali Italia, kaisar Zeno hanya bisa bernegosiasi dengan Ostrogoth yang telah menetap di Moesia. Ia mengirim raja Ostrogoth Theodoric ke Italia sebagai magister militum per Italiam ("kepala komando untuk Italia"). Setelah berhasil menjatuhkan Odoacer pada tahun 493, Theodoric menguasai Italia.[29]

Pada tahun 491, Anastasius I menjadi kaisar, tapi baru pada 497 pasukan kaisar yang baru secara efektif memperhitungkan perlawanan Isauria.[33] Anastasius adalah seorang reformis energetik dan administrator yang cakap. Anastasius menyempurnakan sistem koin Konstantinus I dengan mengatur bobot follis perunggu, koin yang banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari.[34] Ia juga mengubah sistem perpajakan, serta menghapuskan pajak chrysargyron yang tidak disukai. Ketika Anastasius meninggal dunia pada tahun 518, jumlah kas negara tercatat sebesar 320.000 lbs (145.150 kg) emas.[35]

Penaklukan kembali Romawi Barat[sunting | sunting sumber]

Mosaik Yustinianus I di Basilika San Vitale, Ravenna.

Yustinianus I, yang naik takhta pada tahun 527, melancarkan penaklukan kembali Romawi Barat.[36] Pada tahun 532, putra petani Illyria itu menandatangani perjanjian damai dengan Khosrau I dari Persia. Meskipun harus membayar upeti tahunan yang besar, front timur Bizantium menjadi aman. Pada tahun yang sama, Yustinianus selamat dari kerusuhan Nika di Konstantinopel, yang berakhir dengan kematian tiga puluh ribu perusuh. Kemenangan ini memperkuat posisi Yustinianus.[37] Paus Agapetus I dikirim ke Konstantinopel oleh raja Ostrogoth Theodahad, tetapi gagal mencapai kesepakatan perdamaian dengan Yustinianus. Akan tetapi, ia berhasil membuat monofisitisme dicela.

Penaklukan kembali Romawi Barat dimulai pada tahun 533. Yustinianus mengirim jenderalnya Belisarius dan 15.000 tentara untuk merebut kembali provinsi Afrika dari suku Vandal yang telah berkuasa semenjak tahun 429.[38] Kerajaan Vandal berhasil ditundukkan.[37] Sementara itu, di Italia Ostrogoth, raja Athalaric meninggal pada 2 Oktober 534. Ibunya, Amalasuntha, dipenjarakan dan dibunuh oleh Theodahad di pulau Martana. Yustinianus melihatnya sebagai kesempatan untuk melakukan intervensi. Pada tahun 535, tentara Romawi Timur dikirim ke Sisilia. Kemenangan berhasil digapai, tetapi Ostrogoth memperkuat perlawanan mereka. Kemenangan baru benar-benar dicapai pada tahun 540, ketika Belisarius merebut Ravenna.[39]

Wilayah Romawi Timur pada masa Yustinianus.

Pada 535–536, Theodahad mengirim Paus Agapetus I ke Konstantinopel untuk meminta dipindahkannya pasukan Bizantium dari Sisilia, Dalmatia, dan Italia. Meskipun Agapetus gagal dalam misinya untuk menyepakati perjanjian damai dengan Justinianus, tapi ia berhasil mendorong Patriark Anthimus I dari Konstantinopel yang Monofisit untuk mundur, meskipun didukung dan dilindungi oleh maharani Theodora.[40]

Sayangnya, Ostrogoth berhasil disatukan kembali di bawah pimpinan Totila dan merebut Roma pada 17 Desember 546. Belisarius ditarik oleh Yustinianus pada awal tahun 549.[41] Kasim Narses menggantikannya pada akhir tahun 551 dengan membawa tentara sejumlah 35.000. Totila berhasil dikalahkan dan tewas dalam Pertempuran Busta Gallorum. Penerusnya, Teia, berhasil ditaklukan dalam Pertempuran Mons Lactarius (Oktober 552). Selanjutnya, suku Goth masih terus melawan. Suku Franka dan Alamanni pun melancarkan invasi mereka. Meskipun begitu, perang untuk menguasai semenanjung Italia telah berakhir dengan kemenangan Romawi Timur.[42]

Pada tahun 551, bangsawan Visigoth di Hispania, Athanagild, memohon bantuan Yustinianus dalam pemberontakan melawan raja. Sang kaisar mengirim tentara di bawah pimpinan Liberius. Kekaisaran Romawi Timur berhasil menguasai sepotong wilayah di pantai Spania hingga masa kekuasaan Heraklius.[43]

Sementara itu, di timur, Peperangan Romawi-Persia berkecamuk hingga tahun 561, ketika Yustinianus dan Khosrau menyetujui perdamaian selama 50 tahun. Pada pertengahan tahun 550, Yustinianus telah mencapai kemenangan dalam semua peperangan, dengan pengecualian di Balkan, ketika kekaisaran terus menerus diserang oleh bangsa Slavia. Pada tahun 559, kekaisaran diancam oleh Kutrigur dan Sklavinoi. Yustinianus memanggil Belisarius, dan begitu bahaya telah sirna, sang kaisar mengambil alih kekuasaan sendiri. Berita bahwa Yustinianus memperkuat armada Donaunya membuat Kutrigur cemas, sehingga mereka setuju dengan traktat yang memberi mereka subsidi dan memperbolehkan mereka pulang dengan aman melewati sungai Donau.[37]

Yustinianus juga terkenal karena pencapaiannya dalam bidang hukum.[44] Pada tahun 529, komisi berjumlah sepuluh orang yang dikepalai oleh Iohannis Orientalis merevisi undang-undang Romawi kuno. Seluruh "undang-undang Yustinianus" saat ini dikenal dengan nama Corpus Juris Civilis.

Selama abad ke-6, budaya Yunani-Romawi masih berpengaruh kuat di Timur. Filsafat dan budaya Kristen menjadi semakin penting dan mulai mendominasi budaya lama. Himne-himne yang Romanus Melodus menandai pengembangan Liturgi Suci. Aristek-arsitek dan pembangun bekerja keras untuk menyelesaikan gereja baru Kebijaksanaan Suci, Hagia Sophia yang menggantikan gereja lama yang hancur akibat kerusuhan Nika. Selama abad keenam dan ketujuh, kekaisaran diguncang oleh wabah pes, yang membinasakan banyak jiwa, serta mengakibatkan kemunduran ekonomi dan pelemahan kekaisaran.[45]

Setelah Yustinianus mangkat pada tahun 565, penggantinya, Yustinus II, menolak membayar upeti untuk Persia. Sementara itu, suku Langobardi menyerbu Italia. Pengganti Yustinus, Tiberius II, memberi subsidi kepada suku Avar, sementara melancarkan serangan terhadap Persia. Subsidi gagal menenangkan suku Avar. Mereka merebut benteng Sirmium tahun 582, sementara bangsa Slavia mulai menyeberangi sungai Donau. Maurice, yang menggantikan Tiberius, turut campur dalam perang saudara Persia, serta menempatkan Khosrau II kembali ke takhta dan menikahkan putrinya dengannya. Traktat Maurice dengan ipar barunya membawa status quo baru di timur, dan mengurangi biaya pertahanan selama perdamaian ini (jutaan solidi berhasil diselamatkan berkat remisi upeti untuk Persia). Setelah kemenangannya di front timur, Maurice dapat mengalihkan perhatiannya ke Balkan, dan pada tahun 602, ia berhasil mengusir suku Avar dan Slavia.[29]

Menyusutnya perbatasan[sunting | sunting sumber]

Dinasti Heraklius[sunting | sunting sumber]

!Untuk detail lebih lanjut tentang topik ini, lihat Romawi Timur di bawah dinasti Heraclius.

Setelah Maurice dibunuh oleh Phocas, Khosrau mencoba menaklukan provinsi Mesopotamia Romawi.[46] Phocas, seorang pemimpin tak populer yang dideskripsikan sebagai "tiran" dalam sumber-sumber Romawi Timur, merupakan target konspirasi-konspirasi senat. Ia dijatuhkan pada tahun 610 oleh Heraklius.[47] Setelah Heraklius berkuasa, tentara Persia terus mendesak hingga memasuki Asia Kecil. Mereka menduduki Damaskus dan Yerusalem, serta memindahkan Salib Sejati ke Ctesiphon.[48] Heraklius melancarkan serangan balasan dengan ciri perang suci. Tentara Romawi Timur berperang dengan membawa citra acheiropoietos Kristus sebagai panji militer[49] (serupa dengan ini, ketika Konstantinopel selamat dari kepungan Avar pda 626, kemenangan itu dianggap sebagai anugerah dari ikon Perawan yang diarak dalam prosesi oleh Patriark Sergius di dekat dinding kota.[50]). Tentara Persia berhasil dihancurkan dalam pertempuran di Ninewe tahun 627. Pada tahun 629, Heraklius mengembalikan Salib Sejati ke Yerusalem dalam upacara yang penuh keagungan.[51] Perang ini melemahkan Romawi Timur dan Sassaniyah Persia, serta membuat keduanya rentan terhadap serangan Muslim Arab yang sedang bangkit pada masa itu.[52] Tentara Arab berhasil menghancurkan tentara Romawi Timur dalam Pertempuran Yarmuk tahun 636, dan Ctesiphon jatuh pada tahun 634.[53]

Kekaisaran Bizantium pada 650 - pada masa ini Bizantium kehilangan seluruh provinsi selatannya kecuali Keeksarkaan Afrika

Tentara Arab, yang telah menaklukan Suriah dan Levant, terus menerus menyerang Anatolia, dan antara tahun 674 hingga 678 mengepung Konstantinopel. Armada Arab berhasil diusir dengan menggunakan api Yunani dan gencatan senjata selama tiga puluh tahun disetujui antara kekaisaran dengan Kekhalifahan Umayyah.[54] Serangan terhadap Anatolia terus berlanjut dan mempercepat matinya budaya urban klasik. Penduduk-penduduk banyak yang membentengi kembali wilayah-wilayah yang lebih kecil dalam benteng kota lama, atau pindah ke benteng-benteng terdekat.[55] Besar Konstantinopel sendiri juga menyusut, dari 500.000 penduduk menjadi hanya 40.000-70.000 saja, yang disebabkan karena Konstantinopel kehilangan sumber gandum pada tahun 618 ketika Mesir direbut oleh Persia (provinsi ini dapat direbut kembali tahun 629, tetapi akhirnya dikuasai oleh Arab pada tahun 642).[56]

Penarikan tentara di Balkan untuk bertempur melawan Persia dan Arab di timur telah membuka pintu bagi perluasan wilayah bangsa Slavia. Akibatnya, seperti di Anatolia, banyak kota menyusut menjadi permukiman terbenteng yang kecil.[57] Pada tahun 670-an, bangsa Bulgaria didesak ke selatan sungai Donau oleh bangsa Khazar. Tentara Romawi Timur yang dikirim untuk membubarkan permukiman-permukiman baru ini dikalahkan pada tahun 680. Konstantinus IV lalu menandatangani perjanjian dengan khan Bulgaria Asparukh, dan negara Bulgaria baru memperoleh kedaulatan atas beberapa suku-suku Slavia yang sebelumnya mengakui kekuasaan Romawi Timur.[58] Pada tahun 687–688, kaisar Yustinianus II memimpin ekspedisi melawan Slavia dan Bulgaria yang cukup berhasil.[59]

Kaisar Heraklius terakhir, Yustinianus II, mencoba menghancurkan kekuatan aristokrasi perkotaan melalui perpajakan dan penunjukkan "orang luar" dalam jabatan-jabatan administratif. Ia dijatuhkan pada tahun 695, dan berlindung ke bangsa Khazar, lalu Bulgaria. Pada tahun 705, Yustinianus II kembali ke Konstantinopel bersama tentara khan Bulgaria, Tervel. Ia merebut kembali takhta, dan mendirikan rezim teror bagi musuh-musuhnya. Yustinianus II dijatuhkan kembali pada tahun 711, sehingga berakhirlah Dinasti Heraklius.[60]

Dinasti Isauria hingga masa saat Basil I naik takhta[sunting | sunting sumber]

!Untuk detail lebih lanjut tentang topik ini, lihat Romawi Timur di bawah dinasti Isauria.
Kekaisaran Romawi Timur saat Leo III naik takhta tahun 717. Wilayah bergaris merupakan daerah yang diserang oleh bangsa Arab.

