Air bah (Nuh)

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Air bah pada zaman Nuh ("Air bah raksasa"; bahasa Inggris: Great Deluge) adalah peristiwa bencana alam luar biasa pada zaman lampau yang melanda seluruh dunia, menghancurkan kehidupan darat di permukaan bumi, dan menyisakan delapan orang manusia dan sejumlah binatang yang selamat karena terapung dalam sebuah bahtera. Catatan kejadian ini terdapat dalam Kitab Kejadian dalam Alkitab Ibrani, atau Perjanjian Lama di Alkitab Kristen, dan dalam Al-Quran.

Kisah tentang Air Bah yang dikirim oleh dewa atau para dewa untuk menghancurkan peradaban sebagai suatu tindakan penghukuman ilahi adalah sebuah tema yang tersebar luas dalam mitologi Yunani dan banyak mitos dalam budaya lainnya, termasuk Matsya dalam Puranas Hindu, Deucalion dalam mitologi Yunani dan Utnapishtim dalam Epos Gilgames. Sebagian besar budaya dunia pada masa lampau dan kini mempunyai cerita-cerita tentang "air bah" yang menghancurkan peradaban sebelumnya.

Sejumlah pemeluk Yahudi Ortodoks dan Kristen berdasarkan Perjanjian Lama dan umat Muslim berdasarkan Al-Qur'an mempercayai bahwa kisah ini benar-benar terjadi. Namun sebagian pemeluk Yahudi Ortodoks dan Kristen yang berdasarkan hipotesis dokumen, menyatakan bahwa kisah yang dikisahkan dalam Kitab Kejadian ini mungkin terdiri dari sejumlah sumber yang setengah independen, dan proses penyusunannya yang berlangsung selama beberapa abad dapat menolong menjelaskan "kerancuan" dan pengulangan yang tampak di dalam teksnya. Walau begitu, sebagian umat Yahudi Ortodoks dan Krsiten yang mempercayai kisah ini menyatakan bahwa "kerancuan" itu dapat dijelaskan secara rasional, mengingat dalam peristiwa itu terdapat lebih dari satu saksi mata.[1]

Catatan Alkitab[sunting | sunting sumber]

Kisah air bah ini dalam Alkitab Ibrani, atau Perjanjian Lama di Alkitab Kristen dalam Kitab Kejadian pasal 6-9.

Latar belakang[sunting | sunting sumber]

Setelah 10 generasi manusia muncul sejak penciptaan manusia pertama, Adam dan Hawa, maka "kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata."[2] Bumi itu telah rusak di hadapan Allah dan penuh dengan kekerasan, sebab semua manusia menjalankan hidup yang rusak di bumi.[3] Akibatnya berfirmanlah TUHAN:

"Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang-binatang melata dan burung-burung di udara, sebab Aku menyesal, bahwa Aku telah menjadikan mereka."[4]

Nuh diberi tugas[sunting | sunting sumber]

Di antara umat manusia waktu itu, Alkitab mencatat bahwa "Nuh mendapat kasih karunia di mata TUHAN,"[5] serta "Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah." [6] Berfirmanlah Allah kepada Nuh:

"Aku telah memutuskan untuk mengakhiri hidup segala makhluk, sebab bumi telah penuh dengan kekerasan oleh mereka, jadi Aku akan memusnahkan mereka bersama-sama dengan bumi.
Buatlah bagimu sebuah bahtera dari kayu gofir; bahtera itu harus kaubuat berpetak-petak dan harus kaututup dengan pakal dari luar dan dari dalam. Beginilah engkau harus membuat bahtera itu:
  • 300 hasta panjangnya (~157 meter)
  • 50 puluh hasta lebarnya (~26,2 meter)
  • 30 hasta tingginya. (~15,7 meter)
Buatlah atap pada bahtera itu dan selesaikanlah bahtera itu sampai sehasta dari atas, dan pasanglah pintunya pada lambungnya; buatlah bahtera itu bertingkat bawah, tengah dan atas.
Sebab sesungguhnya Aku akan mendatangkan air bah meliputi bumi untuk memusnahkan segala yang hidup dan bernyawa di kolong langit; segala yang ada di bumi akan mati binasa."[7]

Perjanjian Allah dengan Nuh[sunting | sunting sumber]

Dalam rangka kedatangan air bah dan pembuatan bahtera itu, Allah mengadakan perjanjian dengan Nuh:

