Transgender

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Beberapa contoh tokoh transgender (dari kiri ke kanan, atas ke bawah): Lili Elbe, Laverne Cox, Thomas Beatie, Chaz Bono, Balian Buschbaum, dan Lynn Conway.
Seorang demonstran transgender pada sebuah unjuk rasa di Paris, Oktober 2005.

Orang transgender adalah orang yang memiliki identitas gender atau ekspresi gender yang berbeda dengan seksnya yang ditunjuk saat lahir.[1][2][3] Orang transgender juga terkadang disebut sebagai orang transseksual jika ia menghendaki bantuan medis untuk transisi dari satu seks ke seks lainnya. Transgender juga merupakan sebuah kata umum. Selain mencakup orang yang identitas gendernya berlawanan dengan seksnya yang ditunjuk (pria trans dan wanita trans), istilah transgender juga dapat mencakup orang-orang yang tidak secara spesifik maskulin atau feminin (orang-orang genderqueer seperti bigender, pangender, genderfluid, atau agender).[2][4][5] Definisi transgender lainnya juga mencakup orang-orang yang termasuk ke dalam gender ketiga atau memiliki gender ketiga transgender.[6][7] Dalam kasus yang lebih jarang, istilah transgender digunakan hingga mencakup cross-dresser,[8] tanpa memperhatikan identitas gender.

Keadaan transgender tidak terikat dengan orientasi seksual.[9] Orang transgender dapat memilki orientasi heteroseksual, homoseksual, biseksual, aseksual, dan lain-lain. Istilah transgender berbeda dengan istilah interseks, yaitu kondisi seseorang yang lahir dengan karakteristik seks fisik yang "...tidak padan dengan gagasan umum mengenai laki-laki atau perempuan".[10]

Tingkat seorang individu untuk merasa asli, murni, dan nyaman dengan penampilan luarnya serta menerima identitas aslinya disebut sebagai kesesuaian transgender (transgender congruence).[11] Banyak dari orang transgender mengalami apa yang disebut disforia gender dan beberapa menerima bantuan medis seperti terapi penyulihan hormon, operasi penentuan ulang seks, atau psikoterapi.[12] Tidak semua orang transgender menghendaki penanganan medis dan beberapa tidak melakukannya karena kendala ekonomi atau kesehatan.[12][13]

Mayoritas orang transgender menghadapi diskriminasi dalam pekerjaan dan pencarian kerja,[14] pemenuhan kebutuhan tempat tinggal,[15] serta pelayanan kesehatan.[16] Orang transgender juga tidak dilindungi oleh hukum dari diskriminasi di banyak tempat.[17]

Terminologi[sunting | sunting sumber]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Psikiater John F. Oliven dari Universitas Columbia mencetuskan istilah transgender pada buku referensi ilmiahnya tahun 1965 berjudul Sexual Hygiene and Pathology. Ia menulis bahwa istilah sebelumnya yang telah selama itu digunakan yaitu transseksualisme adalah salah dan menyebut bahwa "... transgenderisme adalah istilah yang dimaksud karena seksualitas bukanlah sebuah faktor utama dalam transvestisme primer."[18] Istilah transgender kemudian banyak digunakan dan didefinisikan secara beragam oleh orang-orang transgender, transseksual, dan transvestis termasuk di antaranya Virginia Prince,[19] yang digunaknnya dalam edisi Desember 1969 dari majalah Transvestia, sebuah majalah cross dresser yang ia dirikan.[20] Pada pertengahan dekade 1970-an, baik trans-gender (dengan tanda hubung [-]) dan orang trans digunakan sebagai kata umum.[note 1] Transgenders (akhiran -s pembentuk kata benda jamak dalam bahasa Inggris) juga dahulu digunakan untuk menyebut seseorang yang ingin hidup lintas-gender tanpa operasi penentuan ulang seks.[21]

Konsep dari sebuah komunitas transgender berkembang pada tahun 1984 dengan digunakannya kata transgender sebagai kata umum (hipernim).[22] Pada tahun 1985, Richard Elkins mendirikan Trans-Gender Archive (Arsip Trans-Gender) di Universitas Ulster.[20] International Conference on Transgender Law and Employment Policy (Konferensi Internasional tentang Kebijakan Hukum dan Ketenagakerjaan Transgender) pada tahun 1992 mendefinisikan kata transgender sebagai sebuah kata umum yang mencakup "...transseksual, transgenderis, cross dressers..." serta orang yang bertransisi.[23]

Istilah kini[sunting | sunting sumber]