Leo III berhasil mengusir serangan Muslim tahun 718, dan menggapai kemenangan dengan bantuan dari khan Bulgaria, Tervel, yang berhasil membunuh 32.000 pasukan Arab dengan tentaranya. Penerusnya, Konstantinus V, mencapai kemenangan di Suriah utara, dan melemahkan kekuatan Bulgaria.[61]

Pada tahun 826, dengan memanfaatkan melemahnya Kekaisaran akibat Pemberontakan Thomas Orang Slav pada awal 820-an, Arab merebut Kreta dan menyerang Sisilia, tetapi pada 3 September 863, jenderal Petronas berhasil menggapai kemenangan besar dalam pertempuran melawan Umar al-Aqta, emir Melitene. Di bawah kepemimpinan kaisar Bulgaria Krum, ancaman Bulgaria muncul kembali, tetapi pada tahun 814, putra Krum, Omortag, berdamai dengan Kekaisaran Romawi Timur.[62][63]

Ikonoklasme Romawi Timur pada abad ke-9.

Abad kedelapan dan kesembilan kental dengan kontroversi dan perpecahan religius akibat ikonoklasme. Ikon-ikon dilarang oleh Leo III dan Konstantinus V, yang mengakibatkan pemberontakan yang dilancarkan oleh ikonodul (pendukung ikon) di seluruh kekaisaran. Atas upaya Maharani Irene, Konsili Nicea Kedua dihimpunkan tahun 787, dan menegaskan bahwa ikon dapat dihormati tetapi tidak disembah. Pada tahun 813, Leo V menetapkan kembali kebijakan ikonoklasme, namun Maharani Theodora memulihkan pemujaan ikon dengan bantuan Patriark Methodios pada tahun 843.[64] Ikonoklasme memperlebar jurang perpecahan antara Timur dan Barat, yang semakin memburuk pada masa skisma Photios, ketika Paus Nikolas I menentang pengangkatan Photios sebagai patriark.[65]

Dinasti Makedonia dan kebangkitan[sunting | sunting sumber]

Ada upaya sadar untuk memulihkan kejayaan seperti pada masa sebelum invasi Slav dan Arab, dan era Makedonia sering disebut sebagai "Masa Kejayaan" Bizantium.[66]

Peperangan melawan Muslim[sunting | sunting sumber]

!Untuk detail lebih lanjut tentang topik ini, lihat Perang Romawi Timur-Arab (780–1180).
Kekaisaran Romawi Timur tahun 867.

Pada tahun 867, Romawi Timur telah menstabilkan kembali posisinya di timur dan barat. Berkat efisiensi pada struktur militer, kaisar mampu merencanakan perang penaklukan kembali di timur.

Proses penaklukan kembali dimulai dengan hasil yang tak tetap. Kreta berhasil ditaklukan untuk sementara (843), tetapi selanjutnya tentara Romawi Timur mengalami kekalahan di Bosporus, sementara kaisar tak mampu mencegah penaklukan Muslim di Sisilia (827–902). Dengan menggunakan Tunisia sebagai batu loncatan, tentara Muslim menaklukan Palermo tahun 831, Messina tahun 842, Enna tahun 859, Siracusa tahun 878, Catania tahun 900, dan benteng Romawi Timur terakhir, Taormina, tahun 902.

Keberhasilan militer pada abad kesepuluh diikuti dengan kebangkitan budaya, yang disebut Renaisans Makedonia.

Kekurangan tersebut segera diseimbangkan melalui keberhasilan ekspedisi terhadap Damietta di Mesir (856), dikalahkannya Emir Melitene (863), pemastian kekuasaan kekaisaran di Dalmatia (867), dan serangan Basil I terhadap Efrat (870s). Basil I mampu menangani situasi di Italia selatan dengan baik,[67] sehingga provinsi tersebut akan tetap berada di tangan Romawi Timur selama 200 tahun berikutnya.[68]

Di bawah putra sekaligus penerus Mikhael, yaitu Leo VI Yang Bijak, perebutan wilayah di timur terhadap Kekhalifahan Abbasiyah terus berlanjut. Akan tetapi, Sisilia direbut Arab pada 902, dan pada tahun 904, bencana melanda kekaisaran ketika kota keduanya, Thessaloniki, dijarah oleh armada Arab yang dipimpin oleh pengkhianat Romawi Timur Leo dari Tripoli. Tentara Romawi Timur membalas dengan menghancurkan armada Arab tahun 908, serta menjarah kota Laodicea di Suriah dua tahun kemudian. Meskipun pembalasan telah dilakukan, Romawi Timur tak mampu mengguncang Muslim, yang telah menghancurkan tentara kekaisaran di Kreta tahun 911.[69]

Situasi di perbatasan dengan Arab tetap cair. Varangia, yang menyerang Konstantinopel untuk pertama kalinya pada tahun 860, menjadi tantangan baru. Pada tahun 941, mereka muncul di pantai Bosporus bagian Asia. Kali ini mereka berhasil dihancurkan, menunjukkan menguatnya kekuatan militer Romawi Timur setelah tahun 907, ketika hanya diplomasi yang mampu mengusir penyerang-penyerang tersebut.

Meninggalnya tsar Bulgaria Simeon I pada 927 amat melemahkan Bulgaria sehingga Bizantium dapat berfokus di front timur.[70] Melitene direbut secara permanen pada 934, dan pada 945 jenderal terkenal Yohanes Kourkouas meneruskan serangan ke Mesopotamia dengan beberapa keberhasilan, yang berpuncak pada penaklukan kembali Edessa. Kemenangan ini dirayakan dengan dikembalikannya Mandylion, relik dengan gambar yang dipercaya sebagai wajah Kristus, yang diagungkan ke Konstantinopel.[71]

Kaisar Nikephoros II Phokas (berkuasa 963–969) dan Ioannes I Tzimiskes (969–976) memperluas wilayah kekaisaran hingga Suriah, menundukkan emir-emir di Irak barat laut, serta menaklukan kembali Kreta dan Siprus. Pada pemerintahan Ioannes, tentara kekaisaran sempat mengancam Yerusalem.[72] Emirat Aleppo dan tetangga-tetangganya menjadi vassal kekaisaran. Setelah banyak melancarkan kampanye militer, ancaman Arab terakhir bagi Romawi Timur berhasil ditaklukan ketika Basil II dengan cepat menarik 40.000 tentara berkuda untuk membebaskan Suriah Romawi. Dengan surplus sumber daya alam, Basil II merencanakan ekspedisi ke Sisilia untuk merebutnya dari bangsa Arab. Setelah kematiannya tahun 1025, ekspedisi berangkat pada tahun 1040-an, dan berhasil menggapai keberhasilan awal, tetapi keberhasilan itu selanjutnya terhambat.

Peperangan melawan Kekaisaran Bulgaria[sunting | sunting sumber]

!Untuk detail lebih lanjut tentang topik ini, lihat Peperangan Romawi Timur-Bulgaria.
Kaisar Basil II sang Pembantai Bulgar (976–1025).

Pergumulan lama dengan Takhta Suci berlanjut; kali ini diakibatkan oleh perebutan kekuasaan religius atas Bulgaria yang baru dikristenkan. Akibatnya, Tsar Simeon I melancarkan invasi pada tahun 894, tetapi berhasil dihentikan melalui diplomasi Romawi Timur, yang memohon bantuan dari bangsa Hongaria. Romawi Timur akhirnya dikalahkan dalam Pertempuran Bulgarophygon (896) dan diharuskan membayar upeti kepada bangsa Bulgaria. Selanjutnya (912), Simeon berhasil memaksa Romawi Timur menganugerahinya takhta basileus (kaisar) Bulgaria dan membuat Kaisar Konstantinus VII menikahi salah satu putri Simeon. Ketika pemberontakan di Konstantinopel menghambat upaya ini, Simeon menyerang Trakia dan menaklukan Adrianopel.[73]

Ekspedisi kekaisaran di bawah pimpinan Leo Phocas dan Romanos Lekapenos mengalami kekalahan besar dalam Pertempuran Acheloos (917), dan pada tahun berikutnya Bulgaria memasuki dan merampok Yunani utara hingga sejauh Korintus. Adrianopel berhasil direbut kembali pada tahun 923, tetapi pada tahun 924 tentara Bulgaria mengepung Konstantinopel. Situasi di Balkan membaik setelah kematian Simeon tahun 927. Pada tahun 968, Bulgaria diserbu oleh Rus' di bawah pimpinan Sviatoslav I dari Kiev. Tiga tahun kemudian, Kaisar Ioannes I Tzimiskes berhasil mengalahkan bangsa Rus' dan memasukkan wilayah Bulgaria timur ke dalam kekaisaran.

Wilayah kekaisaran di bawah pimpinan Basil II.

Perlawanan Bulgaria berkecamuk pada masa dinasti Cometopuli. Kaisar baru Basil II (berkuasa 976–1025) berupaya menundukkan bangsa Bulgaria. Ekspedisi pertama Basil mengalami kegagalan di Gerbang Trajanus. Pada tahun-tahun berikutnya, kaisar sibuk dengan pemberontakan internal di Anatolia, sementara Bulgaria memperluas kekuasaan mereka di Balkan. Perang berlarut selama hampir dua puluh tahun. Kemenangan Romawi Timur di Spercheios dan Skopje berhasil melemahkan tentara Bulgaria. Dalam kampanye militer tahunannya, Basil terus mengurangi jumlah benteng Bulgaria. Akhirnya, dalam Pertempuran Kleidion tahun 1014, Bulgaria berhasil dikalahkan.[74] Tentara Bulgaria ditangkap, dan konon 99 dari 100 tentara dibutakan, sementara sisanya diberi satu mata untuk memimpin teman sebangsanya pulang. Ketika Tsar Samuil menyaksikan nasib tentaranya, ia meninggal akibat syok. Pada tahun 1018, benteng Bulgaria terakhir telah menyerah, dan negara mereka menjadi bagian dari Romawi Timur. Kemenangan ini merestorasi perbatasan Donau, yang tidak dikuasai semenjak masa kaisar Heraklius.[73]

Hubungan dengan Rus' Kiev[sunting | sunting sumber]

!Untuk detail lebih lanjut tentang topik ini, lihat Perang Rus'-Romawi Timur.
Rus' Kiev di bawah tembok Konstantinopel (860).

Antara tahun 850 hingga 1100, kekaisaran membina hubungan dengan Rus' Kiev. Hubungan ini memberikan dampak yang panjang terhadap sejarah bangsa Slav Timur, dan Romawi Timur dengan cepat menjadi mitra budaya dan perdagangan mereka. Akan tetapi hubungan antara kedua pihak ini tidak selalu hangat. Konflik paling serius antara kedua negara adalah perang 968–971 di Bulgaria. Serangan-serangan Rus' terhadap kota-kota Romawi Timur di pantai Laut Hitam dan Konstantinopel juga tercatat dalam sejarah. Meskipun serangan-serangan tersebut dapat dihalau, serangan itu berakhir dengan traktat perdagangan yang menguntungkan Rus'.

