Perjamuan Kudus

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Lukisan Yesus yang memegang roti perjamuan kudus, oleh Joan de Joanes, abad ke-16

Perjamuan Kudus, Perjamuan Suci, Perjamuan Paskah, atau Sakramen Ekaristi adalah salah satu sakramen yang diadakan Kristus menurut Alkitab.[1] Istilah "ekaristi" yang berasal dari bahasa Yunani ευχαριστω, yang berarti berterima kasih atau bergembira, lebih sering digunakan oleh gereja Katolik, Anglikan, Ortodoks Timur, dan Lutheran, sedangkan istilah perjamuan kudus (bahasa Inggris: holy communion) digunakan oleh gereja Protestan.[1] Perjamuan Kudus didasari pada perjamuan makan malam yang lazim di Israel Kuno.[2]

Makna Perjamuan Kudus[sunting | sunting sumber]

Pada umumnya orang Kristen percaya bahwa mereka diperintahkan Yesus untuk mengulangi peristiwa perjamuan ini untuk memperingatinya ("... perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!" - 1 Kor. 11:24, 25).[3] Namun berbagai aliran Gereja Kristen memberikan pengertian yang berbeda-beda pula terhadap sakramen ini.[4] Gereja Katolik Roma menekankan arti perjamuan kudus sebagai sarana keselamatan bagi umat.[4] Gereja-gereja Protestan umumnya lebih menekankan perjamuan sebagai peringatan akan kematian dan pengorbanan Yesus bagi umat manusia.[5]. Lebih dalam ketika perjamuan kudus, Gereja Katholik membagikan tubuh Kristus dalam rupa roti yang disebut KOMUNI. Makna penerimaan komuni adalah merujuk kepada parsitipasi umat dalam peristiwa karya penebusan Tuhan yag dihadirkan pada waktu Doa Syukur Agung yang dibawakan oleh Imam. Komuni atau Hosti Suci yang umat terima akan menghubungkan dan memasukkan umat kedalam karya penebusan Tuhan itu.

Elemen Perjamuan[sunting | sunting sumber]

Perjamuan Terakhir (1498), dilukis di Milano

Seperti halnya pada perjamuan Yesus yang terakhir sebelum Dia disalibkan, umat Katholik bersama-sama memakan roti dan meminum angggur setiap periode khususnya pada saat Perayaan Misa Kudus.[3] Di kalangan Gereja Katolik Roma, roti yang digunakan dibuat khusus tanpa ragi (hosti), sementara anggur biasanya tidak diberikan kepada umat.[3].

Roti yang digunakan untuk Perayaan Ekaristi harus tidak beragi, masih baru, belum basi, dan seluruhnya terbuat dari gandum tanpa campuran apapun dari bahan lain, tetapi tentu saja menggunakan air untuk proses pengolahannya.

Anggur yang digunakan untuk Perayaan Ekaristi haruslah anggur yang masih alamiah, berasal dari buah anggur murni, tidak masam, dan tidak bercampur dengan bahan lain. Ditekankan secara jelas oleh Gereja Katholik bahwa dengan syarat-syarat tersebut, maka anggur obat atau anggur apa pun yang dijual di toko-toko umum tidak boleh digunakan untuk Perayaan Ekaristi

Guna dari sakramen Perjamuan Kudus[sunting | sunting sumber]

Sebagai dorongan bagi kita untuk secara periodik menilai diri (self correction) dalam arti, mengadakan koreksi atas hati dan pikiran kita, karena syarat untuk dapat ikut dalam perjamuan kudus ialah bahwa kita harus membersihkan hati dan pikiran kita sedemikian rupa sehingga keikutan kita makan roti dan minum anggur dari cawan Perjamuan Kudus itu adalah dalam keadaan rohani yang layak dan iman yang tidak ragu-ragu (1 Korintus 11:28-29).[6]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b Adolf Heuken SJ. 2005. Ensiklopedi Gereja jilid V. Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka. Hlm.233-235.
  2. ^ (Indonesia) C.J. Den Heyer. 1997. Perjamuan Tuhan. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Hlm.18-19.
  3. ^ a b c A. Lukasik SCJ. 1990. Memahami Perayaan Ekaristi. Yogyakarta: Kanisius. Hlm. 86-88.
  4. ^ a b Raniero Cantalamessa. 1994. Ekaristi gaya Pengudusan Kita. Flores: Nusa Indah. Hlm. 20-24.
  5. ^ Rasid Rachman. 2001. Hari Raya Liturgi. Hari Raya Liturgi. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Hlm. 80-81.
  6. ^ (Inggris) Donald Brdige & David Phypers. 1981. The Meal that Unites? USA: Harold Shaw Publisher. Hlm.27.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]