Istilah pria trans mengacu kepada seseorang yang transgender perempuan-ke-laki-laki (bahasa Inggris: female-to-male, FtM atau F2M) sementara istilah wanita trans mengacu kepada seseorang yang transgender laki-laki-ke-perempuan (bahasa Inggris: male-to-female, MtF atau M2F). Panduan praktik kesehatan, pedoman gaya jurnalisme professional, serta kelompok advokasi LGBT menyarankan penggunaan nama dan kata ganti yang mengidentifikasi seseorang tersebut, termasuk ketika merujuk kepada orang tersebut di masa lalu kehidupannya.[24][25] Kata transgender itu sendiri digunakan sebagai sebuah kata sifat. Contoh penggunaan yang benar adalah Max adalah seseorang yang transgender, Max adalah orang transgender, atau Max adalah seorang pria transgender bukan Max adalah transgender atau Max adalah seorang transgender.[26][27][28] GLAAD menyatakan bahwa ketika membicarakan orang transgender, sikap yang sopan adalah menggunakan nama dan kata ganti yang orang tersebut pilih tanpa mempedulikan status legal dari gender mereka karena tidak semua orang yang transgender mampu membiayai prosedur operasi atau pengubahan tubuh lainnya.[26]

Orang-orang yang tidak transgender atau genderqueer—seseorang yang identitas pribadinya sama dengan seks dan gender yang ditunjuk saat lahir—disebut sebagai orang cisgender.[29]

Perbedaan transgender dengan transseksual[sunting | sunting sumber]

Istilah transseksual pertama kali diperkenalkan oleh Magnus Hirschfeld pada tahun 1923 dalam bahasa Jerman transsexualismus. David Oliver Cauldwell pada tahun 1949 menterjemahkannya ke dalam bahasa Inggris menjadi transsexual yang kemudian dipopulerkan oleh Harry Benjamin pada tahun 1966, waktu yang sama saat istilah transgender juga mulai banyak digunakan.[19] Istilah transseksual pada tahun 1990-an kemudian digunakan untuk menyebut sebagaian dari orang transgender[19][30][31] yang berkeinginan untuk melakukan trasnsisi secara permanen menuju gender yang mereka identifikasi dan untuk itu mencari bantuan medis (seperti operasi penentuan ulang seks).

Perbedaan antara istilah transgender dan transseksual pada umumnya berdasar pada perbedaan antara gender (psikologis, sosial) dan seks (fisik).[note 2][32] Dengan demikian, trasnsseksual dapat dimengerti lebih mengarah kepada segi fisik dari seks seseorang sementara transgender lebih terfokus kepada kondisi gender internal dan juga aspek sosial yang dapat berkaitan dengan gender tersebut.[33] Banyak dari orang transgender lebih memilih penggunaan kata transgender dan menolak penggunaan kata transseksual.[34][35] Sebagai contoh, Christine Jorgensen pada tahun 1979 menolak istilah transsexual serta mengidentifikasi dirinya sebagai seperti ditulis dalam surat kabar sebagai seorang trans-gender dengan berkata, "... gender tidak ada hubungannya dengan siapa kita di atas ranjang, melainkan terhadap identitas."[36][37] Pernyataan tersebut mengacu kepada anggapan bahwa transseksual memiliki kaitan dengan seksualitas yang akan tetapi justru berkaitan dengan identitas gender.[38][note 3] Beberapa orang transseksual namun tidak menerima kata transgender digunakan untuk mencakup mereka.[39][40][41][42] Definisi kedua istilah bervariasi dari waktu ke waktu di sepanjang sejarahnya.

Antropolog David Valentin di dalam bukunya tahun 2007 berjudul Transgender, an Ethnography of a Category menyebutkan bahwa pemakaian kata transgender dicetuskan oleh aktivis-aktivis untuk mencakup orang-orang yang justru bisa saja tidak ingin diidentifikasi dengan kata tersebut. Ia juga menyebutkan bahwa orang-orang yang merasa tidak mengidentifikasi dirinya dengan kata transgender sebaiknya jangan dicakupkan di dalam spektrum transgender tersebut.[39] Leslie Feinberg juga menyampaikan hal yang serupa bahwa beberapa orang tidak menggunakan kata transgender untuk menjelaskan dirinya namun kata tersebut merupakan sebuah istilah yang digunakan oleh orang luar untuk memahami orang-orang dengan kondisi tersebut.[40] Akan tetapi, pernyataan-pernyataan tersebut menuai kritik dari Transgender Health Program (THP, Program Kesehatan Transgender) dari lembaga Fenway Health di Boston. Mereka mengatakan bahwa tidak ada definisi tunggal dari kata tersebut dan perbedaan-perbedaan istilah yang ada yang menjadi umum di awal abad ke-21 sekarang dapat dianggap tidak sopan. THP menyarankan tenaga medis untuk menanyakan kepada klien mereka mengenai kata yang mereka lebih kehendaki serta untuk menghindari kata transseksual kecuali jika mereka yakin bahwa klien mereka nyaman dengan kata tersebut.[38]