Hubungan Rus'-Romawi Timur membaik setelah pernikahan Anna Porphyrogenita dengan Vladimir yang Agung. Berkat Kristenisasi pula, hubungan kedua negara semakin manis. Pendeta, arsitek, dan artis Romawi Timur diundang untuk membantu pengerjaan katedral dan gereja di Rus', sehingga pengaruh budaya Romawi Timur semakin menyebar. Beberapa tentara Rus' menjadi tentara bayaran dalam angkatan bersenjata Romawi Timur, dengan yang paling terkenal adalah Penjaga Varangia.

Akan tetapi, bahkan setelah Kristenisas bansga Rus', hubungan dengan Bizantium tidak selalu baik. Konflik paling serius antara dua kekuatan ini adalah perang tahun 968–971 di Bulgaria, namun beberapa ekspedisi penyerbuan Rus' terhadap kota-kota Bizantium di pesisir Laut Hitam dan Konstantinopel sendiri juga pernah dilakukan. Meskipun sebagian besarnya berhasil dihalau, ekspedisi-ekspedisi itu seringkali diselesaikan dengan perjanjian damai yang biasanya lebih menguntungkan bangsa Rus', misalnya perjanjian pada akhir perang tahun 1043, yang mana ketika itu Rus' menunjukkan indikasi adanya ambisi untuk bersaing dengan Bizantium sebagai kekuatan yang mandiri.[75]

Puncak[sunting | sunting sumber]

Mural Santo Kiril dan Methodius, abad ke-19, Biara Troyan, Bulgaria.

Kekaisaran Romawi Timur membentang dari Armenia di timur hingga Calabria di barat.[73] Banyak keberhasilan telah digapai, dari penaklukan Bulgaria, aneksasi wilayah Georgia dan Armenia, hingga pemusnahan penyerang Mesir di luar Antiokhia. Kemenangan-kemenangan tersebut masih belum cukup; Basil mempertimbangkan untuk mengusir pendudukan Arab di Sisilia. Ia berencana menaklukan kembali pulau tersebut, tetapi kematian terlebih dahulu menuntut nyawanya tahun 1025.[73]

Leo VI mereformasi administrasi Kekaisaran, mengatur ulang perbatasan subdivisi administratif (Themata, atau "Thema") dan merapikan sistem pangkat serta hak istimewa, serta mengatur tindakan beragam serikat dagang di Konstantinopel. Reformasi Leo berperan besar dalam mengurangi bahaya perpecahan Kekaisaran.[76]

Periode ini juga meliputi peristiwa keagamaan yang penting. Kiril dan Methodius, dua bersaudara Yunani Bizantium dari Thessaloniki, berperan besar dalam Kristenisasi bangsa Slav.[77]

Krisis dan perpecahan[sunting | sunting sumber]

Romawi Timur segera terperosok dalam periode kesulitan, terutama diakibatkan oleh kerusakan sistem dan pengabaian militer. Nikephoros II (963–969), Ioannes Tzimiskes dan Basil II mengubah divisi militer (τάγματα, tagmata) dari angkatan bersenjata penduduk yang defensif menjadi tentara profesional yang banyak diisi oleh tentara bayaran. Akan tetapi, biaya yang harus dikeluarkan untuk menyewa tentara bayaran tidaklah sedikit. Sementara itu, ancaman invasi terus sirna pada abad kesepuluh, dan begitu pula kebutuhan garnisun dan perbentengan yang mahal.[78] Basil II mewarisi kas yang berkembang pada penerus-penerusnya, tapi lupa untuk merencanakan penerusnya. Tidak ada satupun penerusnya yang memiliki bakat politik atau militer, sehingga pemerintahan kekaisaran jatuh ke tangan pegawai negeri. Usaha untuk memulihkan ekonomi Romawi Timur hanya mengakibatkan inflasi dan menurunnya nilai koin emas. Angkatan bersenjata lalu dipandang sebagai kebutuhan yang tak penting dan ancaman politik. Maka dari itu, tentara asli dipecat dan digantikan oleh tentara bayaran asing.[79]

Penaklukan Edessa di Suriah (1031) oleh Bizantium yang dipimpin oleh George Maniakes, serta serangan balasan Arab

Pada masa yang sama, kekaisaran menghadapi musuh baru yang ambisius. Provinsi-provinsi Romawi Timur di Italia selatan diancam oleh bangsa Norman, yang datang ke Italia pada awal abad kesebelas. Selama periode perselisihan antara Konstantinopel dengan Roma yang berakhir dengan Skisma Timur-Barat tahun 1054, suku Norman mulai menyerbu Italia Bizantium.[80] Bari, pertahanan utama Bizantium di Apulia, dikepung pada Agustus 1068 dan ditaklukan pada April 1071.[81] Romawi Timur juga kehilangan pengaruh mereka atas kota-kota pantai di Dalmatia karena direbut Peter Krešimir IV dari Kroasia tahun 1069.[82]

Di Asia Kecil-lah bencana terbesar akan terjadi. Turki Seljuq melancarkan eksplorasi pertama mereka melintasi perbatasan Romawi Timur ke Armenia pada tahun 1065 dan 1067. Kedaruratan dibebankan pada aristokrasi militer di Anatolia yang pada tahun 1068 mengamankan pemilihan salah satu dari mereka sendiri, Romanos Diogenes, sebagai kaisar. Pada musim panas tahun 1071, Romanos melancarkan kampanye militer besar terhadap Seljuk. Pada Pertempuran Manzikert, Romanos tidak hanya menderita kekalahan di tangan Sultan Alp Arslan, tetapi juga ditangkap. Alp Arslan memperlakukannya dengan hormat, dan tidak mengenakan syarat-syarat keras pada Romawi Timur.[79] Sementara itu, di Konstantinopel, kudeta yang mendukung Michael Doukas berlangsung. Pada tahun 1081, Seljuk memperluas kekuasaan mereka di Anatolia. Wilayah mereka membentang dari Armenia di timur hingga Bithynia di barat. Ibukota Seljuk didirikan di Nicea, yang hanya terletak sejauh 55 mil (88 km) dari Konstantinopel.[83]

Dinasti Komnenos dan Tentara Salib[sunting | sunting sumber]

Alexios I dan Perang Salib Pertama[sunting | sunting sumber]

Kekaisaran Romawi Timur dan Kesultanan Rûm sebelum Perang Salib.

Setelah pertempuran Manzikert, berkat usaha dinasti Komnenos, pemulihan berhasil dilakukan.[84] Kaisar pertama dinasti ini adalah Isaakius I (1057–1059), dan yang kedua adalah Alexios I. Pada masa kekuasaannya, Alexios menghadai serangan Norman yang dipimpin oleh Robert Guiscard dan putranya Bohemund dari Taranto. Mereka merebut Dyrrhachium dan Corfu, serta mengepung Larissa di Thessaly. Kematian Robert Guiscard pada tahun 1085 meringankan masalah Norman untuk sementara. Sementara itu, Alexios berhasil mengalahkan Pecheneg dalam Pertempuran Levounion pada tanggal 28 April 1091.[29]

Potret Kaisar Alexios I.

Selepas mencapai kestabilan di Barat, Alexios dapat mengalihkan perhatiannya terhadap kesulitan ekonomi dan disintegrasi pertahanan lama kekaisaran.[85] Ia ingin merebut kembali wilayah yang lepas di Asia Kecil dan menghancurkan Seljuk, tetapi tidak mempunyai cukup tentara. Pada Konsili Piacenza tahun 1095, utusan Alexios berbicara kepada Paus Urbanus II mengenai penderitaan orang Kristen di Timur, dan menekankan bahwa tanpa bantuan dari Barat, mereka akan terus menderita akibat kekuasaan Muslim. Urban memandang permohonan Alexios sebagai kesempatan untuk memperkokoh Eropa Barat dan memperkuat kekuasaan kepausan.[86] Pada 27 November 1095, Paus Urbanus II menggelar Konsili Clermont dan menyerukan kepada semua yang hadir untuk mengangkat senjata di bawah tanda Salib dan melancarkan perang suci untuk merebut kembali Yerusalem dan Timur dari tangan Muslim.[29]

Alexios telah menantikan bantuan dalam bentuk tentara bayaran dari Barat, tetapi sama sekali tidak siap untuk menghadapi kekuatan besar yang akan melewati wilayah Romawi Timur. Alexios merasa tidak nyaman karena empat dari delapan pemimpin tentara salib utama adalah orang Norman, salah satunya Bohemund. Tentara Salib harus melewati Konstantinopel. Untungnya, kaisar berhasil menanganinya. Ia mengharuskan pemimpin-pemimpin perang salib bersumpah agar dalam perjalanan mereka menuju Tanah Suci, mereka harus menyerahkan wilayah atau kota yang mereka taklukan dari Turki kepada Romawi Timur. Sebagai gantinya, Alexios akan memberi mereka panduan, persediaan makanan, dan pengawalan militer.[87] Berkat sumpah itu, Alexios berhasil menguasai kembali kota-kota dan pulau-pulau penting, dan bahkan sebagian besar Asia Kecil barat. Sayangnya, tentara salib meyakini sumpah mereka sudah tidak berlaku ketika Alexios tidak membantu mereka dalam pengepungan Antiokhia (ia sebenarnya telah mempersiapkan jalan menuju Antiokhia, tetapi Stephen dari Blois meyakinkannya untuk mundur. Stephen meyakinkannya bahwa ekspedisi telah gagal).[88] Bohemund, yang menetapkan dirinya sebagai Pangeran Antiokhia, sempat berperang melawan Romawi Timur, tetapi akhirnya setuju untuk menjadi vassal Romawi Timur dalam Traktat Devol tahun 1108. Berkat traktat tersebut, ancaman Norman berhasil dipadamkan.[89]

Ioannes II, Manouel I, dan Perang Salib Kedua[sunting | sunting sumber]

Manuskrip yang menggambarkan direbutnya Yerusalem selama Perang Salib Pertama.

Putra Alexios, Ioannes II Komnenos, menggantikannya tahun 1118, dan berkuasa hingga tahun 1143. Ioannes adalah seorang kaisar yang soleh dan berdedikasi, yang ingin memperbaiki kerusakan yang disebabkan oleh Pertempuran Manzikert.[90] Ia terkenal akan kesalehannya dan masa kekuasaannya yang lembut dan adil. Ioannes adalah contoh pemimpin bermoral, pada masa ketika kekejaman merupakan norma.[91] Maka, ia dijuluki sebagai Marcus Aurelius Bizantium.

Pada masa kekuasaannya, Ioannes bersekutu dengan Kekaisaran Romawi Suci di Barat, mengalahkan Pecheneg dalam Pertempuran Beroia,[92] serta memimpin kampanye militer terhadap Bangsa Turk di Asia Kecil. Kampanye militer Ioannes mengubah keseimbangan kekuatan di timur, memaksa Turki mengambil posisi defensif, serta merebut kembali kota-kota Romawi Timur di Anatolia.[93] Ia juga berhasil mengusir serangan Hongaria dan Serbia pada tahun 1120-an. Pada tahun 1130, Ioannes bersekutu dengan kaisar Jerman Lothair III. Mereka bersama-sama berperang melawan raja Norman, Roger II dari Sisilia.[94]

Pada masa akhir kekuasaannya, Ioannes memusatkan kegiatannya di Timur. Ia mengalahkan emirat Danishmend, menaklukan kembali seluruh Cilicia, dan memaksa Raymond dari Poitiers, Pangeran Antiokhia, untuk mengakui kekuasaan Romawi Timur. Dalam upaya untuk menunjukkan peran Romawi Timur sebagai pemimpin dalam dunia Kristen, Ioannes maju ke Tanah Suci. Harapannya pupus karena pengkhianatan sekutu tentara salibnya.[95] Pada tahun 1142, Ioannes kembali menekankan klaimnya terhadap Antiokhia, tetapi ia wafat pada tahun 1143 akibat insiden berburu. Raymond memberanikan diri menyerang Cilicia, tetapi gagal dan terpaksa pergi ke Konstantinopel untuk memohon belas kasihan kaisar yang baru.[96]

Kekaisaran Romawi Timur (warna ungu) tahun 1180, pada akhir periode Komnenos.

