Kekaisaran Akhemeniyah

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Kekaisaran Persia Akhaimenia
Parsā

 

 

 

sek. 550 SM–336 SM

Lambang Koresh Agung

Wilayah terluas Kekaisaran Akhaimenia di bawah Darius I.
Ibukota Pasargadae, Ekbatana, Persepolis, Susa, Babilon
Bahasa Bahasa Persia Lama (bahasa asli)
bahasa Aram Imperial (Bahasa resmi dan lingua franca)[1]
bahasa Elam
bahasa Akakdia[2]
Agama Zoroastrianisme
Pemerintahan Monarki
Syah
 -  559–529 SM (pertama) Koresh Agung
 -  336–330 SM (terakhir) Darius III
Era sejarah Kuno
 -  Didirikan 550 SM (Koresh Agung menggulingkan Astages dari Media)
 -  Pembangunan dimulai di Persepolis 515 SM
 -  Penaklukan Mesir oleh Kambises II 525 SM
 -  Perang Yunani-Persia 498–448 SM
 -  Ditaklukkan pada Perang Aleksander Agung 336 SM (Aleksander Agung menaklukkan Persia)
 -  Darius III dibunuh oleh Bessos 330 SM
Luas
 -  480 SM 8.000.000 km² (3.088.817 mil²)
Mata uang Darik dan Siglos
Sekarang bagian dari

Kekaisaran Persia Akhaimenia (atau Akhemeniyah play /əˈkmənɪd/; bahasa Persia Lama: Parsā, nama dinasti yang berkuasa: Haxāmanišiya) (sek. 550–330 SM), dikenal pula sebagai Kekaisaran Persia Pertama, adalah kekaisaran Persia (Iran) di Asia Selatan dan Barat Daya yang didirikan pada abad ke-6 SM oleh Koresh Agung, yang menggulingkan konfederasi Medes. Kekaisaran ini meluas hingga pada akhirnya menguasai wilayah yang amat besar di dunia kuno dan pada tahun 500 SM membentang dari Lembah Indus di timur, hingga ke Thrakia dan Makedonia di perbatasan timur laut Yunani. Tidak ada kekaisaran lain sebelum masa itu yang lebih besar daripada Kekaisaran Akhaimenia.[4] Kekaisaran Akhaimenia pada akhirnya menguasai Mesir juga. Kekaisaran ini dipimpin oleh serangkaian raja yang menyatukan suku-suku dan bangsa-bangsanya yang terpisah-pisah dengan membangun jaringan jalan yang rumit.

Bangsa Persia menyebut diri mereka Pars, yang berasal dari nama suku Arya asli mereka Parsa, dan bermukim di daerah yang mereka beri nama Parsua (Persis dalam bahasa Yunani), yang dibatasi oleh Sungai Tigris di barat dan Teluk Persia di timur. Tempat ini menjadi wilayah pusat mereka pada masa Kekaisaran Akhaimenia.[4] Dari daerah inilah Koresh Agung (Koresh II dari Persia) pada akhirnya muncul dan mengalahkan bangsa Medes, Lydia, dan Kekaisaran Babilonia, membuka jalan untuk penaklukan selanjutnya ke Mesir dan Asia Kecil.

Pada puncak kejayaannya setelah penaklukan Mesir, kekaisaran ini menempati wilayah seluas kira-kira 8 juta km2,[5] meliputi tiga benua: Asia, Afrika, dan Eropa. Pada wilayah terluasnya, kekaisaran ini juga meliputi wilayah yang kini menjadi Iran, Turki, sebagian Asia Tengah, Pakistan, Thrakia, dan Makedonia, sebagian besar daerah pesisir Laut Hitam, Afghanistan, Irak, Arab Saudi utara, Yordania, Israel, Lebanon, Suriah, serta semua pusat pemukiman di Mesir kuno hingga ke barat sejauh Libya. Dalam sejarah Barat, Kekaisaran Akhaimenia disebutkan sebagai musuh negara-negara kota Yunani[4] selama Perang Yunani-Persia. Kekaisaran ini juga terkenal karena emansipasi terhadap terhadap perbudakan termasuk pembebasan bangsa Yahudi dari pembuangan ke Babilonia dan karena membangun infrastruktur seperti sistem pos, sistem jalan, dan penggunaan bahasa resmi di seluruh wilayah kekuasaannya. Kekaisaran ini menerapkan administrasi birokratis terpusat di bawah pimpinan Kaisar serta memiliki pasukan militer profesional dan pasukan wajib militer yang besar, mengilhami perkembangan serupa di kekaisaran-kekaisaran lain pada masa selanjutnya.[6]

