Kalium hidroksida

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Kalium hidroksida
Gambar
Gambar
Identifikasi
Nomor CAS 1310-58-3
PubChem 14797
Nomor EINECS 215-181-3
ChEBI 32035
ChemSpider 14113
Nomor RTECS TT2100000
SMILES [K+].[OH-]
InChI 1/K.H2O/h;1H2/q+1;/p-1
Sifat
Rumus molekul KOH
Massa molar 56.11 g mol−1
Penampilan padatan putih, higroskopis
Bau tak berbau
Densitas 2.044 g/cm3 (20 °C)[1]
2.12 g/cm3 (25 °C)[2]
Titik lebur
Titik didih
Kelarutan dalam air 85 g/100 g (-23.2 °C)
97 g/100 mL (0 °C)
121 g/100 mL (25 °C)
138.3 g/100 mL (50 °C)
162.9 g/100 mL (100 °C)[1][3]
Kelarutan larut dalam alkohol, gliserol
tidak larut dalam eter, cairan amonia
Kelarutan dalam metanol 55 g/100 g (28 °C)[2]
Kelarutan dalam isopropanol ~14 g / 100 g (28 °C)
Kebasaan (pKb) −0.7[4](KOH(aq) = K+ + OH)
−22.0·10−6 cm3/mol
Indeks bias (nD) 1.409 (20 °C)
Struktur
Struktur kristal rombohedral
Termokimia
Entalpi pembentukan standarfHo) -425.8 kJ/mol[2][6]
Entropi molar standar (So) 79.32 J/mol·K[2][6]
Kapasitas kalor (C) 65.87 J/mol·K[2]
Energi bebas GibbsfG) -380.2 kJ/mol[2]
Bahaya
Klasifikasi EU Korosif C Berbahaya Xn
NFPA 704
NFPA 704.svg
0
3
1
 
Frasa-R R22, R35
Frasa-S (S1/2), S26, S36/37/39, S45
Titik nyala Tidak mudah terbakar
Batas imbas kesehatan Amerika Serikat (NIOSH):
LD50 273 mg/kg (oral, tikus)[7]
Senyawa terkait
Anion lain
Kalium hidrosulfida
Kalium amida
Kation lainnya Litium hidroksida
Natrium hidroksida
Rubidium hidroksida
Sesium hidroksida
Kecuali dinyatakan lain, data di atas berlaku
pada temperatur dan tekanan standar (25 °C, 100 kPa)

Sangkalan dan referensi

Kalium hidroksida adalah suatu senyawa anorganik dengan rumus kimia KOH, dan umumnya disebut sebagai potash kaustik.

Bersama dengan natrium hidroksida (NaOH), padatan tak berwarna ini adalah suatu basa kuat. Senyawa ini memiliki banyak aplikasi industri dan niche, sebagian besar yang memanfaatkan sifat korosif dan reaktivitasnya terhadap asam. Diperkirakan 700,000 hingga 800,000 ton telah diproduksi pada tahun 2005. Sekitar 100 kali lebih banyak NaOH dibanding KOH diproduksi setiap tahunnya.[9] KOH penting sebagai prekursor dalam pembuatan sabun yang paling lembut dan cair serta berbagai bahan kimia yang mengandung kalium.

Sifat dan struktur[sunting | sunting sumber]

Kalium hidroksida dapat ditemukan dalam bentuk murni dengan mereaksikan natrium hidroksida dengan kalium tidak murni. Hal ini biasanya dijual sebagai pelet tembus pandang, yang akan menjadi lekat di udara karena KOH merupakan higroskopis. Akibatnya, KOH biasanya mengandung berbagai jumlah air (serta karbonat, lihat di bawah). Kelarutan dalam air merupakan sangat eksotermik. larutan berair ini terkadang disebut cairan alkali (lye) kalium. Bahkan pada suhu tinggi, padatan KOH tidak mengalami dehidrasi dengan mudah.[10]

Larutan kalium hidroksida dengan konsentrasi sekitar 0.5 sampai 2.0% tersebut mengiritasi ketika bersentuhan dengan kulit, sedangkan konsentrasi yang lebih tinggi dari 2% bersifat korosif.[11]

Struktur[sunting | sunting sumber]

Pada suhu tinggi, padatan KOH membentuk kristal dalam struktur kristal NaCl. Gugus OH baik secara cepat atau secara acak menjadi tidak teratur sehingga gugus OH secara efektif merupakan anion sferis dengan radius 1.53 Å (antara Cl dan F berdasarkan ukuran). Pada suhu kamar, gugus OH teratur dan lingkungan di sekitar pusat K+ terdistorsi, dengan jarak K+—OH memiliki rentang antara 2.69 hingga 3.15 Å, bergantung pada orientasi gugus OH. KOH membentuk suatu deretan hidrat kristalin, bernama monohidrat KOH·H2O, dihidrat KOH·2 H2O, dan tetrahedrat KOH·4 H2O.[12]

Kelarutan dan sifat desikasi[sunting | sunting sumber]

Kira-kira 121 g KOH akan larut dalam 100 ml air pada suhu kamar dibandingkan dengan 100 g NaOH dalam volume yang sama (secara molar, KOH sedikit lebih larut dari NaOH). Alkohol dengan bBerat molekul lebih rendah seperti metanol, etanol, dan propanol juga merupakan pelarut yang sangat baik.

Karena tingginya afinitas untuk air, KOH berfungsi sebagai pengering dalam laboratorium. Hal ini sering digunakan untuk mengeringkan pelarut basa, terutama amina dan piridina: distilasi cairan basa ini dari bubur KOH menghasilkan pereaksi anhidrat.

