Kematian Muhammad

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Wafatnya Muhammad)
Lompat ke: navigasi, cari
Nama Muhammad dalam aksara Tuluth, salah satu jenis kaligrafi Islam

Ya Allah, kepada Ar-Rafiq Al-A'la (sahabat yang agung, tempat tertinggi di surga)

kata-kata terakhir Muhammad
Bagian dari seri tentang
Muhammad
Muhammad

Kematian Nabi dan Rasul Islam Muhammad (570632) disebabkan oleh demam tinggi di usianya yang ke-62 tahun,[1] yang dia alami selama beberapa bulan setelah kepulangannya dari Mekkah untuk melaksanakan ibadah Haji pertama dan terakhirnya. Di dalam ibadah Haji tersebut terdapat sebuah khotbah terkenal yang disampaikan oleh Muhammad, yakni Khotbah Perpisahan, didalamnya berisi perintah dan larangan dari Allah. Untuk yang terakhir kalinya, Muhammad mendapatkan wahyu melalui Malaikat Jibril di tahun 632 yakni Surah Al-Ma'idah ayat 3 yang menyatakan bahwa Tuhan telah meridoi Islam sebagai agama Muhammad dan sebagai agama yang sempurna dan disempurnakan, serta pernyataan bahwa nikmat kehidupan yang diberikan Tuhan kepada Muhammad telah dicukupkan. Peristiwa tersebut terjadi dalam kejadian yang disebut Haji Perpisahan (Haji Wada'). Sebelumnya Muhammad telah menaklukan seluruh Semenanjung Arabia, dan menjadikannya sebagai negara di bawah pengaruh Islam. Berkat adanya Pertempuran Hunain dan Ekspedisi Tabuk, Muhammad memperoleh kejayaannya dan memindahkan agama Semenanjung Arabia dari Yahudi, Nasrani, dan Pagan menjadi Islam. Wafatnya Muhammad terjadi hari Senin, 8 Juni 632 atau 12 Rabiul Awwal 10 H di rumah istrinya, Aisyah binti Abu Bakar, di kamar Asiyah, yang kini menjadi makam Muhammad. Kini makam Muhammad termasuk kedalam Masjid Nabawi, tepatnya dibawah naungan Kubah Hijau, sebuah ikon yang menjadi ciri khas Masjid Nabawi. Muhammad memberikan dua petunjuk yang dijadikan pedoman bagi manusia untuk selama-lamanya, yakni Al-Qur'an dan Haditsucapan dan perbuatan Nabi Muhammad – kini digunakan sebagai petunjuk bagi umat Muslim. Muhammad dimakamkan di kamar Aisyah, kemudian didampingkan bersama kuburan Abu Bakar dan Umar bin Khattab di sisi makam Muhammad. Setelah kematian Muhammad, pemerintahan Islam dilanjutkan oleh Empat Sahabatnya, yaitu Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib sebagai Khulafa'ur Rasyidin. Dua diantara mereka – Abu Bakar dan Umar bin Khattab – dimakamkan di samping makam Muhammad, masing-masing tahun 634 dan 644 M.

Ikhtisar[sunting | sunting sumber]

Perpustakaan Makkah al-Mukarramah, di percaya bahwa tempat kelahiran Muhammad berlokasi di tempat ini

Muhammad lahir sekitar tahun 570 (Tahun Gajah) kota Arab Mekkah, Muhammad menjadi yatim piatu di usia mudanya; ia tumbuh di bawah pengasuhan Abu Talib. Secara berangsur-angsur, ia lebih banyak menyepi di sebuah gua bernama Hira selama beberapa malam untuk berdoa; kemudian, di usianya yang ke 40, dia dilaporkan dikunjungi Malaikat Jibril kedalam gua,[2][3][4][5] ketika ia menyatakan dirinya menerima wahyu pertama dari Allah. Tiga tahun kemudian, tahun 610[6] Muhammad memulai menyebarkan wahyu ke publik,[7] memproklamirkan bahwa "Tuhan itu Satu" yang memenuhi "berserah diri" (lit. islam) kepadanya dan mengikuti jalan yang benar (din),[8] Dia adalah seorang Nabi dan Rasul, seperti Nabi lain dalam Islam.[9][10][11]

Muhammad bersama beberapa pengikut awal, menerima siksaan dari penduduk Mekkah. Untuk menghindari penyiksaan, Muhammad mengirim beberapa sahabat ke Habsyah sebelum dia dan pengikutnya pindah dari Mekkah ke Madinah (sebelumnya dikenal dengan Yatsrib) di tahun 622. Peristiwa ini, Hijrah, menjadi tanda dimulainya kalender Islam, juga dikenal sebagai Kelender Hijriyah. Di Madinah, Muhammadmempersatukan beberapa kabilah di bawah Konstitusi Madinah. Di Desember 629, setelah delapan tahun mengalami konflik dengan kabilah di Mekkah, Muhammad mengumpulkan 10,000 pasukan muslim dan membebaskan Mekkah. Kekuatan tersebut cukup besar dan Muhammad menaklukan kota dengan sedikit pertumpahan darah. Di 632, beberapa bulan setelah kembali dari Haji Wada', ia jatuh sakit dan wafat. Sebelum kematiannya, kebanyakan Semenanjung Arabia menjadi menjadi beragama Islam.[12][13][14]

Kejayaan[sunting | sunting sumber]

Penguasaan Arabia[sunting | sunting sumber]

Penaklukan oleh Muhammad (garis hijau) dan penaklukan oleh Khulafaur Rasyidin (garis hitam). Terlihat Bizantium di barat dan utara dan Sassaniyah di timur.

Suku Hawazin dan para sekutunya dari suku Tsaqif mulai menyiapkan pasukan mereka ketika mengetahui bahwa Muhammad dan tentaranya berangkat dari Madinah menuju Mekkah, yang ketika itu masih dikuasai kaum kafir Quraisy.[15] Persekutuan kaum Badui dari suku Hawazin dan Tsaqif berniat akan menyerang pasukan Nabi Muhammad ketika sedang mengepung Mekkah. Namun, penaklukan Mekkah berjalan cepat dan damai.[16] Muhammad pun mengetahui maksud suku Hawazin dan Tsaqif, dan memerintahkan pasukan dia bergerak menuju Hawazin dengan kekuatan 12.000 orang,[17][18] terdiri dari 10.000 Muslim yang turut serta dalam penaklukan Mekkah, ditambah 2.000 orang Quraisy Mekkah yang baru masuk Islam.[16] Hal ini terjadi sekitar dua minggu setelah penaklukan Mekkah,[19] atau empat minggu setelah Nabi Muhammad meninggalkan Madinah.[20] Pasukan kaum Badui terdiri dari suku Hawazin, Tsaqif, bani Hilal, bani Nashr, dan bani Jasyam.[15]

Saat pasukan muslim bergerak menuju daerah Hawazin, pemimpin kaum Badui Malik bin Auf al-Nasri menyergap mereka di lembah sempit yang bernama Hunain. Kaum Badui menyerang dari ketinggian, menggunakan batu dan panah, mengejutkan kaum Muslimin dan menyulitkan organisasi serangan kaum Muslimin. Pasukan Muslim mulai mundur dalam kekacauan, dan tampaknya akan menderita kekalahan. Pemimpin Quraisy Abu Sufyan yang ketika itu baru masuk Islam, mengejek dan berkata Kaum Muslimin akan lari hingga ke pantai.[17]

