Banteng

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Banteng
Banteng Jawa (Bos javanicus).jpg
Banteng jantan di Taman Nasional Alas Purwo
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Mammalia
Ordo: Artiodactyla
Famili: Bovidae
Subfamili: Bovinae
Genus: Bos
Spesies: B. javanicus
Nama binomial
Bos javanicus
Subspesies
Bos javanicus.png
Sebaran banteng (2008).[2]
Hijau: ditemukan. Merah: mungkin ada
Sinonim[3][4]

Banteng (dari bahasa Jawa: banthèng; nama spesies: Bos javanicus) atau tembadau adalah spesies hewan yang sekerabat dengan sapi dan ditemukan di berbagai wilayah Asia Tenggara. Banteng jantan dan betina memiliki perbedaan yang mencolok (dimorfisme seksual): pejantan biasanya berkulit cokelat gelap atau hitam, berbadan besar dan kekar, sedangkan banteng betina lebih langsing dan memiliki kulit cokelat muda. Banteng memiliki bercak besar berwarna putih di bagian bokong. Baik pejantan maupun betina memiliki tanduk, umumnya dengan panjang 60 hingga 75 cm. Ilmuwan umumnya membaginya menjadi tiga subspesies: banteng jawa, banteng indocina, dan banteng kalimantan. Banteng liar biasanya lebih besar dibandingkan banteng yang telah didomestikasi oleh manusia.

Banteng aktif pada siang dan malam hari, tetapi aktivitas malam lebih umum di daerah yang banyak dikunjungi manusia. Kawanan banteng di alam liar terdiri dari 2 hingga 40 ekor banteng dengan hanya satu pejantan. Banteng adalah hewan dalam golongan herbivora dan memakan berbagai tumbuhan seperti rumput, teki, tunas, daun, bunga, dan buah-buahan. Banteng sering minum air, terutama dari air yang tenang, tetapi mampu bertahan beberapa hari tanpa air di musim kemarau. Fisiologi reproduksi banteng tidak banyak diketahui, tetapi mungkin mirip dengan sapi eropa yang telah banyak diamati. Induk banteng mengandung dalam jangka 285 hari (lebih dari 9 bulan, atau seminggu lebih lama dibandingkan sapi eropa) dan kemudian melahirkan seekor anak banteng saja. Banteng ditemukan di berbagai jenis habitat di jangkauan alamiahnya, termasuk hutan bertumbuhan peluruh, setengah peluruh, bagian bawah hutan montana, lahan pertanian yang ditinggalkan, serta daerah rerumputan.

Populasi banteng liar terbanyak berada di Kamboja, Jawa, Kalimantan (terutama Sabah, Malaysia) dan Thailand. Banteng ternak dapat ditemukan di Bali, pulau-pulau timur Indonesia (seperti Sulawesi, Sumbawa, Sumba), Australia, Malaysia, dan Papua Nugini. Banteng ternak di Indonesia disebut sapi bali, dan jumlahnya mencapai hampir 25% dari seluruh populasi sapi di Indonesia. Peternakan banteng dilakukan untuk menghasilkan daging, dan kadang digunakan sebagai hewan pekerja. Banteng feral ditemukan di Australia Utara (berasal dari banteng ternak yang didatangkan pada masa kolonisasi Britania dan kemudian dilepas dan menjadi liar), dan kemungkinan di Kalimantan Timur, Pulau Enggano, serta Kepulauan Sangihe. Banteng liar dinyatakan sebagai spesies genting dalam Daftar Merah IUCN. Di tempat hidup alamiahnya, banteng liar terancam oleh perburuan liar (untuk makanan, olahraga, obat tradisional, dan diambil tanduknya), hilangnya habitat, fragmentasi habitat, dan penyakit. Banteng dianggap sebagai hewan yang dilindungi di semua negara tempatnya hidup dan sebagian besar hanya ditemukan di daerah yang dilindungi (kecuali mungkin Kamboja).

Taksonomi dan asal-usul[sunting | sunting sumber]

Deskripsi spesies banteng pertama kali dilakukan oleh seorang naturalis Jerman Joseph Wilhelm Eduard d'Alton pada tahun 1823.[4][5] Nama banteng yang diserap dari bahasa Jawa banthèng digunakan sebagai nama umum spesies ini, termasuk dalam bahasa luar Nusantara seperti bahasa Inggris, Prancis, dan Jerman.[6][7][8] Nama-nama lokal lain yang digunakan di daerah jangkauan banteng adalah tembadau atau sapi hutan (Melayu), wau daeng (Thai), ngua pha (Laos), dan tsiane (Myanmar).[8] Deskripsi d'Alton berasal dari dua tengkorak yang berasal dari Pulau Jawa dari seekor pejantan dan seekor betina, tetapi hanya pejantannya yang disebut sebagai banteng oleh d'Alton, sedangkan betinanya ia sebut sebagai sapi liar dari Jawa.[5] Tengkorak-tengkorak ini dibawa ke Museum Nasional Sejarah Alam di Leiden, Belanda. Berbagai nama kemudian digunakan oleh komunitas ilmiah untuk spesies banteng, termasuk Bos leucoprymnus, Bos banteng, Bos bantinger, dan Bos sondaicus. Kemudian, Dirk Albert Hooijer yang bekerja di museum tersebut menyebut bahwa nama yang digunakan d'Alton pada 1823-lah yang merupakan nama pertama yang sah. d'Alton menggunakan nama Bibos javanicus untuk pejantan yang ia deskripsikan, atau bisa dianggap sebagai Bos (Bibos) javanicus jika Bibos adalah subgenus dari Bos.[4][9]

Nama Bos leucoprymnus diajukan pada 1830, tetapi awalnya ditolak karena dianggap mendeskripsikan persilangan antara banteng dengan seekor sapi ternak; tetapi Hooijer menulis bahwa belum tentu deskripsi tersebut merujuk kepada spesies silang, dan kalaupun benar, nama tersebut tetap sah (sebagai sinonim). Namun, nama ini muncul tujuh tahun setelah deskripsi d'Alton sehingga tidak mendapat prioritas. Demikian juga dengan nama Bos banteng yang tercatat pada 1836 dan Bos bantinger pada 1845. Dalam revisi deskripsi d'Alton yang dikeluarkan pada 1845, para penulisnya berpendapat bahwa kedua spesimen tersebut adalah sapi liar dan menyebutnya Bos sundaicus. Salah satu kesalahan dalam tulisan ini adalah spesimen betina dianggap sebagai pejantan muda, dan kesalahan ini banyak diikuti tulisan-tulisan selanjutnya.[4]

Subspesies[sunting | sunting sumber]

Perbedaan ciri wajah banteng indocina (kiri) dan banteng jawa (kanan) (Proceedings of the Zoological Society of London, 1898)

Dari perbedaan fenotipe, terdapat tiga subspesies yang diakui secara umum, walaupun tidak semua penulis menerima penggolongan ini, dengan alasan seringnya terjadi persilangan antara populasi banteng yang tinggal sedikit dengan kerabat-kerabat sapi lainnya. Ketiga subspesies ini adalah:[1][3][10]

  • Banteng jawa (B. j. javanicus) d'Alton, 1823: Terdapat di Jawa dan mungkin Bali.
  • Banteng indocina atau banteng birma (B. j. birmanicus) Lydekker, 1898: Terdapat di daratan Asia Tenggara
  • Banteng kalimantan atau banteng borneo (B. j. lowi) Lydekker, 1912: Hanya ada di Kalimantan.