Stabilitas termal[sunting | sunting sumber]

Seperti NaOH, KOH memperlihatkan stabilitas termal yang tinggi. Spesi gas merupakan dimer. Karena kestabilannya yang tinggi dan titik leleh yang relatif rendah, senyawa ini sering dicetak-leleh sebagai pelet atau batang, bentuk yang memiliki luas permukaan rendah dan sifat kemudahan dalam penanganannya.

Produksi[sunting | sunting sumber]

Dalam sejarah, KOH dibuat dengan menambahkan kalium karbonat (potash) dengan larutan kuat kalsium hidroksida, mengarah pada reaksi metatesis yang menyebabkan kalsium karbonat mengendap, meninggalkan kalium hidroksida dalam larutan:

Ca(OH)2 + K2CO3 → CaCO3 + 2 KOH

Penyaringan dari endapan kalsium karbonat dan mendidihkan larutan tersebut menghasilkan kalium hidroksida ("potas dikalsinasi atau potas api"). Hal ini adalah metode yang paling penting dari produksi kalium hidroksida sampai akhir abad ke-19, ketika sebagian besar digantikan saat ini oleh metode elektrolisis larutan kalium klorida.[9]

2 KCl + 2 H2O → 2 KOH + Cl2 + H2

Gas hidrogen terbentuk sebagai produk samping pada katoda; bersamaan, oksidasi anodik dari ion klorida berlangsung, membentuk gas klorin sebagai produk samping. Pemisahan ruang anodik dan katodik dalam sel elektrolisis adalah penting dalam proses ini.[13]

Penggunaan[sunting | sunting sumber]

KOH dan NaOH dapat digunakan secara bergantian untuk sejumlah aplikasi, meskipun dalam industri, NaOH lebih disukai karena biaya yang lebih rendah.

Prekursor bagi senyawa kalium lain[sunting | sunting sumber]

Banyak garam kalium dibuat dengan reaksi netralisasi melibatkan KOH. Garam kalium dari karbonat, sianida, permanganat, fosfat, dan berbagai silikat disusun dengan cara memperlakukan baik oksidanya atau asamnya dengan KOH.[9] Kelarutan tinggi kalium fosfat diharapkan dalam pupuk.

Pembuatan biodiesel[sunting | sunting sumber]

Meskipun lebih mahal daripada menggunakan natrium hidroksida, KOH bekerja dengan baik dalam pembuatan biodiesel melalui transesterifikasi dari trigliserida dalam minyak nabati. Gliserin dari biodiesel diproses-kalium hidroksida berguna sebagai suplemen makanan murah untuk ternak, setelah metanol beracun dihilangkan.[14]

Pembuatan sabun[sunting | sunting sumber]

Saponifikasi dari lemak dengan KOH digunakan untuk mempersiapkan "sabun kalium" yang sesuai, yang lebih lembut dibandingkan sabun pada umumnya - berasal dari natrium hidroksida. Karena kelembutan dan kelarutan yang lebih besar, sabun kalium membutuhkan lebih sedikit air untuk mencairkan, dan dengan demikian dapat berisi agen pembersih lebih banyak dibandingkan sabun cair natrium.[15]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b Lide, D. R., ed. (2005). CRC Handbook of Chemistry and Physics (ke-86 ed.). Boca Raton (FL): CRC Press. p. 4-80. ISBN 0-8493-0486-5. 
  2. ^ a b c d e f http://chemister.ru/Database/properties-en.php?dbid=1&id=325
  3. ^ Seidell, Atherton; Linke, William F. (1952). Solubilities of Inorganic and Organic Compounds. Van Nostrand. Diakses tanggal 2014-05-29. 
  4. ^ Popov, K. et al. (2002). "7Li, 23Na, 39K and 133Cs NMR comparative equilibrium study of alkali metal cation hydroxide complexes in aqueous solutions. First numerical value for CsOH formation". Inorganic Chemistry Communications 5 (3): 223–225. Diakses tanggal 2017-02-19. 
  5. ^ "A18854 Potassium hydroxide". Alfa Aesar. Thermo Fisher Scientific. Diakses tanggal 26 October 2015. 
  6. ^ a b Zumdahl, Steven S. (2009). Chemical Principles 6th Ed. Houghton Mifflin Company. p. A22. ISBN 0-618-94690-X. 
  7. ^ http://chem.sis.nlm.nih.gov/chemidplus/rn/1310-58-3
  8. ^ "NIOSH Pocket Guide to Chemical Hazards #0523". National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH). 
  9. ^ a b c H. Schultz, G. Bauer, E. Schachl, F. Hagedorn, P. Schmittinger "Potassium Compounds" in Ullmann’s Encyclopedia of Industrial Chemistry, 2005, Wiley-VCH, Weinheim. doi:10.1002/14356007.a22_039
  10. ^ Holleman, A. F.; Wiberg, E. "Inorganic Chemistry" Academic Press: San Diego, 2001. ISBN 0-12-352651-5.
  11. ^ Potassium hydroxide, SIDS Initial Assessment Report For SIAM 13. Bern, Switzerland, 6-9 November 2001. By Dr. Thaly LAKHANISKY. Date of last Update: February 2002
  12. ^ Wells, A.F. (1984), Structural Inorganic Chemistry, Oxford: Clarendon Press. ISBN 0-19-855370-6.
  13. ^ Römpp Chemie-Lexikon, 9th Ed. (in german)
  14. ^ James K. Drackley Glycerin as a potential feed ingredient for dairy cattle
  15. ^ K. Schumann, K. Siekmann "Soaps" in Ullmann’s Encyclopedia of Industrial Chemistry 2005, Wiley-VCH, Weinheim. doi:10.1002/14356007.a24_247

Pranala luar[sunting | sunting sumber]