"Dengan engkau Aku akan mengadakan perjanjian-Ku, dan engkau akan masuk ke dalam bahtera itu: engkau bersama-sama dengan anak-anakmu dan isterimu dan isteri anak-anakmu. Dan dari segala yang hidup, dari segala makhluk, dari semuanya haruslah engkau bawa satu pasang ke dalam bahtera itu, supaya terpelihara hidupnya bersama-sama dengan engkau; jantan dan betina harus kaubawa. Dari segala jenis burung dan dari segala jenis hewan, dari segala jenis binatang melata di muka bumi, dari semuanya itu harus datang satu pasang kepadamu, supaya terpelihara hidupnya. Dan engkau, bawalah bagimu segala apa yang dapat dimakan; kumpulkanlah itu padamu untuk menjadi makanan bagimu dan bagi mereka."[8]

Pelaksanaan[sunting | sunting sumber]

Lalu Nuh melakukan semuanya itu; tepat seperti yang diperintahkan Allah kepadanya, demikianlah dilakukannya.[9] Nuh membuat bahtera itu dengan bantuan tiga orang anak laki-lakinya: Sem, Ham dan Yafet.[10] Bahtera itu selesai sebelum hari ke-10 bulan ke-2 ketika Nuh berusia 600 tahun.[11]

Tujuh hari sebelum air bah datang (hari ke-10 bulan ke-2 ketika Nuh berusia 600 tahun), berfirmanlah TUHAN kepada Nuh:

"Masuklah ke dalam bahtera itu, engkau dan seisi rumahmu, sebab engkaulah yang Kulihat benar di hadapan-Ku di antara orang zaman ini. Dari segala binatang yang tidak haram haruslah kauambil 7 pasang, jantan dan betinanya, tetapi dari binatang yang haram 1 pasang, jantan dan betinanya; juga dari burung-burung di udara 7 pasang, jantan dan betina, supaya terpelihara hidup keturunannya di seluruh bumi. Sebab tujuh hari lagi Aku akan menurunkan hujan ke atas bumi 40 hari 40 malam lamanya, dan Aku akan menghapuskan dari muka bumi segala yang ada, yang Kujadikan itu." Lalu Nuh melakukan segala yang diperintahkan TUHAN kepadanya.[12] Binatang-binatang tidak haram itu menjadi makanan bagi Nuh dan keluarganya. Masuklah Nuh ke dalam bahtera itu bersama-sama dengan anak-anaknya dan isterinya dan isteri anak-anaknya karena air bah itu. Dari binatang yang tidak haram dan yang haram, dari burung-burung dan dari segala yang merayap di muka bumi, datanglah sepasang mendapatkan Nuh ke dalam bahtera itu, jantan dan betina, seperti yang diperintahkan Allah kepada Nuh. Setelah tujuh hari datanglah air bah meliputi bumi.[13]

Kronologi air bah[sunting | sunting sumber]

Tabel kronologi air bah pada zaman Nuh.[14]

Peristiwa Ayat Alkitab Periode (hari)
Hujan lebat turun meliputi bumi 40 hari 40 malam lamanya
mulai dari hari ke-17 bulan ke-2 pada waktu Nuh berumur 600 tahun.
Pada hari itulah terbelah segala mata air samudera raya yang dahsyat
dan terbukalah tingkap-tingkap di langit.
Kejadian 7:4, 11-12 40
Permukaan air terus meningkat selama 110 hari sehingga berkuasa seluruhnya selama 150 hari Kejadian 7:24 110
Air mulai surut dari muka bumi dan terus berkurang.
Terkandaslah bahtera itu pada pegunungan Ararat.
Mulai dari hari ke-17 bulan ke-7 sampai hari ke-1 bulan ke-10
ketika tampaklah puncak-puncak gunung.[15]
Kejadian 8:3-5 74
Setelah 40 hari Nuh melepaskan seekor burung gagak Kejadian 8:6-7 40
Setelah 7 hari Nuh melepaskan seekor burung merpati.
Periode ini diimplikasikan dari kata "tujuh hari lagi" di ayat 8:10
dan ternyata perlu untuk total jumlah hari
Kejadian 8:8 7
Setelah 7 hari Nuh melepaskan burung merpati kedua kalinya Kejadian 8:10 7
Setelah 7 hari Nuh melepaskan burung merpati ketiga kalinya Kejadian 8:12 7
Sampai saat ini telah terhitung 285 hari, tetapi baru pada hari ke-1 bulan ke-1 tahun ke-601
Nuh membuka tutup bahtera itu dan melihat-lihat muka bumi yang mulai kering.
Sejak Nuh masuk ke dalam bahtera (ayat 7:11) terhitung 314 hari, sehingga ada jeda 29 hari.
Kejadian 8:13 29
Nuh dan keluarganya baru keluar dari bahtera atas perintah Allah pada hari ke-27 bulan ke-2 tahun ke-601.
Jadi sejak pembukaan tutup bahtera sampai semua keluar terdapat jeda 57 hari.
Kejadian 8:14-18 57
Total 371