Harry Benjamin pada tahun 1966 membuat sebuah sistem klasifikasi yang ia beri nama Sex Orientation Scale (SOS, Skala Orientasi Seks). Terdapat enam kategori yang dibedakan berdasarkan alasan seseorang melakukan crossdress serta tingkat keinginan mereka untuk melakukan operasi penentuan ulang seks.[43] Benjamin menyebutkan bahwa penyulihan hormon dibutuhkan untuk tingkat seseorang disebut transseksual asli (true transsexual) sebelum dilakukannya operasi.[43] Orang-orang seperti Miriam Rivera merupakan contoh kasus yang dapat dimasukkan ke dalam definisi Benjamin. Di sisi lain, terdapat pula orang-orang yang telah melakukan operasi namun tidak memenuhi definisi tersebut misalnya Gregory Hemingway.[44][45]

Kategori lain[sunting | sunting sumber]

Pria dan wanita trans berada di inti dari definisi sempit istilah transgender dengan identitas gendernya yang berlawanan dengan seks yang ditunjuk saat lahir. Definisi luas dari istilah tersebut sendiri mencakup beberapa kelompok masyarakat lain yang identitas gendernya tidak secara spesifik hanya maskulin/feminin namun bisa jadi androgini, bigender, pangender, atau agender —umumnya dikelompokkan dalam istilah genderqueer[5] —serta orang-orang gender ketiga. Di beberapa budaya, orang transgender justru merupakan orang dengan gender ketiga.[7] Meskipun beberapa literatur mendefinisikan kata transgender secara luas hingga mencakup orang transvesti/cross-dresser,[8] secara umum kedua istilah tersebut dibedakan karena orang transvesti fetis dianggap memiliki parafilia sehingga bukan sebuah identifikasi gender. Sementara itu, terdapat pula drag king dan drag queen yang merupakan pemain yang melakukan crossdress untuk tujuan hiburan.

Genderqueer[sunting | sunting sumber]

Identitas genderqueer atau non-biner yang tidak secara spesifik maskulin/feminin di antaranya adalah agender, androgini, bigender, pangender, dan genderfluid.[46] Identitas-identitas tersebut berada di luar norma cisgender.[47][48] Identitas bigender dan androgini adalah kategori yang berdekatan. Individu bigender dapat merasa dirinya berubah-ubah antara peran laki-laki dan perempuan (genderfluid) atau merasa sebagai laki-laki dan perempuan secara bersamaan (androgini). Individu androgini di sisi lain dapan mengidentifikasi dirinya berada di luar gender atau tanpa gender (postgender, agender), di antara gender (intergender), berubah-ubah di antara gender (genderfluid), atau secara bersamaan mengekspresikan beberapa gender (pangender). Perilaku androgini umum seperti memakai celana untuk perempuan, atau memakai anting-anting untuk laki-laki, bukan merupakan perilaku transgender. Androgini (androgyne) juga terkadang digunakan dalam istilah medis untuk menyebut kondisi orang interseks.[49] Identitas-identitas genderqueer tidak terikat pula dengan orientasi seksual.

Transvesti dan crossdress[sunting | sunting sumber]

Seorang transvesti adalah sesorang yang ber-cross-dress (lintas busana), atau mengenakan pakaian yang umumnya dihubungkan dengan lawan dari gendernya yang ditunjuk saat lahir.[50]Istilah transvesti (transvestite) digunakan sebagai sebuah sinnonim dari cross-dresser[51][52] walaupun cross-dresser secara umum lebih direkomendasikan.[52][53] Istilah cross-dresser sendiri tidak didefinisikan secara pasti di sumber-sumber pustaka. Michael A. Gilbert, guru besar Departemen Filsafat, Universitas York, Toronto, mengajukan definisi berikut. "[Seorang cross-dresser] adalah seseorang yang memiliki identifikasi gender pada seks tertentu serta ditunjuk sebagai jenis tertentu saat lahir, tetapi mengenakan pakaian lawan jenisnya karena pakaian tersebut merupakan pakaian lawan jenisnya."[54] Definisi ini tidak mencakup seseorang yang mengenakan pakaian lawan jenisnya untuk alasan lain seperti "... peniru perempuan yang melihat berpakaian semata-mata sebagai bagian dari pekerjaan, para aktor yang bermain peran, pria dan wanita yang menyukai pesta kostum, dsb. Mereka ber-cross dressing namun bukan cross dresser.""[55]

Seseorang yang ber-cross-dress dapat tidak mengidentifikasi dirinya sebagai, atau ingin menjadi lawan gendernya, tidak ingin bertindak sebagai gender lawannya, serta secara umum tidak ingin mengubah tubuhnya secara medis. Mayoritas cross-dresser mengidentifikasi dirinya sebaga seorang heteroseksual.[56] Seseorang yang ber-cross-dress di kehidupan nyata bisa tidak peduli atau bisa pula memiliki keinginan untuk pass sebagai lawan gendernya sehingga tidak terlihat sebagai seorang cross-dresser.