Penelitian filogeni yang dilakukan pada 2015 memperoleh genom mitokondria lengkap dari banteng kalimantan. Hasil ini menunjukkan bahwa banteng kalimantan berkerabat lebih dekat dengan seladang atau gaur (Bos gaurus) dibandingkan subspesies banteng yang lain dan diperkirakan mengalami divergensi sekitar 5,03 juta tahun yang lalu. Selain itu, banteng kalimantan memiliki jarak genetik yang lebih jauh dengan sapi eropa (Bos taurus taurus) maupun sapi zebu (Bos taurus indicus). Hal ini mengindikasikan banteng kalimantan liar tidak banyak bersilangan dengan kedua jenis sapi tersebut sejak divergensi genetik nenek moyang mereka. Peneliti tersebut juga mengusulkan kemungkinan banteng kalimantan dianggap sebagai spesies sendiri. Hubungan filogenetik antara subspesies-subspesies banteng dengan kerabat-kerabatnya ditunjukkan oleh kladogram berikut ini:[11][12]

Bovinae

Boselaphini (antelop bertanduk empat dan nilgai)


Bovini







Banteng kalimantan (Bos javanicus lowi)



Seladang (Bos gaurus) Alert Bison.jpg




Banteng jawa (Bos javanicus javanicus)




Banteng birma (Bos javanicus birmanicus)





Yak (Bos grunniens) Bos grunniens at Letdar on Annapurna Circuit.jpg



Bison amerika (Bison bison) American bison k5680-1.jpg






Bison eropa (Bison bonasus) Bison bonasus bonasus.jpg




Sapi eropa (Bos taurus taurus) 20100516 Vacas Vilarromarís, Oroso-8-1.jpg



Sapi zebu (Bos taurus indicus) Bos taurus indicus (cropped).jpg






Saola (Pseudoryx nghetinhensis) Pseudoryx nghetinhensis, b.PNG




Anoa dan kerbau (Bubalus)




Ciri-ciri[sunting | sunting sumber]

Banteng memiliki bokong berwarna putih.
Kepala banteng jantan, beserta tanduknya.

Banteng memiliki panjang antara 1,9 hingga 2,25 m dari tubuh hingga kepala.[10] Banteng liar biasanya lebih besar dan berat dibanding banteng yang telah diternakkan (seperti sapi bali yang merupakan hasil domestikasi banteng), tetapi selain itu tubuhnya tampak mirip.[13] Rata-rata tinggi pundak banteng jawa dan banteng indocina liar adalah 1,4 m untuk betina dan 1,6 m untuk pejantan, sedangkan banteng kalimantan lebih kecil dan rendah.[13] Berat banteng liar berkisar antara 590–670 kg untuk betina dan 600–800 kg untuk pejantan.[14] Banteng ternak betina dapat mencapai tinggi pundak 1,2 m[13] dengan berat dari 211 hingga 242 kg,[14] sedangkan pejantannya memiliki tinggi 1,3–1,6 m[13] dengan berat 335 hingga 363 kg.[14]

Banteng memiliki dimorfisme seksual (perbedaan sistematis antara pejantan dan betina) yang besar. Pejantan dewasa biasanya berkulit hitam atau cokelat tua, berukuran lebih besar, dan bertubuh lebih kekar, sedangkan betina biasanya berkulit cokelat muda atau merah bata. Banteng betina dan banteng muda memiliki sebuah garis berwarna gelap di sepanjang punggungnya. Sebagian banteng jantan dapat berkulit cokelat, kadang dengan titik-titik putih seperti tutul rusa.[10][13] Pejantan muda memiliki kulit merah bata dan warna dewasanya muncul perlahan-lahan dari depan hingga belakang seiring pertumbuhan. Pejantan yang tua dapat berkulit kelabu. Bagian bawah banteng berwarna putih atau cokelat muda. Wajahnya cenderung berwarna lebih terang dibanding bagian tubuh lainnya, dengan warna putih atau kelabu di dahi dan sekitar mata, tetapi menggelap saat mendekati moncongnya yang berwarna hitam. Terdapat sebuah bercak besar berwarna putih di bokongnya, yang kemungkinan berguna agar banteng dapat tetap mengikuti kawanannya dalam keadaan gelap. Kakinya juga berwarna putih di bawah lutut.[10][15] Banteng memiliki punggung yang tinggi akibat panjangnya vertebra torakalnya (ruas tulang punggung) sehingga seolah-olah memiliki punuk.[13]

Tanduk banteng biasanya berukuran 60 hingga 75 sentimeter dan pangkal kedua tanduk dipisahkan oleh kulit yang tebal. Banteng jantan memiliki tanduk yang panjang, berujung tajam, halus kecuali dekat pangkalnya, dan memiliki penampang lintang berbentuk lingkaran. Banteng betina memiliki tanduk yang lebih pendek yang ujungnya melengkung ke dalam, sementara ujung tanduk pejantan melengkung ke atas dan sedikit ke depan. Ekor banteng memiliki panjang antara 65 hingga 70 cm dengan ujung berwarna hitam.[10]

Lingkungan dan perilaku[sunting | sunting sumber]

