Lompat ke isi

MNC Sky Vision

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
PT MNC Sky Vision Tbk
MNC Vision
Indovision
Sebelumnya:
Top TV (2008–2017)
Nama sebelumnya
PT Malicak Nusa Semesta (1988–1989)
PT Matahari Lintas Cakrawala (1989–2006)
Jenis perusahaan
Publik
Kode emitenBEI: MSKY
IndustriTelevisi satelit berlangganan
Didirikan8 Agustus 1988; 37 tahun lalu (1988-08-08)
PendiriDatakom Asia
Kantor pusat,
Tokoh kunci
Endang Mayawati (Direktur Utama)
Ruby Panjaitan (Komisaris Utama)
Pemiliklihat daftar
IndukGlobal Mediacom (MNC Asia Holding)
Anak usahaPT Media Citra Indostar
Situs webmncvision.id (MNC Vision dan korporat)
indovision.tv (Indovision)

PT MNC Sky Vision Tbk, beroperasi dengan merek dagang MNC Vision dan Indovision, adalah sebuah perusahaan penyedia layanan televisi satelit berlangganan di Indonesia. Didirikan pada 8 Agustus 1988 dan mulai beroperasi pada 1 Oktober 1994, anak perusahaan MNC Vision Networks ini telah resmi mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia sejak 29 Juni 2012.

Awal beroperasi

[sunting | sunting sumber]

PT MNC Sky Vision Tbk awalnya didirikan dengan nama PT Malicak Nusa Semesta pada 8 Agustus 1988, yang pada 29 Juli 1989 berubah nama menjadi PT Matahari Lintas Cakrawala.[1] 61% kepemilikan PT Matahari Lintas Cakrawala (disingkat Malicak) awalnya dimiliki oleh PT Datakom Asia, perusahaan patungan sejumlah pengusaha yang terafiliasi dengan elit Cendana.[a] Selain PT Datakom, pemegang saham minoritas lainnya di PT Malicak terdiri dari beberapa individu dan perusahaan, seperti Henry Pribadi dan Sudwikatmono.[2][3][4]

Pada Oktober 1993, PT Malicak mendapatkan izin untuk mengoperasikan televisi berlangganan dengan merek dagang Indovision yang diluncurkan pada 16 Januari 1994, serta mulai beroperasi pada 1 Oktober 1994.[5] Televisi satelit berlangganan pertama di Indonesia ini memulai operasionalnya dengan 5 saluran televisi mancanegara: CNN, HBO, Discovery Channel, ESPN, dan TNT (kemudian Cartoon Network). Kerjasama dengan CNN dan ESPN sudah disepakati sejak Oktober 1991, HBO sejak Oktober 1993,[6] dan saluran lain sejak Maret 1994.[7] Sebelumnya, siaran asing tersebut masih bisa ditangkap bebas dengan antena parabola,[8] yang selanjutnya "diacak" setelah Indovision diluncurkan.[9] Untuk penyiarannya, Indovision awalnya menggunakan jasa satelit Palapa B2P. Target awalnya adalah 150.000 pelanggan pada akhir 1994, tetapi karena harga dekoder dan sewa yang mahal (Rp 1.475.000 untuk dekoder, Rp 82.000/bulan untuk berlangganan),[6] maka layanan ini sempat kurang peminat dan hanya meraih 5.000 pelanggan di tahun awalnya.[10]

Demi menarik pelanggan baru, Indovision meneken kerjasama dengan STAR TV pada 28 Maret 1996[11] untuk menyuplai empat kanal, yaitu Star Sports, Star Plus, Star Movies, dan Channel V, sehingga kini terdapat 25 saluran yang bisa dinikmati dengan harga yang lebih murah (Rp 63.000/bulan).[12] Sayangnya, kerjasama dengan STAR TV kemudian dihentikan pada Desember 1998[13] (diduga karena persengketaan mengenai penyewaan satelit),[14][15] walaupun sebagai penggantinya, per 1 November 1998 Indovision menghadirkan saluran lain seperti Animal Planet, AXN, dan Cinemax, ditambah 5 stasiun televisi swasta yang ada.[12][16] Per April 1996, pelanggan Indovision didominasi industri perhotelan (sekitar 30.000), sedangkan pelanggan rumahan dan individu hanya sekitar 20.000.[12]

