Mesopotamia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Peta menunjukkan besarnya Mesopotamia
Mesopotamia kuno
Babylonlion.JPG
Eufrat Tigris
Kota / Kerajaan
Sumeria: Uruk Ur Eridu
Kish Lagash Nippur
Kerajaan Akkadia: Akkad
Babilonia Isin Susa
Asyur: Assur Niniwe
Dur-Sharrukin Nimrud
Babilonia Kasdim
Elam Amori
Hurrian Mitanni
Kassit Urartu
Kronologi
Raja-raja Sumeria
Daftar raja Asyur
Daftar raja Babilonia
Bahasa
Aram
Sumeria Akkadia
Elam Hurria
Mitologi
Enûma Elish
Gilgames Marduk

Mesopotamia(dari bahasa Yunani Kuno: Μεσοποταμία: "[tanah] antara sungai-sungai"; Arab: بلاد الرافدين (Bilad al-rāfidayn), Syria: ܒ ܝ ܬ ܢ ܗ ܪ ܝ ܢ (Beth Nahrin): "tanah sungai") terletak di antara dua sungai besar, Eufrat dan Tigris bagian timur laut Suriah dan pada tingkat lebih rendah Turki bagian tenggara dan bagian yang lebih kecil dari barat daya adalah Iran. Daerah yang kini menjadi Republik Irak itu di zaman dahulu disebut Mesopotamia, yang dalam bahasa Yunani berarti "(daerah) di antara sungai-sungai". Nama Mesopotamia sudah digunakan oleh para penulis Yunani dan Latin kuno, seperti apa Polybius (abad 2 SM) dan Strabo (60 SM-20 M).

Sejarah Mesopotamia diawali dengan tumbuhnya sebuah peradaban, yang diyakini sebagai pusat peradaban tertua di dunia, oleh bangsa Sumer(ia). Bangsa Sumeria membangun beberapa kota kuno yang terkenal, yaitu Ur, Ereck, Kish, dll. Kehadiran seorang tokoh imperialistik dari bangsa lain yg juga mendiami kawasan Mesopotamia, bangsa Akkadia, dipimpin Sargon Agung, ternya melakukan sebuah penaklukan politis, tapi bukan penaklukan kultural. Bahkan dalam berbagai hal budaya Sumer dan Akkad berakulturasi, sehingga era kepemimpinan ini sering disebut Jilid Sumer-Akkad. Campur tangan Sumer tidak dapat diremehkan begitu saja, pada saat Akkad terdesak oleh bangsa Gutti, bangsa Sumer-lah yg mendukung Akkad, sehingga mereka masih dapat berkuasa di "tanah antara dua sungai-sungai" itu.

Menurut keyakinan Kristen dan Yahudi seperti dalam Perjanjian Lama, ada usaha menghubungkan keluarga Abraham (yang lalu disebut "Bapa Orang Beriman" dan diakui oleh tiga agama monoteistik dunia, Islam, Kristen, dan Yahudi ) dengan Mesopotamia. Dalam kitab Kejadian 11,31 dikatakan, pada suatu masa keluarga Abraham berpindah dari Ur Kaśdim ke Haran sebelum akhirnya berpindah ke Kanaan (Daerah Israel dan Palestina sekarang).

Lokasi Ur Kaśdim biasanya dirujuk pada Tell el-Muqayyar, situs bekas reruntuhan Kota Ur kuno dari periode Sumeria. Tapi, banyak ahli masih meragukan usulan ini. Sedangkan Haran terletak di bagian utara Mesopotamia, di tepi Sungai Eufrat.