Banteng aktif pada siang dan malam hari, walaupun aktivitas malam umumnya terjadi di wilayah dengan banyak interaksi manusia. Banteng umumnya ditemukan dalam kawanan beranggotakan 2 hingga 40 ekor dengan hanya satu pejantan. Pejantan yang lebih tua membentuk kelompok kecil beranggotakan dua atau tiga ekor banteng. Banteng memiliki sifat tertutup dan sangat waspada sehingga sulit didekati manusia. Banteng mencari tempat istirahat dan berlindung dari hujan maupun gangguan manusia di hutan-hutan yang lebat.[10][13][15] Banteng, terutama anak-anak dan betinanya, mampu berjalan cepat dan melewati rintangan dengan mudah di hutan yang lebat.[16] Di Indonesia, banteng liar memiliki reputasi buas dan berbahaya, tetapi para ilmuwan menganggap reputasi ini berlebihan; para peneliti sering berjalan tanpa perlindungan di habitat banteng tanpa masalah berarti. Banteng ternak juga kadang memiliki sifat agresif, tetapi dapat menjadi jinak jika banteng dipelihara dengan banyak kontak manusia. Anak banteng dapat menjadi agresif saat tertekan dan menyerang pagar atau tembok.[13]

Salah satu hewan pemangsa utamanya adalah ajak, kerabat anjing liar dari Asia;[10][17] sedangkan di Taman Nasional Ujung Kulon tercatat macan tutul jawa sebagai pemangsa anak-anak banteng.[18] Banteng memiliki indera penciuman yang kuat, yang berguna untuk mendeteksi predator dan sebagai sarana komunikasi dalam suatu kawanan. Banteng juga memiliki indera pendengaran yang kuat. Saat musim kawin, banteng banyak mengeluarkan suara seperti mengaum dan melenguh. Sementara itu, anak-anak banteng di bawah tujuh bulan dapat mengeluarkan suara "eng" yang lembut. Teriakan nada tinggi digunakan sebagai tanda bahaya.[16]

Makanan[sunting | sunting sumber]

Banteng merupakan herbivora yang memakan berbagai tumbuhan seperti rumput.

Banteng merupakan herbivora dan memakan tumbuhan seperti rumput, teki, tunas, daun, bunga, dan buah. Hewan ini mencari makan pada malam hari di kawasan terbuka, diselingi istirahat selama dua atau tiga jam yang juga digunakan untuk memamah biak.[13][15] Saat musim hujan, banteng dapat pindah ke hutan yang lebih tinggi.[10] Penelitian di Jawa Barat, Indonesia menunjukkan bahwa makanan utama banteng adalah rumput Axonopus compressus, Cynodon dactylon, Ischaemum muticum, Paspalum conjugatum (rumput kerbau), serta perdu Psychotria malayana.[19] Sementara itu, penelitian di cagar alam Hutan Deramakot di Sabah, Malaysia menunjukkan adanya biji putri malu (Mimosa pudica) dan rumput kerbau, bambu (kemungkinan Dinochloa), serta getah pohon dalam sampel feses banteng.[20] Banteng sering minum air jika keadaan memungkinkan, terutama dari air yang tenang, tetapi juga dapat bertahan beberapa hari tanpa air di musim kemarau. Banteng suka menjilat tanah yang mengandung garam untuk memenuhi kebutuhan garamnya. Jika tidak ada tanah yang sesuai, banteng dapat minum air laut. Banteng mampu meminum air dengan kadar garam yang tinggi, dan di Australia Utara banteng diketahui memakan rumput laut.[13]

Reproduksi dan daur hidup[sunting | sunting sumber]

Induk banteng beserta anaknya

Fisiologi reproduksi banteng tidak diketahui dengan jelas, tetapi kemungkinan mirip dengan sapi eropa. Banteng ternak dapat mencapai kematangan seksual pada umur 13 bulan dan siap kawin 3 bulan berikutnya. Banteng dapat bunting dengan mudah; tingkat pembuahan 80% hingga 90% telah tercatat di Australia Utara.[13] Di Myanmar, perkawinan banteng terjadi sepanjang tahun di alam liar maupun di penangkaran, tetapi di Semenanjung Cobourg, Australia Utara, perkawinan hanya umum terjadi pada bulan Oktober dan November, sedangkan di Thailand puncak musim kawin terjadi pada bulan Mei dan Juni.[1][13][21] Banteng mengandung selama hingga 285 hari (antara sembilan dan sepuluh bulan, seminggu lebih lama dibanding sapi eropa), lalu melahirkan seekor anak. Banteng yang baru lahir memiliki berat 16–17 kg jika jantan atau 14–15 kg jika betina. Anak banteng disusui selama hingga 16 bulan, dan sebagian induk tetap menyusui anaknya hingga anak berikutnya lahir.[10][13][15] Penelitian terhadap banteng liar di Semenanjung Cobourg menunjukkan bahwa banteng liar jantan mencapai kematangan seksual saat berumur tiga atau empat tahun dan mencapai pertumbuhan maksimal dalam umur lima hingga enam tahun. Sementara itu, banteng liar betina tumbuh hingga umur tiga atau empat tahun. Anak banteng mengalami tingkat kematian tinggi pada enam bulan pertamanya, setelah itu tingkat kematian ini menurun drastis seiring tumbuhnya banteng.[21] Banteng dapat hidup hingga 26 tahun.[10][15]

Penyakit dan parasit[sunting | sunting sumber]

Banteng menjadi inang beberapa endoparasit seperti cacing hati penyebab fasiolosis), cacing usus (seperti Strongyloides papillosus, penyebab strongiloidiasis), dan Paramphistomum (penyebab paramfistomiasis).[13][16] Banteng juga dapat terkena demam kataral malignan yang diakibatkan oleh gamaherpesvirus domba 2 (OvHV-2),[13][22] terutama jika mereka hidup berdampingan dengan domba sebagai reservoir penyakit.[23][24] Penyakit Bali (bahasa Belanda: Balische ziekte) adalah penyakit kulit yang hanya diderita oleh banteng, dengan tanda klinis yang dimulai dari eksem, kemudian memburuk menjadi nekrosis dan robeknya membran mukosa di bagian yang terkena. Penyakit Jembrana menyerang banteng ternak (sapi bali) di Kabupaten Jembrana, Provinsi Bali, pada tahun 1964 dan kemudian menyebar ke wilayah-wilayah lain. Penyakit ini terus muncul tetapi tidak seganas kemunculan pertama.[13] Awalnya penyebab penyakit ini tidak diketahui, tetapi selanjutnya ditemukan bahwa penyakit ini disebabkan oleh Lentivirus yang dinamakan virus penyakit jembrana (Jembrana disease virus, disingkat JDV).[25] Banteng juga dapat menderita bruselosis, penyakit sangat menular yang menyebabkan kemandulan dan keguguran, yang juga dapat menyerang hewan ternak lainnya. Banteng di Australia Utara diketahui dapat menyebarkan penyakit ini kepada manusia dan hewan ternak.[26] Keberadaan bruselosis pada sapi di Indonesia sudah banyak diteliti, tetapi penelitian yang spesifik untuk banteng ternak belum banyak dilakukan. Sebuah studi yang diterbitkan pada 2013 menunjukkan seroprevalensi sebesar 19,3% di Pinrang, Sulawesi Selatan.[27] Penyakit lain pada banteng adalah radang paha dan diare ganas, yang telah menyebabkan sejumlah kematian.[13]

