Keuskupan Bogor

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Keuskupan Bogor

Dioecesis Bogorensis
Coat of arms of Paskalis Bruno Syukur.png
Lambang Uskup Bogor,
Mgr. Paskalis Bruno Syukur, O.F.M.
Lokasi
Negara Indonesia
WilayahBogor, Banten
Provinsi GerejawiJakarta
Koordinat6°35′49″S 106°47′36″E / 6.5970°S 106.7932°E / -6.5970; 106.7932
Statistik
Luas wilayah18,368 km2 (7,092 sq mi)[1]
Populasi
- Total
- Katolik
(per 2015)
18,010,983
116,138 (0,64%)
Jumlah paroki22
Jumlah ordo religius31
Informasi
DenominasiKatolik Roma
RitusRitus Latin
Sebelumnya
  • Prefektur Apostolik Sukabumi (9 Desember 1948–3 Januari 1961)
Didirikan9 Desember 1948 (70 tahun, 227 hari)
KatedralGereja Katedral Santa Perawan Maria, Bogor
AlamatJl. Kapt. Muslihat No. 22, Kota Bogor 16122, Jawa Barat
Jumlah imam58
Kepemimpinan saat ini
PausFransiskus
UskupMgr. Paskalis Bruno Syukur, O.F.M.[2]
Vikaris JenderalR.D. Paulus Haruna[3]
Vikaris YudisialR.D. Yohanes Driyanto[4]
SekretarisR.D. Yustinus Monang Damanik[4]
EkonomR.D. Stefanus Sri Haryono Putro[4]
Uskup EmeritusMgr. Cosmas Michael Angkur, O.F.M.
(Uskup, 1994–2013)
Situs web
keuskupanbogor.org

Keuskupan Bogor merupakan keuskupan sufragan dari Keuskupan Agung Jakarta. Wilayahnya meliputi 18.400 km2 di enam kabupaten di Provinsi Jawa Barat dan Banten, berpusat di Bogor. Umat Katolik di Keuskupan Bogor berjumlah sekitar 90.000 dan tersebar dalam 23 paroki dan dilayani oleh 72 imam.

Imam diosesan (Praja) dikembangkan sejak awal di Keuskupan Bogor dan sekarang berjumlah 42 orang. Jumlah imam dari tarekat religius 14 orang. Rata-rata setiap imam melayani keperluan rohani 1.607 orang umat.

Keuskupan Bogor memiliki ikon katekese yaitu, Mamedo. Mamedo adalah Boneka peraga yang dibuat untuk berkatekese dalam mengenalkan Yesus Kristus. Mamedo adalah akronim dari Magnificat Anima Mea Dominum, sebagai semboyan Bapa Uskup Paskalis.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

  • Didirikan sebagai Prefektur Apostolik Sukabumi pada tanggal 9 Desember 1948, memisahkan diri dari Vikariat Apostolik Batavia
  • Ditingkatkan menjadi Keuskupan Bogor pada tanggal 3 Januari 1961

Walaupun kontak pertama agama Katolik yang dibawa para pedagang Portugis dengan penduduk Banten yang beragama Hindu terjadi di awal abad ke-16, namun baru pada pertengahan abad ke-19 Bogor dikunjungi oleh imam dari Batavia (Jakarta) untuk merayakan Ekaristi. Pada 1885 Pastor MYD Claessens Pr menetap di Bogor. Ia juga mendirikan gereja di Sukabumi (1896) dan membangun gereja yang sekarang menjadi katedral Bogor. Pada tahun 1929 imam-imam Fransiskan Konventual (OFM Kon) mulai bekerja di Batavia (Jakarta) dan berangsur-angsur mereka membina stasi-stasi Rangkasbitung (1933), Cianjur (1933), Cicurug (1934) dan Serang (1939). Dalam perkembangan selanjutnya kemudian dibentuklah suatu Prefektur Apostolik Sukabumi dipisahkan dari Vikariat Apostolik Batavia (Jakarta) pada 9 Desember 1948, dan pembinaannya diserahkan kepada Ordo Fransiskan (OFM Kon). Dengan berdirinya hierarki Gereja Katolik mandiri di Indonesia pada 3 Januari 1961, paroki Bogor digabungkan dengan Prefektur Apostolik Sukabumi menjadi Keuskupan Bogor.

Gembala[sunting | sunting sumber]

Prefek Apostolik Sukabumi[sunting | sunting sumber]

Uskup Bogor[sunting | sunting sumber]

Paternus Nicholas Joannes Cornelius Geise, O.F.M. (3 Januari 1961–16 Oktober 1961; administrator apostolik)

Paroki[sunting | sunting sumber]

Dekanat Barat[sunting | sunting sumber]

  • Gereja Santa Maria Tak Bernoda, Rangkasbitung, Banten (1888)
  • Gereja Kristus Raja, Serang, Banten (1950)

Dekanat Selatan[sunting | sunting sumber]

  • Gereja Hati Maria Tak Bernoda, Cicurug (1951)
  • Gereja Santo Fransiskus Asisi, Cibadak
  • Gereja Santo Joseph, Sukabumi (1927)
  • Gereja Santo Petrus, Cianjur (1931)
  • Gereja Santa Maria Ratu Para Malaikat, Cipanas (1948)

Dekanat Tengah[sunting | sunting sumber]

Dekanat Utara[sunting | sunting sumber]


Referensi[sunting | sunting sumber]

  • MAWI, Buku Petunjuk Gereja Katolik Indonesia 1986, hal 43-44
  • CLC, Ensiklopedi Populer Tentang Gereja Katolik di Indonesia, 1989, HAL 46-49

Pranala luar[sunting | sunting sumber]