Bank MNC Internasional
| MNC Bank | |
Nama sebelumnya | Bank Bumiputera (1989–2009) Bank ICB–Bumiputera (2009–2014) |
Jenis perusahaan | Perseroan terbatas publik, anak usaha |
| Kode emiten | BEI: BABP |
| Industri | Jasa keuangan |
| Pendahulu | Bank Desa Bumi Harta |
| Didirikan | 31 Juli 1989 |
| Pendiri | AJB Bumiputera 1912 |
| Kantor pusat | MNC Bank Tower Lt. 8, Jl. Kebon Sirih No. 21-27 Jakarta Pusat |
Wilayah operasi | Indonesia |
Tokoh kunci | Rina Siahaan (Direktur Utama) Ponky Pudijanto (Komisaris Utama)[1] |
| Produk | |
| Jasa |
|
| Pendapatan | |
| Total aset | |
| Total ekuitas | |
| Pemilik | MNC Group |
Karyawan | 976 (2025)[1] |
| Induk | PT MNC Kapital Indonesia Tbk (49,83%) Winfly Ltd (23,44%) PT Global Mediacom Tbk (7,23%) PT MNC Tourism Indonesia Tbk (6,82%)[1] |
| Situs web | www |
PT Bank MNC Internasional Tbk (berbisnis dengan nama MNC Bank) adalah anak usaha MNC Financial Services yang bergerak di bidang perbankan. Untuk mendukung kegiatan bisnisnya, hingga akhir tahun 2025, bank kecil beraset Rp 20 triliun ini memiliki 42 kantor cabang dan 66 ATM yang tersebar di seluruh Indonesia.[1][2]
Sejarah
[sunting | sunting sumber]Berdiri sebagai Bank Bumiputera
[sunting | sunting sumber]Pada mulanya Bank MNC Internasional didirikan sebagai bagian dari perusahaan asuransi mutual terkemuka, AJB Bumiputera 1912 dengan nama PT Bank Bumiputera Indonesia. Bank Bumiputera didirikan pada 31 Juli 1989 dan resmi beroperasi sejak 12 Januari 1990.[1] Sebagai bank pasca-Pakto 88, Bank Bumiputera muncul dengan mengusung kiprah panjang dari salah satu asuransi tertua tersebut,[3] dan secara khusus membidik nasabah AJB Bumiputera sebagai target pasarnya.[4] Demi memperkuat operasional awalnya, Bank Bumiputera melakukan merger dengan sebuah bank perkreditan rakyat bernama PT Bank Desa Bumi Harta, Temanggung pada 31 Juli 1990.[5]
Dengan mengusung semangat sebagai bank untuk keluarga,[3] beberapa produk Bank Bumiputera kala itu seperti Bung Hari, Bung Depo, Kak Villa dan Kak Sedan.[6] Meskipun demikian, Bank Bumiputera juga banyak menyalurkan kreditnya ke sektor korporat, yang mencapai 90% dari total portofolio Rp 600 miliar di tahun 1997.[7]
Sejak 5 Desember 1997 Bank Bumiputera resmi menjadi bank devisa.[1] Adanya krisis moneter di akhir 1990-an mampu dihadapi bank ini dengan baik, dengan meraih peringkat status A dan tidak memerlukan proses rekapitalisasi. Kondisi baik ini dibuktikan dengan aktiva yang mencapai Rp 2 triliun, rasio kecukupan modal 12,75%, dan jaringan kantor yang mencapai 25 lokasi di Jabodetabek, Surabaya, Pekanbaru, Bandung dan Medan.[8]
Perubahan kepemilikan dan masuknya ICB