Di antara ektoparasit yang tercatat pada banteng adalah caplak (sengkenit) dari spesies Amblyomma testudinarium dan Haemaphysalis cornigera, serta dari genus Rhipicephalus. Seperti halnya kerbau, banteng juga memiliki imunitas tinggi terhadap caplak serta penyakit yang dibawanya.[13][16] Penelitian di Australia Utara menunjukkan adanya simbiosis mutualisme antara banteng dan burung gagak torres yang memakan ektoparasit (kemungkinan besar caplak) dari bagian tubuh banteng, terutama daerah di antara kedua kaki belakangnya. Hal ini merupakan penemuan berarti karena menunjukkan simbiosis pertama yang diketahui antara burung asli suatu tempat dengan mamalia liar yang bukan hewan asli tempat itu, yang terjadi hanya 150 tahun setelah dibawanya banteng oleh manusia ke Australia Utara.[28]

Habitat dan distribusi[sunting | sunting sumber]

Banteng dapat ditemukan di berbagai habitat, termasuk hutan bertumbuhan peluruh, setengah peluruh, bagian bawah hutan montana, lahan pertanian yang ditinggalkan, serta daerah rerumputan.[1][15] Padang penggembalaan dominan sebagai pusat aktivitas banteng dalam memenuhi kebutuhan pakan, serta tempat berinteraksi dengan banteng lainnya, kawin, melahirkan, dan membesarkan anak. Sungai merupakan sumber air yang penting, demikian pula pantai sebagai sumber air asin untuk memenuhi kebutuhan akan garam. Sementara itu, hutan adalah tempat berlindung yang penting bagi banteng dari gangguan cuaca, pemangsa, dan juga dari kehadiran manusia.[18] Hewan ini ditemukan di ketinggian hingga 2.100 m di atas permukaan laut.[1][15]

Populasi banteng liar terbesar ditemukan di Kamboja, Jawa, serta kemungkinan Kalimantan (terutama Sabah) dan Thailand. Hewan liar ini juga ada di pulau Kalimantan bagian Indonesia serta di Myanmar. Keberadaan banteng liar di Bali, Sarawak, Tiongkok, Laos, dan Vietnam tidak diketahui dengan pasti, sedangkan di Bangladesh, Brunei, serta India dikhawatirkan banteng liar telah punah atau memang tidak pernah ada. Banteng ternak terdapat di Bali, Sulawesi, Sumbawa, Sumba, dan pulau-pulau Indonesia bagian timur lainnya, Australia, Malaysia, dan Papua Nugini. Populasi feral (hewan ternak yang telah lepas dan menjadi liar kembali) ditemukan di Australia Utara, serta kemungkinan di Kalimantan Timur, pulau Enggano, dan Kepulauan Sangihe di Indonesia. Belum ada penelitian genetika yang jelas untuk mengetahui apakah terjadi percampuran antara banteng feral yang kemungkinan ada di Kalimantan Timur dengan populasi banteng liar setempat.[1][14][29]

Pada masa lalu, banteng banyak ditemukan di Yunan (di Tiongkok) dan daratan Asia Tenggara, kemudian menyebar ke Kalimantan dan Jawa melalui Semenanjung Malaya. Kemungkinan penyebaran banteng ini juga mencapai India timur laut serta dan Bali. Sebagian ilmuwan menganggap Bali tidak termasuk wilayah jangkauan alami banteng karena tidak adanya bukti fosil dan menganggap penyebaran banteng ke pulau tersebut terjadi akibat tindakan manusia.[1] Peninggalan gambar-gambar di gua-gua Kalimantan Timur yang berasal dari sekitar 10.000 SM menunjukkan adanya hewan mirip sapi yang tanduknya mirip tanduk banteng, sehingga ada spekulasi bahwa banteng telah mencapai Garis Wallace pada masa tersebut.[30] Naturalis Belanda Andries Hoogerwerf menulis bahwa banteng kemungkinan telah ada sejak zaman prasejarah di Jawa, dengan berdasarkan peninggalan yang diperkarakan berasal dari tahun 1000 SM di Gua Sampung, Kabupaten Ponorogo, Jawa Tengah.[16]

Interaksi dengan manusia[sunting | sunting sumber]

Interaksi banteng dengan manusia dapat ditilik kembali hingga ribuan tahun yang lalu, berdasarkan peninggalan fisik hewan tersebut serta karya seni di gua-gua.[16][30] Menurut Hooijer, riwayat dari naturalis Wales Thomas Pennant pada tahun 1800 dengan judul Outlines of the Globe merupakan catatan tertulis pertama tentang hewan ini, yang dijelaskan Pennant sebagai "sapi liar, dengan warna cokelat kemerahan, dengan tanduk panjang, dan bertubuh besar" di Pulau Jawa.[9] Sementara itu, Hoogerwerf menyebut bahwa banteng telah ada dalam karya sastra klasik Indonesia seperti Nagarakretagama (tahun 1365), yang dipersembahkan untuk raja Majapahit Hayam Wuruk. Karya ini menyebutkan kegiatan berburu sang raja yang melibatkan berbagai hewan buruan termasuk banteng. Catatan dari abad ke-18 menunjukkan bahwa banteng telah digunakan sebagai hewan pengangkut termasuk untuk membawa kopi.[16]

Domestikasi dan peternakan[sunting | sunting sumber]

Seorang peternak memberi makan banteng ternak yang dikenal dengan nama sapi bali.