Daftar isi

Etimologi[sunting]

Map showing the Tigris–Euphrates river system, which defines Mesopotamia

Daerah toponim Mesopotamia berasal dari akar kata Yunani kuno μέσος (meso) "tengah" dan ποταμός (potamia) "Sungai" dan secara harfiah berarti "(Tanah) antara sungai-sungai". Yang tertua terjadinya dikenal dengan nama Mesopotamia berasal dari Anabasis Alexandri, yang ditulis pada akhir abad ke-2 namun secara khusus mengacu pada sumber-sumber dari masa Alexander Agung. Dalam Anabasis itu, Mesopotamia digunakan untuk menunjuk tanah timur Sungai Eufrat di utara Suriah. Istilah bahasa Aram biritum / birit Narim berhubungan dengan konsep geografis yang mirip. [1] Kemudian, istilah Mesopotamia itu lebih umum diterapkan untuk semua tanah antara Eufrat dan Tigris, sehingga menggabungkan tidak hanya bagian Suriah tetapi juga hampir semua Irak dan tenggara Turki. [2] stepa tetangga di sebelah barat Efrat dan bagian barat Pegunungan Zagros juga sering termasuk dalam istilah yang lebih luas dari Mesopotamia. [3][4][5] perbedaan lebih lanjut biasanya dibuat antara atas atau Mesopotamia Utara dan Selatan Mesopotamia bawah atau [6] atas Mesopotamia., juga dikenal sebagai Jezirah, adalah daerah antara Eufrat dan Tigris dari sumber mereka ke Baghdad. [3] bawah Mesopotamia adalah daerah dari Bagdad ke Teluk Persia [6] Dalam penggunaan akademis modern, istilah Mesopotamia juga sering memiliki konotasi kronologis. Hal ini biasanya digunakan untuk menunjuk daerah sampai penaklukan Muslim, dengan nama-nama seperti Suriah, Jezirah, dan Irak yang digunakan untuk menggambarkan daerah setelah tanggal tersebut. [2][7] Telah dikemukakan bahwa eufemisme kemudian adalah istilah Eurocentric dikaitkan ke daerah di tengah-tengah berbagai gangguan-gangguan Barat abad ke-19 [7][8].

Geografis[sunting]

Mesopotamia meliputi tanah antara sungai Eufrat dan Tigris, yang keduanya memiliki hulu mereka di pegunungan Armenia di zaman modern Turki. Kedua sungai menjadi muara oleh beberapa anak sungai, dan sistem sungai mengalir seluruh wilayah pegunungan yang luas. Rute darat di Mesopotamia biasanya mengikuti Efrat karena tepi Tigris sering curam dan sulit. Iklim daerah semi-kering dengan hamparan luas padang pasir di utara yang luasnya 15.000 kilometer persegi (5.800 mil persegi) wilayah rawa-rawa, laguna, lumpur, dan bank buluh di selatan. Di selatan ekstrim, Eufrat dan Tigris bersatu dan bermuara di Teluk Persia.

Lingkungan gersang yang berkisar dari daerah utara pertanian tadah hujan di selatan di mana irigasi pertanian adalah penting jika surplus energi kembali pada energi yang diinvestasikan (EROEI) yang akan diperoleh. Irigasi ini dibantu oleh tabel air yang tinggi dan dengan pelelehan salju dari puncak tinggi Pegunungan Zagros dan dari Armenia cordillera, sumber dari Sungai Tigris dan Efrat. Kegunaan irigasi tergantung pada kemampuan untuk memobilisasi tenaga kerja yang cukup untuk pembangunan dan pemeliharaan kanal, dan ini, dari periode awal, telah membantu pengembangan permukiman perkotaan dan sistem terpusat dari otoritas politik.

Pertanian di seluruh wilayah telah dilengkapi dengan pastoralism nomaden, di mana tenda-tinggal nomaden menggiring domba dan kambing (dan kemudian unta) dari padang rumput sungai di musim panas kering, keluar ke tanah penggembalaan musiman pada pinggiran gurun di musim dingin basah. Daerah ini umumnya kurang dalam bangunan batu, logam mulia dan kayu, dan sebagainya secara historis diandalkan perdagangan jarak jauh dari produk pertanian untuk mengamankan barang-barang dari daerah-daerah terpencil. Di rawa di selatan daerah, budaya nelayan yang terbawa air yang kompleks telah ada sejak zaman prasejarah, dan telah ditambahkan ke campuran budaya.