Pada saat kritis ini, sepupu Nabi yakni Ali bin Abi Thalib dibantu pamannya Abbas mengumpulkan kembali pasukan yang melarikan diri, dan organisasi kaum Muslimin mulai terbentuk kembali.[15] Hal ini juga dibantu dengan sempitnya medan pertempuran, yang menguntungkan kaum Muslimin sebagai pihak bertahan. Pada saat ini, seorang pembawa bendera dari kaum Badui menantang pertarungan satu-lawan-satu. Ali menerima tantangan ini dan berhasil mengalahkannya.[15] Nabi Muhammad lalu memerintahkan serangan umum, dan kaum Badui mulai melarikan diri dalam dua kelompok. Kelompok pertama nantinya akan kembali berperang melawan kaum Muslim dalam pertempuran Autas, dan sisanya mengungsi ke Ta'if, dan nantinya akan dikepung oleh kaum Muslim.[17]

Pasukan muslim berhasil menangkap keluarga dan harta benda dari suku Hawazin, yang dibawa oleh Malik bin Aus ke medan pertempuran. Rampasan perang ini termasuk 6.000 tawanan, 24.000 unta, 40.000 kambing, serta 4.000 waqih perak [note 1]

Pertempuran Tabuk mendemonstrasikan keahlian Ali bin Abi Thalib dalam mengorganisir pasukan dalam keadaan terjepit. Pertempuran ini juga menunjukkan kemurahan hati kaum Muslimin, yang memperlakukan tawanan dengan baik dan membebaskan 600 diantaranya secara cuma-cuma. Sisa tawanan ditahan dalam rumah-rumah khusus hingga berakhirnya Pengepungan Thaif.[15]

Pada September 629, pasukan Islam gagal mengalahkan pasukan Bizantium (Romawi Timur) dalam pertempuran Mu'tah. Banyak yang menganggap hal ini sebagai tanda melemahnya kekuatan umat Islam, dan memancing beberapa kabilah Arab menyerang umat Muslim di Madinah. Pada musim panas tahun 630, umat Muslim mendengar kabar bahwa Bizantium dan sekutu Ghassaniyah-nya telah menyiapkan pasukan besar untuk menginvasi Hijaz dengan kekuatan sekitar 40.000-100.000 orang.

Di lain pihak, Kaisar Bizantium Heraclius menganggap bahwa kekuasaan kaum Muslimin di Jazirah Arab berkembang dengan pesat, dan daerah Arab harus segera ditaklukkan sebelum orang-orang Muslim menjadi terlalu kuat dan dapat menimbulkan masalah bagi Bizantium.

Untuk melindungi umat Islam di Madinah, Muhammad memutuskan untuk melakukan aksi preventif, dan menyiapkan pasukan. Hal ini disulitkan dengan adanya kelaparan di tanah Arab dan kurangnya kas umat Muslimin. Namun, Muhammad berhasil mengumpulkan pasukan yang terdiri dari 70.000 orang, jumlah pasukan terbanyak yang pernah dimiliki umat Islam.

Setelah sampai di Tabuk, umat Islam tidak menemukan pasukan Bizantium ataupun sekutunya. Menurut sumber-sumber Muslim, mereka menarik diri ke utara setelah mendengar kedatangannya pasukan Muhammad. Namun tidak ada sumber non-Muslim yang mengkonfirmasi hal ini. Pasukan Muslim berada di Tabuk selama 10 hari. Ekspedisi ini dimanfaatkan Muhammad untuk mengunjungi kabilah-kabilah yang ada di sekitar Tabuk. Hasilnya, banyak kabilah Arab yang sejak itu tidak lagi mematuhi Kekaisaran Bizantium, dan berpihak kepada Muhammad dan umat Islam. Dia juga berhasil mengumpulkan pajak dari kabilah-kabilah tersebut.

Saat hendak pulang dari Tabuk, rombongan Muhammad didatangi oleh para pendeta Kristen di Lembah Sinai. Muhammad berdiskusi dengan mereka, dan terjadi perjanjian yang mirip dengan Piagam Madinah bagi kaum Yahudi. Piagam ini berisi perdamaian antara umat Islam dan umat Kristen di daerah tersebut.

Muhammad akhirnya kembali ke Madinah setelah 30 hari meninggalkannya. Umat Islam maupun Kekaisaran Bizantium tidak menderita korban dari peristiwa ini, karena pertempuran tidak pernah terjadi.

Pembebasan Mekkah[sunting | sunting sumber]

Penggambaran Muhammad (dengan wajah tertutup) menuju Mekkah dari Siyer-i Nebi, sebuah manuskrip abad ke-16 Ottoman. Malaikat Jibril, Mikail, Israfil dan Izrail, juga digambarkan.

Pembebasan Mekkah merupakan peristiwa yang terjadi pada tahun 630 tepatnya pada tanggal 10 Ramadan 8 H, di mana Nabi Muhammad beserta 10.000 pasukan bergerak dari Madinah menuju Mekkah, dan kemudian menguasai Mekkah secara keseluruhan tanpa pertumpahan darah sedikitpun, sekaligus menghancurkan berhala yang ditempatkan di dalam dan sekitar Kakbah.

Pada tahun 628, Quraisy dan Muslim dari Madinah menandatangani Perjanjian Hudaybiyah. Meskipun hubungan yang lebih baik terjadi antara Mekkah dan Madinah setelah penandatanganan Perjanjian Hudaybiyah, 10 tahun gencatan senjata dirusak oleh Quraisy, dengan sekutunya Bani Bakr, menyerang Bani Khuza'ah yang merupakan sekutu Muslim, walaupun sebenarnya yang pertama kali menyerang Bani Bakr adalah Bani Khuza'ah, dan sayang sekali permasalahan tersebut hanya diselesaikan dengan perjanjian elite yang tidak melibatkan akar rumput, sehingga masih menimbulkan dendam dikalangan Bani Bakr. Pada saat itu musyrikin Quraisy ikut membantu Bani Bakr, padahal bersadasarkan kesepakatan damai dalam perjanjian tersebut di mana Bani Khuza'ah telah bergabung ikut dengan Nabi Muhammad dan sejumlah dari mereka telah memeluk islam, sedangkan Bani Bakr bergabung dengan musyrikin Quraisy.

Abu Sufyan, kepala suku Quraisy di Mekkah, pergi ke Madinah untuk memperbaiki perjanjian yang telah dirusak itu, tetapi Nabi Muhammad menolak, Abu Sufyan pun pulang dengan tangan kosong. Sekitar 10.000 orang pasukan Muslim pergi ke Mekkah yang segera menyerah dengan damai. Nabi Muhammadbermurah hati kepada pihak Mekkah, dan memerintahkan untuk menghancurkan berhala di sekitar dan di dalam Kakbah. Selain itu hukuman mati juga ditetapkan atas 17 orang Mekkah atas kejahatan mereka terhadap orang Muslim, meskipun pada akhirnya beberapa di antaranya diampuni.[butuh rujukan] [21]

Tanggal 10 Ramadan 8 Hijriah, Muhammad beserta 10.000 pasukan bergerak dari Madinah menuju Mekkah, dan kota Madinah diwakilkannya kepada Abu Ruhm Al-Ghifary.