Di tahun 1997, Indovision melakukan inovasi dengan mengubah sinyal penayangannya dari analog menjadi digital, yang dimulai dengan 19 saluran di satelit C-Band Palapa C2 yang diresmikan pada 3 Februari (termasuk saluran in-house di bawah nama "Citra TV") dan diklaim sebagai TV berlangganan pertama di Asia yang menawarkan beragam saluran hiburan,[17] serta penambahan 6 saluran domestik pada September.[18] Dengan sistem digital, pelanggan Indovision dapat menikmati kualitas gambar jernih setara laser disc dan audio sejernih CD. Adapun saat itu Indovision hanya menyediakan layanannya, sedangkan dekodernya dijual terpisah (awalnya bermerek Pace dan RCA)[19][20] dengan harga maksimal Rp 1,774 juta. Untuk instalasinya, diperlukan LNB baru (digital-ready) untuk memastikan penerimaan siaran dapat berjalan baik.[21] Menurut Peter F. Gontha sebagai komisaris saat itu, layanan Indovision dianggap merupakan sebuah bisnis yang sangat prospektif karena negara berkembang tengah menggandrungi home entertainment yang tergolong murah dan sudah mengucurkan dana sebesar US$ 70 juta untuk bersiaran secara digital serta memiliki target awal 5% kepemirsaan televisi di Indonesia (atau 1 juta pelanggan).[22]

Pada November di tahun yang sama, diluncurkan satelit Indostar I (atau disebut juga Cakrawarta I) - dikelola oleh anak usaha Datakom bernama PT Media Citra Indostar, yang berarti Indovision tidak perlu menyewa satelit lagi sejak 12 November 1998 (awalnya direncanakan akan meluncurkan tiga satelit lain).[23] Satelit Cakrawarta I membawa 5 transponder aktif dengan 2 cadangan dan menggunakan frekuensi S-Band dengan sistem kompresi 8:1 yang dapat memuat 40 saluran. Adapun kontraknya diteken bersama dengan CTA International pada 8 Desember 1993 dan menelan biaya US$ 271 juta. Dengan adanya sistem baru ini, diharapkan dapat menjangkau populasi yang tidak terlayani siaran televisi terrestrial (32% atau 57 juta) dan radio (20% atau 36 juta). Selain itu, pelanggan hanya memerlukan antena parabola berukuran 70 cm hingga 1 meter untuk dapat menerima siaran dengan kualitas terbaik.[23][18]

Layanan Indovision sebelum krisis ekonomi 1997-1998 ditargetkan meraih 600.000 pengguna, tetapi seiring penurunan ekonomi akibat krismon, angka tersebut diturunkan menjadi 50.000. Tercatat pada 1999-2000 Indovision dapat dinikmati 3,3 juta orang dan memiliki pengguna sekitar 20.000-70.000.[10] Pada awal 1998, Indovision resmi mengoperasikan sistem S-Band, yang dilanjutkan perluasan saluran menjadi 40 per April 1998. Kedua perubahan ini mulai dilaksanakan secara penuh sejak 1999.[18]

Akuisisi oleh MNC Group

[sunting | sunting sumber]