Menurut pandangan tradisional, wilayah Kekaisaran Akhaimenia yang amat luas dan keragaman etnokulturalnya yang luar biasa[7] pada akhirnya menjadi kerugian karena penyerahan kekuasaan kepada pemerintah lokal pada akhirnya melemahkan otoritas pusat milik raja, membuat banyak energi dan sumber daya terbuang akibat harus menghentikan pemberontakan lokal.[4] Ini menjelaskan mengapa ketika Aleksander Agung (Aleksander III dari Makedonia) menginvasi Persia pada tahun 334 SM dia menghadapi suatu kekaisaran terpecah belah dengan pemimpin yang lemah, mudah untuk dihancurkan. Sudut pandang ini ditentang oleh beberapa sejarawan modern yang berpendapat bahwa Kekaisaran Akhaimenia tidak menderita krisis semacam itu pada masa Aleksander, dan bahwa hanya kericuhan pergantian kekuasaan internal yang terjadi di dalam keluarga Akhemenid yang pernah hampir melemahkan kekaisaran.[4] Aleksander, yang merupakan pengagum Koresh Agung,[8] pada akhirnya menyebabkan keruntuhan dan perpecahan kekaisaran sekitar tahun 330 SM, membuatnya terbagi menjadi Kerajaan Ptolemaik dan Kekaisaran Seleukia, selain juga wilayah-wilayah kecil lainnya yang memedekakan diri pada masa itu. Akan tetapi, kebudayaan Iran di dataran tinggi tengah tetap berkembang dan pada akhirnya kembali berkuasa pada abad ke-2 SM.[4]

Warisan sejarah Kekaisaran Akhaimenia bukan hanya pengaruh teritorial dan militernya saja, melainkan meliputi pula pengaruh kebudaaan, sosial, dan keagamaan. Banyak orang Athena yang mengadopsi kebiasaan Akhaimenia dalam kehidupan sehari-hari mereka sebagai akibat dari kontak antarbudaya,[9] beberapa karena pernah dikerahkan oleh, atau bersekutu dengan raja Persia. Pengaruh Dekrit Pemulihan Koresh Agung disebutkan dalam naskah Yudeo-Kristen, selain itu kekaisaran ini juga amat berperan dalam penyebaran Zoroastrianisme hingga ke timur sejauh Cina. Bahkan Aleksander Agung, yang menaklukkan kekaisaran luas ini, menghormati adat-istiadatnya dan memerintahkan orang Yunani untuk ikut menghormasi raja-raja Persia termasuk Koresh Agung. Aleksander bahkan melakukan proskynesis, suatu adat kerajaan Persia, meskipun banyak diprotes oleh para tentara Makedonianya.[10][11] Kekaisaran Akhaimenia memberikan pengaruh terhadap politik, warisan dan sejarah Persia modern (kini Iran).[12] Perangaruhnya meliputi pula wilayah Persia sebelumnya yang secara keseluruhan disebut Persia Besar. Prestasi teknik yang penting di Kekaisaran Akhaimenia adalah sistem pengelolaan air Qanat, yang berusia lebih dari 3000 tahun dan memiliki panjang lebih dari 44 mil (71 km.)[13]

Pada tahun 480 SM, diperkirakan bahwa sekitar 50 juta[14] orang tinggal di Kekaisaran Akhaimenia[15] atau sekitar 44% dari seluruh populasi dunia pada masa itu, menjadikannya kekaisaran dengan jumlah penduduk terbanyak.[16]

Asal usul[sunting | sunting sumber]