Ketika sampai di Dzu Thuwa, Muhammad membagi pasukannya, yang terdiri dari tiga bagian, masing-masing adalah:

  1. Khalid bin Walid memimpin pasukan untuk memasuki Mekkah dari bagian bawah,
  2. Zubair bin Awwam memimpin pasukan memasuki Mekkah bagian atas dari bukit Kada', dan menegakkan bendera di Al-Hajun,
  3. Abu Ubaidah bin al-Jarrah memimpin pasukan dari tengah-tengah lembah hingga sampai ke Mekkah. Menurut pendapat lain, empat bagian pasukan, bagian yang keempat dipimpin oleh
  4. Sa'ad bin 'Ubadah memimpin orang madinah supaya memasuki Mekkah dari arah sebelah barat.[22]

Dari Al-Hajun Nabi Muhammad memasuki Masjid Al-Haram dengan dikelilingi kaum Muhajirin dan Anshar. Setelah thawaf mengelilingi Kakbah, Nabi Muhammad mulai menghancurkan berhala dan membersihkan Kakbah. Dan selesailah pembebasan Mekkah.

Firasat[sunting | sunting sumber]

Masjid Miqat di Juhfah, Rabigh, Arab Saudi. Disini lah terjadi peristiwa yang benama Ghadir Khumm

Haji perpisahan[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 632, pada akhir tahun kesepuluh setelah bermigrasi ke Madinah, Muhammad menyelesaikan ziarah Islam pertamanya yang benar, menetapkan prioritas untuk Ziarah Agung tahunan, yang dikenal sebagai haji.[11] Setelah menyelesaikan ziarah tersebut, Muhammad menyampaikan sebuah pidato terkenal, yang dikenal sebagai Khotbah Perpisahan, di Gunung Arafah di sebelah timur Mekkah. Dalam khotbah ini, Muhammad menasehati para pengikutnya untuk tidak mengikuti adat pra-Islam tertentu. Misalnya, dia bilang kulit putih tidak memiliki keunggulan dibanding warna hitam, atau hitam memiliki keunggulan dibanding kulit putih kecuali oleh kesalehan dan tindakan baik.[23] Dia menghapus perseteruan darah lama dan perselisihan berdasarkan sistem suku sebelumnya dan meminta janji lama untuk dikembalikan sebagai implikasi dari penciptaan komunitas Islam yang baru. Mengomentari kerentanan perempuan di masyarakatnya, Muhammad meminta pengikut laki-lakinya untuk menjadi baik bagi perempuan, karena mereka adalah tawanan yang tidak berdaya di rumah Anda. Anda membawa mereka ke dalam kepercayaan Allah, dan melegitimasi hubungan seksual Anda dengan Firman Tuhan, maka masuklah ke indra Anda orang-orang, dan dengarkan kata-kata saya ... Dia mengatakan kepada mereka bahwa mereka berhak mendisiplinkan istri mereka tapi harus melakukannya dengan baik. Dia berbicara tentang masalah warisan dengan melarang klaim palsu tentang ayah atau hubungan klien dengan almarhum, dan melarang pengikutnya untuk meninggalkan kekayaan mereka kepada pewarisnya. Dia juga menjunjung tinggi kesucian empat bulan lunar setiap tahun.[24][25] Menurut tafsir Sunni, ayat Alquran berikut disampaikan dalam acara ini: Hari ini saya telah menyempurnakan agamamu, dan melengkapi nikmatku untukmu dan memilih Islam sebagai agama bagimu (Quran 5: 3).[11] Menurut tafsir Saba, ini menunjuk pada pengangkatan Ali bin Abi Thalib di kolam Khumm sebagai penerus Muhammad, ini terjadi beberapa hari kemudian ketika umat Islam kembali dari Mekkah ke Madinah.[26][27]

Khotbah terakhir[sunting | sunting sumber]

Khotbah ini disampaikan oleh Nabi Muhammad pada tanggal 9 Zulhijah, 10 Kalender Hijriyah (6 Maret 632).[28] di Uranah lembah Gunung Arafah, selama haji. Muhammad al-Bukhari mengacu khotbah dan mengutip bagian dari itu di 'nya' Sahih al-Bukhari . [29][30][31] Bagian dari itu juga hadir di Sahih Muslim[32] dan Sunan Abu Dawud.[33]

Kalimat berikut dikatakan oleh Nabi Muhammad pada akhir ibadah Haji.

  1. Wahai manusia sekalian, dengarkanlah perkataanku ini dan perhatikanlah. Ketahuilah oleh kamu sekalian, bahwa setiap muslim itu adalah saudara bagi muslim yang lain, dan semua kaum muslimin itu adalah bersaudara. Seseorang tidak dibenarkan mengambil sesuatu milik saudaranya kecuali dengan senang hati yang telah diberikannya dengan senang hati. Oleh sebab itu janganlah kamu menganiaya diri kamu sendiri.[34][35]
  2. Ketahuilah sesungguhnya segala tradisi jahiliyah mulai hari ini tidak boleh dipakai lagi. Segala sesuatu yang berkaitan dengan perkara kemanusiaan ( seperti pembunuhan, dendam, dan lain-lain ) yang telah terjadi di masa jahiliyah, semuanya batal dan tidak boleh berlaku lagi. (Sebagai contoh ) hari ini aku nyatakan pembatalan pembunuhan balasan atas terbunuhnya Ibnu Rabi’ah bin Haris yang terjadi pada masa jahiliyah dahulu. Transaksi riba yang dilakukan pada masa jahiliyah juga tidak sudah tidak berlaku lagi sejak hari ini. Transaksi yang aku nyatakan tidak berlaku lagi adalah transaksi riba Abbas bin Abdul Muthalib. Sesungguhnya seluruh transaksi riba itu semuanya batal dan tidak berlaku lagi.[35][36][37]
  3. Takutlah kepada Allah dalam bersikap kepada kaum wanita, karena kalian telah mengambil mereka dengan amanah atas nama Allah dan hubungan badan dengan mereka telah dihalalkan bagi kamu sekalian dengan nama Allah. Sesungguhnya kalian mempunyai kewajiban terhadap isteri kalian dan isteri kalian mempunyai kewajiban terhadap diri kalian. Kewajiban mereka terhadap kalian adalah mereka tidak boleh memberi izin masuk orang yang tidak kalian sukai ke dalam rumah kalian. Jika mereka melakukan hal demikian, maka pukullah mereka dengan pukulan yang tidak keras/tidak membahayakan. Sedangkan kewajiban kamu terhadap mereka adalah memberi nafkah, dan pakaian yang baik kepada mereka.[35][36][38]
  4. Waspadalah terhadap syetan demi keselamatan agama kamu, dia telah berputus asa untuk menyesatkan kamu dalam perkara-perkara bersar, maka berjaga-jagalah supaya kamu tidak mengikuti dalam perkara-perkara kecil.[35][38][39]

Ghadir Khum[sunting | sunting sumber]

Pada bulan April 623, Nabi Muhammad mengirim Ubaidah bin Harits dengan enam senar Muhajirun ke lembah Rabigh. Mereka mengharapkan untuk mencegat Quraisy yang kembali dari Suriah di bawah perlindungan Abu Sufyan bin Harb dan 200 pembalap bersenjata.[40][41][42][43][44] Partai Muslim melakukan perjalanan sejauh sumur di Thanyat al-Murra,[40][43] di mana Sa'ad bin Abi Waqqas menembakkan anak panah ke arah orang Quraisy. Ini dikenal sebagai panah pertama Islam.[40][42][45] Terlepas dari serangan mendadak ini, mereka tidak menghunuskan pedang atau pendekatan satu sama lain, dan orang-orang Muslim kembali dengan tangan hampa.[41][42][43]

Wahyu terakhir[sunting | sunting sumber]

Wahyu terakhir yang diterima Muhammad adalah 5:3

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Kalimat yang di cetak tebal merupakan wahyu terakhir yang diterima Muhammad, setelah dia menerima wahyu di Mekkah selama 13 tahun dan di Madinah selama 10 tahun, dengan detail waktu penurunan ayat dari awal sampai akhir – 22 tahun, 2 bulan dan 22 hari – atau dibulatkan menjadi 23 tahun.

