Zōē Porphyrogénnētē

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Zōē Porphyrogénnētē
Kaisarina Bizantium
Kaisarina Zōē seperti yang digambarkan di dalam mosaik dari Hagia Sophia
Kaisarina Zōē seperti yang digambarkan di dalam mosaik dari Hagia Sophia
Kaisarina Bizantium
Memerintah 15 November 1028 - Juni 1050
Pendahulu Kōnstantinos VIII
Pengganti Kōnstantinos IX Monomakhos & Theodōra
Pasangan Rōmanos III Argyros (m. 1028-1034)
Mikhaēl ho Paphlagōn (m. 1034-1041)
Kōnstantinos IX Monomakhos (m. 1042-1050)
Ayah Kōnstantinos VIII
Ibu Helena
Lahir Tahun 978
Konstantinopel
Meninggal Juni 1050 (usia 72)
Konstantinopel
Dikubur Gereja Holy Apostles, Konstantinopel

Zōē (di dalam Bahasa Yunani: Ζωή, Zōē, berarti "Hidup") (tahun 978 – Juni 1050) memerintah sebagai Kaisarina Bizantium bersama dengan saudarinya Theodōra dari 19 April sampai 11 Juni, 1042. Sebagai tambahannya, ia juga dimahkotai sebagai Ratu ke serangkaian rekan-pemimpin dimulai dengan Rōmanos III Argyros pada tahun 1028 sampai kematiannya pada tahun 1050 ketika ia menikah dengan Kōnstantinos IX Monomakhos.

Kehidupan awal: 978 – 1028[sunting | sunting sumber]

Zōē merupakan salah satu dari beberapa Kaisarina Bizantium yang merupakan Porphyrogénnētē,[1] atau "lahir ungu" (yang artinya, ia dilahirkan dari kaisar yang memerintah). Ia merupakan putri kedua Kōnstantinos VIII dan Helena.[2]Ayahnya telah menjadi rekan-kaisar pada tahun 962, dan Kaisar tunggal pada tahun 1025.[3]Pemerintahannya sebagai kaisar tunggal berlangsung hanya selama 3 tahun, dari 15 Desember, 1025 s/d 15 November, 1028. [2]

Posisinya sebagai puteri kekaisaran yang memenuhi syarat sebagai calon mempelai untuk Kaisar Romawi Suci di barat, Otto III, Kaisar Romawi Suci pada tahun 996.[4]Duta besar kedua dikirimkan pada tahun 1001, dipimpin oleh Arnolfo, Uskup Agung Milan[5] ditugasi dengan menyeleksi mempelai Otto dari antara ketiga putri Kōnstantinos. Yang sulung, Eudocia, cacat karena cacar, yang bungsu, Theodōra, merupakan seorang gadis yang sangat polos. Arnolfo kemudian memilih Zōē yang berusia 23 tahun dan menarik, yang mana pamannya, Basileios II menyetujuinya.[1] Pada bulan Januari 1002 ia menemani Arnolfo kembali ke Italia, hanya untuk mendengar kabar ketika kapal mencapai Bari bahwa Otto III telah tiada, memaksanya untuk kembali ke rumah.[1]Kesempatan lain terjadi pada tahun 1028, ketika seorang duta besar dari Kerajaan Barat tiba di Konstantinopel dengan sebuah lamaran untuk pernikahan kekaisaran. Kōnstantinos VIII dan 50 tahun Zōē menolak ide tersebut ketika diketahui bahwa calon mempelai Heinrich, putra Konrad II hanya berusia 10 tahun.[6]

Khawatir dengan prospek menghubungkan pria lain dengan istana kekaisaran, Basileios II mencegah keponakan-keponakannya untuk menikahi bangsawan Bizantium sampai akhir hayatnya.[7]Akibatnya, Zōē hidup di dalam kehidupan virtual yang tidak jelas di dalam kekaisaran gynaeceum[6] sampai peristiwa (pamannya Basileios II wafat tanpa keturunan dan ayahnya juga tidak memiliki keturunan laki-laki) memaksanya ke dalam pusat politik kekaisaran.[8]