[sunting | sunting sumber]Demi memenuhi permodalannya, bank ini sempat mengalami beberapa kali perubahan kepemilikan, sehingga saham AJB Bumiputera terus terdilusi. Mulanya yang masuk sebagai pemodal strategis adalah PT Cipta Usaha Citra Dana (CUCD), perusahaan dibawah komando bankir Robby Djohan dengan menguasai 50% saham.[9] Per 15 Juli 2002, struktur kepemilikan saham kembali berubah setelah Bank Bumiputera go public di Bursa Efek Jakarta, dengan melepas 25% saham seharga Rp 100/lembar.[1] Adapun AJB Bumiputera dan PT CUCD kini masing-masing memegang 37,50% saham perusahaan.[10] PT CUCD selanjutnya diketahui sebagai afiliasi BUMN keuangan PT Danareksa (Persero). Posisi Danareksa sebagai pemegang saham mayoritas semakin kuat lewat masuknya PT Reksatama Dinamika dan PT Reksasentosa Dinamika yang masing-masing memegang 8% saham Bank Bumiputera pasca-IPO.[11]
Penguasaan Danareksa tidak bertahan lama, karena di tahun 2004 mereka melakukan tender untuk melepas seluruh sahamnya di bank ini. Tiga peminat yang mengikuti tender meliputi konsorsium pimpinan AJB Bumiputera (pemegang saham eksisting), Panin Bank, dan perusahaan asing ICB Financial Group Holdings (dikuasai politisi dan pebisnis Malaysia Tun Daim Zainuddin). Setelah melalui sejumlah proses, di bulan Mei 2005, Tun Daim ditetapkan sebagai penguasa baru 58,41% saham Bank Bumiputera.[12] Setelah transaksi itu, mulanya AJB Bumiputera masih menguasai 41,02% saham bank ini,[13] yang belakangan terus terdilusi hingga mencapai 5,98% saja di tahun 2007.[14]
Seiring konsolidasi aset-aset perbankan Daim Zainuddin di luar negeri dalam wadah ICB Financial Group (berbasis di Swiss), kepemilikan saham mayoritas Bank Bumiputera yang mulanya dikuasai dirinya secara pribadi pun ikut dialihkan ke ICB yang kini menjadi pemegang 67% saham BABP.[14] Tidak lama kemudian, per 16 April 2009, nama PT Bank Bumiputera Indonesia Tbk resmi berganti menjadi PT Bank ICB Bumiputera Tbk. Dengan nama baru ini, ICB Bumiputera makin menajamkan bisnisnya ke sektor konsumer, seperti lewat penyaluran KPR, KTA, dan kartu kredit.[15] Sayang, dalam perkembangannya kinerja ICB Bumiputera cenderung kurang memuaskan, dengan pada 2013 mengalami penurunan rasio kecukupan modal hingga 10,5%[16] dan kerugian Rp 81 miliar.[17]
Menjadi MNC Bank
[sunting | sunting sumber]Kondisi kurang baik tersebut membuat Daim memutuskan menjual sahamnya di ICB Bumiputera kepada pihak lain.[16] Pada saat bersamaan, konglomerat media Hary Tanoesoedibjo sejak 2012 telah memiliki minat untuk mengakuisisi bank, yang diharapkan bisa melengkapi portofolio bisnis keuangan MNC Group. Hal tersebut diklaim sebagai strategi konglomerasi tersebut untuk menyediakan layanan finansial lengkap bagi bidang general dan konsumer, sehingga dapat disinergikan dengan bisnis MNC di bidang asuransi, manajer investasi hingga keuangan.[18] Setelah melakukan beberapa penjajakan, akhirnya kesepakatan berhasil diraih dengan ICB. Pada 2 April 2013, lengan bisnis MNC Group di bidang industri keuangan, PT MNC Kapital Indonesia Tbk meneken kesepakatan untuk membeli sebagian saham ICB Financial Group di Bank ICB Bumiputera.[19] Transaksi tersebut resmi berlaku sejak 27 Januari 2014, yang menempatkan MNC sebagai pemegang saham terbesar kedua (27%).[20]