Nama Persia berasal dari suku India-Eropa yang disebut Parsua. Persia merupakan pengucapan Latin dari orang India-Eropa, Parsua, yang menyebut perbatasan wilayah mereka Persis, sesuai naam suku mereka, suatu daerah yang terletak di sebelah utara Teluk Persia dan sebelah timur sungai Tigris disebut Persis (atau dalam bahasa Persia, Pars).[17] Sejarawan Yunani, Herodotos, menuturkan:[18]

Bangsa Persia terdiri atas sejumlah suku seperti terdaftar di sini. [...]: suku Pasargadai, Maraphii, dan Maspii, kepada mereka semua suku lainnya bergantung, Pasargadai adalah yang paling terkemuka; mereka memiliki klan Akhaimenid yang melahirkan raja-raja Perseid. Suku-suku lainnya adalah Panthialaei, Derusiaei, Germanii, kesemuanya hidup menetap, sisanya -Dai, Mardi, Dropici, Sagarti, merupakan suku nomaden.

Kekaisaran Akhemeniyah bukanlah kekaisaran Iran pertama. Pada abad keenam SM suku bangsa Iran lainnya, yaitu bangsa Medes, telah mendirikan Kekaisaran Media.[17] Bangsa Medes pada awalnya merupakan bangsa Iran yang dominan di aderah tersebut, mulai berkuasa pada akhir abad ke-7 SM dan menjadikan Bangsa Persia bagian dari kekaisaran mereka. Bangsa-bangsa Iran sendiri memasuki daerah itu sekitar tahun 1000 SM[19] dan pada awalnya berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Assyria (911-609 SM). Akan tetapi, bangsa Medes dan persia (bersama dengan bangsa Skythia dan Babilonia) memainkan peranan penting dalam keruntuhan Assyria melalui kerusuhan internal.

Perluasan[sunting | sunting sumber]

Pada abad ke-5 SM Persia telah menguasai wilayah yang kini menjadi Iran, Irak, pesisir Sudan, Eretria, Armenia, Azerbaijan, Pakistan, Afghanistan, Tajikistan, Turkmenistan, Kyrgyzstan, Georgia, Makedonia, Uzbekistan, Turki, Bulgaria, Siprus, Kuwait, Mesir, Suriah, Yordania, Israel, Lebanon, sebagian Yunani, Libya, bagian utara Jazirah Arab serta India barat laut.

Perang Yunani-Persia[sunting | sunting sumber]

Setelah menaklukkan Asia Kecil (Turki modern), Persia menempatkan tiran pada tiap negara kota Yunani di sana sebagai pemimpin lokal. Pada tahun 499 SM, Aristagoras, tiran Miletos, bersama dengan satrap Persia, Artaphernes, melaksanakan ekspedisi untuk menaklukkan Naxos. Tujuan Aristagoras adalah untuk meningkatkan posisinya sendiri di Miletos, baik dalam hal keuangan maupun kekuasaan. Misi itu berakhir dengan kegagalan dan akibatnya pihak Persia berencana untuk memecat Aristagoras dari jabatan tiran. Mengahadapi ancaman pemecatan itu, Aristagoras memilih untuk menghasut negara-negara kota Ionia untuk memberontak melawan kekuasaan Persia. Seluruh Ionia terkena hasutannya, terutama karena mereka juga tidak senang dengan para tiran yang ditunjuk oleh Persia untuk memimpin mereka. maka terjadilah Pemberontakan Ionia. Pemberontakan juga diikuti oleh kota-kota di Aiolis, Doris, Siprus, dan Karia.

Pertempuran Salamis (1868), karya Wilhelm von Kaulbach. Pertempuran Salamis merupakan titik balik dalam invasi kedua Persia ke Yunani.

Konflik tersebut berlangsung hingga tahun 493 SM, ketika Persia menyepakati perjanjian damai dengan kota-kota Ionia. Namun pemberontakan itu menjadi fase awal dari konflik yang lebih besar. Selama pemberontakan, dua negara kota di Yunani daratan, yakni Athena dan Eretria, mengirim pasukan dan membantu kota-kota Ionia dalam melawan Persia. Akibatnya Darius murka dan bersumpah akan menghukum dua negara itu. Selain itu, Darius menganggap bahwa situasi politik di Yunani dapat menjadi ancaman bagi kestabilan kekaisarannya. Oleh karena itu, setelah Persia kembali menguasai keadaan di Asia Kecil, Darius memerintahkan dilancarkannya invasi ke Yunani.[20] Pasukan dan armada Persia memperoleh beberapa kesukesan awal di Yunani sebelum akhirnya dikalahkan oleh pasukan Athena, yang dibantu Plataia, dalam Pertempuran Marathon pada tahun 490 SM, yang memaksa pasukan Persia mengakhiri invasinya. Darius berniat untuk kembali menyerbu Yunani namun keburu meninggal dunia.