Pasangan potensial pertama untuk Zōē adalah seorang bangsawan terkemuka Kōnstantinos Dalassenos, mantan Dux dari Antiokhia.[9]Ia akhirnya diabaikan untuk Rōmanos III Argyros, seorang (praefectus urbi) yang sempurna dari Konstantinopel .[7]Meskipun mereka sepupu ketiga[10], keduanya menikah pada tanggal 10 November, 1028 di kapel istana kekaisaran, dan pada tanggal 12 November, keduanya duduk di atas tahta kekaisaran.[11]

Dari Rōmanos III ke Mikhaēl V: 1028 – 1042[sunting | sunting sumber]

Menghabiskan bertahun-tahun lamanya di tempat berbatasan yang sama dengan saudarinya Theodōra membuat situasi dimana Zōē sekarang membenci Theodōra.[6]Ia tidak pernah mengampuni adiknya karena menjadi pilihan pertama ayahnya sebagai istri Rōmanos,[12] Zōē meyakinkan Rōmanos untuk menunjuk satu dari pengawalnya sebagai kepala rumah tangga Theodōra, dengan perintah untuk memata-matai Theodōra.[13]Tak lama setelah itu, Theodōra dituduh telah berkomplot untuk merebut tahta, pertama-tama dengan Presian dari Bulgaria, diikuti oleh Kōnstantinos Diogenes, seorang Archon dari Sirmium pada tahun 1031.[14]Zoe menuduhnya telah menjadi abgian dari konspirasi, dan dipaksa dikurung di dalam biara Petrion. Zōē kemudian mengunjungi adiknya dan memaksanya untuk mengambil Ordo Suci.[15]

Obsesi Zōē lainnya adalah melanjutkan Wangsa Makedonia.[7]Hampir segera setelah menikahi Rōmanos, Zōē yang berusia 50 tahun putus asa ingin hamil. Ia mencoba menggunakan benda bermagis, amulet dan ramuan, yang semuanya tidak memiliki efek.[16]Kegagalan usahanya untuk hamil mengisolasi pasangan tersebut, dan tak lama kemudian Rōmanos menolak untuk tidur satu ranjang dengannya.[17]Rōmanos berseteru dengan istrinya yang memberi sedikit perhatian padanya dan membatasi pengeluarannya,[18]sewaktu ia mengelola berbagai urusan-urusannya.[19] Namun akhirnya pada tahun 1033 Zōē sendiri menjadi tertarik kepada Mikhaēl ho Paphlagōn. Ia secara terbuka memamerkan kekasihnya, dan berbicara tentang rencananya untuk membuatnya menjadi kaisar. Mendengar rumor tersebut, Rōmanos menjadi prihatin dan menghadapi Mikhaēl, namun ia menolak tuduhan itu.[18]Kemudian pada 11 April 1034, Rōmanos III ditemukan tewas di dalam bak mandinya, dan diperkirakan bahwa Zōē dan Mikhaēl telah meracuninya, yang kemudian menjeratnya atau menenggelamkannya.[20][19]

Zōē kemudian menikahi Mikhaēl pada hari yang sama,[21]dan ia memerintah sebagai Mikhaēl IV sampai kematiannya pada tahun 1041. Meskipun Zōē percaya Mikhaēl akan membuktikan bahwa ia adalah suami yang lebih setia daripada suaminya Rōmanos, ia telah salah menilai. Mikhaēl IV prihatin jikalau Zōē membuatnya seperti Rōmanos,[22] dan jadi ia mengesampingkan Zōē dari politik dengan menempatkan seluruh kekuasaan di tangan saudaranya Mikhaēl Iōannēs Orphanotrophos.[23]Zoe dikurung lagi di istana gynaeceum, dan dijaga dibawah pengawasan ketat,[22]ketika kunjungan Mikhaēl menjadi semakin berkurang.[8]Dengan demikian, permaisuri yang tidak puas akan perlakuan tersebut berkomplot melawan Iōannēs pada tahun 1037 atau 1038.[7]

Emas histamenon dari Zōē dan Theodōra, tahun 1042.