Persembahan syukur setelah keluar dari bahtera[sunting | sunting sumber]

Lalu Nuh mendirikan mezbah bagi TUHAN; dari segala binatang yang tidak haram dan dari segala burung yang tidak haram diambilnyalah beberapa ekor, lalu ia mempersembahkan korban bakaran di atas mezbah itu. Ketika TUHAN mencium persembahan yang harum itu, berfirmanlah TUHAN dalam hati-Nya: "Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya, dan Aku takkan membinasakan lagi segala yang hidup seperti yang telah Kulakukan. Selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam."[16] Lalu Allah memberkati Nuh dan anak-anaknya serta berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyaklah serta penuhilah bumi. Akan takut dan akan gentar kepadamu segala binatang di bumi dan segala burung di udara, segala yang bergerak di muka bumi dan segala ikan di laut; ke dalam tanganmulah semuanya itu diserahkan. Segala yang bergerak, yang hidup, akan menjadi makananmu. Aku telah memberikan semuanya itu kepadamu seperti juga tumbuh-tumbuhan hijau. Hanya daging yang masih ada nyawanya, yakni darahnya, janganlah kamu makan. Tetapi mengenai darah kamu, yakni nyawa kamu, Aku akan menuntut balasnya; dari segala binatang Aku akan menuntutnya, dan dari setiap manusia Aku akan menuntut nyawa sesama manusia. Siapa yang menumpahkan darah manusia, darahnya akan tertumpah oleh manusia, sebab Allah membuat manusia itu menurut gambar-Nya sendiri. Dan kamu, beranakcuculah dan bertambah banyak, sehingga tak terbilang jumlahmu di atas bumi, ya, bertambah banyaklah di atasnya."[17]

Perjanjian Allah dengan manusia dan hewan setelah air bah[sunting | sunting sumber]

Berfirmanlah Allah kepada Nuh dan kepada anak-anaknya yang bersama-sama dengan dia:

"Sesungguhnya Aku mengadakan perjanjian-Ku dengan kamu dan dengan keturunanmu, dan dengan segala makhluk hidup yang bersama-sama dengan kamu: burung-burung, ternak dan binatang-binatang liar di bumi yang bersama-sama dengan kamu, segala yang keluar dari bahtera itu, segala binatang di bumi. Maka Kuadakan perjanjian-Ku dengan kamu, bahwa sejak ini tidak ada yang hidup yang akan dilenyapkan oleh air bah lagi, dan tidak akan ada lagi air bah untuk memusnahkan bumi." Dan Allah berfirman: "Inilah tanda perjanjian yang Kuadakan antara Aku dan kamu serta segala makhluk yang hidup, yang bersama-sama dengan kamu, turun-temurun, untuk selama-lamanya: Busur-Ku Kutaruh di awan, supaya itu menjadi tanda perjanjian antara Aku dan bumi. Apabila kemudian Kudatangkan awan di atas bumi dan busur itu tampak di awan, maka Aku akan mengingat perjanjian-Ku yang telah ada antara Aku dan kamu serta segala makhluk yang hidup, segala yang bernyawa, sehingga segenap air tidak lagi menjadi air bah untuk memusnahkan segala yang hidup. Jika busur itu ada di awan, maka Aku akan melihatnya, sehingga Aku mengingat perjanjian-Ku yang kekal antara Allah dan segala makhluk yang hidup, segala makhluk yang ada di bumi."[18] Anak-anak Nuh yang keluar dari bahtera ialah Sem, Ham dan Yafet; dan dari mereka inilah tersebar penduduk seluruh bumi.[19]