Pada Oktober 2001 induk PT Malicak, PT Datakom Asia diakuisisi oleh Salim Group berpatungan dengan Bhakti Investama (51%), milik Hary Tanoesoedibjo (HT). Inilah awal dari kepemilikan HT di TV berbayar ini sampai sekarang.[24] Kemudian kepemilikan Salim di PT Datakom menghilang, meninggalkan HT sebagai pengendali utama televisi berbayar terbesar di Indonesia ini. Saham PT Malicak (Indovision) masih dikuasai oleh PT Datakom sebesar 96% pada 2006, hingga ketika pada 2006-2008 sahamnya dijual kepada Global Mediacom, Bhakti Investama dan perusahaan lainnya.[4] Dalam hal ini, PT Malicak bisa dikatakan hanya berpindah perusahaan induk, bukan kepemilikan. Pada 3 Juni 2006, seiring proses akuisisi, nama PT Malicak diubah menjadi PT MNC Sky Vision, meskipun produknya tetap menggunakan merek Indovision.[1] Sementara itu, bagi pengelola satelitnya, PT Media Citra Indostar (MCI) awalnya tetap dimiliki oleh PT Datakom, tetapi lewat sebuah perjanjian obligasi konversi,[25] sejak 23 Desember 2016 PT MCI menjadi anak perusahaan PT MNC Sky Vision.[26]

Pada bulan April 2008, PT MNC Sky Vision meluncurkan merek televisi berlangganan lainnya, Top TV. Produk ini menargetkan kalangan masyarakat menengah ke bawah dan daerah rural yang tidak terjangkau siaran televisi terestrial.[27] Per tahun 2012, Top TV memiliki 583.000 pelanggan dengan pangsa pasar 24%[28] yang dilayani 40 saluran,[25] dan di bulan Desember 2016 sudah memiliki 898.000 pengguna.[27]

Beberapa perkembangan lain MNC Sky Vision, seperti pada 16 Mei 2009 meluncurkan satelit Indostar II/Protostar II yang menggantikan Indostar I. Satelit ini memiliki 32 transponder, termasuk 10-transponder aktif dan 3 transponder cadangan yang berfungsi sebagai penguat gelombang frekuensi S-Band.[29][30][31] Kemudian, Indovision juga meluncurkan saluran resolusi tinggi (HD) yang awalnya hanya ada dua (National Geographic Channel HD dan HBO HD).[32][33]

Sejak 9 Juli 2012, PT MNC Sky Vision resmi melepas 20% sahamnya di Bursa Efek Indonesia, dengan harga Rp 1.520/lembar. Pada saat itu, sempat masuk pemodal asing, yaitu dari Saban Capital dan Creador Capital, masing-masing sekitar 17% dan 13%.[34] Pelanggannya terus bertambah hingga mencapai 2,3 juta di akhir 2013, menjadikannya pemain terbesar di industri televisi berlangganan dengan pangsa pasar 74%.[28] Meskipun menjadi pemimpin pasar, kinerja MNC Sky Vision tidak terlalu baik, terlihat dari hutang yang cukup besar (dalam mata uang asing) dan beberapa kali merugi. Hal ini diperkirakan terjadi akibat fluktuasi kurs rupiah dan persaingan yang ketat dengan layanan televisi kabel/IPTV.[35] Di tahun 2014, MNC Sky Vision menyebar perangkat Indovision ke 365 Komando Rayon Militer (Koramil) di daerah terpencil. Diharapkan, kegiatan tersebut memudahkan petugas untuk mendapatkan informasi dan hiburan.[36]

Rebranding menjadi MNC Vision

[sunting | sunting sumber]

Pada 2016, saham Global Mediacom di MNC Sky Vision kemudian dialihkan kepada anak usahanya, PT Sky Vision Networks.[27] Kemudian, mulai 12 Desember 2017, Indovision dan Top TV (ditambah OkeVision, dikelola oleh perusahaan afiliasi bernama PT Nusantara Vision) resmi berganti nama menjadi MNC Vision. Adapun penggabungan ini dilakukan demi melakukan integrasi pada bisnis televisi satelit MNC Group sebagai sebuah layanan terpadu.[37] MNC Vision tergabung dalam MNC Vision Networks (sebelumnya bernama PT Sky Vision Networks) bersama K-Vision, MNC Play, dan Vision+.