Manouel I Komnenos, putra keempat Ioannes, terpilih sebagai penerus takhta kekaisaran. Ia melancarkan kampanye militer terhadap tetangga-tetangganya di barat dan timur. Di Palestina, ia bersekutu dengan Kerajaan Yerusalem, dan mengirim armada besar untuk ikut serta dalam invasi ke Mesir Fatimiyyah. Manouel memperkuat posisinya sebagai maharaja negara-negara Tentara Salib. Hegemoninya terhadap Antiokhia dan Yerusalem dipastikan melalui persetujuan dengan Raynald, Pangeran Antiokhia, dan Amalric, Raja Yerusalem.[97]

Dalam upaya untuk merestorasi kekuasaan Romawi Timur di pelabuhan-pelabuhan Italia Selatan, Manouel mengirim ekspedisi ke Italia tahun 1155, tetapi sengketa dengan koalisi mengakibatkan kegagalan kampanye militer ini. Meskipun begitu, angkatan bersenjata Manouel berhasil menyerbu Kerajaan Hongaria tahun 1167. Tentara Hongaria dapat dikalahkan dalam Pertempuran Sirmium. Pada tahun 1168, hampir seluruh pantai Adriatik timur berada di tangan Manouel.[98] Manouel lalu bersekutu dengan Paus dan kerajaan-kerajaan Kristen Barat. Pada masa Perang Salib Kedua, tentara salib harus melewati wilayah Romawi Timur untuk mencapai tanah suci. Manouel membiarkan mereka lewat, dan memastikan tentara salib tidak menyebabkan kekacauan.[99]

Di timur, Manouel mengalami kekalahan dalam Pertempuran Myriokephalon tahun 1176. Akan tetapi, kekalahan itu segera diperbaiki. Pada tahun berikutnya, Manouel berhasil mengalahkan tentara Turki.[100] Komandan Romawi Timur Ioannes Vatatzes, yang menghancurkan penyerang Turki dalam Pertempuran Hyelion dan Leimocheir, tidak hanya membawa pasukan dari ibukota, tetapi juga berhasil mengumpulkan tentara dalam perjalanan. Hal ini merupakan tanda bahwa tentara Romawi Timur tetap kuat dan program pertahanan di Asia Kecil barat masih berhasil.[101]

Renaisans abad keduabelas[sunting | sunting sumber]

!Untuk detail lebih lanjut tentang topik ini, lihat Peradaban Romawi Timur pada abad ke-12.
'Ratapan Kristus' (1164), sebuah fresko dari gereja Santo Panteleimon di Nerezi di dekat Skopje. Lukisan ini dianggap sebagai contoh terbaik dari seni Komnenos abad ke-12

Ioannes dan Manouel menerapkan kebijakan militer aktif, dan memanfaatkan sumber daya yang ada untuk pertahanan kota atau pengepungan. Kebijakan perbentengan agresif merupakan jatung kebijakan militer mereka.[102] Meskipun mengalami kekalahan di Myriokephalon, kebijakan Alexios, Ioannes, dan Manouel, berhasil memperluas wilayah kekaisaran, mencapai kestabilan perbatasan di Asia Kecil, serta mengamankan perbatasan Eropa kekaisaran. Dari tahun 1081 hingga 1180, angkatan bersenjata Komnenos menjamin keamanan Romawi Timur, sehingga peradaban Romawi Timur memiliki kesempatan untuk berkembang.[103]

Provinsi-provinsi Barat mampu menggapai kebangkitan ekonomi. Selama abad keduabelas, jumlah penduduk dan tanah pertanian meningkat. Bukti arkeologi dari Eropa dan Asia Kecil menunjukkan perbesaran permukiman kota. Pada masa ini, perdagangan juga berkembang.[104]

Dalam bidang artistik, muncul kebangkitan dalam bidang mosaik. Sekolah-sekolah arsitektur regional mulai memproduksi banyak gaya baru yang berasal dari berbagai pengaruh budaya.[105] Selama abad keduabelas, model humanisme awal muncul sebagai renaisans ketertarikan terhadap penulis-penulis klasik.[106] Melalui Eustathios dari Thessalonika, humanisme Bizantium menemukan kembali ekspresi khasnya.[106] Dalam filsafat, ada kebangkitan pembelajaran klasik yang sudah terabaikan sejak abad ke-7, dicirikan dengan peningkatan signifikan dalam penerbitan ulasan karya-karya klasik.[107] Selain itu, selama periode Komnenos terjadi penyebaran pertama pengetahuan Yunani klasik ke barat.[108]

Kemunduran dan disintegrasi[sunting | sunting sumber]

Dinasti Angeloi[sunting | sunting sumber]

Manouel wafat pada tanggal 24 September 1180. Ia digantikan oleh putranya yang masih berusia sebelas tahun, Alexios II Komnenos. Alexios II sangat tidak kompeten. Pemerintahannya kurang disukai karena latar belakang Franka ibunya, Maria dari Antiokhia.[109] Akhirnya, Andronikos I Komnenos, cucu Alexios I, mengobarkan pemberontakan melawan saudaranya dan berhasil menjatuhkannya dalam kudeta. Ia melangsungkan pawai di Konstantinopel pada Agustus 1182 dengan memanfaatkan kepopulerannya di angkatan bersenjata. Selanjutnya Andronikos menggalakkan pembantaian orang-orang Latin.[110] Setelah menghabisi musuh-musuhnya, ia menyatakan dirinya sebagai kaisar pada September 1183. Andronikos mencabut nyawa Alexios II dan merampas istri Alexios yang berusia 12 tahun, Agnes dari Perancis.[110]

Andronikos memulai pemerintahannya dengan baik. Reformasi pemerintahan yang dilancarkannya dipuji oleh sejarawan-sejarawan. Menurut George Ostrogorsky, Andronikos berdedikasi untuk membasmi korupsi sampai ke akar-akarnya. Di bawah kekuasaannya, penjualan jabatan dihentikan. Pemilihan pejabat didasarkan pada jasa, bukan karena pilih kasih. Pejabat-pejabat diberi upah yang layak sehingga praktik suap dapat dikurangi.[111] Aristokrat-aristokrat merasa geram dengannya. Sementara itu, perilaku Andronikos juga dipandang kurang baik. Penghukuman mati dan kekerasan kerap terjadi, sehingga masa kekuasaannya menjadi rezim teror.[112] Andronikos berupaya menghabisi aristokrasi. Perjuangan melawan aristokrasi berubah menjadi pembantaian, sementara kaisar melancarkan tindakan yang lebih kejam untuk menopang rezimnya.[111]

Ilustrasi kematian Andronikos.

Meskipun mempunyai latar belakang militer, Andronikos tak mampu melawan Isaakius Komnenos dari Siprus, Béla III dari Hongaria yang mencaplok wilayah-wilayah Kroasia, dan Stefan Nemanja dari Serbia yang menyatakan kemerdekaan dari Romawi Timur. Keadaan semakin memburuk ketika William II dari Sisilia menyerang Romawi Timur dengan angkatan perang sejumlah 300 kapal dan 80.000 tentara pada tahun 1185.[113] Andronikos memobilisasi armada kecil yang berjumlah 100 kapal untuk melindungi ibukota. Penyerang-penyerang ini baru dapat diusir pada masa kekuasaan kaisar berikutnya, Isaakius Angelos.

Atas dukungan rakyat, Andronikos akhirnya dijatuhkan oleh Isaakius Angelos.[114] Kaisar yang telah dijatuhkan berusaha melarikan diri bersama istrinya, tetapi ditangkap. Isaakius menyerahkannya kepada massa selama tiga hari. Setelah beragam macam penyiksaan, Andronikos akhirnya tewas pada 12 September 1185. Ia adalah anggota Dinasti Komnenos terakhir yang menguasai Konstantinopel. Isaakius Angelos dari Dinasti Angeloi menggantikannya sebagai kaisar.

Pada masa kekuasaan Isaakius II, dan juga penerusnya Alexios III Angelos, pemerintahan dan pertahanan Romawi Timur mulai runtuh. Meskipun Norman berhasil diusir dari Yunani, pada tahun 1186 Vlach dan Bulgar melancarkan pemberontakan yang berujung kepada berdirinya Kekaisaran Bulgaria Kedua. Kebijakan dalam negeri Angeloi berciri pemborosan harta publik dan maladministrasi fiskal. Pemerintahan Romawi Timur terus melemah, dan kekosongan kekuasaan yang tumbuh di kekaisaran memicu perpecahan. Salah satu buktinya adalah saat beberapa penerus Komnenos mendirikan negara semi-independen di Trebizond sebelum tahun 1204.[115] Menurut Alexander Vasiliev, "dinasti Angeloi mempercepat keruntuhan kekaisaran."[116]

Perang Salib Keempat[sunting | sunting sumber]

!Untuk detail lebih lanjut tentang topik ini, lihat Perang Salib Keempat.
Tentara Salib Memasuki Konstantinopel, karya Eugène Delacroix (1840).

Pada tahun 1198, Paus Innosensius III memulai pembicaraan mengenai perang salib baru melalui legatus dan surat-surat ensiklik.[117] Tujuan perang salib tersebut adalah untuk menaklukkan Mesir, yang merupakan pusat kekuatan Muslim di Levant. Tentara Salib yang tiba di Venesia pada musim panas 1202 jumlahnya lebih kecil daripada yang dinanti. Mereka juga tidak mempunyai dana yang cukup untuk menyewa armada Venesia. Sebagai ganti pembayaran, Tentara Salib setuju untuk membantu merebut pelabuhan (Kristen) Zara di Dalmatia (kota vassal Venesia, tetapi memberontak dan dilindungi oleh Hongaria tahun 1186).[118] Zara berhasil direbut pada November 1202 setelah pengepungan singkat.[119] Innosensius, yang telah diberitahu mengenai rencana tersebut tetapi penentangannya diabaikan, tidak ingin membahayakan rencana Perang Salib, sehingga ia memberikan pengampunyan bersyarat kepada Tentara Salib, tetapi Venesia tidak mendapatkannya.[120]

Peta yang menunjukkan pembagian Kekaisaran Romawi Timur setelah Perang Salib Keempat.

Setelah Theobald III wafat, kepemimpinan Tentara Salib berganti tangan ke Bonifacius dari Montferrat, teman Philip dari Swabia. Baik Boniface maupun Philip telah menikah dengan anggota keluarga kekaisaran Romawi Timur. Ipar Philip, Alexios Angelos (putra dari Kaisar Isaakius II Angelos, yang telah dijatuhkan dan dibutakan), memohon bantuan ke Eropa dan telah berhubungan dengan Tentara Salib. Alexios menawarkan penyatuan kembali gereja Romawi Timur dengan Roma, pembayaran 200.000 mark perak, dan bantuan-bantuan lainnya.[121] Innosensius mengetahui rencana untuk mengalihkan Perang Salib ke Konstantinopel dan melarang serangan terhadap kota tersebut, tetapi surat paus baru tiba setelah armada telah meninggalkan Zara.