Wafat[sunting | sunting sumber]

Makam Muhammad berada di dalam tempat ini.

Beberapa bulan setelah ziarah perpisahan, Muhammad jatuh sakit dan menderita selama beberapa hari dengan demam, sakit kepala, dan kelemahan. Dia meninggal pada hari Senin, 8 Juni 632, di Madinah, pada usia 62 atau 63, di rumah istrinya Aisha.[46] Dengan kepalanya bertumpu pada pangkuan Aisha, dia memintanya untuk membuang barang dagangan terakhirnya (tujuh koin), lalu mengucapkan kata-kata terakhirnya:

Ya Allah, kepada Ar-Rafiq Al-A'la (sahabat yang agung, tempat tertinggi di surga) [47][48][49]

Ar-Rafiq Al-A'la mungkin mengacu pada Tuhan.[50] Dia dikuburkan di tempat dia meninggal di rumah Aisha.[11][51][52] Pada masa pemerintahan khalifah Umayyah al-Walid I, al-Masjid an-Nabawi (Masjid Nabi) diperluas untuk mencakup tempat makam Muhammad.[53] Kubah Hijau di atas makam dibangun oleh Sultan Mamluk Al Mansur Qalawun pada abad ke-13, meskipun warna hijau ditambahkan pada abad ke-16, di bawah pemerintahan Sultan Ottoman Suleiman yang Luar Biasa.[54] Di antara makam yang berdekatan dengan Muhammad adalah milik sahabatnya (Sahabat), dua khalifah pertama Muslim Abu Bakr dan Umar, dan yang kosong yang diyakini umat Islam sedang menunggu Yesus.[52][55][56] Ketika bin Saud membawa Madinah pada tahun 1805, makam Muhammad dilucuti dari perhiasan emas dan perhiasannya.[57] Penganut kepada Wahhabisme, pengikut bin Sauds menghancurkan hampir semua kubah makam di Madinah untuk mencegah penghormatan mereka,[57] dan yang dikatakan Muhammad telah lolos secara sempit. [196] Kejadian serupa terjadi pada tahun 1925 ketika milisi Saudi mundur - dan kali ini berhasil mempertahankan - kota.[58][59][60] Dalam interpretasi Wahhabi tentang Islam, penguburan terjadi di kuburan yang tidak bertanda.[57] Meskipun dikutuk oleh orang Saudi, banyak peziarah terus melakukan ziyarat - sebuah kunjungan ritual - ke makam.[61][62]

Al-Masjid an-Nabawi ("Masjid Nabi") di Madinah, Arab Saudi, dengan Kubah Hijau dibangun diatas makam Muhammad di tengah gambar.

Makam dan jasad[sunting | sunting sumber]

Makam[sunting | sunting sumber]

Pemandangan bagian luar makam Muhammad dari sisi samping Hujra

Kuburan Muhammad terletak di dalam batas-batas rumah yang dulu adalah rumah istrinya dan Aisha, Hujra. Selama hidupnya disatukan masjid. Masjid tersebut diperluas pada masa pemerintahan Khalifah al-Walid I untuk memasukkan makamnya.[53] Kuburan Muhammad adalah alasan penting bagi kesucian masjid yang tinggi, karena Dome of the Prophet menandai lokasi makam tersebut.[63] Jutaan mengunjunginya setiap tahun, karena ini adalah tradisi untuk mengunjungi masjid setelah berziarah ke Mekah.

Dua khalifah pertama, Abu Bakr dan Umar dimakamkan di samping Muhammad. Umar diberi tempat di samping Muhammad oleh Aisha, yang semula ditujukan untuknya. Tempat kosong di samping makam Muhammad diperuntukkan bagi Yesus.[64] Menurut komentator Quran Baidawi, Yesus akan kembali ke Tanah Suci untuk membunuh Antikristus dan memerintah selama 40 tahun, kemudian dimakamkan di samping Muhammad.[65]

Kuburan Muhammad sendiri tidak dapat dilihat karena daerah itu ditutup oleh sebuah jala emas dan tirai hitam karena ajaran Wahhabi yang melarang memberi makna penting bagi kuburan (kunjungan kuburan dan almarhum diperbolehkan di hampir semua sekte utama Islam lainnya). Kuburan itu sendiri ditutupi oleh sarkofagus simbolis dan dihiasi dengan sutra hijau.[66]

Isu penggalian[sunting | sunting sumber]

Halaman depan surat kabar The Independent
Halaman depan surat kabar Daily Mail

Pada tahun 2014 lalu, ada isu penggalian makam Muhammad yang akan dilakukan oleh Pemerintahan Arab Saudi. Namun, itu semua adalah isu dan kebohongan untuk menghitamkan Salafi. Masjid Nabawi memang ingin diperluas, tetapi makam itu tidak akan dihancurkan. KH Amidan, pengurus Majelis Ulama Indonesia mengatakan bahwa isu itu adalah isu yang disebarkan untuk mengadu-domba kalangan Muslim. Sebab, kalau memang itu akan dibongkar, pastilah Arab Saudi akan didemo umat Islam seluruh dunia, lagipula, Arab Saudi tidak akan berani melakukannya.[67] Berita ini kali pertama disebarkan oleh media di Iran, yakni Fars Media Agency dan diikuti pers Indonesia. Dikatakan bahwa sebagai gantinya, akan ada penggantian dengan jutaan poundsterling. Menurut mereka, selain akan dihancurkan, Masjid Nabawi dan 3 masjid tertua lainnya di Arab Saudi akan pula dihancurkan. Tapi, fakta yang benar bahwa di Arab Saudi hal ini memang tidak ada. Hanya disebarkan oleh Fars Media Agency saja, yang sebenarnya berniat menebarkan kebohongan.[67]

Selain dari itu, kabar kebohongan ini juga mengutip dari The Independent dan Daily Mail yang berkantor pusat di Inggris. Mereka menyebar berita pada September 2014. Kabar ini diambil dari sebuah dokumen setebal 61 halaman yakni jurnal ilmiah Presidensi Umum Urusan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi yang diterjemahkan secara serampangan dan dengan jalan mencuri berita.[68] Pimpinan redaksi koran Mekkah, Muwafaq an-Nuwasyar menuding dua surat kabar ini secara serampangan mengambil berita dan salah terjemah, sehingga koran Independent jatuh dalam perangkap kesalahpahaman. Dengan mudahnya, kaum Muslim Indonesia terpancing dengan berita ini. Sehingga telah ada pernyataan dari duta besar Indonesia kepada Saudi Arabia, Mustafa bin Ibrahim al-Mubarak – sebagaimana menurut Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin – bahwa Arab Saudi memang tidak ada rencana untuk memindahkan makam dan memiliki komitmen yang tinggi menjaga keberadaan makam tersebut. Selain itu Menteri Agama menghimbau semua organisasi masyarakat Islam Indonesia supaya tidak perlu menguras tenaga dan emosi hanya karena berita yang tak berdasar tidak jelas itu.[68]

Kubah Hijau[sunting | sunting sumber]

Kubah Hijau di Masjid Nabawi, Madinah, Arab Saudi merupakan bangunan kubah yang menaungi Makam Muhammad.