Kerusakan periodik dalam sistem budaya telah terjadi untuk sejumlah alasan. Tuntutan untuk tenaga kerja memiliki dari waktu ke waktu menyebabkan peningkatan penduduk yang mendorong batas-batas daya dukung ekologi, dan harus periode ketidakstabilan iklim terjadi, runtuh pemerintah pusat dan menurunnya populasi dapat terjadi. Atau, kerentanan militer untuk invasi dari suku bukit marjinal atau penggembala nomaden telah menyebabkan runtuhnya periode perdagangan dan mengabaikan sistem irigasi. Sama, kecenderungannya di antara negara-negara kota berarti bahwa otoritas pusat bertanggung jawab atas seluruh wilayah, ketika terjadi, membuat lokalisme terfragmentasi ke unit-unit daerah suku atau lebih kecil. [9] tren ini terus terjadi hingga hari ini di Irak.

Mesopotamia dalam Alkitab[sunting]

Beberapa catatan lain bisa dikemukakan untuk menunjukkan hubungan antara Abraham dengan Mesopotamia. Dalam kitab Ulangan 26,3; Nabi Musa mengajak umat untuk berdoa kepada Tuhan saat mempersembahkan panen pertama dengan mengawalinya, Bapaku adalah seorang Aram, seorang pengembara.

Di tempat lain dikatakan bahwa Ishak, anak Abraham, diperintah Abraham untuk mencari istri dari daerah Aram-Mesopotamia (aram-naharayim) (Kejadian 24,2.10). Demikian juga dengan Yakub, cucu Abraham, dia disuruh pergi ke Padan-Aram untuk mendapatkan istri di sana (Kejadian 28,2). Dalam terjemahan Yunani Septuaginta, kedua nama terakhir ini disebut Mesopotamia.

Selain petunjuk yang secara eksplisit ada dalam Alkitab, masih bisa ditemukan informasi lain yang menunjukkan pengaruh Mesopotamia yang cukup kuat. Kini sudah lazim diterima bahwa kisah Penciptaan dan kisah Air Bah yang terkenal itu, yang dikisahkan pada bagian awal kitab Kejadian, sebenarnya kuat dipengaruhi sastra Mesopotamia. Biasanya ada tiga karya sastra Mesopotamia yang ditunjuk, yaitu Enuma Elis (dari abad 17 SM), Epic Gilgamesh (abad 20 SM), dan Athrahasis (abad 18-17 SM). Teks-teks itu cukup terkenal dan tersebar luas karena ditemukan dalam berbagai versi dan bahasa, seperti versi Akkadia, Sumeria, Hittit, dan Asyur.

Kemiripan antara sastra Mesopotamia dengan teks-teks Alkitab begitu mencolok sehingga seringkali disimpulkan bahwa ada ketergantungan antara keduanya. Karena teks-teks Mesopotamia berasal dari periode yang jauh lebih tua dari teks-teks Alkitab, maka tidak mengherankan jika bisa disimpulkan, teks Alkitab bergantung pada sastra Mesopotamia itu. Para penulis Israel tampaknya mengambil dan memanfaatkan teks-teks Mesopotamia itu untuk mengungkap keyakinan mereka, sekaligus menyesuaikannya dengan keyakinan itu, terutama di bidang monoteisme.

Salah satu kemungkinan datangnya pengaruh Mesopotamia dalam kitab Kejadian adalah bahwa kisah-kisah Mesopotamia dibawa ke Palestina lalu menyebar-saat terjadi perpindahan penduduk besar-besaran dari Mesopotamia yang disebabkan situasi yang agak kacau sekitar abad 19 SM. Kiranya ini juga yang menjadi konteks berpindahnya keluarga Abraham dari Ur ke Haran, lalu ke Kanaan.

Berbagai kebiasaan dan peraturan yang tercermin dalam kitab Kejadian ternyata juga menemukan banyak kesamaan dengan kebiasaan dan peraturan yang hidup di daerah Mesopotamia. Sebagai contoh, kekhawatiran Abraham karena dia tidak mendapat keturunan, karena itu harus mewariskan segala miliknya kepada abdinya yang setia, Eliezer (Kejadian 15,1-4), ternyata sejajar dengan praktik yang dilakukan masyarakat Nuzi yang mendiami sebelah timur Sungai Tigris. Hal ini bisa diketahui melalui analisis teks-teks hukum yang berlaku di Nuzi, yang berasal dari abad 15 SM.