Kisah air bah dalam budaya-budaya di dunia[sunting | sunting sumber]

Prasasti Air bah yang berisi epos Gilgames dalam bahasa Akkadia

Cerita-cerita air bah Mesopotamia[sunting | sunting sumber]

Kebanyakan sarjana Alkitab modern menerima tesis bahwa cerita air bah di dalam Alkitab berkaitan dengan sebuah siklus mitologi Asyur-Babilonia yang banyak mengandung kesamaan dengan cerita Alkitab. Mitos air bah Mesopotamia sangat populer—pengisahan kembali yang terakhir dari cierta ini berasal dari abad ke-3 SM. Sejumlah besar teks-teks asli dalam bahasa Sumeria, Akkadia dan Asyur, ditulis dalam huruf paku, telah ditemukan oleh para arkeolog, tetapi tugas pencarian kembali prasasti-prasasti lainnya tetap berlangsung, seperti halnya juga penerjemahan atas prasasti-prasasti yang telah ditemukan.

Prasasti-prasasi tertua yang telah ditemukan ini, epos Atrahasis, dapat diduga waktu penulisannya melalui colophon (identifikasi penulisan) ke masa pemerintahan buyut Hammurabi, Ammi-Saduqa (1646–1626 SM). Prasasti ini ditulis dalam bahasa Akkadia (bahasa Babilonia kuno), dan menceritakan bagaimana dewa Enki memperingatkan sang pahlawan Atrahasis ("Sangat Bijaksana") dari Shuruppak untuk membongkar rumahnya (yang dibuat dari buluh-buluh) dan membangun sebuah kapal untuk menyelamatkan diri dari air bah yang dipakai oleh dewa Enlil, yang murka karena hingar-bingar di kota-kota, untuk memusnahkan manusia. Kapal ini mempunyai atap "seperti Apsu" (samudera dunia bawah yang berisikan air tawar yang tuannya adalah Enki), lantai atas dan bawah, dan harus ditutup dengan aspal (bitumen). Atrahasis naik ke kapal itu bersama dengan keluarganya dan binatang-binatang lalu mengunci pintunya. Badai dan air bah pun datang. Bahkan para dewata pun takut. "Mayat-mayat menyumbat sungai seperti capung." Setelah tujuh hari banjir berhenti dan Atrahasis memberikan kurban. Enlil murka, tetapi Enki, sahabat umat manusia, tidak peduli kepadanya - "Aku telah memastikan bahwa kehidupan diselamatkan" - dan pada akhirnya Enki dan Enlil sepakat dengan cara-cara lain untukmengendalikan populasi manusia. Cerita ini juga ada dalam versi Asyur yang belakangan.[20]

Cerita Ziusudra dikisahkan dalam bahasa Sumeria dalam potongan-potongan Kejadian Eridu, yang dapat diperkirakan tanggal penulisannya dari tulisannya yaitu akhir abad ke-17 SM. Cerita ini mengisahkan bagaimana Enki memperingatkan Ziusudra (yang berarti "ia melihat kehidupan," dalam rujukan kepada hadiah keabadian yang diberikan kepadanya oleh para dewata), raja Shuruppak, tentang keputusan dewata untuk menghancurkan umat manusia dengan air bah (teks yang menggambarkan mengapa dewata telah memutuskan hal ini telah hilang). Enki memerintahkan Ziusudra untuk membangun sebuah kapal yang besar (teks yang menceritakan perintah ini juga hilang). Setelah air bah selama tujuh hari, Ziusudra memberikan kurban yang selayaknya dan menyembah kepada An (dewa langit) dan Enlil (penghulu dewata), dan memperoleh kehidupan yang kekal di Dilmun, Taman Eden di kalangan bangsa Sumeria.[21]

