Keuskupan Agung Palembang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Keuskupan Agung Palembang
Informasi
Latin Archidioecesis Palembangensis
Uskup Agung Mgr. Aloysius Sudarso, SCJ
Vikjen RP. Felix Astono Atmaja, SCJ
Sekretaris keuskupan RD. Fransiskus Xaverius Edi Prasetyo
Ekonom RD. Emmanuel Belo Sede
Katedral Santa Maria, Palembang
Alamat keuskupan JI. Tasik 18, Palembang - Sumatera Selatan
Pusat Palembang
Sejarah
Berdiri 3 Januari 1961, 1 Juli 2003 menjadi Keuskupan Agung
Sebelumnya Vikariat Apostolik Palembang (13 Juni 1939)
Statistik
Jumlah paroki 26
Luas wilayah 157.000 km²

Keuskupan Agung Palembang (Latin: Archidioecesis Palembangensis) merupakan wilayah formal Gereja Katolik Roma yang melayani wilayah Sumatera Selatan (Palembang), Jambi, dan Bengkulu. Wilayah pelayanan Keuskupan Agung Palembang luasnya mencapai 157.000 km²2. Pusat Keuskupan Agung Palembang terletak di Kota Palembang.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Imam Jesuit[sunting | sunting sumber]

Sampai tahun 1911, daerah Palembang, Jambi, Bengkulu, dan Lampung dilayani oleh imam-imam dari tiga paroki. Paroki Sungai Selan (Bangka) yang dibuka tahun 1853 dengan imam pertamanya Pastor Jan Langenhoff (1853-1867). Selain melayani Bangka dan Belitung, paroki ini juga melayani umat Katolik di Palembang dan Jambi. Sementara paroki Padang melayani umat Katolik di Bengkulu. Umat Katolik di Lampung dilayani oleh imam-imam Jesuit dari Batavia.

Sesudah Pastor Jan Langenhoff meninggalkan paroki Sungai Selatan tahun 1867, paroki Sungai Selan dilayani oleh imam-imam Jesuit dari Batavia dalam waktu yang pendek. Tercatat imam-imam Jesuit yang pernah melayani paroki Sungai Selan adalah Pastor Arnoldus Korstenhorst dan Pastor Johannes de Vries. Pada tahun 1884, Residen Palembang, G. J. du Cloux menawarkan pada Pastor Arnoldus Korstenhorst agar misi Katolik membuka misi di Pasemah. Berita itu diteruskan kepada Mgr. Adamus Claessens, Vikaris Apostolik Batavia. Pada 11 April 1887, Pastor Johannes van Meurs, seorang imam Jesuit, memperoleh izin dari Otto van Rees, gubernur jenderal Hindia Belanda untuk tinggal di antara orang-orang Pasemah. Tetapi izin itu bukan untuk menjalankan misi di daerah itu, melainkan hanya sebagai peneliti bahasa dan budaya orang-orang Pasemah. Sejak tahun 1888, Pastor Johannes van Meurs sudah tinggal di Pasemah yaitu di Tanjung Sakti. Pada tahun itu juga, gubernur jenderal Hindia Belanda, C. Picjnakers Hordijk memberi izin Pastor Johannes van Meurs untuk mengadakan misi di antara orang-orang Pasemah.

Pada 1 September 1888, Pastor Johannes van Meurs membuka dua sekolah di Tanjung Sakti. Sampai tahun 1890, di Tanjung Sakti terdapat 8 orang Katolik semuanya orang-orang pribumi. Pada April 1891, Pastor Johannes van Meurs meninggalkan Tanjung Sakti karena sakit keras. Pada 8 Agustus 1891, ia meninggal dunia di Sukabumi.