Kisah tentang Abraham yang datang ke negeri asing lalu mengaku istrinya sebagai saudarinya (Kejadian 12,10-20) sering membingungkan orang. Tetapi, kini, dengan ditemukannya teks-teks yang berasal dari bangsa Hori di sebelah utara Mesopotamia, berdekatan dengan Haran, hal itu bisa dipahami dengan lebih baik.

Dalam masyarakat Hori, ikatan perkawinan yang paling kuat adalah jika seorang istri sekaligus mendapat status saudari secara hukum. Karena itu, sering terjadi, sesudah perkawinan diadakan upacara lain untuk mengadopsi sang istri menjadi saudari. Hal ini disahkan dengan dua dokumen. Pertama, dokumen tentang perkawinan. Kedua, berkait dengan pengangkatannya sebagai saudari.

Salah satu warisan peradaban Mesopotamia Kuno yang amat bernilai bagi umat manusia adalah kumpulan hukum yang biasa disebut Codex Hammurabi. Kumpulan hukum yang berbentuk balok batu hitam itu ditemukan di Susa tahun 1901 dalam suatu ekspedisi yang dilakukan arkeolog Perancis di bawah pimpinan M de Morgan. Pada bagian atas balok, yang kini ada di Museum Louvre, Paris, ada relief yang menggambarkan Raja Hammurabi dari Babilonia Kuno (1728-1686 SM) sedang menerima hukum dari Dewa Shamash, dewa Matahari yang juga menjadi dewa pelindung keadilan.

Perbandingan dengan kumpulan hukum yang ada dalam kitab Keluaran 21-23 menunjukkan adanya kesejajaran yang dekat. Adanya ketergantungan antara kedua kumpulan hukum itu tidak bisa ditentukan dengan pasti, tetapi pengaruh tidak langsung rasanya merupakan sesuatu yang amat masuk akal.

Codex Hammurabi, yang terdiri dari 282 pasal ditambah Prolog dan Epilog, tidak saja berpengaruh pada kumpulan hukum yang ada dalam Alkitab, tetapi juga pada sistem hukum pada periode selanjutnya. Yang menarik dan mungkin membuat kita (seharusnya) tertunduk malu adalah, kumpulan hukum itu juga mengingatkan kita bahwa sejak abad 18 SM, di Mesopotamia sudah ada seorang pemimpin besar yang sungguh-sungguh mempunyai kesadaran bahwa manusia harus diperlakukan secara adil sebagai manusia.

Referensi[sunting]

  1. ^ Finkelstein, J.J. (1962), "Mesopotamia", Journal of Near Eastern Studies 21 (2): 73–92, doi:10.1086/371676, JSTOR 543884 
  2. ^ a b Foster, Benjamin R.; Polinger Foster, Karen (2009), Civilizations of ancient Iraq, Princeton: Princeton University Press, ISBN 978-0-691-13722-3 
  3. ^ a b Canard, M. (2011), "al-ḎJazīra, Ḏjazīrat Aḳūr or Iḳlīm Aḳūr", in Bearman, P.; Bianquis, Th.; Bosworth, C.E.; van Donzel, E.; Heinrichs, W.P., Encyclopaedia of Islam, Second Edition, Leiden: Brill Online, OCLC 624382576 
  4. ^ Wilkinson, Tony J. (2000), "Regional approaches to Mesopotamian archaeology: the contribution of archaeological surveys", Journal of Archaeological Research 8 (3): 219–267, doi:10.1023/A:1009487620969, ISSN 1573-7756 
  5. ^ Matthews, Roger (2003), The archaeology of Mesopotamia. Theories and approaches, Approaching the past, Milton Square: Routledge, ISBN 0-415-25317-9 
  6. ^ a b Miquel, A.; Brice, W.C.; Sourdel, D.; Aubin, J.; Holt, P.M.; Kelidar, A.; Blanc, H.; MacKenzie, D.N. et al. (2011), "ʿIrāḳ", in Bearman, P.; Bianquis, Th.; Bosworth, C.E.; van Donzel, E.; Heinrichs, W.P., Encyclopaedia of Islam, Second Edition, Leiden: Brill Online, OCLC 624382576 
  7. ^ a b Bahrani, Z. (1998), "Conjuring Mesopotamia: imaginative geography a world past", in Meskell, L., Archaeology under fire: Nationalism, politics and heritage in the Eastern Mediterranean and Middle East, London: Routledge, hlm. 159–174, ISBN 978-0-415-19655-0 
  8. ^ Scheffler, Thomas; 2003. “ 'Fertile crescent', 'Orient', 'Middle East': the changing mental maps of Southeast Asia,” European Review of History 10/2: 253–272.
  9. ^ Thompson, William R. (2004) "Complexity, Diminishing Marginal Returns, and Serial Mesopotamian Fragmentation" (Vol 3, Journal of World Systems Research)
  • Frankfort, Henri, The Art and Architecture of the Ancient Orient, Pelican History of Art, 4th ed 1970, Penguin (now Yale History of Art), ISBN 0140561072

