Cicero

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Cicero ketika berumur lebih kurang 60 tahun, daripada patung marmar purba


Marcus Tullius Cicero adalah filsuf, orator dan negarawan Romawi kuno yang umumnya dianggap sebagai ahli pidato Latin dan ahli gaya prosa.[1] Cicero lahir pada 3 Januari 106 SM di Aprium, sebuah kota sekitar tujuh puluh mil sebelah tenggara Roma [1] dan mati pada 7 Desember 43 SM) karena dibunuh.[2] Cicero merupakan tokoh besar mazhab Filsafat Stoa yang mulai populer pada abad 4SM sampai abad 2M.[3] Selain itu, ia juga dianggap dekat dengan aliran Platonisme dan Epikureanisme.[1]

Pemikiran Cicero banyak dirujuk dalam pemikiran hukum dan tata negara, serta pemikiran filsafat lainnya, seperti David Hume di abad 18.[3]

Ayah Cicero adalah seorang tuan tanah, hal ini memungkinkan dia mengakses pendidikan di Roma, di bawah bimbingan L. Licinius Crassus (konsul 95SM), salah satu orator terbaik kala itu.[1] Ia juga belajar hukum dan politik, dan dari pendampingan sepupunya, Q. Mucius Ascaevola, sang Pontigiex (konsul 117SM), Cicero tumbuh menjadi seorang yang menaruh hormat kepada konservatisme moderat dalam politik.[1] Ia belajar filsafat Stoa dari Posidonius di Rhodes, dan dari Akademik,Antiochus dari Ascalon di Athena.[1]

Cicero sebagai Negarawan[sunting | sunting sumber]

Bagi Cicero, orasi bukan berpusat pada pengetahuan berpidato, melainkan tentang bagaimana menjadi orator terbaik, yang mampu memberikan rasa aman kepada rakyat, bahkan dapat menyatukan rakyat.[1] De Oratore karena itu menjadi landasan gagasan de Re Publica, dan de Legibus.[1] Dialog yang ada dalam karya itu merepresentasikan Phillipus sebagai pencemooh otoritas senat dan tanggung jawab atas dekade perang eksternal dan sipil yang terjadi kemudian.[1] Bagi Cicero, pidato harus didedikasikan sebagai alat untuk pelayanan publik.[1] Cicero memang negarawan yang sangat berbakti, dalam de Re Publica, kata Cicero kepada saudaranya, adalah "tentang kondisi terbaik dari sebuah kota dan warga negara yang paling baik".[1] Cicero banyak sekali bicara tentang demokrasi, keadilan rakyat, hukum alam sebagai acuan perilaku kepentingan manusia.[1] Bagi Cicero etika warga negara sama pentingnya dengan sistem politik. Kelangsungan sistem politik akan tergantung pada etika politik: negarawan memelihara kota dengan keputusan yang bijaksana dan contoh moral.[1]

Bagi Cicero, menjadi negarawan yang patriotis adalah segala-galanya, bahkan ganjarannya adalah surga.[1] Tugas politik bagi Cicero adalah suci, yang dibebankan Tuhan kepada manusia, seperti ditulis Cicero dalam dialog Scipo kepada kakeknya[1],

Karena, Africanus, jalan masuk ke surga terbuka bagi orang yang berjasa kepada negaranya, meskipun sejak anak-anak aku mengikuti jejak ayah dan engkau, dan tidak jauh dari kemasyuranmu, kini ketika ganjaran besar terungkap padaku, akan terus berjuang dengan keras

Cicero dari Arpinum

Di sini, Cicero mengeksploitasi doktrin Plato tentang imortalitas jiwa untuk memperkuat cita-citanya akan pengabdian patriotis.[1]

Cicero dan Perjalanan Intelektualnya[sunting | sunting sumber]

Sebagai orang muda, Cicero langsung mendekatkan diri dengan aliran filsafat besar, Stoa, Epikuros, dan para filsuf dari Akademia.[4] Cicero mampu mengkombinasikan ambisi filsafat retorik gaya Romawi kepada gaya Yunani.[4] Cicero kemudian belajar sembari melakukan banyak sekali aktivitas politik, hingga pada tahun 45BC pada usianya 60 tahun, dan akhirnya filsafatnya benar-benar mencapai keluasan.[4][3] Dalam kondisi politik yang karut marut dan membuat setiap orang menderita, yaitu ketika perang sipil terjadi, bahkan Cicero kehilangan saudari tercintanya, Tullia, Cicero mencurahkan seluruh energinya demi penghiburan atas duka dalam aktivitas menulis secara radikal (ledakan besar).[4] Banyak karya yang ia rampungkan selama dua tahun saja.[4]

  • the Academia
  • the De Fibinus
  • the De Tusculan Disputations
  • the De Natura Deorum
  • the De Divinatione
  • the De Fato
  • the De Officiis
  • the De Amicitia
Marcus Tullius Cicero

Secara personal, Cicero adalah orang yang sangat cerdas dalam bernalar, bahkan mampu memakai peristiwa-peristiwa dalam hidupnya sebagai pemacu karya-karya filsafatnya.[4] Bukan hanya alasan personal yang membuat ia merampungkan sejumlah karya, namun kutipan dari De Natura berikut mewakili keprihatinannya[4],

Jika ada yang terheran-heran mengapa aku mempercayakan setiap refleksi menjadi tulisan pada tahap hidup saya ini, aku dapat menjawabnya sederhana.[4] Tanpa aktivitas publik yang aku tanggung (jabatan atau tugas resmi kemasyarakatan), dan dalam situasi politik diktator tak terelakkan, aku berpikir bahwa tindakan patriotisme, menjelaskan secara rinci filsafat kepada para sesama warga negara, mengevaluasinya dengan sungguh-sungguh kepada negara terhormat dan suci demi sebuah ekspresi subjek yang luhur dalam literatur Latin.