Istilah transvesti serta isitilah lama transvestisme secara konseptual berbeda dari transvesti fetishisme. Seorang transvesti fetishis dideskripsikan sebagai mereka yang pada beberapa saat mengenakan pakaian lawan gendernya untuk tujuan fetshisme.[57][58] Dalam istilah medis, transvesti fetishisme berbeda dengan cross-dressing dengan digunakannya kode yang berbeda yaitu 302.3[58] dalam DSM dan F65.1[57] dalam ICD.

Drag king dan drag queen[sunting | sunting sumber]

Drag adalah sebuah istilah yang digunakan dalam busana serta tata rias yang dikenakan dalam situasi istimewa untuk pertunjukan pentas atau hiburan, berbeda dengan kondisi transgender atau orang yang ber-cross-dress untuk alasan lain. Pertunjukan drag mencakup seluruh penampilan dan perilaku selain dari busana dan tata rias. Drag dapat berupa drama, komedi, atau grotesque. Drag queen dilihat sebagai penggambaran karikatur perempuan oleh feminisme gelombang kedua. Pemain drag memiliki riwayat panjang dalam budaya LGBT. Secara umum, istilah drag queen merujuk kepada laki-laki yang melakukan drag perempuan, istilah drag king untuk perempuan yang melakukan drag laki-laki, sementara faux queen merujuk kepada perempuan yang melakukan drag perempuan. Meskipun begitu, pemain-pemain drag terdiri atas berbagai gender dan orientasi seksual yang melakukan drag untuk berbagai alasan. Beberapa pemain drag, transvesti, serta orang dalam komunitas gay menggunakan istilah dalam pornografi tranny untuk merujuk kepada drag queen atau transvestisme atau seseorang yang ber-cross-dress. Akan tetapi, istilah tersebut secara umum dinilai ofensif untuk orang transseksual.[59]

Lambang pride[sunting | sunting sumber]

Transgender Pride flag

Lambang umum yang sering digunakan komunitas transgender adalah bendera Pride transgender. Desain bendera diciptakan oleh Monica Helms serta dikibarkan pertama kalinya pada pawai pride di Phoenix, Arizona, Amerika Serikat tahun 2000. Bendera tersebut memilki lima baris warna, dua berwarna biru, dua berwarna pink, serta satu baris di tengah berwarna putih. Helms menerangkan makna dari bendera tersebut sebagai berikut.

Baris paling atas dan bawah berwarna biru muda, warna tradisional bagi bayi laki-laki. Baris di bawah dan di atasnya berwarna merah muda, warna tradisional bagi bayi perempuan. Baris di tengah berwarna putih, bagi mereka dengan kondisi interseks, tengah bertransisi, atau menilai diri mereka memiliki gender yang netral atau tidak terdefinisi. Susunannya dibuat seperti itu sehingga bagaimanapun cara kita mengibarkan benderanya, cara tersebut akan selalu benar, sebagaimana cara kita menemukan kebenaran di dalam hidup kita.[60]

Beberapa lambang gender juga digunakan untuk mewakilkan orang transgender, seperti lambang dan .

Kesehatan transgender[sunting | sunting sumber]

Kesehatan jiwa[sunting | sunting sumber]

Mayoritas ahli kesehatan jiwa merekomendasikan terapi terhadap konflik internal mengenai identitas gender atau ketidaknyamanan terkait peran gender, terutama jika seseorang memiliki keinginan untuk bertransisi. Orang yang identitas gendernya bertentangan dengan tubuhnya atau orang yang mengalami ketidaksesuaian antara gendernya dengan ekspektasi orang lain dapat merasa lebih baik dengan berbicara mendalam soal perasaannya. Penelitian mengenai identitas gender dalam kaitannya dengan psikologi serta wawasan ilmiah mengenai keseluruhan hal dalam isu transgender merupakan sebuah hal yang relatif baru dalam dunia pengetahuan.[61] Istilah transseksualisme, gangguan identitas gender pada remaja atau orang dewasa, dan gangguan identitas gender yang tidak dispesifikasi merupakan entri yang tertera di dalam International Statistical Classification of Diseases (ICD) dari WHO dan American Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) masing-masing pada kode F64.0, F64.1, 302.85, dan 302.6.[62] DSM-5 memiliki entri disforia gender .


Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ *Pada bulan April 1970, TV Guide menerbitkan sebuah artikel yang membahas seoarang tokoh film transseksual pascaoperasi (post-operative, post-op) dengan menggunakan kata transgendered (ter-transgender, -ed imbuhan pasif dalam bahasa Inggris). Lihat "Sunday Highlights". TV Guide. 26 April 1970. Diakses tanggal 28 Mei 2012. [R]aquel Welch (left), moviedom's sex queen soon to be seen as the heroine/hero of Gore Vidal's transgendered 'Myra Breckinridge'... .
    • Pada edisi tahun 1974 dari Clinical Sexuality: A Manual for the Physician and the Professions, kata transgender digunakan sebagai sebuah kata umum (hipernim) sementara laporan konferensi dari National TV.TS Conference tahun 1974 di Leeds, West Yorkshire, Britania Raya menggunakan trans-gender dan orang trans (trans people) sebagai istilah umum. Lihat Oliven, J. F. (1974). Clinical sexuality: A Manual for the Physician and the Professions (ke-3 ed.). University of Michigan (digitasi Agustus 2008): Lippincott. pp. 110, 484–487. ISBN 978-0-397-50329-2. "Transgender deviance" p 110, "Transgender research" p 484, "transgender deviates" p 485, Transvestites not welcome at "Transgender Center" p 487 ; Elkins, R.; King, D. (2006). The Transgender Phenomenon. Sage. p. 13. ISBN 978-0-7619-7163-4. 
    • Akan tetapi, A Practical Handbook of Psychiatry (1974) menyebutkan mengenai operasi transgender (transgender surgery) sebagai berikut. "Transvetis jarang untuk berusaha untuk memperoleh operasi transgender, karena inti dari hal perversi yang ia lakukan adalah untuk merealisasikan seorang perempuan dengan penis." Lihat Novello, J. R. (1974). A Practical Handbook of Psychiatry. University of Michigan, digitasi Agustus 2008: C. C. Thomas. p. 176. ISBN 978-0-398-02868-8. 
  2. ^ Sebagai contoh, Virginia Prince menggunakan istilah transgender untuk membedakan cross-dresser dari orang transseksual (Lihat Matzner, A. "Prince, Virginia Charles (1913-2009)" (PDF). glbtq, Inc. ), seperti ia tulis dalam Men Who Choose to Be Women (dalam Sexology edisi Februari 1969) bahwa, "Saya setidaknya tahu perbedaan antara seks dan gender dan secara sederhana saya memilih untuk mengubah yang kedua [gender], bukan yang pertama [seks]."
  3. ^ Adanya anggapan bahwa kata transseksual memiliki kaitan arti dengan seksualitas terjadi akibat ketidaktahuan seseorang terhadap perbedaan antara seks dan gender dan kemudian menggunakan kata gender untuk perbedaan-perbedaan antara laki-laki dan perempuan dan seks untuk aktivitas seks. (Lihat Liberman, M. "Single-X Education". Language Log. Diakses tanggal 28 Juni 2012. )