Pada Juni 1891, Pastor Leonardus Jennissen, imam Jesuit, datang ke Tanjung Sakti meneruskan karya misi dari Pastor Johannes van Meurs. Seorang bruder Jesuit, Bruder Jacobus Verster juga datang ke Tanjung Sakti. Bruder ini mengelola sekolah-sekolah yang sudah dibuka dan membangun sebuah gereja kecil di Tanjung Sakti. Tahun 1898, di Tanjung Sakti terdapat 325 orang Katolik yang sudah dibaptis dan Tanjung Sakti sudah menjadi paroki sendiri. Paroki ini sempat ditinggalkan sementara oleh Pastor Leonardus Jennissen yang pindah ke Padang. Pada tahun 1901, Pastor Leonardus Jennissen dapat kembali lagi ke Tanjung Sakti. Beberapa imam Jesuit yang melayani Sungai Selan sempat mengunjungi Tanjung Sakti untuk sementara dalam perjalanan pastoral ke Palembang. Tahun 1902, Pastor Arnoldus Korstenhorst yang mengunjungi umat Katolik di Palembang, meneruskan perjalanannya ke Tanjung Sakti. Pada tahun 1904, Mgr. Wilhelmus Staal, Vikaris Apostolik Batavia, mengunjungi Tanjung Sakti untuk menerimakan Sakramen Krisma dan membaptis beberapa orang Katolik. Ia tinggal selama lima hari di Tanjung Sakti, kemudian meneruskan perjalanannya ke Bengkulu. Dari Tanjung Sakti, Pastor Leonardus Jennissen juga melayani daerah-daerah lain di sekitarnya seperti Muara Enim dan Bengkulu. Tahun 1910, jumlah umat Katolik di Tanjung Sakti sekitar 600 orang.

Imam-imam Kapusin (OFM Cap)[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 1911, Vatikan mendirikan Prefektur Apostolik Sumatera, berpusat di Padang. Imam-imam Kapusin dari Provinsi Kapusin Belanda memperoleh tanggung terhadap pelayanan Prefektur Apostolik Sumatera. Tanjung Sakti tetap menjadi satu-satunya paroki di wilayah bagian Selatan Sumatra. Palembang dan Jambi tetap dilayani oleh imam-imam Kapusin di Sungai Selan, Bangka. Sementara umat Katolik di Bengkulu dan Lampung dilayani oleh imam-imam Kapusin di Padang.

Imam-imam SCJ[sunting | sunting sumber]

Pada 27 Desember 1923, Vatikan mendirikan Prefektur Apostolik Bengkulu dengan pusatnya di Tanjung Sakti. Prefektur Apostolik Bengkulu melayani seluruh wilayah Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, dan Jambi; luasnya 5,5 kali luas Belanda. Imam-imam SCJ dipercaya menangani Prefektur Apostolik Bengkulu. Untuk membuka misi, Provinsi SCJ Belanda mengutus 3 misionaris yaitu Pastor Henricus van Oort, Pastor Carolus van Stekelenburg, dan Bruder Felix van Langenberg. Seorang imam SCJ yang berkarya di Kongo yaitu Pastor Henricus Smeets diangkat sebagai Prefek Apostolik Bengkulu yang pertama. Prefektur Apostolik Bengkulu baru memiliki sekitar 500 orang Katolik ketika pertama kali didirikan.

Selain paroki Tanjung Sakti yang lebih dulu didirikan, imam-imam SCJ juga membuka berbagai paroki di perkotaan di Bengkulu, Palembang, Jambi, dan Lampung. Pada Paskah 1925, Pastor Henricus van Oort membuka paroki di Palembang diberinama Paroki Hati Kudus. Tahun 1928, Pastor Mattheus Neilen membuka paroki di Bengkulu. Paroki Tanjung Karang dibuka oleh Pastor Henricus van Oort tahun 1927. Paroki Lahat didirikan tahun 1930 dan Paroki Jambi didirikan tahun 1935. Selain membuka paroki-paroki di perkotaan, imam-imam SCJ juga membuka paroki-paroki di antara orang-orang Jawa di Lampung, hasil dari program kolonisatie pemerintah Hindia Belanda. Beberapa paroki di pedalaman Lampung yang dibuka di antara orang-orang Jawa yakni: Pringsewu (1934), Metro (1937), dan Pasuruan-Karangsari (1939).