Cicero

Di akhir hidupnya, Cicero dalam etika mengkritik tradisi Epikuros, Stoa, dan Peripatetik doktrin dalam karya On Ends, dan pandangan mereka terhadap kematian, penderitaan, dan emosi yang tidak masuk akal, dan kebahagiaan dalam karya Tusculan Disputations.[3] Pada masa akhir hidupnya dalam karya On Duties, Cicero berpijak pada prinsip Stoa.[3]

Cicero dan Stoa[sunting | sunting sumber]

Karya Cicero dengan pengaruh terlama adalah de Officiis, yaitu karya dengan semangat Stoikisme, yaitu karya yang banyak membahas tentang perhatiannya sepanjang periode krisis personal dan politik, di antaranya mengenai bahaya bagi masyarakat dari ambisi pribadi dan individu yang sangat berkuasa; tugas pelayanan publik dibandingkan dengan daya tarik pengunduran diri filosofis; pengunaan yang tepat dari sarana publik.[1] Judul de Officiis terkait dengan semangat Stoikisme tentang etika katekontik, yaitu tindakan yang tepat dan terbaik, terkait dengan tugas kebaikan sebagai tanggung jawab masyarakat.[1] Terdapat tugas sosial yang melekat dalam setiap warga negara.[1] Dalam peristiwa konflik, Cicero menetapkan sebuah prosedur,

Orang yang mengambil sesuatu dari orang lain dan meningkatkan keuntungannya sendiri dengan mengorbankan keuntungan orang lain lebih buruk ketimbang kematian, ketimbang kemiskinan, ketimbang penderitaan yang mungkin menimpa tubuh atau hak milik eksternal lainnya.[1]... Alam menetapkan bahwa seorang manusia harus mau mempertimbangkan kepentingan orang lain, siapapun dia, dengan alasan mendasar yakni karena dia adalah manusia.[1]

Cicero dalam de Officiis

Selanjutnya, menyikapi warisan dari keberanian tradisi Romawi dalam kemiliteran, dan warisan Yunani yang mengatakan bahwa doxa (kejayaan dan opini) adalah berbahaya dan tidak berharga, Cicero mengakomodasi keduanya dengan berkata[1],

Jiwa besar tampak dalam dua hal sikap: tidak memperdulikan hal-hal eksternal, dalam keyakinan bahwa orang seharusnya tidak memuji, memilih, dan mengejar apa pun kecuali kehormatan dan seharusnya tidak tunduk kepada manusia, hasutan jiwa atau kekayaan

Cicero dalam de Officiis I.66-7

Di dalam diri manusia terdapat emosi yang baik, yang disebut eupatheia, Cicero menyebut constatiae atau negara yang kokoh tidak boleh dikendalikan perilaku manusia yang berhasrat berlebih-lebihan.[5] Sepanjang ada nafsu, selalu ada keinginan menginginkan, sejauh ada ketakutan, selalu ada alasan untuk menghindar, dan sejauh ada kesenangan, selalu ada kegembiraan.[5] Namun kumpulan perasaan itu hanya terbatas bagi orang bijak, yang hanya punya nalar tepat.[5] Oleh karena itu tidak ada dorongan yang benar dari penderitaan mental.[5] Seorang bijak harus menerima segala peristiwa tak terelakkan pada dirinya, dan tidak ada yang buruk secara moral dalam menyediakan sebuah sebab bagi tekanan.[5] Jadi persoalan manusia terhadap segala dorongan atau impuls bukan pada hal di luar diri, melainkan dalam dirinya sendiri.[5] Itu mengapa, ajaran tentang moral dalam Stoa menduduki posisi paling penting terkait tindakan yang luhur.[5]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v Christoper Rowe, Malcolm Schofield, Simon Harrison, and Melissa Lane., Sejarah Pemikiran Politik Yunani Romawi, Jakarta: PT. Grafindo Persada, 2001, Hal. 562-608
  2. ^ (Inggris) "Cicero" (html). Diakses 2012-09-9. 
  3. ^ a b c d e (Inggris) Robert Audi., The Cambridge Dictionary of Philosophy, Edinburg: Cambridge University Press, 1995, Hal. 123-124
  4. ^ a b c d e f g h (Inggris)A.A Long., Hellenistic Philosophy,Los Angeles: University of California Press, 1974, Hal. 109, Hal, 229-231
  5. ^ a b c d e f g (Inggris) F. H. Sandbach., The Stoics, London: Bristol Classical Press, 1989, Hal. 67-68

Pranala luar[sunting | sunting sumber]