Perbudakan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Sebuah lukisan karya Jean-Léon Gérôme tentang jual-beli budak di sebuah pasar di dunia Arab.

Perbudakan adalah suatu kondisi di saat terjadi pengontrolan terhadap seseorang oleh orang lain. Perbudakan biasanya terjadi untuk memenuhi keperluan akan buruh atau kegiatan seksual. Orang yang dikontrol disebut dengan budak.

Para budak adalah golongan manusia yang dimiliki oleh seorang tuan, bekerja tanpa gaji dan tidak mempunyai hak asasi manusia.

Etimologi[sunting | sunting sumber]

Kata slave dalam bahasa Inggris berasal dari kata slav yang merujuk kepada bangsa Slavia yang banyak ditangkap dan dijadikan budak saat peperangan pada awal Abad Pertengahan.[1][2]

Sejarah perbudakan[sunting | sunting sumber]

Sejarah awal[sunting | sunting sumber]

Bukti-bukti keberadaan perbudakan sudah ada sebelum tulis-menulis, dan telah ada dalam berbagai kebudayaan.[3] Kuburan prasejarah di Mesir Bawah sejak 8000 SM menunjukkan bahwa suatu masyarakat Lybia telah memperbudak suatu suku.[4]

Pada catatan terawal perbudakan sudah dianggap sebagai institusi yang mapan. Kode Hammurabi (sekitar 1760 SM) contohnya, menyatakan bahwa hukuman mati dijatuhkan bagi siapa saja yang membantu seorang budak melarikan diri sebagaimana orang yang menyembunyikan seorang buronan.[5]

Perbudakan dikenal hampir dalam semua peradaban dan masyarakat kuno, termasuk Sumeria, Mesir Kuno, Tiongkok Kuno, Imperium Akkad, Asiria, India Kuno, Yunani Kuno, Kekaisaran Romawi, Khilafah Islam, orang Ibrani di Palestina dan masyarakat-masyarakat sebelum Columbus di Amerika. Institusi tersebut berupa gabungan dari perbudakan-hutang, hukuman atas kejahatan, perbudakan terhadap tawanan perang, penelantaran anak, dan lahirnya anak dari rahim seorang budak.[6]

Zaman Kuno Klasik[sunting | sunting sumber]

Catatan mengenai perbudakan di Yunani Kuno ada sejak zaman Yunani Mycenaia. Athena Klasik memiliki populasi budak terbesar yang mencapai 60.000 jiwa pada abad ke-5 dan ke-6 SM. Ketika Republik Romawi memperluas wilayah, banyak masyarakat yang diperbudak mengakibatkan naiknya suplai di Eropa dan Mediteran. Orang Yunani, Iliria, Berber, Jerman, Inggris, Trasia, Galia, Yahudi, Arab, dll. melakukan perbudakan bukan hanya untuk pekerjaan keras namun juga untuk hiburan.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Oxford English Dictionary, 2nd edition 1989, s. v. 'slave'
  2. ^ Encyclopædia Britannica, History of Europe - Middle Ages - Growth and innovation - Demographic and agricultural growth
  3. ^ Britannica: Black History
  4. ^ Thomas, Hugh: The Slave Trade Simon and Schuster; Rockefeller Centre; New York, New York; 1997
  5. ^ Sacred Texts
  6. ^ Demography, Geography and the Sources of Roman Slaves, by W. V. Harris: The Journal of Roman Studies, 1999

Pranala luar[sunting | sunting sumber]