Pada tahun 1041 Mikhaēl IV sekarat.[24] Iōannēs Orphanotrophos, ingin memastikan bahwa kekuasaan berada di tangannya, memaksa Zōē untuk mengadopsi Mikhaēl V Kalaphatēs, putra saudari Mikhaēl IV.[19]Pada tanggal 10 Desember, 1041, Mikhaēl IV wafat, ia menolak permintaan istrinya yang meminta izin agar diperkenankan untuk menemuinya sebelum ia menutup mata untuk selamanya.[25]

Dengan kematian Mikhaēl IV, Mikhaēl V dimahkotai pada bulan Desember 1041.[26]Meskipun ia berjanji untuk menghormati Zōē, ia segera mengurungnya di sebuah biara di Principus (satu dari Kepulauan Pangeran) atas tuduhan mencoba merebut tahta.[27]Perlakuan dari pewaris sah kepada Wangsa Makedonia menyebabkan terjadinya suatu pemberontakan populer di Konstantinopel, dan pada tanggal 19 April, 1042, rakyat menggulingkan Mikhaēl V dengan dukungan tak hanya dari Zōē, namun juga dari Theodōra. Mikhaēl V, dengan putus asa ingin mempertahankan tahtanya, sengaja membawa Zōē kembali dari Kepulauan Pangeran dan mempertunjukkannya kepada rakyat,[28] namun permohonannya untuk tetap memerintah bersama dengan Zōē ditolak. [29]Para anggota kunci memutuskan bahwa Zōē memerlukan seorang rekan-pemimpin, dan Theodōra adalah pilihan tepat untuk posisi tersebut. Delegasi yang dipimpin oleh Patrician Kōnstantinos Cabasilas[30] pergi ke biara di Petrion untuk meyakinkan Theodora untuk menjadi rekan-pemimpin dengan kakak perempuannya.[29]Di dalam sebuah majelis di Hagia Sophia, rakyat mengawal Theodōra yang marah dari Petrion, dan mengumumkannya sebagai kaisarina bersama dengan Zōē.[31]Setelah memahkotai Theodōra, massal menyerbu ke istana, mendesak Mikhaēl V untuk melarikan diri ke sebuah biara.[32]

Memerintah dengan Theodōra dan Kōnstantinos IX: 1042 – 1050[sunting | sunting sumber]

Zōē segera mendapatkan kekuasaan dan mencoba untuk memaksa Theodōra kembali ke biaranya, namun Senat dan rakyat meminta bahwa kedua kakak beradik itu dapat bersama-sama memerintah negara.[33]Dalam tindakan pertamanya, Theodōra dipanggil untuk melakukan apa yang tak dapat dilakukan oleh kakaknya – berurusan dengan Mikhaēl V. Zōē, lemah dan mudah dimanipulasi, ingin mengampuni dan membebaskan Mikhaēl. Theodōra memiliki jiwa yang keras; pertama-tama ia menjamin keselamatan Mikhaēl sebelum ia memerintahkan untuk membutakan Mikhaēl dan menghabiskan sisa hidupnya sebagai seorang biarawan.[34] Setelah selesai dengan urusan Mikhaēl V, Theodōra menolak untuk meninggalkan Hagia Sophia sampai ia mendapatkan perintah dari Zōē, 24 jam kemudian setelah Theodōra dimahkotai.[35]Secara resmi, ketika Theodōra menjadi kaisarina junior, dan tahtanya berada sedikit di bawah Zōē dalam upacara-upacara publik, ia merupakan pendorong di belakang administrasi gabungan tersebut. Kedua kakak beradik itu kemudian memproses pengelolaan kerajaan, memfokuskan kepada pembatasan penjualan kantor-kantor umum dan administrasi hukum.[36] Meskipun Mikhaēl Psellos menyatakan bahwa pemerintahan gabungan itu adalah kegagalan total, Iōannēs Skylitzēs menyatakan bahwa mereka sangat rajin merapikan penyalahgunaaan dari pemerintahan sebelumnya.[37]