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Altilio, T.; Otis-Green, S. (2011). Oxford Textbook of Palliative Social Work. Oxford University Press. p. 380. ISBN 0199838275. Diakses tanggal 12 April 2016. Transgender is an umbrella term for people whose gender identity and/or gender expression differs from the sex they were assigned at birth (Gay and Lesbian Alliance Against Defamation [GLAAD], 2007). 
  2. ^ a b Forsyth, C. J.; Copes, H. (2014). Encyclopedia of Social Deviance. Sage Publications. p. 740. ISBN 1483364690. Diakses tanggal 12 April 2016. Transgender is an umbrella term for people whose gender identities, gender expressions, and/or behaviors are different from those culturally associated with the sex to which they were assigned at birth. 
  3. ^ Berg-Weger, M. (2016). Social Work and Social Welfare: An Invitation. Routledge. p. 229. ISBN 1317592026. Diakses tanggal 12 April 2016. Transgender: An umbrella term that describes people whose gender identity or gender expression differs from expectations associated with the sex assigned to them at birth. 
  4. ^ Gay and Lesbian Alliance Against Defamation (Mei 2010). "GLAAD Media Reference Guide – Transgender glossary of terms". Diakses tanggal 24 Februari 2011. An umbrella term for people whose gender identity and/or gender expression differs from what is typically associated with the sex they were assigned at birth. 
  5. ^ a b Bilodeau, B. (2005). "Beyond the Gender Binary: A Case Study of Two Transgender Students at a Midwestern Research University". Journal of Gay & Lesbian Issues in Education 3 (1): 29–44. doi:10.1300/J367v03n01_05. Yet Jordan and Nick represent a segment of transgender communities that have largely been overlooked in transgender and student development research – individuals who express a non-binary construction of gender[.] 
  6. ^ Stryker, S.; Whittle, S. (2006). The Transgender Studies Reader. Routledge. p. 666. The authors note that, increasingly, in social science literature, the term 'third gender' is being replaced by or conflated with the newer term 'transgender'. 
  7. ^ a b Chrisler, J. C.; McCreary, D. R. (2010). Handbook of Gender Research in Psychology. Volume 1: Gender research in general and experimental psychology. Springer. p. 486. ISBN 1-4419-1465-X. Transgender is a broad term characterized by a challenge of traditional gender roles and gender identity[. ...] For example, some cultures classify transgender individuals as a third gender, thereby treating this phenomenon as normative. 
  8. ^ a b Reisner, S. L.; Conron, K.; Mimiaga, M. J.; Haneuse, S. et al. (2014). "Comparing in-person and online survey respondents in the US National Transgender Discrimination Survey: implications for transgender health research". LGBT Health 1 (2): 98–106. doi:10.1089/lgbt.2013.0018. Transgender was defined broadly to cover those who transition from one gender to another as well as those who may not choose to socially, medically, or legally fully transition, including cross-dressers, people who consider themselves to be genderqueer, androgynous, and ... 
  9. ^ "Sexual orientation, homosexuality and bisexuality". American Psychological Association. Diakses tanggal 10 Agustus 2013. 
  10. ^ Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (2015). "Free & Equal Campaign Fact Sheet: Intersex" (PDF). Diakses tanggal 28 Maret 2016. 
  11. ^ Kozee, H. B.; Tylka, T. L.; Bauerband, L. A. (2012). "Measuring transgender individuals' comfort with gender identity and appearance: Development and validation of the Transgender Congruence Scale". Psychology of Women Quarterly 36: 179–196. doi:10.1177/0361684312442161. 
  12. ^ a b Maizes, V. (2015). Integrative Women's Health. p. 745. ISBN 0190214805. Many transgender people experience gender dysphoria—distress that results from the discordance of biological sex and experienced gender (American Psychiatric Association, 2013). Treatment for gender dysphoria, considered to be highly effective, includes physical, medical, and/or surgical treatments [...] some [transgender people] may not choose to transition at all. 
  13. ^ "Understanding Transgender People FAQ". National Center for Transgender Equality. 1 Mei 2009. Diakses tanggal 20 April 2016. 
  14. ^ Lombardi, E. L.; Anne Wilchins, R.; Priesing, D.; Malouf, D. "Gender Violence: Transgender Experiences with Violence and Discrimination". Journal of Homosexuality 42 (1): 89–101. doi:10.1300/J082v42n01_05. 
  15. ^ Gay and Lesbian Alliance Against Defamation (4 Februari 2011). "Groundbreaking Report Reflects Persistent Discrimination Against Transgender Community". Diakses tanggal 24 Februari 2011. 
  16. ^ Bradford, J.; Reisner, S. L.; Honnold, J. A.; Xavier, J. (Oktober 2013). "Experiences of Transgender-Related Discrimination and Implications for Health: Results From the Virginia Transgender Health Initiative Study". American Journal of Public Health 103 (10): 1820–1829. doi:10.2105/AJPH.2012.300796. 
  17. ^ Whittle, S. (2002). Respect and Equality: Transsexual and Transgender Rights. Routledge-Cavendish. 
  18. ^ Oliven, J. F. (1965). Sexual Hygiene and Pathology. p. 514. Where the compulsive urge reaches beyond female vestments, and becomes an urge for gender ("sex") change, transvestism becomes "transsexualism." The term is misleading; actually, "transgenderism" is what is meant, because sexuality is not a major factor in primary transvestism. Psychologically, the transsexual often differs from the simple cross-dresser; he is conscious at all times of a strong desire to be a woman, and the urge can be truly consuming. 