Domestikasi banteng diperkirakan telah berlangsung sejak 3500 SM di Jawa dan daratan Asia Tenggara. Saat ini, sebagian besar populasi banteng ternak dikenal sebagai sapi bali dan diternakkan di Indonesia.[14][31] Pada tahun 2016, hampir 25% dari populasi "sapi" Indonesia adalah sapi bali yang sebenarnya adalah banteng, termasuk 80% dari sapi di kawasan timur yang kebanyakan dimiliki peternak kecil.[14] Banteng ternak bersifat jinak dan mampu bertahan di cuaca panas dan lembap. Selain itu, hewan ini mampu tumbuh dan mempertahankan bobot tubuh normal sekalipun diberi pakan kualitas rendah. Peternakan hewan ini terutama dilakukan untuk dagingnya, yang banyak diminati dan disebut empuk dan lembut.[13][32] Kadang banteng ini juga digunakan untuk hewan pekerja di bidang pertanian, walaupun dilaporkan tidak sekuat sapi zebu dalam menarik gerobak di jalan.[33] Namun banteng memiliki produksi susu yang rendah, hanya selama enam hingga sepuluh bulan pertama dan hanya 0,9 hingga 2,8 kg per hari. Hewan ini juga rentan penyakit seperti demam kataral malignan. Pada 1964, terjadi wabah di Bali yang disebut "penyakit Jembrana" yang membunuh 10% hingga 60% dari banteng ternak di berbagai tempat di Bali dan diikuti gelombang-gelombang susulan yang tidak seganas gelombang pertama.[13]

Persilangan[sunting | sunting sumber]

Sepasang sapi madura, hasil persilangan banteng dengan sapi zebu

Banteng ternak juga disilangkan dengan hewan kerabat-kerabatnya. Sapi madura yang diternakkan di Jawa dan Madura adalah hasil persilangan banteng dengan sapi zebu dan bersifat fertil atau mampu menghasilkan keturunan. Sapi madura berukuran relatif kecil, dengan berat pejantan 250–300 kg dan betina sekitar 150 kg. Hewan ini digunakan dalam acara-acara tradisional, termasuk balapan sapi dan lomba sapi hias. Selain sapi madura, terdapat hasil persilangan lainnya yaitu sapi donggala, sapi galekan, dan sapi jabres (Jawa Brebes).[34][35] Hasil persilangan sapi zebu dengan banteng selalu bersifat fertil, sedangkan pejantan yang merupakan hasil persilangan banteng dengan sapi eropa bersifat steril atau mandul.[1] Pada Juni 2011, pemerintah Jawa Timur melakukan program persilangan banteng ternak dengan banteng liar yang diambil dari Taman Nasional Baluran di Situbondo, yang menghasilkan lima sapi bunting. Program ini bertujuan meningkatkan kualitas banteng ternak.[36]

Sebagai simbol[sunting | sunting sumber]

Kepala banteng tampil di kiri atas perisai Garuda Pancasila, lambang negara Indonesia

Di Indonesia, kepala banteng digunakan dalam lambang negara Indonesia, "Garuda Pancasila". Simbol ini tampil di bagian kiri atas pengamat (kanan atas garuda), melambangkan sila ke-4, "Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan". Selain itu, sejumlah partai juga menggunakan kepala banteng sebagai simbolnya, termasuk Partai Nasional Indonesia, Partai Demokrasi Indonesia, dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan.[37] Kepala banteng sempat diusulkan untuk menjadi bagian bendera Indonesia sebelum akhirnya Kongres Rakyat Indonesia pada 1939 memilih bendera dwiwarna merah-putih.[38]

Kemunculan di Australia[sunting | sunting sumber]

Banteng ternak awalnya dibawa oleh kolonis Britania ke Australia pada 1849, tepatnya ke sebuah permukiman dan posko militer di Semenanjung Cobourg yang bernama Port Essington. Sebanyak 20 ekor banteng dibawa ke Arnhem Land bagian barat, kini bagian dari Teritori Australia Utara, sebagai sumber makanan. Setahun kemudian, permukiman tersebut ditinggalkan akibat kondisi buruk, termasuk kegagalan panen dan menyebarnya penyakit tropis. Banteng-banteng tersebut kemudian dilepas dari padang gembalanya sehingga menjadi menjadi populasi feral (hewan ternak yang menjadi liar kembali).[39] Populasi feral ini terus berkembang biak dan pada tahun 1960-an para peneliti menemukan bahwa populasi banteng di hutan tropis Semenanjung Cobourg telah mencapai sekitar 1.500 ekor.[40] Pada tahun 2007, populasi ini diperkirakan mencapai 8.000–10.000, terutama di Taman Nasional Garig Gunak Barlu, Semenanjung Cobourg, Australia Utara.[41][42] Dalam sebuah survei yang hasilnya diterbitkan pada 1990, kepadatan populasi di hutan tempat banteng-banteng ini hidup mencapai 70/km2, mendekati kepadatan awal saat kedatangan awalnya di Port Essington.[43]

Banteng Australia dianggap spesies nonasli yang bersifat vermin atau pengganggu karena dilaporkan merusak tumbuhan lokal dengan menginjak dan memakan terlalu banyak, serta membahayakan bahkan membunuh manusia yang mendekat. Selain itu, banteng juga dapat menularkan penyakit mematikan seperti bruselosis kepada manusia maupun sapi. Karena itu, banteng di Australia terkadang diburu untuk mengurangi jumlahnya, tetapi pegiat pelestarian marga satwa telah menyatakan kekhawatiran terhadap ancaman ini karena terus berkurangnya populasi banteng di luar Australia.[26][44] Sebuah penelitian di hutan musiman tropis di Taman Nasional Garig Gunak Barlu menemukan bahwa kerusakan yang ditimbulkan banteng saat memakan tumbuhan tergolong kecil, terutama jika dibandingkan dengan populasi babi feral di kawasan tersebut.[45] Penelitian lain juga menunjukkan bahwa konsumsi rumput oleh banteng mungkin mengurangi menumpuknya rumput-rumput kering sehingga mengurangi menyebarnya kebakaran musiman ke kawasan hutan musiman tropis, dan berpotensi membantu penyebaran dan perkecambahan biji rumput.[43]

Karena populasi banteng feral di Australia diawali oleh hanya 20 banteng ternak, terjadi "efek pendiri" yang menyebabkan terjadinya leher botol genetik, yaitu kurangnya keanekaragaman genetika akibat silang dalam atau perkawinan dengan kerabat dekat. Gen yang kurang beragam mengakibatkan depresi perkawinan sekerabat, yaitu berkurangnya kebugaran genetika akibat mutasi-mutasi yang merugikan atau berkurangnya imunitas terhadap penyakit. Sebuah analisis terhadap 12 mikrosatelit dalam DNA menemukan koefisien silang dalam yang tinggi yaitu 0,58. Meskipun lungkang gen dalam populasi ini yang tersedia cukup kecil, sekelompok penulis (Corey J.A. Bradshaw et al.) menyebut bahwa peristiwa ini menunjukkan bahwa tempat seperti Australia dapat menjadi tempat pelestarian spesies herbivora besar non-Australia yang terancam di daerah aslinya, walaupun mereka mengakui bahwa strategi ini kontroversial.[42]

Ancaman dan pelestarian[sunting | sunting sumber]