Pada 12 Mei 2023, MNC Vision resmi menghapus 14 kanal dari Warner Bros. Discovery dikarenakan masalah kontrak yang tak lagi dilanjutkan.[38] Memasuki periode ini, kinerja MNC Sky Vision makin tertekan dengan maraknya layanan over-the-top (OTT), yang memangkas pelanggannya menjadi 1,3 juta saja. Jumlah ini sama dengan penurunan 50% dibanding pelanggannya di tahun 2016 yang mencapai 2,5 juta.[1] Akibatnya, mereka mulai membidik pasar di luar kota besar demi mencari peluang baru.[39]

Kembalinya merek Indovision

[sunting | sunting sumber]

Di tahun 2025, merek MNC Vision mulai dikembalikan lagi ke Indovision. Dalam laporan tahunan MNC Sky Vision 2024, disebutkan bahwa penggantian itu disebabkan karena nama Indovision sudah sangat melekat dan dikenal masyarakat Indonesia. Perubahan nama tersebut juga merupakan strategi untuk menyempurnakan penawaran dan layanan agar tetap relevan.[40] Kehadiran kembali Indovision sebagai merek MNC Sky Vision resmi diumumkan dalam public expose perusahaan di tanggal 23 Juni 2025. Indovision akan mengusung strategi back to basic, mengingat Indovision sudah kadung dikenal sebelumnya, ditambah pasar televisi berlangganan saat ini yang didominasi pemirsa lansia dan anak-anak.[41] Adapun perubahan nama tersebut mulai terlihat di beberapa pengguna dengan logo yang tidak jauh berbeda dari logo sebelumnya.[42][43]

Sebagai permulaan, diluncurkan paket "Indovision" di K-Vision yang menawarkan semua saluran K-Vision dengan harga terjangkau dan berlaku efektif mulai 16 Mei 2025.[44] Bukan kali ini saja MNC Sky Vision dan K-Vision melakukan kerjasama produk, sebelumnya pada 2021 diluncurkan paket "VisionKU" yang dipasarkan oleh MNC Sky Vision dan juga menawarkan semua saluran K-Vision dengan harga terjangkau.[45][46][47] Lalu memasuki Juli 2025, akun media sosial Indovision kembali hadir dan menampilkan promosi yang mengisyaratkan bahwa layanan TV berbayar ini hadir kembali dengan sasaran pelanggan utama dari kalangan pemirsa lansia dan anak-anak, serta penikmat tayangan olahraga yang tidak terjangkau dengan sinyal TV digital terestrial (DVB-T2).[48]

Tak lama setelahnya, dekoder Indovision yang digunakan untuk menerima siaran dari frekuensi Ku-Band (yang menggunakan transponder bersama dengan K-Vision) pun beredar di pasaran dengan tampilan yang menyerupai salah satu seri dari dekoder K-Vision GOL (baik dari segi hardware maupun software), disertai dengan prosedur pemasangan (instalasi) dan aktivasi dekoder yang dapat dilakukan oleh teknisi yang memiliki akun Kawan K-Vision.[49] Sementara untuk pelanggan MNC Vision tipe corporate (hotel, apartemen, dan sejenisnya) diberikan opsi untuk beralih dari frekuensi S-Band[50] ke C-Band dan/atau Ku-Band serta hanya memerlukan instalasi ulang sebelum dilakukan redistribusi siaran secara digital (menggunakan modulasi DVB-T2 atau DVB-C).