Kisah tentang Utnapishtim (terjemahan dari "Ziusudra" dalam bahasa Akkadia), sebuah episode dalam Epos Gilgames di kalangan bangsa Babilonia, dikenal dari salinan-salinan milenium pertama dan barangkali berasal dari cerita Atrahasis.[22][23] Ellil, (setara dengan Enlil), penghulu para dewata, bermaksud menghancurkan seluruh umat manusia dengan air bah. Utnapishtim, raja Shurrupak, diperingatkan oleh dewa Ea (setara dengan Enki) untuk menghancurkan rumah yang dibangunnya dari buluh dan menggunakan bahan-bahannya untuk membangun sebuah bahtera serta memuatinya dengan emas, perak, dan benih dari segala makhluk hidup dan semua tukangnya.. Setelah badai yang berlangsung selama tujuh hari, dan kemudian 12 hari lagi hingga air surut, kapal itu mendarat di Gunung Nizir; setelah tujuh hari lagi Utnapishtim mengeluarkan seekor merpati, yang kemudian kembali, lalu seekor burung layang-layang, yang juga kembali, dan akhirnya seekor gagak, yang tidak kembali. Utnapishtim kemudian memberikan persembahan (yang terdiri dari masing-masing tujuh ekor binatang) kepada para dewata, dan dewata mencium bau harum daging bakar dan berkerumun "seperti lalat." Ellil marah karena ada manusia yang selamat, tetapi Ea memakinya, sambil berkata, "Bagaimana mungkin engkau mengirim air bah tanpa berpikir panjang? Terhadap orang-orang berdosa, biarkanlah dosa mereka tetap ada, tentang mereka yang jahat biarkanlah kejahatannya tetap bertahan. Hnetikanlah, jangan biarkan hal itu terjadi, kasihanilah, [Agar manusia tidak binasa]." Utnapishtim dan istrinya kemudian memperoleh karunia keabadian dan dikirim untuk tinggal "jauh di mulut sungai."[24]

Pada abad ke-3 SM Berossus, seorang imam agung dari kuil Marduk di Babilonia, menulis sejarah Mesopotamia dalam bahasa Yunani untuk Antiokhos I Soter (323–261 SM). Tulisan Berossus Babyloniaka telah lenyap, tetapi seorang sejarahwan Kristen abad ke-3 dan ke-4, Eusebius mengisahkannya kembali dari legenda tentang Xisuthrus, versi Yunani dari Ziusudra, dan pada hakikatnya adalah cerita yang sama.[25]

Cerita-cerita air bah lainnya[sunting | sunting sumber]

Cerita-cerita tentang air bah tersebar luas dalam mitologi dunia, dengan contoh-contoh praktis dari setiap masyarakat. Padanan Nuh dalam mitologi Yunani adalah Deucalion, sedangkan dalam teks-teks India sebuah banjir yang mengerikan dikisahkan telah meninggalkan hanya satu orang yang selamat, yaitu seorang suci yang bernama Manu yang diselamatkan oleh Wisnu dalam bentuk seekor ikan, dan dalam Zoroastrian tokoh Yima menyelamatkan sisa-sisa umat manusia dari kehancuran oleh es. Cerita-cerita air bah telah ditemukan pula dalam berbagia mitologi dari banyak bangsa pra-tulisan dari wilayah-wilayah yang jauh dari Mesopotamia dan benua Eurasia; salah satu contohnya adalah legenda orang-orang Indian Chippewa.[26] Para etnolog dan mitologis mengatakan bahwa legenda-legenda seperti legenda orang Chippewa harus diperlakukan dengan sangat hati-hati karena adanya kemungkinan kontaminasi dari hubungan mereka dengan agama Kristen (dan keinginan untuk menyesuaikan bahan tradisional agar cocok dengan agama yang baru mereka peluk), serta sebagai kebutuhan yang lazim untuk menjelaskan bencana alam yang tidak dapat dikendalikan oleh masyarakat-masyarakat purba. Mereka yang menafsirkan Alkitab secara harafiah menunjukkan bahwa cerita-cerita ini adalah bukti bahwa air bah di dalam Alkitab itu benar-benar terjadi dalam sejarah.

Perbandingan antara kisah-kisah air bah[sunting | sunting sumber]

Loh batu berisi kisah air bah menurut Epos Gilgames

Epos Gilgames[sunting | sunting sumber]

Tablet 11 dari Epos Gilgames, yang dibuat di Mesopotamia pada abad ke-14 sampai ke-11 SM, memuat suatu kisah air bah yang mirip dengan riwayat air bah Nuh.[27] Professor Gary Rendsburg mengamati persamaan dan perbedaannya:[28]

