Jambi Kota Seberang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Gentala Arasy, Jembatan Pedestarian Yang Menghubungkan Jambi Seberang dengan Kota Jambi

Jambi Kota Seberang atau Jambi Seberang adalah sebuah kawasan di seberang pusat Kota Jambi yang terpisahkan oleh Sungai Batanghari. Lokasinya cukup dekat, namun kawasan ini menampilkan budaya, tradisi, dan kisah sejarah yang berbeda.[1] Seberang Kota Jambi adalah wajah Kota Jambi sebenarnya, tempat warga asli melayu jambi tinggal beserta adat istiadatnya, serta tempat peninggalan benda bersejarah yang masih bertahan dan terjaga baik dari gerusan zaman.[2] Kota ini dikenal dengan kota religius.[3]

Wilayah[sunting | sunting sumber]

Kota Jambi dibelah oleh Sungai Batanghari yang merupakan sungai terpanjang di Pulau Sumatra. Oleh karena itu, secara geografis Kota Jambi dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian utara Sungai Batanghari yang disebut sebagai wilayah Jambi Seberang dan bagian selatan Sungai Batanghari, yang oleh masyarakat Jambi Seberang disebut sebagai wilayah Jambi Pasar. Wilayah Jambi Seberang terdiri atas Kecamatan Danau Teluk dan Kecamatan Pelayangan. Kecamatan Danau Teluk memiliki lima kelurahan, yaitu Kelurahan Pasir Panjang, Tanjung Raden, Tanjung Pasir, Olak Kemang, dan Ulu Gedong. Kecamatan Pelayangan memiliki enam kelurahan, yaitu Kelurahan Tengah, Jelmu, Mundung Laut, Arab Melayu, Tahtul Yaman, dan Tanjung Johor. Wilayah Jambi Seberang menjadi permukiman awal masyarakat Melayu Jambi, sedangkan wilayah Jambi Pasar dihuni oleh pendatang yang berasal dari berbagai daerah dan suku.[4] Sebagai identitas masyarakat Melayu Jambi, di seberang sungai Kota Jambi terdapat masyarakat yang mempunyai akar dan tradisi panjang keislaman Melayu Jambi. Terdiri dari dua kecamatan, yaitu Kecamatan Danau Teluk dan Kecamatan Pelayangan, serta 11 kelurahan, di seberang Kota Jambi tidak bisa dilepaskan dari perjalanan panjang kebesaran Islam di Jambi.[5]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Adanya Islam di Jambi karena kedatangan kapal dari Kesultanan Turki untuk penyebaran agama Islam di Jambi, rombongan tersebut di pimpin oleh Ahmad Ilyas atau Ahmad Barus. Mereka datang kemari karena kapal rombongannya terdampar di Pulo Berhalo karena Ahmad Ilyas menyebarkan agama Islam di Jambi selain itu beliau yang menghancurkan patung-patung berhala sembahan di pulau berhala sehingga Ahmad Ilyas dijuluki sebagai Datuk Paduko Berhalo. Diketahui bahwa masuknya Islam pada masyarakat Jambi Seberang banyak dipengaruhi oleh pedagang-pedagang Islam yang masuk dan berlayar di sepanjang sungai Batanghari. Ditemukannya beberapa peninggalan dari pedagang-pedagang Arab, Persia dan Turki menjadi salah satu bukti bahwa proses penyebaran Islam tersebut pernah terjadi. Ditambah lagi bahwa Budaya Arab Melayu sangat melekat kuat pada masyarakat Jambi Seberang. Bahkan melekat pada adat orang Melayu Jambi yang kita kenal dengan “Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah[6]

  1. ^ Anggraeni, Ika Dewi (2023-02-08). "Jambi Seberang: Sejarah, Lokasi, dan Daya Tarik Wiisata". Salsa Wisata. Diakses tanggal 2024-05-15. 
  2. ^ Arman, Dedi (April 29, 2015). "MENELISIK SEJARAH JAMBI KOTA SEBERANG". Balai Pelestarian Nilai Budaya Kepulauan Riau, Direktorat Jenderal Kebudayaan Republik Indonesia. Balai Pelestarian Nilai Budaya Kepulauan Riau, Direktorat Jenderal Kebudayaan Republik Indonesia. Diakses tanggal 16 Mei 2024. 
  3. ^ "Seberang Kota Jambi Jadi Objek wisata Relegius". Kanwil Kemenag Provinsi Jambi. Diakses tanggal 16 Mei 2024. 
  4. ^ KBPJ, Admin (2022-02-20). "Kamus Melayu Jambi Dialek Jambi Seberang – Indonesia". Kantor Bahasa Provinsi Jambi. Diakses tanggal 2024-05-19. 
  5. ^ "Jambi Kota Seberang?". MetroJambi. 28 Desember 2015. Diakses tanggal 16 Mei 2024. 
  6. ^ Apdelmi, Apdelmi (2018-06-10). "ISLAM DAN SEJARAHNYA PADA MASYARAKAT JAMBI SEBERANG". Tsaqofah dan Tarikh: Jurnal Kebudayaan dan Sejarah Islam. 3 (1): 15. doi:10.29300/ttjksi.v3i1.1550. ISSN 2528-732X.