Sesuai rencana Hary Tanoe selanjutnya, identitas ICB Bumiputera akan diselaraskan sebagai bagian MNC Group dengan nama baru yaitu MNC Bank.[21] Perubahan nama ini resmi dilakukan pada 16 Juli 2014, dari PT Bank ICB Bumiputera Tbk menjadi PT Bank MNC Internasional Tbk.[1][2] Identitas baru perusahaan sebagai MNC Bank selanjutnya resmi diluncurkan pada 27 Oktober 2014. Dalam peresmian itu, Hary mengungkapkan bahwa MNC Bank lahir sebagai upaya MNC Group mengembangkan bisnis jasa keuangan terpadu, yang potensial dikembangkan mengingat potensi Indonesia yang diperkirakan akan menjadi salah satu ekonomi terbesar di dunia.[22] Pada saat diluncurkan, MNC Bank mencatatkan aset Rp 11 triliun dan bermodal inti Rp 1 triliun,[23] yang akan ditingkatkan lewat suntikan modal Rp 3 triliun dari MNC Group hingga 2018. Adapun kantor cabangnya mencapai 59 lokasi di seluruh Indonesia.[24]
Setelah berganti nama, dengan adanya rights issue, MNC Kapital menaikkan kepemilikan sahamnya menjadi 38,95% per Juni 2015.[25] Bersamaan dengan peningkatan saham MNC, ICB Financial dan AJB Bumiputera melepas seluruh sahamnya di bank ini pada akhir 2014,[26] sehingga makin mengukuhkan posisi MNC Group sebagai pemegang saham pengendali MNC Bank. Selanjutnya, untuk mengembangkan bisnis perbankannya (seperti aset dan modal inti), Hary Tanoe dikabarkan sempat membidik beberapa bank kecil lain untuk diakuisisi. Beberapa bank yang sempat disebutkan menjadi target seperti Bank Pundi[27] dan Bank Capital.[28] Rencana merger dan akuisisi kembali menghangat setelah pada Maret 2023 MNC Bank diisukan akan melakukan merger dengan Bank Nationalnobu milik Grup Lippo.[29]
Belakangan, rencana akuisisi tersebut hanya menjadi wacana, dan perusahaan memilih melakukan sejumlah rights issue hingga ke-10 di tahun 2023[1] untuk meningkatkan permodalannya. Setelah melalui beberapa transaksi, akhirnya pada April 2023 modal inti MNC Bank bisa mencapai Rp 3,3 triliun sehingga memenuhi ketentuan pemerintah.[30] Meskipun demikian, hal tersebut sesungguhnya masih jauh dari target perusahaan yang pernah menargetkan modal inti Rp 5 triliun (atau status BUKU III) di tahun 2021.[31]
Selain penambahan modal, MNC Bank juga intensif mengembangkan perbankan digital sejak 2016. Adapun mobile banking MNC Bank pertama kali hadir di Desember 2015, yang mulanya hanya ditargetkan untuk karyawan payroll MNC Group.[32] Pada tahun 2017, MNC Bank mengembangkan layanan digitalnya lewat peluncuran Punyacelengan, Punyakartu dan Punyarumah. Belakangan, produk perbankan digital MNC ditransformasikan menjadi Motion Bank yang diluncurkan pada tahun 2020 yang diklaim sebagai layanan perbankan digital berfitur lengkap.[33] Beberapa produk lain yang meluncur kemudian seperti Tabungan Dahsyat dan kartu kredit co-branding.[1]