Urutan Bagian peristiwa Ada di Epos Gilgames? Ayat Alkitab
1 Faktor moral Tidak Kejadian 6:5–13
2 Kayu, pakar, jerami Ada Kejadian 6:14
3 Ukuran bahtera Ada Kejadian 6:15
4 Bahtera bertingkat Ada Kejadian 6:16
5 Perjanjian Tidak Kejadian 6:17–22
6 Penduduk Ada Kejadian 7:1–5
7 Air bah Ada Kejadian 7:6–23
8 Kandas di puncak bukit Ada Kejadian 7:24–8:5
9 Burung-burung dilepaskan Ada Kejadian 8:6–12
10 Tanah kering Ada, tetapi lebih sedikit Kejadian 8:13–14
11 Semua dibebaskan Ada Kejadian 8:15–19
12 Persembahan korban Ada Kejadian 8:20–22

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Lihat keterangan pada Kitab Kejadian pasal 7.
  2. ^ Kejadian 6:5
  3. ^ Kejadian 6:11
  4. ^ Kejadian 6:7
  5. ^ Kejadian 6:8
  6. ^ Kejadian 6:9
  7. ^ Kejadian 6:13-17
  8. ^ Kejadian 6:18-21
  9. ^ Kejadian 6:22
  10. ^ Kejadian 6:10
  11. ^ Tujuh hari sebelum kejadian yang dicatat dalam Kejadian 7:11
  12. ^ Kejadian 7:1-5
  13. ^ Kejadian 7:7-10
  14. ^ E.F. Kevan, Commentary on Genesis. Dalam The New Bible Commentary, ed. F. Davidson (Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans Pub. Co., 1953), pp. 84-85.
  15. ^ Dianggap ada 30 hari sebulan, jadi 13+30+30+1 = 74 hari.
  16. ^ Kejadian 8:20-22
  17. ^ Kejadian 9:1-7
  18. ^ Kejadian 9:8-17
  19. ^ Kejadian 9:18-19
  20. ^ Teks mitos Atrahasis
  21. ^ Text tentang mitos Ziusudra
  22. ^ bah.htm Tinjauan tentang mitos air bah Mesopotamia
  23. ^ Tigay, hlm. 214-240, 239
  24. ^ Teks mitos Utnapishtim
  25. ^ Teks mitos Xisuthrus
  26. ^ Mitos air bah Chippewa
  27. ^ Epic of Gilgamesh. Tablet 11. Mesopotamia, 14th–11th century BCE. In e.g. James B. Pritchard. Ancient Near Eastern Texts Relating to the Old Testament, 93–95. Princeton: Princeton University Press, 1969. ISBN 0-691-03503-2.
  28. ^ Gary A. Rendsburg. “Lecture 7: Genesis 6–8, The Flood Story.” In The Book of Genesis, Course Guidebook, page 29. Chantilly, Virginia: The Teaching Company, 2006. ISBN 1-59803-190-2.

Pustaka tambahan[sunting | sunting sumber]

  • Bailey, Lloyd R. (1989). Noah, the Person and the Story. South Carolina: University of South Carolina Press. ISBN 0-87249-637-6. 
  • Best, Robert M. (1999). Noah's Ark and the Ziusudra Epic. Fort Myers, Florida: Enlil Press. ISBN 0-9667840-1-4. 
  • Brenton, Sir Lancelot C.L. (1986) [1851]. The Septuagint with Apocrypha: Greek and English (reprint). Peabody: Hendrickson Publishers. ISBN 0-913573-44-2. 
  • Browne, Janet (1983). The Secular Ark: Studies in the History of Biogeography. New Haven & London: Yale University Press. ISBN 0-300-02460-6. 
  • Tigay, Jeffrey H., (1982). The Evolution of the Gilgamesh Epic. University of Pennsylvania Press, Philadelphia. ISBN 0-8122-7805-4. 
  • Cohn, Norman (1996). Noah's Air bah: The Kej. esis Story in Western Thought. New Haven & London: Yale University Press. ISBN 0-300-06823-9. 
  • Friedman, Richard Elliot (2003). The Bible with Sources Revealed: A new view into the five books of Moses. New York: Harper SanFrancisco. ISBN 0-06-073065-X. 
  • Young, Davis A. (1995). The Biblical Flood. Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co. ISBN 0-8028-0719-4.  ISBN 0-85364-678-3 (hardback)
  • Woodmorappe, John (1996). Noah's Ark: A Feasibility Study. El Cajon, CA: Institute for Creation Research. ISBN 0-932766-41-2. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]