Dibangun pada 1279 M atau 678 H pada masa pemerintahan Mamluk Sultan Al Mansur Qalawun,[69] struktur aslinya terbuat dari kayu dan tidak berwarna,[70] dilukis putih dan biru di restorasi selanjutnya. Setelah kebakaran serius melanda Masjid pada tahun 1481, masjid dan kubah tersebut telah dibakar dan sebuah proyek restorasi diprakarsai oleh Sultan Qaitbay yang memiliki sebagian besar basis kayu diganti dengan struktur bata untuk mencegah runtuhnya kubah di masa depan. Dan piring bekas timbal untuk menutupi kubah kayu baru. Bangunan tersebut, termasuk Makam Nabi, diperbarui secara ekstensif melalui patronase Qaitbay.[71] Kubah saat ini ditambahkan pada tahun 1818 oleh Sultan Mahmud II Ottoman. Kubah itu pertama kali dicat hijau pada tahun 1837.[53]

Ketika Saud bin Abdul Aziz membawa Medina pada tahun 1905, para pengikutnya, kaum Wahhabi, menghancurkan hampir semua kubah makam di Madinah berdasarkan keyakinan mereka bahwa pemujaan terhadap makam dan tempat yang dianggap memiliki kekuatan supernatural adalah pelanggaran terhadap tawhid.[72] Makam Muhammad dilucuti dari ornamen emas dan perhiasannya, namun kubah tersebut dipelihara baik karena usaha yang gagal untuk menghancurkan strukturnya yang mengeras, atau karena beberapa waktu yang lalu. Abd al-Wahhab menulis bahwa dia tidak ingin melihat kubah tersebut hancur meski dia memiliki keengganan untuk orang-orang berdoa di makam.[73] Kejadian serupa terjadi pada tahun 1925 ketika milisi Saudi merebut kembali - dan kali ini berhasil mempertahankan - kota [58][59][60] Pada tahun 2007, menurut Independent, sebuah pamflet, yang diterbitkan oleh Kementerian Urusan Islam Saudi dan didukung oleh mufti besar Arab Saudi, menyatakan bahwa kubah hijau akan dibongkar dan tiga kuburan diratakan di Masjid Nabawi.[74]

Upaya pencurian[sunting | sunting sumber]

Penggambaran Nuruddin Zengi.

Menurut riwayatnya, ada beberapa kali usaha pencurian yang tercatat di dalam sejarah:[66][75]

  • Pertama, pada masa al-Hakim bi Amrillah al-Ubaidiy, dia hendak menarik perhatian masyarakat Mesir dengan hendak mendatangkan jasad Muhammad. Tetapi, usahanya gagal karena datangnya badai ke Madinah.
  • Kedua, pada masa pemerintahan al-Ubaidiy pada tahun 408 Hijriah. al-Ubaidiy mengatakan bahwa dirinya Tuhan. Ia menyuruh orang untuk tinggal di dekat Masjid Nabawi. Orang-orang ini membuat terowongan menuju makam Muhammad. Upaya tersebut gagal karena ada suara penyeru, Nabi kalian akan digali! Nabi kalian akan digali! Maka para penduduk segera melakukan penyelidikan dan membunuh para utusan tersebut.
  • Ketiga, orang-orang Nasrani dari Maroko dahulu pernah hendak menggali makam ini. Tetapi, Nuruddin Zanki, sebelumnya, bermimpi tentang keberadaan orang-orang ini. Para penggali kubur berhasil diakali dengan siasat sang panglima Nuruddin dengan memberi uang manakala ada penduduk yang berhasil menemui kedua penjahat ini. Di bawah sebuah tikar di rumah sang penjahat, ditemui terowongan menuju makam Muhammad. Setelah dipukuli penduduk, keduanya mengaku gagal karena adanya guncangan hebat di bumi. Karena adanya bukti, keduanya dibunuh. Lantas, karena kejadian ini, sang panglima membuat tembok dari timah tebal di sekitar makam Muhammad. Kejadian ini terjadi pada 1164 Masehi atau 554 Hijriah, [note 2]
  • Keempat, orang-orang Nasrani pernah merampok kafilah jamaah haji. Setelah merampok, mereka bertekad menggali makam Rasulullah secara terang-terangan. Tapi digagalkan sebuah kapal dari Mesir yang mengikutinya hingga Madinah. Orang-orang ini ditangkap dan ditawan.
  • Usaha kelima dilakukan dengan rencana menggali makam Abu Bakar dan Umar. Itu terjadi di pertengahan abad ke tujuh Hijriyah. Sejumlah orang yang mencapai 40 orang laki-laki ingin menggali kubur pada malam hari. Kemudian bumipun terbelah dan menelan mereka. Hal ini diceritakan oleh pelayan al-Haram an-Nabawy pada saat itu. Dia adalah Shawwab, as-Syamsu al-Malthiy.

Wasiat[sunting | sunting sumber]

Kutipan ayat terakhir Surah An-Najm yang berbunyi: -{Maka sujudlah kepada Allah dan sembahlah (ia)}-

Al-Qur'an adalah Wasiat utama yang diberikan Muhammad kepada umatnya, sebuah teks keagamaan yang paling utama dan sebagai sumber Hukum Islam. Muslim percaya bahwa kitab ini adalah ucapan Tuhan yang diwahyukan kepada Muhammad melalui Malaikat Jibril.[76][77] Wasiat lain yang disampaikan Muhammad adalah koleksi Hadits, tindakan perbuatan fisik dan ucapan yang berisi pengajaran dan tradisi dari Muhammad. Hadits dikumpulkan oleh generasi setelah kematian Muhammad termasuk Muhammad al-Bukhari, Muslim bin al-Hajjaj, Muhammad bin Isa at-Tirmidzi, Abdurrahman An-Nasa'i, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Malik bin Anas

Penerus[sunting | sunting sumber]

Perluasan Kekhalifahan, 622–750 CE.
   Muhammad, 622–632 CE.
   Khulafaur Rasyidin, 632–661 CE.
   Kekhalifahan Umayyah, 661–750 CE.

Muhammad mempersatukan sebagian besar kabilah-kabilah di Jazirah Arab menjadi sebuah negara Arab Muslim yang bersatu dalam keagamaan selama akhir masa hidupnya. Dengan kematian Muhammad, ketidak setujuan pecah antara para pewarisnya.[78] Umar bin Khattab, seorang sahabat Muhammad yang setia, mengusulkan Abu Bakar, sahabat dan pengikut Muhammad. Dengan tambahan dukungan, Abu Bakar di daulat sebagai khalifah pertama. Pemilihan ini disangkal beberapa sahabat Muhammad, yang menyatakan bahwa Ali bin Abi Talib, sepupu dan menantunya, telah dipilih sebagai pewaris oleh Muhammad di Rabigh. Abu Bakar secara perlahan memperluas wilayah kekuasaannya hingga ke Bizantium (atau Kekaisaran Romawi Timur).[13][79][80][81] Timur Tegah pra-Islam di dominasi oleh Bizantium dan Sassaniyah. Pertempuran antara Romawi dan Persia meluluh lantakkan wilayah, membuat kekaisaran tidak disukai sebagian besar kabilah setempat. Selanjutnya, wilayah yang akan ditaklukkan oleh Muslim dari sekte Kekristenan (Nestoria, Monofisit, Yakubit dan Koptik) yang tidak puas dari Gereja Ortodoks Timur yang menganggap mereka sesat atau bid'ah. Dengan sebuah dekade Muslim menaklukkan Mesopotamia, Bizantium Suriah, Bizantium Mesir,[82] sebagian besar persia, dan didirikannya Kekhalifahan Rasyidin.