Xerxes I (485–465 SM, bahasa Persia Lama Xšayārša "Pahlawan Para Raja"), putra Darius, naik takhta dan meneruskan misi ayahnya. Dia mengumpulkan pasukan yang besar dan pada tahun memimpin invasi ke Yunani 480 SM . Dia bersama pasukan darat Persia memasuki Yunani dari utara, menaklukkan Thrakia dan memaksa Makedonia menjadi sekutu Persia. Pasukan daratnya sempat terhenti akibat dihadang sejumlah tentara Yunani, termasuk tiga ratus prajurit Sparta, di Thermopylae, sementara armada lautnya juga sempat tertahan pada Artemision. Namun Persia pada akhirnya bisa melanjutkan invasi.

Persia terus bergerak semakin jauh di Yunani dan menaklukkan kota Athena, yang sudah hampir kosong karena penduduknya telah dievakuasi. Pada akhirnya, dalam suatu pertempuran maritim yang menentukan di Pertempuran Salamis, armada Persia dikalahkan oleh armada gabungan Yunani. Ini membuat Xerxes menarik mundur sebagian besar pasukan daratnya dan kembali ke Persia. Mardonios, seorang jenderal Persia, tetap tinggal di Yunani dan ditugaskan menyelesaikan invasi bersama sisa-sisa pasukan darat Persia. Pada tahun 479 SM, pasukan gabungan Yunani mengalahkan pasukan Mardonios dalam Pertempuran Plataia, dan armada gabungan Yunani menghancurkan armada Persia pada Pertempuran Mykale. Semua kemenangan Yunani ini mengakhiri invasi Persia.

Fase kebudayaan[sunting | sunting sumber]

Xerxes I digantikan oleh Artaxerxes I (465–424 SM), yang memindahkan ibu kota dari Persepolis ke Babylon. Pada masa pemerintahannya bahasa Elam tak lagi digunakan sebagai bahasa pemerintahan, sedangkan bahasa Aram menjadi lebih banyak digunakan. Kemungkinan pada pemerintahannya juga kalender matahari digunakan sebagai kalender nasional. Artaxerxes menjadikan Zoroastrianisme sebagai agama negara sehingga pada masa kini dia disebut juga sebagai Constantinus bagi agama tersebut.

Artaxerxes meninggal di Susa dan jasadnya dibawa ke Persepolis dimakamkan bersama para pendahulunya. Artaxerxes digantikan oleh putra sulungnya Xerxes II, yang dibunuh oleh saudara tirinya hanya beberapa minggu setelah kematian Artaxerxes. Dalam keadaan takhta Persia yang kacau, Darius II mengumpulkan dukungan bagi dirinya dan berarak ke timur, menghukum mati sang pembunuh dan mengangkat dirinya sendiri menjadi raja Persia.

Darius berkuasa sejak tahun 423 SM. Pada tahun 412 SM, atas desakan Tissaphernes, Darius memberi bantuan kepada Athena, kemudian kepada Sparta, yang mana bahwa kedua negara itu sedang berperang dalam konflik yang disebut Perang Peloponnesos. Namun pada tahun 407 SM, putra Darius, Koresh Muda, ditunjuk untuk menggantikan Tissaphernes, dan setelah itu bantuan seluruhnya diberikan hanya bagi Sparta, yang pada akhirnya berhasil mengalahkan Athena pada tahun 404 SM. Pada tahun itu pula Darius jatuh sakit dan meninggal di Babylon. Menjelang kematiannya, istrinya, Parysatis, yang berasal dari Babylon, memohon kepada Darius untuk menjadikan putra keduanya, Koresh Muda, sebagai raja Persia selanjutnya, akan tetapi Darius menolak.