Banteng liar digolongkan sebagai spesies genting dalam daftar merah Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN). Populasinya telah turun lebih dari 50% dalam beberapa dekade terakhir. Pada 2016, IUCN memperkirakan populasi banteng dunia berjumlah 8.000 ekor, dan sekitar 60% di antaranya berada di hutan-hutan kawasan timur Kamboja. Ancaman-ancaman utama terhadap populasi hewan ini antara lain perburuan liar (untuk dimakan, olahraga, obat tradisional atau untuk diambil tanduknya), fragmentasi habitat, berkurangnya habitat, dan ancaman penyakit. Kini banteng liar berstatus dilindungi di seluruh negara tempat tinggal alamiahnya, termasuk Indonesia, Malaysia, Myanmar, Thailand, dan Kamboja. Sebagian besar hanya ditemukan di kawasan perlindungan (kecuali mungkin Kamboja).[1]

Sekawanan banteng di Suaka Alam Huai Kha Khaeng (Thailand)

Survei di Kamboja Timur antara tahun 2008 hingga 2011 menunjukkan populasi banteng sejumlah 1.980–5.170 di Suaka Alam Sre Pok dan Phnom Prich.[46] Survei yang dilakukan pada tahun-tahun selanjutnya (hingga 2016) yang juga melibatkan kawasan sekitarnya (termasuk Hutan Perlindungan Seima) menghasilkan perkiraan 4.600 ekor banteng. Di luar Kamboja, populasi banteng berjumlah kecil, terfragmentasi, dan banyak mengalami penurunan. Di Thailand, satu-satunya populasi banteng yang berjumlah lebih dari 50 ekor berada di Suaka Alam Huai Kha Khaeng dan kemungkinan Taman Nasional Kaeng Krachan.[1] Survei antara 2000 dan 2003 di Jawa menemukan empat atau lima populasi besar, dengan angka tertinggi di Taman Nasional Ujung Kulon, Jawa Barat (300 hingga 800 ekor), serta Taman Nasional Baluran (206 ekor) dan Taman Nasional Meru Betiri (200 ekor), keduanya terletak di Jawa Timur.[47] Survei di Jawa Timur antara tahun 2011 dan 2013 mencatat penurunan populasi banteng secara drastis di Taman Nasional Baluran dan populasi yang stabil di Taman Nasional Meru Betiri. Para peneliti menyebut perburuan liar, gangguan habitat, persaingan dengan spesies lain, perubahan vegetasi, dan hilangnya habitat sebagai ancaman utama.[48] Di Pulau Kalimantan, populasinya juga menurun akibat gangguan manusia dan perburuan liar. Antara 1970 hingga 2000 terjadi penurunan lebih dari 50% akibat penggundulan hutan yang digantikan oleh lahan perkebunan. Di Sabah, sejumlah kecil populasi banteng telah dilaporkan di Suaka Alam Kulamba, Hutan Simpan Deramakot, dan Hutan Simpan Sipitang antara 2009 dan 2015. Beberapa ekor banteng juga mungkin masih tersisa di kawasan Belantikan Hulu (Kalimantan Tengah), Taman Nasional Kayan Mentarang (Kalimantan Utara), dan Taman Nasional Kutai (Kalimantan Timur).[1]

Kemungkinan ancaman lain terhadap "kemurnian" genetik banteng adalah introgresi atau masuknya gen dari spesies kerabat yang hidup di lokasi yang sama dengan tempat tinggal alamiah banteng atau akibat program persilangan buatan.[1][33] Contohnya di Sabah, hal ini disebut sebagai masalah besar oleh IUCN karena adanya kerbau yang dapat kawin dengan banteng, dan kurangnya keanekaragaman genetika banteng liar akibat populasi yang terfragmentasi. Namun, baru sedikit penelitian genetika yang dilakukan untuk memastikan akibat persilangan seperti ini terhadap kelestarian banteng.[1] Pemerintah Provinsi Bali melarang jenis sapi lain dan melarang dikeluarkannya bibit sapi bali betina dari provinsi ini untuk mempertahankan "kemurnian" gen sapi bali.[23][33]

Kloning[sunting | sunting sumber]

