Marcus Aurelius

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Imperator Caesar Marcus Aurelius Antoninus Augustus (26 April 12117 Maret 180) adalah Kaisar Roma dari 161 sampai kematiannya 180. Dia dilahirkan dengan nama Marcus Annius Catilius Severus, dan pada pernikahan dia mengambil nama Marcus Annius Verus. Ketika naik takhta sebagai kaisar, ia diberikan nama Marcus Aurelius Antoninus. Dia merupakan kaisar terakhir dari Lima Kaisar Baik.

Kehidupan[sunting | sunting sumber]

Diadopsi oleh Antoninus[sunting | sunting sumber]

Marcus Aurelius adalah kemenakan Antoninus Pius dan anak ipar laki-laki Hadrianus. Karenanya, ketika anak angkat pertama Hadrianus, Aelius Verus meninggal dunia, Hadrianus membuat prasyarat kepada pengantinya agar Antoninus mengadopsi Marcus (saat itu namanya Marcus Annius Verus) dan Lucius Verus (anak laki-laki Aelius Verus), dan mengatur agar mereka menjadi calon penggantinya. Ia menjadi Kaisar Romawi pada 161 M dan mangkat pada 19 tahun kemudian.

Antoninus melakukan hal ini, mengadopsi, dan menetapkan mereka sebagai calon-calon penggantinya pada 25 Februari 138, ketika Marcus baru berusia 17 tahun.

Roman emperor[sunting | sunting sumber]

Patung Marcus Aurelius di Bukit Capitoline.

Menjadi kaisar bersama[sunting | sunting sumber]

Ketika Antoninus meninggal dunia pada 7 Maret 161, Marcus menerima takhta dengan syarat bahwa ia dan Verus diangkat sebagai kaisar bersama (Augusti), dengan Verus yang kedudukannya sedikit lebih rendah. Ini sebagian disebabkan karena mereka sama-sama pewaris Antoninus.

Suksesi bersama ini juga mungkin dimotivasi tuntutan-tuntutan militer karena, selama pemerintahannya, Marcus Aurelius hampir terus-menerus berperang dengan berbagai penduduk di luar kekaisaran. Seorang tokoh yang sangat berwibawa dibutukan untuk mengomandoi pasukan-pasukan, namun kaisar sendiri tidak dapat mempertahankan front Jerman dan Parthia pada saat yang bersamaan. Ia pun tidak dapat begitu saja menunjuk seorang jenderal untuk memimpin legiun-legiun. Para pemimpin militer populer sebelumnya seperti Julius Caesar dan Vespasianus pernah menggunakan militer untuk menggulingkan pemerintahan yang ada dan mengangkat diri mereka sebagai pemimpin tertinggi. Marcus Aurelius memecahkan masalahnya dengan mengutus Verus untuk memimpin legiun-legiun di timur. Ia cukup berwibawa untuk mendapatkan kesetiaan penuh dari pasukan-pasukannya, tetapi juga cukup kuat sehingga ia hanya membutuhkan sedikit insentif untuk menggulingkan Marcus. Rencana ini berhasil—Verus tetap setia kepadanya hingga kematiannya dalam peperangan pada 169.

Pemerintahan bersama sebagai kaisar ini sedikit mengingatkan akan sistem politik dari Republik Romawi, yang berfungsi sesuai dengan prinsip kerekanan dan tidak membiarkan seseorang memiliki kekuasaan tertinggi. Pemerintahan bersama ini dihidupkan kembali ketika Diocletianus menciptakan Tetrarki pada akhir abad ke-3.

Peperangan Aurelius[sunting | sunting sumber]

Jerman dan Donau[sunting | sunting sumber]

Suku-suku Jermanik dan banyak bangsa lain pernah melakukan banyak serangan di sepanjang perbatasan Utara, khususnya ke Gaul dan menyeberangi Donau— bangsa-bangsa Jerman, pada gilirannya, mungkin pernah diserang oleh suku-suku yang suka berperang jauh di timur. Peperangannya melawan mereka diperingati pada Tiang Marcus Aurelius.

Parthia[sunting | sunting sumber]

Di Asia, sebuah Kekaisaran Parthia yang bangkit kembali, melakukan serangan baru. Marcus Aurelius mengutus rekan kaisarnya, Verus, untuk memimpin legiun-legiun di timur untuk menghadapi ancaman ini. Ketika kembali dari peperangan dengan kemenangan, Verus dianugerahi dengan kejayaan; arak-arakan itu tidak lazim karena mengikutsertakan Verus, Marcus Aurelius, anak-anak lelaki mereka, dan anak-anak perempuan mereka yang belum menikah, sebagai sebuah perayaan besar keluarga.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]