Tentara Salib tiba di Konstantinopel pada musim panas tahun 1203. Alexios III melarikan diri dari ibukota. Alexios Angelos naik takhta sebagai Alexios IV bersama dengan ayahnya yang buta, Isaakius. Sayangnya, Alexios IV dan Isaakius II tak mampu menepati janji mereka dan dijatuhkan oleh Alexios V. Tentara Salib lalu merebut Konstantinopel pada 13 April 1204. Konstantinopel kemudian dijarah selama tiga hari. Banyak ikon, relik, dan objek-objek lainnya di Konstantinopel, diangkut ke Eropa Barat. Menurut Choniates, prostitusi didirikan di takhta patriark.[122] Saat Innosensius III mendengar perilaku Tentara Salib, ia hendak menghukum mereka, tetapi situasi sudah di luar kendali, terutama setelah legatusnya, yang atas inisiatifnya sendiri, membebaskan Tentara Salib dari tugas mereka untuk menaklukkan Tanah Suci.[73][120] Ketika pemerintahan telah direstorasi, Tentara Salib dan Venesia menetapkan persetujuan mereka: Baldwin dari Flandria dipilih sebagai kaisar dan Thomas Morosini dari Venesia ditunjuk sebagai patriark. Maka berdirilah Kekaisaran Latin di Konstantinopel. Sementara itu, pengungsi-pengungsi Romawi Timur mendirikan negara mereka sendiri, dengan yang paling penting adalah Kekaisaran Nicea, Kekaisaran Trebizond, dan Kedespotan Epirus.[120]

Jatuhnya Romawi Timur[sunting | sunting sumber]

Kekaisaran dalam pembuangan[sunting | sunting sumber]

!Untuk detail lebih lanjut tentang topik ini, lihat Latinokratia.

Setelah Tentara Salib menjarah Konstantinopel tahun 1204, dua negara Romawi Timur berdiri: Kekaisaran Nicea dan Kedespotan Epirus. Negara ketiga, Kekaisaran Trebizond, didirikan oleh Alexios I dari Trebizond beberapa minggu sebelum penjarahan Konstantinopel. Di antara tiga negara ini, Epirus dan Nicea merupakan negara yang paling mungkin merebut kembali Konstantinopel. Kekaisaran Nicea terus berjuang untuk tetap bertahan, dan pada pertengahan abad ke-13 telah kehilangan sebagian besar wilayahnya di Anatolia selatan.[123] Melemahnya Kesultanan Rûm akibat serangan bangsa Mongol tahun 1242–43 memungkinkan para beylik dan ghazi untuk mendirikan kepangeranan mereka sendiri di Anatolia, sehingga melemahkan kekuasaan Romawi Timur di Asia Kecil.[124] Akan tetapi, invasi Mongol juga memberi waktu bagi Nicea untuk mengalihkan perhatian pada Kekaisaran Latin.

Penaklukan kembali Konstantinopel[sunting | sunting sumber]

Kekaisaran Romawi Timur tahun 1263.

Kekaisaran Nicea, didirikan oleh dinasti Laskarid, berhasil merebut kembali Konstantinopel dari Latin tahun 1261. Selanjutnya, mereka juga berhasil mengalahkan Epirus. Maka Romawi Timur berhasil direstorasi di bawah pimpinan Michael VIII Palaiologos. Akan tetapi, kekaisaran yang terkoyak akibat perang kini rentan terhadap musuh-musuh disekitarnya. Untuk memperkuat tentaranya dalam peperangan melawan Kekaisaran Latin, Michael menarik pasukan dari Asia Kecil, dan memungut pajak yang tinggi dari petani, mengakibatkan kebencian.[125] Proyek pembangunan besar-besaran dilancarkan di Konstantinopel untuk memperbaiki kerusakan akibat Perang Salib Keempat, tetapi tidak satupun dari usaha ini menguntungkan petani di Asia Kecil, yang menderita akibat serangan ghazi-ghazi.

Michael memilih untuk memperluas wilayah kekaisaran daripada menjaga jajahannya di Asia Kecil. Untuk mencegah penjarahan lain, ia memaksa gereja tunduk kepada Roma, yang menjadi solusi sementara.[126] Selanjutnya, Kaisar Andronikos II, lalu cucunya Kaisar Andronikos III, berupaya membangkitkan kembali kekaisaran, namun tentara bayaran yang disewa Andronikos II dari Magnas Societas Catalanorum seringkali menjadi bumerang.[127]

Bangkitnya Utsmaniyah dan jatuhnya Konstantinopel[sunting | sunting sumber]

Situasi semakin memburuk setelah Andronikos III wafat. Perang saudara selama enam tahun berkecamuk di kekaisaran, membuat penguasa Serbia Stefan IV Dushan (berkuasa 1331–1346) mampu menguasai sebagian besar sisa wilayah kekaisaran dan mendirikan "Kekaisaran Serbia" yang berumur pendek. Gempa bumi di Gallipoli tahun 1354 menghancurkan perbentengan, sehingga Utsmaniyah (yang disewa sebagai tentara bayaran selama perang saudara oleh Ioannes VI Kantakouzenos) dapat memperkuat posisinya di Eropa.[128] Saat perang saudara telah berakhir, Utsmaniyah telah mengalahkan Serbia dan menundukkan mereka sebagai vassal. Setelah Pertempuran Kosovo, sebagian besar Balkan telah didominasi oleh Utsmaniyah.[129]

Mediterania Timur sebelum jatuhnya Konstantinopel.

Kaisar memohon bantuan dari barat, tetapi paus hanya akan mengirim bantuan jika Gereja Ortodoks Timur mau bersatu kembali dengan Takhta Suci. Penyatuan gereja telah dipertimbangkan, dan kadang-kadang dilakukan melalui dekret kekaisaran, tetapi penduduk dan klerus Ortodoks membenci otoritas Roma dan Ritus Latin.[130] Beberapa tentara Barat datang dan memperkuat pertahanan Konstantinopel, namun kebanyakan penguasa Barat, yang sibuk dengan urusannya masing-masing, tidak melakukan apapun saat Utsmaniyah mencaplok satu per satu sisa wilayah Romawi Timur.[131]

Pada tanggal 2 April 1453, Sultan Mehmed II dengan tentara berjumlah 80.000 mengepung Konstantinopel.[132] Konstantinopel akhirnya jatuh ke tangan Utsmaniyah pada tanggal 29 Mei 1453. Kaisar Romawi Timur terakhir, Konstantinus XI Palaiologos, terlihat melepas tanda kebesarannya dan melibatkan dirinya dalam pertempuran setelah tembok kota direbut.[133]

Pasca runtuhnya Romawi Timur[sunting | sunting sumber]

Setelah Konstantinopel jatuh, satu-satunya wilayah Kekaisaran Bizantium yang masih tersisa adalah Kedespotan Morea (Peloponnesos), yang dikuasai oleh Kaisar terakhir, Thomas Palaiologos dan Demetrios Palaiologos. Kedespotan ini terus bertahan sebagai negara merdeka dengan membayar upeti tahunan kepada Utsmaniyah. Pemerintahan yang tak kompeten, ketidakmampuan membayar upeti, dan pemberontakan melawan Utsmaniyah akhirnya membuat Mehmed II menginvasi Morea pada 1460. Demetrios meminta Utsmaniyah untuk menginvasi dan mengusir Thomas, hingga akhirnya Thomas melarikan diri. Utsmaniyah bergerak menyusuri Morea dan bisa dibilang berhasil menaklukan seluruh Morea pada musim panas. Demetrios mengira bahwa ia akan dijadikan penguasa Morea, namun wilayah ini kemudian dijadikan bagian dari Utsmaniyah.

Beberapa pertahanan terakhir mampu bertahan selama beberapa waktu. Pulau Monemvasia menolak menyerah dan awalnya diperintah oleh seorang bajak laut Katala. Ketika penduduknya mengusirnya, mereka memperoleh persetujuan Thomas untuk menempatkan mereka di bawah perlindungan Paus sebelum akhir 1460. Semenanjung Mani, di ujung selatan Morea, melakukan perlawanan bawah koalisi longgar para klan lokal dan kemudian wilayah itu dikuasai oleh Venesia. Pertahanan terakhir adalah Salmeniko, di barat laut Morea. Graitzas Palaiologos adalah komandan militer di sana, ditempatkan di Kastil Salmeniko. Ketika kota itu akhirnya menyerah, Graitzas dan garnisunnya serta beberapa penduduk kota bertahan di kastil hingga Juli 1461, ketika akhirnya mereka melarikan diri dan tiba di wilayah Venesia.[134]

Mehmed II menaklukkan negara-negara kecil di Mistra, Yunani, pada tahun 1460, dan Trebizond pada tahun 1461. Pada akhir abad ke-15, Kesultanan Utsmaniyah telah menguasai Asia Kecil dan sebagian Balkan. Ia dan para penerusnya terus menganggap diri mereka sebagai pewaris Kekaisaran Romawi hingga runtuhnya Kesultanan Utsmaniyah pada awal abad ke-20. Mereka beranggapan bahwa mereka hanya mengubah basis keagamaan di Bizantium seperti yang dahulu dilakukan oleh Constantinus. Sementara itu, Kepangeranan-kepangeranan Donau menerima pengungsi-pengsungsi Ortodoks dan bangsawan-bangsawan Romawi Timur.

Keponakan kaisar terakhir, Andreas Palaiologos, mewarisi gelar Kaisar Romawi Timur dan menggunakannya dari tahun 1465 hingga kematiannya tahun 1503.[18] Selanjutnya, peran kaisar sebagai pelindung Ortodoks Timur diklaim oleh Ivan III, Adipati Agung Mokswa. Ia telah menikahi saudara Andreas, Sophia Paleologue. Cucunya, Ivan IV, akan menjadi Tsar Rusia yang pertama (tsar, atau czar, berarti caesar, adalah istilah yang dahulu digunakan bangsa Slavia untuk Kaisar Romawi Timur). Penerus-penerus mereka mendukung gagasan bahwa Moskwa adalah penerus Roma dan Konstantinopel. Gagasan bahwa Kekaisaran Rusia adalah Roma Ketiga tetap hidup hingga meletusnya Revolusi Rusia tahun 1917.[135]

Ekonomi[sunting | sunting sumber]

!Untuk detail lebih lanjut tentang topik ini, lihat Ekonomi Romawi Timur.

Ekonomi Romawi Timur merupakan salah satu yang paling maju di Eropa dan Mediterania selama berabad-abad. Eropa tak mampu menandingi kekuatan ekonomi Romawi Timur hingga akhir abad pertengahan. Konstantinopel merupakan pusat utama dalam jaringan perdagangan yang meliputi hampir seluruh Eurasia dan Afrika Utara. Kota tersebut juga menjadi salah satu kota utama dalam jalur sutra. Beberapa ahli menyatakan bahwa, hingga datangnya bangsa Arab pada abad ketujuh, ekonomi Romawi Timur merupakan yang terkuat di dunia. Penaklukan Arab menyebabkan terjadinya kemunduran dan stagnansi. Reformasi Konstantinus V (765) menandai mulainya pemulihan ekonomi yang berlangsung hingga tahun 1204. Dari abad kesepuluh hingga akhir abad keduabelas, Kekaisaran Romawi Timur memproyeksikan citra mewah, dan pengelana kagum dengan kekayaan di Konstantinopel. Semuanya berubah pada masa Perang Salib Keempat, yang membawa bencana ekonomi.[136] Palaiologos mencoba memulihkan ekonomi, tetapi negara Romawi Timur akhir tidak akan memperoleh kuasa penuh atas kekuatan ekonomi domestik dan asing. Pelan-pelan, Romawi Timur juga kehilangan pengaruhnya dalam modalitas perdagangan dan mekanisme harga, dan juga kuasa atas aliran logam-logam berharga, dan bahkan, menurut beberapa ahli, terhadap pencetakan koin-koin.[137]

Salah satu fondasi ekonomi kekaisaran adalah perdagangan. Tekstil merupakan komoditas ekspor yang paling penting.[138] Negara dengan ketat menguasai perdagangan internal dan internasional, serta memiliki hak monopoli dalam mengeluarkan koin. Pemerintah mengatur tingkat bunga, dan menetapkan parameter aktivitas serikat dan perusahaan dagang, yang dikenakan bunga khusus. Kaisar dan pejabat-pejabatnya melakukan campur tangan pada masa krisis untuk menjamin penyediaan modal dan menjaga harga serealia. Pemerintah mengumpulkan hasil surplus melalui pemungutan pajak, dan mengembalikannya dalam sirkulasi melalui redistribusi dalam bentuk gaji kepada pejabat-pejabat negara, atau dalam bentuk investasi fasilitas-fasilitas umum.[139]

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Di Romawi Timur, kaisar adalah penguasa tunggal dan absolut. Kekuasaannya dianggap memiliki asal usul ilahi.[18] Senat tidak mempunyai kewenangan politik dan legislatif yang nyata, tetapi tetap sebagai dewan kehormatan. Pada akhir abad ke-8, pemerintahan sipil yang terpusat di istana dibentuk sebagai bagian dari konsolidasi kekuatan di ibukota (bangkitnya posisi sakellarios berhubungan dengan perubahan ini).[140] Reformasi paling penting pada periode ini adalah pendirian thema. Pada thema, pemerintahan sipil dan militer diatur oleh satu orang, yaitu strategos.[18]

Terlepas dari penggunaan istilah "Bizantium" dan "Bizantinisme" yang merendahkan, birokrasi Bizantium mampu merekonstruksi diri sejalan dengan situasi Kekaisaran.