Galeri logo
[sunting | sunting sumber]- Logo MNC Bank (20 Mei 2015-31 Mei 2018)
- Logo MNC Bank (31 Mei 2018-sekarang)
Produk dan Layanan
[sunting | sunting sumber]- MNC Bank Loyalty Club
- Tabungan MNC Individu
- Tabungan MNC Institusi
- Tabungan Rencana MNC
- Giro MNC
- Deposito MNC
- TabunganKu
- Kartu Debit MNC
- Kartu Kredit Platinum
- Kartu Kredit Motion
- Kartu Kredit Gold
- Kredit Pemilikan Properti (KPP MNC)
- KPR MUDA MNC Bank
- Kredit Multiguna (KMG MNC)
- Kurs Valuta Asing
- Bancassurance
- Western Union
- MPN G2
- MNC MBanking
- punyakartu
- punyacelengan
- punyarumah
- Transaksi FX
- Obligasi Ritel
- Kredit Modal Kerja
- MNC Smart Loan
- Kredit Investasi
- Kredit Multiguna Tanpa Agunan (KMG TA)
- Transaksi Ekspor
- Transaksi Impor & Lokal
- MNC Virtual Account
- MNC eBIZ Banking
- MotionBank
Manajemen
[sunting | sunting sumber]- Komisaris Utama/Independen: Ponky Pudjianto
- Komisaris: Peter Fajar
- Komisaris: Frederikus Weoseke
- Direktur Utama: Rita Siahaan
- Direktur: Hermawan
- Direktur: Tiolina Tumanggor
- Direktur: Lukito Suwardi
- Direktur: Donny Kushendratno
Referensi
[sunting | sunting sumber]- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 "Laporan Tahunan 2025" (PDF). PT Bank MNC Internasional Tbk. Diakses tanggal 21 Januari 2022.
- 1 2 "Sejarah Perusahaan". PT Bank MNC Internasional Tbk. Diakses tanggal 21 Januari 2022.
- 1 2 Sejarah perusahaan
- ↑ Historia Bisnis : Bank Bumiputera, dari Dekapan AJB Hingga ke Grup MNC
- ↑ Direktori Perbankan Indonesia 2015
- ↑ Indonesia Bank Directory
- ↑ Indonesia Banking Directori
- ↑ Informasi Perusahaan
- ↑ Panji masyarakat
- ↑ Sejarah Bumiputera
- ↑ Dunia EKUIN dan PERBANKAN
- ↑ Dunia EKUIN dan PERBANKAN
- ↑ Bank Bumiputera Akan Tingkatkan Saham Publik Hingga 30 %
- 1 2 Tun Daim Alihkan Saham di Bank Bumiputera
- ↑ Bumiputera Berubah Nama dan Tunjuk Presdir Baru
- 1 2 Highlight: Daim’s ICB divests stake in Indonesia
- ↑ Bank ICB Bumiputera merugi Rp 81 miliar tahun lalu
- ↑ Akuisisi Bank Lokal, Hary Tanoe: Ini Bukan Ambisi
- ↑ MNC akuisisi Bank ICB Bumiputera
- ↑ 4 fakta seputar aksi Hary Tanoe akuisisi ICB Bumiputera
- ↑ Akuisisi Masuki Tahap Akhir, ICB Bumiputera Segera Berubah Jadi MNC Bank
- ↑ MNC Group Ekspansi ke Industri Perbankan
- ↑ Total Aset MNC Bank Capai Rp11 T
- ↑ Ganti Nama, Bank MNC Pasang Target Naik BUKU
- ↑ MNC Bank, pengawas konglomerasi MNC
- ↑ ICB Financial bukan lagi pemegang saham Bank MNC
- ↑ Bank MNC ingin akusisi bank BUKU 1 atau 2
- ↑ Bank Capital Bantah Diakuisisi Bank MNC
- ↑ NOBU dan Bank MNC resmi umumkan merger
- ↑ Tiba-Tiba Modal Inti MNC Bank Tembus Rp3,3 T, Udah Merger?
- ↑ Hary Tanoe: Setelah Rights Issue, MNC Bank (BABP) Langsung Lompat Jadi BUKU III
- ↑ MNC Bank Genjot FBI Dari Digital Banking
- ↑ Transformasi Digital, MNC Bank Genjot Layanan Perbankan Digital dengan Motion
Pranala luar
[sunting | sunting sumber]- (Indonesia) Situs web resmi