Darius digantikan oleh putra sulungnya Artaxerxes II Memnon. Plutarkhos menuturkan (kemungkinan atas otoritas Ktesias) bahwa Tissaphernes menemui raja baru itu pada hari penobatannya dan memperingatkannya bahwa adiknya, Koresh Muda, berniat membunuhnya pada upaca penobatan. Artaxerxes kemudian menangkap Koresh dan hendak menghukum mati dia namun ibunya Parysatis ikut campur sehingga Koresh selamat. Koresh lalu diberikan jabatan sebagai satrap Lydia, di sana dia mengumpulkan pasukan untuk melakukan pemberontakan. Koresh dan Artaxerxes akhirnya bentrok dalam Pertempuran Kunaxa pada tahun 401 SM, yang berakhir dengan kematian Koresh.

Artaxerxes terus berkuasa dan menjadi raja Akhaimenia yang paling lama memerintah; dia menjadi raja selama sekitar 45 tahun, hingga tahun 358 SM. Selama masa pemerintahannya, Persia mengalami kedamaian dan kestabilan sehingga banyak dibangun monumen. Artaxerxes memindahkan kembali ibu kota ke Persepolis, yang dia perindah, sementara itu Ekbatana, sebagai ibu kota musim panas, diberi banyak tambahan hiasan berupa tiang dan genting yang dilapisi perak dan perunggu. Pada masa pemerintahannya juga, terjadi inovasi luar biasa pada kultus mezbah Zoroaster, dan tersebarnya agama itu ke seluruh Asia Kecil dan Levant, dari Armenia. Karena semua kontribusinya terhadap Persia, enam abad kemudian pendiri Kekaisaran Persia Kedua, Ardeshir I, menyatakan diri adalah keturunan Artaxerxes.

Keruntuhan[sunting | sunting sumber]

Artaxerxs II digantikan oleh Artaxerxes III pada tahun 358 SM. Menurut Plutarkhos, Artaxerxes III berkuasa setelah membunuh delapan saudara tirinya, untuk mengamankan takhtanya.[21] Pada tahun 343 SM Artaxerxes III mengalahkan Nektanebo II, mengusirnya dari Mesir, dan kembali menjadi Mesir sebagai bagian dari Persia. Masa kekuasaan Persia yang kedua di Mesir ini disebut sebagai dinasti ketiga puluh satu Mesir.[Catatan 1] Pada tahun 338 SM Artaxerxes III meninggal karena sebab yang tak jelas. Menurut kuneiform dia mati karena sebab alami namun menurut Diodoros, seorang sejarawan Yunani, dia dibunuh oleh Bagoas, salah seorang menterinya.[22]

Artaxerxes III digantikan oleh Artaxerxes IV Arses, yang juga diracuni oleh Bagoas sebelum sempat mulai memerintah. Lebih jauh lagi, Bagoas membunuh semua anak Arses, serta banyak pangeran di Persia. Bagoas lalu menempatkan Darius III (336–330 SM), keponakan Artaxerxes IV, sebagai raja Persia. Setelah berkuasa, Darius yang sebelumnya merupakan satrap Armenia, secara pribadi memerintahkan Bagoas meminum racun. Pada tahun 334 SM, tidak lama setelah Darius menguasai Mesir kembali, Alexandros III dari Makedonia dan pasukannya yang telah banyak bertempur menginvasi Asia Kecil. Alexandrosr meneruskan rencanan ayahnya, Philippos, yang keburu meninggal sebelum sempat melaksanakan rencana invasinya.

Setelah menyeberang ke Asia Kecil, Alexandros mengalahkan pasukan Persia pada Pertempuran Granikos (334 SM), disusul oleh Pertempuran Issos (333 SM), dan yang terakhir pada Pertempuran Gaugamela (331 SM). Setelah itu dia berarak menuju Susa dan Persepolis, yang menyerah pada awal 330 SM. Dari sana, Alexandros bergerak ke utara menuju Pasargadae, di sana dia mengunjungi makam Koresh Agung.