Sistem tituler dan hak pendahuluan di kekaisaran mengakibatkan pemerintahan tampak seperti birokrasi bagi pengamat-pengamat modern. Pejabat-pejabat diatur dalam susunan yang ketat di antara kaisar, dan jabatan mereka bergantung pada kehendak kaisar. Di Romawi Timur terdapat pekerjaan administratif yang sebenarnya, tetapi pemerintahan dapat digantungkan pada orang-orang tertentu daripada suatu jawatan.[141] Pada abad ke-8 dan ke-9, kepegawaian negeri merupakan jalan tercepat menuju status aristokrat, tetapi sejak abad ke-9, aristokrasi sipil disaingi oleh aristokrasi kebangsawanan. Menurut beberapa penelitian, politik abad ke-11 didominasi oleh persaingan antara aristokrasi antara sipil dan militer. Pada masa tersebut, Alexios I melancarkan reformasi administratif penting yang meliputi pengadaan pangkat dan jabatan istana.[142]

Diplomasi[sunting | sunting sumber]

!Untuk detail lebih lanjut tentang topik ini, lihat Diplomasi Romawi Timur.
Duta besar Bizantium, Yohanes Ahli Tata Bahasa pada 829, antara kaisar Theophilos dan Khlifah Abbasiyah Al-Ma'mun.

Setelah jatuhnya Roma, tantangan utama Romawi Timur adalah membina hubungan dengan tetangga-tetangganya. Diplomasi Romawi Timur segera menarik perhatian tetangga-tetangganya. Maka terbukalah jaringan hubungan internasional dan antarnegara.[143] Jaringan ini berkisar pada pembuatan traktat, dan meliputi penyambutan penguasa baru, serta asimilasi tindakan, nilai, dan institusi sosial Romawi Timur.[144] Sementara penulis klasik menuliskan pemisahan etis dan legal antara perdamaian dan perang, Romawi Timur menganggap diplomasi sebagai salah satu bentuk perang.[145] Contohnya, ancaman Bulgaria dapat diatasi dengan memberikan dana kepada Rus Kiev.[145] Gereja Ortodoks juga memainkan fungsi diplomatik, dan penyebaran Kekristenan Ortodoks merupakan tujuan diplomatik utama kekaisaran.

Scrinium Barbarorum di Konstantinopel bertugas menangani protokol dan penyimpanan catatan mengenai apapun yang berhubungan dengan "barbar".[146] Sementara sedang melaksanakan tugas protokol, mereka memastikan duta-duta asing diperlakukan dengan baik, dan juga berperan dalam penerjemahan misi diplomatik dari negara-negara Barbar. J.B. Bury meyakini bahwa departemen tersebut mengawasi semua orang asing yang mengunjungi Konstantinopel.[147] Beberapa orang, seperti Michael Antonucci, meyakini bahwa Scrinium Barbarorum bertindak sebagai semacam jawatan mata-mata untuk kekaisaran, tetapi tak ada bukti yang kuat mengenai hal ini. On Strategy dari abad ke-6 menawarkan saran mengenai kedutaan asing: "[Duta-duta] yang dikirim harus diterima dengan hormat dan murah hati, karena siapapun menghormati para duta, namun kehadiran mereka perlu diawasi agar mereka tidak memperoleh informasi dengan menanyai orang-orang kita."[148]

Romawi Timur mengambil kesempatan baik dan memanfaatkan beberapa pendekatan diplomatik. Sebagai contoh, kedutaan ke ibukota seringkali tinggal selama bertahun-tahun. Salah satu anggota keluarga kerajaan dari negara lain seringkali diminta tinggal di Konstantinopel. Mereka tidak hanya berguna sebagai sandera, tetapi juga pion yang dapat dimanfaatkan jika kondisi politik negara tempat ia berasal berubah. Praktik penting lain pada diplomasi Romawi Timur adalah dengan banyak menunjukkan barang-barang mewah kepada pengunjung.[143] Menurut Dimitri Obolensky, keberlangsungan peradaban di Eropa Timur adalah karena keterampilan dan akal diplomasi Romawi Timur, yang tetap menjadi salah satu sumbangan Romawi Timur bagi sejarah Eropa.[149]

Ilmu pengetahuan dan hukum[sunting | sunting sumber]

Gambar muka Vienna Dioscurides, yang menggambarkan tujuh dokter terkenal.

Penulisan ala era klasik tidak pernah berhenti diberdayakan di Romawi Timur. Maka, ilmu pengetahuan Romawi Timur berhubungan dekat dengan filsafat kuno dan metafisika.[150] Meskipun Romawi Timur berhasil menerapkan ilmu pengetahuan (seperti dalam pembangunan Hagia Sophia), setelah abad ke-6, ahli-ahli Romawi Timur tidak banyak memberi sumbangan terhadap ilmu pengetahuan. Teori-teori baru tidak banyak digagas, dan gagasan penulis-penulis klasik tak banyak dikembangkan.[151] Keahlian terhambat pada tahun-tahun kegelapan akibat wabah pes dan penaklukkan Arab, tetapi pada masa renaisans Romawi Timur di akhir milenium pertama, ahli-ahli Romawi Timur muncul kembali dan menjadi ahli dalam pengembangan ilmiah Arab dan Persia, terutama dalam bidang astronomi dan matematika.[152] Orang Bizantium juga berperan dalam beberapa penemuan penting, khususnya dalam arsitektur (misalnya kubah pendentif) dan teknolog perang (misalnya api Yunani).

Pada abad akhir kekaisaran, ahli tata bahasa Romawi Timur bertanggung jawab dalam membawa dan menulis tata bahasa dan studi sastra Yunani Kuno ke Italia Renaisans awal.[153] Pada periode ini, astronomi dan matematika diajarkan di Trebizond.[154]

Di bidang hukum, reformasi Yustinianus I telah memberikan pengaruh yang jelas terhadap perkembangan jurisprudens. Sementara itu, Ecloga Kaisar Leo III memengaruhi pembentukan institusi hukum di dunia Slavia.[155] Pada abad ke-10, Leo VI Yang Bijak menyelesaikan kodifikasi seluruh hukum Bizantium dalam bahasa Yunani, yang menjadi dasar bagi seluruh hukum Bizantium selanjutnya, memicu munculnya ketertarikan terhadap hukum Bizantium bahkan hingga saat ini.[156]

Bahasa[sunting | sunting sumber]

!Untuk detail lebih lanjut tentang topik ini, lihat Bahasa Yunani Abad Pertengahan.
Kiri: Mazmur Mudil, mazmur lengkap tertua dalam bahasa Koptik (Museum Koptik, Mesir, Koptik Kairo). Kiri: Gulungan Yosua, manuskrip Yunani teriluminasi yang kemungkinan dibuat di Konstantinopel (Perpustakaan Vatikan, Roma). Kiri: Mazmur Mudil, mazmur lengkap tertua dalam bahasa Koptik (Museum Koptik, Mesir, Koptik Kairo). Kiri: Gulungan Yosua, manuskrip Yunani teriluminasi yang kemungkinan dibuat di Konstantinopel (Perpustakaan Vatikan, Roma).
Kiri: Mazmur Mudil, mazmur lengkap tertua dalam bahasa Koptik (Museum Koptik, Mesir, Koptik Kairo).

Kiri: Gulungan Yosua, manuskrip Yunani teriluminasi yang kemungkinan dibuat di Konstantinopel (Perpustakaan Vatikan, Roma).

Awalnya, bahasa kekaisaran adalah bahasa Latin. Bahasa tersebut menjadi bahasa resmi hingga abad ke-7, ketika Heraklius menggantinya dengan bahasa Yunani. Bahasa Latin Ilmiah tidak lagi digunakan oleh penduduk berpendidikan, meskipun masih menjadi bagian dari budaya seremonial kekaisaran selama beberapa waktu.[157] Bahasa Latin Rakyat tetap menjadi bahasa minoritas kekaisaran, dan di antara penduduk Trako-Romawi, bahasa tersebut melahirkan bahasa (Proto-)Rumania.[158] Sementara itu, di pantai laut Adriatik, dialek neo-Latin berkembang, yang akan membuahkan bahasa Dalmatia. Di provinsi-provinsi Mediterania Barat yang sempat dikuasai di bawah pemerintahan Yustinianus I, Latin (akhirnya berevolusi menjadi bahasa Italia) terus digunakan sebagai bahasa rakyat maupun bahasa ilmiah.

Bahasa utama yang digunakan di Romawi Timur (bahkan semenjak sebelum jatuhnya Romawi Barat) adalah bahasa Yunani. Bahasa tersebut telah dituturkan selama berabad-abad sebelum Latin.[159] Pada awal berdirinya Romawi, bahasa Yunani banyak digunakan di gereja Kristen, dan juga menjadi bahasa ilmu pengetahuan dan seni. Selain itu, bahasa Yunani juga menjadi perantara perdagangan.[160]

Banyak bahasa lain juga dituturkan di kekaisaran multietnis ini. Beberapa bahasa memperoleh satatus resmi yang terbatas di provinsi-provinsi. Pada awal abad pertengahan, bahasa Suryani dan Aram dituturkan oleh penduduk berpendidikan di provinsi-provinsi ujung timur.[161] Bahasa Koptik, Armenia, dan Georgia juga banyak digunakan di tempatnya masing-masing.[162] Sementara itu, bahasa Slavonia, Vlach, dan Arab menjadi penting karena terjalinnya hubungan dengan kekuatan asing.[163]

Konstantinopel merupakan pusat perdagangan di kawasan Mediterania, sehingga setiap bahasa yang diketahui pada abad pertengahan kadang-kadang dituturkan di kekaisaran, bahkan termasuk bahasa Tionghoa.[164] Saat kekaisaran memasuki masa kemunduran terakhirnya, penduduk Romawi Timur menjadi homogen, dan bahasa Yunani menjadi penting bagi identitas dan agama mereka.[165]

Budaya[sunting | sunting sumber]

Seni dan sastra[sunting | sunting sumber]

Miniatur Injil Rabbula.

Seni Romawi Timur sebagian besar berhubungan dengan ekspresi religius. Gaya-gaya Romawi Timur disebar melalui perdagangan dan penaklukan ke Italia dan Sisilia; gaya-gaya tersebut akan memengaruhi seni renaisans Italia. Dengan maksud untuk memperluas Gereja Ortodoks Timur, gaya Romawi Timur disebar ke kota-kota Eropa timur, terutama Rusia.[166] Pengaruh dari arsitektur Romawi Timur, terutama dalam bentuk bangunan religius, dapat ditemui di berbagai wilayah, dari Mesir dan Arabia, hingga Rusia dan Rumania.