Catatan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Waqih adalah satuan berat perak di Jazirah Arab untuk 1 waqih sama dengan 213 gram perak
  2. ^ Kejadian ini dicatat oleh Ali Hafidz, seorang sejarawan Arab, dalam Fushul min Tarikh al-Madinah al-Munawwarah.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ F.Buhl, A.T. Welch (1993). "Muhammad". In P. Bearman, Th. Bianquis, C.E. Bosworth, E. van Donzel, W.P. Heinrichs. Encyclopaedia of Islam. 7 (2nd ed.). Brill. p. 374
  2. ^ Conrad, Lawrence I. (1987)."Abraha and Muhammad: some observations apropos of chronology and literary topoi in the early Arabic historical tradition1". Bulletin of the School of Oriental and African Studies. 50 (2): 225–40.doi:10.1017/S0041977X00049016.
  3. ^ Sherrard Beaumont Burnaby (1901). Elements of the Jewish and Muhammadan calendars: with rules and tables and explanatory notes on the Julian and Gregorian calendars. G. Bell. p. 465.
  4. ^ Hamidullah, Muhammad(February 1969). "The Nasi', the Hijrah Calendar and the Need of Preparing a New Concordance for the Hijrah and Gregorian Eras: Why the Existing Western Concordances are Not to be Relied Upon"(PDF). The Islamic Review & Arab Affairs: 6–12
  5. ^ Encyclopedia of World History(1998), p. 452
  6. ^ Howarth, Stephen. Knights Templar.1985. ISBN 9780826480347 p. 199
  7. ^ Muhammad Mustafa Al-A’zami(2003), The History of The Qur’anic Text: From Revelation to Compilation: A Comparative Study with the Old and New Testaments, pp. 26–27. UK Islamic Academy. ISBN 978-1872531656
  8. ^ Anis Ahmad (2009). "Dīn". In John L. Esposito. The Oxford Encyclopedia of the Islamic World. Oxford: Oxford University Press.(Subscription required (help)). A second important aspect of the meaning of the term emerges in Meccan revelations concerning the practice of the Prophet Abraham. Here it stands for the straight path (al-dīn al-ḥanīf) toward which Abraham and other messengers called the people [...] The Qurʿān asserts that this was the path or practice followed by Abraham [...] In the final analysis, dīn encompasses social and spiritual, as well the legal and political behavior of the believers as a comprehensive way of life, a connotation wider than the word “religion.”
  9. ^ F. E. Peters (2003), p. 9
  10. ^ Esposito (1998), p. 12; (1999) p. 25; (2002) pp. 4–5
  11. ^ a b c d Buhl, F.; Welch, A. T. (1993). "Muḥammad". Encyclopaedia of Islam.7 (2nd ed.). Brill Academic Publishers. pp. 360–376. ISBN 90-04-09419-9
  12. ^ "Muhammad", Encyclopedia of Islam and the Muslim world
  13. ^ a b Holt (1977a), p. 57
  14. ^ Lapidus (2002), pp. 31–32
  15. ^ a b c d e "The battle of Hunayn 8 (A.H.)". Ezsoftech (dalam bahasa bahasa Inggris). Diakses tanggal 30 Mei 2017. 
  16. ^ a b Lammens, H. and Abd al-Hafez Kamal. "Hunayn". Di P.J. Bearman, Th. Bianquis, C.E. Bosworth, E. van Donzel and W.P. Heinrichs. Encyclopaedia of Islam Online Edition. Brill Academic Publishers. ISSN 1573-3912. 
  17. ^ a b c "Chapter 8: The Battle of Hunain". Sword of Allah (dalam bahasa bahasa Inggris). Diakses tanggal 30 Mei 2017. 
  18. ^ "The Sword of Allah". Sword of Allah (dalam bahasa bahasa Inggris). Diakses tanggal 30 Mei 2017. 
  19. ^ "Penaklukan Mekkah". witness-pioneer.org. Diakses tanggal 29 Mei 2017. 
  20. ^ "Muhammad Seal of The Prophets". Alislam.org (dalam bahasa bahasa Inggris). Diakses tanggal 29 Mei 2017. 
  21. ^ "Media Isnet" . Diakses tanggal 28 Mei 2017. 
  22. ^ Dr. Muhammad Husain Haekal, Ph. D, Sejarah Hidup Muhammad (terjemah oleh Ali Audah dari Hayatu Muhammad), Penerbit Tintamas, Jakarta, 1984, Cet. ke-9, hal. 508.)
  23. ^ Sultan, Sohaib (March 2011). The Koran For Dummies. John Wiley & Sons. ISBN 0-7645-5581-2. 
  24. ^ Devin J. Stewart, Farewell Pilgrimage, Encyclopedia of the Qur'an
  25. ^ Al-Hibri (2003), p. 17
  26. ^ "Tabatabae, Tafsir Al-Mizan, vol. 9, pp. 227–47" (dalam bahasa bahasa Inggris). Diakses tanggal 29 Mei 2017. 
  27. ^ "Comparing the Tafsir of various exegetes". Tafseer Comparison. Diarsipkan dari versi asli tanggal 14 May 2012. Diakses tanggal 2 February 2013. 
  28. ^ Gregorian-Hijri Date Conversion - IslamicFinder
  29. ^ "The Hadith of the Prophet Muhammad (صلى الله عليه و سلم) at your fingertips". 
  30. ^ "The Hadith of the Prophet Muhammad (صلى الله عليه و سلم) at your fingertips". 
  31. ^ "The Hadith of the Prophet Muhammad (صلى الله عليه و سلم) at your fingertips". 
  32. ^ "The Hadith of the Prophet Muhammad (صلى الله عليه و سلم) at your fingertips". 
  33. ^ "The Hadith of the Prophet Muhammad (صلى الله عليه و سلم) at your fingertips". 
  34. ^ Tapakat Ibn Saatu, Muhammad annapiyyul Kadhim, Majit Ali Khan.