  19. ^ a b c Bevan, T. E. (2014). The Psychobiology of Transsexualism and Transgenderism. p. 42. ISBN 1-4408-3127-0. The term transsexual was introduced by Cauldwell (1949) and popularized by Harry Benjamin (1966) [...]. The term transgender was coined by John Oliven (1965) and popularized by various transgender people who pioneered the concept and practice of transgenderism. It is sometimes said that Virginia Prince (1976) popularized the term, but history shows that many transgender people adovcated the use of this term much more than Prince. 
  20. ^ a b Elkins, R.; King, D. (2006). The Transgender Phenomenon. Sage. pp. 13–14. ISBN 978-0-7619-7163-4. 
  21. ^ Stryker, S. (2004). "Transgender" (PDF). Diakses tanggal 20 Januari 2017. ... lived full-time in a social role not typically associated with their natal sex, but who did not resort to genital surgery as a means of supporting their gender presentation ... 
  22. ^ Peo, TV-TS Tapestry Board of Advisors, Roger E. (1984). "The ‘Origins’ and ‘Cures’ for Transgender Behavior". The TV-TS Tapestry (2). Diakses tanggal 28 Mei 2012. 
  23. ^ "First International Conference on Transgender Law and Employment Policy (1992)". organizational pamphlet. ICTLEP/. 1992. Diakses tanggal 28 Mei 2012. Transgendered persons include transsexuals, transgenderists, and other crossdressers of both sexes, transitioning in either direction (male to female or female to male), of any sexual orientation, and of all races, creeds, religions, ages, and degrees of physical impediment. 
  24. ^ Glicksman, E. (April 2013). "Transgender terminology: It's complicated". Vol 44, No. 4: American Psychological Association. p. 39. Diakses tanggal 17 September 2013. Use whatever name and gender pronoun the person prefers 
  25. ^ Sponsored by the American Medical Association and The Fenway Health with unrestricted support from Fenway Health and Pfizer. "Meeting the Health Care Needs of Lesbian, Gay, Bisexual, and Transgender (LGBT) People: The End to LGBT Invisibility" (PowerPoint). The Fenway Institute. p. 24. Diakses tanggal 17 September 2013. Use the pronoun that matches the person's gender identity 
  26. ^ a b Gay and Lesbian Alliance Against Defamation. "GLAAD's Transgender Resource Page". Diakses tanggal 24 Februari 2011. Problematic: "transgendered". Preferred: transgender. The adjective transgender should never have an extraneous "-ed" tacked onto the end. An "-ed" suffix adds unnecessary length to the word and can cause tense confusion and grammatical errors. It also brings transgender into alignment with lesbian, gay, and bisexual. You would not say that Elton John is "gayed" or Ellen DeGeneres is "lesbianed," therefore you would not say Chaz Bono is "transgendered." 
  27. ^ Savage, D. (11 Januari 2014)). "Savage Love: Gayed, Blacked, Transgendered". Creative Loafing. 
  28. ^ "Guardian and Observer style guide". ... use transgender ... only as an adjective: transgender person, trans person; never "transgendered person" or "a transgender..." 
  29. ^ Martin, K. "New words notes June 2015". Oxford English Dictionary. Oxford University Press. Diakses tanggal 2 Agustus 2015. 
  30. ^ Currah, P.; Juang, R. M.; dan Minter, S., ed. (2006). Transgender Rights. ISBN 0-8166-4312-1. 
  31. ^ Alegria, A. C. (2011). "Transgender identity and health care: Implications for psychosocial and physical evaluation" 23 (4). pp. 175–182. Transgender, Umbrella term for persons who do not conform to gender norms in their identity and/or behavior (Meyerowitz, 2002). Transsexual, Subset of transgenderism; persons who feel discordance between natal sex and identity (Meyerowitz, 2002). 
  32. ^ "Sex -- Medical Definition". medilexicon.com. 
  33. ^ "UNCW: Developing and Implementing a Scale to Assess Attitudes Regarding Transsexuality" (PDF). 
  34. ^ Polly, R.; Nicole, J. (2011). "Understanding the transsexual patient: culturally sensitive care in emergency nursing practice". Advanced Emergency Nursing Journal 33 (1): 55–64. doi:10.1097/TME.0b013e3182080ef4. The use of terminology by transsexual individuals to self-identify varies. As aforementioned, many transsexual individuals prefer the term transgender, or simply trans, as it is more inclusive and carries fewer stigmas. There are some transsexual individuals[,] however, who reject the term transgender; these individuals view transsexualism as a treatable congenital condition. Following medical and/or surgical transition, they live within the binary as either a man or a woman and may not disclose their transition history. 
  35. ^ "GLAAD Media Reference Guide". Diakses tanggal 27 Desember 2013. 
  36. ^ Parker, J. (18 Oktober 1979). "Christine Recalls Life as Boy from the Bronx". Newsday/Winnipeg Free Press. Diakses tanggal 28 Mei 2012. 'If you understand trans-genders,' she says, (the word she prefers to transsexuals), 'then you understand that gender doesn’t have to do with bed partners, it has to do with identity.' 
  37. ^ "News From California: 'Transgender'". Appeal-Democrat/Associate Press. 11 Mei 1982. pp. A–10. Diakses tanggal 28 Mei 2012. she describes people who have had such operations’ "transgender" rather than transsexual. 'Sexuality is who you sleep with, but gender is who you are,' she explained 
  38. ^ a b "Fenway Health Glossary of Gender and Transgender Terms" (PDF). Januari 2010. Diakses tanggal 27 Desember 2013. 