Banteng adalah spesies terancam kedua yang berhasil diklon, dan yang pertama yang klonnya mampu bertahan hidup hingga dewasa (pengklonan pertama dilakukan terhadap seladang, tetapi mati saat berumur dua hari).[49][50] Pengklonan ini dilakukan oleh ilmuwan di perusahaan Advanced Cell Technology dari Worcester, Massachusetts dengan cara mengekstraksi DNA dari sel kulit banteng jantan yang telah mati, yang telah dibekukan di fasilitas "Kebun Binatang Beku" milik Kebun Binatang San Diego, Kalifornia, AS. Sel itu lalu dipindahkan ke sel-sel telur sapi betina lokal melalui proses yang disebut transer inti sel somatik. Dari proses ini dihasilkan 30 embrio yang dikirim ke perusahaan bernama Trans Ova Genetics, yang kemudian ditanam ke induk sapi lokal. Dua di antaranya dikandung hingga akhir kehamilan dan dilahirkan dengan operasi sesar. Banteng pertama lahir pada 1 April 2003 dan yang kedua pada 3 April. Bayi kedua dimatikan melalui eutanasia karena mengalami kelainan lewah tumbuh, tetapi bayi pertama hidup selama tujuh tahun di Kebun Binatang San Diego hingga meninggal pada April 2010, ketika kakinya patah dan selanjutnya dieutanasia.[51][52]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e f g h i j k l m Gardner, P.; Hedges, S.; Pudyatmoko, S.; Gray, T.N.E. & Timmins, R.J. (2016). "Bos javanicus (Banteng)". Diakses tanggal 9 Juni 2020. 
  2. ^ Timmins, R.J.; Duckworth, J.W.; Hedges, S.; Steinmetz, R. & Pattanavibool, A. (2008). "Bos javanicus". Diakses tanggal 29 Maret 2009. 
  3. ^ a b Grubb, P. (2005). "Bos javanicus". Dalam Wilson, D. E.; Reeder, D. M. Mammal Species of the World (edisi ke-3). Percetakan Unoversitas Johns Hopkins. hlm. 691. ISBN 978-0-8018-8221-0. OCLC 62265494. 
  4. ^ a b c d Hooijer, D. A. "The valid name of the banteng: Bibos javanicus (d'Alton)". Zoologische Mededelingen uitgegeven door het Rijksmuseum van Natuurlijke Historie et Leiden (Zoological Notices published by the National Museum of Natural History in Leiden). 34 (14): 223–226. 
  5. ^ a b d'Alton, E. J. (1823). Die Skelete der Wiederkauer, abgebildet und verglichen [The Skeletons of the Ruminants, shown and compared] (dalam bahasa Jerman). Bonn: E. Weber. hlm. plate VIII, gambar c dan d. 
  6. ^ "Banteng". Merriam-Webster Dictionary. Diakses tanggal 8 Mei 2020. 
  7. ^ Wilkinson, R. J. (1908). "Banteng". An Abridged Malay-English Dictionary (Romanised). Kuala Lumpur: F. M. S. Government Press. hlm. 16. 
  8. ^ a b Gardner, P. C.; Pudyatmoko, S.; Bhumpakphan, N.; Yindee, M.; Ambu, D. L. N; Goossens, B. (2015). "Banteng Bos javanicus d'Alton, 1823". Dalam Melletti, M. dan Burton, J. Ecology, Evolution and Behaviour of Wild Cattle. Cambridge University Press. 
  9. ^ a b Pennant, T. (1800). Outlines of the Globe: The View of the Malyan Isles, New Holland, and the Spicy Islands. IV. London: Henry Hughes. hlm. 35. 
  10. ^ a b c d e f g h i j Castelló, J. R. (2016). "Genus Bos: Banteng". Bovids of the World: Antelopes, Gazelles, Cattle, Goats, Sheep, and Relatives. Princeton: Princeton University Press. hlm. 630–635. ISBN 978-0-691-16717-6. 
  11. ^ Matsubayashi, H.; Hanzawa, K.; Kono, T.; Ishige, T.; Gakuhari, T.; Lagan, P.; Sunjoto, I.; Sukor, J. R. A.; Sinun, W.; Ahmad, A. H. (2014). "First molecular data on Bornean banteng Bos javanicus lowi (Cetartiodactyla, Bovidae) from Sabah, Malaysian Borneo". Mammalia. 78 (4). doi:10.1515/mammalia-2013-0052. 
  12. ^ Ishige, T.; Gakuhari, T.; Hanzawa, K.; Kono, T.; Sunjoto, I.; Sukor, J. R. A.; Ahmad, A. H.; Matsubayashi, H. (2015). "Complete mitochondrial genomes of the tooth of a poached Bornean banteng (Bos javanicus lowi Cetartiodactyla, Bovidae)". Mitochondrial DNA Part A. 27 (4): 2453–2454. doi:10.3109/19401736.2015.1033694. 
  13. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t Little-Known Asian mammals with a promising economic future: Report of an ad hoc panel of the Advisory Committee on Technology Innovation, Board on Science and Technology for International Development, Office of International Affairs, National Research Council (Laporan). Managing Tropical Animal Resources. National Research Council (U.S.). Advisory Committee on Technology Innovation. 1983. hlm. 7–20, 41–45. 
  14. ^ a b c d e f Hall, S.; Alderson, L. "Cattle". Mason's World Encyclopedia of Livestock Breeds and Breeding (2 Volume Pack). Oxfordshire: CAB International. hlm. 83–342. 
  15. ^ a b c d e f g Phillipps, Q. (2016). "Banteng and water buffalo". Phillipps' Field Guide to the Mammals of Borneo: Sabah, Sarawak, Brunei, and Kalimantan. Princeton: Princeton University Press. hlm. 304–305. ISBN 978-0-691-16941-5. 
  16. ^ a b c d e f g Hoogerwerf, A. (1970). Udjung Kulon: The Land of the Last Javan Rhinoceros. Leiden: E. J. Brill. hlm. 159; 173–174; 219; 220–227. 
  17. ^ Rahman, D. A.; Herliansyah, R.; Rianti, P.; Rahmat, U. M.; Firdaus, A. Y.; Syamsudin, M. (2019). "Ecology and conservation of the endangered banteng (Bos javanicus) in Indonesia tropical lowland forest". Hayati Journal of Biosciences. 25 (2): 68–80. doi:10.4308/hjb.26.2.68. 
  18. ^ a b Alikodra, H.S. (1983). "Ekologi Banteng (Bos javanicus d'Alton) di Taman Nasional Ujung Kulon". Disertasi Sekolah Pascasarjana IPB (tidak diterbitkan). (Repositori IPB)
  19. ^ Sumardja, E. A.; Kartawinata, K. (1977). "Vegetation analysis of the habitat of banteng (Bos javanicus) at the Pananjung-Pangandaran nature reserve, West Java". Biotrop Bulletin (13). 
  20. ^ Matsubayashi, H.; Lagan, P.; Sukor, J. R. A. (2007). "Herbal seed dispersal by the banteng (Bos javanicus) in a Bornean tropical rain forest". Malayan Nature Journal. 59 (4): 297–303. 
  21. ^ a b Choquent, D. (1993). "Growth, body condition and demography of wild banteng (Bos javanicus) on Cobourg Peninsula, northern Australia". Journal of Zoology. 231 (4): 533–542. doi:10.1111/j.1469-7998.1993.tb01936.x. 
  22. ^ Frontoso, R.; Autorino, G. L.; Friedrich, K. G.; Li, H.; Eleni, C.; Cocumelli, C.; Di Cerbo, P.; Manna, G.; Scicluna, M. T. (Desember 2016). "An Acute Multispecies Episode of Sheep-Associated Malignant Catarrhal Fever in Captive Wild Animals in an Italian Zoo". Transboundary and Emerging Diseases (dalam bahasa Inggris). 63 (6): 621–627. doi:10.1111/tbed.12321. 