  35. ^ a b c d "The Last Sermon of the Prophet Muhammad". Hadith of the day. Diakses tanggal 29 Mei 2017. 
  36. ^ a b 'Sahih Muslim - 2334.
  37. ^ Sunan ibnu Majah - 3074.
  38. ^ a b Sahih Jamih - 7880.
  39. ^ Sahih Tarkib - 40.
  40. ^ a b c Ibn Ishaq/Guillaume, p. 281.
  41. ^ a b Ibn Saad/Bewley, p. 37.
  42. ^ a b c Haykal, M. H. (1935). Translated by al-Faruqi, I. R. A. (1976). The Life of Muhammad, p. 256. Chicago: North American Trust Publications.
  43. ^ a b c Mubarakpuri, S. R. (1979). Ar-Raheeq Al-Maktum (The Sealed Nectar), p. 92. Riyadh: Darussalem Publishers.
  44. ^ Hawarey, Dr. Mosab (2010). The Journey of Prophecy; Days of Peace and War (Arabic). Islamic Book Trust. ISBN 9789957051648. Note: Book contains a list of battles of Muhammad in Arabic, English translation available here
  45. ^ Shahih Bukhari, 5:57:74
  46. ^ The Last Prophet, p. 3. By Lewis Lord of U.S. News & World Report. 7 April 2008.
  47. ^ Reşit Haylamaz (2013). The Luminous Life of Our Prophet. Tughra Books. p. 355. 
  48. ^ Fethullah Gülen. Muhammad The Messenger of God. The Light, Inc. p. 24. ISBN 1-932099-83-2. 
  49. ^ Tafsir Ibn Kathir (Volume 5). DARUSSALAM. p. 214. 
  50. ^ Reşit Haylamaz; Fatih Harpci. Prophet Muhammad – Sultan of Hearts – Vol 2. Tughra Books. p. 472. ISBN 978-1-59784-683-7. 
  51. ^ Leila Ahmed (1986), 665–91 (686)
  52. ^ a b F. E. Peters(2003), p. 90
  53. ^ a b c Ariffin, Syed Ahmad Iskandar Syed (2005). Architectural Conservation in Islam: Case Study of the Prophet's Mosque. Penerbit UTM. p. 88. ISBN 978-983-52-0373-2. 
  54. ^ "Prophet's Mosque". Archnet.org. 2 May 2005. Diakses tanggal 26 January 2012. 
  55. ^ Isa, Encyclopedia of Islam
  56. ^ Shaykh Adil Al-Haqqani; Shaykh Hisham Kabbani (2002). The Path to Spiritual Excellence. ISCA. pp. 65–66. ISBN 978-1-930409-18-7. 
  57. ^ a b c Doris Behrens-Abouseif; Stephen Vernoit (2006). Islamic art in the 19th century: tradition, innovation, and eclecticism. BRILL. p. 22. ISBN 978-90-04-14442-2. 
  58. ^ a b Mark Weston (2008). Prophets and princes: Saudi Arabia from Muhammad to the present. John Wiley and Sons. p. 136. ISBN 978-0-470-18257-4. 
  59. ^ a b Vincent J. Cornell (2007). Voices of Islam: Voices of the spirit. Greenwood Publishing Group. p. 84. ISBN 978-0-275-98734-3. 
  60. ^ a b Carl W. Ernst (2004). Following Muhammad: Rethinking Islam in the Contemporary World. Univ of North Carolina Press. pp. 173–74. ISBN 978-0-8078-5577-5. 
  61. ^ Clinton Bennett (1998). In search of Muhammad. Continuum International Publishing Group. pp. 182–83. ISBN 978-0-304-70401-9. 
  62. ^ Malcolm Clark (2011). Islam For Dummies. John Wiley & Sons. p. 165. ISBN 978-1-118-05396-6. 
  63. ^ Important Sites: The Prophet’s Mosque
  64. ^ Parrinder, Geoffrey (1995). Jesus in the Qur'ān. Oneworld, ISBN 9781851680948
  65. ^ Braswell, George W. (2000). What You Need to Know About Islam and Muslims. B&H Publishing Group, ISBN 9780805418293
  66. ^ a b Barmin (2010). Tempat-Tempat Bersejarah di Tanah Haram. hal.39-41. Solo:Tiga Serangkai. ISBN 978-979-045-543-6.
  67. ^ a b Farid Zakaria (31 Oktober 2014). "Isu Pembongkaran Makam Nabi adalah Fitnah untuk Mengadu Domba". Firmadani.com. Diakses tanggal 12 Februari 2015. 
  68. ^ a b "Makam Nabi Akan Dipindah?". Elfata 14 (10): 28. 2014. ISSN 1693-7783. 
  69. ^ "Prophet's Mosque". ArchNet. Diakses tanggal 2012-04-13. 
  70. ^ "The history of Green Dome in Madinah and its ruling". Peace Propagation Center. 4 June 2009. Diakses tanggal 2012-04-13. 
  71. ^ Meinecke, Michael (1993). Mamlukische Architektur 2. pp. 396–442.  Meinecke, ', II..
  72. ^ Peskes, Esther (2000). "Wahhābiyya". Encyclopaedia of Islam 11 (2nd ed.). Brill Academic Publishers. pp. 40, 42. ISBN 9004127569. 
  73. ^ Mark Weston (2008). Prophets and princes: Saudi Arabia from Muhammad to the present. John Wiley and Sons. pp. 102–103. ISBN 978-0-470-18257-4. 
  74. ^ Jerome Taylor (24 September 2011). "Mecca for the rich: Islam's holiest site 'turning into Vegas'". The Independent (independent.co.uk). Diakses tanggal 2012-04-13. 
  75. ^ Ahmad Lutfie (6 September 2014). "Astaga..! Sudah Lima Kali Jenazah Nabi akan Dicuri". Kedaulatan Rakyat Online. Diakses tanggal 12 Februari 2015. 
  76. ^ Nasr, Seyyed Hossein (2007)."Qurʾān". Encyclopædia Britannica Online. Retrieved 24 September2013.
  77. ^ Living Religions: An Encyclopaedia of the World's Faiths, Mary Pat Fisher, 1997, p. 338, I.B. Tauris Publishers.
  78. ^ Lapidus (2002), p. 32
  79. ^ Hourani (2003), p. 22
  80. ^ Esposito(1998), p. 36
  81. ^ Madelung (1996), p. 43
  82. ^ Esposito (1998), pp. 35–36

