Kekaisaran Asiria Baru

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Kekaisaran Asiria Baru

 

 

 

934 SM–609 SM
 

 

Peta Kekaisaran Asiria Baru dan ekspansinya
Ibukota Assur, kemudian Nineveh
Bahasa Bahasa Aram
Agama Henotheism
Pemerintahan Monarki
Raja
 -  934–912 SM Ashur-dan II (pertama)
 -  612–609 SM Ashur-uballit II (terakhir)
Era sejarah Zaman Besi
 -  Ashur-dan II 934 SM
 -  Pertempuran Nineveh 612 SM
 -  Pertempuran Megiddo 609 SM
Warning: Value specified for "continent" does not comply

Kekaisaran Asiria Baru adalah sebuah entitas politik bangsa Asiria di Mesopotamia pada 934 SM sampai 608 SM.[1] Pada masa kejayaan kekaisaran ini, bangsa Asiria menjadi bangsa terkuat di dunia, bersaing dengan Babilonia, Mesir, Urartu/Armenia[2] dan Elam dalam memperebutkan kekuasaan di Timur Dekat dan Mediterania timur, Kekaisaran ini menjadi kuat melalui reformasi oleh Tiglath-Pileser III pada abad ke-8 SM.[3][4]

Asiria pada awalnya merupakan kerajaan Akkadia kecil yang berkembang pada abad ke 23 sampai 21 SM. Raja-raja Asiria hanyalah pemimpin regional dan merupakan bawahan Sargon dari Akkad, yang menyatukan semua bangsa berbahasa Akkadia di Mesopotamia di bawah Kekaisaran Akkadia, yang bertahan dari 2270 SM sampai 2080 SM. Setelah Kekaisaran Akkadia runtuh, bangsa Asiria dan Babilonia dapat berkembang. Pada periode Asiria Lama pada Zaman Perunggu Awal, Asiria menjadi kerajaan di Mesopotamia utara (Irak utara modern), memperebutkan dominasi dan melawan saingannya di Mesopotamia selatan yang juga berbahasa Akkadia, yaitu Babilonia, yang seringkali berada di bawah kekuasaan bangsa Kassit. Pada periode ini, Asiria juga membuat koloni-koloni di Asia Kecil.

Asira mengalami pasang surut kekuasaan pada periode Asiria Pertegahan. Asiria mengalami periode kekasiaran di bawah kekuasaan Shamshi-Adad I pada abad ke-18 dan 17 SM, Setelah itu Asiria berada di bawah dominasi Babilonia, lalu Mittani-Hurria pada abad ke-17 - 15 SM. Asiria kemudian menjadi kekaisaraan yang kuat pada 1365 SM sampai 1076 SM, yang meliputi pemeritahan raja-raja besar, misalnya Ashur-uballit I, Tukulti-Ninurta I dan Tiglath-Pileser I. Dimulai dengan kampanye Adad-nirari II, Asiria lagi-lagi menjadi kekaisaran yang kuat. Kekaisaran Asiria menjatuhkan Dinasti Kedua puluh lima Mesir dan menaklukan Mesir, Babilonia, Elam, Urartu, Media, Persia, Mannea, Gutium, Punisia/Kanaan, Aramea (Suriah), Arab, Israel, Yudah, Palestina, Edom, Moab, Samarra, Kilikia, Siprus, Khaldea, Nabatea, Kommagene, Dilmun; menaklukan bangsa Hurria, bangsa Shutu dan bangsa Hittit; mengsuir bangsa Nubia, bangsa Kushit dan bangsa Ethiopia dari Mesir; mengalahkan bangsa Kimmeria dan bangsa Skithia; dan memperoleh upeti dari Frigia, Magan, dan Punt.

Periode Asiria Pertengahan digantikan oleh Kekaisaran Asiria Baru (abad ke-14 sampai 10 SM). Beberapa sejarawan, contohnya Richard Nelson Frye, berpendapat bahwa Kekaisaran Asiria Baru adalah kekaisaran seungguhnya yang pertama dalam sejarah manusia.[5] Pada periode ini, bahasa Aram menjadi bahasa resmi kekaisaran, bersama dengan dengan bahasa Akkadia.[5]

Kekaisaran Asiria Baru ditaklukan oleh persekutuan bangsa Babilonia, bangsa Medes, bangsa Skithia, dan bangsa-bangsa lainnya dalam persitiwa Kejatuhan Nineveh pada 612 SM, serta penghancuran ibukotanya, Harran, pada 608 SM. Lebih dari setengah abad kemudian, Babilonia dan Asiria menjadi provinsi di Kekaisaran Akhemenia. Setelah runtuh, budaya Asiria tetap berpengaruh terhadap kekaisaran Media dan Persia.[6]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Parpola, Simo (2004). "National and Ethnic Identity in the Neo-Assyrian Empire and Assyrian Identity in Post-Empire Times" (PDF). Assyriology. Journal of Assyrian Academic Studies, Vol 18, N0. 2. "The Neo-Assyrian Empire (934-609 BC) was a multi-ethnic state composed of many peoples and tribes of different origins." 
  2. ^ http://www.kchanson.com/ANCDOCS/meso/obelisk.html
  3. ^ Assyrian Eponym List
  4. ^ Tadmor, H. (1994). The Inscriptions of Tiglath-Pileser III, King of Assyria.pp.29
  5. ^ a b Frye, Richard N. (1992). "Assyria and Syria: Synonyms". PhD., Harvard University. Journal of Near Eastern Studies. "And the ancient Assyrian empire, was the first real, empire in history. What do I mean, it had many different peoples included in the empire, all speaking Aramaic, and becoming what may be called, "Assyrian citizens." That was the first time in history, that we have this. For example, Elamite musicians, were brought to Nineveh, and they were 'made Assyrians' which means, that Assyria, was more than a small country, it was the empire, the whole Fertile Crescent." 
  6. ^ Hirad Dinavari. "More alike than different". The Iranian. "The cultural give and take influenced the many things some of which are the cuneiform writing and the building of ziggurats which the later Assyrians and the Achaemenid (Hakhamaneshi) Persians inherited. The Assyrians for the most part were responsible for the destruction of the Elamite civilization but the Assyrians influenced the cultures of Media and Urartu and the influence of Elam lived on among the Medes and Persians. The various Iranian speaking peoples who had been coming into what is now Caucasus Iran, Afghanistan and Central Asia since around 4 thousand BCE were heavily influenced by the aboriginal Elamites and the Semitic Babylonians and Assyrians. This difference can be most noticed when one compares other Iranian speaking peoples who lived in Eurasia like the Scything and Sarmatians whose culture was very different with that of Iranian tribes who settled in the Iranian Plateau and became more intertwined with Slavic peoples. So from that far back Iran (the geographic location) has been multi-ethnic." 

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]