Meskipun Theodōra dan Zōē muncul bersama-sama di dalam pertemuan Senat, atau ketika memberikan audiensi publik, segera terlihat bahwa pemerintahan gabungan mereka berada dibawah ketegangan.[38]Zōē masih merasa iri terhadap Theodōra, dan tidak berhasrat untuk mengelola kerajaan, namun tidak akan mengijinkan Theodōra untuk mengelola bisnis tersebut seorang diri. Istana segera terbagi menjadi dua, dengan fraksi-fraksi yang dibentuk dibelakang masing-masing maharani.[38]Setelah dua bulan bersitegang di antara keduanya, Zōē memutuskan untuk mencari suami baru, suami ketiganya, dan yang terakhir yang diijinkan menurut peraturan Gereja Ortodoks,[7]kemudian menolak kesempatan Theodōra untuk meningkatkan pengaruhnya, mengekang bakat saudarinya untuk memerintah.[39]

Pilihan pertamanya adalah Kōnstantinos Dalassenos, yang telah menjadi pilihan pertama ayahnya sebagai suaminya pada tahun 1028 yang lalu, namun setelah ia memperlihatkan penghinaan terhadap maharani tersebut, ia melemparkannya keluar dari kehadirannya.[38]Pilihan selanjutnya adalah menikahi Kōnstantinos Atroklines, seorang pejabat istana, dengan siapa ia digosipkan berselingkuh selama masa pemerintahan Rōmanos III.[19]Ia meninggal beberapa hari sebelum pernikahan dilangsungkan dengan kejadian misterius, kemungkinan diracuni oleh bekas istrinya.[38]

Zōē kemudian ingat akan Kōnstantinos IX Monomakhos yang tampan dan sopan. Bekas kekasih lainnya,[19]pasangan tersebut menikah pada tanggal 11 Juni, 1042, tanpa partisipasi Patriark Alexius I dari Konstantinopel, yang menolak untuk meresmikan pernikahan ketiga tersebut (dari sepasang suami istri itu).[40]Keesokan harinya Kōnstantinos secara resmi diumumkan sebagai kaisar bersama dengan Zōē dan adiknya Theodōra.

Zōē mendapatkan lebih dari yang ia tawarkan ketika Kōnstantinos memutuskan untuk membawa serta gundiknya yang telah lama bersamanya, Maria Skleraina.[41]Tidak hanya puas dengan membawanya ke istana, ia bersikeras untuk diijinkan mengumumkan berbagi kehidupan dengannya dan lebih jauh lagi, bahwa ia mendapat beberapa pengakuan resmi.[42]Terkejut, Zōē yang berusia 64 tahun tidak menolak membagi tempat tidurnya dan tahtanya dengan Skleraina. Kedua kakak beradik itu memberikan Skleraina gelar Augustae dan ia mendapat ranking setelah Zōē dan Theodōra, yang disebut despoina, nyonya atau maharani, seperti mereka dan mengambil tempatnya dibelakang mereka di dalam proses dan upacara-upacara resmi.[7]

Namun dimata publik, perbuatan Kōnstantinos IX terhadap gundiknya merupakan suatu skandal, dan akhirnya rumor mulai menyebar bahwa Skleraina berencana untuk membunuh Zōē dan Theodōra.[43]Hal ini menimbulkan suatu pemberontakan populer dari rakyat Konstantinopel pada tahun 1044, yang hampir membahayakan Kōnstantinos yang berpartisipasi di dalam proses keagamaan di jalan Konstantinopel.[44]Massal baru mereda setelah Zōē dan Theodōra muncul di atas teras, yang meyakinkan rakyat bahwa mereka tidak dibunuh.[44]

Selama masa pemerintahan Kōnstantinos, Zōē dengan senang hati menyerahkan seluruh kekuasaan beserta tanggung jawab kekaisaran kepada suaminya. Sampai kematiannya pada tahun 1050,[45] ia menikmati berbagai hiburan, dengan kamar-kamarnya di dalam istana yang dipenuhi dengan panci dan wajan, untuk pembuatan salep dan parfum.[7]