Pendudukan Jepang dan Perang Kemerdekaan[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 1942, bala tentara Jepang berhasil menaklukan Hindia Belanda. Dengan demikian seluruh wilayah Indonesia berada di bawah kekuasan Jepang. Dampak pendudukan Jepang dari tahun 1942-1945 sangat dirasakan oleh Gereja Katolik di Indonesia, termasuk di Vikariat Apostolik Palembang. Di Vikariat Apostolik Palembang banyak umat Katolik meninggalkan imannya. Para misionaris dijebloskan dalam kamp Jepang antara lain di kamp Palembang, kamp Bengkulu, kamp Kepahyang (Bengkulu), dan kamp Muntok (Bangka). Banyak imam, biarawan dan biarawati yang meninggal dunia dalam kamp Jepang.

Setelah Jepang kalah perang, disusul kemudian meletusnya perang kemerdekaan. Di tengah-tengah berkecamuknya perang kemerdekaan, Pastor Theodorus Borst, SCJ mengambil langkah berani membuka dua paroki yakni: Paroki Baturaja dan Paroki Batuputih, kedua paroki ini dibuka pada tahun 1948. Selain itu dibuka sekolah-sekolah di Paroki Baturaja dan Paroki Batuputih.

Karya Gereja Katolik di Vikariat Apostolik Palembang selama masa perang kemerdekaan masih terpusat di kota Palembang saja. Para biarawan/wati membuka sekolah-sekolah di kota Palembang dari SD hingga SMP.

Pasca Kemerdekaan[sunting | sunting sumber]

Sejak Indonesia memperoleh kedaulatan penuh, karya Gereja Katolik di Vikariat Apostolik Palembang dipulihkan. Paroki-paroki yang sudah didirikan sebelum tahun 1940-an, mulai dibuka kembali. Karya pendidikan dan karya kesehatan mulai melayani masyarakat.

Pada 19 Juni 1952, Vatikan mengeluarkan kebijakan penting dengan menetapkan daerah misi Lampung sebagai Prefektur Apostolik Tanjung Karang, terpisah dari Vikariat Apostolik Palembang. Pastor Albertus Hermelink, SCJ diangkat sebagai Prefek Apostolik Tanjung Karang yang pertama.

Pada tahun 1950-an, beberapa paroki baru dibuka yakni Paroki Tugumulyo (1952) dan Paroki Gumawang (1958). Kedua paroki ini dibuka di antara orang-orang Jawa yang datang ke Sumatera Selatan setelah pemerintah Indonesia melancarkan kembali kebijakan transmigrasi.

Karya penting lain adalah dibukanya sekolah-sekolah baru mulai dari SD hingga SMA di berbagai paroki di Vikariat Apostolik Palembang.

Menjadi Gereja Katolik Mandiri[sunting | sunting sumber]

Hirarki Gerejani Indonesia terbentuk pada 3 Januari 1961. Dengan demikian Gereja Katolik di Indonesia menjadi Gereja Katolik yang mandiri, bukan lagi sebuah daerah misi. Vikariat Apostolik Palembang berubah statusnya menjadi Keuskupan Palembang. Mgr. Henricus Mekkelholt, SCJ sebagai Uskup Palembang yang pertama. Tidak lama kemudian, Mgr. Henricus Mekkelholt, SCJ mulai sakit-sakitan. Sehingga ia memohon kepada Vatikan agar seorang uskup pembantu dilantik untuk membantunya dalam menjalankan tugas penggembalaan umat Katolik di Keuskupan Palembang. Pastor Joseph Hubertus Soudant, SCJ diangkat sebagai Uskup Pembantu pada 29 Juni 1961. Setelah Mgr. Henricus Mekkelholt, SCJ mengundurkan diri dari jabatan sebagai Uskup Palembang, maka Mgr. Joseph Soudant, SCJ melanjutkan tugas penggembalaan Keuskupan Palembang sejak 5 April 1963 hingga 20 Mei 1997.