  23. ^ a b Susilawati, T. (2017). Sapi Lokal Indonesia. Universitas Brawijaya Press. hlm. 28. ISBN 978-602-432-233-5. 
  24. ^ Damayanti, Rini; Wiyono, Agus (2005). "Infeksi Alami Malignant Catarrhal Fever pada Sapi Bali: Sebuah Studi Kasus". Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner. 10 (2): 150–159. 
  25. ^ Wilcox, G. E.; Chadwick, B. J.; Kertayadnya, G. (1995). "Recent advances in the understanding of Jembrana disease". Veterinary Microbiology. 46 (1-3): 249–255. doi:10.1016/0378-1135(95)00089-S. 
  26. ^ a b Webb, S. (2013). Corridors to Extinction and the Australian Megafauna. London: Elsevier. hlm. 274. ISBN 978-0-12-407790-4. 
  27. ^ Muflihanah, H.; Hatta, M.; Rood, E.; et al. (2013). "Brucellosis seroprevalence in Bali cattle with reproductive failure in South Sulawesi and Brucella abortus biovar 1 genotypes in the Eastern Indonesian archipelago". BMC Veterinary Research. 9: 233. doi:10.1186/1746-6148-9-233. 
  28. ^ Bradshaw, C. J. A.; White, W. W. (2006). "Rapid development of cleaning behaviour by Torresian crows Corvus orru on non-native banteng Bos javanicus in northern Australia". Journal of Avian Biology. 37 (4): 409–411. doi:10.1111/j.2006.0908-8857.03595.x. 
  29. ^ Hedges, S.; Meijaard, E. (1999). Reconnaissance Survey for Banteng (Bos javanicus) and Banteng Survey Methods Training Project, Kayan-Mentarang National Park, East Kalimantan, Indonesia (Laporan). World Wide Fund for Nature - Indonesia dan Centre for International Forestry Research. 
  30. ^ a b Chazine, J.-M. (2005). "Rock art, burials, and habitations: Caves in East Kalimantan" (PDF). Asian Perspectives. 44 (1): 219–230. 
  31. ^ Mohamad, K.; Olsson, M.; van Tol, H. T. A.; Mikko, S.; Vlamings, B. H.; Andersson, G.; Rodríguez-Martínez, H.; Purwantara, B.; Paling, R. W.; Colenbrander, B.; Lenstra, J. A.; DeSalle, R. (2009). "On the origin of Indonesian cattle". PLOS ONE. 4 (5): e5490. doi:10.1371/journal.pone.0005490. 
  32. ^ Herring, A. D. (2014). Beef Cattle Production Systems. Boston: CAB International. hlm. 22–23. ISBN 978-1-78064-507-0. 
  33. ^ a b c Hall, D. (2006). "Asian livestock benefiting from innovation". Dalam McLeod, A. Livestock Report 2006 (Laporan). Animal Production and Health Division, FAO. hlm. 77–83. 
  34. ^ Nijman, I. J.; Otsen, M.; Verkaar, E. L. C.; de Ruijter, C.; Hanekamp, E.; Ochieng, J. W.; Shamshad, S.; Rege, J. E. O.; Hanotte, O.; Barwegen, M. W.; Sulawati, T.; Lenstra, J. A. (2003). "Hybridization of banteng (Bos javanicus) and zebu (Bos indicus) revealed by mitochondrial DNA, satellite DNA, AFLP and microsatellites". Heredity. 90 (1): 10–16. doi:10.1038/sj.hdy.6800174. PMID 12522420. 
  35. ^ Thorbecke, E.; Van der Pluijm, T. (1993). Rural Indonesia: Socio-Economic Development in a Changing Environment. New York: New York University Press. hlm. 119. ISBN 9780814781975. 
  36. ^ Harsaputra, I. (2 April 2012). "Bali cows to meet Java bulls in East Java". Diakses tanggal 12 Mei 2020. 
  37. ^ Kahin, A. (2015). Banteng. Historical Dictionary of Indonesia. Rowman & Littlefield Publishers. hlm. 65. ISBN 978-0-8108-7456-5. 
  38. ^ Kahin, G. M. (2003). Nationalism and Revolution in Indonesia. SEAP Publications. hlm. 97–98 note 101. ISBN 978-0-87727-734-7. 
  39. ^ Letts, G. A.; Vos, A. W. E. L. B. (1979). Feral animals in the Northern Territory - Report of the Board of Inquiry (Laporan). Northern Territory Government. 
  40. ^ Letts, G. A. (1964). "Feral animals in the Northern Territory". Australian Veterinary Journal. 40 (3): 84–88. doi:10.1111/j.1751-0813.1964.tb01703.x. 
  41. ^ Bradshaw, C. J.; Brook, B. W. (2007). "Ecological-economic models of sustainable harvest for an endangered but exotic megaherbivore in northern Australia". Natural Resource Modeling. 20 (1): 129–156. doi:10.1111/j.1939-7445.2007.tb00203.x. 
  42. ^ a b Bradshaw, C. J.; Isagi, Y.; Kaneko, S.; Bowman, D. M. J. S.; Brook, B. W. (2006). "Conservation value of non-native banteng in northern Australia". Conservation Biology. 20 (4): 1306–1311. doi:10.1111/j.1523-1739.2006.00428.x. PMID 16922247. 
  43. ^ a b Bowman, D. M. J. S.; Panton, W. J.; McDonough, L. (1990). "Dynamics of forest clumps on Chenier Plains, Cobourg Peninsula, Northern Territory". Australian Journal of Botany. 38 (6): 593. doi:10.1071/BT9900593. 
  44. ^ West, P. (2018). "Banteng cattle". Guide to Introduced Pest Animals of Australia. Victoria, Melbourne: CSIRO Publishing. hlm. 8–9. 
  45. ^ Bowman, D. M. J. S.; Panton, W. J. (1991). "Sign and habitat impact of Banteng (Bos javanicus) and pig (Sus scrofa) Cobourg Peninsula, Northern Australia". Australian Journal of Ecology. 16 (1): 15–17. doi:10.1111/j.1442-9993.1991.tb01477.x. 
  46. ^ Gray, T. N. E.; Prum, S.; Pin, C.; Phan, C. (2012). "Distance sampling reveals Cambodia's Eastern Plains Landscape supports the largest global population of the endangered banteng Bos javanicus". Oryx. 46 (4): 563–566. doi:10.1017/S0030605312000567. 
  47. ^ Pudyatmoko, S. (2004). "Does the banteng (Bos javanicus) have a future in Java? Challenges of the conservation of a large herbivore in a densely populated island". Knowledge Marketplace Reports of the 3rd IUCN World Conservation Congress (Laporan). hlm. 6. 
  48. ^ Hakim, L.; Guntoro, D. A.; Waluyo, J.; Sulastini, D.; Hartanto, L.; Nakagoshi, N. "Recent status of banteng (Bos javanicus) conservation in East Java and its perspectives on ecotourism planning" (PDF). Journal of Tropical Life Science. 5 (3): 152–157. 
  49. ^ "In brief". Nature Biotechnology. 21 (5): 473–475. 2003. doi:10.1038/nbt0503-473. 
  50. ^ "Banteng clone leads charge for endangered animals". The Sydney Morning Herald. 9 April 2003. Diakses tanggal 12 Mei 2020. 
  51. ^ "Collaborative effort yields endangered species clone". Advanced Cell Technology. 8 April 2003. Diarsipkan dari versi asli tanggal 23 Oktober 2006. 
  52. ^ Ro, C. "The increasingly realistic prospect of 'extinct animal' zoos". BBC. Diakses tanggal 12 Mei 2020. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]