Bibliografi[sunting | sunting sumber]

  • A.C. Brown, Jonathan (2011). Muhammad: A Very Short Introduction. Oxford University Press. ISBN 9780199559282.
  • A.C. Brown, Jonathan (2014). Misquoting Muhammad: The Challenge and Choices of Interpreting the Prophet's Legacy. Oneworld Publications. ISBN 978-1780744209.
  • Ahmed, Leila (Summer 1986). "Women and the Advent of Islam". Signs. 11 (4): 665–91. doi:10.1086/494271.
  • Ali, Kecia (2014). The Lives of Muhammad. Harvard University Press. ISBN 978-0-674-74448-6.
  • Ali, Muhammad Mohar (1997). The Biography of the Prophet and the Orientalists. King Fahd Complex for the Printing of the Holy Qur'an. ISBN 9960-770-68-0.
  • Wijdan, Ali (23–28 August 1999). "From the Literal to the Spiritual: The Development of Prophet Muhammad's Portrayal from 13th century Ilkhanid Miniatures to 17th century Ottoman Art". Proceedings of the 11th International Congress of Turkish Art. Utrecht, The Netherlands eds. M. Kiel, N. Landman, and H. Theunissen. (7): 1–24.
  • Armstrong, Karen (1992). Muhammad: A Biography of the Prophet. Harpercollins. ISBN 0-06-250886-5.
  • Awde, Nicholas (2000). Women in Islam: An Anthology from the Quran and Hadith. Routledge. ISBN 0-7007-1012-4.
  • Ballard, Harold Wayne; Donald N. Penny; W. Glenn Jonas (2002). A Journey of Faith: An Introduction to Christianity. Mercer University Press. ISBN 0-86554-746-7.
  • Barlas, Asma (2002). Believing Women in Islam. University of Texas Press. ISBN 0-292-70904-8.
  • Bogle, Emory C. (1998). Islam: Origin and Belief. Texas University Press. ISBN 0-292-70862-9.
  • Brown, Daniel (2003). A New Introduction to Islam. Blackwell Publishing Professional. ISBN 978-0-631-21604-9.
  • Bullough, Vern L; Brenda Shelton; Sarah Slavin (1998). The Subordinated Sex: A History of Attitudes Toward Women. University of Georgia Press. ISBN 978-0-8203-2369-5.
  • Cohen, Mark R. (1995). Under Crescent and Cross (Reissue ed.). Princeton University Press. ISBN 978-0-691-01082-3.
  • Dakake, Maria Massi (2008). The Charismatic Community: Shi'ite Identity in Early Islam. SUNY Press. ISBN 0-7914-7033-4.
  • Donner, Fred (1998). Narratives of Islamic Origins: The Beginnings of Islamic Historical Writing. Darwin Press. ISBN 0-87850-127-4.
  • Ernst, Carl (2004). Following Muhammad: Rethinking Islam in the Contemporary World. University of North Carolina Press. ISBN 0-8078-5577-4.
  • Esposito, John (1998). Islam: The Straight Path. Oxford University Press. ISBN 0-19-511233-4.
  • Esposito, John (1999). The Islamic Threat: Myth Or Reality?. Oxford University Press. ISBN 0-19-513076-6.
  • Esposito, John (2002). What Everyone Needs to Know About Islam. Oxford University Press. ISBN 0-19-515713-3.
  • Farah, Caesar (1994). Islam: Beliefs and Observances (5th ed.). Barron's Educational Series. ISBN 978-0-8120-1853-0.
  • Glubb, John Bagot (2002) [1970]. The Life and Times of Muhammad. Hodder & Stoughton. ISBN 0-8154-1176-6.
  • Goldman, Elizabeth (1995). Believers: spiritual leaders of the world. Oxford University Press. ISBN 0-19-508240-0.
  • Goldman, Ann; Richard Hain; Stephen Liben (2006). Oxford Textbook of Palliative Care for Children. Oxford University Press. ISBN 0-19-852653-9.
  • Haaren, John Henry; Addison B. Poland (1904). Famous Men of the Middle Ages. University Publishing Company. ISBN 1-882514-05-X.
  • Al-Hibri, Azizah Y. (2003). "An Islamic Perspective on Domestic Violence". 27 Fordham International Law Journal 195.
  • Holt, P. M.; Ann K. S. Lambton; Bernard Lewis (1977). The Cambridge History of Islam (Paperback). Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-29135-4.
  • Hourani, Albert; Ruthven, Malise (2003). A History of the Arab Peoples. Belknap Press; Revised edition. ISBN 978-0-674-01017-8.
  • ibn Isa, Muhammad (Imam Tirmidhi) (2011). Syama'il Muhammadiyah: KeanggunanMu Ya Rasulullah (Hardcover) (in Arabic and Malay). Malaysia: PTS Islamika Sdn. Bhd. p. 388. ISBN 978-967-3-66064-3.
  • Ishaq, Ibn (2002). Guillaume, Alfred, ed. The Life of Muhammad: A Translation of Ibn Ishaq's Sirat Rasul Allah. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-636033-1.
  • Jacobs, Louis (1995). The Jewish Religion: A Companion. Oxford University Press. ISBN 0-19-826463-1.
  • Kelsay, John (1993). Islam and War: A Study in Comparative Ethics. Westminster John Knox Press. ISBN 0-664-25302-4.
  • Khan, Majid Ali (1998). Muhammad The Final Messenger. Islamic Book Service, New Delhi, 110002 (India). ISBN 81-85738-25-4.
  • Kochler, Hans (1982). Concept of Monotheism in Islam & Christianity. I.P.O. ISBN 3-7003-0339-4.
  • Lapidus, Ira (2002). A History of Islamic Societies (2nd ed.). Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-77933-3.
  • Larsson, Göran (2003). Ibn Garcia's Shu'Ubiyya Letter: Ethnic and Theological Tensions in Medieval Al-Andalus. Brill Academic Publishers. ISBN 90-04-12740-2.
  • Lewis, Bernard (2002) [1993]. The Arabs in History. Oxford University Press. ISBN 0-19-280310-7.
  • Lewis, Bernard (1992). Race and Slavery in the Middle East: An Historical Enquiry (Reprint ed.). Oxford University Press, USA. ISBN 978-0-19-505326-5.
  • Lewis, Bernard (21 January 1998). "Islamic Revolution". The New York Review of Books.
  • Lings, Martin (1983). Muhammad: His Life Based on the Earliest Sources. Islamic Texts Society. ISBN 978-0-946621-33-0. US edn. by Inner Traditions International, Ltd.
  • Madelung, Wilferd (1997). The Succession to Muhammad: A Study of the Early Caliphate. Cambridge University Press. ISBN 0-521-64696-0.
  • Momen, Moojan (1985). An Introduction to Shi'i Islam: The History and Doctrines of Twelver Shiʻism. Yale University Press. ISBN 0-300-03531-4.
  • Neusner, Jacob (2003). God's Rule: The Politics of World Religions. Georgetown University Press. ISBN 0-87840-910-6.
  • Nigosian, S. A. (2004). Islam:Its History, Teaching, and Practices. Indiana University Press. ISBN 0-253-21627-3.
  • Ordoni, Abu Muhammad; Muhammad Kazim Qazwini (1992). Fatima the Gracious. Ansariyan Publications. ASIN B000BWQ7N6.
  • Peters, Francis Edward (2003). Islam: A Guide for Jews and Christians. Princeton University Press. ISBN 0-691-11553-2.
  • Peters, Francis Edward (2003). The Monotheists: Jews, Christians, and Muslims in Conflict and Competition. Princeton University Press. ISBN 0-691-11461-7. ASIN: B0012385Z6.
  • Peters, Francis Edward (1994). Muhammad and the Origins of Islam. SUNY Press. ISBN 0-7914-1876-6.
  • Peters, F. E. (1991). "The Quest of the Historical Muhammad". International Journal of Middle East Studies. 23 (3): 291–315. doi:10.1017/S0020743800056312.
  • Peterson, Daniel (2007). Muhammad, Prophet of God. Wm. B. Eerdmans Publishing Company. ISBN 0-8028-0754-2.
  • Rahman, Fazlur (1979). Islam. University of Chicago Press. ISBN 0-226-70281-2.
  • Ramadan, Tariq (2007). In the Footsteps of the Prophet: Lessons from the Life of Muhammad. Oxford University Press. ISBN 0-19-530880-8.
  • Razwi, Ali Asgher (1997). A Restatement of the History of Islam and Muslims. World Federation of K S I Muslim Communities Islamic Centre. ISBN 0-9509879-1-3.
  • Reeves, Minou (2003). Muhammad in Europe: A Thousand Years of Western Myth-Making. NYU Press. ISBN 978-0-8147-7564-6.
  • Robinson, David (2004). Muslim Societies in African History. Cambridge University Press. ISBN 0-521-82627-6.
  • Rodinson, Maxime (2002). Muhammad: Prophet of Islam. Tauris Parke Paperbacks. ISBN 1-86064-827-4.
  • Rue, Loyal (2005). Religion Is Not about God: How Spiritual Traditions Nurture Our Biological. Rutgers. ISBN 0-8135-3955-2.
  • Serin, Muhittin (1998). Hattat Aziz Efendi. Istanbul. ISBN 975-7663-03-4. OCLC 51718704.
  • Sikand, Yoginder (2004). Muslims in India since 1947: Islamic perspectives on inter-faith relations. London: RoutledgeCurzon. ISBN 0-415-31486-0.
  • Tabatabae, Sayyid Mohammad Hosayn. AL-MIZAN:AN EXEGESIS OF THE QUR'AN, translation by S. Saeed Rizvi. WOFIS. ISBN 964-6521-14-2.
  • Teed, Peter (1992). A Dictionary of Twentieth Century History. Oxford University Press. ISBN 0-19-211676-2.
  • Turner, Colin (2005). Islam: The Basics. Routledge. ISBN 0-415-34106-X.
  • Watt, W. Montgomery (1961). Muhammad: Prophet and Statesman. Oxford University Press. ISBN 0-19-881078-4. (New edition 1974)
  • Watt, W. Montgomery (1956). Muhammad at Medina. Oxford University Press. ISBN 0-19-577307-1.
  • Watt, W. Montgomery (1953). Muhammad at Mecca. Oxford University Press. ISBN 0-19-577277-6. ASIN: B000IUA52A.

Koordinat: 24°28′3,22″LU 039°36′41,18″BT / 24,46667°LU 39,6°BT / 24.46667; 39.60000 (Green Dome)