Agama[sunting | sunting sumber]

Kuil, meskipun berfungsi untuk tujuan keagamaan, namun berguna juga sebagai sumber penghasilan. Terilhami oleh para raja Babylon, Persia menerapkan konsep pajak kuil wajib, yaitu bahwa semua penduduk harus membayar sejumlah besar pajak atau zakat kepada kuil di daerah mereka.[23]

Daftar raja wangsa Akhemeniyah[sunting | sunting sumber]

Proskynesis.jpg
Sejarah Iran
Kekaisaran Persia (Iran)

Belum terbukti[sunting | sunting sumber]

  • Akhaimenes atau Akhemenes (leluhur wangsa Akhemeniyah)
Bukti epigrafi raja-raja ini tidak dapat dipastikan dan dianggap rekaan raja Darius I
  • Ariaramnes, putra Teispes dan memerintah bersama Koresh I (Cyrus I).
  • Arsames, putra Ariaramnes dan memerintah bersama Kambises I

Sudah terbukti[sunting | sunting sumber]

Raja-raja Anshan
Raja Memerintah (SM) Permaisuri Keterangan
Teispes abad ke-7 putra Akhemenes, raja Anshan
Koresh I Akhir abad ke-7/awal abad ke-6 putra Teispes, raja Anshan
Cambyses I awal abad ke-6 Mandana dari Media putra KoreshI, raja Anshan
Koresh II ~550-530 Kassandane dari Persia putra Kambises I dan Mandana – menguasai Media 550 SM; raja Media, Babilonia, Lydia, Persia, Anshan, dan Sumeria. Mendirikan Kekaisaran Persia Akhemeniyah.
Raja-raja Persia (529–359 SM); Dinasi ke-27 Mesir (525–399 SM)
Raja Memerintah (SM) Permaisuri Keterangan
Kambises II 529-522 putra Koresh Agung and Kassandane. Menaklukkan dinasti Egypt.
Bardiya (Smerdis) 522 Phaedymia putra Koresh Agung. (Gaumata menyamar menjadi raja gadungan)
Darius I Agung 521-486 Atossa
Artystone
Parmys
Phratagune
menantu laki-laki Koresh Agung, putra Hystaspes, cucu Arsames
Tentaranya dikalahkan dalam Pertempuran Marathon di Yunani.
Xerxes I Agung 485-465 Amestris putra Darius I and Atossa
menang dalam Pertempuran Thermopylae
kalah dalam Pertempuran Salamis
Artaxerxes I Longimanus 465-424 Damaspia
Kosmartidene
Alogyne
Andia
putra Xerxes I dan Amestris
Xerxes II 424 putra Artaxerxes I dan Damaspia
Sogdianus 424-423 putra Artaxerxes I dan Alogyne; saudara tiri dan saingan Xerxes II
Darius II dari Persia 423-405 Parysatis putra Artaxerxes I dan Cosmartidene; saudara tiri dan saingan Xerxes II
Artaxerxes II Mnemon 404-359 Stateira putra Darius II (lihat pula Xenophon)

Di awal pemerintahan Artaxerxes II, pada tahun 399 SM, Persia kehilangan kekuasaan atas Mesir. Mereka memperoleh kembali kekuasaan 57 tahun kemudian – pada tahun 342 SM – ketika Artaxerxes III menguasai Mesir.

Raja-raja Persia (358–330 SM); Dinasi ke-31 Mesir (342–332 SM)
Raja Memerintah (SM) Permaisuri Keterangan
Artaxerxes III Ochus 358-338 putra Artaxerxes II dan Stateira
Artaxerxes IV Arses 338-336 putra Artaxerxes III dan Atossa
Darius III dari Persia 336-330 Stateira I cicit Darius II
dikalahkan oleh Alexander Agung

Keterangan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Pada dua masa berbeda, Persia menguasai Mesir meskipun dua kali Mesir berhasil meraih kemerdekaan sementara dari Persia. Setelah praktik Manetho, Sejarawan Mesir menyebut periode kekuasaan Persia di Mesir sebagai dinasti kedua puluh tujuh Mesir, berlangsung pada tahun 525–404 SM, hingag kematian II, dan dinasti ketiga puluh satu Mesir, berlangsung pada tahun 343–332 SM, yang dimulai setelah Nektanebo II dikalahkan oleh Artaxerxes III.