Boleh dikatakan, rebranding kembali MNC Vision menjadi Indovision merupakan bagian dari strategi bisnis setelah frekuensi S-Band yang selama ini digunakan nantinya akan dihentikan total menyusul langkah pemerintah untuk mengalihkan alokasi frekuensi 2,6 GHz demi menunjang ketersediaan layanan internet 5G.[51] Setelah transponder dengan frekuensi S-Band dihentikan, Indovision nantinya akan mengudara sepenuhnya menggunakan frekuensi yang digunakan oleh K-Vision (beserta LCN yang digunakan).[52][53][54][55] Adapun pengguna baru Indovision reborn ini akan mendapatkan kemudahan dari transisi tersebut. Mulai dari tidak perlu menyewa perangkat, tarif berlangganan yang murah, dan kemudahan beralih ke K-Vision yang prabayar jika diperlukan.[56]

Sejak Oktober 2025, pelanggan lama MNC Vision mulai diimbau untuk melakukan migrasi perangkatnya ke perangkat bermerek Indovision seiring perubahan sistem satelitnya. Siaran MNC Vision akhirnya dipadamkan pada 31 Desember 2025,[57] digantikan oleh siaran Indovision yang kembali mengudara. Meskipun demikian, hingga saat ini merek MNC Vision masih digunakan pada publikasi (seperti laman web), dan perubahan nama/peluncuran ulang identitas Indovision masih belum diresmikan.

Kepemilikan

[sunting | sunting sumber]

Berikut ini adalah daftar kepemilikan perusahaan berdasarkan laporan keuangan per 31 Maret 2025.[58]

Nama Pemegang Saham Persentase Kepemilikan (%)
PT MNC Vision Networks Tbk 91,896
Rachmat Nurhadi (Komisaris) 0,000
Masyarakat/publik (kepemilikan kurang dari 5%) 8,104
Total 100%