  39. ^ a b Valentine, D. (2007). Imagining Transgender: An Ethnography of a Category. Duke University. 
  40. ^ a b Stryker, S. (2006). "Introduction". Di Stryker, S. dan Whittle, S. The Transgender Studies Reader. Routledge. pp. 1–17. 
  41. ^ Winters, K. (2008). Gender Madness in American Psychiatry, essays from the struggle for dignity. p. 198. Some Transsexual individuals also identify with the broader transgender community; others do not. 
  42. ^ Boyd, H. "The Umbrella". enGender. Diakses tanggal 28 Juni 2012. the only part of the gender binary we *necessarily* challenge is the notion that people are always assigned to the right side of the binary at birth, and don’t need sympathy or help if the assignment goes wrong. 
  43. ^ a b Benjamin, H. (1966). The transsexual phenomenon. Julian Press. p. 23. 
  44. ^ Conway, L. (2003). "The Strange Saga of Gregory Hemingway". 
  45. ^ Schoenberg, N. (19 November 2001). "The Son Also Falls From elephant hunter to bejeweled exhibitionist, the tortured life of Gregory Hemingway". CHICAGO TRIBUNE. Diarsipkan dari versi asli tanggal 20 November 2001. 
  46. ^ McCrea, A. (2013). "Under the Transgender Umbrella: Improving ENDA's Protections". Georgetown Journal of Gender and the Law. This article will begin by providing a background on transgender people, highlighting the experience of a subset of non-binary individuals, bigender people, ... 
  47. ^ Wilchins, R. A. (2002). "It's Your Gender, Stupid". Di Nestle, J.; Howell, C.; dan Wilchins, R. Genderqueer: Voices from Beyond the Sexual Binary. Alyson Publications. pp. 23–32. 
  48. ^ Nestle, J. (2002). "Genders on My Mind". Di Nestle, J.; Howell, C.; dan Wilchins, R. Genderqueer: Voices from Beyond the Sexual Binary. Alyson Publications. pp. 3–10. ...pluralistic challenges to the male/female, woman/man, gay/straight, butch/femme constructions and identities... 
  49. ^ "Androgyne – Define Androgyne at Dictionary.com". Dictionary.com. 
  50. ^ Hirsch, Jr., E. D.; Kett, J. F.; Trefil, J. (2002). "Definition of the word "transvestite"". The New Dictionary of Cultural Literacy, Third Edition. Diarsipkan dari versi asli tanggal 18 Agustus 2007. Diakses tanggal 13 Agustus 2007. Transvestite: Someone who dresses in the clothes usually worn by the opposite sex. 
  51. ^ Raj, R. (2002). "Towards a Transpositive Therapeutic Model: Developing Clinical Sensitivity and Cultural Competence in the Effective Support of Transsexual and Transgendered Clients". International Journal of Transgenderism 6 (2). Diarsipkan dari versi asli tanggal 27 September 2007. Diakses tanggal 13 Agustus 2007. transvestite (TV): n. Synonym: crossdresser (CD) 
  52. ^ a b Komisi Hak Asasi Manusia Ontario (2007). "Discussion Paper: Toward a Commission Policy on Gender Identity" (PDF). Diakses tanggal 22 Januari 2017. ...Many say this term (crossdresser) is preferable to transvestite, which means the same thing..." dan "...transvestite (TV) – same as cross-dresser. Most feel cross-dresser is the preferred term... 
  53. ^ Green, E.; Peterson, E.N. (2006). "LGBTTSQI Terminology" (PDF). Trans-Academics.org. Diakses tanggal 13 Agustus 2007. ...The preferred term is 'cross-dresser', but the term 'transvestite' is still used in a positive sense in England... 
  54. ^ Gilbert, M. A. (2000). "The Transgendered Philosopher". International Journal of Transgenderism. Diakses tanggal 16 Desember 2015. 
  55. ^ Gilbert, M. (2000), "The Transgendered Philosopher", International Journal of Transgenderism (Edisi Istimewa Juli 2000), diarsipkan dari versi asli tanggal 11 Oktober 2007, diakses tanggal 9 Oktober 2007 
  56. ^ Docter, R. F.; Prince, V. (1997). "Transvestism: A survey of 1032 cross-dressers". Archives of Sexual Behavior 26 (6): 589–605. 
  57. ^ a b Organisasi Kesehatan Dunia (1992). "ICD-10, Gender Identity Disorder, category F65.1". Diakses tanggal 13 Agustus 2007. ...Fetishistic transvestism is distinguished from transsexual transvestism by its clear association with sexual arousal and the strong desire to remove the clothing once orgasm occurs and sexual arousal declines.... 
  58. ^ a b American Psychiatric Association (1994). "Paraphilias". Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders IV. ...The paraphiliac focus of Transvestic Fetishism involves cross-dressing. Usually the male with Transvestic Fetishism keeps a collection of female clothes that he intermittently uses to cross-dress. While cross dressed, he usually masturbates... .
  59. ^ "Is 'Tranny' Offensive?". The Bilerico Project. 
  60. ^ Sankin, A. (20 November 2014), "Transgender Flag Flies In San Francisco's Castro District After Outrage From Activists", The stripes at the top and bottom are light blue, the traditional color for baby boys. The stripes next to them are pink, the traditional color for baby girls. The stripe in the middle is white, for those who are intersex, transitioning or consider themselves having a neutral or undefined gender. The pattern is such that no matter which way you fly it, it is always correct, signifying us finding correctness in our lives. 
  61. ^ Brown, M.L. & Rounsley, C.A. 1996. True Selves: Understanding Transsexualism - For Families, Friends, Coworkers, and Helping Professionals. San Francisco: Jossey-Bass. ISBN 0-7879-6702-5.
  62. ^ Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Edisi Keempat. 1994.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]