Meskipun Zōē berusia 50 tahun ketika ia pertama kali menikah, ia masih menikah sebanyak dua kali lagi. Ironisnya orang yang paling cakap di antara suami-suaminya adalah orang yang setidaknya siap untuk menjadi kaisar adalah Mikhaēl IV.[46]Konon ia berparas cantik, dan Mikhaēl Psellos di dalam Chronographia berkomentar bahwa, seperti ayam yang terpanggang matang, "setiap bagian tubuhnya keras dan dalam kondisi baik."[47] Ia sadar akan karismanya dan bermaksud untuk menjaga dan menggunakannya selama mungkin. Dengan kecerdikan khas Bizantium, ia membuat banyak kamar di kediamannya yang berubah menjadi laboratorium untuk mempersiapkan salep rahasia, dan ia mampu menjaga parasnya bebas keriput sampai ia berusia 60 tahun.[7]

Sumber[sunting | sunting sumber]

Sumber pertama[sunting | sunting sumber]

Mikhaēl Psellos, Chronographia.

Sumber Kedua[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c Norwich, pg. 259
  2. ^ a b Kazhdan, pg. 503
  3. ^ Canduci, pg. 252
  4. ^ Norwich, pg. 253
  5. ^ Norwich, pg. 258
  6. ^ a b c Norwich, pg. 269
  7. ^ a b c d e f g h Garland, Zoe Porphyrogenita
  8. ^ a b Canduci, pg. 267
  9. ^ Finlay, pg. 464
  10. ^ Norwich, pg. 270
  11. ^ Norwich, pg. 271
  12. ^ Canduci, pg. 269
  13. ^ Finlay, pg. 469
  14. ^ Kazhdan, pg. 627
  15. ^ Finlay, pg. 471
  16. ^ Norwich, pg. 272
  17. ^ Norwich, pg. 275
  18. ^ a b Norwich, pg. 276
  19. ^ a b c d e Kazhdan, pg. 2228
  20. ^ Norwich, pg. 278
  21. ^ Finlay, pg. 477
  22. ^ a b Norwich, pg. 280
  23. ^ Finlay, pg. 480
  24. ^ Norwich, pg. 286
  25. ^ Norwich, pg 289
  26. ^ Finlay, pg. 495
  27. ^ Norwich, pg. 295
  28. ^ Norwich, pg. 297
  29. ^ a b Finlay, pg. 496
  30. ^ Norwich, pg. 298
  31. ^ Norwich, pg 299
  32. ^ Norwich, pg. 300
  33. ^ Finlay, pg. 497
  34. ^ Norwich, pg. 301
  35. ^ Norwich, pg. 304
  36. ^ Finlay, pg. 498
  37. ^ Norwich, pg. 305
  38. ^ a b c d Norwich, pg. 306
  39. ^ Finlay, pg. 499
  40. ^ Norwich, pg. 307
  41. ^ Finlay, pg. 501
  42. ^ Norwich, pg. 308
  43. ^ Norwich, pg. 309
  44. ^ a b Finlay, pg. 503
  45. ^ Finlay, pg. 526
  46. ^ Norwich, pg. 290
  47. ^ Sherrard, Philip, Byzantium, Time-Life Books (1966), pg. 79
Zōē Porphyrogénnētē
Lahir: Tahun 978 Wafat: Juni 1050
Gelar pemerintahan
Didahului oleh:
Mikhaēl V Kalaphatēs
Kaisarina Bizantium
1042
Diteruskan oleh:
Kōnstantinos IX Monomakhos
Gelar penyandang kekuasaan
Didahului oleh:
Helena
Kaisarina Bizantium
1028–1041
Diteruskan oleh:
Dirinya sendiri
Didahului oleh:
Dirinya sendiri
Kaisarina Bizantium
1042–1050
Diteruskan oleh:
Ekaterina dari Bulgaria