Identitas

[sunting | sunting sumber]
  • World Class TV Programs for The World Class Viewer (1994–1995)[59]
  • Direct Broadcast Satellite Television / Televisi Satelit Siaran Langsung (1995–1997)[60][61]
  • Satu Visi, Banyak Aksi (1997–2005)
  • Bukan yang Lain (2005–2020)
  • Pay TV Keluarga Indonesia (2020–2025)
  • TV Satelit Berjuta Hiburan (2025–sekarang)
  1. Secara spesifik, struktur kepemilikan PT Datakom Asia pada saat itu terdiri dari:
    PT Asriland (Bambang Trihatmodjo): 33,3%
    PT Lembahsubur Adipertiwi (Anthony Salim): 28,57%
    PT Persada Giri Abadi (Peter F. Gontha): 24,23%
    PT Azbindo Nusantara (Aziz Mochdar): 6,88%
    PT Indosat (Persero) Tbk: 5%
    PT Trisadnawa Solusi Komunikasi (Youk Tanzil): 2%[2][3]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. 1 2 3 "Sekilas Perusahaan". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-01-21. Diakses tanggal 2021-02-21.
  2. 1 2 "Tempo: Indonesia's Weekly News Magazine, Volume 3,Masalah 1-8". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-03-23. Diakses tanggal 2021-02-21.
  3. 1 2 "Yearbook of Asia-Pacific Telecommunications". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-03-23. Diakses tanggal 2021-02-21.
  4. 1 2 MNC SKY VISION PROSPECTUS 2012
  5. "Digest". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-07-09. Diakses tanggal 2021-02-21.
  6. 1 2 "ERA BARU TELEVISI ASING". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-12-09. Diakses tanggal 2021-02-26.
  7. "PETER F GONTHA: "SEMUA ORANG MENDAPAT FASILITAS DI INDONESIA"". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2022-03-18. Diakses tanggal 2021-02-26.
  8. "MEDIA: KEBIJAKAN SETENGAH HATI". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-11-06. Diakses tanggal 2021-02-26.
  9. "The Politics of Southeast Asia's New Media". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-07-09. Diakses tanggal 2021-02-21.
  10. 1 2 Imagi-Nations and Borderless Television: Media, Culture and Politics Across Asia
  11. "Sistem Informasi Database Koleksi - SIDAK". mpn.komdigi.go.id. Diakses tanggal 2025-05-28.
  12. 1 2 3 "Persaingan televisi: Makin ketat, makin asing". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-11-18. Diakses tanggal 2021-02-26.
  13. "Komunikasi & Regulasi Penyiaran". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-07-09. Diakses tanggal 2021-11-24.
  14. Groves, Don (1998-11-05). "Sat spat showdown set for Star TV, Indovision". Variety. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-04-08. Diakses tanggal 2023-04-08.
  15. Groves, Don (1999-07-15). "Star wins in Jakarta court". Variety. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-04-08. Diakses tanggal 2023-04-08.
  16. "Indonesia segera masuki era siaran televisi dbs". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2022-01-18. Diakses tanggal 2021-02-26.
  17. "Sistem Informasi Database Koleksi - SIDAK". mpn.komdigi.go.id. Diakses tanggal 2025-05-27.
  18. 1 2 3 "About Us". web.archive.org. 1998-01-12. Diarsipkan dari versi asli pada 1998-01-12. Diakses tanggal 2025-05-17. Pemeliharaan CS1: BOT: status url asli tidak diketahui (link)
  19. "Sistem Informasi Database Koleksi - SIDAK". mpn.komdigi.go.id. Diakses tanggal 2025-05-28.
  20. "Sistem Informasi Database Koleksi - SIDAK". mpn.komdigi.go.id. Diakses tanggal 2025-05-28.
  21. "Info". web.archive.org. 1998-01-12. Diarsipkan dari versi asli pada 1998-01-12. Diakses tanggal 2025-05-17. Pemeliharaan CS1: BOT: status url asli tidak diketahui (link)
  22. "Sistem Informasi Database Koleksi - SIDAK". mpn.komdigi.go.id. Diakses tanggal 2025-05-28.
  23. 1 2 "Indostar". web.archive.org. 1998-01-12. Diarsipkan dari versi asli pada 1998-01-12. Diakses tanggal 2025-05-17. Pemeliharaan CS1: BOT: status url asli tidak diketahui (link)
  24. "AsiaCom Yearbook". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-07-09. Diakses tanggal 2021-02-21.
  25. 1 2 "LapTahunan BMTR 2011" (PDF). Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2023-08-03. Diakses tanggal 2025-05-18.
  26. "Prospektus Global Mediakom 2017" (PDF). Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2022-01-22. Diakses tanggal 2021-02-21.
  27. 1 2 3 "Laporan Keuangan MSKY 2016" (PDF). Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2021-10-18. Diakses tanggal 2021-02-21.
  28. 1 2 "MNC Sky Vision" (PDF). Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2021-12-17. Diakses tanggal 2021-02-21.