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Josef Wiesehöfer, Ancient Persia, (I.B. Tauris Ltd, 2007), 119.
  2. ^ Harald Kittel, Juliane House, Brigitte Schultze (2007). Traduction: encyclopédie internationale de la recherche sur la traduction. Walter de Gruyter. hlm. 1194–5. ISBN 978-3-11-017145-7. 
  3. ^ Security and Territoriality in the Persian Gulf: A Maritime Political Geography by Pirouz Mojtahed-Zadeh, page 119
  4. ^ a b c d e f David Sacks, Oswyn Murray, Lisa R. Brody (2005). Encyclopedia of the ancient Greek world. Infobase Publishing. hlm. 256 (at the right portion of the page). ISBN 978-0-8160-5722-1. 
  5. ^ Aedeen Cremin (2007). Archaeologica: The World's Most Significant Sites and Cultural Treasures. Global Book Publishing Pty Ltd. hlm. 224. ISBN 978-0-7112-2822-1. 
  6. ^ Schmitt Achaemenid dynasty (i. The clan and dynasty)
  7. ^ Pierre Briant (2006). From Cyrus to Alexander: A History of the Persian Empire. Eisenbrauns. hlm. 1–3. ISBN 978-1-57506-120-7. 
  8. ^ Ulrich Wilcken (1967). Alexander the Great. W. W. Norton & Company. hlm. 146. ISBN 978-0-393-00381-9. 
  9. ^ Margaret Christina Miller (2004). Athens and Persia in the Fifth Century B.C.: A Study in Cultural Receptivity. Cambridge University Press. hlm. 243. ISBN 978-0-521-60758-2. 
  10. ^ Arrian, Anabasis Alexandri VII, 11
  11. ^ Plutarch, Alexander, 45
  12. ^ Vesta Sarkhosh Curtis, Sarah Stewart (2005). Birth of the Persian Empire. I.B.Tauris. hlm. 7. ISBN 978-1-84511-062-8. 
  13. ^ p. 4 of Mays, L. (30 August 2010). Ancient Water Technologies. Springer. ISBN 978-90-481-8631-0. 
  14. ^ Yarshater (1996, p. 47)
  15. ^ While estimates for the Achaemenid Empire range from 10-80+ million, most prefer 50 million. Prevas (2009, p. 14) estimates 10 million. Strauss (2004, p. 37) estimates about 20 million. Ward (2009, p. 16) estimates at 20 million. Scheidel (2009, p. 99) estimates 35 million. Daniel (2001, p. 41) estimates at 50 million. Meyer and Andreades (2004, p. 58) estimates to 50 million. Jones (2004, p. 8) estimates over 50 million. Richard (2008, p. 34) estimates nearly 70 million. Hanson (2001, p. 32) estimates almost 75 million. Cowley (1999 and 2001, p. 17) estimates possibly 80 million.
  16. ^ See http://www.census.gov/population/international/data/idb/worldhis.php
  17. ^ a b Jamie Stokes (2009). Encyclopedia of the Peoples of Africa and the Middle East, Volume 1. Infobase Publishing. hlm. 2–3. ISBN 978-0-8160-7158-6. 
  18. ^ Herodotos, Historia 1.101 & 125
  19. ^ Mallory, J.P. (1989), In Search of the Indo-Europeans: Language, Archaeology, and Myth, London: Thames & Hudson.
  20. ^ Willis Mason West (1904). The ancient world from the earliest times to 800 A.D.. Allyn and Bacon. hlm. 137.  Unknown parameter |note= ignored (help)
  21. ^ Hoschander, Jacob. "The Book of Esther in the Light of History: Chapter IV", The Jewish Quarterly Review, New Series, Vol. 10, No. 1 (Jul., 1919), pp. 87–88
  22. ^ Chr. Walker, "Achaemenid Chronology and the Babylonian Sources," in: John Curtis (ed.), Mesopotamia and Iran in the Persian Period: Conquest and Imperialism, 539-331 B.C. (London 1997), page 22.
  23. ^ Dandamaev & Lukonin, 1989:361–362