Dalam bidang sastra, terdapat empat elemen budaya, yaitu Yunani, Kristen, Romawi, dan Oriental. Sastra Romawi Timur seringkali diklasifikasikan dalam lima kelompok: sejarawan dan analis, ensiklopedis (Patriark Photios, Michael Psellos, dan Michael Choniates dianggap sebagai ensiklopedis terbesar Romawi Timur) dan penulis esai, serta penulis puisi sekular. Dua kelompok lainnya meliputi jenis sastra baru: sastra gerejawi dan teologis, dan sastra populer. Dari dua hingga tiga ribu volume sastra Romawi Timur yang selamat, hanya tiga ratus tiga puluh yang meliputi puisi sekular, sejarah, ilmu pengetahuan, dan ilmu semu.[167] Sastra sekuler berkembang dari abad kesembilan hingga keduabelas, sementara sastra religius (khotbah, buku liturgi, puisi, devosi, dll) berkembang lebih dahulu, dengan Romanus Melodus sebagai contoh yang paling menonjol.[168]

Agama[sunting | sunting sumber]

Mosaik Kristus di Hagia Sophia.

Kelangsungan hidup kekaisaran memastikan peran aktif kaisar dalam urusan gereja. Negara Romawi Timur mewarisi kebiasaan administratif dan finansial dalam mengatur urusan agama dari masa pagan, dan kebiasaan ini diterapkan di gereja. Orang-orang Romawi Timur memandang kaisar sebagai wakil atau pengabar Kristus. Maka kaisar bertanggung jawab dalam penyebaran Kekristenan di antara orang-orang pagan, dan untuk "luar" agama, seperti pemerintahan dan keuangan. Seperti disebutkan oleh Kyril Mango, pemikiran politik Bizantium dapat dirangkum dalam moto, "Satu Tuhan, satu kekaisaran, satu agama".[169] Meskipun begitu, peran kaisar dalam gereja tidak pernah berkembang menjadi sistem tetap yang legal.[170]

Peran imperial dalam urusan Gereja tak pernah berkembang menjadi sistem yang tetap dan pasti secara hukum.[170] Dengan jatuhnya Roma dan pertikaian internal pada tubuh kepatriarkan lainnya, gereja Konstantinopel menjadi pusat Kekristenan terkaya dan paling berpengaruh antara abad ke-6 hingga abad ke-11.[171] Bahkan ketika Kekaisaran mengalami kemunduran dan menyusut, Gerejanya tetap memiliki pengaruh signifikan baik di dalam dan di luar perbatasan kekaisaran, seperti ditulis oleh George Ostrogorsky:

Kepatriarkan Konstantinopel terus menjadi pusat dunia Ortodoks, dengan subordinatnya adalah tahta metropolitan dan keuskupan agung di kawasan Asia Kecil dan Balkan, kini lepas dari Bizantium, serrta di Kaukasus, Rusia dan Lithuania. Gereja tetap menjadi unsur paling stabil di Kekaisaran Bizantium.[172]

Doktrin Kristen resmi pertama ditetapkan oleh tujuh dewan ekumeni pertama, dan ketika itu kaisar bertugas menjalannya kepada rakyatnya. Suatu dekrit kekaisaran pada 388, yang kelak dimasukkan ke dalam Kodeks Justinianus, memerintahkan penduduk Kekaisaran "untuk menganut Kristen Katolik." dan menyatakan bahwa mereka yang tidak mematuhinya dianggap "gila dan bodoh" oleh hukum; sebagai pengikut "dogma pagan".[173]

Kekristenan tidak pernah bersatu secara penuh di Kekaisaran Romawi Timur. Gereja Ortodoks Timur tidak mewakili semua orang Kristen di kekaisaran. Nestorianisme, pandangan yang diajarkan oleh Nestorius, berpisah dari gereja kekaisaran, dan kini menjadi Gereja Timur Asiria. Gereja Ortodoks Oriental melepaskan diri dari gereja kekaisaran setelah deklarasi Konsili Khalsedon. Arianisme dan sekte-sekte Kristen lain, seperti Nestorianisme, Monofisitisme dan Paulisianisme, juga ada di kekaisaran, meskipun pada masa jatuhnya Roma pada abad ke-5, Arianisme lebih terbatas pada suku-suku Jermanik di Eropa Barat. Pada masa akhir kekaisaran, Ortodoks Timur mewakili sebagian besar orang Kristen di sisa kekaisaran. Sementara itu, Yahudi merupakan minoritas yang penting di kekaisaran. Meskipun beberapa kali mengalami penganiayaan, mereka secara umum ditoleransi.

Perpecahan lainnya di antara kaum Kristiani terjadi ketika Leo III memerintahkan penghancuran ikon-ikon di seluruh Kekaisaran. Ini memicu terjadinya krisis keagamaan yang besar, yang berakhir pada pertengahan abad ke-19 dengan dipulihkannya ikon-ikon. Selama periode yang sama, gelombang pagan baru berkembang di Balkan, terutama berasal dari bangsa Slav. Mereka secara perlahan-lahan dikristenisasi, dan tahap akhir Bizantiu, yaitu Kristen Ortodoks Timur mencerminkan sebagian besar umat Kristiani, dan secara umum, sebagian besar orang di sisa-sisa kekaisaran.[174]

Warisan[sunting | sunting sumber]

Raja Daud mengenakan gaun Kaisar Romawi Timur. Miniatur berasal dari buku mazmur Paris.

Kekaisaran Romawi Timur telah mengamankan Eropa Barat dari kekuatan-kekuatan baru di Timur. Romawi Timur terus menerus diserang oleh Persia, Arab, Turki Seljuk, dan Utsmaniyah. Contohnya, Peperangan Romawi Timur-Arab, diakui oleh sejarawan sebagai faktor utama di balik bangkitnya Karel yang Agung,[175] dan rangsangan bagi feudalisme dan kemandirian ekonomi.

Selama berabad-abad, sejarawan Barat menggunakan istilah Byzantine dan Bizantinisme sebagai pameo untuk kemerosotan, politik tipu muslihat, dan birokrasi yang kompleks. Selain itu, terdapat penilaian negatif yang kuat terhadap peradaban Romawi Timur dan warisannya di Eropa Tenggara.[176] Byzantinisme secara umum didefinisikan sebagai badan religius, politik, dan filosofis yang bertentangan dengan Barat.[177] Bahkan di Yunani abad ke-19, fokus utamanya adalah pada masa klasik, sedangkan tradisi Bizantium dikaitkan dengan konotasi negatif.[176]

Pendekatan tradisional terhadap Bizantium ini secara sebagan atau keseluruhan diperdebatkan dan direvisi oleh penelitian modern, yang berfokus pada aspek-aspek positif dari kebudayaan dan peninggalan Bizantium. Pada abad ke-20 dan ke-21, sejarawan-sejarawan di Barat mencoba memahami Romawi Timur dengan lebih akurat dan seimbang. Hasilnya, karakter budaya Romawi Timur yang kompleks lebih diperhatikan dan diperlakukan secara objektif daripada sebelumnya.[177] Averil Cameron berpendapat bahwa Bizantium memberikan banyak kontribusi terhadap terbentuknya Eropa Abad Pertengahan. Baik Cameron maupun Obolensky juga mengakui peran penting Bizantium dalam membentuk Kristen Ortodoks, yang pada gilirannya menempati posisi sentral dalam sejarah dan masyarakat di Yunani, Bulgaria, Rusia, Serbia serta negara-negara lainnya.[178]

Jika keberadaan Kekaisaran Romawi Kuno (meliputi Romawi Barat) dengan Romawi Timur/Bizantium digabung, seluruh Kekaisaran Romawi telah berwujud selama 1.480 tahun. Pengganti Kekaisaran Romawi, Republik Romawi, ada selama 482 tahun, sehingga negara Romawi telah ada selama 1.962 tahun.

Setelah penaklukan Konstantinopel oleh Turk Utsmaniyah pada 1453, Sultan Mehmed II mengambil gelar "Kaysar-i-Rûm" (padanan Turk untuk Kaisar Romawi), karena ia merasa bahwa Kesultanan Utsmaniyah merupakan penerus Kekasiaran Bizantium.[179] Menurut Cameron, dengan menganggap diri sebagai "penerus" Bizantium, Utsmaniyah menjaga aspek-aspek penting dari tradisi Bizantium, yang pada gilirannya memudahkan "kebangkitan Ortodoks" selama periode pasca-Komunisme di negara-negara Eropa Timur.[180]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Penjelasan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Contoh pertama penyebutan "Roma Baru" dalam dokumen resmi dapat ditemui dalam kanon Konsili Konstantinopel Pertama (381).[5]
  2. ^ Romania (atau Rhōmanía) adalah nama populer kekaisaran[10] yang digunakan secara tidak resmi, berarti "negeri orang-orang Romawi". Istilah ini tidak merujuk pada Rumania modern.
  3. ^ "Imperium Graecorum", "Graecia", "Yunastan", dll, nama barat lain yang digunakan adalah "kekaisaran Konstantinopel" (imperium Constantinopolitanum) dan "kekaisaran Romania" (imperium Romaniae).