Pada masa kepemimpinan Mgr Joseph Soudant, SCJ seturut keputusan Tahta Suci ditahbiskanlah seorang uskup pembantu yakni Mgr. Aloysius Sudarso, SCJ. Setelah Mgr. Joseph Soudant, SCJ memasuki masa purna jabatan pada 20 Mei 1997, maka Mgr. Aloysius Sudarso, SCJ ditetapkan sebagai Uskup Palembang.

Keuskupan Agung Palembang[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan keputusan Tahta Suci, pada 1 Juli 2003, Paus Yohanes Paulus II, melalui surat kabar L'Osservatore Romano mengumumkan:

Berdasarkan keputusan itu, Keuskupan Palembang ditetapkan sebagai Keuskupan Agung Palembang, dengan Keuskupan-keuskupan Sufragan: Tanjung Karang dan Pangkal Pinang.[1] Mgr. Al. Sudarso, SCJ yang sebelumnya menjabat Uskup Palembang diangkat menjadi Uskup Agung Palembang.

Uskup[sunting | sunting sumber]

Biarawan/wati[sunting | sunting sumber]

  • Kongregasi imam-imam Hati Kudus Yesus (SCJ), berkarya sejak tahun 1925.
  • Kongregasi suster-suster Fransiskanes Charitas (F. Ch), berkarya sejak tahun 1925.
  • Kongregasi suster-suster Hati Kudus Yesus (HK), berkarya sejak tahun 1927.
  • Kongregasi suster-suster Santo Carolus Borromeus (CB), berkarya sejak tahun 1929.
  • Kongregasi frater-frater Bunda Hati Kudus (BHK), berkarya sejak tahun 1938.
  • Kongregasi suster-suster Fransiskanes Misionaris Maria (FMM), berkarya sejak tahun 1952.
  • Kongregasi Suster-suster Jean Delanoe (SJD), berkarya sejak tahun 1975.
  • Kongregasi bruder-bruder Santa Perawan yang Dikandung Tak Bernoda (FIC), berkarya sejak tahun 1982.
  • Kongregasi imam-imam Hati Kudus (MSC), berkarya sejak tahun 2008.

Paroki[sunting | sunting sumber]

  • Dekanat I (Palembang)
    • Hati Kudus
    • Katedral Santa Maria
    • Santo Yoseph
    • Santo Fransiskus de Sales
    • Santo Paulus
    • Santa Maria Ratu Rosario
    • Santo Petrus
    • Allah Maha Murah
    • Santo Stefanus
  • Dekanat II (Belitang, Batu Raja, OKI)
    • Sang Penebus (Batu Putih)
    • Santo Petrus dan Paulus (Batu Raja)
    • Trinitas (Bangunsari)
    • Santa Maria Perawan (Mojosari)
    • Santa Maria Tak Bernoda (Gumawang)
    • Para Rasul Kudus (Tegal Sari)
    • Kristus Raja (OKI)


Karya Gereja Katolik[sunting | sunting sumber]

  • Karya Kesehatan
    • RS. St. Antonio,Baturaja
    • RS. Charitas, Palembang
    • RS. Myria, Palembang
    • RS. St. Theresia, Jambi
    • RS. Bhaktiningsih, Gumawang
    • BP. Xaverius, Baturaja
    • BP. Xaverius, Tegal Arum.
    • BP. St. Carolus, Bengkulu
    • BP. St. Yoseph, Muara Bungo
    • BP. St. Yoseph, Lahat
    • BP. Mataram, Tugumulyo.
    • BP-RB. Bhakti Kasih, Sekojo
    • BP-RB. Kartini, Talang Kelapa
    • BP. Charitas, Tegalsari
    • BP. Charitas, Argamakmur

Populasi Umat Katolik[sunting | sunting sumber]

  • Jumlah Penduduk: 10,828,441 (2003)
  • Umat Katolik: 76,201 (0.7%)

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]