  29. "The Indostar-2 Satellite". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2011-05-19. Diakses tanggal 2011-02-26.
  30. "The Indostar-2 Satellite at Lyngsat". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2011-01-04. Diakses tanggal 2011-02-26.
  31. "The Indostar-2 Satellite at Boeing Website". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2011-06-28. Diakses tanggal 2011-02-26.
  32. "HD channel testing". Diarsipkan dari asli tanggal 2012-05-23. Diakses tanggal 2011-05-15.
  33. "The Launch of Five Premium HD Channels". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2012-06-26. Diakses tanggal 2012-02-29.
  34. "30% Saham IPO MSKY Dimiliki Investor Asing". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-11-24. Diakses tanggal 2021-11-24.
  35. "MNC Sky Vision: Juara yang Selalu Merugi". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-04-08. Diakses tanggal 2025-05-14.
  36. "MNC Pasang Indovision di 365 Koramil". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2017-12-13. Diakses tanggal 2017-12-11.
  37. Indovision berganti nama menjadi MNC Vision
  38. Arie Harnoko, Rizqi (12 Mei 2023). "Warner Bros Group Termasuk HBO, Cartoon Network, dan Discovery Channel Hengkang dari MVN Mulai Hari Ini". Kabar Rakyat. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-09-19. Diakses tanggal 15 September 2023.
  39. "Pasar Tergerus Layanan OTT - MNC Sky Vision Perkuat Pasar di Kota Tier 2 dan 3". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2025-05-23. Diakses tanggal 2025-05-14.
  40. "AR MSKY 2024" (PDF). Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2025-05-02. Diakses tanggal 2025-05-13.
  41. MNC Sky Vision Hadirkan Kembali Indovision, Usung Konsep Back to Basic
  42. "Selamat mengudara kembali Indovision.…".
  43. "Logo Indovision yang baru yang lebih Modern. Beneran Bakal rebranding dari MNC Vision ke Indovision?".
  44. "DAPET SEMUA? PAKET INDOVISION AJA". K-VISION. 2025-05-16. Diakses tanggal 2025-05-17.
  45. "GATHERING TEKNISI KAWAN K-VISION – BANDUNG". K-VISION. 2022-10-20. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2024-11-02. Diakses tanggal 2025-05-17.
  46. admin (2021-08-24). "Catat! Ini Kelebihan dan Kekurangan VisionKU - Produk Baru Dari MNC Vision & K-Vision". Tracker Satelit (dalam bahasa American English). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2025-02-06. Diakses tanggal 2025-05-17.
  47. Dept, MNC Sky Vision #Office Development. "Packages | Detail | Visionku | Channel". MNC Vision (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2024-11-11. Diakses tanggal 2025-05-17.
  48. "Instagram". www.instagram.com. Diakses tanggal 2025-09-10.
  49. "Instagram". www.instagram.com. Diakses tanggal 2025-09-10.
  50. "MNC Vision on SES 7 at 108.2°E - LyngSat". www.lyngsat.com. Diakses tanggal 2025-09-10.
  51. Jatmiko, Leo Dwi (2022-01-13). "Lelang Frekuensi 2,6 GHz dan 3,5 GHz Bisa Digelar Lebih Cepat, Ini Syaratnya". Bisnis.com. Diakses tanggal 2025-09-10.
  52. "Indovision on Merah Putih at 108.0°E - LyngSat". www.lyngsat.com. Diakses tanggal 2025-09-10.
  53. "Indovision on Measat 3b at 91.5°E - LyngSat". www.lyngsat.com. Diakses tanggal 2025-09-10.
  54. "Indovision on Merah Putih at 108.0°E - LyngSat". www.lyngsat.com. Diakses tanggal 2025-09-10.
  55. "Indovision on Measat 3b at 91.5°E - LyngSat". www.lyngsat.com. Diakses tanggal 2025-09-10.
  56. Fakta Menarik di Balik MNC Vision yang Akan Rebranding Kembali Jadi Indovision
  57. MNC Vision Resmi Beralih ke Satelit Baru, Indovision Hadir Kembali dengan Wajah Baru dan Banyak Keuntungan untuk Pelanggan
  58. "Lapkeu MSKY Q1 2025" (PDF). Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2025-05-02. Diakses tanggal 2025-05-13.
  59. "Posted by @iklan2000: Anak Anda jadi tahu tentang fakta dunia yang tidak banyak orang tahu sebelumnya? Itu berkat dari tontonan berkelas dunia yang bisa didapat dengan berlangganan Indovision. Indovision sendiri merupakan pelopor televisi berlangganan dengan saluran-saluran internasional seperti HBO dan CNN, sehingga menambah wawasan keluarga serta lebih banyak menghibur..#JumaTelevisiIJ2K#indovision #mncvision #bukanyanglain #indovision1995 #1995 - Pixnoy". www.pixnoy.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-05-28.
  60. "Sistem Informasi Database Koleksi - SIDAK". mpn.komdigi.go.id. Diakses tanggal 2025-05-28.
  61. "Sistem Informasi Database Koleksi - SIDAK". mpn.komdigi.go.id. Diakses tanggal 2025-05-28.

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]