Bacaan lebih lanjut[sunting]

  • Atlas de la Mésopotamie et du Proche-Orient ancien, Brepols, 1996 ISBN|2503500463.
  • Benoit, Agnès; 2003. Art et archéologie : les civilisations du Proche-Orient ancien, Manuels de l'Ecole du Louvre.
  • Jean Bottéro; 1987.Mésopotamie. L'écriture, la raison et les dieux, Gallimard, coll. « Folio Histoire », ISBN|2070403084.
  • Jean Bottéro; 1992. Mesopotamia: writing, reasoning and the gods. Trans. by Zainab Bahrani and Marc Van de Mieroop, University of Chicago Press: Chicago.
  • Edzard, Dietz Otto; 2004. Geschichte Mesopotamiens. Von den Sumerern bis zu Alexander dem Großen, München, ISBN 3-406-51664-5
  • Hrouda, Barthel and Rene Pfeilschifter; 2005. Mesopotamien. Die antiken Kulturen zwischen Euphrat und Tigris. München 2005 (4. Aufl.), ISBN 3-406-46530-7
  • Joannès, Francis; 2001. Dictionnaire de la civilisation mésopotamienne, Robert Laffont.
  • Korn, Wolfgang; 2004. Mesopotamien – Wiege der Zivilisation. 6000 Jahre Hochkulturen an Euphrat und Tigris, Stuttgart, ISBN 3-8062-1851-X
  • Kuhrt, Amélie; 1995. The Ancient Near East: c. 3000-330 B.C. 2 Vols. Routledge: London and New York.
  • Liverani, Mario; 1991. Antico Oriente: storia, società, economia. Editori Laterza: Roma.
  • Matthews, Roger; 2005. The early prehistory of Mesopotamia – 500,000 to 4,500 BC, Turnhout 2005, ISBN 2-503-50729-8
  • Oppenheim, A. Leo; 1964. Ancient Mesopotamia: Portrait of a dead civilization. The University of Chicago Press: Chicago and London. Revised edition completed by Erica Reiner, 1977.
  • Pollock, Susan; 1999. Ancient Mesopotamia: the Eden that never was. Cambridge University Press: Cambridge.
  • Postgate, J. Nicholas; 1992. Early Mesopotamia: Society and Economy at the dawn of history. Routledge: London and New York.
  • Roux, Georges; 1964. Ancient Iraq, Penguin Books.
  • Silver, Morris; 2007. Redistribution and Markets in the Economy of Ancient Mesopotamia: Updating Polanyi, Antiguo Oriente 5: 89-112.
  • Snell, Daniel (ed.); 2005. A Companion to the Ancient Near East. Malden, MA : Blackwell Pub, 2005.
  • Van de Mieroop, Marc; 2004. A history of the ancient Near East. ca 3000-323 BC. Oxford: Blackwell Publishing.

Pranala luar[sunting]