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Millar 2006, hlm. 2, 15; James 2010, hlm. 5: "But from the start, there were two major differences between the Roman and Byzantine empires: Byzantium was for much of its life a Greek speaking empire oriented towards Greek, not Latin culture; and it was a Christian empire."
  2. ^ Kazhdan & Epstein 1985, hlm. 1.
  3. ^ a b Millar 2006, pp. 2, 15; James 2010, p. 5; Freeman 1999, pp. 431, 435–437, 459–462; Baynes & Moss 1948, p. xx; Ostrogorsky 1969, p. 27; Kaldellis 2007, pp. 2–3; Kazhdan & Constable 1982, p. 12; Norwich 1998, p. 383.
  4. ^ Treadgold 1997, hlm. 847.
  5. ^ Benz 1963, hlm. 176.
  6. ^ Ostrogorsky 1969, pp. 105–107, 109; Norwich 1998, p. 97; Haywood 2001, pp. 2.17, 3.06, 3.15.
  7. ^ Fox, What, If Anything, Is a Byzantine?
  8. ^ University of Chile: Center of Byzantine and Neohellenic Studies 1971, hlm. 69.
  9. ^ Rosser 2011, hlm. 2.
  10. ^ Fossier & Sondheimer 1997, hlm. 104.
  11. ^ "Nation and Liberty: the Byzantine Example". Dio.sagepub.com. doi:10.1177/039219218303112403. Diakses 2010-08-07. 
  12. ^ Theodore the Studite. Epistulae, 145, Line 19 ("ή ταπεινή Γραικία") and 458, Line 28 ("έν Αρμενία καί Γραικία").
  13. ^ Cinnamus 1976, hlm. 240.
  14. ^ Ahrweiler & Laiou 1998, hlm. 3; Mango 2002, hlm. 13.
  15. ^ Gabriel 2002, hlm. 277.
  16. ^ Millar 2006, hlm. 2, 15; Ahrweiler & Laiou 1998, hlm. vii; Davies 1996, hlm. 245; Moravcsik 1970, hlm. 11–12; Ostrogorsky 1969, hlm. 28, 146; Lapidge, Blair & Keynes 1998, hlm. 79; Winnifrith & Murray 1983, hlm. 113; Gross 1999, hlm. 45; Hidryma Meletōn Chersonēsou tou Haimou 1973, hlm. 331.
  17. ^ Fouracre & Gerberding 1996, hlm. 345: "The Frankish court no longer regarded the Byzantine Empire as holding valid claims to universality; instead it was now termed the 'Empire of the Greeks'."
  18. ^ a b c d "Hellas, Byzantium". Encyclopaedia The Helios. 
  19. ^ Tarasov 2004, hlm. 121.
  20. ^ El-Cheikh 2004, hlm. 22.
  21. ^ Davis 1990, hal. 260.
  22. ^ Wells 1922, Chapter 33.
  23. ^ Bury 1923, hal. 1
  24. ^ Gibbon (1906), Part II Chapter 14: 200.
  25. ^ Gibbon 1906, III, 168 PDF (2.35 MB).
  26. ^ Esler 2004, hlm. 1081.
  27. ^ Eusebius, IV, lxii.
  28. ^ Bury 1923, hal. 63.
  29. ^ a b c d e "Byzantine Empire". Encyclopædia Britannica. 
  30. ^ Nathan, Theodosius II (408–450 AD).
  31. ^ Treadgold 1995, hlm. 193.
  32. ^ Alemany 2000, hlm. 207; Treadgold 1997, hlm. 184.
  33. ^ Lenski 1999, hlm. 428–429.
  34. ^ Grierson 1999, hlm. 17.
  35. ^ Postan, Miller & Postan 1987, hlm. 140.
  36. ^ "Byzantine Empire". Encyclopædia Britannica. ; Evans, Justinian (AD 527–565).
  37. ^ a b c Evans, Justinian (AD 527–565).
  38. ^ Gregory 2010, 2E, hal. 145.
  39. ^ Bury 1923, 180–216.
  40. ^ Sotinel 2005, hlm. 278; Treadgold 1997, hlm. 187.
  41. ^ Bury 1923, 236–258.
  42. ^ Bury 1923, 259–281.
  43. ^ Bury 1923, 286–288.
  44. ^ Vasiliev, The Legislative Work of Justinian and Tribonian.
  45. ^ Bray 2004, hlm. 19–47; Haldon 1990, hlm. 110–111; Treadgold 1997, hlm. 196–197.
  46. ^ Foss 1975, hlm. 722.
  47. ^ Haldon 1990, hlm. 41; Speck 1984, hlm. 178.
  48. ^ Haldon 1990, hlm. 42–43.
  49. ^ Grabar 1984, hlm. 37; Cameron 1979, hlm. 23.
  50. ^ Cameron 1979, hlm. 5–6, 20–22.
  51. ^ Haldon 1990, hlm. 46; Baynes 1912, passim; Speck 1984, hlm. 178.
  52. ^ Foss 1975, hlm. 746–747.
  53. ^ Haldon 1990, hlm. 50.
  54. ^ Haldon 1990, hlm. 61–62.
  55. ^ Haldon 1990, hlm. 102–114.
  56. ^ Wickham 2009, hlm. 260.
  57. ^ Haldon 1990, hlm. 43–45, 66, 114–115.
  58. ^ Haldon 1990, hlm. 66–67.
  59. ^ Haldon 1990, hlm. 71.
  60. ^ Haldon 1990, hlm. 70–78, 169–171; Haldon 2004, hlm. 216–217; Kountoura-Galake 1996, hlm. 62–75.
  61. ^ Cameron 2009, hlm. 67–68.
  62. ^ "Byzantine Empire". Encyclopædia Britannica. ; "Hellas, Byzantium". Encyclopaedia The Helios. 
  63. ^ Treadgold 1997, hlm. 432–433.
  64. ^ Parry 1996, hlm. 11–15.
  65. ^ Cameron 2009, hlm. 267.
  66. ^ Browning 1992, hlm. 95.
  67. ^ Browning 1992, hlm. 96.
  68. ^ Karlin-Heyer 1967, hlm. 24.
  69. ^ Browning 1992, hlm. 101.
  70. ^ Browning 1992, hlm. 107.
  71. ^ Browning 1992, hlm. 108.
  72. ^ Browning 1992, hlm. 113.
  73. ^ a b c d e Norwich 1998.
  74. ^ Angold 1997.
  75. ^ Cameron 2009, hlm. 82.
  76. ^ Browning 1992, hlm. 98–99.
  77. ^ Timberlake 2004, hlm. 14
  78. ^ Treadgold 1997, hlm. 548–549.
  79. ^ a b Markham, The Battle of Manzikert.
  80. ^ Vasiliev, Relations with Italy and Western Europe.
  81. ^ Hooper & Bennett 1996, hlm. 82; Stephenson 2000, hlm. 157.
  82. ^ Ferdo Šišić. Povijest Hrvata u vrijeme narodnih vladara. Zagreb, 1925, ISBN 86-401-0080-2
  83. ^ "Byzantine Empire". Encyclopædia Britannica. 2002. ; Markham, The Battle of Manzikert.
  84. ^ Magdalino 2002, hlm. 124.
  85. ^ Birkenmeier 2002.
  86. ^ Harris 2003; Read 2000, hlm. 124; Watson 1993, hlm. 12.
  87. ^ Komnene 1928, X, 261.
  88. ^ Anna Komnene. Alexiad, XI, 291.
  89. ^ Anna Komnene. Alexiad, XIII, 348–358; Birkenmeier 2002, hlm. 46.
  90. ^ Norwich 1998, hlm. 267.
  91. ^ Ostrogorsky 1969, hlm. 377.
  92. ^ Birkenmeier 2002, hlm. 90.
  93. ^ Stone, Ioannes II Komnenos.
  94. ^ "John II Komnenos". Encyclopædia Britannica. .
  95. ^ Harris 2003, hlm. 84.
  96. ^ Brooke 2008, hlm. 326.
  97. ^ Magdalino 2002, hlm. 74; Stone, Manouel I Comnenus.
  98. ^ Sedlar 1994, hlm. 372.
  99. ^ Magdalino 2002, hlm. 67.
  100. ^ Birkenmeier 2002, hlm. 128.
  101. ^ Birkenmeier 2002, hlm. 196.
  102. ^ Birkenmeier 2002, hlm. 185–186.
  103. ^ Birkenmeier 2002, hlm. 1.
  104. ^ Day 1977, hlm. 289–290; Harvey 2003.
  105. ^ Diehl, Byzantine Art
  106. ^ a b Tatakes & Moutafakis 2003, hlm. 110.
  107. ^ Browning 1992, hlm. 198–208.
  108. ^ Browning 1992, hlm. 218.
  109. ^ Norwich 1998, hlm. 291.
  110. ^ a b Norwich 1998, hlm. 292.
  111. ^ a b Ostrogorsky 1969, hlm. 397.
  112. ^ Harris 2003, hlm. 118.
  113. ^ Norwich 1998, hlm. 293.
  114. ^ Norwich 1998, hlm. 294–295.
  115. ^ Angold 1997; Paparrigopoulos & Karolidis 1925, hlm. 216
  116. ^ Vasiliev, Foreign Policy of the Angeloi.
  117. ^ Norwich 1998, hlm. 299.
  118. ^ Britannica Concise, 9383275/Siege-of-Zara Siege of Zara.
  119. ^ Geoffrey of Villehardouin 1963, hlm. 46.
  120. ^ a b c "The Fourth Crusade and the Latin Empire of Constantinople". Encyclopædia Britannica. .
  121. ^ Norwich 1998, hlm. 301.
  122. ^ Choniates, The Sack of Constantinople.
  123. ^ Kean 2006; Madden 2005, hlm. 162; Lowe-Baker, The Seljuks of Rum.
  124. ^ Lowe-Baker, The Seljuks of Rum.
  125. ^ Madden 2005, hlm. 179; Reinert 2002, hlm. 260.
  126. ^ Reinert 2002, hlm. 257.
  127. ^ Reinert 2002, hlm. 261.
  128. ^ Reinert 2002, hlm. 268.
  129. ^ Reinert 2002, hlm. 270.
  130. ^ Runciman 1990, hlm. 71–72.
  131. ^ Runciman 1990, hlm. 84–85.
  132. ^ Runciman 1990, hlm. 84–86.
  133. ^ Hindley 2004, hlm. 300.
  134. ^ Miller 1907, p. 236.
  135. ^ Seton-Watson 1967, hlm. 31.
  136. ^ Magdalino 2002, hlm. 532, [1].
  137. ^ Matschke 2002, hlm. 805–806, [2].
  138. ^ Laiou 2002, hlm. 723, [3].
  139. ^ Laiou 2002, hlm. 3–4, [4].
  140. ^ Louth 2005, hlm. 291; Neville 2004, hlm. 7.
  141. ^ Neville 2004, hlm. 34.
  142. ^ Neville 2004, hlm. 13.
  143. ^ a b Neumann 2006, hlm. 869–871.
  144. ^ Chrysos 1992, hlm. 35.
  145. ^ a b Antonucci 1993, hlm. 11–13.
  146. ^ Seeck 1876, hlm. 31–33.
  147. ^ Bury & Philotheus 1911, hlm. 93.
  148. ^ Dennis 1985, Anonymous, Byzantine Military Treatise on Strategy, para. 43, hal. 125.
  149. ^ Obolensky 1994, hlm. 3.
  150. ^ Anastos 1962, hlm. 409.
  151. ^ Cohen 1994, hlm. 395; Dickson, Mathematics Through the Middle Ages.
  152. ^ King 1991, hlm. 116–118.
  153. ^ Robins 1993, hlm. 8.
  154. ^ Tatakes & Moutafakis 2003, hlm. 189.
  155. ^ Troianos & Velissaropoulou-Karakosta 1997, hlm. 340.
  156. ^ Browning 1992, hlm. 97–98.
  157. ^ Apostolides 1992, hlm. 25–26; Wroth 1908, Introduction, Section 6.
  158. ^ Sedlar 1994, hlm. 403–440.
  159. ^ Millar 2006, hlm. 279.
  160. ^ Bryce 1901, hlm. 59; McDonnell 2006, hlm. 77; Millar 2006, hlm. 97–98.
  161. ^ Beaton 1996, hlm. 10; Jones 1986, hlm. 991; Versteegh 1977, Chapter 1.
  162. ^ Campbell 2000, hlm. 40; Hacikyan et al. 2002, Part 1.
  163. ^ Baynes 1907, hlm. 289; Gutas 1998, Chapter 7, Section 4; Shopen 1987, hlm. 129.
  164. ^ Beckwith 1986, hlm. 171; Halsall 2006.
  165. ^ Kaldellis 2008, Chapter 6; Nicol 1993, Chapter 5.
  166. ^ "Byzantine Art". Encyclopædia Britannica. .
  167. ^ Mango 2005, hlm. 233–234.
  168. ^ "Byzantine Literature". Catholic Encyclopedia. 
  169. ^ Mango 2007, hlm. 108.
  170. ^ a b Meyendorff 1982, hlm. 13.
  171. ^ Meyendorff 1982, hlm. 19.
  172. ^ Meyendorff 1982, hlm. 130.
  173. ^ Justinian Code, I, 1.1
    * Blume 2008, Headnote C. 1.1; Mango 2007, hlm. 108.
  174. ^ Mango 2007, hlm. 115–125.
  175. ^ Pirenne, Henri:
  176. ^ a b Angelov 2001, hlm. 1.
  177. ^ a b Angelov 2001, hlm. 7–8.
  178. ^ Cameron 2009, hlm. 186–277.
  179. ^ Béhar 1999, hlm. 38; Bideleux & Jeffries 1998, hlm. 71.
  180. ^ Cameron 2009, hlm. 261.

Referensi[sunting | sunting sumber]

Sumber primer[sunting | sunting sumber]

Sumber sekunder[sunting | sunting sumber]

Bacaan lanjut[sunting | sunting sumber]

  • Ahrweiler, Helene (2000). Les Europeens. Paris: Herman. 
  • Haldon, John (2001). The Byzantine Wars: Battles and Campaigns of the Byzantine Era. Stroud: Tempus Publishing. ISBN 0752417959. 
  • Hussey, J. M. (1966). The Cambridge Medieval History, Volume IV — The Byzantine Empire Part I, Byzantium and its Neighbors. Cambridge University Press. 
  • Runciman, Steven (1966). Byzantine Civilisation. Edward Arnold (Publishers). ISBN 1566195748. 
  • Runciman, Steven (1990). The Emperor Romanus Lecapenus and his Reign. University Press (Cambridge). ISBN 0521061644. 
  • Toynbee, Arnold J. (1972). Constantine Porphyrogenitus and His World. Oxford University Press. ISBN 019215253X. ISBN 0-19-215253-X. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Studi, sumber, dan bibliografi Bizantium[sunting | sunting sumber]

Lainnya[sunting | sunting sumber]